Berfokus pada Apa yang Kita Miliki

Di dalam Kisah Para Rasul 2, para rasul dan orang-orang percaya dipenuhi oleh Roh Kudus. Mereka berbicara dalam bahasa-bahasa yang berbeda. Di samping itu, para rasul juga mengadakan banyak mukjizat dan tanda (2:43). Bacaan Alkitab dalam Kisah Para Rasul 3: 1-10 memaparkan satu mukjizat yang sudah mereka lakukan. Banyak orang telah menyaksikannya.

Ayat 2 menjelaskan tentang seorang lelaki yang lumpuh sejak lahirnya. Ia menjadi pengemis dekat pintu masuk Bait Allah. Baik orang sakit maupun orang miskin seringkali menunggu di pintu masuk itu. Apa tujuan mereka menunggu dekat pintu masuk Bait Allah? Mereka meminta sedekah atau uang dari para pengunjung Bait Allah. Barangkali  para pengunjung itu bersikap lebih murah hati  ketika mereka hendak beribadah kepada Allah.

            Saat tiba di pintu gerbang Bait Allah, rasul Petrus menatap langsung kepada lelaki lumpuh itu. Lalu, sang lelaki menatap kembali rasul Petrus dengan harapan bahwa ia akan mendapatkan uang  darinya (ayat 4-5).

            Ayat 6 berbunyi, “Tetapi Petrus berkata: “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!” Dalam ayat ini, rasul Petrus memberikan kepada lelaki lumpuh itu sesuatu  yang lebih baik bagi hidupnya. Yaitu, rasul Petrus menyembuhkannya dalam nama Yesus Kristus. Ini artinya, rasul Petrus menyembuhkan lelaki lumpuh itu dengan kuasa dan otoritas Yesus Kristus sendiri. Ini pun berarti lelaki itu mengalami perubahan/transformasi hidup yang besar.

Lelaki lumpuh tersebut menginginkan  uang dari rasul Petrus dan rasul Yohanes. Tetapi, dengan kejutan yang besar rasul Petrus memberikan kepadanya apa yang lelaki lumpuh itu betul-betul butuhkan. Yakni, pemulihan kedua kakinya. Lutut dan pergelangan kakinya kini menjadi kuat. Terlebih itu, ia memiliki  iman untuk sembuh (bdng. ayat 16).  

            Mari kita lihat ayat 6 lagi, “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu”. Di sini, rasul Petrus tidak berkata kepada lelaki lumpuh itu, “Aku tidak memiliki sesuatu”. Namun, rasul Petrus sungguh-sungguh berkata padanya, “Aku memiliki  sesuatu bagimu”. Itulah mukjizat kesembuhan bagi lelaki lumpuh tersebut.

Begitu sering, Allah meminta kita untuk memberikan dari apa yang kita miliki, bukan dari apa yang tidak kita miliki. Allah selalu berkenan dengan apa yang kita miliki, yang hendak kita persembahkan atau berikan kepada-Nya sebagai ucapan syukur untuk mendukung pelayanan-Nya (bdng. 2 Korintus 8:12).

Sekarang, apa yang kita miliki untuk diberikan kepada Allah? Jangan pernah kita mengatakan, “Aku tidak punya apa-apa, Tuhan”. Kita harus mengatakan, “Aku betul-betul memiliki sesuatu  untuk kupersembahkan pada-Mu, Tuhan”. Mungkin  kita bisa memakai kemampuan kita, waktu, karunia, nilai-nilai, komitmen, pengalaman, bakat/talenta, kesetiaan, tenaga, keuangan, maupun hidup kita dalam melayani Tuhan Yesus atau terlibat dalam pelayanan/dukungan sekecil apapun dan di manapun. Tuhan Yesus senantiasa  berkenan dengan apa yang kita miliki  dan mau memberkatinya.

            Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering merasa kecewa dan kurang bahagia ketika kita menghadapi kesulitan-kesulitan. Mengapa kita merasa kurang bahagia?  Sebab, kita sering berfokus pada apa yang tidak  kita miliki. Keinginan di dalam diri kita lebih besar  daripada hal-hal yang ada di luar kita (bdng. Yakobus 1:14-15). Kita seharusnya berfokus  pada apa yang kita miliki di sini  dan kini.

Dalam kegembiraannya, bekas pengemis lumpuh itu kini mulai melompat dan berjalan kian ke mari. Di sini, hal yang indah adalah ketika lelaki itu juga memuji  Allah. Ungkapan sukacita dan pujiannya kepada Allah juga menjadi suatu kesaksian manis bagi orang-orang di sekitarnya. Dan, orang-orang itu pun takjub dengan kuasa Allah (KPR 3:10).

Juga, kita harus ingat untuk memuji Allah atas pemeliharaan dan perlindungan-Nya. Mengapa? Karena, hanya orang-orang yang mengucap syukur mampu bertumbuh  dalam pemahaman anugerah Allah. Satu lagi, kita seharusnya tidak  lupa untuk berterima kasih kepada orang-orang yang sudah membantu kita di tengah-tengah kesulitan hidup.

            Marilah kita berfokus pada apa yang kita miliki  sebagaimana kita mengikuti Tuhan Yesus dan juga menjadi saksi-Nya bagi orang lain. Tuhan memberkati kita. (Petrus E. Handoyo/pg).

******

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *