Author: Christopherus

  • Misi Yesus untuk Segala Bangsa

    Sebelum Tuhan Yesus meninggalkan para murid dan kembali ke surga, Ia memberikan tugas misi-Nya kepada mereka. Ini disebut Amanat Agung. Tugas misi ini melibatkan baik gereja, orang percaya, maupun lembaga misi.

                Tugas ini bukan sebuah pilihan, tetapi sebuah perintah  bagi semua orang yang percaya dalam nama Tuhan Yesus. Jadi, semua orang percaya, kamu dan aku, dan gereja-gereja dipanggil untuk melaksanakan tugas misi yang khusus dari Tuhan Yesus. Rencana  dari tugas misi itu adalah supaya jalan Allah dikenal di bumi dan keselamatan-Mu ada di antara segala bangsa (bndg. Mazmur 67:3; Kisah Para Rasul 28:28).

                Bacaan Alkitab kita diambil dari Matius 28:16-20. Ayat 19–20 berkata, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

    Ini bagian-bagian penting dalam tugas misi bagi orang percaya dan gereja-gereja. Namun, di sini hanya ada satu  perintah atau amanat dalam kedua ayat ini, yaitu “jadikanlah semua bangsa murid Yesus”. Bangsa di sini termasuk orang Kamboja, Indonesia, Mongolia, Vietnam, Laos, dan lain-lain.  Amanat  ini menjadi tanggung jawab semua orang percaya.

    Frase “Karena itu pergilah…” (ayat 19) berarti setiap orang percaya dipanggil untuk pergi menjadi saksi  Yesus di banyak tempat di dunia ini (bndg.  KPR 1:8). Di kota Yerusalem di wilayah Yudea, orang percaya menerima kuasa Roh Kudus, yang memampukan mereka menjadi saksi  Yesus.

    Tugas misi Tuhan Yesus di sini terdiri dari tiga langkah. Pertama, kita harus pergi. Tujuan amanat Yesus adalah bahwa orang percaya dipanggil untuk pergi  ke “semua orang di antara bangsa-bangsa”. Ke mana kita pergi  untuk membawa kabar baik Kristus juga bergantung pada karunia, yang sudah diberikan Allah pada kita. Di sini, kita bisa membawa berita Injil kepada teman-teman, kerabat, tetangga, rekan kerja, atau keluarga kita.

    Kedua, kita harus membaptis. Tuhan Yesus meminta kita untuk membaptis sejumlah orang. Mengapa? Sebab baptisan menyatukan  orang percaya dengan Yesus Kristus dalam kematiannya atas dosa dan kebangkitan ke dalam hidup baru. Baptisan melambangkan penyatuan diri dengan Yesus Kristus, penyerahan diri pada-Nya, dan keinginan diri untuk hidup dalam jalan Allah. 

    Ketiga, kita harus mengajarkan semua hal yang sudah diperintahkan oleh Yesus untuk ditaati.  Orang percaya mesti berbagi ajaran-ajaran Yesus Kristus dengan orang Kristen baru dan orang lain. Ajaran-ajaran itu meliputi perintah baru tentang kasih (Yohanes 13:34-35), Perjamuan Kudus, baptisan, jalan keselamatan, perdamaian, pengampunan, kewajiban moral kepada Allah dan manusia, hukum baru tentang kehidupan, berdoa, berpuasa, penginjilan, dan lain-lain.   

    Kita semua dipanggil  untuk menjawab tugas misi Yesus, yang telah diberikan kepada kita. Bagaimana kita bisa berpartisipasi dalam tugas misi itu? Kita bisa mendoakan pelayanan misi penginjilan di wilayah dan negara manapun, mendukung para misionaris dan hamba Tuhan, ikut terlibat dalam pelayanan misi bersama orang percaya dan hamba Tuhan, mengundang teman-teman atau kerabat untuk berdoa buat pelayanan misi. Memang, melakukan tugas misi Tuhan selalu manise. (Petrus E. Handoyo/pg).

                                      ******

  • KEBAIKAN itu INDAH

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Pengalaman hidup saya bercerita bahwa KEBAIKAN itu  INDAH, baik bagi yang memberi maupun yang menerima. Saya pernah dipanggil Tuhan Yesus oleh seorang ibu dari seorang anak laki-laki kelas IV SD yang saya belikan kaca minus 4,5 (pada waktu itu ibu tersebut belum menjadi orang percaya). Rasul Paulus mengingatkan kita semua, “Dan kamu, saudara-saudara, janganlah jemu-jemu berbuat apa yang baik.” (2 Tesalonika 3:13)

    Gede Prama (Pengusaha, filsuf dan penulis asal Bali) berkata, “Kebaikan adalah nyanyian indah yang bisa didengar oleh orang tuli, sekaligus bunga indah yang bisa dilihat oleh orang buta.”

    Saudara, dari cerita-cerita tema-teman, ada cukup banyak orang percaya yang menjadi trauma untuk berbuat baik, karena mereka punya pengalaman yang pahit ketika mereka berbuat baik.

    Mari kita belajar dari seorang petani. Petani menanam padi, jagung atau sayuran.  Pada saat bersamaan tumbuh pula rumput atau ilalang di sawah atau di ladang tersebut.  Namun anehnya, andaikan petani itu menanam rumput,  ia tidak akan pernah mendapati padi atau sayuran turut tumbuh di sana. 

    Demikian juga dalam kehidupan ini.  Ketika kita melakukan perbuatan baik terkadang hal-hal buruk datang menyertai, entah itu berupa: Ditipu, disalahmengerti, dicibir, difitnah, dan lain-lain.  Jika demikian haruskah kita berhenti berbuat baik ketika orang lain tidak membalas kebaikan kita? Haruskah kita berhenti berbuat baik ketika responsnya justru  menyakitkan atau merugikan kita? 

    Kalau kita berbuat baik hanya sekadar untuk membalas kebaikan orang lain, atau dengan tujuan mendapatkan balasan yang sama, apalah artinya?  Tuhan Yesus bersabda, “Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian.”  (Lukas 6:33). Mari renungkan dalam-dalam nasihat  Rasul Paulus,   “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.”  (Galatia 6:9).

    Jadi tidak ada istilah  rugi atau buntung  ketika kita melakukan perbuatan baik kepada orang lain, sebab pada saatnya kita akan menuai.  Ada tertulis:  “Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri,” (Amsal 11:17). 

    Kita memang perlu hati-hati dan lebih cermat dalam memberi pertolongan. Kita perlu berusaha untuk tahu siapa sebenarnya yang hendak kita tolong. Tapi sebagai orang percaya, berbuat baik adalah suatu keharusan, buah dari keselamatan yang telah kita terima, dan merupakan bukti kita memiliki iman yang hidup!

    Ingatlah! Mother Teresa (Biarawati asal Roma yang melayani di India) berkata, “Jangan biarkan setiap orang yang datang pada anda, pergi tanpa merasa lebih baik dan lebih bahagia. Jadilah ungkapan hidup dari kebaikan Tuhan. Kebaikan dalam wajah anda, kebaikan dalam mata anda, kebaikan dalam senyum anda.” Mati kita camkan apa yang dikatakan Rasul Yohanes, “Barangsiapa berbuat baik, ia berasal dari Allah, tetapi barangsiapa berbuat jahat, ia tidak pernah melihat Allah.”  (3 Yohanes 1:11b). GBU & Fam. Betters days are coming. (pg)

  • BERENCANA itu KEREN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Semoga kita sudah terbiasa membuat rencana untuk hidup kita. Minimal rencana harian sederhana, apa yang ingin kita kerjakan sepanjang hari ini. Orang bijak berkata, “Kalau kita tidak membuat rencana, maka sesungguhnya kita merencanakan kegagalan.”


    Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) berusaha merangkul generasi milenial, golongan remaja dan pemuda dengan tagline dan lagu: “Berencana Itu Keren”. Saya setuju sekali. Kita perlu punya rencana dengan hidup dan keluarga kita. Tuhan Yesus sudah mengingatkan kita melalui perumpamaan, “Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?”  (Lukas 14:28)

    Saudara, perjalanan hidup kita sesungguhnya seperti kalau kita akan melakukan sebuah perjalanan ke tempat tertentu yang cukup jauh.Kita perlu mempunyai tujuan tertentu yang jelas. Demikian pula dengan kehidupan ini, kita pun harus memiliki tujuan yang jelas.  Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan perencanaan yang benar-benar matang.  Perencanaan itu bagaikan peta petunjuk yang menuntun kita kepada suatu tujuan. 

    Dengan demikian kalau kita merindukan kehidupan yang lebih baik dan bermasa depan cerah, kita perlu memiliki perencanaan yang jelas. 

    Kata Pak Aristarchus Sukarto, “Hidup itu sebuah proses.” Karena itu keberhasilan hidup tidak bisa terjadi dalam waktu semalam. Selain itu kita harus berani membayar harganya untuk menggapai keberhasilan hidup.  Artinya keberhasilan merupakan sebuah proses dan setiap proses selalu diawali dengan perencanaan dan kemudian kerja keras.  Yakinlah tanpa perencanaan yang baik dan kerja keras, keberhasilan tidak akan pernah singgah di hidup kita. 

    Mulai dari sekarang buatlah perencanaan yang matang dan beranilah berjalan di mil kedua, bekerja lebih keras.  Walaupun kita sudah membuat perencanaan dengan matang dan sudah bekerja keras, ada kalanya kita masih menuai kegagalan.   Nah, adakalanya melalui kegagalan, kita diingatkan agar selalu melibatkan Tuhan di setiap perencanaan.  Dalam segala hal seharusnya kita berkata,  “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.”  (Yakobus 4:15).

    Yesus memberikan sebuah ilustrasi yang lain tentang pentingnya sebuah perencanaan hidup:  “Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang?”  (Lukas 14:31). 

    Ingatlah! Karena itu setiap kali membuat sebuah rencana jangan sekali-kali kita melupakan Tuhan, sebab Dialah yang berdaulat atas hidup kita. Kata Pak Andreas Christanday, “Tuhan itu tahu akhir di awal.” Salomo mengingatkan kita, “Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu.”  (Amsal 16:3). GBU & Fam. Better days are coming. (pg).

  • Let’s SERVE GOD and OTHERS Enthusiastically

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Pengalaman hidup saya bercerita betapa sangat bersyukur,  di usia 64 tahun, Tuhan masih memberi kesempatan kepada saya untuk terlibat pelayanan di Yayasan Christopherus dan di lading-ladang yang lain. Hampir setiap pagi boleh berbagi renungan pribadi saya kepada teman-teman melalui website Christopherus.

    Matt Lucas (Penulis dan pelawak asal Inggris) berkata, “Jagalah diri saudara supaya tetap sibuk karena hal ini dapat melepaskan saudara dari depresi. Bagi saya, pasif (tidak mengerjakan apa-apa) adalah musuh.”


    Semoga di masa pandemi Covid – 19 ini, kita tetap antusias dan menggebu-gebu untuk melayani Tuhan dan sesama. Let’s serve God and others enthusiastically (Mari dengan antusias kita melayani Tuhan dan sesama).

    Rasul Paulus mengingatkan agar kita tetap memiliki semangat untuk melayani Tuhan dan juga sesama, “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.”  (Roma 12:11) Berhati-hatilah!  Jika kita terlena dalam kemalasan dan kesuaman, pada saatnya kita akan benasib seperti jemaat di Laodikia:  “… karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku (Tuhan) akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.” (Wahyu 3:16). 

    Oleh karena itu Rasul Paulus kembali mengingatkan kita,  “… saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan!  Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” (1 Korintus 15:58).  Kata teguh berarti setia, dan di dalamnya terkandung suatu komitmen yang tinggi.  

    Tuhan Yesus telah memberikan teladan kepada kita.  Ketika Yesus diutus ke dalam dunia ini Ia dengan penuh komitmen menjalankan kehendak Bapa meski harus melewati penderitaan, aniaya, caci-maki, penolakan, bahkan kematian di atas kayu salib.  Komitmen-Nya tidak pernah goyah  dan pudar oleh keadaan apa pun.  Dia pun mau mengampuni orang-orang yang telah menganiaya-Nya.  Yesus bersabda,  “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.”  (Yohanes 4:34).

    Lalu bagaimana dengan  kita?  Janganlah goyah saat kita menghadapi berbagai tantangan dan halangan.  Kalau kita menyerah kalah pada keadaan, Iblis akan bersorak sorai menertawakan kita.  Ketahuilah:  tidak ada kemuliaan tanpa salib, tidak ada kemenangan tanpa perjuangan.  Mari kita menjaga komitmen untuk melayani Tuhan dan sesame sampai akhir tarikan nafas.

    Ingatlah! Pengalaman hidup saya bercerita bahwa hati yang antusias melayani akan menemukan banyak kesempatan untuk melayani di mana-mana. Semakin kita setia melayani Tuhan, semakin kita dipercaya oleh-Nya untuk melakukan perkara-perkara besar, walaupun kita harus memulainya dari perkara-perkara kecil! GBU & Fam. Better days are coming. (pg).

  • Be FAITHFUL in SMALL THINGS

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Pengalaman hidup saya bercerita bahwa kita harus bersedia menapaki mulai anak tangga yang terbawah untuk bisa mencapai anak tangga yang teratas. Pelayanan saya di Sinode GKMI mulai dari jabatan sebagai Tata Usaha (TU). Tugas utamanya mengetik surat, membukukan surat masuk dan keluar, mengetik “INFORMASI” (Warta Dua Bulanan Sinode GKMI), mengetik majalah “berita GKMI”, menyetensil laporan-laporan, dan lain-lain. Saya hanya berpegang pada sabda Yesus,  “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.”  (Lukas 16:10a)

    Orang bijak berkata, “Perjalanan beribu-ribu mil dimulai dari langkah pertama.”. Tapi anehnya ada cukup banyak orang  hanya terfokus kepada hal-hal yang besar saja, sampai-sampai ia melupakan, meremehkan dan menyepelekan hal-hal yang kecil atau sederhana.  Sesungguhnya untuk bisa sampai kepada perkara-perkara yang besar kita harus mulai dari hal-hal yang kecil.  Untuk bisa mencapai puncak gunung kita harus mulai pendakian dari bawah, melewati lembah, lereng, dan bukit terlebih dahulu. 

    Coba baca biografi orang-orang yang berhasil, di bidang apa saja. Hampir pasti mereka  memulai segala sesuatunya dari nol, tidak langsung berada di puncak.  Di Zaman Now, ada cukup banyak kita temui orang-orang yang  maunya serba instan, serba kilat, super ekspres. Jarang yang mau memulai sesuatu dari bawah, dari yang kecil.

     
    Saudara, sebelum kita layak untuk menerima sebuah kepercayaan yang lebih, mau tidak mau, kita harus terlebih dahulu melewati proses dari bawah.  Kita tidak secara tiba-tiba berada di puncak.  Ada ujian kesetiaan, ujian ketekunan dan ujian kesabaran dalam mengerjakan perkara-perkara kecil.  Bahkan, adakalanya kita harus melewati pengalaman pahit atau situasi sulit yang sangat menyakitkan. Namun kita tidak boleh menyerah begitu saja, kita harus terus melangkah dan tetap mengerjakan apa yang menjadi bagian kita, tanpa ada sungut-sungut.  Itulah modal untuk beroleh kepercayaan lebih!

    Ingatlah! Mother Teresa (Biarawati asal Roma yang melayani di India) berkata, “Be faithful in small things because it is in them that your strength lies” (Setialah dalam hal-hal kecil karena di situlah letak kekuatan Anda). Daud mengingatkan kita, “Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela,”  (Mazmur 18:26). GBU & Fam. Better days are coming. (pg).

  • Be HONEST

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Orang bijak berkata bahwa kejujuran kadang memang menyakitkan, tapi justru mendatangkan kesehatan. Sedangkan kebohongan kadang nampak menggembirakan, tapi justru tidak menyembuhkan.


    Saudara, berbicara tentang kejujuran berarti berbicara tentang hasrat dan motivasi,  yang muncul dari dalam hati dan pikiran seseorang, yang kemudian menghasilkan suatu tindakan.  Pada Zaman Now, hidup sebagai orang jujur menjadi barang langka, sulit didapat dan ditemukan.

    Penulis Amsal secara tegas menyatakan bahwa Tuhan bergaul erat dengan orang yang jujur,  “… orang yang sesat adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi dengan orang jujur Ia bergaul erat.”  (Amsal 3:32). Jadi salah satu syarat utama untuk dapat memiliki hubungan yang akrab dengan Tuhan, kita harus menjadi orang jujur.  Artinya kita harus menjadi pribadi yang selalu terbuka di hadapan Tuhan, tidak ada yang  kita tutup-tutupi atau sembunyikan. 

    Sebagai orang percaya, apa pun situasi dan keadaannya, kita dituntut untuk tetap hidup sebagai orang yang jujur.  Bagaimana bisa menjadi seorang yang jujur?  Diawali dengan ketulusan hati, seperti tertulis:  “Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya, tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya.”  (Amsal 11:3).  Artinya untuk menjadi orang jujur, kita perlu memiliki ketulusan hati.

    Orang yang tulus hati adalah orang yang mengasihi Tuhan tanpa syarat, yang melakukan segala sesuatu untuk Tuhan tanpa keluh kesah dan bersungut-sungut.  Daud, yang disebut sebagai orang yang berkenan di hati Tuhan  (Kisah Para Rasul 13:22-b), memiliki kerinduan besar untuk menjadi orang yang jujur dan tulus hati.  “Ketulusan dan kejujuran kiranya mengawal aku, sebab aku menanti-nantikan Engkau.”  (Mazmur 25:21).

    Saudara, mungkin bagi sebagaian besar  orang, berlaku jujur di Zaman Now saat ini adalah kerugian besar.  Tetapi bagi orang yang takut akan Tuhan kejujuran justru mendatangkan keuntungan besar.  Orang yang hidup dalam kejujuran pasti akan mengalami berkat-berkat Tuhan secara luar biasa.  Sampai kapan pun di dalam kamus hidupnya dia tidak mengenal kata  rugi atau sia-sia.   Orang yang jujur tidak akan pernah ditinggalkan dan dipermalukan oleh Tuhan, sebaliknya ia akan mendapatkan pembelaan dan berkat dari Tuhan. 

    Yakinlah ada masa depan yang baik yang Tuhan sediakan bagi orang yang berlaku jujur.  Salah satu berkat luar biasa bagi orang yang jujur adalah doanya pasti berkenan di hati Tuhan.  “… doa orang jujur dikenan-Nya.”  (Amsal 15:8).  Jadi Tuhan menyediakan berkat-berkat-Nya bagi orang yang jujur.  Karena itu jangan ragu dan  takut berlaku jujur sebab kita punya Tuhan yang tidak pernah tertidur dan terlelap  (Mazmur 121:4-5). 

    Ingatlah! Be honest. Jujurlah! Orang percaya dipanggil untuk memiliki kehidupan yang tidak serupa dengan dunia!  Ketika kebohongan sudah menjadi gaya hidup sebagian besar orang, sanggupkah kita menjadi garam, dengan setia tetap bertahan menjadi orang jujur? GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • More SMILING, Less WORRYING

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Sebagai manusia kadang khawatir itu wajar, tapi jangan biarkan kekhawatiran itu membayangi hidup kita sepanjang hari. Pada suatu titik, kamu hanya perlu membiarkan pergi apa yang kamu pikir harus terjadi dan nikmatilah apa yang sedang terjadi.


    Dr. Edward Podolsky (dosen dan penulis buku), dalam bukunya yang berjudul  “Stop Worrying and Get Well” menulis bahwa kekhawatiran yang dipelihara secara terus-menerus dapat menyebabkan seseorang menderita sakit, seperti penyakit jantung, darah tinggi dan migran. Salomo mengingatkan kita,  “Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang, tetapi perkataan yang baik menggembirakan dia.”  (Amsal 12:25)

    Dengan kata lain, bila hati dan pikiran terus dipenuhi oleh kekhawatiran, tubuh jasmani secara otomatis terkena efeknya.  Ketika kita khawatir tubuh ini serasa membawa beban yang begitu berat sehingga organ-organ tubuh kita tidak berfungsi sebagaimana mestinya.  Di sini dapat disimpulkan bahwa kekhawatiran lebih banyak berdampak negatif daripada positif karena dapat menganggu kesehatan.  Karena itu jangan sekali-kali menganggap remeh kekhawatiran, karena cepat atau lambat bisa menghancurkan hidup kita, memporak-porandakan semua harapan kita, serta menghentikan langkah kita untuk menikmati hidup.

    Leo Buscaglia (motivator asal Amerika)  berkata,  “Kekhawatiran tak akan melenyapkan kesedihan esok, tetapi akan menghilangkan kegembiraan hari ini.” 

    Pada dasarnya kekhawatiran itu berkaitan erat dengan ketakutan dan kecemasan.  Orang dikatakan khawatir ketika berada dalam keadaan takut, cemas, gelisah dan tidak tenang, yang ditimbulkan oleh situasi yang bermasalah, baik itu yang dibayangkan, hanya di angan-angan, maupun yang terjadi di dunia nyata. 

    Kekhawatiran juga bisa didefinisikan sebagai perasaan takut akan hari esok atau masa depan.  Jadi, sesungguhnya kekhawatiran adalah perasaan gelisah terhadap sesuatu yang belum tentu akan terjadi. Ayub mengingatkan kita, “… yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku.”  (Ayub 3:25)

    Kita sebenarnya tahu bahwa kekhawatiran itu tidak baik dan tidak mendatangkan keuntungan apa-apa, Tuhan Yesus sudah mengingatkan kita, “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” (Matius 6:27).

    Dalam praktiknya kita seringkali memilih untuk khawatir dan terus hidup dalam kekhawatiran.  Akibatnya pikiran kita hanya terfokus pada masalah dan kesulitan.  Waktu dan energi kita pun terkuras sia-sia memikirkan masalah, sehingga masalah akan tampak besar bagaikan raksasa yang serasa sulit untuk dikalahkan. Yesus bersabda, “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (Matius 6:34) Ingatlah! Anda ingin bebas dari kekhawatiran? Hafalkan dan lakukan nasihat dari Rasul Petrus berikut, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” (1 Petrus 5:7). So more smiling, less worrying. GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • IMAN yang HIDUP

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Di saat-saat yang sulit dan serba terbatas pada saat ini, dunia sedang menunggu tindakan iman dari orang-orang percaya. Dunia menunggu tindakan-tindakan iman walaupun kecil tapi disertai dengan kasih yang besar.

    Saudara ada dua unsur penting dalam iman:  Seseorang dapat dikatakan memiliki iman bila ia percaya meski belum melihat bukti.  Selain itu, seorang beriman taat melakukan kehendak Tuhan, apa pun risikonya.  Jadi, iman juga harus disertai perbuatan atau tindakan nyata. “Demikian juga halnya dengan iman:  Jika itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya adalah mati.”  (Yakobus 2:17)

     Jika kita berbicara mengenai iman tetapi tidak bertindak sesuai dengan apa yang kita imani, hal itu menjadi sia-sia.  Iman yang sejati bukanlah sekadar perkataan, namun harus diwujudkan ke dalam perbuatan.  Iman yang disertai dengan tindakan pasti membuahkan hasil. 

    Saudara, kali ini kita akan belajar dari Rahab, seorang perempuan sundal.  Sebagai penduduk kota Yerikho, Rahab telah mendengar tentang kuasa Allah Israel yang mengalahkan banyak bangsa, dan ia tahu orang Israel sedang menuju Yerikho,  sementara Allah akan menyerahkan kota tersebut ke tangan mereka. 

    Ketika dua orang pengintai Israel datang ke Yerikho, Rahab melihat itu sebagai kesempatan emas dan ia bertindak.  Ia menolong kedua orang pengintai itu dengan menyembunyikan mereka di rumahnya.  Atas tindakan berani Rahab tersebut, dua pengintai itu berhasil lolos.  Namun sebelum para pengintai itu pergi, Rahab memohon agar ia dan seisi keluarganya diselamatkan bila mereka (orang Israel) menyerbu kota Yerikho. 

    Para pengintai itu pun setuju dan mereka membuat suatu kesepakatan.  Para pengintai memerintahkan Rahab untuk mengikatkan tali kirmizi pada jendela rumah  (Yosua 2:21).  Perintah itu pun dilakukan oleh Rahab.  Tali berwarna merah itu menjadi simbol pengharapan dan jaminan keselamatan baginya.
        
    Ketaatan Rahab mengaitkan tali kirmizi menunjukkan imannya pada perkataan para pengintai itu, yang secara tidak langsung merupakan janji Tuhan. 

    Karena iman pengharapan yang ditaruhnya pada Allahnya yang “baru”, dan disertai tindakan nyata sebagai respons terhadap imannya, Rahab dan segenap keluarganya diselamatkan ketika orang Israel menguasai dan menghancurkan kota Yerikho. 

    Ingatlah! Pelajaran dari pengalaman hidup Rahab sudah jelas:  iman yang disertai tindakan selalu membuahkan hasil! Jika iman kita adalah iman sejati, ia akan tampak dengan sendirinya melalui perbuatan kita. GBU & Fam. Better days are coming. (pg).

  • What a Friend We Have in Jesus

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Teman sepelayanan saya yang milenial berkomentar, “Om Paul,  sahabat itu  merupakan seorang makhluk yang menemani kita saat sedih, senang, dan bahagia, kadang memang menyebalkan,  namun anehnya  sangat kita rindukan jika dia  tak ada.”


    Walter Winchell (Komentator gosip asal Amerika) berkata, “Teman yang sejati adalah seseorang tetap bersama kita waktu yang lainnya meninggalkan kita.”

    Suatu anugerah luar biasa yang diperoleh setiap orang percaya karena Yesus tidak lagi menyebut kita sebagai hamba, tapi menyebut kita sebagai sahabat, “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.”(Yohanes 15:15).

    Luar biasa! Sahabat bukanlah sekadar hubungan biasa, melainkan terjalin sangat intim,  serta dilandasi oleh sebuah kepercayaan.  Untuk menjadi orang yang bisa dipercaya oleh orang lain saja bukanlah hal yang mudah, terlebih-lebih yang memberi kepercayaan itu adalah Tuhan.

    Saudara, bukti kepercayaan Tuhan adalah diberitahukan-Nya segala sesuatu yang didengar-Nya dari Bapa.  Pemazmur juga menegaskan,  “TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.”  (Mazmur 25:14).  Secara manusia sulit untuk dipahami bahwa Tuhan mau dan menginginkan kita menjadi sahabat-Nya.  Namun hal itu menunjukkan bahwa Tuhan sangat menginginkan kita semakin mengenal-Nya lebih dekat.  Inilah hak istimewa dan terbesar bagi setiap orang percaya:  dikenal, dikasihi dan dijadikan sahabat oleh Tuhan. 

    Memiliki seorang sahabat berarti kita dapat berjalan seiring sejalan, saling menguatkan dan saling berbagi kasih yang tulus;  dan hanya sahabat sejatilah yang mau tetap ada untuk kita di segala keadaan. 

    Alangkah indahnya saat kita mengetahui bahwa Tuhan Yesus sudah menyatakan diri-Nya sendiri sebagai sahabat sejati bagi orang percaya.  Artinya segala hal yang baik dan istimewa yang tidak bisa kita dapatkan dari seorang sahabat di dunia,  bisa kita dapatkan jauh lebih dari apapun melalui kasih yang dinyatakan oleh Tuhan Yesus.

    Bagaimana kita bisa layak disebut sebagai sahabat Tuhan Yesus?  Kata-Nya,  “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.”  (Yohanes 15:14).  Melakukan perintah Tuhan adalah syarat utama untuk beroleh kepercayaan sebagai sahabat Tuhan Yesus.  “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.”  (Yohanes 15:!2). Apabila kita taat melakukan apa yang diperintahkan Tuhan yaitu saling mengasihi, maka kita memperoleh hak yang sangat istimewa yaitu menjadi sahabat Tuhan Yesus.

    Ingatlah! Joseph M. Scriven penulis lagu “What a Friend We Have in Jesus”, pernah mengalami patah hati dua kali karena dua orang pacarnya wafat menjelang hari pernikahannya. Dia tentu sangat sedih dan terpukul. Selanjutnya ketika ibunya sakit, dia tidak bisa menemaninya karena dia sudah berada di Canada. Maka dia menulis “surat penghiburan” yang dikirimkan kepada ibunya dan akhirnya digubah menjadi syair lagu “Yesus Sahabat Sejati.” GBU & Fam.. Better days are coming (pg)

  • It Is Well With My Soul

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Pengalaman hidup saya bercerita bahwa hidup itu seperti air laut, kadang pasang, kadang surut. Hidup itu bak air laut,  suka duka, tawa tangis, sehat sakit, berhasil gagal, datang silih berganti, tiada habisnya. Namun nabi Yesaya mengingatkan kita, “tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya;  mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.”  (Yesaya 40:31)

    Sekitar tahun 1870, Horatio Spafford, seorang pengacara yang sedang mencapai puncak kariernya. Dia menikah dengan Anna. Ketika dia berusia sekitar 43 tahun, mereka telah dikarunia 4 orang anak perempuan dan seorang anak laki-laki. Kemudian anak laki-lakinya wafat karena penyakit Demam Berdarah. Setahun kemudian, sebagian besar kekayaan Spafford yang ditanam di bisnis perumahan di Chichago, ludes terbakar dalam peristiwa yang terkenal dengan nama “The Great Chichago Fire”  Pada bulan November 1873, keempat anak perempuannya wafat tenggelam bersama kapal “SS Ville du Havre” dalam pelayaran dari New York ke Perancis. Di tengah-tengah badai dahsyat yang menimpanya bertubi-tubi, Haratio Spafford menuangkan perasaan dalam sebuah lagu yang berjudul “It Is Well With My Soul” (Nyamanlah Jiwaku).

    Tuhan kita adalah Allah yang luar biasa, hebat dan dahsyat segala perbuatan-Nya.  Dia menciptakan langit, bumi dan segala isinya dengan tiada pernah merasa lelah dan lesu.  Tuhan juga sangat mengasihi dan memerhatikan umat-Nya secara detail;  Dia tahu persis keadaan kita.  Ketika kita sedang dalam pergumulan yang berat, putus asa, lemah tak berdaya, Dia tidak pernah berhenti untuk menguatkan dan menolong kita.  Melalui kuasa Roh Kudus-Nya  “Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.” (Yesaya 40:29).

    Saudara, tidak ada alasan bagi kita untuk menyalahkan Tuhan, apalagi menuduh bahwa Dia tidak peduli terhadap kita dan membiarkan kita bergumul sendirian menghadapi setiap persoalan hidup.  Serahkan dan percayakan hidup Saudara kepada Tuhan sepenuhnya dan nantikan pertolongan-Nya, sebab bagi orang-orang yang tekun menantikan Tuhan, Alkitab menyatakan bahwa ia akan beroleh kekuatan baru seumpama rajawali yang terbang tinggi. 

    Mengapa Tuhan memberikan contoh kekuatan rajawali, bukan jenis burung lain?  Karena rajawali memiliki keberanian dan kekuatan yang lebih yang tidak dimiliki oleh burung-burung yang lain.  Karena keistimewaannya Alkitab mencatat kata rajawali sebanyak 32 kali.

    Lalu apa saja nilai lebih dari burung rajawali itu?  Ayub berkata,  “Atas perintahmulah rajawali terbang membubung, dan membuat sarangnya di tempat yang tinggi?”  (Ayub 39:30).  Burung rajawali memiliki kebiasaan yang unik, ia selalu terbang tinggi di atas badai, bukan di dalam atau di bawah badai.  Karakter seperti itulah yang harus dimiliki oleh setiap orang percaya, memiliki keberanian untuk menghadapi badai persoalan. 

    Ingatlah! Tuhan hadir bukan hanya di hingar bingar keberhasilan kita, namun Dia juga bertahta dalam sedu sedan penderitaan kita. Karena itu seberat bagaimana pun persoalan yang menimpa, jangan menjadi lemah;  sebaliknya,  arahkan pandangan pada Tuhan, terbanglah di atas badai kehidupan kita. GBU & Fam. Better days are coming. (pg).