Author: Christopherus

  • MEMIKIRKAN yang BAIK

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh rasa syukur. Tuhan telah memberikan hari yang baru untuk kita nikmati. Orang bijak berkata, “Nikmati saat kamu harus menikmati setiap momen kehidupan, dan bertahanlah saat keadaan mengharuskan kamu untuk bertahan.”

    Saudara, memang tak terbantahkan bahwa medan peperangan dalam diri setiap orang ada di pikirannya sendiri. Pikiran adalah awal dari setiap tindakan, dan itu menunjukkan gambar diri seseorang.  Karena itu berhati-hatilah, bagaimana kita berpikir akan menentukan bagaimana kita melihat, menafsirkan dan menilai segala sesuatu, termasuk bagaimana kita melihat diri sendiri. 

    Ada ungkapan yang mengatakan bahwa siapa kita adalah apa yang kita pikirkan.  Dalam Amsal 23:7a dikatakan,  “Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia.”  Oleh karena itu, kita harus menjaga pikiran kita agar tetap positif dan bersih.  Mari kita belajar dari Rasul Paulus, “…  kami memikirkan yang baik, bukan hanya di hadapan Tuhan, tetapi juga di hadapan manusia.”  (2 korintus 8:21)

    Ketika kita berpikiran positif terhadap seseorang secara otomatis sikap kita akan menjadi positif terhadapnya.  Ini menunjukkan bahwa pemikiran yang positif akan mampu membangun persepsi yang positif pula dalam setiap tindakan yang kita lakukan. 

    Begitu pula bila kita berpikir bahwa masalah yang kita hadapi tampak sangat rumit kita pun akan melihat masalah seperti raksasa hitam yang sulit untuk ditaklukkan.  Sebaliknya kalau kita selalu berpikiran sederhana terhadap segala hal, kita akan melihat kehidupan itu menjadi sederhana.  Maka  “Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.”  (Roma 12:3).  Artinya Tuhan menghendaki agar kita berpikiran tidak terlalu tinggi, tetapi yang pantas dan sesuai dengan kadar iman, sehingga kita dapat menguasai diri.

    Sesungguhnya segala yang baik dan benar itu datangnya dari Tuhan dan bila kita ingin mendapatkan hal-hal yang baik dari Dia, pikiran kita pun harus sesuai dengan firman-Nya! Ingatlah! Akhiri setiap hari dengan pikiran yang positif.Tidak peduli bagaimana pun sulitnya hidup saat ini,  esok  hari dapat menjadi kesempatan baru untuk menjadikan sesuatu lebih baik. Selain itu, mulai sekarang berpikirlah tentang hal-hal yang positif: misalnya tentang pengampunan, membina persahabatan, kesembuhan, keberhasilan,  serta hidup yang diberkati dan menjadi berkat. Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg)

  • BIMBINGAN TUHAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Syukur Tuhan memberikan hari yang baru kepada kita. Karena itu mulailah hari kita dengan doa dan biarlah Tuhan sendiri yang membimbing kita hari ini. Musa mengingatkan kita, “Maka ketahuilah pada hari ini, bahwa TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan di depan …” (Ulangan 9:3)

    Saudara, sesungguhnya Tuhan sangat senang bila kita memiliki penyerahan diri penuh kepada-Nya, sehingga Ia dapat menuntun kita kepada kehendak dan rencana-Nya.  Saat memimpin bangsa Israel Musa minta tuntunan dan bimbingan dari Tuhan.  Berikut pernyataan Musa,  “Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.”  (Keluaran 33:15). Itulah bukti penyerahan diri Musa kepada pimpinan Tuhan.  Tuhan pun menjanjikan suatu rencana yang sempurna yaitu membawa bangsa Israel keluar dari Mesir,  “Aku sendiri hendak membimbing engkau dan memberikan ketenteraman kepadamu.”  (Keluaran 33:14). 

    Kita patut bersyukur karena kita memiliki Tuhan yang tidak pernah meninggalkan kita, di mana pun kita berada Dia selalu ada, Dialah Jehovah Shammah, Tuhan yang Mahahadir.  Betapa mengagumkan janji Tuhan ini, selalu hadir dan menyatakan penyertaan-Nya atas kita, anak-anak-Nya.  Tak ada pemimpin agama mana pun yang berjanji dan memberikan jaminan penyertaan kepada umat-Nya seperti Kristus,  “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”  (Ibrani 13:5b).

    Janji Tuhan menyertai umat-Nya tidak pernah diingkari.  Awal ketika diutus Tuhan membawa Bangsa Israel ke luar dari Mesir, Musa sempat menolak karena merasa tidak mampu dan tidak cakap bicara, namun Tuhan menguatkannya:  “… pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan.”  (Keluaran 4:12).  Saat Israel menempuh perjalanan di padang gurun Ia menyatakan penyertaan dan kehadiran-Nya melalui tiang awan dan tiang api  (Keluaran 13:21). 

    Tatkala Israel mengalami ketakutan karena dikejar pasukan Firaun, sedangkan di hadapan mereka laut Teberau, Tuhan ada di sana.  Berkatalah Musa,  “Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya.”  (Keluaran 14:13).

    Sampai kesudahan zaman janji Tuhan tak pernah berubah, akan tetap menyertai umat-Nya melalui Roh-Nya yang kudus.  Tak perlu takut menghadapi apa pun,  “… sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.”  (Yesaya 41:10).

    Ingatlah! Orang percaya tidak pernah ditinggalkan Tuhan! Karena itu hiduplah setiap hari dengan tujuan dan mencari kehendak Tuhan dalam setiap yang kita lakukan. Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg)

  • UNITED we STAND, DEVIDED we FALL

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Semoga sehat-sehat dan rukun-rukun selalu. Betapa senangnya jika keluarga kita dapat hidup dengan rukun. Demikian juga kita dapat hidup rukun dengan para tetangga. Daud mengingatkan kita, “Sungguh alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun.”  (Mazmur 133:1)

    Ketika saya masih anak-anak, biasanya kalau Tahun Baru Imlek, orang tua mengumpulkan anak-anaknya, mereka memberi nasihat dengan perumpamaan lidi. Kalau sebatang lidi berdiri sendiri, jika dilemparkan tidak dapat  mencapai sasaran yang jauh dan hanya mengenai bidang yang sangat kecil. Berbeda kalau  ada 100 batang lidi yang  mau diikat menjadi satu, maka dia kalau dilemparkan dapat mencapai sasaran yang jauh dan mengenai bidang yang luas. Heler Keller (Penulis dan aktivis politik asal Amerika) berkata, “Sedikit yang dapat kita lakukan jika kita sendirian, banyak yang dapat kita lakukan jika kita bersama.”

    Ada pepatah bahasa Jawa yang mengatakan,“Crah agawe bubrah, rukun agawe santosa” (Perselisihan membuat hancur berantakan, sedangkan kerukunan membuat sentosa)  Ungkapan ini menggambarkan betapa pentingnya kerukunan, persatuan dan kesatuan, serta kebersamaan.


    Lalu, bagaimana dengan kesatuan hati? Kesatuan hati itu sangat penting.  Bagaimana cara untuk mewujudkannya?  Kesatuan hati memiliki nilai istimewa di mata Tuhan.  Bagi Tuhan, kesatuan hati itu sesuatu yang baik dan sangat indah.  Daud melukiskannya demikian:  “Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya.  Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion.” (Mazmur 133: 2-3a).  Jadi, kesatuan hati adalah sesuatu yang dapat menggerakkan hati Tuhan untuk memberikan apa yang kita minta.  Yesus bersabda, “Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh BapaKu yang di sorga.” (Matius 18:19).  Terlebih lagi jika kesatuan hati terjalin di antara  sesama anggota tubuh Kristus, pasti akan mendatangkan kuasa yang dahsyat! 

    Bagaimana caranya supaya kita dapat bersatu?  Kesatuan hati akan terwujud bila kita tidak hanya melihat perbedaan yang ada.  Diantara kita pasti memiliki perbedaan-perbedaan, baik dari segi fisik, sifat, hobi,  bidang minat, pola pikir dan sebagainya.  Namun perbedaan itu tidak boleh membuat kita merasa tidak bisa bersatu dan bekerjasama.  Kita juga harus dapat melihat kesamaan-kesamaan yang ada.  Di dalam Kristus kita adalah satu; satu baptisan, satu Allah dan Bapa (Efesus 4:5-6).  Mari kita bangun kesatuan hati di antara orang-orang percaya.

    Ingatlah!  United we stand, devided we fall (Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh). Rasul Paulus menekankan, “karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,” (Filipi 2:2). Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg).

  • MEWUJUDKAN dalam PERBUATAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Ada beberapa bagian dari Alkitab memang sulit untuk dimengerti. Tapi bagi saya, lebih sulit  melakukan firman Tuhan yang sudah saya mengerti.  Rasul Yakobus mengingatkan kita, “Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja;  sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.” (Yakobus 1:22)

    Saudara, kita sering mendengar  orang yang berujar,  “Kalau hanya berbicara, banyak orang yang bisa.  Coba jika diminta untuk melakukan”  Memang lebih mudah dan lebih enak menjadi penonton daripada menjadi pemain. Kita membutuhkan keteladanan hidup.  Kekristenan membutuhkan bukti nyata melalui perbuatan, bukan hanya teori, karena orang percaya diminta menjadi garam dan terang dunia.  Artinya kita harus memiliki kehidupan yang berbeda dan berdampak bagi dunia.

    Sesungguhnya satu perbuatan jauh lebih bersuara daripada seribu kata-kata.  Setiap orang percaya dihadapkan pada tantangan yang tidak mudah karena dituntut untuk memberlakukan firman Tuhan dalam kehidupan nyata, bukan hanya sekadar fasih mengucapkan firman.  Yakobus berkata,  “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu hakikatnya adalah mati.”  (Yakobus 2:17).  Jadi, iman itu  bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna  (Yakobus 2:22).  Itulah iman yang diwujudkan melalui perbuatan nyata!

    Rasul Yakobus menasihati kita:  “… hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata,” (Yakobus 1:19).  Tetapi kita memiliki kecenderungan untuk cepat berbicara tapi lamban dalam hal mendengar.  Maka ingatlah apa yang dikatakan Rasul Paulus,  “… iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.”  (Roma 10:17).  

    Dalam masa pandemi Covid – 19, mungkin ada diantara kita pada hari Minggu mengikuti kebaktian online lebih dari 3 kali dari gereja yang berbeda, tetapi mengapa kerohanian kita belum bertumbuh dan hidup kita belum mengalami perubahan?  Karena kita hanya sebatas mendengarkan saja.  Mendengarkan firman Tuhan itu sangat penting dan baik, tapi harus disertai dengan melakukan firman yang kita dengar.  Mengapa masih banyak orang percaya yang gagal menaati firman Tuhan?  Karena kita berpikir bahwa mendengarkan sama halnya dengan melakukan.  Ini dia kuncinya, bukan hanya dengar, tapi juga harus dengar-dengaran  (taat)  kepada Firman.

    Mendengar janganlah hanya dengan telinga yang kemudian diproses oleh otak, tetapi kita mendengar sampai masuk ke hati, merenungkan dalam-dalam, kemudian mewujudkan dalam tindakan.   Itulah yang dikehendaki Tuhan!

    Ingatlah! Orang bijak berkata, “Kecenderungan berbohong kepada diri sendiri lebih mengakar dalam hidup kita, dibandingkan berbohong kepada orang lain.” Sedangkan Charles G. Finney (Dosen dan tokoh kebangunan rohani dari Amerika) berkata, “Saudara mendengar dan percaya Firman secara teori, tetapi jika saudara tidak mempraktikannya, saudara menipu diri saudara sendiri.” Tuhan  memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg).

  • Memilih Doa Perdamaian

    Gambaran apa yang muncul dalam pikiran kita saat kita berpikir tentang kata “damai”?  Apakah kita pun berdoa bagi perdamaian di dalam kota kita?

                Mazmur 122 ini ditulis oleh raja Daud bagi perdamaian kota Yerusalem. Ia juga memerintah Kerajaan Israel dari kota Yerusalem.  Ia memahami bahwa banyak orang mencintai kota Yerusalem. Hingga hari ini, orang-orang percaya tetap berdoa buat perdamaian di kota Yerusalem dan sekitarnya di tengah-tengah konflik politik-budaya-ekonomi-ras yang tak berkesudahan.

                Ayat 2 berbunyi, “Sekarang kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem”. Mazmur ini berbicara banyak tentang kota Yerusalem. Ini disebut tiga kali di sini: ayat 2, 3, dan 6. Ayat-ayat ini menjelaskan bahwa orang-orang mencintai kota Yerusalem. Mereka mencintai Yerusalem, sebab kota itu kota suci, dan rumah Tuhan terletak di sana.

                Yerusalem dinamai tempat  terhormat, karena tahta (pemerintahan) raja Daud berada di situ. Juga disebut sebagai tempat  yang bahagia, karena suku-suku bangsa berada di sana untuk merayakan kebesaran dan kebaikan Allah.

                Kota Yerusalem adalah kota sangat penting dalam Alkitab dan juga bagi Allah (bdng. KPR 1:8). Bagaimanapun, kota Yerusalem telah banyak menginspirasi orang Kristen di daratan Cina untuk melakukan gerakan misioner Back to Jerusalem. Ide dari gerakan ini mulanya muncul pada tahun 1920-an oleh gereja Jesus Family  di provinsi Shandong. Gerakan ini bersifat injili dan bermaksud mengirim minimum 100.000 misionaris ke orang-orang Buddhis, Hindu, dan Muslim yang tinggal di wilayah-wilayah antara Cina dan Yerusalem.

                Mazmur 122:6 berkata, “Berdoalah untuk kesejahteraan Yerusalem: “Biarlah orang-orang yang mencintaimu mendapat sentosa”. Dalam konteks ini, kata perdamaian  diartikan “kesejahteraan”. Di​sini, konteks perbincangan kita mengacu pada kata perdamaian. Kata ini dipakai sebanyak tiga kali (ayat 6, 7, 8).

                Perdamaian yang diupayakan dalam ketiga ayat ini lebih besar daripada ketiadaan konflik. Perdamaian  di sini meliputi keutuhan, kesehatan, keadilan, kebaikan, dan perlindungan.

                Dunia tidak mampu memberikan perdamaian semacam ini. Perdamaian sejati berasal dari iman dalam Allah, karena Ia sendiri mewujudkan seluruh karakter perdamaian. Sebab itu, kita mesti mengalami  perdamaian bersama Allah sebelum menemukan perdamaian hati-pikiran dan perdamaian dengan orang lain.

                Tuhan Yesus juga mengutip ayat 6 ini tentang Yerusalem dalam injil Lukas 19:28 dan 42-44. Marilah kita memilih doa perdamaian  sebagaimana kita menjadi saksi Yesus bagi orang lain di tengah-tengah tantangan maupun situasi sesulit apapun. (Petrus E. Handoyo/pg).

    *****

  • supaya KEMAJUANMU nyata

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Semoga sehat dan bersyukur selalu. Hampir setiap orang ingin hidupnya mengalami kemajuan, tidak stagnan. Orang bijak berkata, Untuk memiliki hidup yang lebih baik, kita harus menetapkan bagaimana kita hidup.”

    Jim Rohn (Penulis dan motivator asal Amerika) berkata, “Barangsiapa mencari kehidupan yang lebih baik, ia harus menjadi orang yang lebih baik terlebih dahulu.” Sedangkan nasihat Rasul Paulus,  “Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalamnya supaya kemajuanmu nyata kepada semua orang.”  (1 Timotius 4:15)

    Saudara, kalau pemahaman kita tentang kekristenan tidak lebih dari sekadar agama yang dipenuhi daftar larangan dan perintah atau berisikan hal-hal yang boleh dilakukan dan tidakboleh, sampai kapan pun kerohanian kita tidak akan mengalami kemajuan (pertumbuhan).  

    Sebaliknya cepat atau lambat kerohanian kita akan mati sebab pemahaman seperti itu, ibadahnya hanya bersifat ritual dan penuh dengan aturan dan aktivitas, bukan didasari oleh kasih kepada Tuhan.  “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.”  (Matius 15:8-9).

    Kunci agar kerohanian kita mengalami kemajuan yaitu  memiliki roh yang menyala-nyala sebagaimana yang dinasihatkan oleh Rasul Paulus,  “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.”  (Roma 12:11).  Ketika orang Kristen memiliki roh yang menyala-nyala ia akan mampu mengalahkan segala bentuk kemalasan, yang pada akhirnya akan mendorongnya melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh tanpa disertai omelan atau persungutan.  Inilah yang disebut penyangkalan diri yaitu menyalibkan segala kenyamanan!

    Karena memiliki roh yang menyala-nyala orang punya rasa haus dan lapar akan perkara-perkara rohani, kerinduannya untuk bersekutu dengan Tuhan dan menikmati hadirat-Nya begitu besar.  “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?”  (Mazmur 42:2-3). 

    Ingatlah! Jim Rohn  berkata, “Hidup Anda tidak menjadi lebih baik secara kebetulan. Lebih baik Itu terjadi karena adanya  perubahan”  Sedangkan perubahan hidup adalah wujud nyata dari setiap orang yang mengalami kemajuan rohani! Maka pak Andreas Christanday dalam program “Satu Menit Bersama Andreas Christanday” episode 08 yang berjudul “Memilih Gereja” antara lain berkata, “Pilihlah gereja yang menumbuhkan iman Anda dan melibatkan Anda dalam pelayanan.” Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg)

  • JAMINAN PERLINDUNGAN TUHAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat dan kompak selalu. Keamanan merupakan salah satu kebutuhan dasar hidup manusia. Maka hampir setiap orang membutuhkan pelindung. Sesungguhnya hanya Tuhan yang dapat menjadi pelindung yang sejati. Maka Santo Patrick (Santo Pelindung Irlandia) berdoa, “Biarlah tangan Tuhan melindungi kita. Biarlah Firman Tuhan yang mengarahkan kita.”


    Saudara, hari ini saya ajak  untuk merenungkan Mazmur 91 yang berbicara tentang jaminan perlindungan Tuhan bagi orang percaya.  Sesungguhnya, kepada siapakah janji-janji Tuhan itu ditujukan?  Yaitu kepada: “Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan yang Mahakuasa akan berkata kepada Tuhan:  ‘Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.’ “  (Mazmur 91:1-2). Orang yang duduk dan bermalam  memiliki makna:  orang yang mau menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Tuhan dan berusaha untuk hidup benar di hadapan Tuhan setiap hari.

    Lalu orang percaya yang bagaimana yang mendapat jaminan perlindungan?  Jaminan perlindungan Tuhan hanya tersedia bagi orang percaya yang hidup melekat dengan Tuhan, “Sungguh, hatinya melekat kepadaKu, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal namaKu.”   (Mazmur 91:14)

    Melekat dengan Tuhan berarti bergaul karib dengan Tuhan, seperti ranting yang melekat pada pokok anggur.  Inilah syarat mutlak untuk kita dapat mengalami janji perlindungan Tuhan ini. 


    Hidup melekat dengan Tuhan dan bergaul karib dengan-Nya menyiratkan adanya kehendak diri yang sudah ditaklukkan bagi Tuhan.  Sama seperti ranting yang harus  dibersihkan  supaya dapat berbuah lebat.  Ini adalah proses yang tidak mudah, butuh pendisiplinan diri dari hari ke sehari, karena  “…roh memang penurut, tetapi daging lemah.”  (Matius 26:41). 

    Bila kita tidak hidup melekat dengan Tuhan dan bergaul karib dengan Dia secara konsisten, maka kita juga tidak akan penuh menikmati janji-janji Tuhan itu.  Ada bagian yang harus kita kerjakan, maka Tuhan akan mengerjakan bagian-Nya. 

    Pernyataan pemazmur bahwa Tuhan adalah Yang Mahatinggi adalah penegasan bahwa Tuhan lebih besar daripada ancaman apa saja yang kita hadapi;  Yang Mahakuasa adalah untuk menekankan bahwa kuasa-Nya sanggup mengalahkan dan membinasakan semua musuh.  Bahkan,  “… malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu.”  (Mazmur 91:11).  Tuhan mengutus malaikat-Nya untuk mengawasi, menjaga, dan melindungi orang benar-Nya.

    Ingatlah! Selama kita tinggal dekat Tuhan dan hidup seturut dengan kehendak Tuhan, maka tak ada yang perlu ditakutkan, karena ada jaminan perlindungan dari Tuhan, “Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya …”  (Mazmur 91:15). Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg)

  • KESETIAAN itu MULIA

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Semoga kita semua mempunyai tujuan hidup yang hendak kita capai dan kita tetap setia menjalani proses sampai tercapainya tujuan hidup tersebut. Helen Keller (Penulis dan aktivis politik asal Amerika) berkata, “Kebahagiaan sejati … tidak tercapai melalui kepuasan diri tetapi melalui kesetiaan pada tujuan yang mulia.”

    Saudara, hari ini kita akan belajar sedikit tentang Musa. Tugas Musa untuk memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir dan menuju ke Tanah Kanaan, merupakan tugas yang sangat besar dan sangat berat. Dia harus memimpin bangsa Israel yang terkenal tegar tengkuk, keras kepala, suka bersungut-sungut dan banyak tuntutan. 

    Itulah tanggung jawab yang harus diemban Musa sebagai pemimpin, yang setiap hari harus menghadapi  situasi yang tidak menyenangkan, karena ulah umat Israel yang dipimpinnya.  Ketika diperhadapkan dengan sedikit kesulitan saja mereka gampang sekali menyalahkan Musa, bahkan Miryam,  saudaranya sendiri, juga mengatai-ngatainya,  “Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?”  (Bilangan 12:2).

    Lalu apakah Musa kemudian menjadi kecewa,  patah arang, lalu lari dari panggilan Tuhan?  Ternyata tidak.  Musa tetap bertahan dan dengan penuh kesetiaan mengerjakan apa yang Tuhan percayakan kepadanya.  Ia setia melayani Tuhan dan umat-Nya selama 40 tahun. 

    Adanya tantangan, kesulitan, dan beban yang cukup berat dalam pelayanan membuat Musa semakin bergantung kepada Tuhan dan hidup mengandalkan Dia.  Kesabaran dan ketabahan Musa dalam mengerjakan panggilan Tuhan ini sebagai bukti bahwa ia adalah orang yang setia, “Bukan demikian hamba-Ku Musa, seorang yang setia dalam segenap rumah-Ku.” (Bilangan 12:7)

    Saudara, sesungguhnya kesetiaan berbicara tentang keteguhan hati, kepatuhan atau ketaatan.  Kesetiaan membuat seseorang tetap kuat, mampu bersabar dan selalu tabah dalam menanggung beban dan menghadapi tantangan di dalam hidupnya. 

    Tugas dan tanggung jawab apa yang Tuhan telah percayakan kepada Saudara saat ini?  Seberat bagaimana  pun tantangannya dan sekecil apa pun tugas dan tanggung jawab itu, mari kita lakukan dengan setia, jangan ada keluh kesah dan persungutan, sebab hanya orang yang setia sampai akhir yang akan memperoleh kemuliaan yang telah Tuhan janjikan.  Jerih lelah kita tidak akan pernah sia-sia, Tuhan selalu perhitungkan!

    Ingatlah! Cicero (Filsuf dan orator asal Italia) berkata, “Tidak ada yang lebih mulia, tidak ada yang lebih dihargai dari KESETIAAN.” Selain itu peganglah janji Tuhan berikut, “Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.”  (Wahyu 2:10b). Tuhan memberkati Saudara dengan keluarga. Better days are coming. (pg)

  • CHRIST for ALL – ALL for CHRIST

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Semoga sehat-sehat selalu dan tetap semangat mengiring Tuhan Yesus Kristus. Kita sebagai keluarga besar Christopherus perlu selalu ingat akan moto Christopherus: “Christ for All – All for Christ” (Kristus untuk Semua – Semua untuk Kristus).

    Saudara, moto yayasan Christopherus  diambil dari 2 Korintus 5:14-15, “Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.” 

    Melalui moto tersebut kita selalu diingatkan bahwa Kristus disalibkan, mati, dibangkitkan, dan hidup untuk kita, semua orang yang beriman kepada-Nya. Maka kita sebagai orang-orang yang telah menikmati karya penebusan Kristus, diharapkan dapat hidup bagi Kristus, dengan jalan kita secara sukarela dan sukacita melayani sesama sesuai dengan talenta kita masing-masing.

    Pak Simon Nugroho, dalam tulisannya yang berjudul: “Strategi Pelayanan Anak-Anak Kos” berkata bahwa Kelompok doa anak-anak kos memutuskan memakai strategi pelayanan dengan tiga pilar yaitu: berwadahkan yayasan, bersifat interdenominasi dan pelayanan yang holistik. Pada akhirnya yayasan yang mereka dirikan bernama Yayasan Christopherus.

    Pilar pertama: Yayasan. Menurut Pak Charles Christano, dalam bukunya yang berjudul “Hubungan Yang Serasi Antara Gereja dan Organisasi Para­ Gereja,” Yayasan Kristen adalah suatu lembaga kristiani yang memiliki sifat nirlaba, beranggotakan orang-orang Kristen yang bekerja bersama-sama di luar kontrol denominasi, untuk mencapai tujuan pelayanan tertentu. Jelas di sini bahwa Yayasan Christopherus bukan gereja dan tidak punya minat dan rencana untuk mendirikan atau berubah menjadi gereja. Yayasan Christopherus melayani bersama dengan gereja-gereja dan untuk gereja-gereja.

    Pilar kedua: Interdenominasi. Menurut Pak Simon dalam artikel yang sama, dengan bersifat interdenominasi, tidak ada seorangpun dari anggota yayasan yang tersisih dan tertinggal, semuanya bisa berperan serta  ikut melayani. Dengan dukungan semakin banyak orang, yayasan akan menjadi semakin kuat. Strategi ini juga memungkinkan mereka bekerja sama dengan banyak gereja, atau bahkan dengan semua gereja. Dengan status interdenominasi diharapkan fungsi yayasan akan maksimal, akan menjadi berkat bagi sebanyak mungkin gereja.

    Pilar ketiga: Holistik. Menurut Pak Simon dalam artikel yang sama, yang dimaksud dengan pelayanan holistik adalah pelayanan menyeluruh, balk hal rohani maupun jasmani. Pelayanan ini tidak hanya memberitakan keselamatan jiwa saja, namun menolong penderitaan tubuh juga. Untuk menjawab kebutuhan tersebut maka saat ini Yayasan Christopherus mempunyai 5 Departemen: 1. Misi dan Pengajaran, 2. Musik, 3.Media 4. Diakonia dan 5. Persekutuan Biji Sesawi. Diharapkan melalui kelima departemen tersebut, Christopherus benar-benar dapat melayani secara holistik atau utuh. Selain itu semua pendukung Christopherus  mendapatkan wadah untuk terlibat dalam pelayanan sesuai dengan talenta dan bidang minatnya.

    Ingatlah! Kita dapat hidup sepenuhnya bagi Kristus ketika kuasa penebusan Kristus di atas Kalvari bekerja di dalam hidup kita. GBU & Fam. Better days are coming. (pg)  

  • SIKAP itu seperti BENIH

    Selamat  jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Semoga sehat-sehat dan tetap semangat. Selama kita masih hidup di dunia, masalah akan selalu ada. Sesungguhnya yang penting, bagaimana sikap kita dalam menghadapi masalah. Orang bijak berkata, “Kamu tidak bisa menenangkan badai, jadi berhentilah mencobanya. Apa yang dapat kamu lakukan adalah menenangkan diri. Badai akan berlalu.”

    Hati-hati, orang bijak mengingatkan kita, “Kelemahan di dalam sikap akan berkembang menjadi kelemahan di dalam karakter.”

    Hari ini  kita akan belajar dari pengalaman bangsa Israel.  Dua belas orang pengintai diutus Musa untuk memantau keadaan Kanaan, tanah Perjanjian.  Sepulang dari tugas pengintaian, sepuluh orang memberikan laporan yang intinya sangat pesimis dan merasa tidak mungkin mereka bisa masuk ke negeri itu.  Mereka melaporkan, “Hanya, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar, juga keturunan Enak telah kami lihat di sana.Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami.”  (Bilangan 13: 18 & 33). 

    Berbeda dengan Kaleb dan Yosua. Mereka memberikan  laporan yang berbeda.  Keduanya menyampaikan hal-hal positif, yang membangkitkan iman bangsa Israel, “Tidak!  Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!”  (Bilangan 13:30), dan mereka menambahkan,  “Negeri yang kami lalui untuk diintai itu adalah luar biasa baiknya.  Jika Tuhan berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.  Hanya, janganlah memberontak kepada Tuhan, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka akan kita telan habis.  Yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka, sedang Tuhan menyertai kita;  janganlah takut kepada mereka.”(Bilangan 14:7-9).

    Saudara, sesungguhnya cara kita memandang diri sendiri akan membentuk seperti apa kita.  “Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia.”  (Amsal 23:7a).  Sepuluh orang pengintai itu memandang dirinya seperti belalang.  Akibatnya mereka mengalami ketakutan dan hal itu berdampak buruk terhadap bangsa Israel.  Rasul Paulus mengingatkan, “… apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” (Galatia 6:7b). 

    Ingatlah! Berhati-hatilah, karena kita akan menuai hasil dari sikap kita terhadap masalah yang sedang kita hadapi.  Kita akan menjadi tawanan sikap kita sendiri. 

    Sikap itu seperti benih, yang ketika kita tanam akan bertumbuh dan menghasilkan tuaian.  Ann Brashares (Novelis dan penulis asal Amerika) berkata, “Masalah Anda bukanlah masalahnya, itu adalah sikap Anda terhadap masalah tersebut.” GBU & Fam. Better days are coming. (pg).