Category: Karib Dengan Tuhan

  • ALLAH tetap MEMEGANG KENDALI

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Semoga sehat-sehat dan kita tetap semangat menjalani dan menikmati hari baru yang Tuhan sediakan bagi kita. Saya tahu saat ini kita menghadapi situasi yang sangat sulit, pandemi Covid – 19. Namun ingatlah, bagaimanapun keadaannya, Allah tetap memegang kendali. Allah yang hebat.

    Nasihat orang bijak, “Jangan katakan pada Tuhan seberapa besar  masalah yang kamu hadapi, tapi katakan kepada masalahmu seberapa besar Tuhanmu.”


    Saat ini ada cukup banyak orang yang menjadi pesimis dalam menatap masa depannya. Mereka sudah sambat (mengeluh). Memang tak bisa dipungkiri bahwa di hari-hari ini kita semakin diperhadapkan dengan tantangan yang tidak semakin mudah, juga beban hidup yang semakin hari terasa semakin berat. 

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), definisi pesimis: orang yang bersikap atau berpandangan tidak mempunyai harapan baik (khawatir kalah, rugi, celaka, dan sebagainya); orang yang mudah putus (tipis) harapan.

    Saudara, sesulit bagaimanapun keadaannya dan seberat apapun beban hidup yang ada, kita harus tetap optimis dan jangan pesimis, apalagi menyerah kalah pada keadaan.  Hidup kita adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat  (2 Korintus 5:7).

    Mengapa kita harus tetap optimis dalam menjalani hidup?  Karena kita punya Tuhan yang tak perlu diragukan kekuatan dan kuasa-Nya.  Karena itu kita tak perlu takut menghadapi apapun.  Jika Tuhan ada di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?  (Roma 8:31-b).  Jika Tuhan bekerja tidak ada perkara yang mustahil bagi-Nya.  Sekalipun berada di tengah-tengah penderitaan, kalau kita senantiasa berjalan bersama Tuhan dan hidup mengandalkan Dia, maka kita akan melihat pemulihan dinyatakan atas hidup kita.  “Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi.”  (Mazmur 126:1).  Tuhan melakukan perkara-perkara yang besar bukan bermaksud untuk unjuk kebolehan tentang ke-Ilahian-Nya, tetapi Dia memang adalah Tuhan yang Mahabesar dan ajaib segala perbuatan-Nya.

    Bersemangatlah dalam menjalani hidup, sebab kita punya Tuhan yang menjamin masa depan kita secara pasti.  “… masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.”  (Amsal 23:18).  Jangan sekali-kali menggantungkan harapan kepada dunia ini, itu sia-sia belaka.  Berharaplah hanya kepada Tuhan dan tetap nantikanlah Dia, sebab orang yang berharap kepada-Nya takkan mendapat malu.  Jangan pernah takut dalam menjalani hidup, sebab kita punya Tuhan yang tidak pernah gagal segala rencana-Nya  (Ayub 42:2).

    Ingatlah! Di dalam Tuhan kita memiliki jaminan hidup yang berkemenangan, karena Dia adalah Tuhan yang besar yang mengasihi kita.  Pemazmur mengingatkan kita, “Sebab TUHAN adalah Allah yang besar, dan Raja yang besar mengatasi segala allah.” (Mazmur 95:3). Oral Roberts (Penginjil asal Amerika) berkata, “Yang terpenting bukanlah ukuran iman saudara, tetapi siapa di balik iman saudara, yaitu Allah sendiri.” Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg).

  • Milikilah INTEGRITAS

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Paulus Hartono (Pendeta GKMI asal Solo) berkata, “Kalau kita sudah mendapatkan ‘jeneng (nama)’, maka  ‘jenang’ (rezeki/berkat) akan datang dengan sendirinya.” Salomo mengingatkan kita, “Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas.” (Amsal 22:1). Sesungguhnya integritas menjadi salah satu kunci keberhasilan hidup.

    Apa itu integritas? Menurut  C.S. Lewis (Penulis dari Britania Raya), “Integritas adalah melakukan hal yang benar walaupun tidak ada orang yang melihat.”  Sedangkan Samuel Johson (Penulis asal Inggris) berkata, “Tidak mungkin ada persahabatan tanpa ada kepercayaan dan tidak ada kepercayaan tanpa integritas.”

    Saudara, Simon Petrus merupakan satu dari tiga orang murid Yesus yang sering bersama-sama dengan Gurunya. Di mana pun Yesus melayani, ketiga orang itu selalu turut serta. Selain Petrus ada Yakobus dan Yohanes yang dikenal begitu dekat dengan Sang Guru. Contohnya saat Yesus membangkitkan anak Yairus mereka ada bersama-Nya. Demikian  juga ketika Yesus dimuliakan di atas bukit, ketiga orang itu juga turut menyaksikan momen tersebut.

    Meskipun demikian Petrus pernah mengkhianati Yesus. Memang sebelumnya  ia sempat sesumbar, “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku  takkan menyangkal Engkau.” (Matius 26:35a). Ternyata apa yang diperbuat Petrus berbeda dengan apa yang pernah dia ucapkan. Pada waktu ayam berkokok,  Petrus telah menyangkal Yesus tiga kali. Selain itu setelah Yesus  disalibkan, ketiga orang murid tersebut kembali kepada kehidupan lamanya, menjadi nelayan.

    Saudara, memang tidak mudah memiliki integritas, karena integritas berbicara tentang kesetiaan, komitmen dan totalitas secara keseluruhan. Apa yang kita ucapkan itulah yang harus kita lakukan! Sebagai orang percaya kita dituntut menjadi orang-orang yang berintegritas. Bila kita berkata aku mengasihi Tuhan, atau Tuhan adalah yang utama dalam hidupku, maka kita harus membuktikannya dengan tindakan. Sejauh mana kita mengasihi Dia dan benarkah Ia prioritas utama dalam hidup kita? Apakah buktinya?

    Tuhan Yesus tetap menunjukkan kesabaran-Nya kepada Petrus, meskipun dia sempat gagal dan kehilangan integrtias. Tuhan tetap mengasihi, sekalipun dia sudah berkhianat dan menyakiti hati-Nya. Ketika bertemu kembali dengan Petrus. Yesus masih memberinya kesempatan untuk kembali melayani. Yesus bertanya kepada Petrus sampai 3 kali, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” (Yohanes 21:15-19). Akhirnya Petrus tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan, dia merespon panggilan Tuhan untuk menggembalakan domba-domba-Nya.

    Ingatlah! Junius (Filsuf asal Belanda) berkata, “Integritas seseorang dinilai dari tingkah lakunya, bukan dari pengakuannya.” Sekarang, mari kita hayati nasihat Salomo, “Sebab itu tempuhlah jalan orang baik, dan peliharalah jalan-jalan orang benar. Karena orang jujurlah akan mendiami tanah, dan orang yang tak bercelalah yang akan tetap tinggal di situ, …” (Amsal 2:20-21). Tuhan memberkati Saudara. Better days are coming. (pg)

  • Tetap TEKUN dan SETIA pada Panggilan-NYA

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat dan tetap setia melayani Tuhan dan sesama, sesuai dengan panggilan, talenta, dan bidang minat kita. Kerjakanlah yang menjadi bagian kita dengan setia, dan lihatlah … Tuhan akan melakukan bagian-Nya dengan sempurna.

    Saudara, melayani di ladang  Tuhan memang tidak mudah, karena itu kita tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan sendiri. Kita butuh pendampingan dan campur tangan Tuhan.  Ada cukup banyak pelayan di ladang Tuhan yang berniat mengundurkan diri sebagai pelayan penuh waktu karena tidak tahan dengan tekanan, tantangan, tuntutan  dan berbagai permasalahan yang ada.  Bahkan ada  yang memilih untuk mengundurkan diri sebagai seorang gembala jemaat  karena merasa gagal:  sudah melayani Tuhan bertahun-tahun tapi respons dari jemaat yang dilayani sangatlah minim, begitu-begitu saja,  sehingga tak banyak jiwa yang dimenangkan.

    Jangan cepat-cepat menyerah!  Mari kita belajar dari Yeremia.  Dia  menghadapi tantangan yang tidak mudah dalam pelayanannya.  Dua puluh tiga tahun lamanya melayani jiwa-jiwa dan menjadi penyambung lidah Tuhan:  memberitakan kebenaran dan menyerukan pertobatan, namun respons orang-orang yang dilayani sungguh sangat mengecewakan.  “Sejak dari tahun yang ketiga belas pemerintahan Yosia bin Amon, raja Yehuda, sampai hari ini, jadi sudah dua puluh tiga tahun lamanya, firman TUHAN datang kepadaku dan terus-menerus aku mengucapkannya kepadamu, tetapi kamu tidak mau mendengarkannya.”  (Yeremia 25:3).

    Nasihat dan teguran Yeremia dianggap sebagai angin lalu,  “… TUHAN terus-menerus mengutus kepadamu semua hamba-Nya, yakni nabi-nabi, tetapi kamu tidak mau mendengarkan dan memperhatikannya.”  (Yeremia 25:4).   Meski demikian Yeremia tak kecewa apalagi menyerah pada keadaan, ia tetap tekun dan setia pada panggilan-Nya.

    Saudara, pertambahan jumlah jemaat yang dilayani, kemegahan gedung gereja, peningkatan persembahan, penambahan jumlah pendukung, penambahan murid yang mengikuti kursus, keuntungan terus bertambah, dan lain-lain, bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan seorang pelayan Tuhan di bidangnya.  Tuhan lebih  memperhatikan  ketekunan, kesetiaan, kesungguhan dan motivasi dalam menjalankan panggilan-Nya. 

    Apa pun keadaannya, seorang hamba Tuhan haruslah tetap setia menyampaikan kebenaran firman Tuhan, sebab cepat atau lambat, firman-Nya pasti akan digenapi. Marilah kita merenungkan nasihat Rasul Paulus, “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.” (2 Timotius 4:2).

    Ingatlah! Mario Puzo (Penulis dan novelis asal Amerika) berkata, “Kesetiaan adalah perekat kuat yang menjadikan sebuah relasi bertahan selamanya.”  Tanpa kesetiaan, seseorang akan meninggalkan kita saat jalan yang kita lalui mulai gelap.  Mari hayati nasihat Rasul Paulus, “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.”  (Roma 12:11). Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg).

  • Melihat SELUMBAR di MATA Saudaramu

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Ada cukup banyak orang yang senang menghakimi orang lain. Mengapa? Karena untuk memahami orang lain itu lebih sulit daripada untuk menghakimi. Sayangnya, mereka lupa dengan sabda Yesus, “Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”  (Matius 7:2)

    Saudara, dalam keseharian, ada cukup banyak orang yang mudah sekali melihat dosa, kesalahan dan kekurangan orang lain, sekalipun itu kecil.  Sebaliknya kekurangan, kelemahan atau kesalahan yang ada di dalam diri sendiri, sekalipun itu besar, tak mudah dilihat, apalagi diakui.  Yesus bersabda, “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?”  (Matius 7:3). Maka kita perlu merenungkan dalam-dalam nasihat orang bijak berikut, “Jika Anda menginginkan ketenangan pikiran, jangan mencari-cari kesalahan orang lain. Lebih baik belajar melihat kesalahan Anda sendiri.”

    Coba sejenak kita mengamati, ketika ada saudara seiman yang jatuh dalam dosa, apalagi ketika ada hamba Tuhan besar jatuh karena terlibat suatu skandal, langsung jadi viral. Grup-grup WA  langsung ribut dan sibuk memperbincangkannya. Ada cukup banyak orang yang ingin menjadi pengamat dan komentator. Mereka seolah-olah menjadi orang yang paling pakar, paling suci, paling benar, dan tak pernah melakukan kesalahan. 

    Saudara, ketika ada saudara yang mengalami pergumulan berat, misalnya sakit yang tak kunjung sembuh, kita langsung jadi hakim dadakan:  menghakiminya karena banyak dosa.  Sejujurnya, adakah orang yang luput dari kesalahan?  Adakah manusia yang sempurna? Bahkan hamba Tuhan besar yang sudah diurapi Tuhan dan diperlengkapi dengan berbagai karunia pun tak luput dari kesalahan dan kekurangan.  Kita perlu menghayati nasihat Rasul Paulus berikut, “Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung!”  (Roma 14:13). 

    Yakobus menegaskan bahwa  “Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Tetapi siapakah engkau, sehingga engkau mau menghakimi sesamamu manusia?”  (Yakobus 4:12).  Jika saat ini kita masih merasa sebagai orang yang paling benar, paling suci, dan memandang orang lain sebagai pihak yang salah dan penuh kekurangan, bertobatlah!  Yesus bersada, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.”  (Matius 7:1).  Jika ada saudara kita yang lemah dan jatuh, itu adalah kesempatan bagi kita untuk menunjukkan kasih:  memperhatikan, menolong dan menguatkan dia, jangan malah menjadi hakim atas hidupnya.

    Ingatlah!  Mencari kesalahan orang lain akan mencemari pikiran kita sendiri. Karena itu marilah kita menghayati nasihat Rasul Paulus, “Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain.”  (Galatia 6:4). Tuhan memberkati Saudara. Better days are coming. (pg)

  • DIAM dan TENANGLAH

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur. Jika kita bisa mensyukuri untuk apa yang telah kita peroleh dan miliki, maka hidup kita akan lebih tenang. Orang bijak memberikan tips, Endapkan emosi ke level terendah jika ingin mendapatkan ketenangan hati, agar kita bisa melihat setiap permasalahan dengan lebih jernih.”

    Kita perlu hidup secara seimbang, kadang kita bergembira ria, tapi kadang kita juga butuh untuk menikmati suasana tenang, supaya hati dan pikiran kita menjadi bening.

    Saudara, seringkali ketika kita sedang  menghadapi masalah yang cukup berat, maka reaksi yang muncul dalam diri kita:  Panik, gelisah, kalut, kacau, stres, cemas dan khawatir.   Kemudian kita berusaha sekuat tenaga agar segera bisa terlepas dari masalah yang sedang membelenggu. 

    Hari ini pemazmur mengingatkan kita, “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!”  (Mazmur 46:11).

    Saudara, pengalaman hidup saya bercerita bahwa dalam hidup ini ada saat-saat tertentu kita perlu berdiam diri dan menenangkan diri, sebab bila kita tidak tenang dan hati terus bergelora saat masalah datang, maka sulit bagi kita untuk mengambil keputusan yang tepat, karena pikiran kita sedang kacau.

    Berdiam diri artinya tenang, tidak banyak bereaksi.  Sikap tenang ini sangat diperlukan untuk mencapai tujuan dan doa kita kepada Tuhan. Nabi Yesaya mengingatkan, “… dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu. …”  (Yesaya 30:15b). 

    Berkenaan dengan hal tersebut Daud memiliki banyak pengalaman dengan Tuhan.  Oleh sebab itu ketika sedang dalam masalah, Daud berusaha untuk selalu mengingat-ingat semua kebaikan dan pertolongan Tuhan dalam hidupnya, sekalipun secara kasat mata masalah yang dihadapinya seolah-olah menemui jalan buntu dan tidak ada harapan.  Daud bersaksi, “Tali-tali maut telah meliliti aku, dan kegentaran terhadap dunia orang mati menimpa aku, aku mengalami kesesakan dan kedukaan. Tetapi aku menyerukan nama TUHAN: ‘Ya TUHAN, luputkanlah kiranya aku!’” (Mazmur 116:3-4). 

    Daud percaya bahwa Tuhan pasti memberikan pertolongan tepat pada waktunya, karena itu ia memerintahkan jiwanya untuk kembali tenang,  “Kembalilah tenang, hai jiwaku, sebab TUHAN telah berbuat baik kepadamu.”  (Mazmur 116:7).  Seberat bagaimana pun masalah yang kita alami saat ini, hendaklah kita tetap tenang, supaya kita dapat berdoa.

    Ketika para murid berada di atas perahu dan sedang diombang-ambingkan oleh gelombang karena angin sakal, mereka sangat panik, suasana pun semakin mencekam ketika mereka melihat ada seorang yang berjalan di atas air, yang disangkanya  hantu.  Mereka berteriak sekencang-kencangnya karena takut.  Berkatalah Tuhan kepada mereka,  “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”  (Matius 14:27).

    Ingatlah! Tenang mencerminkan suatu kemantapan hati dan keyakinan bahwa Tuhan pasti sanggup melakukan segala perkara bagi kita! Moammar Emka (Penulis asal Indonesia) berkata, “Berdiam juga pilihan. Memberi ruang pada nalar untuk bercinta; mencari jawaban. Semoga tenang menjelang, kemudian.” Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg)

  • BUAH KEHIDUPAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat dan selamat menikmati kasih dan kebaikan Tuhan. Semoga buah dari kasih dan kebaikan Tuhan, akan dapat dinikmati oleh mereka yang ada di sekitar kita.

     
    Anne Avantie (Perancang busana asal Indonesia) berbagi tentang harapannya, “Saya ingin, ibarat pohon, dahan-dahan saya dapat menjadi tempat yang aman untuk burung-burung bersarang dan berbuah banyak manis rasanya tak mengenal musim, sehingga bisa dipetik oleh siapa saja.”

    Saudara, buah berbicara tentang hidup yang menjadi berkat bagi orang lain, hidup yang berguna atau berdampak bagi orang lain.  Buah itulah yang ingin Tuhan lihat dalam kehidupan setiap orang percaya.  Yesus bersabda  “Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.”  (Yohanes 15:8).  Dengan demikian harapan ibu Anne Avantie selaras dengan harapan Tuhan Yesus.


    Mengapa setiap orang percaya harus menghasilkan buah?  Buah merupakan sesuatu yang alamiah yang dihasilkan oleh  pohon buah.  Adakah kita mendapati buah pada  pohon yang sudah kering dan mati?  Pasti kita tidak mendapatinya.  Jadi buah adalah salah satu tanda bahwa di dalam pohon itu ada kehidupan.  Selain itu buah juga sebagai pertanda bahwa pohon mengalami pertumbuhan yang baik dan sehat. 

    Saudara, semakin kita bertumbuh secara rohani semakin kita mencapai  kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus  (Efesus 4:13).  Kita tahu bahwa  pohon tidak akan pernah menghasilkan buah jika ia belum dewasa.  Jadi orang percaya  yang dewasa rohaninya pasti akan menghasilkan buah. 

    Dengan demikian berbuah adalah pertanda bahwa kerohanian kita hidup dan bertumbuh menjadi dewasa!

    Selanjutnya, bagaimana agar berbuah bagi Tuhan?  Kuncinya adalah tinggal di dalam Tuhan;  melekat kepada Pokok Anggur yang benar. Yesus bersabda, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.”  (Yohanes 15:4).  Untuk menegaskan hal tersebut, kata tinggal ditulis sampai sepuluh kali dalam sepuluh ayat pertama dari Yohanes pasal 15.  

    Tinggal di dalam Tuhan berarti taat melakukan firman-Nya.  Ketaatan kita melakukan firman Tuhan akan menghasilkan buah-buah Roh dalam kehidupan kita.  Nilai-nilai hidup yang kita hidupi dan kembangkan, akan bisa dinikmati oleh orang-orang yang bergaul dengan kita. Akibatnya, orang percaya yang berbuah, hidupnya akan berdampak bagi keluarga dan masyarakat luas.

    Ingatlah! Mari kita hayati pernyataan Bunda Teresa (Biarawati Katolik Roma yang melayani di India) berikut, “Buah keheningan adalah doa. Buah doa adalah iman. Buah iman adalah cinta. Buah cinta adalah pelayanan. Buah pelayanan adalah damai.” Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg).

  • Prioritas Melayani Yesus

    Apakah kita pernah begitu sibuk melakukan perkara-perkara bagi Yesus sehingga kita tidak mempunyai waktu bersekutu secara pribadi dengan-Nya?

                Bacaan Lukas 10: 38-42 memaparkan dua karakter berbeda antara Marta dan adiknya Maria. Ayat 38 berbunyi, “Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya.” Marta menerima  Yesus di kampungnya. Ini sangat bertolak belakang dengan Lukas 9:53, yakni orang-orang Samaria menolak Yesus singgah di kampung mereka.

                Penerimaan  adalah sebuah kata sangat  penting dalam perbendaharaan hidup kita. Dengan menerima  seseorang, kita menjadi terbuka  untuk menyambutnya. Kita bahkan mengakui  keberadaan orang itu di hadapan kita. Dalam hal ini, Marta sangat bahagia menerima Yesus ke dalam rumahnya.

                Lebih lanjut ayat 39 berkata, “Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya.” Baik Marta maupun adiknya Maria (Miriam) menerima  kunjungan Yesus ke dalam rumahnya. Tapi, perbedaannya adalah bahwa Maria menerima  Yesus ke dalam hatinya dan lalu mengambil posisi  sebagai murid Yesus untuk mendengarkan  dan belajar dari ajaran-Nya.

                Fokus dari Maria adalah mendengarkan ajaran Yesus dan sekaligus menikmati kehadiran-Nya di tengah-tengah kesibukan pekerjaan. Meninggalkan kesibukan sejenak hanya untuk menikmati persekutuan dengan Yesus. Inilah sebuah keberanian besar dan juga sebuah penyerahan diri sepenuhnya pada Yesus.

                Apabila kita melihat kembali ayat 39, “Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya”, ini bertolak belakang dengan ayat 40, di mana “Marta sibuk sekali melayani”. Dua bersaudara dengan dua karakter yang berbeda.

                Lalu, apakah Marta melakukan kesalahan dengan sibuk melayani dan menyiapkan makanan bagi Tuhan Yesus? Tidak. Tidak ada yang salah dengan Marta yang menjamu Tuhan Yesus di rumahnya. Tetapi, Marta juga harus  mengetahui bahwa tujuan Yesus berkunjung ke rumahnya adalah juga untuk bersekutu dengan Marta dan saudaranya Maria. Marta lebih memilih  untuk sibuk melayani dengan hidangan makanan daripada meluangkan waktu sejenak untuk mendengarkan ajaran Yesus. 

                Marta harus berani memberikan prioritas di antara kedua hal ini, sibuk melayani  atau mendengarkan  ajaran Yesus. Barangkali kita (kamu  dan aku) pun pernah mengalami keadaan yang terjadi pada diri Marta. Dalam perjalanan ke gereja, mungkin  kita sangat antusias untuk beribadah dengan Yesus. Namun saat tiba di gereja, fokus perhatian kita berubah ke lain sehingga kita tidak dapat menikmati kehadiran Yesus dalam ibadah jemaat.

    Tuhan Yesus menegaskan bahwa memang ada waktunya bagi Marta untuk melakukan kehidupan yang sibuk, tapi juga ada waktu untuk berdiam diri dan mendengarkan Yesus (ayat 41).

                Dalam ayat 42, Tuhan Yesus menunjukkan bahwa Maria juga sibuk tentang sesuatu  yang lebih baik, yaitu “hanya satu saja yang perlu.” Maria memilih  bagian yang lebih baik (bndg. Ulangan 30:19; Yosua 24:15), yakni duduk mendengarkan ajaran Yesus. Dengan kata lain, Maria lebih memilih hal rohani daripada hal fisik, pekerjaan rohani daripada pekerjaan jasmaniah (Ulangan 8:3).

                Prioritas yang Maria miliki  di sini adalah memilih melayani  Yesus dengan mendengarkan firman-Nya dan juga menikmati kehadiran-Nya. Dalam bacaan ini, menerima  firman Tuhan jauh lebih penting daripada melakukan hal jasmaniah (bdng. Ulangan 8:3; Matius 4:4; Lukas 4:4). Ini juga mengingatkan kita bahwa kesibukan yang berlebihan bisa menghalangi hubungan kita dengan Yesus Kristus. Kita semua harus memiliki waktu untuk mendengarkan  dan belajar dari Yesus.

                Marilah kita mengutamakan  mendengarkan firman Yesus dan bersekutu dengan-Nya. Tuhan Yesus memberkati kita semua. (Petrus E. Handoyo/pg)

    ******

  • Siapa TEMAN ANDA?

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh persahabatan. Semoga hari ini kita masih punya teman yang bisa diajak untuk tersenyum. Ternyata untuk tersenyum saja kita membutuhkan orang lain. Sangat berbahaya kalau kita sering senyum-senyum sendiri. Sesungguhnya di dalam hidup ini,  kita butuh kehadiran orang lain.

    Saudara, setiap manusia  membutuhkan kehadiran orang lain, karena kita tidak mungkin bisa hidup seorang diri saja.  Sekali pun ia orang yang kaya, atau orang yang genius, atau orang yang berkuasa,  tetap saja ia membutuhkan kehadiran orang lain di dalam hidupnya untuk hidupnya.  Apalagi di zaman now, kita tidak mungkin bekerja sendirian, kita butuh berjejaring.  Kehadiran orang lain, teman atau sahabat sangatlah perlu dan sangat dibutuhkan.  Itulah sebabnya manusia disebut sebagai makhluk sosial.

    Joel Osteen (Pendeta dan penulis asal Amerika), berkata, “Saudara tidak dapat memiliki hidup yang positif jika saudara bergaul dengan orang-orang yang negatif.” Maka sebagai orang percaya kita harus menjadikan firman Tuhan sebagai dasar dalam membangun hubungan dengan orang lain.  Kita diingatkan untuk berlaku bijak dalam memilih dengan siapa kita membangun suatu hubungan pertemanan.  Rasul Paulus mengingatkan,  “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.”  (1 Korintus 15:33). 

    Saudara, suatu saat Yehu menegur raja Yosafat karena ia telah menjalin hubungan dengan orang-orang yang berlaku fasik, yaitu orang-orang yang tidak mengindahkan kebenaran, menganggap remeh perintah Tuhan, yang suka sekali melakukan kejahatan dan berhati busuk.  “Ketika itu Yehu bin Hanani, pelihat itu, pergi menemuinya dan berkata kepada raja Yosafat: ‘Sewajarnyakah engkau menolong orang fasik dan bersahabat dengan mereka yang membenci TUHAN? Karena hal itu TUHAN murka terhadap engkau.’” (2 Tawarikh 19:2).  Yehu mengingatkan Yosafat agar segera mengakhiri hubungan terlarang itu, karena bila dibiarkan berlarut-larut akan berakibat fatal bagi dirinya dan kerajaan yang dipimpinnya. Salomo mengingatkan kita, “Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang.” ( Amsal 13:20)

    Dengan siapa kita bergaul akan memengaruhi ke mana arah perjalanan hidup kita!Berawal dari membangun pertemanan yang sembrono, ada cukup   banyak orang akhirnya terjerumus ke dalam pergaulan bebas, terjerumus ke dalam prostitusi, terjerumus ke dalam perdagangan dan pemakaian narkoba, terlibat dalam penipuan dan tindak kejahatan lainnya.  Berhati-hatilah!  Apalagi di zaman yang serba canggih, serba cepat, dan serba mudah,  membangun hubungan pertemanan bisa dilakukan dengan amat mudah melalui berbagai media sosial, tanpa kita mengetahui siapa orang itu sesungguhnya, latar belakang hidupnya seperti apa, dan sebagainya. Perhatikan nasihat orang bijak berikut, “Kelilingi diri Anda dengan orang-orang yang hanya akan mengangkat Anda lebih tinggi.”

    Ingatlah! Kelakuan kita banyak dipengaruhi dengan siapa kita bergaul, karena itu jagalah lingkungan pergaulan sebaik-baiknya. Andrie Wongso (Motivator asal Indonesia) memberi tips, “Pandai membawa diri di setiap pergaulan adalah ilmu hidup yang mutlak dimiliki oleh setiap orang yang mau sukses.” Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Betters days are coming. (pg)

  • KATA – KATA yang MENGUBAH

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh sukacita. Tentu kita sangat senang kalau dapat ngobrol dengan orang-orang yang kita kasihi, dengan orang-orang dekat, atau dengan sahabat kita. Ketika kita bincang-bincang santai, tentu kita mengeluarkan banyak kata-kata. Dalam perbincangan santai sekali pun, kita harus tetap hati-hati dan tetap waspada  dengan perkataan kita.

    Salomo menyampaikan harapannya, “Seseorang bersukacita karena jawaban yang diberikannya, dan alangkah baiknya perkataan yang tepat pada waktunya!” (Amsal 15:23). Ingatlah apa yang disampaikan orang bijak, “Satu kata baik dapat mengubah seluruh hari seseorang.”

    Saudara mungkin ingat dengan ungkapan, “Waktu yang menentukan segalanya”. Ternyata waktu juga menentukan kapan sebaiknya kita diam dan kapan sebaiknya kita berbicara. Salomo  mengatakan bahwa ada waktu untuk berdiam diri dan ada waktu untuk berbicara (Pengkhotbah 3:7). Dibagian lain  Salomo menyampaikan bahwa perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya dan yang disampaikan dengan baik itu bagaikan buah apel emas di pinggan perak. (Amsal 25:11).

    Mengetahui waktu yang tepat untuk berbicara akan memberi manfaat bagi pembicara maupun pendengarnya, entah perkataan itu tanda kasih, penguatan, atau teguran.

    Ada juga saatnya kita lebih baik berdiam diri, ketika kita tergoda untuk mengumpat, menghina, atau menjelek-jelekkan orang lain, Salomo mengatakan, alangkah bijaknya jika kita menahan lidah, karena itulah waktu yang tepat untuk berdiam diri (Amsal 11:12-13). Ketika kita tergoda ingin banyak berbicara atau amarah menggoda kita untuk berbuat dosa terhadap Allah atau seseorang, kita dapat menahan diri dengan mengambil sikap untuk lambat dalam berkata-kata (Amsal10:19; Yakobus 1:19).

    Yang menjadi permasalahan:  kita seringkali tidak bisa menahan diri untuk berkata-kata atau berbicara tanpa berpikir terlebih dahulu. Padahal kata-kata yang sudah terlanjur diucapkan sangat sulit untuk ditarik kembali,  dan pada saatnya kita harus mempertanggungjawabkannya di hadapan Tuhan.  Yesus bersabda, “… Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman.”  (Matius 12:36). 

    Oleh karena itu kalau tidak perlu berbicara,   lebih bijak kita diam, daripada banyak bicara namun perkataan tersebut bukannya membangun tetapi menghancurkan kehidupan orang lain.

    Kita harus selalu ingat bahwa setiap perkataan yang keluar dari mulut kita akan diperhatikan dan dipegang oleh orang lain.  Berhati-hatilah!  Jangan sampai kita salah bicara, sebab hal itu dapat menimbulkan kekecewaan dan akar pahit dalam diri orang lain!

    Saudara, kadang kita  sulit mengetahui apa yang harus kita katakan dan kapan waktu yang tepat untuk mengatakannya. Berdoalah, Roh Kudus akan menolong kita untuk bertindak bijaksana. Dia akan menolong kita untuk menyampaikan kata-kata yang tepat pada waktu yang tepat, dan dengan cara yang tepat, demi kebaikan sesama dan demi kemuliaan-Nya.

    Ingatlah! Dampaknya sangat dahsyat,  kata-kata yang tepat, dan disampaikan pada waktu yang tepat. Semoga perkataan kita dapat memberi semangat baru kepada yang letih lesu. Rod Williams (Konsultan pengembangan bisnis dan proyek) menghimbau, “Kata-kata yang baik akan membawa perasaan yang nyaman di hati. Berkata-katalah dengan baik senantiasa.”  Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Betters days are coming. (pg)

  • VISI akan MENARIKMU

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Syukur, Tuhan membuka kesempatan bagi saya untuk melayani di Yayasan Christopherus yang bersifat interdenominasi. Saya punya seorang teman sepelayanan yang mendoakan saya secara khusus, agar Tuhan setiap hari memberikan pewahyuan kepada saya sehingga saya dapat “visi” menulis renungan yang dapat menjawab sebagian besar kebutuhan pembaca.

    Helen Keller (Penulis dan aktivis politik asal Amerika), sejak berusia dua tahun dia menderita tunanetra dan tunarungu karena satu penyakit. Dia menyampaikan pendapat tentang pentingnya kita memiliki visi sebagai berikut, “Yang lebih parah dari ‘menjadi buta’ adalah memiliki penglihatan tetapi tidak mempunyai visi.”

    Apakah visi itu? Secara sederhana visi adalah gambaran masa depan yang memberi semangat.  Dalam kehidupan rohani, orang percaya perlu punya visi.  Jika tidak, perjalanan hidup kekristenannya akan tersendat-sendat, sulit mengalami pertumbuhan rohani yang maksimal. Salomo mengingatkan, “Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat. …” (Amsal 29:18)

    Saudara, visi merupakan penglihatan akan apa yang terjadi, baik itu peristiwa, tindakan, karya, maupun situasi atau keadaan lingkungan.  Di dalam Alkitab istilah visi bersifat nabiah atau pewahyuan. Tuhan menyatakan kehendak dan rencana-Nya, baik itu kepada individu atau pun kelompok, khususnya kepada bangsa Israel. 

    Tuhan menyatakan visi-Nya bisa melalui mimpi, penglihatan atau juga melalui perantaraan nabi-nabi-Nya.  Visi juga bisa diartikan pandangan rohani.  Apa yang tidak dilihat orang lain itulah yang diwahyukan Tuhan kepada kita.  Dengan kata lain kita melihat apa yang orang lain tidak melihat.

    Saudara, antara visi dan cita-cita (keinginan), jelas sangat berbeda.  Visi  berbicara tentang sesuatu yang Tuhan taruh dalam hidup kita, karena Tuhan tahu apa yang terbaik bagi hidup kita.  Sedangkan cita-cita dan keinginan,  datang dan timbul dari diri kita sendri. Visi diperoleh dari doa kita kepada Tuhan dan jawaban Tuhan atas ketaatan kita melakukan kehendak-Nya. 

    Maka kita harus lebih bersungguh-sungguh mencari kehendak Tuhan, melatih kepekaan untuk mendengar suara Tuhan melalui persekutuan yang karib dengan-Nya. Daud bersaksi,   “TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.”  (Mazmur 25:14).

    Visi mendorong kita untuk memiliki prioritas-prioritas dan membuat pilihan-pilihan hidup yang benar;  visi mendorong kita untuk memiliki semangat dan motivasi yang lebih lagi dalam melakukan segala sesuatu.  Bisa dikatakan bahwa visi sangat menentukan arah hidup seseorang. 

    Ingatlah! Milikilah kepekaan rohani supaya kita mampu menangkap visi yang Tuhan beri! Steve Jobs (Visioner, perintis dan genius dalam bidang bisnis asal Amerika) berkata,  “Jika Anda sedang mengerjakan sesuatu yang menarik, yang benar-benar menarik minatmu, Anda tidak perlu didorong. VISI akan MENARIKMU.” Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg).