Author: Christopherus

  • SUKACITA dari TUHAN itulah KEKUATANKU

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Pernahkah kita bertanya, “Mengapa dalam hidup ini ada sukacita dan ada dukacita?” Helen Keller (Penulis asal Amerika) berkata, “Jika hanya ada sukacita di dunia ini, maka kita tidak akan pernah belajar sabar dan berani.”

    Mother Teresa (Biarawati Katolik asal Roma yang mengabdikan hidupnya di India) berkata, “Cara terbaik untuk menunjukkan rasa syukur saya kepada Tuhan adalah menerima segalanya, bahkan masalah saya, dengan sukacita.” Sedangkan Karl Bath (Teolog asal Swiss) berkata, “Sukacita adalah bentuk sederhana dari rasa syukur.”

    Saudara, ada cukup banyak orang berpendapat bahwa sumber sukacita dalam diri seseorang berasal dari materi dan situasi yang mendukung.  Jika kita mendasari sukacita pada kondisi dan situasi, maka sukacita yang kita rasakan tidak akan bertahan lama, hanya bersifat sementara.

    Nah, akan sangat berbeda sekali jika kita menjadikan Tuhan sebagai sumber sukacita. Sukacita yang kita rasakan akan bersifat permanen karena sukacita dari Tuhan adalah sukacita di segala situasi, tidak dipengaruhi keadaan, karena dikerjakan oleh Roh Kudus yang bekerja di dalam kita.  Sukacita inilah yang dirasakan nabi Habakuk:  “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.”  (Habakuk 3:17-18). 

    Sesungguhnya bila melihat fakta atau situasi yang terjadi, Habakuk punya banyak  alasan bersedih, meratap dan putus asa, tapi ia tetap mampu bersukacita  “…sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!”  (Nehemia 8:11b).

    Kehendak Tuhan bagi orang percaya adalah bersukacita senantiasa, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!”  (Filipi 4:4). Bukan saja dalam waktu enak dan senang saja, tetapi juga dalam waktu yang sulit dan susah sekalipun.  Berada dalam penjara dengan kaki terpasung bukan alasan bagi Paulus dan Silas untuk tidak bersukacita, bahkan di tengah malam keduanya menyanyikan pujian bagi Tuhan  (Kisah Para Rasul 16:25). 

    Bagi orang percaya tidaklah sulit bersukacita di tengah masalah dan penderitaan karena Roh Kudus ada di dalam diri kita.  Sukacita dari Tuhan itulah kekuatan kita.  Jika Saudara mengalami masalah berat jangan tawar hati.  “Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.”  (Amsal 24:10). 

    Bagaimana agar dapat bersukacita di segala situasi?  Milikilah persekutuan karib dengan Tuhan senantiasa,  “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.”  (Roma 14:17).

    Ingatlah! Ketika kita mampu bersukacita di segala situasi, kita akan menjadi saksi yang baik bagi orang di sekitar kita. Albert Schweitzer (Dokter dan misionaris asal Perancis) berkata, “Sukacita yang dibagikan akan menjadi dua kali lipat, sedangkan dukacita yang dibagikan akan terbagi dua.” GBU & Fam. Better days are coming. (pg).

  • Memilih Komitmen Teguh

    Bila Allah memanggil kita untuk melayani atau mengambil keputusan untuk mengikuti-Nya dalam penyerahan diri, apakah kita pernah merayakan panggilan itu bersama teman-teman maupun keluarga? Pertanyaan ini agaknya sulit, bukan? Boleh jadi, karena merayakan panggilan ini kurang lazim bagi sebagian orang. Lebih jauh lagi, orang yang merayakan panggilan untuk meresponi undangan Allah boleh jadi ingin menyatakan komitmen kuat terhadapnya.

    Sekelompok orang percaya yang baru dibaptis di kota Darkhan, Mongolia utara, merayakan hidup baru dalam Kristus dengan sebuah perayaan bersahaja di sebuah padang terbuka. Setelah mereka dibaptis di sebuah sungai yang jernih dan dingin, mereka mulai memasang tenda-tenda dan berkemah semalam dekat sungai bersama hamba Tuhan dan sejumlah anggota jemaat. Cuma satu hal sederhana yang mereka mau lakukan sesudah menerima Tuhan Yesus ke dalam hidup baru mereka, yaitu orang-orang percaya itu berhasrat merayakan titik tolak iman dalam perjalanan spiritual mereka bersama Tuhan Yesus.

    Mereka memberi ucapan syukur besar kepada Tuhan Yesus yang sudah memilih mereka untuk menjadi keluarga Allah. Mereka menyanyi, bersaksi, berdoa, dan menyembah-Nya di tengah-tengah terpaan angin padang rumput yang sejuk. Perayaan rohani di padang terbukasemacam itu bisa saja terjadi di antara orang-orang percaya Mongol. Sebab, orang Mongol pada hakikatnya adalah orang nomad. Mereka sangat bersentuhan langsung dengan padang rumput dan padang gurun yang luas dalam keseharian hidup.

    Dalam bacaan Alkitab ini, 1 Raja-Raja 19:20, Elisa menanggapi panggilan Allah yang disampaikan melalui nabi Elia. Pilihan tersebut tentu tidak mudah. Sebab, mengikuti Tuhan Yesus tentunya ada risiko yang mesti ditanggung. Kita harus siap sedia untuk melayani dan bersekutu dengan-Nya, bahkan harus siap untuk berkorban. Kita mesti secara konsisten mengikuti Yesus sepanjang waktu (bdng. Matius 4:19-22; Lukas 9:23).

    Dengan demikian, mengikuti Tuhan Yesus tidak ada kata istirahat. Tidak ada kata part-time dalam mengikuti-Nya. Sebuah pertanyaan muncul di sini, “Apakah yang Tuhan Yesus kehendaki dari kita?” Ia menginginkan dedikasi yang utuh. Komitmen yang penuh, bukan komitmen yang separuh! Dengan berfokus pada Tuhan Yesus, kita seharusnya tidak mengizinkan sesuatu untuk mengganggu kita dalam mengikuti-Nya.

    Dalam 1 Raja-Raja 19: 20, perkataan nabi Elia menunjukkan bahwa dia sendiri tidak memanggil Elisa untuk mengikutinya. Tetapi, itulah panggilan dari Allah sendiri. Apakah Elisa akan mengikuti panggilannya atau tidak, itu menjadi keputusannya sendiri.

    Ayat 21 berbunyi, “Lalu berbaliklah ia dari pada Elia, ia mengambil pasangan lembu itu, menyembelihnya dan memasak dagingnya dengan bajak lembu itu sebagai kayu api. Ia memberikan daging itu kepada orang-orangnya, kemudian makanlah mereka. Sesudah itu bersiaplah ia, lalu mengikuti Elia dan menjadi pelayannya.”

    Di sini, Elisa sedang mengadakan jamuan makan perpisahan dengan keluarga, teman-teman, dan orang-orangnya. Ini menunjukkan, ia tidak akan pernah kembali lagi ke pekerjaannya yang semula sebagai petani kaya. Kini, hanya satu hal yang hendak ia lakukan, ia siap melayani Allah.

    Ada dua alasan utama mengapa Elisa benar-benar merayakan panggilan pelayanannya. Pertama, Elisa membuat sebuah komitmen teguh untuk mengikuti gurunya nabi Elia dan akhirnya hanya menjadi seorang pelayan. Menanggapi panggilannya dengan kukuh menjadi prioritas utama dari Elisa dalam hidupnya.

    Kedua, Elisa memberikan persembahan syukur kepada Tuhan yang sudah memilihnya sebagai nabi Allah. Ia menyembelih sepasang lembu jantan dan memasak dagingnya dengan bajak lembu itu. Lantas, ia membagikan daging itu kepada orang-orang di sekelilingnya. Mereka semua bersyukur atas dedikasi iman Elisa.

    Apakah kita tetap hidup dengan komitmen yang teguh dalam Yesus di tengah-tengah tantangan dan kesulitan saat ini? Kasih anugerah Allah kiranya menyertai kita masing-masing. (Petrus Eko Handoyo/pg)

  • Menjadi ORANG yang HEBAT

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Alangkah indahnya hidup ini, jika kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan dapat hidup saling tolong menolong, Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” (Galatia 6:2)

    Saudara, Ronald Reagen (Presiden Amerika pada tahun 1981-1989) berkata, “Kita tidak dapat membantu semua orang, tapi setiap orang dapat membantu seseorang.” Dengan demikian sesungguhnya setiap orang dapat menjadi orang yang hebat, karena setiap orang dapat menjadi penolong bagi sesamanya.

    Kita sebagai orang-orang yang sudah dewasa punya tanggung jawab untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup kita sendiri. Bahkan bagi kita yang sudah berkeluarga punya tanggung jawab untuk mencukupi semua kebutuhan keluarga kita.  Jika orangtua kita dikaruniai panjang umur dan mereka sudah tidak mampu lagi untuk bekerja, kita  berkewajiban untuk menopang kebutuhan mereka.

    Saudara, walaupun kita punya kewajiban untuk memenuhi kebutuhan kita dan keluarga, kita sebagai makhluk sosial juga diminta untuk memerhatikan kebutuhan sesama, dan Tuhan sudah mengatur semua begitu indahnya. 

    Rasul Paulus memberi nasihat,  “Sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu.”  (2 Korintus 8:12).  Apa artinya?  Dalam memberi kepada sesama kita diminta  menyesuaikan dengan kemampuan kita.  Setelah kebutuhan keluarga terpenuhi dan kita masih punya kelebihan, maka kelebihan itulah yang kita gunakan untuk menolong sesama.  Jangan sebaliknya, kita menolong sesama tapi keluarga sendiri kita korbankan:  istri, anak, orangtua, hidup dalam kekurangan.

    Kalau Tuhan memberi kepercayaan kepada kita untuk mengelola berkat begitu banyak, sesungguhnya Tuhan punya rencana, Tuhan punya tujuan agar kita dapat menjadi saluran berkat bagi sesama. Dengan jelas, Rasul Paulus mengingatkan, “Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan.”  (2 Korintus 8:14)

    Saudara, sesungguhnya ketika kita menolong sesama, kita menolong diri kita sendiri. Ketika kita membantu sesama, kita membantu diri kita sendiri (Amsal 11:17). Karena itu kita diminta untuk tidak jemu-jemu berbuat baik kepada sesama, terutama kepada saudara seiman,  “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.”  (Galatia 6:9-10).

    Saudara, sesungguhnya kita hanyalah sebagai pengelola atas berkat  Tuhan,  bukan pemilik.  Jika kesadaran ini tertanam dalam-dalam di hati kita, maka kita akan dengan sukacita dan ikhlas menjadi penolong bagi sesama. Kita akan menjadi orang yang peka terhadap kebutuhan sesama. Kita akan bersedia menjadi kepanjangan tangan kasih Tuhan.

    Ingatlah! Kita  tidak dapat hidup sendiri tanpa orang lain.  Keberhasilan kita di bidang apa pun tidak luput dari dukungan atau peran serta  orang lain juga. Karena itu Rasul Yohanes mengingatkan kita,  “Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?”  (1 Yohanes 3:17). GBU & Fam. Better days are coming. (pg).

  • Sebelum KANVAS USIA Mereka TENGGELAM Bersama MENTARI SENJA

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Orang bijak mengingatkan bahwa ada yang senantiasa berdoa untukmu, sampai dia lupa berdoa untuk dirinya sendiri, dialah ayah dan ibumu. Maka kasihilah dan hormatilah kedua orangtuamu selagi mereka masih hidup.

    Saudara, hormatilah orangtua kita, sebelum kanvas usia mereka tenggelam bersama mentari senja, karena  orangtua bertindak sebagai wakil Tuhan untuk anak-anaknya dalam hal memelihara, mengasihi, mengasuh dan mengasah.

    Itulah sebabnya firman Tuhan memerintahkan agar anak-anak memiliki rasa hormat dan takut kepada orangtuanya seperti umat takut kepada Tuhan, “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu — ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.” (Efesus 6:1 – 3)


    Sudah pada tempatnya bila anak menghormati orangtua dan takut kepadanya, sebab memang orangtua adalah orang-orang yang sangat terhormat bagi anak-anak, ibarat pahlawan tanpa tanda jasa yang setiap saat siap menolong, melindungi dan mencintai kita lebih dari pada semua orang lain di dunia ini.  Oleh karenanya anak-anak harus takut, hormat dan selalu taat kepada mereka. 

    Di “zaman Now”  banyak anak memberontak dan melawan orangtua, bahkan cenderung meremehkan dan merendahkan mereka.  Salomo memberi nasihat,  “Dengarkanlah, hai anak-anak, didikan seorang ayah, dan perhatikanlah supaya engkau beroleh pengertian, karena aku memberikan ilmu yang baik kepadamu; janganlah meninggalkan petunjukku.”  (Amsal 4:1-2).

    Bagi seorang anak, menghormati orangtua hukumnya wajib, dan merupakan perintah Tuhan yang harus dilaksanakan. Bahkan termasuk dalam salah satu dari Sepuluh Perintah Allah,  “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.”  (Keluaran 20:12). 

    Kalau ada orang percaya yang tidak menghormati orangtuanya, berlaku kurang ajar, apalagi sampai menelantarkan orangtuanya, ia telah melanggar firman Tuhan.  Menghormati orangtua harus dengan kasih yang tulus di segala keadaan.  Sekalipun mereka tidak mampu memberikan apa yang kita perlukan sepenuhnya, sebagai anak, kita harus tetap menghormati dan mengasihi orangtua kita.  Mengapa?  Mereka adalah wakil Tuhan, dan keberadaan anak hampir seluruhnya bergantung penuh kepada orangtua sampai beranjak dewasa.  “Karena bukan anak-anak yang harus mengumpulkan harta untuk orang tuanya, melainkan orang tualah untuk anak-anaknya.”  (2 Korintus 12:14b).

    Ingatlah! Dari uraian di atas, jelaslah sesungguhnya perintah untuk menghormati orangtua adalah demi kebaikan, kebahagiaan dan keselamatan anak itu sendiri. Selain itu terhadap anak yang menghormati orangtuanya saja Tuhan menyediakan berkat-berkat-Nya, terlebih-lebih terhadap anak yang mau membalas budi dan berbuat baik kepada orangtuanya.  Karena itu selagi orangtua kita masih hidup, hormatilah dan perlakukan mereka dengan baik yang dilandasi oleh kasih Kristus. GBU & Fam. Better days are coming. (pg).

  • Bak Kota yang ROBOH TEMBOKNYA

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Semoga kita diberi kesabaran dan ketrampilan mengelola emosi sehingga kita tidak menjadi pemarah. Setiap senja, sangat bijak kita berdoa, “Bapa, bersama dengan tenggelamnya matahari di ufuk Barat, redakanlah kekecewaan dan amarah di hati saya. Buatlah saya menjadi lebih sabar, sehingga saya dapat menikmati sukacita dan damai sejahtera.”

    Sekarang, coba kita perhatikan sekitar kita, sering yang menjadi penyebab timbulnya masalah atau persoalan di dalam kehidupan sehari-hari adalah ketidakmampuan orang untuk mengendalikan diri. Kita kurang terampil dalam mengelola emosi.  Karena tak bisa mengendalikan diri, meledaklah amarah, akhirnya memicu terjadinya perselisihan, pertengkaran, bahkan bisa memuncak terjadi pembunuhan.

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia emosi berarti: 1. Luapan perasaan yang berkembang dan surut dalam waktu singkat; 2. Keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis (seperti: kegembiraan, kesedihan, keharuan, kecintaan); keberanian yang bersifat subjektif; 3. Marah;

    Alkitab menceritakan satu kasus, orang yang tidak dapat mengendalikan dirinya, orang yang kurang terampil mengelola emosinya.  Kain tega membunuh adiknya sendiri, Habel.  Padahal Tuhan sudah menegur Kain agar tidak panas hati, tapi Kain tak mampu mengendalikan dirinya sehingga terjadilah tindak kejahatan pembunuhan pertama di dunia. 

    Salomo yang penuh hikmat, jauh hari sudah mengingatkan kita bahwa orang yang tak dapat mengendalikan diri itu digambarkan bak kota yang sudah roboh temboknya, “Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya.” (Amsal 25:28).

    Pengendalian diri itu seperti tembok perlindungan!  Pada zaman dahulu setiap negara atau kota pasti memiliki tembok luar yang kokoh.  Tembok tersebut berfungsi sebagai pagar dan juga perlindungan bagi kota dan penduduknya supaya terluput dari serangan musuh. 

    Saudara, dalam situasi aman dan nyaman mungkin orang dapat mengendalikan dirinya dengan baik, tetapi ketika situasinya sedang tidak baik dan tidak seperti yang diharapkan, orang-orang yang awalnya dikenal begitu sabar, kalem atau lemah lembut, secara drastis bisa berubah menjadi orang yang sangat emosional, amarahnya meledak-ledak.  Oleh sebab itu Tuhan memperingatkan murid-murid-Nya saat berdoa di taman Getsemani,  “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Matius 26:41)

    Seringkali kita menjadi begitu emosional, marah tak terkendali, bukan karena masalah yang kita hadapi terlalu besar, namun karena kita tidak dapat mengendalikan diri sendiri.  Cara yang tepat untuk bisa mengendalikan diri adalah menyediakan lebih banyak waktu  untuk berdoa dan bersekutu dengan Tuhan.  Dengan berdoa kita akan menjadi tenang dan berada dalam pimpinan Roh Tuhan, sehingga perkataan dan perbuatan kita terkontrol. Selain itu teruslah berlatih untuk meningkatkan keterampilan dalam mengelola emosi kita. Ingatlah! Saudara tidak dapat mengobati dirimu  sendiri dengan cara melukai orang lain. Sue Fitzmaurice (Penulis buku “Angel in the Architecture”) berkata, “Mengendalikan emosi bukan berarti saudara tidak boleh berekspresi; tetapi berarti saudara berhenti menyakiti orang lain dan menyabotase diri sendiri.” GBU & Fam. Better days are coming. (pg).