Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Mungkin lebih dari 50 persen pembaca renungan saya sudah berusia di atas 50 tahun. Jadi saat ini tentu sedang dalam proses untuk menjadi tua, bahkan mungkin sudah ada yang menjadi tua. Bagi saya menjadi tua itu suatu keniscayaan dan tidak menjadi masalah, yang penting tetap semangat dan tetap memiliki daya juang. Tips orang bijak berikut mungkin dapat membantu kita untuk mengenali apakah saat ini kita sudah menjadi tua, “Saat kenangan lebih besar daripada impian, saat itulah kita menjadi tua.”
Saudara, ada cukup banyak orang menjadi gelisah, panik dan takut ketika menghadapi kenyataan dirinya sudah menjadi tua. Menjadi tua ternyata menjadi momok bagi sebagian besar orang. Mereka menganggap menjadi tua berdampak negatif bagi mereka. Oleh karenanya berbagai upaya ditempuh untuk mempertahankan kemudaannya. Ada yang melakukan operasi plastik (oplas), tubuh dipermak di sana-sini; berapa pun biaya yang harus dikeluarkan tidak menjadi masalah asal keinginannya mewujud dan memuaskan.
Mengapa harus takut ketika kita merambat menjadi tua? Coba perhatikan pernyataan Salomo berikut, “Hiasan orang muda ialah kekuatannya, dan keindahan orang tua ialah uban.” (Amsal 20:29). Sesungguhnya setiap masa mempunyai keindahan tersendiri, demikian juga masa tua.
Bagi orang percaya, bisa memasuki masa tua merupakan anugerah Tuhan yang patut kita syukuri. Kita sudah menemukan jalan keselamatan dan kita sudah lolos menjalani lebih dari setengah perjalanan dari perjalanan hidup kita. Selain itu kita telah berhasil melewati proses kehidupan yang cukup panjang dan tidak mudah. Maka masa tua sering disebut sebagai masa keemasan, “Rambut putih adalah mahkota yang indah, yang didapat pada jalan kebenaran.” (Amsal 16:31)
Mengapa bisa demikian? Saudara, ketika kita telah memasuki masa tua, sesungguhnya kita telah memasuki masa tenang bersama Kristus. Kita telah banyak memperoleh hikmat melalui pengalaman manis pahitnya kehidupan ini sebagai proses pembentukan dari Tuhan. Jadi di masa tua, tidak seharusnya seseorang menjadi lemah, sebaliknya semakin hari justru harus semakin kuat di dalam roh. Hal ini dialami Paulus sehingga ia dapat bersaksi, “Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. (2 Korintus 4:16).
Jadi di usia yang semakin tua seharusnya kita tidak lagi terlalu memperhatikan hal-hal lahiriah, tetapi semakin memperhatikan keadaan batin atau kerohanian kita.
Ingatlah! Bukan hanya kita, Daud juga sempat merasa cemas ketika memasuki masa tua, karena dia tahu benar bahwa tak mungkin seseorang tetap muda dan tetap perkasa. Maka Daud memohon kepada Tuhan, “Janganlah membuang aku pada masa tuaku, janganlah meninggalkan aku apabila kekuatanku habis.” (Mazmur 71:9). Syukur, pada akhirnya Daud yakin benar bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan orang yang dikasihi-Nya. Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg)
Leave a Reply