Category: Karib Dengan Tuhan

  • DOA dengan penuh KEYAKINAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat dan semoga kita tetap menjadi murid-murid Tuhan Yesus yang tekun berdoa. Saudara, sesungguhnya kehidupan tanpa doa itu sama dengan kehidupan tanpa kuasa. Berikut tips dari orang bijak tentang doa, “Berdoalah untuk apa yang Anda kerjakan, dan bekerjalah untuk apa yang Anda doakan.”

    Berdoa secara teratur dan penuh kedisiplinan adalah kunci mengalami hidup berkemenangan! Daniel  memiliki tempat dan waktu yang khusus untuk ia secara teratur berdoa,   “… Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.”  (Daniel 6:11).  Dampaknya, kehidupan Daniel  menjadi kesaksian bagi banyak orang karena ia sangat dekat dengan Tuhan melalui doa-doanya.

    Saudara, hari ini kita belajar dari surat Yakobus,  “… Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.”  (Yakobus 5:16-b). 

    Syarat pertama supaya doa kita berkuasa yaitu dipanjatkan oleh orang yang benar. Orang benar adalah orang yang hidupnya tidak bercela dan hidup dalam kebenaran.  Firman Tuhan menegaskan  bahwa apabila orang benar berdoa kepada Tuhan dia akan memperoleh pertolongan. Daud bersaksi,    “Mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong;” (Mazmur 34:16). 

    Ketika Elia berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan, mukjizat pun terjadi.  Saat berhadapan dengan Ahab, Elia berkata,  “… Demi Tuhan yang hidup, Allah Israel, yang kulayani, sesungguhnya tidak akan ada embun atau hujan pada tahun-tahun ini, kecuali kalau kukatakan.”  (1 Raja-Raja 17:1).  Maka yang terjadi adalah hujan benar-benar tidak turun selama tiga setengah tahun.  Namun ketika Elia berdoa kepada Tuhan supaya turun hujan, langit pun menurunkan hujan.  Disaksikan dalam kitab yang sama:  “Maka dalam sekejap mata langit menjadi kelam oleh awan badai, lalu turunlah hujan yang lebat. …”  (1 Raja-Raja 18:45-a). 

    Saudara, syarat kedua supaya doa kita berkuasa yaitu bila dengan yakin didoakan.
    Billy Graham (Penginjil dan tokoh kebangunan rohani asal Amereka) berkeyakinan, “Kita dapat mengubah keadaan jika kita berlutut dan memanjatkan doa dengan penuh keyakinan.” Lebih jauh beliau menambahkan, “Allah tidak pernah menjawab doa orang yang tidak sepenuh hati berdoa.”

    Perlu dipahami juga bahwa jika Tuhan belum mengabulkan doa kita, bukan berarti Dia tidak mengasihi kita.  Mungkin Tuhan belum mengabulkan doa kita, karena kita sendiri merasa kurang yakin dengan doa-doa yang kita panjatkan.  Dengan kata lain, kita berdoa tidak dengan sepenuh hati.  Saat bibir mengucapkan doa, saat yang bersamaan pikiran kita dipenuhi dengan kebimbangan dan keragu-raguan.  Itu sama artinya berdoa tanpa iman.  Kata  yakin  memiliki makna:  roh, jiwa dan tubuh kita bekerja bersamaan dalam arena doa yang kita panjatkan.  Roh, jiwa dan tubuh menjadi satu kesatuan yang utuh dan tidak terpecah-pecah. Yesus bersabda, “Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa dan setiap kota atau rumah tangga yang terpecah-pecah tidak dapat bertahan.”  (Matius 12:25). 

    Ingatlah! Billy Sunday (Atlet bisbol dan penginjil asal Amerika) berkata, “Jika Anda asing dengan doa, Anda akan asing dengan sumber kekuatan terbesar yang diketahui manusia.” Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg)

  • Bekerjalah Selama Masih Siang

    Bacaan Alkitab: Yohanes 9:1-7

    Dari bagian firman Tuhan yang kita baca, kita menjumpai beberapa pandangan sebagaimana yang diceritakan oleh Yohanes di dalam kitab Injil yang ditulisnya,

    Yang pertama adalah pandangan murid-murid Tuhan Yesus.

    Murid-murid ini berjumpa dengan seorang yang buta sejak lahirnya. Masing-masing mereka mengemukakan pandangannya. Simon orang Zelot, salah seorang murid yang latar belakangnya adalah pejuang Yahudi garis keras.  Dia melawan pemerintah penjajah waktu itu, yaitu pemerintah Romawi yang menjajah orang Yahudi. Dengan tegas dia mengatakan: “Pasti orang tuanya yang berdosa. Sebab itu orang ini sejak lahir buta.” 

    Murid yang lain yaitu Filipus, mengutarakan pandangannya: “Kalau orang ini buta, pasti karena dosanya sendiri.” Ke-12 murid ini mengambil kesimpulan bahwa  yang berdosa adalah orangtuanya atau orang-orang ini sendiri. Itulah hasil diskusi murid-murid Yesus. Mereka berjumpa dengan orang buta, lalu masing-masing mengutarakan pandangannya, berdiskusi panjang lebar, akhirnya mengambil kesimpulan. Kesimpulan hasil diskusi sudah diperoleh, sementara itu orang yang didiskusikan  matanya tetap buta, jalannya tetap meraba-raba.

    Yang kedua adalah pandangan Tuhan Yesus.

    Dalam ayat 3 dan 4 Tuhan Yesus katakan: “Bukan dia dan bukan juga orangtuanya (yang berdosa), tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia. Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang. Akan datang malam , di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja.”

    Kalian berjumpa dengan orang yang buta ini muka dengan muka. Orang buta ini ada dihadapan kalian. Lalu apa yang kalian lakukan? Kalian hanya mendiskusikan panjang lebar berjam-jam. Kalian tidak berbuat apa-apa. Seharusnya kalian bisa memberi makanan, supaya orang buta ini tidak kelaparan. Seharusnya kalian bisa memberinya pakaian, supaya orang buta ini tidak kedinginan.

    Bekerjalah selama masih siang!

    Akan datang malam di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja.

    Bagi Tuhan Yesus adanya orang buta di hadapan-Nya adalah suatu kesempatan, suatu kairos. Suatu kairos jangan disia-siakan. Ini kesempatan. Kerjakan! Akan membawa kemuliaan bagi Nama Tuhan. Adakah kita juga seperti Tuhan Yesus yang bisa melihat dan memakai kairos ?

    Dalam kehidupan di sekitar kita saat ini kita menjumpai berbagai peristiwa. Saat ini kita jumpai pendemi covid 19.Boleh dikatakan ini adalah suatu masa, zaman, waktu atau chronos. Dalam masa pandemi seperti ini, dapatkah kita melihat suatu kairos  kesempatan yang bisa kita kerjakan?  Puji Tuhan kalau Yayasan Christopherus melihat kairos ini dengan melakukan Peduli Pandemi Covid 19 dan Aksi-Aksi Sosial dengan membagikan sembako kepada masyaraakat yang memerlukan.

    Peristiwa atau Masa atau Waktu yang lain kita jumpai di tahun 1965 di negara kita. Juga Tzunami di Aceh pada tahun 2004, juga kekacauan di Jakarta pada Mei 1998, juga meletusnya gunung Merapi, gempa bumi di Yogyakarta, dan gempa bumi di Palu yang mengerikan.

    Dalam setiap peristiwa itu adakah mata rohani kita bisa melihat kairos atau kesempatan yang bisa kita kerjakan bagi kemuliaan Nama Tuhan Yesus Kristus?

    Bekerjalah selama masih siang.

    Terakhir, Yesus mengerjakan Kairos dengan menyembuhkan orang buta yang sejak lahir sudah buta. Mukjizat Tuhan terjadi. Orang buta ini sembuh. Matanya melek. Sekarang dia bisa melihat sekitarnya. Mudah-mudahan matanya yang melek itu juga bisa melihat kairos yang Tuhan berikan padanya.  Amin.  (Pdt. Kurnianto Leksono/pg).

  • Terus MELANGKAH menatap KE DEPAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Tidak ada seorang pun di dunia ini yang sempurna, maka wajar jika dalam perjalanan hidup, kita tidak selalu berhasil. Ada kalanya mengalami kegagalan. Hanya Tuhan yang tidak pernah gagal. Orang bijak berkata,  “Orang yang kalah adalah orang yang menyerah saat mereka gagal.” Sedangkan Michael Jordan (Pemain bola basket profesional asal Amerika) berkata, “Saya dapat menerima kegagalan. Semua orang pernah gagal pada sesuatu hal. Tapi saya tidak bisa menerima jika kita tidak pernah mencoba.”


    Stephen Richards (Penulis asal Britania Raya) berkata, “Saudara benar-benar gagal, jika waktu saudara jatuh, saudara tidak mau bangkit lagi.” Pernyataan tersebut senada dengan apa yang disampaikan oleh Salomo, “Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana.”  (Amsal 24:16)

    Saya yakin, semua orang pasti pernah mengalami kegagalan di sepanjang hidupnya, bukan hanya sekali atau dua kali, tapi mungkin  banyak kali. Sesungguhnya yang lebih penting daripada itu, bagaimana respons kita ketika mengalami kegagalan?

    Sebagai orang percaya kita diminta untuk tidak mudah menyerah ketika kegagalan menghampiri. Kita diminta untuk bangkit, mencoba dan mencoba lagi. Terus berusaha dan berjuang.  Kita diminta untuk berdoa dan berusaha.   Ada tertulis:  “Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur; dan siapa senantiasa melihat awan tidak akan menuai.”  (Pengkhotbah 11:4). 

    Saudara, justru kita harus menjadikan kegagalan sebagai cambuk untuk kita keluar dari zona nyaman. Kita mengizinkan Tuhan untuk ikut campur tangan di dalam hidup kita.  “… aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.”  (Filipi 1:6). 

    Tetaplah percaya kepada Tuhan bahkan saat kita berada di titik terendah sekali pun dan tak berdaya, sebab inilah janji Tuhan,  “Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap. Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel. Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu.”  (Mazmur 121:3-5). 

    Winston S. Churchill (Mantan Pedana Menteri Britania Raya) berkata, “Kesuksesan itu bukan akhir, kegagalan itu bukan hal yang fatal. Namun, keberanian untuk melanjutkan adalah yang diperhitungkan.” Mari kita perhatian kesaksian Daud, “TUHAN itu penopang bagi semua orang yang jatuh dan penegak bagi semua orang yang tertunduk.”  (Mazmur 145:14). Ingatlah! Tuhan tidak menghendaki kita terpaku kepada kegagalan-kegagalan masa lalu, melainkan terus melangkah menatap ke depan. Bila KEBERHASILAN itu bagaikan MATAHARI, sedangkan KEGAGALAN  itu bagaikan HUJAN, maka kita BUTUH KEDUANYA untuk MELIHAT PELANGI. Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg).

  • TERSEDIA di TEMPAT yang DALAM

    Selamat pagi para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat dan tetap optimis dalam menghadapi tantangan hidup. Orang bijak memberi gambaran tentang hidup, “Ada tantangan yang harus dihadapi. Ada perjuangan yang harus dimenangkan. Itulah hidup.”

    Bo Jackson (Pemain Bisbol dan sepakbola asal Amerika) memberikan tips, “Tetapkan tujuan Anda tinggi-tinggi, dan jangan berhenti sampai Anda mencapainya.”

    Saudara, orang-orang yang berhasil mewujudkan impiannya  tidaklah meraihnya tanpa tantangan dan hambatan.  Bahkan terkadang perjalanan yang harus ditempuh berliku-liku, penuh cadas dan mendaki.  Tapi yang pasti mereka tidak pernah berhenti untuk berdoa, berusaha dan berjuang.  Mereka  dapat melihat  sisi positif di balik tantangan. Justru melalui tantangan dan tekanan sesungguhnya kita sedang dibentuk supaya menjadi pribadi yang kuat dan tangguh di segala keadaan.  Di balik besarnya tantangan dan tekanan tersimpan kesempatan yang memungkinkan kita menjadi besar!

    Mari kita belajar dari Daud.  Sesungguhnya Daud tanpa melewati berduel dengan Goliat, tak akan pernah terlihat dan tak akan pernah teruji kualitas hidupnya.  Ketika Daud berhasil mengalahkan raksasa tersebut,  sesungguhnya ia sedang menapaki anak tangga baru yang lebih tinggi dalam kehidupannya. Akhirnya Tuhan mengangkat dia menjadi raja atas Israel, “Orang bijak dapat memanjat kota pahlawan-pahlawan, dan merobohkan benteng yang mereka percayai.”  (Amsal 21:22)

    Jadi, untuk mewujudkan impian,  tidak harus menunggu sampai badai berlalu, melainkan harus berani menghadapi badai bak burung rajawali.  “Ketika orang Filistin itu bergerak maju untuk menemui Daud, maka segeralah Daud berlari ke barisan musuh untuk menemui orang Filistin itu;”  (1 Samuel 17:48).  Untuk dapat melihat perkara-perkara besar dari Tuhan ada harga yang harus dibayar!  Perlu upaya dan usaha yang keras untuk meraihnya, sebab berkat-berkat Tuhan yang besar TERSEDIA di TEMPAT yang  DALAM.

    Saudara, jika menghadapi tantangan kecil saja kita sudah berkeluh kesah, bagaimana mungkin Tuhan mempercayakan berkat-berkat besar-Nya?  Hanya di laut yang dalam para nelayan akan menangkap ikan-ikan besar.  Tuhan memberi perintah kepada Simon Petrus:  “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.”  (Lukas 5:4). Ketika mereka taat melakukan apa yang Tuhan perintahkan,  “… mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak.”  (Lukas 5:6).”

    Ralp Waldo Emerson (Esais dan penyair asal Amerika), “Jika saudara belum pernah melakukan hal-hal baru yang belum pernah saudara kuasai, saudara tidak akan pernah bertumbuh”

    Ingatlah! Orang bijak berkata, Jika itu tidak menantang saudara, hal itu tidak akan mengubah saudara.” Pemazmur bersaksi, Mereka melihat pekerjaan-pekerjaan TUHAN, dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di tempat yang dalam.”  (Mazmur 107:24). Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg).

  • dapat DIDENGAR oleh TUNARUNGU, dapat DILIHAT oleh TUNANETRA

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur. Rasul Paulus mengingatkan kita, “Dan kamu, saudara-saudara, janganlah jemu-jemu berbuat apa yang baik.” (2 Tesalonika 3:13). Maka sebagai komunitas orang percaya, kita perlu menjadikan BERBUAT BAIK sebagai GAYA HIDUP.

    Mark Twain (Penulis dan novelis asal Amerika) berkata, “Kebaikan adalah bahasa yang dapat didengar oleh penyandang tunarungu dan yang tunanetra dapat melihatnya.”

    Sesungguhnya hakikat berbuat baik bukan semata-mata pada perbuatan baik itu sendiri, tetapi kepada sikap hati di balik perbuatan baik yang dilakukan.  Perbuatan baik yang dilakukan dengan sikap hati yang benar akan berdampak sangat positif dan menjadi berkat bagi semua pihak. 

    Berbuat baik tidak selalu memberi bantuan berupa uang atau barang, tapi bisa berupa membantu mencarikan pekerjaan, memberi kesempatan untuk melayani, membantu memasarkan atau menawarkan, membantu menemukan pasangan hidup, dan lain sebagainya.

    Saudara, memang ada cukup banyak orang yang punya keyakinan bahwa kunci untuk mendapatkan keselamatan kekal adalah banyak melakukan amal kebaikan.  Karena itu mereka harus sering-sering menolong orang lain, memberi sedekah kepada fakir miskin dan sebagainya.  

    Namun berbeda dengan kita sebagai orang percaya. Perbuatan baik yang kita lakukan merupakan perwujudan nyata dari orang yang memiliki kasih,  “Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.”  (Matius 7:17).  Karena kita telah diselamatkan dan mengalami kasih dari Tuhan, maka kita wajib berbuat baik.  Perbuatan baik bukanlah syarat untuk mendapatkan keselamatan, melainkan buah dari keselamatan!

    Berapa lama kita harus berbuat baik?  Perintah untuk berbuat baik itu bersifat permanen, terus-menerus, bukan hanya musiman, “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah” (Galatia 6:9).  Janganlah jemu-jemu menunjuk kepada suatu tindakan yang harus dilakukan secara terus-menerus. 

    Kepada siapa kita harus berbuat baik?  Kepada semua orang dalam situasi dan kondisi bagaimana pun,  “… tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.”  (Galatia 6:10).  Mengapa?  Karena mereka merupakan keluarga dalam kerajaan Allah, sesama anggota tubuh Kristus. 

    Saudara, durasi berbuat baik itu sepanjang hidup. Kita tidak boleh menjadi lemah untuk berbuat baik. Yakinlah pada saatnya kita akan menuai hasilnya.

    Selain itu, kalau timbul niat berbuat baik, sebaiknya segera dilakukan, jangan ditunda-tunda, Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.” (Amsal 3:27)

    Ingatlah! Saudara, perbuatan baik itu dampaknya sangat dasyat, dapat didengar oleh tunarungu dan dapat dilihat oleh tunanetra. Maka Rasul Yakobus mengingatkan, “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.”  (Yakobus 4:17). Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg)

  • RAMBUT PUTIH adalah MAHKOTA yang INDAH

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Mungkin lebih dari 50 persen pembaca renungan saya sudah berusia di atas 50 tahun. Jadi saat ini tentu sedang dalam proses untuk menjadi tua, bahkan mungkin sudah ada yang menjadi tua. Bagi saya menjadi tua itu suatu keniscayaan dan tidak menjadi masalah, yang penting tetap semangat dan tetap memiliki daya juang. Tips orang bijak berikut mungkin dapat membantu kita untuk mengenali apakah saat ini kita sudah menjadi tua, “Saat kenangan lebih besar daripada impian, saat itulah kita menjadi tua.”

    Saudara, ada cukup banyak orang menjadi gelisah, panik dan takut ketika menghadapi kenyataan dirinya sudah menjadi tua. Menjadi tua  ternyata menjadi momok bagi sebagian besar orang. Mereka menganggap menjadi tua  berdampak  negatif bagi mereka. Oleh karenanya berbagai upaya ditempuh untuk mempertahankan kemudaannya. Ada yang melakukan operasi plastik (oplas), tubuh dipermak di sana-sini; berapa pun biaya yang harus dikeluarkan tidak menjadi masalah asal keinginannya mewujud dan memuaskan.

    Mengapa harus takut ketika kita merambat menjadi tua? Coba perhatikan pernyataan Salomo berikut, “Hiasan orang muda ialah kekuatannya, dan keindahan orang tua ialah uban.” (Amsal 20:29). Sesungguhnya setiap masa mempunyai keindahan tersendiri, demikian juga masa tua.

    Bagi orang percaya, bisa memasuki masa tua merupakan anugerah Tuhan yang patut kita syukuri. Kita sudah menemukan jalan keselamatan dan kita sudah lolos menjalani lebih dari setengah perjalanan dari perjalanan hidup kita. Selain itu kita telah berhasil melewati proses kehidupan yang cukup panjang dan tidak mudah. Maka masa tua sering disebut sebagai masa keemasan, Rambut putih adalah mahkota yang indah, yang didapat pada jalan kebenaran.” (Amsal 16:31)

    Mengapa bisa demikian? Saudara, ketika kita telah memasuki masa tua, sesungguhnya kita telah memasuki masa tenang bersama Kristus. Kita  telah banyak memperoleh hikmat melalui pengalaman manis pahitnya kehidupan ini sebagai proses pembentukan dari Tuhan. Jadi di masa tua,  tidak seharusnya seseorang menjadi lemah, sebaliknya semakin hari justru harus semakin kuat di dalam roh. Hal ini dialami Paulus sehingga ia dapat bersaksi, “Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. (2 Korintus 4:16).

    Jadi di usia yang semakin tua seharusnya kita tidak lagi terlalu memperhatikan hal-hal lahiriah, tetapi semakin memperhatikan keadaan batin atau kerohanian kita.

    Ingatlah! Bukan hanya kita, Daud juga sempat merasa cemas ketika memasuki masa tua, karena dia tahu benar bahwa tak mungkin seseorang tetap muda dan tetap perkasa.  Maka Daud memohon kepada Tuhan, “Janganlah membuang aku pada masa tuaku, janganlah meninggalkan aku apabila kekuatanku habis.”  (Mazmur 71:9). Syukur,  pada akhirnya Daud yakin benar bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan orang yang dikasihi-Nya. Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg) 

  • KEANGKUHAN merendahkan orang

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Saudara, seringkali ketidakmampuan dalam hidup ini  karena sikap yang jelek. Orang bijak mengingatkan kita, “Sikap yang jelek itu seperti ban yang bocor. Saudara tidak dapat pergi kemana-mana, sampai saudara menggantinya/mengubahnya.”

    Bagaimana dengan orang yang sombong? Orang bijak menggambarkan, “Orang yang sombong itu ibarat orang yang berdiri di atas gunung, dia melihat orang lain kecil. Namun dia tidak sadar orang lain melihatnya kecil juga.”

    Saudara, hari ini kita belajar dari kitab Obaja yang hanya satu pasal. Obaja itu artinya hamba Tuhan. Dia nabi yang diperintahkan Tuhan menyampaikan nubuatan rencana penghukuman Tuhan atas bangsa Edom. 

    Edom terletak di sebelah selatan Yehuda yang merupakan keturunan Esau, saudara kandung Yakub.  Jadi sesungguhnya orang-orang Edom masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Israel, tetapi ironisnya mereka justru seringkali membantu pasukan asing untuk menyerang Israel.  Rupanya hal ini merupakan kelanjutan permusuhan berkepanjangan di antara Esau  (bapak orang Edom)  dan Yakub  (bapak ke-12 suku Israel).  Ketika Yehuda mengalami penderitaan, orang-orang Edom bukannya menolong dan menunjukkan sikap empati, tapi malah bersukacita di atas penderitaan saudaranya itu. 


    Secara geografis Edom merupakan negeri yang aman, terlindung dan sulit diserang musuh karena berada di daerah pegunungan berbatu.  Karena itu orang-orang Edom sangat membanggakan negerinya dan merasa dirinya sangat kuat.  Mereka berpikir bahwa tidak akan ada bangsa lain yang sanggup mengalahkannya, “Keangkuhan hatimu telah memperdayakan engkau, ya engkau yang tinggal di liang-liang batu, di tempat kediamanmu yang tinggi; engkau yang berkata dalam hatimu: ‘Siapakah yang sanggup menurunkan aku ke bumi?’”  (Obaja 3)
     

    Akibatnya mereka menjadi angkuh. Mereka lupa bahwa Tuhan sangat membenci keangkuhan,  “Manusia yang sombong akan direndahkan, dan orang yang angkuh akan ditundukkan; dan hanya TUHAN sajalah yang maha tinggi pada hari itu.”  (Yesaya 2:11).

    Saudara, seringkali suatu bangsa atau orang akan mudah sekali diperdaya oleh keangkuhan ketika merasa memiliki segala-galanya:  kekuatan, kekayaan, kedudukan, kepintaran dan sebagainya.  Kita perlu menyadari,  sesungguhnya segala sesuatu datangnya  dari Tuhan, dan tidak ada sesuatu pun yang ada di dunia ini atau yang kita miliki yang dapat dibanggakan dan membuat kita jadi sombong.  Kalau bukan karena Tuhan kita tidak mungkin dapat mempertahankan keadaan kita, dan apa yang kita punyai hari ini esok belum tentu ada, karena kekayaan dan kejayaan manusia dapat lenyap dalam sekejap.  Mari kita perhatikan peringatan Salomo,  “Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu.”  (Amsal 27:1).

    Ingatlah! Orang bijak mengingatkan, “Tak ada alasan untuk sombong, kamu punya kelebihan dan kekurangan. Aku pun demikian.” Ingat juga nasihat Salomo, “Keangkuhan merendahkan orang, tetapi orang yang rendah hati, menerima pujian.”  (Amsal 29:23). Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg)

  • Bertandinglah dalam PERTANDINGAN IMAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Hidup kita merupakan sebuah perjalanan, maka orang bijak memberi nasihat agar kita menetapkan tujuannya dan mengambil langkah yang diperlukan untuk mencapainya. Selanjutnya kita perlu memerhatikan nasihat Rasul Paulus kepada anak rohaninya, Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi.” (1 Timotius 6:12)

    Saudara, sangat menarik, Rasul Paulus menggambarkan perjalanan hidup orang percaya dalam mengiring Kristus sebagai sebuah pertandingan. Bak seorang pelari yang sedang berjuang dalam suatu kejuaraan olahraga demi memperebutkan sebuah medali.  Perjalanan hidup Paulus sendiri, sebagai hamba Tuhan, merupakan sebuah pertandingan yang sangat berat dan keras. 

    Paulus sebagai seorang pemberita Injil, di sepanjang perjalanan hidupnya, dia  harus menghadapi berbagai ujian dan tantangan yang tak mudah:  siksaan, bencana, berbagai ancaman, kesukaran, penderitaan, dan bahaya, mewarnai perjalanan hidupnya.  Sekalipun dia harus membayar harganya begitu mahal, tak sedikit pun terbersit dalam benak Paulus untuk mundur atau menyerah dalam melayani Tuhan dan sesama.  Dia terus berjuang:  “Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat.”  (2 Timotius 4:6). Luar biasa, Rasul Paulus mampu menyelesaikan pertandingan sampai garis akhir.  (2 Timotius 4:7).

    Saudara, Rasul Paulus mengingatkan bahwa berjerih payah untuk melayani Tuhan itu tidak pernah sia-sia, Tuhan selalu memperhitungkan, “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” (1 Korintus 15:58)

    Bagi setiap orang yang mampu menyelesaikan pertandingan sampai garis akhir, Tuhan akan anugerahkan mahkota kebenaran kepadanya, “Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.”  (2 Timotius 4:8)

    Saudara, garis akhir pertandingan iman adalah akhir hidup kita, jadi teruslah berjuang! Jangan putus asa. Jangan berhenti di tengah jalan. Teruslah berjalan bersama Tuhan sampai ujung jalan. Perhatikankanlah tekad David Livingstone (Misionaris asal Britania Raya dan melayani di Afrika), “Saya memutuskan untuk tidak berhenti sampai saya mencapai garis akhir dan mendapatkan tujuan saya.”

    Ingatlah! Jika Saudara mulai lemah dan hampir putus asa untuk melanjutkan pertandingan iman, ingatlah baik-baik janji Tuhan berikut ini, “Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya.” (Wahyu 3:21). Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg)

  • Berfokus pada Apa yang Kita Miliki

    Di dalam Kisah Para Rasul 2, para rasul dan orang-orang percaya dipenuhi oleh Roh Kudus. Mereka berbicara dalam bahasa-bahasa yang berbeda. Di samping itu, para rasul juga mengadakan banyak mukjizat dan tanda (2:43). Bacaan Alkitab dalam Kisah Para Rasul 3: 1-10 memaparkan satu mukjizat yang sudah mereka lakukan. Banyak orang telah menyaksikannya.

    Ayat 2 menjelaskan tentang seorang lelaki yang lumpuh sejak lahirnya. Ia menjadi pengemis dekat pintu masuk Bait Allah. Baik orang sakit maupun orang miskin seringkali menunggu di pintu masuk itu. Apa tujuan mereka menunggu dekat pintu masuk Bait Allah? Mereka meminta sedekah atau uang dari para pengunjung Bait Allah. Barangkali  para pengunjung itu bersikap lebih murah hati  ketika mereka hendak beribadah kepada Allah.

                Saat tiba di pintu gerbang Bait Allah, rasul Petrus menatap langsung kepada lelaki lumpuh itu. Lalu, sang lelaki menatap kembali rasul Petrus dengan harapan bahwa ia akan mendapatkan uang  darinya (ayat 4-5).

                Ayat 6 berbunyi, “Tetapi Petrus berkata: “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!” Dalam ayat ini, rasul Petrus memberikan kepada lelaki lumpuh itu sesuatu  yang lebih baik bagi hidupnya. Yaitu, rasul Petrus menyembuhkannya dalam nama Yesus Kristus. Ini artinya, rasul Petrus menyembuhkan lelaki lumpuh itu dengan kuasa dan otoritas Yesus Kristus sendiri. Ini pun berarti lelaki itu mengalami perubahan/transformasi hidup yang besar.

    Lelaki lumpuh tersebut menginginkan  uang dari rasul Petrus dan rasul Yohanes. Tetapi, dengan kejutan yang besar rasul Petrus memberikan kepadanya apa yang lelaki lumpuh itu betul-betul butuhkan. Yakni, pemulihan kedua kakinya. Lutut dan pergelangan kakinya kini menjadi kuat. Terlebih itu, ia memiliki  iman untuk sembuh (bdng. ayat 16).  

                Mari kita lihat ayat 6 lagi, “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu”. Di sini, rasul Petrus tidak berkata kepada lelaki lumpuh itu, “Aku tidak memiliki sesuatu”. Namun, rasul Petrus sungguh-sungguh berkata padanya, “Aku memiliki  sesuatu bagimu”. Itulah mukjizat kesembuhan bagi lelaki lumpuh tersebut.

    Begitu sering, Allah meminta kita untuk memberikan dari apa yang kita miliki, bukan dari apa yang tidak kita miliki. Allah selalu berkenan dengan apa yang kita miliki, yang hendak kita persembahkan atau berikan kepada-Nya sebagai ucapan syukur untuk mendukung pelayanan-Nya (bdng. 2 Korintus 8:12).

    Sekarang, apa yang kita miliki untuk diberikan kepada Allah? Jangan pernah kita mengatakan, “Aku tidak punya apa-apa, Tuhan”. Kita harus mengatakan, “Aku betul-betul memiliki sesuatu  untuk kupersembahkan pada-Mu, Tuhan”. Mungkin  kita bisa memakai kemampuan kita, waktu, karunia, nilai-nilai, komitmen, pengalaman, bakat/talenta, kesetiaan, tenaga, keuangan, maupun hidup kita dalam melayani Tuhan Yesus atau terlibat dalam pelayanan/dukungan sekecil apapun dan di manapun. Tuhan Yesus senantiasa  berkenan dengan apa yang kita miliki  dan mau memberkatinya.

                Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering merasa kecewa dan kurang bahagia ketika kita menghadapi kesulitan-kesulitan. Mengapa kita merasa kurang bahagia?  Sebab, kita sering berfokus pada apa yang tidak  kita miliki. Keinginan di dalam diri kita lebih besar  daripada hal-hal yang ada di luar kita (bdng. Yakobus 1:14-15). Kita seharusnya berfokus  pada apa yang kita miliki di sini  dan kini.

    Dalam kegembiraannya, bekas pengemis lumpuh itu kini mulai melompat dan berjalan kian ke mari. Di sini, hal yang indah adalah ketika lelaki itu juga memuji  Allah. Ungkapan sukacita dan pujiannya kepada Allah juga menjadi suatu kesaksian manis bagi orang-orang di sekitarnya. Dan, orang-orang itu pun takjub dengan kuasa Allah (KPR 3:10).

    Juga, kita harus ingat untuk memuji Allah atas pemeliharaan dan perlindungan-Nya. Mengapa? Karena, hanya orang-orang yang mengucap syukur mampu bertumbuh  dalam pemahaman anugerah Allah. Satu lagi, kita seharusnya tidak  lupa untuk berterima kasih kepada orang-orang yang sudah membantu kita di tengah-tengah kesulitan hidup.

                Marilah kita berfokus pada apa yang kita miliki  sebagaimana kita mengikuti Tuhan Yesus dan juga menjadi saksi-Nya bagi orang lain. Tuhan memberkati kita. (Petrus E. Handoyo/pg).

    ******

  • Menetap dalam KEBAHAGIAAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat dan bahagia. Orang bijak mengingatkan kita, “Tuhan ingin kita bahagia. Jangan ada orang atau apa pun yang membuat kita melupakan hal itu.” Mari kita perhatikan baik-baik janji Tuhan yang disampaikan melalui Daud, “Siapakah orang yang takut akan TUHAN? Kepadanya TUHAN menunjukkan jalan yang harus dipilihnya. Orang itu sendiri akan menetap dalam kebahagiaan dan anak cucunya akan mewarisi bumi.”  (Mazmur 25:12-13)

    Andar Ismael (Pendeta dan penulis asal Indonesia) berkata, “Kebahagiaan adalah ibarat kupu-kupu. Kalau kita mengejarnya, kupu-kupu itu pasti terbang dan cepat-cepat pergi. Tetapi bila kita tenang dan berdiam diri, kupu-kupu itu malah akan hinggap. Demikian pula dengan kebahagiaan.”

    Saudara, mungkin ada cukup banyak orang yang membangun kebahagiaan hidupnya berlandaskan materi atau kekayaan duniawi.  Mereka berpendapat bahwa memiliki kekayaan yang berlimpah berarti kebahagiaan pasti bisa diraih.  Jika memiliki uang dan harta yang berlimpah, maka akan dapat melakukan apa saja  sesuai dengan yang mereka inginkan.  Akibatnya hidup  mereka hanya tertuju pada uang dan kekayaan. Pikiran mereka hanya terfokus pada bagaimana caranya dapat mengumpulkan uang dan kekayaan sebanyak-banyaknya.  Benarkah uang dan  materi merupakan sumber kebahagiaan bagi manusia?

    Sesungguhnya tidak ada kebahagiaan sejati di dunia ini!  Sebab kebahagiaan yang dunia tawarkan adalah semu, tidak abadi.  Sekalipun memiliki segalanya  (uang, harta, popularitas, kedudukan dan kekuasaan), tidak  menjamin seseorang hidup bahagia.  Bukankah sering kita baca dan dengar berita, ada banyak pesohor yang  punya segalanya, tapi mengalami  frustasi dan depresi, hidup mereka berantakan.    Mereka merasakan kehampaan dalam hidup, ada sesuatu yang kosong. 

    Saudara ingin menemukan kebahagiaan sejati?  Carilah Tuhan dengan segenap hati, dan hiduplah seturut dengan kehendak-Nya.  Sebab bila kita hidup menyimpang dari jalan-jalan Tuhan, kita akan terpisah dari Dia, itu artinya hidup kita akan semakin jauh dari sumber kebahagiaan. Dosalah yang membuat manusia kehilangan kebahagiaan, seperti manusia pertama yang harus terusir dari taman Eden oleh karena ketidaktaatannya  (Kejadian 3).

    Jadi siapa pun yang ingin mengalami dan menikmati kebahagiaan dalam hidupnya, tidak ada jalan lain selain harus datang kepada Tuhan dan punya hati yang takut akan Dia,   “… orang yang takut akan Allah akan beroleh kebahagiaan, sebab mereka takut terhadap hadirat-Nya.”  (Pengkhotbah 8:12).  Firman Tuhan adalah kebenaran yang akan menuntun kita untuk menemukan jalan kebahagiaan itu,  “… dan ikutilah seluruh jalan yang Kuperintahkan kepadamu, supaya kamu berbahagia!”  (Yeremia 7:23).

    Ingatlah! Dale Carnegie (Penulis dan motivator asal Amerika) berkata, “Kebahagiaan tidak tergantung dari keadaan di luar kita, melainkan tergantung dari sikap mental kita.” Mari perhatikan baik-baik kesaksian Daud, “Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.”  (Mazmur 16:11). Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg)