Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Teman sepelayanan saya yang milenial berkomentar, “Om Paul, sahabat itu merupakan seorang makhluk yang menemani kita saat sedih, senang, dan bahagia, kadang memang menyebalkan, namun anehnya sangat kita rindukan jika dia tak ada.”
Walter Winchell (Komentator gosip asal Amerika) berkata, “Teman yang sejati adalah seseorang tetap bersama kita waktu yang lainnya meninggalkan kita.”
Suatu anugerah luar biasa yang diperoleh setiap orang percaya karena Yesus tidak lagi menyebut kita sebagai hamba, tapi menyebut kita sebagai sahabat, “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.”(Yohanes 15:15).
Luar biasa! Sahabat bukanlah sekadar hubungan biasa, melainkan terjalin sangat intim, serta dilandasi oleh sebuah kepercayaan. Untuk menjadi orang yang bisa dipercaya oleh orang lain saja bukanlah hal yang mudah, terlebih-lebih yang memberi kepercayaan itu adalah Tuhan.
Saudara, bukti kepercayaan Tuhan adalah diberitahukan-Nya segala sesuatu yang didengar-Nya dari Bapa. Pemazmur juga menegaskan, “TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.” (Mazmur 25:14). Secara manusia sulit untuk dipahami bahwa Tuhan mau dan menginginkan kita menjadi sahabat-Nya. Namun hal itu menunjukkan bahwa Tuhan sangat menginginkan kita semakin mengenal-Nya lebih dekat. Inilah hak istimewa dan terbesar bagi setiap orang percaya: dikenal, dikasihi dan dijadikan sahabat oleh Tuhan.
Memiliki seorang sahabat berarti kita dapat berjalan seiring sejalan, saling menguatkan dan saling berbagi kasih yang tulus; dan hanya sahabat sejatilah yang mau tetap ada untuk kita di segala keadaan.
Alangkah indahnya saat kita mengetahui bahwa Tuhan Yesus sudah menyatakan diri-Nya sendiri sebagai sahabat sejati bagi orang percaya. Artinya segala hal yang baik dan istimewa yang tidak bisa kita dapatkan dari seorang sahabat di dunia, bisa kita dapatkan jauh lebih dari apapun melalui kasih yang dinyatakan oleh Tuhan Yesus.
Bagaimana kita bisa layak disebut sebagai sahabat Tuhan Yesus? Kata-Nya, “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.” (Yohanes 15:14). Melakukan perintah Tuhan adalah syarat utama untuk beroleh kepercayaan sebagai sahabat Tuhan Yesus. “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.” (Yohanes 15:!2). Apabila kita taat melakukan apa yang diperintahkan Tuhan yaitu saling mengasihi, maka kita memperoleh hak yang sangat istimewa yaitu menjadi sahabat Tuhan Yesus.
Ingatlah! Joseph M. Scriven penulis lagu “What a Friend We Have in Jesus”, pernah mengalami patah hati dua kali karena dua orang pacarnya wafat menjelang hari pernikahannya. Dia tentu sangat sedih dan terpukul. Selanjutnya ketika ibunya sakit, dia tidak bisa menemaninya karena dia sudah berada di Canada. Maka dia menulis “surat penghiburan” yang dikirimkan kepada ibunya dan akhirnya digubah menjadi syair lagu “Yesus Sahabat Sejati.” GBU & Fam.. Better days are coming (pg)