Bacaan Alkitab: Yohanes 9:1-7
Dari bagian firman Tuhan yang kita baca, kita menjumpai beberapa pandangan sebagaimana yang diceritakan oleh Yohanes di dalam kitab Injil yang ditulisnya,
Yang pertama adalah pandangan murid-murid Tuhan Yesus.
Murid-murid ini berjumpa dengan seorang yang buta sejak lahirnya. Masing-masing mereka mengemukakan pandangannya. Simon orang Zelot, salah seorang murid yang latar belakangnya adalah pejuang Yahudi garis keras. Dia melawan pemerintah penjajah waktu itu, yaitu pemerintah Romawi yang menjajah orang Yahudi. Dengan tegas dia mengatakan: “Pasti orang tuanya yang berdosa. Sebab itu orang ini sejak lahir buta.”
Murid yang lain yaitu Filipus, mengutarakan pandangannya: “Kalau orang ini buta, pasti karena dosanya sendiri.” Ke-12 murid ini mengambil kesimpulan bahwa yang berdosa adalah orangtuanya atau orang-orang ini sendiri. Itulah hasil diskusi murid-murid Yesus. Mereka berjumpa dengan orang buta, lalu masing-masing mengutarakan pandangannya, berdiskusi panjang lebar, akhirnya mengambil kesimpulan. Kesimpulan hasil diskusi sudah diperoleh, sementara itu orang yang didiskusikan matanya tetap buta, jalannya tetap meraba-raba.
Yang kedua adalah pandangan Tuhan Yesus.
Dalam ayat 3 dan 4 Tuhan Yesus katakan: “Bukan dia dan bukan juga orangtuanya (yang berdosa), tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia. Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang. Akan datang malam , di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja.”
Kalian berjumpa dengan orang yang buta ini muka dengan muka. Orang buta ini ada dihadapan kalian. Lalu apa yang kalian lakukan? Kalian hanya mendiskusikan panjang lebar berjam-jam. Kalian tidak berbuat apa-apa. Seharusnya kalian bisa memberi makanan, supaya orang buta ini tidak kelaparan. Seharusnya kalian bisa memberinya pakaian, supaya orang buta ini tidak kedinginan.
Bekerjalah selama masih siang!
Akan datang malam di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja.
Bagi Tuhan Yesus adanya orang buta di hadapan-Nya adalah suatu kesempatan, suatu kairos. Suatu kairos jangan disia-siakan. Ini kesempatan. Kerjakan! Akan membawa kemuliaan bagi Nama Tuhan. Adakah kita juga seperti Tuhan Yesus yang bisa melihat dan memakai kairos ?
Dalam kehidupan di sekitar kita saat ini kita menjumpai berbagai peristiwa. Saat ini kita jumpai pendemi covid 19.Boleh dikatakan ini adalah suatu masa, zaman, waktu atau chronos. Dalam masa pandemi seperti ini, dapatkah kita melihat suatu kairos kesempatan yang bisa kita kerjakan? Puji Tuhan kalau Yayasan Christopherus melihat kairos ini dengan melakukan Peduli Pandemi Covid 19 dan Aksi-Aksi Sosial dengan membagikan sembako kepada masyaraakat yang memerlukan.
Peristiwa atau Masa atau Waktu yang lain kita jumpai di tahun 1965 di negara kita. Juga Tzunami di Aceh pada tahun 2004, juga kekacauan di Jakarta pada Mei 1998, juga meletusnya gunung Merapi, gempa bumi di Yogyakarta, dan gempa bumi di Palu yang mengerikan.
Dalam setiap peristiwa itu adakah mata rohani kita bisa melihat kairos atau kesempatan yang bisa kita kerjakan bagi kemuliaan Nama Tuhan Yesus Kristus?
Bekerjalah selama masih siang.
Terakhir, Yesus mengerjakan Kairos dengan menyembuhkan orang buta yang sejak lahir sudah buta. Mukjizat Tuhan terjadi. Orang buta ini sembuh. Matanya melek. Sekarang dia bisa melihat sekitarnya. Mudah-mudahan matanya yang melek itu juga bisa melihat kairos yang Tuhan berikan padanya. Amin. (Pdt. Kurnianto Leksono/pg).
Leave a Reply