Category: Karib Dengan Tuhan

  • SUKACITA dari TUHAN itulah KEKUATANKU

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Pernahkah kita bertanya, “Mengapa dalam hidup ini ada sukacita dan ada dukacita?” Helen Keller (Penulis asal Amerika) berkata, “Jika hanya ada sukacita di dunia ini, maka kita tidak akan pernah belajar sabar dan berani.”

    Mother Teresa (Biarawati Katolik asal Roma yang mengabdikan hidupnya di India) berkata, “Cara terbaik untuk menunjukkan rasa syukur saya kepada Tuhan adalah menerima segalanya, bahkan masalah saya, dengan sukacita.” Sedangkan Karl Bath (Teolog asal Swiss) berkata, “Sukacita adalah bentuk sederhana dari rasa syukur.”

    Saudara, ada cukup banyak orang berpendapat bahwa sumber sukacita dalam diri seseorang berasal dari materi dan situasi yang mendukung.  Jika kita mendasari sukacita pada kondisi dan situasi, maka sukacita yang kita rasakan tidak akan bertahan lama, hanya bersifat sementara.

    Nah, akan sangat berbeda sekali jika kita menjadikan Tuhan sebagai sumber sukacita. Sukacita yang kita rasakan akan bersifat permanen karena sukacita dari Tuhan adalah sukacita di segala situasi, tidak dipengaruhi keadaan, karena dikerjakan oleh Roh Kudus yang bekerja di dalam kita.  Sukacita inilah yang dirasakan nabi Habakuk:  “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.”  (Habakuk 3:17-18). 

    Sesungguhnya bila melihat fakta atau situasi yang terjadi, Habakuk punya banyak  alasan bersedih, meratap dan putus asa, tapi ia tetap mampu bersukacita  “…sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!”  (Nehemia 8:11b).

    Kehendak Tuhan bagi orang percaya adalah bersukacita senantiasa, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!”  (Filipi 4:4). Bukan saja dalam waktu enak dan senang saja, tetapi juga dalam waktu yang sulit dan susah sekalipun.  Berada dalam penjara dengan kaki terpasung bukan alasan bagi Paulus dan Silas untuk tidak bersukacita, bahkan di tengah malam keduanya menyanyikan pujian bagi Tuhan  (Kisah Para Rasul 16:25). 

    Bagi orang percaya tidaklah sulit bersukacita di tengah masalah dan penderitaan karena Roh Kudus ada di dalam diri kita.  Sukacita dari Tuhan itulah kekuatan kita.  Jika Saudara mengalami masalah berat jangan tawar hati.  “Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.”  (Amsal 24:10). 

    Bagaimana agar dapat bersukacita di segala situasi?  Milikilah persekutuan karib dengan Tuhan senantiasa,  “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.”  (Roma 14:17).

    Ingatlah! Ketika kita mampu bersukacita di segala situasi, kita akan menjadi saksi yang baik bagi orang di sekitar kita. Albert Schweitzer (Dokter dan misionaris asal Perancis) berkata, “Sukacita yang dibagikan akan menjadi dua kali lipat, sedangkan dukacita yang dibagikan akan terbagi dua.” GBU & Fam. Better days are coming. (pg).

  • Memilih Komitmen Teguh

    Bila Allah memanggil kita untuk melayani atau mengambil keputusan untuk mengikuti-Nya dalam penyerahan diri, apakah kita pernah merayakan panggilan itu bersama teman-teman maupun keluarga? Pertanyaan ini agaknya sulit, bukan? Boleh jadi, karena merayakan panggilan ini kurang lazim bagi sebagian orang. Lebih jauh lagi, orang yang merayakan panggilan untuk meresponi undangan Allah boleh jadi ingin menyatakan komitmen kuat terhadapnya.

    Sekelompok orang percaya yang baru dibaptis di kota Darkhan, Mongolia utara, merayakan hidup baru dalam Kristus dengan sebuah perayaan bersahaja di sebuah padang terbuka. Setelah mereka dibaptis di sebuah sungai yang jernih dan dingin, mereka mulai memasang tenda-tenda dan berkemah semalam dekat sungai bersama hamba Tuhan dan sejumlah anggota jemaat. Cuma satu hal sederhana yang mereka mau lakukan sesudah menerima Tuhan Yesus ke dalam hidup baru mereka, yaitu orang-orang percaya itu berhasrat merayakan titik tolak iman dalam perjalanan spiritual mereka bersama Tuhan Yesus.

    Mereka memberi ucapan syukur besar kepada Tuhan Yesus yang sudah memilih mereka untuk menjadi keluarga Allah. Mereka menyanyi, bersaksi, berdoa, dan menyembah-Nya di tengah-tengah terpaan angin padang rumput yang sejuk. Perayaan rohani di padang terbukasemacam itu bisa saja terjadi di antara orang-orang percaya Mongol. Sebab, orang Mongol pada hakikatnya adalah orang nomad. Mereka sangat bersentuhan langsung dengan padang rumput dan padang gurun yang luas dalam keseharian hidup.

    Dalam bacaan Alkitab ini, 1 Raja-Raja 19:20, Elisa menanggapi panggilan Allah yang disampaikan melalui nabi Elia. Pilihan tersebut tentu tidak mudah. Sebab, mengikuti Tuhan Yesus tentunya ada risiko yang mesti ditanggung. Kita harus siap sedia untuk melayani dan bersekutu dengan-Nya, bahkan harus siap untuk berkorban. Kita mesti secara konsisten mengikuti Yesus sepanjang waktu (bdng. Matius 4:19-22; Lukas 9:23).

    Dengan demikian, mengikuti Tuhan Yesus tidak ada kata istirahat. Tidak ada kata part-time dalam mengikuti-Nya. Sebuah pertanyaan muncul di sini, “Apakah yang Tuhan Yesus kehendaki dari kita?” Ia menginginkan dedikasi yang utuh. Komitmen yang penuh, bukan komitmen yang separuh! Dengan berfokus pada Tuhan Yesus, kita seharusnya tidak mengizinkan sesuatu untuk mengganggu kita dalam mengikuti-Nya.

    Dalam 1 Raja-Raja 19: 20, perkataan nabi Elia menunjukkan bahwa dia sendiri tidak memanggil Elisa untuk mengikutinya. Tetapi, itulah panggilan dari Allah sendiri. Apakah Elisa akan mengikuti panggilannya atau tidak, itu menjadi keputusannya sendiri.

    Ayat 21 berbunyi, “Lalu berbaliklah ia dari pada Elia, ia mengambil pasangan lembu itu, menyembelihnya dan memasak dagingnya dengan bajak lembu itu sebagai kayu api. Ia memberikan daging itu kepada orang-orangnya, kemudian makanlah mereka. Sesudah itu bersiaplah ia, lalu mengikuti Elia dan menjadi pelayannya.”

    Di sini, Elisa sedang mengadakan jamuan makan perpisahan dengan keluarga, teman-teman, dan orang-orangnya. Ini menunjukkan, ia tidak akan pernah kembali lagi ke pekerjaannya yang semula sebagai petani kaya. Kini, hanya satu hal yang hendak ia lakukan, ia siap melayani Allah.

    Ada dua alasan utama mengapa Elisa benar-benar merayakan panggilan pelayanannya. Pertama, Elisa membuat sebuah komitmen teguh untuk mengikuti gurunya nabi Elia dan akhirnya hanya menjadi seorang pelayan. Menanggapi panggilannya dengan kukuh menjadi prioritas utama dari Elisa dalam hidupnya.

    Kedua, Elisa memberikan persembahan syukur kepada Tuhan yang sudah memilihnya sebagai nabi Allah. Ia menyembelih sepasang lembu jantan dan memasak dagingnya dengan bajak lembu itu. Lantas, ia membagikan daging itu kepada orang-orang di sekelilingnya. Mereka semua bersyukur atas dedikasi iman Elisa.

    Apakah kita tetap hidup dengan komitmen yang teguh dalam Yesus di tengah-tengah tantangan dan kesulitan saat ini? Kasih anugerah Allah kiranya menyertai kita masing-masing. (Petrus Eko Handoyo/pg)

  • Menjadi ORANG yang HEBAT

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Alangkah indahnya hidup ini, jika kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan dapat hidup saling tolong menolong, Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” (Galatia 6:2)

    Saudara, Ronald Reagen (Presiden Amerika pada tahun 1981-1989) berkata, “Kita tidak dapat membantu semua orang, tapi setiap orang dapat membantu seseorang.” Dengan demikian sesungguhnya setiap orang dapat menjadi orang yang hebat, karena setiap orang dapat menjadi penolong bagi sesamanya.

    Kita sebagai orang-orang yang sudah dewasa punya tanggung jawab untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup kita sendiri. Bahkan bagi kita yang sudah berkeluarga punya tanggung jawab untuk mencukupi semua kebutuhan keluarga kita.  Jika orangtua kita dikaruniai panjang umur dan mereka sudah tidak mampu lagi untuk bekerja, kita  berkewajiban untuk menopang kebutuhan mereka.

    Saudara, walaupun kita punya kewajiban untuk memenuhi kebutuhan kita dan keluarga, kita sebagai makhluk sosial juga diminta untuk memerhatikan kebutuhan sesama, dan Tuhan sudah mengatur semua begitu indahnya. 

    Rasul Paulus memberi nasihat,  “Sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu.”  (2 Korintus 8:12).  Apa artinya?  Dalam memberi kepada sesama kita diminta  menyesuaikan dengan kemampuan kita.  Setelah kebutuhan keluarga terpenuhi dan kita masih punya kelebihan, maka kelebihan itulah yang kita gunakan untuk menolong sesama.  Jangan sebaliknya, kita menolong sesama tapi keluarga sendiri kita korbankan:  istri, anak, orangtua, hidup dalam kekurangan.

    Kalau Tuhan memberi kepercayaan kepada kita untuk mengelola berkat begitu banyak, sesungguhnya Tuhan punya rencana, Tuhan punya tujuan agar kita dapat menjadi saluran berkat bagi sesama. Dengan jelas, Rasul Paulus mengingatkan, “Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan.”  (2 Korintus 8:14)

    Saudara, sesungguhnya ketika kita menolong sesama, kita menolong diri kita sendiri. Ketika kita membantu sesama, kita membantu diri kita sendiri (Amsal 11:17). Karena itu kita diminta untuk tidak jemu-jemu berbuat baik kepada sesama, terutama kepada saudara seiman,  “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.”  (Galatia 6:9-10).

    Saudara, sesungguhnya kita hanyalah sebagai pengelola atas berkat  Tuhan,  bukan pemilik.  Jika kesadaran ini tertanam dalam-dalam di hati kita, maka kita akan dengan sukacita dan ikhlas menjadi penolong bagi sesama. Kita akan menjadi orang yang peka terhadap kebutuhan sesama. Kita akan bersedia menjadi kepanjangan tangan kasih Tuhan.

    Ingatlah! Kita  tidak dapat hidup sendiri tanpa orang lain.  Keberhasilan kita di bidang apa pun tidak luput dari dukungan atau peran serta  orang lain juga. Karena itu Rasul Yohanes mengingatkan kita,  “Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?”  (1 Yohanes 3:17). GBU & Fam. Better days are coming. (pg).

  • Sebelum KANVAS USIA Mereka TENGGELAM Bersama MENTARI SENJA

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Orang bijak mengingatkan bahwa ada yang senantiasa berdoa untukmu, sampai dia lupa berdoa untuk dirinya sendiri, dialah ayah dan ibumu. Maka kasihilah dan hormatilah kedua orangtuamu selagi mereka masih hidup.

    Saudara, hormatilah orangtua kita, sebelum kanvas usia mereka tenggelam bersama mentari senja, karena  orangtua bertindak sebagai wakil Tuhan untuk anak-anaknya dalam hal memelihara, mengasihi, mengasuh dan mengasah.

    Itulah sebabnya firman Tuhan memerintahkan agar anak-anak memiliki rasa hormat dan takut kepada orangtuanya seperti umat takut kepada Tuhan, “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu — ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.” (Efesus 6:1 – 3)


    Sudah pada tempatnya bila anak menghormati orangtua dan takut kepadanya, sebab memang orangtua adalah orang-orang yang sangat terhormat bagi anak-anak, ibarat pahlawan tanpa tanda jasa yang setiap saat siap menolong, melindungi dan mencintai kita lebih dari pada semua orang lain di dunia ini.  Oleh karenanya anak-anak harus takut, hormat dan selalu taat kepada mereka. 

    Di “zaman Now”  banyak anak memberontak dan melawan orangtua, bahkan cenderung meremehkan dan merendahkan mereka.  Salomo memberi nasihat,  “Dengarkanlah, hai anak-anak, didikan seorang ayah, dan perhatikanlah supaya engkau beroleh pengertian, karena aku memberikan ilmu yang baik kepadamu; janganlah meninggalkan petunjukku.”  (Amsal 4:1-2).

    Bagi seorang anak, menghormati orangtua hukumnya wajib, dan merupakan perintah Tuhan yang harus dilaksanakan. Bahkan termasuk dalam salah satu dari Sepuluh Perintah Allah,  “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.”  (Keluaran 20:12). 

    Kalau ada orang percaya yang tidak menghormati orangtuanya, berlaku kurang ajar, apalagi sampai menelantarkan orangtuanya, ia telah melanggar firman Tuhan.  Menghormati orangtua harus dengan kasih yang tulus di segala keadaan.  Sekalipun mereka tidak mampu memberikan apa yang kita perlukan sepenuhnya, sebagai anak, kita harus tetap menghormati dan mengasihi orangtua kita.  Mengapa?  Mereka adalah wakil Tuhan, dan keberadaan anak hampir seluruhnya bergantung penuh kepada orangtua sampai beranjak dewasa.  “Karena bukan anak-anak yang harus mengumpulkan harta untuk orang tuanya, melainkan orang tualah untuk anak-anaknya.”  (2 Korintus 12:14b).

    Ingatlah! Dari uraian di atas, jelaslah sesungguhnya perintah untuk menghormati orangtua adalah demi kebaikan, kebahagiaan dan keselamatan anak itu sendiri. Selain itu terhadap anak yang menghormati orangtuanya saja Tuhan menyediakan berkat-berkat-Nya, terlebih-lebih terhadap anak yang mau membalas budi dan berbuat baik kepada orangtuanya.  Karena itu selagi orangtua kita masih hidup, hormatilah dan perlakukan mereka dengan baik yang dilandasi oleh kasih Kristus. GBU & Fam. Better days are coming. (pg).

  • Bak Kota yang ROBOH TEMBOKNYA

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Semoga kita diberi kesabaran dan ketrampilan mengelola emosi sehingga kita tidak menjadi pemarah. Setiap senja, sangat bijak kita berdoa, “Bapa, bersama dengan tenggelamnya matahari di ufuk Barat, redakanlah kekecewaan dan amarah di hati saya. Buatlah saya menjadi lebih sabar, sehingga saya dapat menikmati sukacita dan damai sejahtera.”

    Sekarang, coba kita perhatikan sekitar kita, sering yang menjadi penyebab timbulnya masalah atau persoalan di dalam kehidupan sehari-hari adalah ketidakmampuan orang untuk mengendalikan diri. Kita kurang terampil dalam mengelola emosi.  Karena tak bisa mengendalikan diri, meledaklah amarah, akhirnya memicu terjadinya perselisihan, pertengkaran, bahkan bisa memuncak terjadi pembunuhan.

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia emosi berarti: 1. Luapan perasaan yang berkembang dan surut dalam waktu singkat; 2. Keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis (seperti: kegembiraan, kesedihan, keharuan, kecintaan); keberanian yang bersifat subjektif; 3. Marah;

    Alkitab menceritakan satu kasus, orang yang tidak dapat mengendalikan dirinya, orang yang kurang terampil mengelola emosinya.  Kain tega membunuh adiknya sendiri, Habel.  Padahal Tuhan sudah menegur Kain agar tidak panas hati, tapi Kain tak mampu mengendalikan dirinya sehingga terjadilah tindak kejahatan pembunuhan pertama di dunia. 

    Salomo yang penuh hikmat, jauh hari sudah mengingatkan kita bahwa orang yang tak dapat mengendalikan diri itu digambarkan bak kota yang sudah roboh temboknya, “Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya.” (Amsal 25:28).

    Pengendalian diri itu seperti tembok perlindungan!  Pada zaman dahulu setiap negara atau kota pasti memiliki tembok luar yang kokoh.  Tembok tersebut berfungsi sebagai pagar dan juga perlindungan bagi kota dan penduduknya supaya terluput dari serangan musuh. 

    Saudara, dalam situasi aman dan nyaman mungkin orang dapat mengendalikan dirinya dengan baik, tetapi ketika situasinya sedang tidak baik dan tidak seperti yang diharapkan, orang-orang yang awalnya dikenal begitu sabar, kalem atau lemah lembut, secara drastis bisa berubah menjadi orang yang sangat emosional, amarahnya meledak-ledak.  Oleh sebab itu Tuhan memperingatkan murid-murid-Nya saat berdoa di taman Getsemani,  “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Matius 26:41)

    Seringkali kita menjadi begitu emosional, marah tak terkendali, bukan karena masalah yang kita hadapi terlalu besar, namun karena kita tidak dapat mengendalikan diri sendiri.  Cara yang tepat untuk bisa mengendalikan diri adalah menyediakan lebih banyak waktu  untuk berdoa dan bersekutu dengan Tuhan.  Dengan berdoa kita akan menjadi tenang dan berada dalam pimpinan Roh Tuhan, sehingga perkataan dan perbuatan kita terkontrol. Selain itu teruslah berlatih untuk meningkatkan keterampilan dalam mengelola emosi kita. Ingatlah! Saudara tidak dapat mengobati dirimu  sendiri dengan cara melukai orang lain. Sue Fitzmaurice (Penulis buku “Angel in the Architecture”) berkata, “Mengendalikan emosi bukan berarti saudara tidak boleh berekspresi; tetapi berarti saudara berhenti menyakiti orang lain dan menyabotase diri sendiri.” GBU & Fam. Better days are coming. (pg).  

  • KEPAHITAN dan KASIH Tidak Dapat Tinggal Bersama

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Saya yakin dalam perjalanan hidup kita, ada hal-hal yang manis, tapi ada juga hal-hal yang pahit. Semoga kita dimampukan oleh Tuhan untuk membuang jauh-jauh segala pengalaman pahit. Terry Brooks (Penulis fiksi asal Amerika) berkata, “Luka hati akan membawa kita kepada kepahitan, kepahitan akan membawa kita kepada amarah dan jika terjerat dalam amarah, kita akan tersesat dan sulit untuk dipulihkan.”

    Apa itu kepahitan atau akar pahit? Kepahitan yaitu kejadian dalam hidup seseorang yang tidak enak, yang menggores hatinya begitu dalam.  Yang saya maksud dengan tidak enak  berhubungan dengan banyak hal seperti: kejadian yang menyakitkan, memalukan, merugikan, bahkan mencelakan diri seseorang.


    Saudara, kekejaman orang-orang Mesir membuat bangsa Israel mengalami kepahitan yang luar biasa,  “Lalu dengan kejam orang Mesir memaksa orang Israel bekerja, dan memahitkan hidup mereka dengan pekerjaan yang berat, yaitu mengerjakan tanah liat dan batu bata, dan berbagai-bagai pekerjaan di padang, ya segala pekerjaan yang dengan kejam dipaksakan orang Mesir kepada mereka itu.”  (Keluaran 1:13-14).

    Bangsa Israel menjadi contoh nyata dampak buruk yang ditimbulkan oleh rasa pahit yang terpendam bertahun-tahun di dalam hati.  Perlakuan kejam bangsa Mesir benar-benar menorehkan luka mendalam di hati mereka.

    Kepahitan itu bisa digambarkan seperti sebuah akar.  Akar tidak bisa dilihat karena berada jauh di dalam tanah, tapi kita dapat merasakan keberadaannya dengan melihat batang, daun, dan buah yang dihasilkannya.  Akar yang pahit menghasilkan buah yang pahit juga.  “Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati. Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat.” (Matius 12:34b-35).  Karena itu kita harus bisa menjaga kondisi hati kita.  “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”  (Amsal 4:23).  Karena hatinya teramat pahit, bangsa Israel pun menunjukkan sikap yang memberontak kepada Tuhan.

    Bagaimana caranya supaya kita terbebas dari kepahitan hati?  Semua tergantung bagaimana kita menyikapi setiap permasalahan yang terjadi.  “Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia.”  (Amsal 23:7a).  Kita harus membuat suatu tindakan nyata untuk melepaskan diri dari belenggu kepahitan itu.  “Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit…”  (Ibrani 12:15).  Akar pahit akan semakin tumbuh subur apabila kita hidup jauh dari kasih karunia Tuhan.  Hanya oleh kasih karunia Tuhanlah kita dituntun kepada kehidupan yang terbebas dari kepahitan.  Maka dari itu bukalah hati dan izinkan Roh Kudus memimpin langkah hidup kita.

    Ingatlah! Jadikan diri kita lebih baik dan bukan menjadi lebih pahit. Dave Willis (Pelawak asal Skotlandia) berkata, “Kepahitan dan cinta tidak bisa hidup bersama dalam satu hati. Setiap hari kita harus menentukan yang mana yang akan tinggal.” KEPAHITAN dan KASIH tidak dapat tinggal bersama. GBU & Fam. Better days are coming. (pg).

  • Memilih Panggilan Pelayanan

    Setiap orang memiliki sebuah panggilan khusus untuk mengikuti Tuhan Yesus. Panggilan ini merupakan sebuah karunia dari Allah sendiri. Secara spesifik, Allah menaruh panggilan ini ke dalam diri seseorang, kamu dan aku. Inilah suatu pemberian dari Allah, yang mesti diterima dengan keterbukaan diri (Yeremia 1:7-8; Efesus 4:11-12; 2 Timotius 1:9; 1 Petrus 5:10).

    Mengapa panggilan untuk mengikuti Tuhan Yesus begitu unik? Sebab, ini didasarkan pada karunia khusus yang sudah Tuhan berikan kepada kita. Di dalamnya pun terdapat sebuah kebebasan bagi kita untuk memilih: menolak, atau menerima panggilan tersebut (Kejadian 2:16-17). Kebebasan ini pun merupakan perwujudan eksistensi manusia sesungguhnya.

                Sebagian orang secara luar biasa mengalami bahwa cara Allah memanggil mereka amat unik. Itulah sebabnya sebuah panggilan untuk mengikuti Tuhan Yesus memang sangat istimewa. Ini disebabkan kita merespons undangan Allah dan lalu memberikan diri kepada Allah sendiri. Dan, di sini Allah menghendaki kita untuk menanggapi panggilan-Nya secara pribadi. Lalu, apakah arti panggilan Allah bagi kita?

                Bacaan Alkitab kita dalam 1 Raja-Raja 19:19-20 menjelaskan suatu panggilan pelayanan pribadi dan juga penunjukkan kenabian terhadap Elisa.

    Ada dua hamba Tuhan di sini. Orang pertama adalah Elia. Ia seorang nabi tua dan namanya berarti “Allah-ku adalah Yahweh (Tuhan)”. Dan, orang kedua bernama Elisa. Ia seorang nabi lebih muda dan namanya berarti “Allah adalah keselamatan”.

                Ayat 19 berkata, Setelah Elia pergi darisana, ia bertemu dengan Elisa bin Safat yang sedang membajak dengan dua belas pasang lembu, sedang ia sendiri mengemudikan yang kedua belas. Ketika Elia lalu dari dekatnya, ia melemparkan jubahnya kepadanya.”

    Kata-kata “dari sana” berarti Gunung Horeb, atau disebut Gunung Sinai. Itulah sebuah gunung suci tempat nabi Musa bertemu Allah dan menerima 10 Perintah Allah (Keluaran 19-20). Di atas gunung itu, Tuhan pun menampakkan diri kepada nabi Elia. Tuhan berkata kepadanya bahwa nabi Elia akan mengurapi Elisa dari daerah Abel-

    Mehola untuk menggantikannya sebagai nabi di Israel (1 Raja-Raja 19:16).

    Saat itu, Elisa sedang bekerja di ladang, karena ia sendiri adalah seorang petani. Dengan melihat lembu-lembunya, kita bisa mempunyai gambaran yang baik tentang dirinya. Elisa sesungguhnya seorang petani kaya di daerah Abel-Mehola, dekat dengan Sungai Yordan, yang terletak di bagian selatan daerah Bet-Sean (1 Raja-Raja 4:12). Dengan demikian, ia pula memiliki status sosial yang bagus.  

                Elisa sedang bekerja di ladang ketika nabi Elia mengurapinya sebagai seorang nabi. Walaupun Elisa seorang petani kaya, tetapi ia masih membajak tanahnya. Kemudian, nabi Elia mendekatinya dan menaruh jubah kenabiannya di atas pundak Elisa.

    Apakah artinya ini?  Dengan tindakan ini, nabi Elia menunjukkan bahwa Elisa akan menjadi seorang nabi seperti dirinya kelak. Dengan cepat Elisa pun menyadari keadaan itu. Lalu, saat peralihan jabatan kenabian itu selesai, nabi Elia pada akhirnya memang meninggalkan jubah kenabiaannya bagi Elisa (2 Raja-Raja 2:11-14).

                Apakah makna jubah nabi Elia di sini? Jubah nabi Elia merupakan sebuah simbol dari otoritasnya sebagai nabi untuk mengurapi Elisa. Dan bagi Elisa sendiri, jubah nabi Elia menjadi sebuah simbol dari panggilan Elisa terhadap jabatan kenabian yang akan ia emban kelak. Bacaan Alkitab ini menjelaskan suatu hubungan akrab antara sang guru (nabi Elia) dan sang murid (Elisa).  

                “Lalu Elisa meninggalkan lembu itu dan berlari mengikuti Elia, katanya: “Biarkanlah aku mencium ayahku dan ibuku dahulu, lalu aku akan mengikuti engkau.” Jawabnya kepadanya: “Baiklah, pulang dahulu, dan ingatlah apa yang telah kuperbuat kepadamu” (1 Raja-Raja 19:20).   

          Elisa menanggapi tantangan panggilan dari nabi Elia dengan membuat sebuah keputusan yang menentukan hidupnya, yakni mengikuti sang nabi dan bersedia menggantikannya suatu saat . Kehidupan seorang nabi memang lebih sulit daripada pekerjaan Elisa sebagai petani dengan banyak harta. Mengapa? Sejumlah orang akan membenci Elisa. Sebagian lagi akan menentang pemberitaannya. Lebih dari itu, beberapa orang lagi akan menghinanya. Sejumlah tantangan dan pergumulan akan dihadapi Elisa dalam mengemban jabatan kenabian tersebut.

    Di sini kita bisa melihat, dengan kebebasan utuh Elisa ingin melayani Allah. Ia mempertimbangkan keputusan untuk mengikuti panggilan pelayanan itu sebagai suatu kesempatan yang amat indah. Dan, ia tidak ragu-ragu lagi untuk melakukannya. Memilih panggilan pelayanan itu baginya sungguh mulia (1 Petrus 4:11).

                Tidaklah mudah untuk membuat keputusan dalam hidup ini, sebab kita dihadapkan dengan sejumlah pilihan setiap hari. Pilihan-pilihan mungkin bersifat sederhana atau rumit. Namun, kita juga harus bertanggung jawab terhadap pilihan itu.

                Sekarang, apakah kita masih berfokus pada panggilan kita untuk mengikut Tuhan Yesus? Allah kiranya menguatkan panggilan pelayanan kita. (Petrus E. Handoyo/pg).

    *****

  • Amargi Sih RAHMATIPUN GUSTI

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Sesungguhnya hidup merupakan anugerah Tuhan yang paling besar. Karena itu kita perlu mensyukuri dan memelihara hidup kita. Jim Rohn (Motivator asal Amerika) berkata, “Peliharalah tubuhmu. Karena hanya itu yang menjadi tempat tinggalmu.”

    Pengalaman hidup saya bercerita bahwa  walaupun saya  saat ini sudah berusia 64 tahun tapi masih  diberi kesempatan oleh Tuhan untuk terlibat secara langsung dalam program “Christopherus Peduli Covid – 19.” Program tersebut membagikan pakaian Alat Pelindung Diri (APD) standard yang bisa dicuci, masker, headshield, dan thermometer ke rumah sakit, poliklinik, dan puskesmas. Selain itu juga membagikan bantuan paket sembako, masker, dan tangki-tangki sanitasi berpidal ke masyarakat luas. Semua itu hanya anugerah Tuhan semata. Only by Grace.

    Jika pada masa pandemi Covid – 19 kita masih bisa menjalani hidup hingga detik ini dan bisa menikmati berkat-berkat-Nya,  itu semua hanya karena anugerah-Nya.  Kalau bukan karena tangan Tuhan yang menuntun dan menopang, kita pasti tidak memiliki kesanggupan untuk menjalani dan melewati hari-hari yang berat saat  ini.  Karena itu kita  harus yakin bahwa di hari-hari mendatang Tuhan pasti tetap menyertai dan terus melanjutkan perbuatan baik-Nya atas kita.  “Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.”  (Filipi 1:6).

    Saudara, Tuhan Yesus sungguh baik dan sangat baik, sebab selalu memberikan yang terbaik kepada anak-anak-Nya.  Bapa kita di dunia ini saja tidak akan pernah memberi batu kepada anaknya, jika ia minta roti, atau memberi ular, jika ia minta ikan.  “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”  (Matius 7:11).  Nabi Yeremia menegaskan bahwa berkat yang disediakan Tuhan bagi kita merupakan berkat yang selalu baru setiap pagi, bukan berkat yang  basi,    “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!”  (Ratapan 3:22-23).  Itulah janji Tuhan yang harus kita pegang seumur hidup kita:  kasih setia Tuhan tidak berkesudahan dan rahmat-Nya pun tak ada habisnya.  Haleluya!

    Karena itu, berhentilah  mengeluh dan bersungut-sungut!  “Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita.”  (Efesus 5:20), sebab pertolongan dan berkat Tuhan pasti datang tepat pada waktunya.  Kalau bapa kita di dunia pernah dan seringkali mengecewakan anaknya, tidak demikian dengan Bapa di surga, tak pernah mengecewakan dan selalu memberi yang terbaik. 

    Ingatlah! Kita ada sebagaimana adanya kita sampai saat ini,  hanya karena anugerah Tuhan semata.Amargi Sih RAHMATIPUN GUSTI.  Yeremia mengingatkan kita, “TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.”  (Ratapan 3:25). GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • PESERTA bukan Penonton

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh, kita yang berusia 60 tahun ke atas, tetap perlu melakukan olahraga ringan secara rutin. Jalan sehat merupakan salah satu olahraga yang dapat kita lakukan.

    Perjalanan hidup kita sebagai orang percaya di dunia ini bagaikan kita sedang mengikuti lomba lari maraton yang medannya tidak hanya jalan beraspal, tapi meliputi rumput, tanah padat, semak-semak, sungai, laut, bukit, gunung, dan lembah (Trail Running, Lari Lintas Alam). Peserta lari  pertandingan olahraga lari jarak jauh ini bukan hanya melewati jalan yang datar dan rata, tapi juga harus melewati rute berliku-liku.  Peserta juga akan menempuh jalan yang menanjak, tanjakan terjal, penuh kerikil dan bebatuan, atau juga menyusuri lembah yang curam,   menyeberangi sungai, dan lain-lain.  Tuhan memanggil kita untuk terlibat sebagai peserta  pertandingan bukan hanya sebagai penonton.

    Saudara, ada perbedaan mencolok antara peserta dan penonton.  Penonton paling mahir berkomentar, melontarkan kritikan dan hujatan terhadap peserta lomba karena ia hanya menonton, bukan turut bertanding.  Kondisi berbeda harus dialami oleh peserta lomba, ia harus berjuang begitu rupa di gelanggang pertandingan, bermandi peluh dan tak jarang harus mengalami cidera di tengah pertandingan.  Ingatlah bahwa penonton sampai kapan pun tidak pernah berhak mendapatkan medali,  piala, dan atau penghargaan yang lain.  Yang berhak menerima  penghargaan atau hadiah hanya peserta pertandingan! 

    Tuhan memanggil kita untuk menjadi peserta “Pertandingan Iman”. Memang, untuk turut ambil bagian dalam pertandingan iman bukanlah perkara mudah, ada harga yang harus dibayar.  Siap atau tidak siap kita akan dihadapkan pada banyak tantangan dan rintangan. Yesus bersabda,  “…banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.”  (Matius 22:14).  Semoga kita termasuk bilangan yang dipilih.

    Ada cukup banyak orang percaya yang menyerah di tengah pertandingan iman dan meninggalkan Tuhan.  Mereka merasa sudah lama mengikut Tuhan tetapi hidupnya tidak mengalami perubahan yang berarti.  Jika motivasi kita dalam mengikut Tuhan hanya fokus pada materi saja,  kita akan kecewa.

    Dalam perikop “Roti hidup” di Injil Yohanes, banyak orang berbondong-bondong mencari Tuhan Yesus bukan karena merindukan pribadi-Nya.  “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.”  (Yohanes 6:26).  Akibatnya ketika apa yang kita harapkan tidak kita dapatkan, maka kita menjadi kecewa, mengeluh dan bersungut-sungut.  Kita tenggelam dalam kesedihan, penyesalan, kekhawatiran, kekecewaan, sakit hati, kebencian, dan kepahitan.  Tuhan Yesus bersabda,  “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”  (Matius 11:28). 

    Jangan biarkan beban hidup yang ada menghalangi langkah kita dalam pertandingan iman.  Seberat bagaimana pun tantangan dan rintangannya, kita harus terus berlari dan fokus kepada tujuan,  “… berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”  (Filipi 3:14), sehingga akhirnya kita dapat berkata,  “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”  (Filipi 4:13).

    Ingatlah! Tanpa memiliki tujuan dan sasaran yang jelas kita takkan sanggup bertekun dalam pertandingan iman.  Begitu ada masalah, penderitaan dan kesukaran kita akan mudah menyerah, kecewa dan mundur. Rasul Paulus berpesan, “Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal.” (1 Timotius 6:12a). GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • SUKACITA kunci KEBERHASILAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Ada cukup banyak orang yang berpendapat  bahwa keberhasilan itu kunci sukacita. Bukan! Justru terbalik! SUKACITA itu kunci keberhasilan.

    Saat ini banyak orang yang hidupnya dikuasai oleh kekhawatiran, “Apa jadinya jika pandemi Covid – 19 terus berlanjut? Dunia benar-benar digoncang oleh kehadiran virus Corona. Keadaan dunia semakin serba tidak menentu dan penuh goncangan-goncangan di segala aspek.  Tentu saja jika kita  dikuasai oleh kekhawatiran, maka sukacita akan menjauh dari kita. Kekhawatiran adalah pencuri sukacita terbesar!

    Saudara, Rasul Paulus memberi nasihat,  “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (Filipi 4:6).  Sesungguhnya Paulus mempunyai 1001 alasan untuk khawatir dan tidak bersukacita, karena pada saat itu ia sedang berada di dalam penjara, menunggu eksekusi hukuman mati.  Selain itu ia mendengar kabar bahwa di gereja Efesus terjadi perpecahan di antara para pemimpin rohaninya.  Kesemuanya itu berpotensi membuatnya tidak bersukacita, tetapi ia justru dapat berkata,  “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (Filipi 4:4). 

    Apa rahasia, ketika Paulus dalam kondisi sangat memprihatinkan tetap mampu bersukacita?  Sesungguhnya bersukacita atau tetap khawatir adalah sebuah pilihan,  “Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia.”  (Amsal 23:7).  Paulus akhirnya memilih  untuk tidak mau dikuasai oleh kekhawatiran karena ia tahu bahwa kekhawatiran bukan hanya akan mematahkan semangat di dalam dirinya, tetapi juga akan menguras energinya.

    Bukankah hati yang dipenuhi dengan kekhawatiran  akan memicu munculnya berbagai penyakit?  Kekhawatiran benar-benar hanya akan menarik kita ke arah berlawanan, menjauh dari sasaran yang hendak kita tuju sehingga fokus kita pun terpecah-belah.  Itulah sebabnya Paulus tidak mau dikuasai oleh kekhawatiran. Ia tidak ingin kekhawatiran menggerogoti hidupnya.

    Ingatlah! Roy T. Bennet (penulis buku “The Light in the Heart”) berkata, “Jangan buang-buang waktu kita dengan kemarahan, kekecewaan, kekhawatiran, dan dendam. Hidup ini terlalu pendek jika kita luangkan untuk hal-hal yang tidak membuat kita bahagia.” Karena itu bersukacita! Sukacita berbicara tentang kedamaian dan kesukaan di dalam hati oleh karena Tuhan, sumber sukacita itu sendiri,  “…di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.”  (Mazmur 16:11). GBU & Fam. Better days asre coming. (pg)