Category: Karib Dengan Tuhan

  • Menjadi Seorang Sahabat (Bagian 2)

    Apakah Saudara pernah merayakan sebuah persahabatan?  Facebook menyebut peringatan persahabatan  sebagai friendiversary. Ini sebuah peringatan saat dua orang atau lebih satu sama lain menjadi sahabat dalam kurun waktu tertentu.

    Setiap di antara kita tentu membutuhkan sahabat, seorang pribadi. Ia yang peduli pada kita, saling membantu, mendengarkan, menjadi orang dekat, serta memahami di saat-saat baik maupun sulit. Allah sendiri sudah merancang hidup kita agar bisa menikmati persahabatan atau pertemanan dalam perjalanan rohani ini, bukan kesendirian (bdng. Pengkotbah 4:9-10; Ibrani 10:25).

    Bacaan Alkitab kita didasarkan pada 1 Samuel​18:3-5. Ayat 3 menguraikan bagaimana Yonatan mengikat perjanjian dengan sahabatnya Daud. Dasarnya adalah bahwa Yonatan sungguh mengasihinya seperti diri sendiri. Dengan begitu, Yonatan pun membuat sebuah perjanjian persahabatan  dengan Daud. Inilah gambaran dari sahabat setia beriman.

    Sebuah perjanjian bisa juga disebut persetujuan atau akad yang khusus. Inisiatifnya berasal dari Yonatan sendiri. Perjanjian ini mengandung sebuah akad atau janji tentang kesetiaan  dan persahabatan bersama. Kesetiaan  ini merupakan salah satu kualitas nilai  yang paling berharga dalam hidup. Inilah bagian pengorbanan diri  yang terpenting dari kasih.

    Tuhan Yesus sendiri sudah menjadi teladan  terbaik melalui pengorbanan diri dari kasih. Yohanes 15:13 berbunyi, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya”.

                Untuk menjadi setia, kita tidak dapat hidup hanya  untuk diri sendiri. Kita mesti memiliki komitmen  kuat dan bersedia menderita  bagi orang lain. Di sini, Yonatan merupakan sebuah teladan kesetiaan  yang indah. Baik Yonatan maupun Daud tidak akan pernah melanggar perjanjian mereka. Mereka mesti  setia satu dengan yang lain dan juga dengan anak-anak mereka (lih. 1 Samuel 20:42).

                Selanjutnya 1 Samuel​18:4 berkata, “Yonatan menanggalkan jubah yang dipakainya, dan memberikannya kepada Daud, juga baju perangnya, sampai pedangnya, panahnya dan ikat pinggangnya”.

    Yonatan menegaskan perjanjian itu dalam sebuah tindakan. Ia pun melambangkan  perjanjian itu dengan memberikan dirinya sendiri kepada Daud. Bacaan Alkitab ini memaparkan, Yonatan adalah anak raja Saul. Bila raja Saul meninggal, secara langsung Yonatan akan menjadi raja menggantikan ayahnya.

                Dalam ayat 4, Yonatan menanggalkan jubahnya. Jubah Yonatan merupakan jubah kerajaan. Jubahnya merupakan sebuah simbol  dari kerajaan Israel (bdng. 1 Samuel 15:27-28).

    Apakah artinya Yonatan menanggalkan jubahnya dan memberikannya kepada Daud?  Di sini, Yonatan mentransfer atau memindahkan statusnya sebagai pewaris tahta raja kepada sahabatnya Daud. Hal ini menunjukkan, Daud akan menjadi raja Israel yang berikutnya sesudah raja Saul (1 Samuel 20:31; 23:17-18). Yonatan tidak cemburu akan hidup Daud. Bahkan, Yonatan memberikan baju perangnya kepada Daud. Baju perang itu melindungi hidup Yonatan ketika berperang dengan musuh-musuh Israel.

    Tetapi, Yonatan percaya, hidup Daud lebih berharga  daripada hidupnya. Yonatan tidak bersifat egois. Ia adalah seorang sahabat setia  dan bersedia mati bagi Daud. Ini menjelaskan betapa dalamnya Yonatan mengasihi Daud.

                Sebuah pertanyaan mendasar muncul di sini, Didasarkan pada apakah persahabatan kita?  Persahabatan yang normal, atau persahabatan sejati, atau persahabatan setia beriman?

    Dalam bacaan Alkitab ini, kita melihat bahwa persahabatan sejati tidaklah cukup untuk melangsungkan persahabatan itu sendiri. Namun, kita juga mesti  membangun persahabatan setia beriman.

                Seperti apakah persahabatan setia beriman antara Yonatan dan Daud? Pertama, persahabatan mereka didasarkan pada komitmen pada Allah (1 Samuel​ 20:42; 23:18). Kedua, persahabatan mereka dilandaskan pada kepentingan bersama (18:3-4). Ketiga, mereka saling mempersatukan diri  ketika persahabatan mereka diuji (23:16-17). Keempat, mereka memilih menjadi sahabat yang setia  sampai akhir hidup (20:42).

                Seperti Tuhan Yesus sendiri yang sudah menjadi sahabat  bagi setiap di antara kita, lantas kita pun dipanggil untuk menjadi sahabat  bagi orang lain. Kita pun bisa menjadi sahabat  mereka dengan menembus dinding status sosial, melewati perbedaan rasial, gender, pendidikan, kepercayaan, memberikan harapan bagi yang alami kesusahan dan kesepian, membawa perdamaian dan penegakan keadilan, maupun mampu memberikan secercah  cahaya rohani bagi yang sedang bergumul dengan keputusasaan situasi yang tak tentu dalam diri perorangan, keluarga, maupun komunitas di dunia ini. Kiranya kasih anugerah Allah melingkupi kita semua. (Petrus E. Handoyo/pg).

    ******

  • Menjadi Seorang Sahabat (Bagian 1)

    Berapa banyak sahabat atau teman yang Saudara miliki di halaman Facebook? Siapakah seorang sahabat?  Dalam kamus Inggris Merriam-Webster (Merriam-Webster, Inc., 2020), sahabat  adalah orang yang sudah lama dikenal dan sering berhubungan dalam hal tertentu, misalnya bermain, belajar, bekerja, dsb.” Seorang sahabat sebenarnya bukan  termasuk anggota keluarga, atau kerabat dekat.

    Albert Camus (1913-1960, novelis dan filsuf Perancis Algeria) berkata, “Janganlah berjalan di depanku, agar aku tidak mengikutimu. Janganlah berjalan di belakangku, supaya aku tidak memimpinmu. Tetapi, berjalanlah di sampingku dan jadilah sahabatku”.

    Kita semua butuh  sahabat atau kawan, bukan? Sahabat bisa membantu kita, dan pula peduli pada kita. Sahabat juga menghibur kita dalam kasih dan menguatkan kita di masa-masa sulit. Raja Daud mengungkapkan keadaan itu dengan sangat baik dalam  2 Samuel 1:26, “Merasa susah aku karena engkau saudaraku Yonatan, engkau sangat ramah kepadaku; bagiku cintamu lebih ajaib dari pada cinta perempuan”. Walaupun demikian, seorang sahabat itu tidak dapat dibuat. Namun, yang bisa kita lakukan hanyalah membuat atau membangun persahabatan.

    Wajarlah bila kita bertanya, siapakah sebenarnya sahabat itu?  Sahabat adalah karunia dari Allah. Ia memberikan sahabat kepada kita dengan maksud  yang khusus pula. Di saat sukar maupun senang, duka maupun suka, sakit ataupun sehat, kita tetap  membutuhkan sahabat. Kita percaya bahwa melalui kasih-Nya, Allah mengirim  sahabat itu kepada kita. Tapi, kita pun mesti tahu, sahabat tidak mampu menggantikan  Allah. Mengapa demikian?  Sebab, sahabat juga mempunyai kesalahan, kelemahan, kegagalan, serta keterbatasan seperti kita. Dan, Allah adalah tetap  Allah sampai selamanya.

    Juga, kita harus ingat bahwa sahabat bukan sebuah objek  bagi kita. Sahabat pun bukan semacam hak milik  bagi kita. Sebab itu, kita tidak dapat berkata bahwa aku  ingin membeli seorang sahabat atau teman. Lebih dari itu, sahabat merupakan seorang

     pribadi  yang unik, yang diberikan oleh Allah kepada kita.

    Mengapa seorang sahabat begitu berharga bagi kita?  KitabAmsal 17:17 berbunyi, “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran”. Inilah sebuah gambaran tentang seorang sahabat sejati dan sahabat setia beriman. Seorang sahabat setia beriman mengasihi sepanjang masa. Ia bersedia membantu  di masa-masa sukar. Seorang sahabat setia beriman (identik dengan kasih)  menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu (1 Korintus 13:7).

    Bacaan Alkitab kita, 1 Samuel 18:1-5, menjelaskan sebuah persahabatan yang paling akrab antara Yonatan dan Daud. Yonatan adalah anak dari raja Saul, raja bangsa Israel. Yonatan juga seorang komando militer dan pergi berperang dengan ayahnya. Tetapi, Daud hanyalah seorang penggembala dan menjaga kawanan kambing domba milik ayahnya (lih. 1 Samuel 17:34-36).

    1 Samuel 18:1 berkata, “Ketika Daud habis berbicara dengan Saul, berpadulah jiwa Yonatan dengan jiwa Daud; dan Yonatan mengasihi dia seperti jiwanya sendiri”.  

    Waktu Yonatan dan Daud bertemu, mereka berdua langsung menjadi sahabat karib. Dan, Yonatan menunjukkan dirinya bahwa ia sangat mengasihi Daud. Roh Allah mengijinkan  Yonatan untuk mengasihi Daud dengan sepenuh  hati dan jiwanya. Lagi pula, raja Saul menghargai persahabatan yang akrab antara anaknya Yonatan dan Daud.

    Ayat 2 berbunyi, “Pada hari itu Saul membawa Daud dan tidak membiarkannya pulang ke rumah ayahnya”.

    Kini, Daud tinggal bersama raja Saul dan keluarganya di istana. Mengapa?  Sebab, Daud berhasil mengalahkan Goliat (orang Filistin yang besar) dalam sebuah pertarungan (1 Samuel 17:48-51). Dan, raja Saul juga memberikan Mikhal, anak perempuannya, kepada Daud menjadi istrinya (1 Samuel 18:27-28). Mikhal adalah adik perempuan Yonatan. Dengan demikian, Yonatan adalah saudara ipar Daud.

    Selanjutnya ayat 3 berkata, “Yonatan mengikat perjanjian dengan Daud, karena ia mengasihi dia seperti dirinya sendiri”. Ayat ini menjelaskan betapa dalamnya  kasih Yonatan bagi sahabatnya Daud. Sebab itulah Yonatan membuat sebuah perjanjian persahabatan  dengan Daud. Perjanjian ini mewujudkan suatu komitmen kuat antara dua pribadi sahabat. Lebih jauh lagi, persahabatan yang karib itu dialaskan melalui komitmen kukuh pada Allah sendiri.

    Masing-masing dari kita, kamu  dan aku, juga diingatkan pada berharganya menjadi seorang sahabat  bagi orang di sekitar kita dan orang lain melalui persahabatan setia beriman. Terlebih lagi, kita pun bisa memilih  menjadi sahabat Yesus, sebab Ia sendiri menyebut kita sebagai seorang sahabat  (bdng. Yohanes 15:14-15). Allah memberkati kita. (Petrus E. Handoyo/pg).

    ******

  • RENDAH HATI: Itulah Maunya Tuhan

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Pagi ini saya jadi teringat satu lagu sekolah Minggu yang berjudul “Rukun Cinta.” Salah satu baris syairnya berbunyi: Rendah hati serta ramah tamah, itulah maunya Tuhan.  Yesus bersabda, “Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”  (Lukas 14:11)

     Joyce Meyer (Penulis dan pembicara asal Amerika)  berkata, “Kerendahan hati adalah salah satu buah Roh yang paling sulit terwujud dan tetap ada dalam hidup kita. Tanpa kerendahan hati, kita akan sulit untuk berserah penuh kepada Tuhan.”

    Coba kita amati orang-orang di sekitar kita, pada dasarnya hampir setiap orang ingin dipuji, diperhatikan, diprioritaskan, dihargai dan tidak mau direndahkan atau disepelekan.  Karena itu manusia cenderung meninggikan diri dan sulit merendahkan hati. 

    Di era terjadi persaingan keras di segala bidang  saat ini, sulit menemukan orang yang rendah hati, karena sebagian besar orang berpikir bahwa kerendahan hati itu sama  dengan kelemahan. Jadi kalau kita rendah hati, maka harga diri, pamor, dan tampilan kita  akan turun.

    Saudara, kerendahan hati sesungguhnya adalah sifat bijak dalam diri seseorang yang membuat ia dapat memposisikan dirinya setara dengan orang lain, tidak merasa lebih pintar, tidak merasa lebih baik, tidak merasa lebih mahir, tidak merasa lebih hebat, dan dapat menghargai orang lain dengan tulus. 

    Kita sebagai murid-murid Kristus, seharus kita memiliki sifat rendah hati,  sebab Tuhan Yesus sendiri telah memberikan teladan hidup,  “… yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,”  (Filipi 2:6-9).

    Lalu apa saja tanda seseorang memiliki kerendahan hati?  Pertama,  berani mengakui kesalahan.  Karena gengsi, sedikit orang berani mengakui kesalahan sendiri di depan sesamanya, bahkan di hadapan Tuhan.  Mereka lebih memilih menyembunyikan kesalahannya dan berlaku munafik. Salomo mengingatkan kita,  “Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi.”  (Amsal 28:13).  

    Kedua, mau belajar dan diajar.  Proses  belajar dan diajar  itu tidak hanya melalui pendidikan formal di sekolah atau kampus, tetapi juga melalui  sekolah  kehidupan ketika kita berinteraksi dengan sesama di mana pun berada.  Proses ini tidak mengenal batasan usia dan waktu,  “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.”  (Amsal 27:17).

    Ingatlah! Kunci keberhasilan hidup adalah punya mimpi yang besar, bersedia bekerja keras dan tetap rendah hati. Sedangkan ciri orang yang rendah hati adalah punya kemauan untuk belajar dan belajar, tidak peduli seberapa banyak yang dia telah ketahui. Salomo mengingatkan, “Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan.”  (Amsal 18:12). GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • MELEPASKAN PENGAMPUNAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Setiap orang butuh dimaafkan dan memaafkan. Lebih dalam lagi, setiap orang butuh diampuni dan mengampuni, karena tidak ada seorang pun di dunia ini yang kalis terhadap lupa, khilaf dan salah.

    Dalai Lama XIV (Pemimpin spiritual dari Tibet) berkata, “Semua tradisi agama utama pada dasarnya membawa pesan yang sama, yaitu cinta, kasih sayang, dan pengampunan. Hal yang penting adalah hal-hal tersebut harus menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari.”

    Pernahkah Saudara mengalami sakit hati? Kata orang sakit hati itu lebih menderita atau lebih sakit daripada sakit gigi.  Kalau tubuh jasmani yang sakit kita masih bisa memeriksakan diri ke dokter, beli obat di apotek atau menjalani rawat inap di rumah sakit.  Tetapi kalau hati kita yang sakit, siapa yang bisa menyembuhkan?

    Barangkali ada diantara pembaca  semakin dibuat terkejut dengan perintah Tuhan Yesus berikut ini,  “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”  (Matius 5:44), bahkan kita diperintahkan untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita,  “… sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”  (Matius 18:22).  Kita yang telah disakiti dan dilukai justru diperintahkan untuk mengasihi dan mengampuni mereka. Hhhmmm sangat tidak mudah.

    Ada cukup banyak  orang percaya berpendapat bahwa mengasihi dan mengampuni kesalahan orang lain adalah sebuah pilihan:  kita bisa memilih untuk mengasihi dan mengampuni, atau tidak mengasihi dan tidak mengampuni. 

    Juga tidak sedikit  yang menganggap sepele arti sebuah pengampunan. Padahal mengampuni adalah perintah Tuhan yang tidak boleh dilanggar dan ditawar.  Sebagai orang percaya, mengampuni kesalahan orang lain seharusnya menjadi hal yang mudah untuk dilakukan.  Mengapa?  Karena kita sudah menerima pengampunan dari Tuhan terlebih dahulu. 

    Mengampuni berarti membebaskan, tidak lagi menuntut balas, menghapuskan, dan tidak mengingat-ingat lagi kesalahan  (Matius 18:24-27).  Mengampuni berarti juga membuang jauh-jauh, tidak menyimpan kesalahan orang lain.   “sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita.”  (Mazmur 103:12). 

    Berkat terbesar ketika kita mau mengampuni orang lain adalah Tuhan akan mengampuni dosa kita  (Matius 6:14), namun jika kita tidak mau mengampuni, Tuhan pun tidak akan mengampuni kita  (Matius 6:15).

    Adapun dampak lain pengampunan ialah mendatangkan kuasa kesembuhan  (Yakobus 5:16), doa-doanya akan didengar dan dijawab oleh Tuhan  (Markus 11:24-25), serta korban persembahan kita akan diterima oleh Tuhan  (Matius 5:23-24).

    Ingatlah! Jangan menunda  untuk melepaskan pengampunan bagi orang lain, karena “… jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu.”  (Markus 11:26). Martin Luther King (Pendeta dan aktivis HAM asal Amerika) berkata, Pengampunan bukanlah tindakan sesekali, itu adalah sikap yang konstan.” GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • TUHAN SENANG dengan PUJIANMU

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Semoga kita sehat-sehat dan tetap semangat memuji dan memuliakan Tuhan. Jangan malu memuji Tuhan. Ayo BERNYANYILAH!. Yakinlah Tuhan senang dengan pujianmu, “Bersorak-sorailah bagi Allah, hai seluruh bumi, mazmurkanlah kemuliaan nama-Nya, muliakanlah Dia dengan puji-pujian!”  (Mazmur 66:1-2)

    Saudara, iman orang percaya tidak bisa dipisahkan dari pujian.  Dalam setiap kebaktian atau persekutuan, puji-pujian selalu mendapatkan porsi yang cukup banyak selain pemberitaan firman Tuhan.  Memuji Tuhan seharusnya menjadi bagian hidup orang percaya sehari-hari.  Daud berkata,  “Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku.”  (Mazmur 34:2), bahkan  “Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau, karena hukum-hukum-Mu yang adil.”  (Mazmur 119:164).

    Mengapa kita harus selalu memuji Tuhan?  Saat kita memuji Tuhan Dia akan melawat kita karena Dia  “…bersemayam di atas puji-pujian orang Israel.”  (Mazmur 22:4).  Kata bersemayam artinya duduk, tinggal dan berdiam.  Puji-pujian kita merupakan singgasana, tempat Tuhan berdiam dan bertakhta.  Saat kita memuji-muji Tuhan  “…Ia melawat umat-Nya dan membawa kelepasan baginya,”  (Lukas 1:68). 

    Karena itu seberat bagaimana pun pergumulan hidup yang kita hadapi, jangan pernah berhenti memuji Tuhan.  Jangan sampai kita dikalahkan oleh situasi-situasi yang ada!  Karena itu katakan kepada jiwamu,  “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!”  (Mazmur 42:6).  Saat kita memuji-muji Tuhan Dia akan bertindak melepaskan kita dari kesesakan.  “… Ia melepaskan aku dari segala kesesakan, …”  (Mazmur 54:9). Mata jasmani kita memang tidak melihat, tapi percayalah dengan mata iman, kita sanggup melihat,  saat kita memuji Tuhan, Dia akan berperang ganti kita.

    Hiduplah senantiasa dalam puji-pujian, bahkan di saat tersulit sekali pun, karena saat kita melakukannya Tuhan akan hadir dan kehadiran-Nya pasti disertai dengan hadirat-Nya yang penuh kuasa!

    Ingatlah! Sesungguhnya memuji Tuhan bukan sekadar bernyanyi, tetapi merupakan ungkapan kekaguman kita akan Pribadi-Nya. Memuji Tuhan adalah perintah yang harus dilakukan oleh semua orang percaya, sebab kita diciptakan untuk kemuliaan nama-Nya  (Yesaya 43:7). GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • Perhatikanlah Ketika TUHAN MEMBUKA PINTU

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Kalau sampai hari ini Tuhan masih memberi kesempatan hidup bagi kita, berhentilah menyesali, mulailah mensyukuri. Berhentilah meragukan dan mulailah melakukan. 

    Saudara, orang bijak berkata bahwa hidup itu singkat, karena itu berubahlah ketika kesempatan masih terbuka. Ingatlah, ada kemungkinan pada saat kamu ingin berubah, justru kesempatan itu sudah tertutup.

    Kita perlu ingat, sesungguhnya Tuhan memberikan kesempatan kepada orang-orang di zaman Nuh selama bertahun-tahun untuk bertobat. Waktu yang tidak singkat.  Tapi mereka tidak mempergunakannya dengan baik dan akhirnya penyesalan pun tiada guna.  Saat Tuhan menenggelamkan bumi dengan air bah, binasalah mereka semua kecuali Nuh dan keluarganya yang selamat.  Begitu juga seluruh penduduk kota Sodam dan Gomora yang dibumihanguskan oleh Tuhan. 

    Coba kita simak cerita tentang: “Orang kaya dan Lazarus yang miskin”  yang terdapat di Injil Lukas 16:19-31..Saat di dunia si kaya hidup dalam gelimang harta dan hidup dalam segala kemewahan. Tapi ia lupa diri dan tidak pernah menabur atau memerhatikan orang-orang miskin.  Akhirnya ia mengalami kebinasaan kekal.  Ia lupa bahwa apa yang kita putuskan dan kita lakukan selama kita hidup di dunia, sangat berdampak pada hidup kekekalan kita.

    Berapa lama kita memiliki kesempatan hidup di dunia?  Yang pasti, tidak ada yang selamanya.   Dalam mazmurnya Musa berkata,  “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan;  sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.”  (Mazmur 90:10).  Menyadari bahwa kesempatan itu sangatlah terbatas, Musa pun berdoa,  “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”  (Mazmur 90:12). 

    Dengan demikian tugas kita menemukan kesempatan dalam setiap situasi yang ada, sebab jika hidup ini berakhir tidak ada lagi kesempatan untuk bertobat.  Sesudah mati tidak ada lagi kesempatan untuk berbuat baik bagi diri sendiri atau sesama.

     
    Menyadari betapa berharganya  kesempatan dalam hidup,  Rasul Paulus menasihati agar kita benar-benar memerhatikan dengan saksama,  “… bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.”  (Efesus 5:15-16).

    Ingatlah! Kalau kita tidak cermat memerhatikan, maka kita akan kehilangan kesempatan.  Karena itu kita harus memerhatikan waktu pintu terbuka dan waktu pintu tertutup.  Ada tertulis:  “… apabila Ia  membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka.”  (Wahyu 3:7).  Artinya ada waktunya Tuhan membuka pintu masuk bagi kita dalam sebuah kesempatan;  bilamana kita tidak masuk, pintu akan tertutup. GBU & Fam. Better days are coming. (pg) 

  • Bertolak ke TEMPAT yang DALAM

    Apakah kita pernah menghadapi keadaan from unknown to unknown (dari yang-tak-diketahui menuju yang-tak-diketahui) dalam perjalanan rohani ini?       

    “Bertolak ke tempat yang dalam” merupakan perintah ilahi dari Tuhan Yesus sendiri. Dalam konteks misi global, ini  bisa jadi merupakan suatu tantangan misi yang amat besar bagi gereja, lembaga misi, persekutuan doa misi, individu, maupun misionaris untuk memahami ajakan Yesus menjangkau jiwa-jiwa di banyak tempat di dunia ini.

    Di sebagian tempat, seperti yang kami sudah saksikan sendiri, orang lokal merindukan kehadiran pelayanan misi di antara komunitas-komunitas mereka. Di bagian daerah lain, orang setempat bertanya-tanya tentang apakah iman kristiani itu dengan menunjukkan keterbukaan diri. Keadaan-keadaan ini memang enak didengar, tetapi belum ada yang bersedia menjangkau mereka, atau menuju ke tempat yang dalam itu. Kita pun telah diingatkan bahwa “ladang-ladang sudah menguning dan matang untuk dituai” (Yohanes 4:35).

    Bacaan Alkitab Lukas 5:4 berbunyi, “Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan”.

    Dengan kata lain, “Kembalilah melalui jalan darimana kamu baru saja tiba”. Perintah  Tuhan Yesus adalah bahwa Simon Petrus mesti bertolak ke tempat yang dalam. Ini membuat Simon sangat terkejut. Ia merasa sangat ditantang oleh Tuhan Yesus untuk masuk ke dalam keadaan yang penuh tantangan.

    Mengapa ia merasa amat tertantang dengan perintah Tuhan Yesus? Sebab, Simon dan teman-teman nelayan sudah bertolak ke tempat yang dalam semalam, tetapi mereka tidak mendapat ikan sama sekali. Tantangan bertolak ke tempat yang dalam berarti harus menghadapi tantangan besar di jalan, dan bertemu dengan keadaan yang tak diketahui (unknown). Berikutnya, tantangan bertolak ke tempat yang dalam juga berarti bersiap menerima segala risiko, seperti kegagalan, kerugian, dan kekecewaan.

    Kalau bisa, kita mau bertolak ke tempat yang dangkal dan nyaman, supaya kita bisa menikmati kelancaran dan bebas keluhan dalam hidup. Namun, cara berpikir kita berbeda dengan kerinduan Tuhan Yesus. Ia meminta supaya pelayanan-pelayanan kita harus berani bertolak ke tempat yang penuh risiko dan tak-diketahui (unknown) untuk lebih menjangkau lebih banyak jiwa. Sebab, Tuhan Yesus akan senantiasa menyertai kita (Matius 28:20).

    Lalu, apakah yang kita butuhkan untuk menanggapi perintah Tuhan Yesus agar bertolak ke tempat yang dalam? Yang utama adalah kepatuhan pada Yesus, keberanian untuk hadapi rintangan dalam perjalanan yang baru, dan rasa percaya pada-Nya.

    Lukas 5:5 berbunyi, “Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.”

    Marilah kita melihat kalimat ini, “…karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Tuhan Yesus meminta Simon untuk bertolak ke tempat yang dalam dan menebarkan jala. Di sini, perintah Tuhan Yesus selalu diikuti dengan hasil dalam ayat 6, yakni sejumlah ikan besar.

    Lihat kembali frase “karena Engkau menyuruhnya”. Boleh jadi, hal yang paling sulit yang kita hadapi adalah melakukan hal yang lama dengan cara yang baru. Mengulangi apa yang sudah kita pernah lakukan sebelumnya, dan melakukannya dengan sia-sia. Namun, kini kita melakukannya lagi dengan motif yang segar, dengan energi yang segar, dan dengan penuh harapan serta kepercayaan.

    Ada dua perbedaan paling menyolok dalam hidup ini: melakukan perkara bersama Allah, atau melakukan perkara tanpa Allah. Manakah yang cenderung kita pilih? (bdng.  Roma 8:28).

    Lukas 5:8 berkata, “Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.”

    Lihatlah frase, “Tuhan, pergilah dari padaku”. Semakin dekat orang datang kepada Allah, semakin dalam ia merasakan dosa dan ketidaklayakannya di hadapan-Nya (bdng. Abraham, Kejadian 18:27; Ayub, 42:6; Yesaya, 6:5).

    Simon Petrus tahu, Tuhan Yesus melakukan perkara besar dengan memakai perahunya yang sederhana menuju tempat yang dalam, yang penuh tantangan. Ia mengakui adanya perbedaan besar antara Tuhan Yesus dan dirinya. Namun, Simon Petrus juga kagum bahwa Yesus memberkati apa yang sudah ia lakukan sesuai perintah-Nya.

    Bersama-sama, marilah kita membuka diri guna meresponi tantangan misi dari Tuhan Yesus untuk menjangkau lebih banyak jiwa di banyak tempat di dunia ini. (Petrus E. Handoyo/pg).

    ******

  • Aku akan MENCOBA LAGI BESOK

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Sering kalau kita bertemu dengan rekan bisnis, dia akan bertanya, “Apakah bisnismu berkembang?”. Orang bijak berkata, “Sesungguhnya hidup itu semakin berkembang atau semakin menyusut tergantung dari keberanian seseorang.”

    Sangat menarik, dalam iklan-iklan, laki-laki selalu digambarkan sebagai pribadi yang punya keberanian dan kekuatan.  Karena itulah Rasul Paulus menyerukan agar orang percaya bersikap sebagai laki-laki.  Seruan Paulus ini bukan hanya dialamatkan kepada kaum lelaki saja, tapi semua orang percaya, tanpa membedakan jenis kelamin, “Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat!”  (1 Korintus 16:13)

    Saudara, sisi positif yang bisa diperoleh dari laki-laki yang layak diterapkan dalam kehidupan rohani adalah keberaniannya.  Pengertian  berani di sini yaitu sikap hati yang mantap dan rasa percaya diri yang besar dalam menghadapi tantangan dan kesulitan.  Berani juga  berarti tidak takut, tidak gentar dan tidak tawar hati.  Orang percaya adalah prajurit-prajurit Kristus dan hidup ini merupakan medan peperangan rohani,  “… perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.”  (Efesus 6:12). 

    Kalau kita takut, gentar dan tawar hati sebelum berperang, kita tidak akan pernah menikmati kemenangan.  Bangsa Israel mengalami ketakutan saat melihat  “…orang Mesir, segala kuda dan kereta Firaun, orang-orang berkuda dan pasukannya, mengejar mereka dan mencapai mereka”  (Keluaran 14:9), tapi Musa menguatkan mereka,  “Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya.”  (Keluaran 14:13).  Kepada Salomo  (anaknya), yang hendak menerima tongkat estafet kepemimpinan, Daud juga berpesan,  “… kuatkanlah hatimu dan berlakulah seperti laki-laki.”  (1 Raja-Raja 2:2).

    Selain itu, laki-laki identik dengan fisik yang kuat, punya kekuatan.  Kuat berarti punya daya tahan, tak mudah patah, tak mudah terpengaruh, teguh dalam pendirian.  Orang percaya hendaknya kuat berdiri dan mampu bertahan sekalipun berada di tengah goncangan dunia saat ini.  Kita dituntut punya pendirian yang kuat dan tak mudah berkompromi,  “… hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.”  (Efesus 6:10).

    Ingatlah! Sesungguhnya kita  akan menjadi pemberani dan tetap kuat bila kita selalu berjalan bersama Tuhan dan hidup mengandalkan Dia. Mary Anne Radmacher (Penulis asal Amerika) berkata bahwa keberanian tidak selalu mengaum. Terkadang keberanian adalah suara tenang di akhir hari untuk berkata, “Aku akan mencoba lagi besok.” GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • Dipakai Allah

    Apakah Allah pernah memakai milik kita untuk melayani atau menjangkau orang lain bagi pelayanan-Nya? 

    Melalui bidang-bidang pelayanan apapun dan di lokasi manapun, kita acapkali melihat bahwa Allah berkenan memakai dari apa yang kita miliki, sekalipun kita menganggap benda atau hal itu sederhana. Bagaimanapun, Ia mampu mengubah yang sederhana untuk membuahkan hasil bagi pelayanan bersama.  

    Dalam bacaan kita Lukas 5:1-3, Tuhan Yesus memakai sebuah perahu sederhana yang dimiliki oleh Simon Petrus, seorang nelayan yang bersahaja pula. Tuhan Yesus ingin memakai perahunya dan sekaligus menjangkau banyak orang melalui pemberitaan dan pengajaran-Nya.

    Lukas 5:1 berkata, “Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah.”

    Banyak orang mengerumuni Tuhan Yesus, sebab mereka ingin mendengarkan firman Allah. Mereka memiliki motif yang berbeda-beda ketika datang mendengarkan firman Allah. Sebagian orang datang mendengarkan Yesus, karena hati mereka dipenuhi oleh kekaguman firman Tuhan dan kuasa ilahi yang ada di dalamnya. Sebagian orang lagi didorong dengan keingintahuan pada sesuatu yang baru dalam hidup.

    Lalu, mengapa banyak orang berhasrat mendengarkan firman Tuhan? Sebab firman Tuhan sangat berhubungan dengan hidup manusia setiap hari.

    • “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mazmur 119:105).
    • “Tetapi Ia berkata: “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya” (Lukas 11:28).
    • “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita” (Ibrani 4:12).

    Lukas 5:3 berbunyi, “Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu.”

    Tuhan Yesus memakai perahu penangkap ikan yang dimiliki oleh Simon Petrus untuk mengajar banyak orang dari atas perahu. Tuhan Yesus tidak memandang apakah perahu itu tua dan sederhana, atau baru dan besar, melalui penilaian kualitas bendanya. Ia tidak mengamati kedua kualitas itu sama sekali. Namun, Ia sungguh melihat pribadi pemilik perahu sederhana itu dengan memahami betul akan kebutuhan rohani di antara orang-orang sekitar, termasuk Simon Petrus dan rekan-rekannya.    

    Dengan demikian, Tuhan Yesus bisa memakai apa saja yang kita miliki untuk melayani dan menjangkau orang lain bagi kemuliaan-Nya.  Allah memanggil kita bagi pelayanan-Nya dari apa yang kita miliki, bukan dari apa yang kita tidak miliki. Apapun yang kita memiliki bisa dipakai bagi pelayanan misi maupun penginjilan gereja. Misalnya, sepeda motor, rumah, waktu, tenaga, komputer, uang, ibadah, talenta, kemampuan, komitmen, hidup kita, dan sebagainya.  

    Dalam ayat itu, Tuhan Yesus memberitakan dan juga mengajar firman Tuhan. Kedua kegiatan ini sangat penting dalam kehidupan bergereja, sekalipun di tengah-tengah keadaan pandemi Covid-19 saat ini. Gereja Tuhan pada hakikatnya harus melakukan kedua kegiatan tersebut. Bahkan, rasul Paulus benar-benar mendesak Timotius muda untuk “beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran” dan “…lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!” (2 Timotius 4:2 dan 5).

    Dalam pelayanan misi penginjilan, kita bisa “menjala manusia” dengan umpan firman Tuhan dan juga melibatkan banyak pengajaran rohani. Sebagian orang ditantang untuk menanggapi undangan Allah guna menjangkau lebih banyak orang melalui pelayanan misi lintas-budaya. Lebih jauh lagi, dorongan yang kuat terhadap pelayanan misi ini dapat terjadi sebab dimotivasi oleh Amanat Agung Tuhan Yesus sendiri (bdng. Matius 28:19-20; Yohanes 20:21).

    Kegiatan-kegiatan memberitakan dan mengajar melalui pelayanan misi lintas-budaya membawa kita semakin menyadari bahwa jalan Allah kiranya boleh dikenal di bumi dan keselamatan-Nya di antara segala bangsa (Mazmur 67:3). Inilah kerinduan Tuhan Yesus agar lebih banyak orang mendengarkan Sabda-Nya yang penuh kuasa. Marilah kita membuka diri untuk dipakai Allah untuk berbagi kasih anugerah-Nya melalui pelayanan misi penginjilan. Kiranya Allah dengan kelimpahan-Nya memberkati kita. (Petrus Eko Handoyo/pg).

    *****

  • Menjadi PEREDAM

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Dalam situasi yang serba terbatas dan tidak menentu, ada cukup banyak orang yang menjadi mudah tersinggung dan cepat marah.  Maka kita sebagai orang percaya, diharapkan dapat menjadi peredam,  
    “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.”  (Amsal 15:1)

    Mungkin ada cukup banyak diantara kita yang  memiliki persepsi yang salah tentang arti kelemahlembutan.  Kita beranggapan bahwa orang yang lemah lembut adalah orang yang sikap atau tingkah lakunya lemah gemulai, suaranya halus dan terdengar irih ketika berbicara, dan tawanya  tidak pernah terbahak-bahak. 

    Saudara, lemah lembut adalah sifat Kristus yang mengajar orang percaya agar mengenal diri sebagaimana adanya dan memandang Tuhan sebagaimana Ia ada.  Mengenal diri adalah menyadari bahwa sesungguhnya di hadapan Tuhan kita ini lemah dan penuh keterbatasan, sehingga dengan demikian kita akan menjadi orang yang rendah hati, karena sadar bahwa sesungguhnya kita bukanlah siapa-siapa. 

    Berangkat dari dasar kerendahan hati inilah akan tumbuh sifat lemah lembut.  Kalau di hadapan Tuhan orang mampu merendahkan diri, maka di hadapan sesama ia pasti tidak akan pernah menganggap diri lebih dari orang lain atau menyombongkan diri.  “Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”  (Lukas 18:14b).  Ia akan bersikap hormat, lemah lembut dan manis budi terhadap semua orang.

    Saudara, Musa adalah contoh orang yang punya kelemahlembutan dan juga kerendahan hati.  Tanpa memiliki sifat ini mustahil ia dapat memimpin bangsa Israel selama 40 tahun di padang gurun, sebab  “… mereka adalah suatu bangsa yang tegar tengkuk.”  (Keluaran 32:9), yang suka mengomel dan bersungut-sungut. 

    Ketika umat Israel membuat patung lembu dari emas untuk disembah, Musa datang kepada Tuhan dan memohon belas kasih-Nya agar mau mengampuni perbuatan keji bangsa itu.  Begitu besar kasihnya kepada umat Israel sampai-sampai Musa rela namanya dihapus dari buku kehidupan, asal saja Tuhan mau mengampuni dosa mereka  (Keluaran 32:32).

    Ingatlah! Jane Austen (Novelis asal Inggris) berkata, “Tidak ada perhiasan yang dapat menyamai dengan hati yang lemah lembut.” Karena itu Rasul Paulus minta dengan sangat, “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar.”  (Efesus 4:2a). GBU & Fam. Better days are coming. (pg).