Author: Christopherus

  • PEDULI dengan KEBUTUHAN sesama

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Pengalaman hidup saya bercerita bahwa jika dengan tulus dan rela kita menolong sesama yang sedang membutuhkan, sesungguhnya kita juga sedang menolong diri kita sendiri. Salomo mengingatkan kita, “Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri, tetapi orang yang kejam menyiksa badannya sendiri.” (Amsal 11:17)

    Saya punya seorang teman sepelayanan di kantor. Usianya lebih tua dua tahun dari saya. Dia sudah berkeluarga, tapi belum dikaruniai anak. Teman saya ini punya keistimewaan, dia peka terhadap kebutuhan sesama. Orangnya sangat sabar dalam menanggapi orang-orang yang berbagi tentang kebutuhannya kepadanya. Terakhir dia semangat sekali menghubungi banyak pihak untuk membantu seorang alumni anak Panti Asuhan Christopherus yang atap rumahnya rubuh. Dia menaruh minat pada pelayanan doa dan diakonia.

    Tuhan Yesus mengajarkan dan memersiapkan murid-murid-Nya untuk mau peduli dengan kebutuhan sesama, Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.”  (Matius 25:35-36)

    Rasul Paulus mengingatkan kita supaya setiap orang percaya berkenan terlibat di dalam pelayanan diakonia,  “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” (Efesus 2:10). 

    Melayani sesama adalah pelayanan yang tidak boleh ditunda-tunda, harus dikerjakan sekarang, terutama di masa sulit seperti sekarang ini,  dunia membutuhkan uluran tangan orang percaya, bukan sekadar kata-kata yang berbalutkan kasih.

    Ketika banyak orang memilih hidup bagi diri sendiri, gereja-Nya  justru dituntut untuk menjadi pribadi yang berbeda, pribadi penuh belas kasihan seperti orang Samaria.
      Ketika melihat orang lain terluka dan menderita seketika itu pula hatinya tergerak oleh belas kasihan.  “Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.” (Lukas 10:34-35).  Sungguh mulia hati orang Samaria ini, padahal orang yang ditolongnya itu adalah orang asing yang tidak dikenalnya.

    Ingatlah! Luar biasa … Jika saat ini Anda dalam posisi dapat membantu orang lain, bersyukurlah. Karena Allah sedang memakai Anda untuk  mengabulkan doa orang yang telah Anda tolong, GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • Pemeliharaan Allah

    Sebuah pertanyaan muncul, seperti apakah pemeliharaan Allah yang dialami di saat-saat sukar selama wabah Corona Virus ini?  Bacaan Alkitab kita, Mazmur 65, menguraikan pemeliharaan Allah dalam hidup dan tanah umat Israel. Mereka mengalami tahun  baik yang berkelimpahan ketika Allah mencurahkan berkat-berkat-Nya di atas tanah itu.

    Ayat 10, “Engkau mengindahkan tanah itu, mengaruniainya kelimpahan, dan membuatnya sangat kaya. Batang air Allah penuh air; Engkau menyediakan gandum bagi mereka. Ya, demikianlah Engkau menyediakannya”.

    Di sini, Allah telah menciptakan tanah dan juga mengindahkannya. Terlebih itu, Ia membuat tanah itu sangat kaya. Ia bahkan mengaliri tanah itu dengan sungai Allah, yang penuh dengan air. Sampai di sini, Allah sudah memelihara  ciptaan-Nya, yaitu manusia dan tanahnya. Dari debu tanah pun manusia diciptakan oleh Allah (Kejadian 2:7).

    Lihatlah frase “batang air Allah”. Batang air Allah  atau sungai Allah  menunjuk pada kasih Allah yang kekal, yang penuh berkat-berkat anugerah. Batang air Allah  itu juga mengalir ke dalam hidup umat-Nya, membuat mereka berbuah, memperkaya  mereka dengan kekayaan  anugerah dan kemuliaan (bdng. Mazmur 46:4).

                Ayat 12, “Engkau memahkotai tahun dengan kebaikan-Mu, jejak-Mu mengeluarkan lemak”. Kata “tahun” (bhs. Ibrani, senat) adalah bagian dari waktu (yom). Pemazmur Daud menyadari bahwa hidupnya selalu berada di dalam periode waktu, yaitu tahun. Tahun demi tahun, ia mengalami pemeliharaan Allah. Allah memahkotai  atau melingkupi hidupnya dengan kemurahan maupun kebahagiaan.

                Marilah melihat kembali ayat 12, “… jejak-Mu mengeluarkan lemak”. Kata “lemak” berarti kelimpahan. Di sini, berkat Allah menghasilkan tuaian yang melimpah. Sang pemazmur sendiri telah melihat kelimpahan  berkat-Nya dalam hidupnya dan umatnya.

                Mazmur 65 juga disebut mazmur tuaian. Mazmur ini memuliakan Allah Pencipta seperti yang tercermin dalam keindahan alam. Dan, alam membantu kita memahami sesuatu  tentang karakter Allah (bdng. Mazmur 33:4-5). Orang-orang Israel percaya, kepedulian Allah terhadap alam merupakan sebuah tanda  dari kasih-Nya dan pemeliharaan-Nya bagi mereka. Alam sendiri menunjukkan kemurahan hati Allah, yang memberikan kita lebih dari yang kita butuhkan. Memahami kemurahan hati yang berlimpah dari Allah selayaknya membuat kita bersyukur pada Allah dan bermurah hati pada orang lain, sekalipun di tengah-tengah keadaan tak tentu selama pandemi Covid-19.

                Ada dua hal tentang pemeliharaan Allah dalam bacaan Alkitab ini. Pertama, Allah menyediakan kebutuhan kita sehari-hari. Kita telah melihat Allah yang memberikan kita kesehatan, keluarga, pekerjaan, sahabat-sahabat, perlindungan, gereja, kemampuan, waktu luang, berkat finansial, doa-doa yang sudah dijawab, dan lainnya. Semuanya ini sungguh berarti bagi kita, bukan? Semuanya ini benar-benar menjadi bagian  dari pemeliharaan Allah bagi kita (bdng.  Matius 6:25-26, 34; Ratapan 3:22-23).

                Kedua, Allah sudah mengangkat kita dari dosa. Allah telah memberikan anak-Nya Yesus Kristus untuk menyelamatkan kita dari dosa-dosa. Ini pemeliharaan Allah yang terbaik yang Ia sudah lakukan bagi Saudara dan saya dalam hidup ini. Tujuannya adalah supaya kita memiliki hidup kekal dan selalu dalam pemeliharaan-Nya hari demi hari (lih. Yohanes 3:16, 10:10).

                Marilah kita menyadari dengan hati dan pikiran terbuka bahwa Allah memelihara kita dengan kasih-Nya yang kekal sekalipun di masa-masa yang menantang dan sulit seperti ini. Tuhan Yesus berkati kita. (Petrus E Handoyo/pg)

    *******

  • I HAVE DECIDED TO FOLLOW JESUS

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar?” Saya yakin setiap hari kita diperhadap dengan berbagai pilihan dalam berbagai kesempatan. Jadi setiap hari pasti kita harus mengambil keputusan lebih dari satu kali. Stephen Covey (Penulis asal Amerika) berkata, “Saya bukanlah sebuah produk dari keadaan saya. Saya adalah sebuah produk dari keputusan saya.”

    Betapa pentingnya arti sebuah KEPUTUSAN bagi hidup kita. Apa itu keputusan? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, keputusan berarti: 1 perihal yang berkaitan dengan putusan; segala putusan yang telah ditetapkan (sesudah dipertimbangkan, dipikirkan, dsb): 2 ketetapan; sikap terakhir (langkah yang harus dijalankan): 3 kesimpulan (tentang pendapat): 4 hasil pemeriksaan (tentang ujian).

    Saudara,melalui perenungan  kita pada saat ini, kembali kita diingatkan bahwa untuk mengikut Tuhan Yesus ada harga yang harus dibayar, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.”  (Lukas 9:23). Mengikut Tuhan Yesus adalah sebuah keputusan terbesar dalam hidup seseorang karena keputusan ini adalah keputusan sekali untuk seumur hidup kita dan berdampak pada hidup kekal.

    Ketika kita memutuskan untuk mengikut Tuhan berarti kita siap mengikuti jalan-jalan-Nya, sebab ada tertulis,  “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.”  (1 Yohanes 2:6).  Jangan mengikut Tuhan Yesus hanya karena satu keinginan yaitu mengejar berkat dan mukjizat-Nya saja, sementara kita tidak memedulikan keberadaan diri kita apakah kita sudah hidup benar di hadapan Tuhan atau belum? Apakah jalan kita seturut dengan kehendak-Nya? Apakah kita sudah membalas kasih Tuhan yang begitu besar? 

    Ada cukup banyak orang percaya hanya berpikiran bahwa yang terpenting Tuhan sudah memberkatiku, menyembuhkanku, memulihkanku, dan menjawab doa-doaku.  Kita hanya memanfaatkan Tuhan Yesus untuk mewujudkan segala keinginan kita.  “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?”  (Lukas 9:25).

    Sekali lagi, ketika kita memutuskan untuk mengikut Tuhan berarti kita harus siap membayar harga.  Mengapa?  Karena Tuhan Yesus telah terlebih dahulu membayar harga,  “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.”  (Lukas 9:22).  Kepada jemaat di Korintus rasul Paulus mengingatkan,  “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar”  (1 Korintus 6:20).  Tuhan Yesus membayar harga dengan mengorbankan nyawa-Nya di kayu salib sehingga kita yang percaya kepada-Nya beroleh pengampunan dosa dan diselamatkan.

    Ingatlah! Nokseng  dari suku Garo. Dia bersama dengan istri dan 2 orang anaknya tinggal di daerah yang bernama Assam, di daerah bagian timur negara India. Pada sekitar tahun 1800-an mereka diadili di tengah-tengah kumpulan masyarakatnya karena mereka telah memutuskan untuk mengikut Yesus, menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Mereka diminta untuk menyangkali imannya kalau ingin selamat. Tapi Nokseng justru menjawab dengan pernyataan, “I have decided to follow Jesus. No turning back! No tuning back! Maka mereka berempat akhirnya mati sebagai martir. Kematian Nokseng dan keluarganya ternyata berdampak besar sebagai jalan masuknya Injil Kristus diterima dan menjadi berkembang secara pesat di daerah itu. Meghalaya adalah Negara bagian yang subur di timur laut India dan merupakan salah satu dari tiga negara bagian India dengan mayoritas Kristen. Hampir sembilan puluh persen dari suku Garo adalah orang Kristen. GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • Dalam Tinggal TENANG dan PERCAYA Terletak Kekuatanku

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Supaya kita bisa tenang menjalani hidup, orang bijak meyakinkan kita, “Jika tidak ada pundak untuk bersandar, yakinlah masih ada lantai untuk untuk bersujud.”

    Joyce Meyer (Penulis dan pembicara asal Amerika) mengingatkan kita, “Menghabiskan waktu bersama Tuhan adalah kunci kekuatan dan kesuksesan kita di semua bidang kehidupan.”

    Saudara, saya sadar hari-hari ini ada banyak hal yang mengusik ketenangan. Rasul Petrus menasihati orang percaya untuk bisa menguasai diri dan tetap tenang di segala situasi supaya dapat berdoa.  Ketika kita dalam posisi tidak tenang, panik, gelisah, emosi, jengkel, marah, galau atau gundah gulana tentunya akan sulit untuk berdoa, “Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.”  (1 Petrus 4:7)
     

    Sesungguhnya ada banyak hal di dunia ini yang membuat kita tidak bisa tenang dalam menjalani hidup:  masalah, tekanan, tuntutan pekerjaan, pengaruh lingkungan dan masih banyak lagi. 

    Sampai kapan pun dunia tidak akan pernah memberikan rasa tenang kepada kita.  Karena itu rasa tenang dalam diri orang percaya seharusnya tidak ditentukan oleh situasi atau keadaan yang terjadi di sekitarnya, sebab rasa tenang itu sesungguhnya merupakan sebuah keputusan atau ketetapan hati.  Sedahsyat bagaimana pun badai gelombang menerpa kita,  bisa membuat keputusan untuk tetap tenang. 

    Mengapa kita harus selalu tenang?  “Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.”  (Yesaya 30:15).  Milikilah reaksi dan sikap positif untuk setiap situasi atau masalah yang terjadi.  Bila sikap kita positif maka hati dan pikiran kita dipenuhi oleh  “… semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji…”  (Filipi 4:8).

    Selalu berpikiran positif itulah yang membuat kita tetap tenang, karena kita tahu benar bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan. Pencobaan-pencobaan yang kita alami adalah pencobaan biasa yang tidak melebihi kekuatan kita. Di dalam Tuhan selalu ada jalan keluarnya.  Kegagalan seringkali kita alami bukan karena kita terlalu lemah atau masalah yang terlalu besar, tetapi karena kita sendiri tidak tenang menghadapinya.

    Ingatlah! Kita butuh waktu untuk menyendiri sejenak, untuk menikmati suatu ketenangan dan keheningan, supaya kita mendapatkan kekiuatan dari Tuhan untuk menjalani dan menikmati hidup. GBU & Fam. Better days are coming. (pg).

  • KEMULIAAN hanya bagi TUHAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Orang bijak berkata bahwa nilai manusia itu bukan bagaimana ia mati, melainkan bagaimana ia hidup. Bukan apa yang telah ia peroleh, melainkan apa yang telah ia berikan. Bukan apa pangkatnya, melainkan apa yang telah diperbuat dengan tugas yang diberikan Tuhan kepadanya.

    Saudara, ada cukup banyak orang percaya memiliki pengertian yang kurang tepat ketika mereka mendengar atau mengucapkan: “Berbakti kepada Tuhan.”  Pemahaman mereka berbakti kepada Tuhan berarti selalu berkaitan dengan kegiatan-kegiatan rohani di rumah ibadah atau terlibat dalam pelayanan yang dilakukan di lingkungan gereja. 

    Padahal berbakti kepada Tuhan bukan hanya berbicara mengenai aktivitas ibadah atau pelayanan yang dilakukan secara rutin dan insidental di gereja, tetapi meliputi segenap keberadaan hidup kita, meliputi segenap gerak hidup kita sehari-hari.  Jadi jam berbakti kepada Tuhan bukan hanya 1 atau 2 jam di dalam gedung gereja, melainkan  selama 24 jam waktu yang kita miliki adalah untuk berbakti kepada Tuhan.  Inilah yang dimaksud berbakti kepada Tuhan, “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23).

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berbakti berasal kata dasar bakti yang  berarti:  tunduk dan hormat, perbuatan yang menyatakan setia  (kasih, hormat, tunduk). Dengan demikian berbakti kepada Tuhan merupakan sebuah keputusan untuk menjadikan Tuhan sebagai pusat pengabdian hidup. Fokus hidup kita hanya kepada Tuhan. Kemuliaan hanya bagi Tuhan. Rasul Paulus dengan sangat jelas mengingatkan kita,“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya” (Roma 11:36).

    Segala sesuatu yang kita kerjakan dalam hidup ini  (dalam profesi sebagai apa pun)  hendaknya menjadi ladang memraktikkan nilai-nilai firman Tuhan atau menjadi pelaku firman Tuhan.  Jadi tempat untuk kita berbakti kepada Tuhan bukan hanya di dalam gedung gereja saja, melainkan di mana pun kita berada  (di rumah, di hotel,  di kantor, di toko, di sekolah, di tempat wisata, di warung kopi, di pasar, di bengkel, dan lain-lain).  

    Ingatlah! Sekarang kita semakin memahami bahwa berbakti kepada Tuhan bukan hanya diukur dari kepiawaian pengkotbahnya, atau liturgi atau lagu-lagu yang kita nyanyikan di gedung gereja, melainkan meliputi segenap tindakan dan perbuatan dalam keseharian kita! Smith Wigglessworth (Penginjil asal Inggris) berkata, “Tuhan ingin membersihkan keinginan dan motivasi dalam hati kita sehingga apa yang kita inginkan akan memuliakan nama Tuhan.” GBU & Fam. Better days are coming. (pg).

  • MELIHAT yang TIDAK KELIHATAN

    Selamat  jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Saya yakin begitu kita membuka mata di pagi hari, maka segera masalah demi masalah akan antri menghampiri kita. John Hagee (Pendeta dan Penginjil asal Amerika) berkata, “Selama Anda hidup, Anda akan menghadapi masalah. Tetapi jangan lupa, Anda melayani Tuhan yang memecahkan masalah.”

    John Wesley (Teolog dan Pendeta asal Inggris) berkata, “Lakukan semua yang kamu bisa. Dengan segala cara yang kamu bisa. Di semua tempat yang kamu bisa. Setiap saat kamu bisa. Untuk semua orang yang kamu bisa. Selama kamu bisa. ”

    Saudara, ada cukup banyak di antara kita mudah putus asa, stres dan tidak pernah mengalami terobosan baru dalam hidup. Mengapa? Karena waktu menghadapi masalah, mata dan pikirannya hanya terfokus kepada besarnya masalah yang ada di hadapannya.

    Sesungguhnya setiap masalah merupakan satu kesempatan bagi kita untuk datang kepada Tuhan dan melihat pekerjaan-Nya yang ajaib dinyatakan atas hidup kita. Masalah dan ujian adalah latihan bagi mata iman kita untuk melihat  yang tidak kasatmata. Maka rasul Paulus pun tidak memerhatikan yang kelihatan karena yang kelihatan adalah sementara, sehingga masalah, penderitaan dan aniaya tidak sedikitpun menggoyahkan imannya; dia tetap setia mengerjakan panggilan hidupnya. “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.” (2 Korintus 4:8-9)

    Mengapa rasul Paulus kuat menghadapi itu semua? Itu karena dia selalu mengingat kematian Yesus! Bila kita menyadari betapa besar pengorbanan Yesus sehingga Dia rela mati bagi kita, kita tidak akan begitu mudah kecewa, menggerutu dan mengeluh bila berada dalam persoalan.

    Yosua dan Kaleb dapat memasuki Tanah Kanaan karena mereka melihat masalah dengan mata iman, bahwa kuasa Allah yang menyertai lebih besar dari apa pun juga. Sebaliknya kesepuluh pengintai gagal karen mereka melihat musuh dan tantangan yang ada seperti raksasa yang tidak mungkin bisa ditaklukkan (Bilangan 13:22-33). Demikian juga dengan pelayan Elisa yang mengalami ketakutan karena melihat kotanya telah dikepung oleh musuh (2 Raja-Raja 6:14-16). Sebab itu Elisa berdoa supaya Tuhan mencelikkan mata rohani pelayannya sehingga ia dapat melihat apa yang tidak kelihatan.

    Ingatlah! Saudara bila fokus kita hanya kepada hal yang kelihatan kita akan menjadi orang-orang yang kalah. Maka, mari mengaktifkan iman kita! Rasul Paulus mengingatkan kita, “Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.”  ( 2 Korintus 4:18). GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • ADA PROSES YANG HARUS KITA JALANI 2

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Sesungguhnya kehidupan orang percaya merupakan  sebuah perjalanan iman.  Oleh karena itu kita harus membangun iman dari hari ke sehari melalui perenungan akan firman Tuhan, sebab  “… iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.”  (Roma 10:17), dan tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Tuhan  (Ibrani 11:6).


    Kita  percaya bahwa Tuhan juga memiliki rencana khusus bagi setiap anak-anak-Nya, bukan hanya kepada Yusuf.  Dia memiliki rancangan yang baik, serta menyediakan masa depan yang indah dan penuh pengharapan. 

    Saudara, Tuhan Yesus sudah membuktikan kasih-Nya.  Dia rela berkorban dan  menderita, bahkan rela menyerahkan nyawa-Nya di atas kayu salib untuk kita.  Semua  dilakukan-Nya supaya kita beroleh pengampunan, keselamatan, kesembuhan, pemulihan, kasih karunia dan anugerah menjadi anak-anak Allah.


    Melalui proses kehidupannya yang berliku-liku akhirnya Yusuf sungguh-sungguh menjadi besar, yaitu menjadi penguasa di Mesir.  Sungguh luar biasa, Yusuf menjadi orang kedua di Mesir setelah Firaun.  Lebih daripada itu Yusuf diberi hak dan kuasa, bahkan cincin raja dikenakan kepadanya, “Lalu Firaun menyuruh menaikkan Yusuf dalam keretanya yang kedua, dan berserulah orang di hadapan Yusuf:  ‘Hormat!’  Demikianlah Yusuf dilantik oleh Firaun menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir.”  (Kejadian 41:43)
     
    Jika kita teliti dan perhatikan lebih jauh, semua masalah dan penderitaan yang dialami oleh Yusuf sebenarnya merupakan proses yang dipakai Tuhan untuk menerima janji-Nya.  Pada waktu mendapatkan janji Tuhan, Yusuf masih berada di Kanaan.  Namun Tuhan memberi mimpi kepada Yusuf bahwa ia akan menjadi penguasa di Mesir.  Karena itu Yusuf harus sampai ke Mesir agar menjadi penguasa di sana, meskipun cara Tuhan begitu ajaib membawa Yusuf sampai ke Mesir, yaitu melalui tindakan saudara-saudara Yusuf yang membuangnya ke sumur dan akhirnya menjualnya sebagai budak ke Mesir. 

    Yusuf perlu dibawa ke Mesir, karena jika hanya tinggal di rumah sangat sulit baginya untuk menjadi penguasa di Mesir.  Sekalipun Yusuf menjadi budak dan semua yang dialaminya menunjukkan bahwa itu sangat tidak masuk akal, namun jika kita melihatnya dengan kacamata iman, kita akan tahu bahwa Yusuf sedang semakin mendekat kepada janji dan rencana-Nya. 

    Ingatlah! Kadang Tuhan mengizinkan masalah. kesulitan, tantangan, dan penderitaan, untuk memersiapkan kita menerima penggenapan janji dan  rencana-Nya. Yakinlah, Tuhan bisa memakai banyak cara, yang tidak pernah kita duga sebelumnya, karena itu jangan bimbang dan tawar hati untuk menantikan penggenapan janji Tuhan! GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • ADA PROSES YANG HARUS KITA JALANI (1)

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Saya yakin kita semua sudah pernah menikmati penggenapan janji-janji Tuhan. Memang untuk menikmati penggenapan janji-janji Tuhan, dibutuhkan iman, keteguhan, kesabaran, dan kesetiaan. Yakinlah, masih tersedia mukjizat Tuhan untuk kita yang tetap setia menantikan janji Tuhan terjadi dalam hidup kita.

    Saudara, masih ingatkah dengan Yusuf, “Si Tukang Mimpi”? Yusuf mendapatkan mimpi dari Tuhan dan melalui mimpi itu Tuhan hendak menyatakan rencana dan janji-Nya kepadanya. 

    Yusuf bermimpi sedang berada di ladang bersama saudara-saudaranya untuk mengikat berkas-berkas gandum.  Tiba-tiba berkas gandum Yusuf bangkit dan tegak berdiri, sedangkan berkas-berkas saudaranya yang lain sujud menyembah kepada berkas milik Yusuf. (Kejadian 37:6-7).  Ketika ia menceritakan mimpinya  kepada saudara-saudaranya, mereka menjadi sangat marah dan berkata,  “Apakah engkau ingin menjadi raja atas kami?  Apakah engkau ingin berkuasa atas kami?”  (Kejadian 37:8).  Sejak saat itu saudara-saudaranya semakin membenci Yusuf.

    Sesungguhnya Yusuf sedang menerima janji Tuhan melalui mimpi-mimpinya.  Tuhan menyampaikan rencana-Nya melalui mimpi, yaitu kelak Yusuf akan diangkat sebagai seorang pemimpin besar dan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa.  Ternyata, dalam rangka proses untuk menerima penggenapan janji Tuhan,   Yusuf harus menjalani  perjalanan hidup yang berliku, dia menghadapi banyak tantangan dan rintangan.

    Saudara,  ketika Yusuf masih tinggal bersama dengan ayahnya, dia menjadi anak kesayangan, dan tentu hidupnya serba enak dan nyaman. Tapi setelah dia menerima janji dari Tuhan melalui mimpi, justru dia harus mengalami beberapa proses yang tidak mudah dan menyakitkan: 1.  Yusuf dilemparkan ke dalam sumur (Kejadian 37:19-24);  2.  Yusuf dijual sebagai budak (Kejadian 37:25-28);  3.  Yusuf dipenjarakan oleh Potifar (Kejadian 39:12-20);  4.  Yusuf dilupakan oleh juru minum raja (Kejadian 40:21-23). 

    Hidup kita pun sering mengalami hal seperti itu.  Kita sering mendengar kotbah atau membaca renungan bahwa janji Tuhan itu ya dan amin, dan rancangan-Nya bagi kita adalah rancangan damai sejahtera, bukan rancangan kecelakaan (Yeremia 29:11). Namun mengapa keadaan kita tetap begini-begini saja, tidak berubah, dari dulu sampai sekarang?

    Ingatlah! Saudara,  itulah perjalanan hidup yang harus kita lewati, setiap orang tentu berbeda.  Terkadang Tuhan izinkan kita mengalami proses yang berliku  seperti yang dialami Yusuf. Tapi satu hal yang pasti, Tuhan beserta dengan Yusuf dan kita. Dia tidak pernah meninggalkan kita, baik ketika kita berjalan di padang rumput yang hijau maupun ketika kita harus melewati lembah kekelaman. GBU & Fam. Better days are coming. (pg).

  • Menjadi Seorang Sahabat (Bagian 2)

    Apakah Saudara pernah merayakan sebuah persahabatan?  Facebook menyebut peringatan persahabatan  sebagai friendiversary. Ini sebuah peringatan saat dua orang atau lebih satu sama lain menjadi sahabat dalam kurun waktu tertentu.

    Setiap di antara kita tentu membutuhkan sahabat, seorang pribadi. Ia yang peduli pada kita, saling membantu, mendengarkan, menjadi orang dekat, serta memahami di saat-saat baik maupun sulit. Allah sendiri sudah merancang hidup kita agar bisa menikmati persahabatan atau pertemanan dalam perjalanan rohani ini, bukan kesendirian (bdng. Pengkotbah 4:9-10; Ibrani 10:25).

    Bacaan Alkitab kita didasarkan pada 1 Samuel​18:3-5. Ayat 3 menguraikan bagaimana Yonatan mengikat perjanjian dengan sahabatnya Daud. Dasarnya adalah bahwa Yonatan sungguh mengasihinya seperti diri sendiri. Dengan begitu, Yonatan pun membuat sebuah perjanjian persahabatan  dengan Daud. Inilah gambaran dari sahabat setia beriman.

    Sebuah perjanjian bisa juga disebut persetujuan atau akad yang khusus. Inisiatifnya berasal dari Yonatan sendiri. Perjanjian ini mengandung sebuah akad atau janji tentang kesetiaan  dan persahabatan bersama. Kesetiaan  ini merupakan salah satu kualitas nilai  yang paling berharga dalam hidup. Inilah bagian pengorbanan diri  yang terpenting dari kasih.

    Tuhan Yesus sendiri sudah menjadi teladan  terbaik melalui pengorbanan diri dari kasih. Yohanes 15:13 berbunyi, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya”.

                Untuk menjadi setia, kita tidak dapat hidup hanya  untuk diri sendiri. Kita mesti memiliki komitmen  kuat dan bersedia menderita  bagi orang lain. Di sini, Yonatan merupakan sebuah teladan kesetiaan  yang indah. Baik Yonatan maupun Daud tidak akan pernah melanggar perjanjian mereka. Mereka mesti  setia satu dengan yang lain dan juga dengan anak-anak mereka (lih. 1 Samuel 20:42).

                Selanjutnya 1 Samuel​18:4 berkata, “Yonatan menanggalkan jubah yang dipakainya, dan memberikannya kepada Daud, juga baju perangnya, sampai pedangnya, panahnya dan ikat pinggangnya”.

    Yonatan menegaskan perjanjian itu dalam sebuah tindakan. Ia pun melambangkan  perjanjian itu dengan memberikan dirinya sendiri kepada Daud. Bacaan Alkitab ini memaparkan, Yonatan adalah anak raja Saul. Bila raja Saul meninggal, secara langsung Yonatan akan menjadi raja menggantikan ayahnya.

                Dalam ayat 4, Yonatan menanggalkan jubahnya. Jubah Yonatan merupakan jubah kerajaan. Jubahnya merupakan sebuah simbol  dari kerajaan Israel (bdng. 1 Samuel 15:27-28).

    Apakah artinya Yonatan menanggalkan jubahnya dan memberikannya kepada Daud?  Di sini, Yonatan mentransfer atau memindahkan statusnya sebagai pewaris tahta raja kepada sahabatnya Daud. Hal ini menunjukkan, Daud akan menjadi raja Israel yang berikutnya sesudah raja Saul (1 Samuel 20:31; 23:17-18). Yonatan tidak cemburu akan hidup Daud. Bahkan, Yonatan memberikan baju perangnya kepada Daud. Baju perang itu melindungi hidup Yonatan ketika berperang dengan musuh-musuh Israel.

    Tetapi, Yonatan percaya, hidup Daud lebih berharga  daripada hidupnya. Yonatan tidak bersifat egois. Ia adalah seorang sahabat setia  dan bersedia mati bagi Daud. Ini menjelaskan betapa dalamnya Yonatan mengasihi Daud.

                Sebuah pertanyaan mendasar muncul di sini, Didasarkan pada apakah persahabatan kita?  Persahabatan yang normal, atau persahabatan sejati, atau persahabatan setia beriman?

    Dalam bacaan Alkitab ini, kita melihat bahwa persahabatan sejati tidaklah cukup untuk melangsungkan persahabatan itu sendiri. Namun, kita juga mesti  membangun persahabatan setia beriman.

                Seperti apakah persahabatan setia beriman antara Yonatan dan Daud? Pertama, persahabatan mereka didasarkan pada komitmen pada Allah (1 Samuel​ 20:42; 23:18). Kedua, persahabatan mereka dilandaskan pada kepentingan bersama (18:3-4). Ketiga, mereka saling mempersatukan diri  ketika persahabatan mereka diuji (23:16-17). Keempat, mereka memilih menjadi sahabat yang setia  sampai akhir hidup (20:42).

                Seperti Tuhan Yesus sendiri yang sudah menjadi sahabat  bagi setiap di antara kita, lantas kita pun dipanggil untuk menjadi sahabat  bagi orang lain. Kita pun bisa menjadi sahabat  mereka dengan menembus dinding status sosial, melewati perbedaan rasial, gender, pendidikan, kepercayaan, memberikan harapan bagi yang alami kesusahan dan kesepian, membawa perdamaian dan penegakan keadilan, maupun mampu memberikan secercah  cahaya rohani bagi yang sedang bergumul dengan keputusasaan situasi yang tak tentu dalam diri perorangan, keluarga, maupun komunitas di dunia ini. Kiranya kasih anugerah Allah melingkupi kita semua. (Petrus E. Handoyo/pg).

    ******

  • Menjadi Seorang Sahabat (Bagian 1)

    Berapa banyak sahabat atau teman yang Saudara miliki di halaman Facebook? Siapakah seorang sahabat?  Dalam kamus Inggris Merriam-Webster (Merriam-Webster, Inc., 2020), sahabat  adalah orang yang sudah lama dikenal dan sering berhubungan dalam hal tertentu, misalnya bermain, belajar, bekerja, dsb.” Seorang sahabat sebenarnya bukan  termasuk anggota keluarga, atau kerabat dekat.

    Albert Camus (1913-1960, novelis dan filsuf Perancis Algeria) berkata, “Janganlah berjalan di depanku, agar aku tidak mengikutimu. Janganlah berjalan di belakangku, supaya aku tidak memimpinmu. Tetapi, berjalanlah di sampingku dan jadilah sahabatku”.

    Kita semua butuh  sahabat atau kawan, bukan? Sahabat bisa membantu kita, dan pula peduli pada kita. Sahabat juga menghibur kita dalam kasih dan menguatkan kita di masa-masa sulit. Raja Daud mengungkapkan keadaan itu dengan sangat baik dalam  2 Samuel 1:26, “Merasa susah aku karena engkau saudaraku Yonatan, engkau sangat ramah kepadaku; bagiku cintamu lebih ajaib dari pada cinta perempuan”. Walaupun demikian, seorang sahabat itu tidak dapat dibuat. Namun, yang bisa kita lakukan hanyalah membuat atau membangun persahabatan.

    Wajarlah bila kita bertanya, siapakah sebenarnya sahabat itu?  Sahabat adalah karunia dari Allah. Ia memberikan sahabat kepada kita dengan maksud  yang khusus pula. Di saat sukar maupun senang, duka maupun suka, sakit ataupun sehat, kita tetap  membutuhkan sahabat. Kita percaya bahwa melalui kasih-Nya, Allah mengirim  sahabat itu kepada kita. Tapi, kita pun mesti tahu, sahabat tidak mampu menggantikan  Allah. Mengapa demikian?  Sebab, sahabat juga mempunyai kesalahan, kelemahan, kegagalan, serta keterbatasan seperti kita. Dan, Allah adalah tetap  Allah sampai selamanya.

    Juga, kita harus ingat bahwa sahabat bukan sebuah objek  bagi kita. Sahabat pun bukan semacam hak milik  bagi kita. Sebab itu, kita tidak dapat berkata bahwa aku  ingin membeli seorang sahabat atau teman. Lebih dari itu, sahabat merupakan seorang

     pribadi  yang unik, yang diberikan oleh Allah kepada kita.

    Mengapa seorang sahabat begitu berharga bagi kita?  KitabAmsal 17:17 berbunyi, “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran”. Inilah sebuah gambaran tentang seorang sahabat sejati dan sahabat setia beriman. Seorang sahabat setia beriman mengasihi sepanjang masa. Ia bersedia membantu  di masa-masa sukar. Seorang sahabat setia beriman (identik dengan kasih)  menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu (1 Korintus 13:7).

    Bacaan Alkitab kita, 1 Samuel 18:1-5, menjelaskan sebuah persahabatan yang paling akrab antara Yonatan dan Daud. Yonatan adalah anak dari raja Saul, raja bangsa Israel. Yonatan juga seorang komando militer dan pergi berperang dengan ayahnya. Tetapi, Daud hanyalah seorang penggembala dan menjaga kawanan kambing domba milik ayahnya (lih. 1 Samuel 17:34-36).

    1 Samuel 18:1 berkata, “Ketika Daud habis berbicara dengan Saul, berpadulah jiwa Yonatan dengan jiwa Daud; dan Yonatan mengasihi dia seperti jiwanya sendiri”.  

    Waktu Yonatan dan Daud bertemu, mereka berdua langsung menjadi sahabat karib. Dan, Yonatan menunjukkan dirinya bahwa ia sangat mengasihi Daud. Roh Allah mengijinkan  Yonatan untuk mengasihi Daud dengan sepenuh  hati dan jiwanya. Lagi pula, raja Saul menghargai persahabatan yang akrab antara anaknya Yonatan dan Daud.

    Ayat 2 berbunyi, “Pada hari itu Saul membawa Daud dan tidak membiarkannya pulang ke rumah ayahnya”.

    Kini, Daud tinggal bersama raja Saul dan keluarganya di istana. Mengapa?  Sebab, Daud berhasil mengalahkan Goliat (orang Filistin yang besar) dalam sebuah pertarungan (1 Samuel 17:48-51). Dan, raja Saul juga memberikan Mikhal, anak perempuannya, kepada Daud menjadi istrinya (1 Samuel 18:27-28). Mikhal adalah adik perempuan Yonatan. Dengan demikian, Yonatan adalah saudara ipar Daud.

    Selanjutnya ayat 3 berkata, “Yonatan mengikat perjanjian dengan Daud, karena ia mengasihi dia seperti dirinya sendiri”. Ayat ini menjelaskan betapa dalamnya  kasih Yonatan bagi sahabatnya Daud. Sebab itulah Yonatan membuat sebuah perjanjian persahabatan  dengan Daud. Perjanjian ini mewujudkan suatu komitmen kuat antara dua pribadi sahabat. Lebih jauh lagi, persahabatan yang karib itu dialaskan melalui komitmen kukuh pada Allah sendiri.

    Masing-masing dari kita, kamu  dan aku, juga diingatkan pada berharganya menjadi seorang sahabat  bagi orang di sekitar kita dan orang lain melalui persahabatan setia beriman. Terlebih lagi, kita pun bisa memilih  menjadi sahabat Yesus, sebab Ia sendiri menyebut kita sebagai seorang sahabat  (bdng. Yohanes 15:14-15). Allah memberkati kita. (Petrus E. Handoyo/pg).

    ******