Category: Karib Dengan Tuhan

  • CHRIST for ALL – ALL for CHRIST

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Semoga sehat-sehat selalu dan tetap semangat mengiring Tuhan Yesus Kristus. Kita sebagai keluarga besar Christopherus perlu selalu ingat akan moto Christopherus: “Christ for All – All for Christ” (Kristus untuk Semua – Semua untuk Kristus).

    Saudara, moto yayasan Christopherus  diambil dari 2 Korintus 5:14-15, “Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.” 

    Melalui moto tersebut kita selalu diingatkan bahwa Kristus disalibkan, mati, dibangkitkan, dan hidup untuk kita, semua orang yang beriman kepada-Nya. Maka kita sebagai orang-orang yang telah menikmati karya penebusan Kristus, diharapkan dapat hidup bagi Kristus, dengan jalan kita secara sukarela dan sukacita melayani sesama sesuai dengan talenta kita masing-masing.

    Pak Simon Nugroho, dalam tulisannya yang berjudul: “Strategi Pelayanan Anak-Anak Kos” berkata bahwa Kelompok doa anak-anak kos memutuskan memakai strategi pelayanan dengan tiga pilar yaitu: berwadahkan yayasan, bersifat interdenominasi dan pelayanan yang holistik. Pada akhirnya yayasan yang mereka dirikan bernama Yayasan Christopherus.

    Pilar pertama: Yayasan. Menurut Pak Charles Christano, dalam bukunya yang berjudul “Hubungan Yang Serasi Antara Gereja dan Organisasi Para­ Gereja,” Yayasan Kristen adalah suatu lembaga kristiani yang memiliki sifat nirlaba, beranggotakan orang-orang Kristen yang bekerja bersama-sama di luar kontrol denominasi, untuk mencapai tujuan pelayanan tertentu. Jelas di sini bahwa Yayasan Christopherus bukan gereja dan tidak punya minat dan rencana untuk mendirikan atau berubah menjadi gereja. Yayasan Christopherus melayani bersama dengan gereja-gereja dan untuk gereja-gereja.

    Pilar kedua: Interdenominasi. Menurut Pak Simon dalam artikel yang sama, dengan bersifat interdenominasi, tidak ada seorangpun dari anggota yayasan yang tersisih dan tertinggal, semuanya bisa berperan serta  ikut melayani. Dengan dukungan semakin banyak orang, yayasan akan menjadi semakin kuat. Strategi ini juga memungkinkan mereka bekerja sama dengan banyak gereja, atau bahkan dengan semua gereja. Dengan status interdenominasi diharapkan fungsi yayasan akan maksimal, akan menjadi berkat bagi sebanyak mungkin gereja.

    Pilar ketiga: Holistik. Menurut Pak Simon dalam artikel yang sama, yang dimaksud dengan pelayanan holistik adalah pelayanan menyeluruh, balk hal rohani maupun jasmani. Pelayanan ini tidak hanya memberitakan keselamatan jiwa saja, namun menolong penderitaan tubuh juga. Untuk menjawab kebutuhan tersebut maka saat ini Yayasan Christopherus mempunyai 5 Departemen: 1. Misi dan Pengajaran, 2. Musik, 3.Media 4. Diakonia dan 5. Persekutuan Biji Sesawi. Diharapkan melalui kelima departemen tersebut, Christopherus benar-benar dapat melayani secara holistik atau utuh. Selain itu semua pendukung Christopherus  mendapatkan wadah untuk terlibat dalam pelayanan sesuai dengan talenta dan bidang minatnya.

    Ingatlah! Kita dapat hidup sepenuhnya bagi Kristus ketika kuasa penebusan Kristus di atas Kalvari bekerja di dalam hidup kita. GBU & Fam. Better days are coming. (pg)  

  • SIKAP itu seperti BENIH

    Selamat  jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Semoga sehat-sehat dan tetap semangat. Selama kita masih hidup di dunia, masalah akan selalu ada. Sesungguhnya yang penting, bagaimana sikap kita dalam menghadapi masalah. Orang bijak berkata, “Kamu tidak bisa menenangkan badai, jadi berhentilah mencobanya. Apa yang dapat kamu lakukan adalah menenangkan diri. Badai akan berlalu.”

    Hati-hati, orang bijak mengingatkan kita, “Kelemahan di dalam sikap akan berkembang menjadi kelemahan di dalam karakter.”

    Hari ini  kita akan belajar dari pengalaman bangsa Israel.  Dua belas orang pengintai diutus Musa untuk memantau keadaan Kanaan, tanah Perjanjian.  Sepulang dari tugas pengintaian, sepuluh orang memberikan laporan yang intinya sangat pesimis dan merasa tidak mungkin mereka bisa masuk ke negeri itu.  Mereka melaporkan, “Hanya, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar, juga keturunan Enak telah kami lihat di sana.Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami.”  (Bilangan 13: 18 & 33). 

    Berbeda dengan Kaleb dan Yosua. Mereka memberikan  laporan yang berbeda.  Keduanya menyampaikan hal-hal positif, yang membangkitkan iman bangsa Israel, “Tidak!  Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!”  (Bilangan 13:30), dan mereka menambahkan,  “Negeri yang kami lalui untuk diintai itu adalah luar biasa baiknya.  Jika Tuhan berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.  Hanya, janganlah memberontak kepada Tuhan, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka akan kita telan habis.  Yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka, sedang Tuhan menyertai kita;  janganlah takut kepada mereka.”(Bilangan 14:7-9).

    Saudara, sesungguhnya cara kita memandang diri sendiri akan membentuk seperti apa kita.  “Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia.”  (Amsal 23:7a).  Sepuluh orang pengintai itu memandang dirinya seperti belalang.  Akibatnya mereka mengalami ketakutan dan hal itu berdampak buruk terhadap bangsa Israel.  Rasul Paulus mengingatkan, “… apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” (Galatia 6:7b). 

    Ingatlah! Berhati-hatilah, karena kita akan menuai hasil dari sikap kita terhadap masalah yang sedang kita hadapi.  Kita akan menjadi tawanan sikap kita sendiri. 

    Sikap itu seperti benih, yang ketika kita tanam akan bertumbuh dan menghasilkan tuaian.  Ann Brashares (Novelis dan penulis asal Amerika) berkata, “Masalah Anda bukanlah masalahnya, itu adalah sikap Anda terhadap masalah tersebut.” GBU & Fam. Better days are coming. (pg).

  • Misi Yesus untuk Segala Bangsa

    Sebelum Tuhan Yesus meninggalkan para murid dan kembali ke surga, Ia memberikan tugas misi-Nya kepada mereka. Ini disebut Amanat Agung. Tugas misi ini melibatkan baik gereja, orang percaya, maupun lembaga misi.

                Tugas ini bukan sebuah pilihan, tetapi sebuah perintah  bagi semua orang yang percaya dalam nama Tuhan Yesus. Jadi, semua orang percaya, kamu dan aku, dan gereja-gereja dipanggil untuk melaksanakan tugas misi yang khusus dari Tuhan Yesus. Rencana  dari tugas misi itu adalah supaya jalan Allah dikenal di bumi dan keselamatan-Mu ada di antara segala bangsa (bndg. Mazmur 67:3; Kisah Para Rasul 28:28).

                Bacaan Alkitab kita diambil dari Matius 28:16-20. Ayat 19–20 berkata, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

    Ini bagian-bagian penting dalam tugas misi bagi orang percaya dan gereja-gereja. Namun, di sini hanya ada satu  perintah atau amanat dalam kedua ayat ini, yaitu “jadikanlah semua bangsa murid Yesus”. Bangsa di sini termasuk orang Kamboja, Indonesia, Mongolia, Vietnam, Laos, dan lain-lain.  Amanat  ini menjadi tanggung jawab semua orang percaya.

    Frase “Karena itu pergilah…” (ayat 19) berarti setiap orang percaya dipanggil untuk pergi menjadi saksi  Yesus di banyak tempat di dunia ini (bndg.  KPR 1:8). Di kota Yerusalem di wilayah Yudea, orang percaya menerima kuasa Roh Kudus, yang memampukan mereka menjadi saksi  Yesus.

    Tugas misi Tuhan Yesus di sini terdiri dari tiga langkah. Pertama, kita harus pergi. Tujuan amanat Yesus adalah bahwa orang percaya dipanggil untuk pergi  ke “semua orang di antara bangsa-bangsa”. Ke mana kita pergi  untuk membawa kabar baik Kristus juga bergantung pada karunia, yang sudah diberikan Allah pada kita. Di sini, kita bisa membawa berita Injil kepada teman-teman, kerabat, tetangga, rekan kerja, atau keluarga kita.

    Kedua, kita harus membaptis. Tuhan Yesus meminta kita untuk membaptis sejumlah orang. Mengapa? Sebab baptisan menyatukan  orang percaya dengan Yesus Kristus dalam kematiannya atas dosa dan kebangkitan ke dalam hidup baru. Baptisan melambangkan penyatuan diri dengan Yesus Kristus, penyerahan diri pada-Nya, dan keinginan diri untuk hidup dalam jalan Allah. 

    Ketiga, kita harus mengajarkan semua hal yang sudah diperintahkan oleh Yesus untuk ditaati.  Orang percaya mesti berbagi ajaran-ajaran Yesus Kristus dengan orang Kristen baru dan orang lain. Ajaran-ajaran itu meliputi perintah baru tentang kasih (Yohanes 13:34-35), Perjamuan Kudus, baptisan, jalan keselamatan, perdamaian, pengampunan, kewajiban moral kepada Allah dan manusia, hukum baru tentang kehidupan, berdoa, berpuasa, penginjilan, dan lain-lain.   

    Kita semua dipanggil  untuk menjawab tugas misi Yesus, yang telah diberikan kepada kita. Bagaimana kita bisa berpartisipasi dalam tugas misi itu? Kita bisa mendoakan pelayanan misi penginjilan di wilayah dan negara manapun, mendukung para misionaris dan hamba Tuhan, ikut terlibat dalam pelayanan misi bersama orang percaya dan hamba Tuhan, mengundang teman-teman atau kerabat untuk berdoa buat pelayanan misi. Memang, melakukan tugas misi Tuhan selalu manise. (Petrus E. Handoyo/pg).

                                      ******

  • KEBAIKAN itu INDAH

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Pengalaman hidup saya bercerita bahwa KEBAIKAN itu  INDAH, baik bagi yang memberi maupun yang menerima. Saya pernah dipanggil Tuhan Yesus oleh seorang ibu dari seorang anak laki-laki kelas IV SD yang saya belikan kaca minus 4,5 (pada waktu itu ibu tersebut belum menjadi orang percaya). Rasul Paulus mengingatkan kita semua, “Dan kamu, saudara-saudara, janganlah jemu-jemu berbuat apa yang baik.” (2 Tesalonika 3:13)

    Gede Prama (Pengusaha, filsuf dan penulis asal Bali) berkata, “Kebaikan adalah nyanyian indah yang bisa didengar oleh orang tuli, sekaligus bunga indah yang bisa dilihat oleh orang buta.”

    Saudara, dari cerita-cerita tema-teman, ada cukup banyak orang percaya yang menjadi trauma untuk berbuat baik, karena mereka punya pengalaman yang pahit ketika mereka berbuat baik.

    Mari kita belajar dari seorang petani. Petani menanam padi, jagung atau sayuran.  Pada saat bersamaan tumbuh pula rumput atau ilalang di sawah atau di ladang tersebut.  Namun anehnya, andaikan petani itu menanam rumput,  ia tidak akan pernah mendapati padi atau sayuran turut tumbuh di sana. 

    Demikian juga dalam kehidupan ini.  Ketika kita melakukan perbuatan baik terkadang hal-hal buruk datang menyertai, entah itu berupa: Ditipu, disalahmengerti, dicibir, difitnah, dan lain-lain.  Jika demikian haruskah kita berhenti berbuat baik ketika orang lain tidak membalas kebaikan kita? Haruskah kita berhenti berbuat baik ketika responsnya justru  menyakitkan atau merugikan kita? 

    Kalau kita berbuat baik hanya sekadar untuk membalas kebaikan orang lain, atau dengan tujuan mendapatkan balasan yang sama, apalah artinya?  Tuhan Yesus bersabda, “Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian.”  (Lukas 6:33). Mari renungkan dalam-dalam nasihat  Rasul Paulus,   “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.”  (Galatia 6:9).

    Jadi tidak ada istilah  rugi atau buntung  ketika kita melakukan perbuatan baik kepada orang lain, sebab pada saatnya kita akan menuai.  Ada tertulis:  “Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri,” (Amsal 11:17). 

    Kita memang perlu hati-hati dan lebih cermat dalam memberi pertolongan. Kita perlu berusaha untuk tahu siapa sebenarnya yang hendak kita tolong. Tapi sebagai orang percaya, berbuat baik adalah suatu keharusan, buah dari keselamatan yang telah kita terima, dan merupakan bukti kita memiliki iman yang hidup!

    Ingatlah! Mother Teresa (Biarawati asal Roma yang melayani di India) berkata, “Jangan biarkan setiap orang yang datang pada anda, pergi tanpa merasa lebih baik dan lebih bahagia. Jadilah ungkapan hidup dari kebaikan Tuhan. Kebaikan dalam wajah anda, kebaikan dalam mata anda, kebaikan dalam senyum anda.” Mati kita camkan apa yang dikatakan Rasul Yohanes, “Barangsiapa berbuat baik, ia berasal dari Allah, tetapi barangsiapa berbuat jahat, ia tidak pernah melihat Allah.”  (3 Yohanes 1:11b). GBU & Fam. Betters days are coming. (pg)

  • BERENCANA itu KEREN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Semoga kita sudah terbiasa membuat rencana untuk hidup kita. Minimal rencana harian sederhana, apa yang ingin kita kerjakan sepanjang hari ini. Orang bijak berkata, “Kalau kita tidak membuat rencana, maka sesungguhnya kita merencanakan kegagalan.”


    Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) berusaha merangkul generasi milenial, golongan remaja dan pemuda dengan tagline dan lagu: “Berencana Itu Keren”. Saya setuju sekali. Kita perlu punya rencana dengan hidup dan keluarga kita. Tuhan Yesus sudah mengingatkan kita melalui perumpamaan, “Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?”  (Lukas 14:28)

    Saudara, perjalanan hidup kita sesungguhnya seperti kalau kita akan melakukan sebuah perjalanan ke tempat tertentu yang cukup jauh.Kita perlu mempunyai tujuan tertentu yang jelas. Demikian pula dengan kehidupan ini, kita pun harus memiliki tujuan yang jelas.  Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan perencanaan yang benar-benar matang.  Perencanaan itu bagaikan peta petunjuk yang menuntun kita kepada suatu tujuan. 

    Dengan demikian kalau kita merindukan kehidupan yang lebih baik dan bermasa depan cerah, kita perlu memiliki perencanaan yang jelas. 

    Kata Pak Aristarchus Sukarto, “Hidup itu sebuah proses.” Karena itu keberhasilan hidup tidak bisa terjadi dalam waktu semalam. Selain itu kita harus berani membayar harganya untuk menggapai keberhasilan hidup.  Artinya keberhasilan merupakan sebuah proses dan setiap proses selalu diawali dengan perencanaan dan kemudian kerja keras.  Yakinlah tanpa perencanaan yang baik dan kerja keras, keberhasilan tidak akan pernah singgah di hidup kita. 

    Mulai dari sekarang buatlah perencanaan yang matang dan beranilah berjalan di mil kedua, bekerja lebih keras.  Walaupun kita sudah membuat perencanaan dengan matang dan sudah bekerja keras, ada kalanya kita masih menuai kegagalan.   Nah, adakalanya melalui kegagalan, kita diingatkan agar selalu melibatkan Tuhan di setiap perencanaan.  Dalam segala hal seharusnya kita berkata,  “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.”  (Yakobus 4:15).

    Yesus memberikan sebuah ilustrasi yang lain tentang pentingnya sebuah perencanaan hidup:  “Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang?”  (Lukas 14:31). 

    Ingatlah! Karena itu setiap kali membuat sebuah rencana jangan sekali-kali kita melupakan Tuhan, sebab Dialah yang berdaulat atas hidup kita. Kata Pak Andreas Christanday, “Tuhan itu tahu akhir di awal.” Salomo mengingatkan kita, “Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu.”  (Amsal 16:3). GBU & Fam. Better days are coming. (pg).

  • Let’s SERVE GOD and OTHERS Enthusiastically

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Pengalaman hidup saya bercerita betapa sangat bersyukur,  di usia 64 tahun, Tuhan masih memberi kesempatan kepada saya untuk terlibat pelayanan di Yayasan Christopherus dan di lading-ladang yang lain. Hampir setiap pagi boleh berbagi renungan pribadi saya kepada teman-teman melalui website Christopherus.

    Matt Lucas (Penulis dan pelawak asal Inggris) berkata, “Jagalah diri saudara supaya tetap sibuk karena hal ini dapat melepaskan saudara dari depresi. Bagi saya, pasif (tidak mengerjakan apa-apa) adalah musuh.”


    Semoga di masa pandemi Covid – 19 ini, kita tetap antusias dan menggebu-gebu untuk melayani Tuhan dan sesama. Let’s serve God and others enthusiastically (Mari dengan antusias kita melayani Tuhan dan sesama).

    Rasul Paulus mengingatkan agar kita tetap memiliki semangat untuk melayani Tuhan dan juga sesama, “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.”  (Roma 12:11) Berhati-hatilah!  Jika kita terlena dalam kemalasan dan kesuaman, pada saatnya kita akan benasib seperti jemaat di Laodikia:  “… karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku (Tuhan) akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.” (Wahyu 3:16). 

    Oleh karena itu Rasul Paulus kembali mengingatkan kita,  “… saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan!  Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” (1 Korintus 15:58).  Kata teguh berarti setia, dan di dalamnya terkandung suatu komitmen yang tinggi.  

    Tuhan Yesus telah memberikan teladan kepada kita.  Ketika Yesus diutus ke dalam dunia ini Ia dengan penuh komitmen menjalankan kehendak Bapa meski harus melewati penderitaan, aniaya, caci-maki, penolakan, bahkan kematian di atas kayu salib.  Komitmen-Nya tidak pernah goyah  dan pudar oleh keadaan apa pun.  Dia pun mau mengampuni orang-orang yang telah menganiaya-Nya.  Yesus bersabda,  “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.”  (Yohanes 4:34).

    Lalu bagaimana dengan  kita?  Janganlah goyah saat kita menghadapi berbagai tantangan dan halangan.  Kalau kita menyerah kalah pada keadaan, Iblis akan bersorak sorai menertawakan kita.  Ketahuilah:  tidak ada kemuliaan tanpa salib, tidak ada kemenangan tanpa perjuangan.  Mari kita menjaga komitmen untuk melayani Tuhan dan sesame sampai akhir tarikan nafas.

    Ingatlah! Pengalaman hidup saya bercerita bahwa hati yang antusias melayani akan menemukan banyak kesempatan untuk melayani di mana-mana. Semakin kita setia melayani Tuhan, semakin kita dipercaya oleh-Nya untuk melakukan perkara-perkara besar, walaupun kita harus memulainya dari perkara-perkara kecil! GBU & Fam. Better days are coming. (pg).

  • Be FAITHFUL in SMALL THINGS

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Pengalaman hidup saya bercerita bahwa kita harus bersedia menapaki mulai anak tangga yang terbawah untuk bisa mencapai anak tangga yang teratas. Pelayanan saya di Sinode GKMI mulai dari jabatan sebagai Tata Usaha (TU). Tugas utamanya mengetik surat, membukukan surat masuk dan keluar, mengetik “INFORMASI” (Warta Dua Bulanan Sinode GKMI), mengetik majalah “berita GKMI”, menyetensil laporan-laporan, dan lain-lain. Saya hanya berpegang pada sabda Yesus,  “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.”  (Lukas 16:10a)

    Orang bijak berkata, “Perjalanan beribu-ribu mil dimulai dari langkah pertama.”. Tapi anehnya ada cukup banyak orang  hanya terfokus kepada hal-hal yang besar saja, sampai-sampai ia melupakan, meremehkan dan menyepelekan hal-hal yang kecil atau sederhana.  Sesungguhnya untuk bisa sampai kepada perkara-perkara yang besar kita harus mulai dari hal-hal yang kecil.  Untuk bisa mencapai puncak gunung kita harus mulai pendakian dari bawah, melewati lembah, lereng, dan bukit terlebih dahulu. 

    Coba baca biografi orang-orang yang berhasil, di bidang apa saja. Hampir pasti mereka  memulai segala sesuatunya dari nol, tidak langsung berada di puncak.  Di Zaman Now, ada cukup banyak kita temui orang-orang yang  maunya serba instan, serba kilat, super ekspres. Jarang yang mau memulai sesuatu dari bawah, dari yang kecil.

     
    Saudara, sebelum kita layak untuk menerima sebuah kepercayaan yang lebih, mau tidak mau, kita harus terlebih dahulu melewati proses dari bawah.  Kita tidak secara tiba-tiba berada di puncak.  Ada ujian kesetiaan, ujian ketekunan dan ujian kesabaran dalam mengerjakan perkara-perkara kecil.  Bahkan, adakalanya kita harus melewati pengalaman pahit atau situasi sulit yang sangat menyakitkan. Namun kita tidak boleh menyerah begitu saja, kita harus terus melangkah dan tetap mengerjakan apa yang menjadi bagian kita, tanpa ada sungut-sungut.  Itulah modal untuk beroleh kepercayaan lebih!

    Ingatlah! Mother Teresa (Biarawati asal Roma yang melayani di India) berkata, “Be faithful in small things because it is in them that your strength lies” (Setialah dalam hal-hal kecil karena di situlah letak kekuatan Anda). Daud mengingatkan kita, “Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela,”  (Mazmur 18:26). GBU & Fam. Better days are coming. (pg).

  • Be HONEST

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Orang bijak berkata bahwa kejujuran kadang memang menyakitkan, tapi justru mendatangkan kesehatan. Sedangkan kebohongan kadang nampak menggembirakan, tapi justru tidak menyembuhkan.


    Saudara, berbicara tentang kejujuran berarti berbicara tentang hasrat dan motivasi,  yang muncul dari dalam hati dan pikiran seseorang, yang kemudian menghasilkan suatu tindakan.  Pada Zaman Now, hidup sebagai orang jujur menjadi barang langka, sulit didapat dan ditemukan.

    Penulis Amsal secara tegas menyatakan bahwa Tuhan bergaul erat dengan orang yang jujur,  “… orang yang sesat adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi dengan orang jujur Ia bergaul erat.”  (Amsal 3:32). Jadi salah satu syarat utama untuk dapat memiliki hubungan yang akrab dengan Tuhan, kita harus menjadi orang jujur.  Artinya kita harus menjadi pribadi yang selalu terbuka di hadapan Tuhan, tidak ada yang  kita tutup-tutupi atau sembunyikan. 

    Sebagai orang percaya, apa pun situasi dan keadaannya, kita dituntut untuk tetap hidup sebagai orang yang jujur.  Bagaimana bisa menjadi seorang yang jujur?  Diawali dengan ketulusan hati, seperti tertulis:  “Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya, tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya.”  (Amsal 11:3).  Artinya untuk menjadi orang jujur, kita perlu memiliki ketulusan hati.

    Orang yang tulus hati adalah orang yang mengasihi Tuhan tanpa syarat, yang melakukan segala sesuatu untuk Tuhan tanpa keluh kesah dan bersungut-sungut.  Daud, yang disebut sebagai orang yang berkenan di hati Tuhan  (Kisah Para Rasul 13:22-b), memiliki kerinduan besar untuk menjadi orang yang jujur dan tulus hati.  “Ketulusan dan kejujuran kiranya mengawal aku, sebab aku menanti-nantikan Engkau.”  (Mazmur 25:21).

    Saudara, mungkin bagi sebagaian besar  orang, berlaku jujur di Zaman Now saat ini adalah kerugian besar.  Tetapi bagi orang yang takut akan Tuhan kejujuran justru mendatangkan keuntungan besar.  Orang yang hidup dalam kejujuran pasti akan mengalami berkat-berkat Tuhan secara luar biasa.  Sampai kapan pun di dalam kamus hidupnya dia tidak mengenal kata  rugi atau sia-sia.   Orang yang jujur tidak akan pernah ditinggalkan dan dipermalukan oleh Tuhan, sebaliknya ia akan mendapatkan pembelaan dan berkat dari Tuhan. 

    Yakinlah ada masa depan yang baik yang Tuhan sediakan bagi orang yang berlaku jujur.  Salah satu berkat luar biasa bagi orang yang jujur adalah doanya pasti berkenan di hati Tuhan.  “… doa orang jujur dikenan-Nya.”  (Amsal 15:8).  Jadi Tuhan menyediakan berkat-berkat-Nya bagi orang yang jujur.  Karena itu jangan ragu dan  takut berlaku jujur sebab kita punya Tuhan yang tidak pernah tertidur dan terlelap  (Mazmur 121:4-5). 

    Ingatlah! Be honest. Jujurlah! Orang percaya dipanggil untuk memiliki kehidupan yang tidak serupa dengan dunia!  Ketika kebohongan sudah menjadi gaya hidup sebagian besar orang, sanggupkah kita menjadi garam, dengan setia tetap bertahan menjadi orang jujur? GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • More SMILING, Less WORRYING

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Sebagai manusia kadang khawatir itu wajar, tapi jangan biarkan kekhawatiran itu membayangi hidup kita sepanjang hari. Pada suatu titik, kamu hanya perlu membiarkan pergi apa yang kamu pikir harus terjadi dan nikmatilah apa yang sedang terjadi.


    Dr. Edward Podolsky (dosen dan penulis buku), dalam bukunya yang berjudul  “Stop Worrying and Get Well” menulis bahwa kekhawatiran yang dipelihara secara terus-menerus dapat menyebabkan seseorang menderita sakit, seperti penyakit jantung, darah tinggi dan migran. Salomo mengingatkan kita,  “Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang, tetapi perkataan yang baik menggembirakan dia.”  (Amsal 12:25)

    Dengan kata lain, bila hati dan pikiran terus dipenuhi oleh kekhawatiran, tubuh jasmani secara otomatis terkena efeknya.  Ketika kita khawatir tubuh ini serasa membawa beban yang begitu berat sehingga organ-organ tubuh kita tidak berfungsi sebagaimana mestinya.  Di sini dapat disimpulkan bahwa kekhawatiran lebih banyak berdampak negatif daripada positif karena dapat menganggu kesehatan.  Karena itu jangan sekali-kali menganggap remeh kekhawatiran, karena cepat atau lambat bisa menghancurkan hidup kita, memporak-porandakan semua harapan kita, serta menghentikan langkah kita untuk menikmati hidup.

    Leo Buscaglia (motivator asal Amerika)  berkata,  “Kekhawatiran tak akan melenyapkan kesedihan esok, tetapi akan menghilangkan kegembiraan hari ini.” 

    Pada dasarnya kekhawatiran itu berkaitan erat dengan ketakutan dan kecemasan.  Orang dikatakan khawatir ketika berada dalam keadaan takut, cemas, gelisah dan tidak tenang, yang ditimbulkan oleh situasi yang bermasalah, baik itu yang dibayangkan, hanya di angan-angan, maupun yang terjadi di dunia nyata. 

    Kekhawatiran juga bisa didefinisikan sebagai perasaan takut akan hari esok atau masa depan.  Jadi, sesungguhnya kekhawatiran adalah perasaan gelisah terhadap sesuatu yang belum tentu akan terjadi. Ayub mengingatkan kita, “… yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku.”  (Ayub 3:25)

    Kita sebenarnya tahu bahwa kekhawatiran itu tidak baik dan tidak mendatangkan keuntungan apa-apa, Tuhan Yesus sudah mengingatkan kita, “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” (Matius 6:27).

    Dalam praktiknya kita seringkali memilih untuk khawatir dan terus hidup dalam kekhawatiran.  Akibatnya pikiran kita hanya terfokus pada masalah dan kesulitan.  Waktu dan energi kita pun terkuras sia-sia memikirkan masalah, sehingga masalah akan tampak besar bagaikan raksasa yang serasa sulit untuk dikalahkan. Yesus bersabda, “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (Matius 6:34) Ingatlah! Anda ingin bebas dari kekhawatiran? Hafalkan dan lakukan nasihat dari Rasul Petrus berikut, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” (1 Petrus 5:7). So more smiling, less worrying. GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • IMAN yang HIDUP

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Di saat-saat yang sulit dan serba terbatas pada saat ini, dunia sedang menunggu tindakan iman dari orang-orang percaya. Dunia menunggu tindakan-tindakan iman walaupun kecil tapi disertai dengan kasih yang besar.

    Saudara ada dua unsur penting dalam iman:  Seseorang dapat dikatakan memiliki iman bila ia percaya meski belum melihat bukti.  Selain itu, seorang beriman taat melakukan kehendak Tuhan, apa pun risikonya.  Jadi, iman juga harus disertai perbuatan atau tindakan nyata. “Demikian juga halnya dengan iman:  Jika itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya adalah mati.”  (Yakobus 2:17)

     Jika kita berbicara mengenai iman tetapi tidak bertindak sesuai dengan apa yang kita imani, hal itu menjadi sia-sia.  Iman yang sejati bukanlah sekadar perkataan, namun harus diwujudkan ke dalam perbuatan.  Iman yang disertai dengan tindakan pasti membuahkan hasil. 

    Saudara, kali ini kita akan belajar dari Rahab, seorang perempuan sundal.  Sebagai penduduk kota Yerikho, Rahab telah mendengar tentang kuasa Allah Israel yang mengalahkan banyak bangsa, dan ia tahu orang Israel sedang menuju Yerikho,  sementara Allah akan menyerahkan kota tersebut ke tangan mereka. 

    Ketika dua orang pengintai Israel datang ke Yerikho, Rahab melihat itu sebagai kesempatan emas dan ia bertindak.  Ia menolong kedua orang pengintai itu dengan menyembunyikan mereka di rumahnya.  Atas tindakan berani Rahab tersebut, dua pengintai itu berhasil lolos.  Namun sebelum para pengintai itu pergi, Rahab memohon agar ia dan seisi keluarganya diselamatkan bila mereka (orang Israel) menyerbu kota Yerikho. 

    Para pengintai itu pun setuju dan mereka membuat suatu kesepakatan.  Para pengintai memerintahkan Rahab untuk mengikatkan tali kirmizi pada jendela rumah  (Yosua 2:21).  Perintah itu pun dilakukan oleh Rahab.  Tali berwarna merah itu menjadi simbol pengharapan dan jaminan keselamatan baginya.
        
    Ketaatan Rahab mengaitkan tali kirmizi menunjukkan imannya pada perkataan para pengintai itu, yang secara tidak langsung merupakan janji Tuhan. 

    Karena iman pengharapan yang ditaruhnya pada Allahnya yang “baru”, dan disertai tindakan nyata sebagai respons terhadap imannya, Rahab dan segenap keluarganya diselamatkan ketika orang Israel menguasai dan menghancurkan kota Yerikho. 

    Ingatlah! Pelajaran dari pengalaman hidup Rahab sudah jelas:  iman yang disertai tindakan selalu membuahkan hasil! Jika iman kita adalah iman sejati, ia akan tampak dengan sendirinya melalui perbuatan kita. GBU & Fam. Better days are coming. (pg).