Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur. Rasul Paulus mengingatkan kita, “Dan kamu, saudara-saudara, janganlah jemu-jemu berbuat apa yang baik.” (2 Tesalonika 3:13). Maka sebagai komunitas orang percaya, kita perlu menjadikan BERBUAT BAIK sebagai GAYA HIDUP.
Mark Twain (Penulis dan novelis asal Amerika) berkata, “Kebaikan adalah bahasa yang dapat didengar oleh penyandang tunarungu dan yang tunanetra dapat melihatnya.”
Sesungguhnya hakikat berbuat baik bukan semata-mata pada perbuatan baik itu sendiri, tetapi kepada sikap hati di balik perbuatan baik yang dilakukan. Perbuatan baik yang dilakukan dengan sikap hati yang benar akan berdampak sangat positif dan menjadi berkat bagi semua pihak.
Berbuat baik tidak selalu memberi bantuan berupa uang atau barang, tapi bisa berupa membantu mencarikan pekerjaan, memberi kesempatan untuk melayani, membantu memasarkan atau menawarkan, membantu menemukan pasangan hidup, dan lain sebagainya.
Saudara, memang ada cukup banyak orang yang punya keyakinan bahwa kunci untuk mendapatkan keselamatan kekal adalah banyak melakukan amal kebaikan. Karena itu mereka harus sering-sering menolong orang lain, memberi sedekah kepada fakir miskin dan sebagainya.
Namun berbeda dengan kita sebagai orang percaya. Perbuatan baik yang kita lakukan merupakan perwujudan nyata dari orang yang memiliki kasih, “Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.” (Matius 7:17). Karena kita telah diselamatkan dan mengalami kasih dari Tuhan, maka kita wajib berbuat baik. Perbuatan baik bukanlah syarat untuk mendapatkan keselamatan, melainkan buah dari keselamatan!
Berapa lama kita harus berbuat baik? Perintah untuk berbuat baik itu bersifat permanen, terus-menerus, bukan hanya musiman, “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah” (Galatia 6:9). Janganlah jemu-jemu menunjuk kepada suatu tindakan yang harus dilakukan secara terus-menerus.
Kepada siapa kita harus berbuat baik? Kepada semua orang dalam situasi dan kondisi bagaimana pun, “… tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” (Galatia 6:10). Mengapa? Karena mereka merupakan keluarga dalam kerajaan Allah, sesama anggota tubuh Kristus.
Saudara, durasi berbuat baik itu sepanjang hidup. Kita tidak boleh menjadi lemah untuk berbuat baik. Yakinlah pada saatnya kita akan menuai hasilnya.
Selain itu, kalau timbul niat berbuat baik, sebaiknya segera dilakukan, jangan ditunda-tunda, “Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.” (Amsal 3:27)
Ingatlah! Saudara, perbuatan baik itu dampaknya sangat dasyat, dapat didengar oleh tunarungu dan dapat dilihat oleh tunanetra. Maka Rasul Yakobus mengingatkan, “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” (Yakobus 4:17). Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg)
Leave a Reply