Category: Karib Dengan Tuhan

  • KEMBANGKAN dan KOBARKAN KARUNIAMU

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh sukacita. Kita patut bersyukur karena kita mempunyai Allah yang bukan hanya menciptakan kita, tapi juga memelihara kita. Manusia diciptakan pada hari yang terakhir supaya segala hal yang dibutuhkan oleh manusia untuk hidupnya sudah tersedia. Selain itu Tuhan juga menganugerahkan bakat, talenta dan karunia rohani kepada kita.

    Karunia rohani merupakan pemberian Tuhan dalam bentuk kemampuan yang ditujukan bagi pelayanan.  Karunia rohani diberikan Tuhan berdasarkan kasih karunia-Nya saat seseorang mengalami kelahiran baru (Kisah Para Rasul 2:38). 

    Saudara, karunia-karunia rohani diberikan bukan untuk ajang pamer, unjuk kebolehan atau kebanggaan pribadi, tapi bertujuan untuk kepentingan pelayanan.  Tuhan memberikan karunia-Nya yang berbeda-beda kepada tiap-tiap orang untuk saling melengkapi, bukan untuk persaingan.

    Karena itu kita tidak boleh merasa iri hati, tidak puas dengan yang kita punyai, membandingkan diri dengan orang lain, memaksakan diri ingin memiliki karunia seperti orang lain atau menuntut orang lain memiliki karunia sama seperti kita. 

    Saudara, karunia rohani tidak bisa dibeli, dituntut atau diminta sebagai upah, karena merupakan anugerah Tuhan yang diberikan seturut dengan kehendak dan rencana-Nya. Mari kita perhatikan pernyataan dari Rasul Paulus, “Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.”  (1 Korintus 12:11) dan   “… kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus.”  (Efesus 4:7).

    Ada berbagai karunia rohani yang diberikan Tuhan kepada setiap orang percaya,  “Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.”  (Roma 12:6-8).  Karunia-karunia tersebut harus dikembangkan dan dikobarkan selalu di dalam kasih, karena tanpa kasih semuanya akan menjadi sia-sia.

    Untuk mengetahui karunia apa yang ada di dalam diri kita dan bagaimana supaya karunia tersebut dapat berkembang secara efektif tidak ada jalan lain selain kita harus melibatkan diri dalam pelayanan,“Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.”  (Roma 12:11).

    Ingatlah! Mari kita melayani Tuhan dan sesama dengan roh yang menyala-nyala sesuai karunia yang kita miliki. Jika ada orang percaya yang tidak mau melayani berarti ia telah meremehkan dan menyepelekan karunia rohani yang diberikan Tuhan.Kesungguhan dan ketulusan kita akan menentukan efektivitas karunia rohani yang dikaruniakan Tuhan kepada kita. Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg).

  • BERMIMPILAH dalam HIDUP

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Kita pasti tidak asing dengan yang namanya mimpi. Ada yang bilang, mimpi itu bunganya orang tidur. Andrea Hirata (Penulis asal Indonesia) berkata, “BERMIMPILAH dalam HIDUP, dan jangan hidup dalam mimpi.” Saya sangat setuju, mari bermimpilah dalam hidup, dan sesungguhnya jika impian kita tidak membuat kita takut, berarti impian kita tidak begitu besar.

    Saudara, Tuhan pasti sanggup untuk menolong, mewujudkan mimpi-mimpi kita. Maka Bill Bright (Pengajar asal Amerika) berkata, “Rencanakan tujuan yang besar, sehingga jika Tuhan tidak menolong kita, kita pasti akan gagal.”

    Mari kita perhatikan beberapa orang tokoh besar di Alkitab yang dipakai Tuhan secara luar biasa. Semula mereka adalah orang-orang biasa yang mungkin dipandang sebelah mata oleh sesamanya.  Tuhan sanggup mengubah mereka menjadi orang-orang yang luar biasa.  Mereka bisa dipakai Tuhan secara luar biasa karena mereka memiliki keberanian untuk bertindak dengan iman dan mereka berani membayar harganya.

    Saudara, pengalaman hidup saya mengingatkan, jangan sekali-kali memandang rendah seseorang!  Mungkin saja hari ini keadaannya biasa-biasa saja, tak masuk perhitungan, tapi kita tidak tahu bagaimana esok. Peninggian seseorang itu datangnya dari Tuhan!  Pemazmur mengingatkan, “Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain.”  (Mazmur 75:7-8).

    Bagaimana supaya kita bisa dipercaya dan dipakai Tuhan untuk mengerjakan perkara-perkara besar dan luar biasa?  Minimal dua syarat berikut perlu kita penuhi:

    Pertama: Setialah dalam perkara-perkara kecil.  Banyak orang hanya fokus dan terobsesi mengerjakan perkara-perkara besar, tapi tidak mau memulai dari hal-hal kecil.  Saudara, serba instan itu yang dicari dan disukai banyak orang:  inginnya langsung pelayanan  di depan  yang bisa dilihat orang banyak, dilihat ratusan bahkan ribuan orang, ingin terkenal secara mendadak, ingin cepat kaya dan sebagainya.  Mari kita perhatikan sabda Yesus,  “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.”  (Lukas 16:10).

    Kedua: Milikilah kerendahan hati.  Salah satu alasan mengapa Tuhan memakai orang-orang yang biasa adalah supaya jangan ada yang memegahkan diri.  Banyak orang merasa hebat, pintar, kaya, lalu memegahkan dirinya sedemikian rupa.  Kemegahan terhadap diri sendiri  (sombong/angkuh)  adalah salah dan jahat di mata Tuhan,  “… kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah.”  (Yakobus 4:16).
    Ingatlah! Tuhan sanggup melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan (Efesus 3:20). Karena itu  dengan Allah  kita akan melakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa (Mazmur 108:14). Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg)

  • Kembangkan TALENTAMU

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Syukur, Tuhan memberikan talenta kepada setiap manusia, sebagai bekal untuk hidupnya. John F. Kennedy (Presiden ke-35 Amerika) berkata, Manusia tidak memiliki talenta yang sama, tapi kita memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan talenta kita.”

    Saudara, Tuhan Yesus dalam Injil Matius 25:14-30 menyampaikan perumpamaan tentang TALENTA. Apa itu talenta? Istilah talenta dalam Injil Matius 25:14-30  tidak berbicara tentang bakat, melainkan satuan nilai uang pada zaman itu, yang setara dengan 6000 dinar. Sedangkan 1 dinar sama dengan upah bekerja selama sehari.

    Talenta lebih tepat bila diartikan sebagai sejumlah modal yang Tuhan titipkan kepada  kita masing-masing. Dalam perumpamaan tentang talenta, kita tahu bahwa ada yang dititipi 5 talenta, 3 talenta, dan 1 talenta. Artinya, memang “modal” yang diberikan kepada setiap orang tidaklah sama, namun tugas dan tanggung jawabnya sama, yaitu: masing-masing harus mengupayakan modal tersebut agar bertambah atau berlipat ganda.

    Saudara, talenta yang dipercayakan kepada kita harus dikembangkan supaya makin bertambah.  Jika kita tidak mau mengembangkannya, tidak mau bekerja, diam saja, bersikap pasif, itu sama artinya kita tidak menghargai Tuhan sebagai pemberi talenta.

    Saya yakin,  kita tidak mau disebut sebagai hamba-hamba Tuhan yang jahat dan tidak setia.  Saudara, suatu saat  kelak  kita akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Tuhan perihal talenta yang dipercayakan kepada kita.  Apakah kita seperti hamba yang menerima lima atau dua talenta, yang dengan setia mengembangkan talentanya, sehingga Tuhan berkata:  “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”  (Matius 25:21 dan 23). 

    Ataukah kita bertindak seperti hamba yang diberi satu talenta, yang tidak setia dan tidak mau mengembangkan talenta yang ada, bahkan pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya.”  (Matius 25:18), dan inilah konsekuensi yang harus ditanggung:  “Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.”  (Matius 25: 30). 

    Dalam mengembangkan talenta, kita tidak perlu fokus kepada berapa besarnya hasil yang akan kita dapatkan, sebab Tuhan tidak memuji para hambanya berdasarkan jumlah hasil atau besarnya laba, melainkan Tuhan memuji sikap hati dan kesetiaan mereka dalam melakukan apa yang diperintahkan-Nya.  Meski demikian, bagi seseorang yang telah diberikan talenta lebih banyak, wajib untuk menghasilkan laba yang lebih besar pula bagi Tuhan, tidak bisa tidak!

    Ingatlah! Mari kita terus belajar menjadi orang-orang yang setia dan bertanggung jawab terhadap apa pun yang telah dipercayakan kepada kita.  Mari kita kembangkan talenta kita semaksimal mungkin untuk hormat dan kemuliaan nama Tuhan! Perhatikanlah sabda Yesus berikut, “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.”  (Lukas 12:48b). Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg)

  • PELAYAN dari SEMUANYA

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Semoga kita sehat-sehat dan menjadi orang hebat. Sesungguhnya bukan hanya kota Semarang yang hebat. Saudara dan saya dapat menjadi orang hebat karena setiap orang dapat melayani Tuhan dan sesamanya.

    Oswald Sanders (Penulis dan negarawan asal Selandia Baru) berkata, “Kita menjadi orang yang hebat bukan dengan cara merendahkan orang lain, melainkan kita merendahkan diri sendiri, saat kita melayani orang lain.”

    Saudara, di zaman ketika perdagangan budak masih legal.  Jika seorang budak sudah dibeli oleh seseorang, maka  budak tersebut tidak lagi mempunyai hak atas hidupnya sendiri, melainkan beralih menjadi milik sepenuhnya dari orang atau tuan yang membelinya.  Karena itu seorang budak (hamba) tidak mempunyai hak untuk menolak atau membantah setiap perintah tuannya. 


    Sesungguhnya setiap orang percaya diharapkan menjadi hamba-hamba Tuhan!  Yesus bersabda, “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.”  (Markus 9:35)
     

    Saudara, berbicara tentang hamba, Kristus adalah teladan utama dalam hal ketaatan. Coba kita hayati pernyataan Rasul Paulus berikut,  “…  yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”  (Filipi 2:6-8).  Jika Kristus tidak taat dan tidak memiliki ketaatan  hati hamba, maka pengampunan dosa dan keselamatan kepada manusia tidak akan pernah terjadi.

    Oh ya, ada suatu tradisi atau adat bangsa Yahudi yang dapat kita jadikan pelajaran yang baik dan berharga. Biasanya seorang hamba dalam keluarga harus membasuh kaki para tamu tuannya.

    Pantaskah jika tugas membasuh kaki dilakukan oleh seorang raja?  Seorang raja biasanya hanya duduk di atas singgasana, memerintah rakyatnya dan dilayani para hamba.  Adalah mustahil raja mau turun melakukan pekerjaan yang layak dilakukan oleh seorang hamba  (budak), apalagi sampai membasuh kaki seseorang.  Tetapi itulah yang dilakukan oleh Yesus, Raja di atas segala raja, Putera Tunggal Allah. 

    Mari kita perhatikan dengan saksama cerita dari Rasul Yohanes, “Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya.  Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu.”  (Yohanes 13:4-5). 

    Ingatlah! Yesus sebagai Tuhan dan Guru Agung telah mewariskan teladan hidup dalam ketaatan dan kerendahan hati. Mari kita sebagai murid-murid-Nya mengikuti teladan Sang Guru, menjadi murid yang taat dan rendah hati, serta mau melayani seorang kepada yang lain. Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg).

  • Kamu harus NAIK TANGGA

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat dan sukses. Saudara,  untuk mencapai keberhasilan, kadang jalan yang mesti kita tempuh tidak pendek, penuh tingkungan dan tanjakan. Mario Teguh (Motivator asal Indonesia) berkata, Semua keberhasilan terbaik Anda, datang setelah kekecewaan besar yang Anda hadapi dengan sabar.” Jauh sebelumnya, Rasul Paulus sudah mengingatkan kita,  “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!”(Roma 12:12)

    Saudara, salah satu penyakit yang menjamur di zaman now yaitu ingin serba cepat, penyakit instan namanya. Padahal jauh-jauh hari Zig Ziglar (Penulis dan motivator asal Amerika) sudah mengingatkan, “Tidak ada lift untuk sukses, kamu harus NAIK TANGGA.”  Sesungguhnya tidak ada keberhasilan tanpa kesabaran, karena keberhasilan itu tidak didapat secara kebetulan, melainkan melalui proses tahap demi tahap serta direncanakan dengan penuh kesabaran. 

    Lalu, apakah masih mungkin di zaman now ini kita menjadi orang yang sabar? Mungkin, mengapa tidak?   Harus kita akui bahwa kesabaran merupakan salah satu karakter yang dapat menunjang keberhasilan hidup seseorang.  Bagi orang percaya, memiliki kesabaran itu hukumnya wajib, karena kesabaran adalah bagian dari buah-buah Roh.  Kesabaran itu sebuah kekuatan, bahkan kekuatannya melebihi seorang pahlawan dan orang yang merebut kota (Amsal 16:32). 

    Kesabaran membuat seseorang mampu memandang jauh ke depan.  Kita harus sabar, karena kesabaran menolong kita dari hal-hal yang merugikan diri sendiri.  Kesabaran menolong kita untuk tidak terlibat suatu masalah dengan orang lain seperti tertulis:, “Si pemarah membangkitkan pertengkaran, tetapi orang yang sabar memadamkan perbantahan.” (Amsal 15:18).  Kesabaran menolong kita tetap kuat dalam menghadapi segala masalah dan tantangan yang ada.

    Dalam pelayanan pemberitaan Injil, Paulus harus banyak mengalami tantangan dan penderitaan, tapi dia tetap sabar menjalaninya.  “Jika kami menderita, hal itu menjadi penghiburan dan keselamatan kamu;  jika kami dihibur, maka hal itu adalah untuk penghiburan kamu, sehingga kamu beroleh kekuatan untuk dengan sabar menderita kesengsaraan yang sama seperti yang kami derita juga.”  (2 Korintus 1:6).  Begitu pula untuk memperoleh jawaban doa dibutuhkan kesabaran untuk menunggu, karena waktu Tuhan bukanlah waktu kita.

    Menanti sesuatu yang kita harapkan terkadang sangat membosankan dan membutuhkan kesabaran ekstra, oleh sebab itu kita perlu melatih diri bagaimana menjadi orang yang sabar di segala situasi.  Raja Saul, karena mengalami ketakutan saat melihat tentara Filistin, tak sabar menantikan pertolongan dari Tuhan, lalu lari mencari pertolongan kepada arwah  (1 Samuel 28:4-7).  Bukankah tidak sedikit orang percaya yang berlaku demikian?  Tidak sabar menunggu waktu Tuhan bertindak, kita pun lari mencari pertolongan lain.  Padahal Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang Mahasanggup melakukan segala sesuatu diluar apa yang kita pikirkan.

    Ingatlah! Keberhasilan tidak didapat dengan instan, butuh proses yang panjang, ketekunan, dan kesabaran. Yakinlah, waktu Tuhan adalah yang terbaik, karena itu bersabarlah menantikan Dia bekerja. Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg).

  • Merayakan Kesetiaan Allah

    Mengapa kesetian Allah sangat penting dalam kehidupan ini?

                Kesetiaan Allah memang benar. Itu sudah terbukti banyak kali. Alkitab sendiri mengungkapkan, Allah itu setia. Firman-Nya itu benar adanya bahwa Ia setia kepada umat-Nya (bdng. Ulangan 7:9; 2 Tesalonika 3:3; 1 Korintus 10:13).

                Bacaan Alkitab kita dalam Mazmur 100:1-2 berkata, “Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi! Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai!”

                Sang pemazmur mengingatkan “seluruh bumi” (ayat 1) untuk datang ke hadapan Tuhan (bdng. Mazmur 5). Seluruh bumi juga diminta untuk “bersorak-sorak bagi Tuhan”. Mengapa demikian? Karena bangsa-bangsa harus mengenali siapakah Tuhan itu. Ia adalah Yahweh (Tuhan), yang oleh anugerah dan berkat Tuhan umat-Nya (kamu dan aku) ada.

    Di sini, bangsa-bangsa juga diajak untuk menyanyikan pujian dan menyembah Tuhan (bdng. Yesaya 56:6-7). Ajakan ini merupakan sebuah undangan cuma-cuma. 

    Mazmur 100:3 berbunyi, “Ketahuilah, bahwa TUHANlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya”.

    Kata imperatif “ketahuilah” menunjuk pada pengakuan (bndg. Ulangan 4:39; Yesaya 43:10). Bangsa-bangsa mengakui-Nya sebagai Tuhan perjanjian, hanya Allah yang benar. Di samping itu, bangsa-bangsa juga mengakui ketergantungan mereka pada Allah, yakni  “Dialah yang menjadikan kita”.

    Selanjutnya ayat 4 berkata, “Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya!”

    Ayat ini menekankan perbuatan penyembahan bersama. Orang-orang datang dengan ucapan syukur  dan pujian. Ucapan syukur dan pujian harus berjalan seiring, karena Allah menyatakan diri-Nya baik dalam kesempurnaan dan perbuatan-Nya (bndg. Mazmur 139:1; Yeremiah 33:11).

    Lebih jauh lagi ayat 5 berbunyi, “Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun”.

    Tuhan itu baik, penuh kasih (bhs. Ibrani, hesed), dan kesetiaan (emunah). Inilah tiga elemen utama dalam ayat 5. Ia tetap setia kepada umat-Nya, sebab Ia telah berjanji untuk melakukannya kepada Saudara dan saya (Mazmur 25:8-10).

    Tuhan itu setia dalam memenuhi janji-janji-Nya dan menunjukkan campur tangan-Nya dalam kehidupan ini. Marilah kita merayakan kesetiaan Allah  dalam kehidupan kita masing-masing, supaya kita mengenali  bahwa Ia tetap setia dan selalu bersama kita. (Petrus E. Handoyo/pg).

    ******

  • IMAN adalah KEKUATAN yang HEBAT

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Sehat-sehat dan tetap semangat. Menurut Salomo, orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya. Jadilah orang percaya yang semangat dan kuat di segala situasi dengan tetap  menjaga hati supaya tidak terfokus pada besarnya masalah, tetapi kepada besarnya kuasa Tuhan.

    Phil Pringle (Penginjil asal Australia) berkata, “IMAN adalah KEKUATAN yang HEBAT. Pada saat kita beriman, kita memberi kesempatan kuasa Allah bekerja.”

    Saudara, memiliki sikap hati yang positif di segala situasi, serta kemampuan melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda  (dimensi iman)  adalah kunci untuk menjadi orang percaya yang kuat.  Dengan memiliki respons hati yang positif kita akan terhindar dari rasa khawatir, takut, kecewa, cemas, putus asa dan sebagainya.  Dengan memiliki respons hati yang selalu positif, orang akan menjalani hidup dengan penuh semangat. 

    Selama kita hidup di dunia, yang namanya masalah selalu rajin menyambangi, namun orang yang punya semangat memiliki kekuatan untuk menghadapinya.  “Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?”  (Amsal 18:14).

    Saudara, bagaimana supaya kita tetap bersemangat dalam menjalani hidup?  Arahkan pandangan hanya kepada Tuhan, imani setiap janji firman-Nya dan tekun menanti-nantikan pertolongan dari Tuhan.  “… orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.”  (Yesaya 40:31). 

    Kita menjadi orang yang kuat bila kita menyadari bahwa di dalam Tuhan selalu ada jalan keluar untuk setiap permasalahan yang kita alami  (1 Korintus 10:13), dan bersama Tuhan kita pasti sanggup menanggung segala perkara  (Filipi 4:13). 

    Saudara, sesungguhnya masalah bukan hanya melatih iman kita, tapi juga merupakan kesempatan untuk kita mengalami penggenapan janji-janji Tuhan.  Hadapilah setiap masalah dengan tenang dan tetaplah teguh berpegang pada janji firman Tuhan,  “Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya.”  (Yesaya 26:3).

    Tanamkan juga di dalam hati ini bahwa kesusahan sehari cukuplah untuk sehari saja, karena hari esok punya kesusahannya sendiri  (Matius 6:34).  Karena itu hiduplah dari sehari ke sehari dengan menyingkirkan segala ketakutan dan kecemasan,  “Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku.”  (Ayub 3:25).

    Ingatlah! Iman adalah roh. Iman adalah sikap. Iman adalah keyakinan di dalam hati. D. Elton Trueblood (Penulis dan teolog asal Amerika) menambahkan, “Iman bukanlah keyakinan tanpa bukti, tetapi kepercayaan tanpa syarat.” Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg)

  • Membawa Kita kepada KEBERHASILAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat dan sukses. Mark Twain (Penulis dan novelis asal Amerika) berkata, “Yang Anda butuhkan dalam hidup ini adalah ketidaktahuan dan kepercayaan, maka kesuksesan adalah hal yang pasti.”  Dia meyakini dengan memiliki rasa keingintahuan atas ketidaktahuan akan sesuatu, serta percaya bahwa dengan usaha maka seseorang bisa mengerti dan memahami, tidak ada yang tidak mungkin bagi seseorang untuk bisa mencapai kesuksesan.

    Hampir semua orang ingin mengalami keberhasilan di segala aspek kehidupan.  Nah, salah satu kuncinya, jangan sekalipun membiarkan hari-hari berlalu tanpa kita membaca dan merenungkan firman Tuhan. Mari kita hayati nasihat Tuhan  kepada Yosua:  “Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.”  (Yosua 1:8).

    Saudara, setiap tulisan dalam Alkitab mengandung kuasa yang luar biasa karena merupakan perkataan Tuhan sendiri,  “demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.”  (Yesaya 55:11)

    Maka jangan sekali-kali meremehkan atau menganggap sepele firman Tuhan karena ada dampak luar biasa bagi orang yang senantiasa tekun membaca, merenungkan, dan melaksanakan firman Tuhan, sebab firman yang diperkatakan dengan iman tidak akan pernah kembali dengan sia-sia. 

    Pemazmur menyatakan bahwa orang  yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.  (Mazmur 1:2-3).

    Saudara, kita tahu bahwa Timotius sudah terlibat dalam pelayanan, bahkan sudah menggembalakan jemaat, namun Rasul Paulus tidak pernah bosan-bosannya mengingatkan anak rohaninya  agar ia tidak melupakan Alkitab dalam kehidupannya sehari-hari:  “… bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, …”  (1 Timotius 4:13), dan  “Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.”  (2 Timotius 3:15). 

    Oleh karena itu, marilah kita bertekun dalam membaca dan merenungkan firman Tuhan karena firman-Nya memberi hikmat, menuntun kita kepada keselamatan dan membawa kita kepada keberhasilan, sebab firman-Nya hidup dan berkuasa.

    Ingatlah! Orang bijak berkata, “Kerjakanlah apa yang Anda cintai dan cintailah apa yang Anda kerjakan, maka Anda akan meraih keberhasilan.”Merry Riana (Penulis dan motivator asal Indonesia) menambahkan, “Berani bertindak belum tentu menjamin keberhasilan. Namun, tidak bertindak sudah pasti menjamin kegagalan.” Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg).

  • Menjadi KACA atau BAJA

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh sukacita. Sesungguhnya sakit itu mengingatkan kita bahwa ada yang tidak beres dengan tubuh kita. Ada anggota tubuh kita yang kurang berfungsi dengan semestinya. Orang bijak mengingatkan kita, “Rasa sakit yang Anda rasakan hari ini, akan menjadi kekuatan yang Anda rasakan besok.”

    Muhammad Ali (Petinju legendaris asal Amerika) berkata, “Saya tidak menghitung sit-up saya; saya baru menghitungnya ketika mulai sakit, karena hanya ketika mulai sakit itulah yang penting (berarti).”

    Saudara, ada pepatah lama yang mengatakan,  “Palu menghancurkan kaca, palu membentuk baja.”  Apa maknanya?  Kaca memiliki sifat mudah sekali retak, pecah dan hancur apabila terkena benturan.  Sedangkan baja itu kuat, kokoh dan tidak mudah pecah.  Pepatah ini berbicara tentang reaksi seseorang terhadap masalah. 

    Apakah kita bersifat seperti kaca yang rentan terhadap masalah, sehingga mudah sekali kita kecewa, hancur, putus asa, marah, tersinggung, sakit hati, frustasi, mengasihani diri sendiri secara berlebihan, dan mudah menyalahkan orang lain?  Sedikit benturan saja sudah lebih dari cukup untuk menghempaskan sukacita kita.

    Sebagai orang percaya seharusnya kita memiliki sikap seperti baja yang berkarakter kuat dan tangguh.  Seseorang yang bermental baja akan selalu berpikiran positif, optimis dan tetap bisa mengucap syukur meski berada dalam tekanan dan himpitan.  Ia bisa mengambil sebuah pelajaran berharga dari setiap masalah yang terjadi.  Masalah baginya adalah sebuah proses yang membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih tangguh, “Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.”  (Mazmur 126:5)
     

    Kita tahu bahwa sepotong besi baja akan menjadi sebuah alat yang berguna bagi kehidupan manusia setelah terlebih dahulu dibentuk dan ditempa dengan palu.  Memang setiap pukulan terasa menyakitkan dan terkadang kita harus bercucuran air mata dan berdarah-darah,  namun semua itu akan mendatangkan kebaikan bagi kita. 

    Sesungguhnya, masalah merupakan salah satu cara yang dipakai Tuhan untuk membentuk, memproses, memurnikan dan menguji kualitas iman dan pribadi kita.  “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28). 

    Karena itu jangan pernah lari dari masalah, namun hadapilah masalah dengan iman.  Belajarlah dari pengalaman Daud!  Ia tidak gentar sedikit pun ketika harus berhadapan dengan Goliat, bahkan dengan penuh iman berkata,  “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.”  (1 Samuel 17:45).

    Ingatlah! Jadilah orang percaya yang bermental baja, yang tetap kuat meski diterpa berbagai masalah! Orang bijak mengingatkan, “Kekuatan adalah hasil dari pergumulan. Jika tidak ada rasa sakit, tidak ada keuntungan.” Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg).

  • Menemukan KEBERANIAN dalam ROH KUDUS

    Dengan kuasa apakah orang percaya memiliki keberanian untuk bersaksi tentang Yesus Kristus?  Bacaan Alkitab Kisah Para Rasul (KPR) 4:1-13 menjelaskan rasul Petrus dan rasul Yohanes memiliki keberanian dalam Roh Kudus untuk memberitakan kabar baik Kristus di tengah-tengah keadaan sulit dan ancaman-ancaman dari para pemimpin Yahudi dan pengawal Bait Allah.  Roh Kudus membuat iman mereka dalam Yesus menjadi lebih kuat.

                Kuasa Roh Kudus yang begitu menakjubkan, yang tercatat dalam Kisah Para Rasul (KPR) secara keseluruhan, juga memiliki peranan sangat penting dalam pemberitaan misi di antara para rasul Kristus dan orang percaya. Perjalanan-perjalanan misi dari rasul Paulus dan timnya yang ditopang dengan pertolongan Roh Kudus pun dijabarkan dengan panjang lebar di dalam Kisah Para Rasul (bdng. 13:1-21:16)

                KPR 4:3-4 berbunyi, “Mereka ditangkap dan diserahkan ke dalam tahanan sampai keesokan harinya, karena hari telah malam. Tetapi di antara orang yang mendengar ajaran itu banyak yang menjadi percaya, sehingga jumlah mereka menjadi kira-kira lima ribu orang laki-laki.”

                Rasul Petrus dan rasul Yohanes tidak takut pada para pemimpin Yahudi yang memenjarakan mereka tanpa alasan yang jelas. Kedua rasul tetap berdiri teguh untuk memberitakan berita tentang Yesus Kristus. Apa hasil dari pemberitaan mereka di Bait Allah? Banyak orang yang mendengarkan kabar baik kini menjadi percaya. Sekitar 5.000 laki-laki percaya pada Yesus. Jumlah ini belum termasuk wanita dan anak-anak.

                Di sini, memberitakan kabar baik Kristus selalu penuh bahaya dan ancaman. Beberapa orang menerima kabar baik itu. Sebagian menolaknya. Sebagian malah marah. Beberapa orang tidak tahu bagaimana menanggapi kabar baik itu. Dengan melihat hal-hal itu, kita sering  menjadi putus asa. Karena, kita merasa  bahwa kita kurang cukup baik untuk menjadi saksi bagi Yesus Kristus.

    Ayat 8 berkata, “Maka jawab Petrus, penuh dengan Roh Kudus: “Hai pemimpin-pemimpin umat dan tua-tua…” Bacaan Alkitab ini menunjukkan bahwa kedatangan Roh Kudus ke dalam hidup orang percaya membuat perubahan yang sangat besar. Roh Kudus membuat iman mereka dalam Yesus lebih kuat dan mereka berkomitmen tinggi dalam pemberitaan kabar baik Kristus di antara banyak orang.

    Di sini, Roh Kudus menolong rasul Petrus berbicara pada para pemimpin Yahudi yang berpengaruh. Rasul Petrus juga bersaksi kepada para pemimpin tentang imannya dalam Yesus Kristus. Rasul Petrus berani dan tidak takut pada mereka. Kata-katanya bijak dan benar (bdng. Markus 13:11).

    Pada pertengahan tahun 1997, Pdm. Paul Gunawan dan saya pribadi menemani Dr. David Shenk (misionaris kawakan Amerika yang melayani di Afrika saat itu) dan tim Eastern Mennonite Mission berkunjung ke kota Jepara. Tujuan mereka adalah untuk sharing pelayanan misi di antara para hamba Tuhan GKMI (Gereja Kristen ​Muria Indonesia) yang diadakan di GKMI Jepara. Suatu siang, Dr. David Shenk dan timnya sedang menikmati keindahan pantai Jepara. Ia lantas melihat sekelompok anak muda yang sedang bernyanyi dan menyembah Allah.  Karena diliputi rasa penasaran, Dr. Shenk mendekati kelompok itu. “Siapakah yang menjadi pemimpin kalian di sini? tanyanya serius kepada beberapa anak muda di situ. “Roh Kudus”, jawab seorang pemuda dengan penuh keyakinan. Roh Kudus sendiri memungkinkan kaum muda itu berkumpul untuk menyembah Allah.

                Rasul Petrus pada akhir kesaksiannya mengungkapkan imannya yang terdalam kepada para pemimpin Yahudi. Ayat 12 berbunyi, Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan”.

    Inilah sebuah pengakuan yang sangat indah, bukan? Keselamatan hanya ditemukan dalam Yesus sendiri. Tak ada seorangpun di dunia ini yang bisa menyelamatkan kita dari dosa dan pelanggaran-pelanggaran kita. Namun, kini hanya  ada satu Juru Selamat. Ia Yesus Kristus. Bila kita mempercayai-Nya, kita memiliki keselamatan (bdng. KPR 10:43).

    Kita bisa melihat kuasa Roh Kudus di sini. Ia sebagai seorang Pribadi. Ia memberi keberanian dan kepercayaan pada rasul Petrus dan rasul Yohanes. Bila Roh Kudus bekerja dalam hidup kita, selalu ada hidup yang diubah, sukacita, dan pertumbuhan rohani. Kiranya Roh Kudus menolong kita mengenal Yesus Kristus lebih jauh dan memperkuat iman kita hari demi hari. (Petrus E. Handoyo/pg).

    *******