Apakah kita pernah menghadapi keadaan from unknown to unknown (dari yang-tak-diketahui menuju yang-tak-diketahui) dalam perjalanan rohani ini?
“Bertolak ke tempat yang dalam” merupakan perintah ilahi dari Tuhan Yesus sendiri. Dalam konteks misi global, ini bisa jadi merupakan suatu tantangan misi yang amat besar bagi gereja, lembaga misi, persekutuan doa misi, individu, maupun misionaris untuk memahami ajakan Yesus menjangkau jiwa-jiwa di banyak tempat di dunia ini.
Di sebagian tempat, seperti yang kami sudah saksikan sendiri, orang lokal merindukan kehadiran pelayanan misi di antara komunitas-komunitas mereka. Di bagian daerah lain, orang setempat bertanya-tanya tentang apakah iman kristiani itu dengan menunjukkan keterbukaan diri. Keadaan-keadaan ini memang enak didengar, tetapi belum ada yang bersedia menjangkau mereka, atau menuju ke tempat yang dalam itu. Kita pun telah diingatkan bahwa “ladang-ladang sudah menguning dan matang untuk dituai” (Yohanes 4:35).
Bacaan Alkitab Lukas 5:4 berbunyi, “Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan”.
Dengan kata lain, “Kembalilah melalui jalan darimana kamu baru saja tiba”. Perintah Tuhan Yesus adalah bahwa Simon Petrus mesti bertolak ke tempat yang dalam. Ini membuat Simon sangat terkejut. Ia merasa sangat ditantang oleh Tuhan Yesus untuk masuk ke dalam keadaan yang penuh tantangan.
Mengapa ia merasa amat tertantang dengan perintah Tuhan Yesus? Sebab, Simon dan teman-teman nelayan sudah bertolak ke tempat yang dalam semalam, tetapi mereka tidak mendapat ikan sama sekali. Tantangan bertolak ke tempat yang dalam berarti harus menghadapi tantangan besar di jalan, dan bertemu dengan keadaan yang tak diketahui (unknown). Berikutnya, tantangan bertolak ke tempat yang dalam juga berarti bersiap menerima segala risiko, seperti kegagalan, kerugian, dan kekecewaan.
Kalau bisa, kita mau bertolak ke tempat yang dangkal dan nyaman, supaya kita bisa menikmati kelancaran dan bebas keluhan dalam hidup. Namun, cara berpikir kita berbeda dengan kerinduan Tuhan Yesus. Ia meminta supaya pelayanan-pelayanan kita harus berani bertolak ke tempat yang penuh risiko dan tak-diketahui (unknown) untuk lebih menjangkau lebih banyak jiwa. Sebab, Tuhan Yesus akan senantiasa menyertai kita (Matius 28:20).
Lalu, apakah yang kita butuhkan untuk menanggapi perintah Tuhan Yesus agar bertolak ke tempat yang dalam? Yang utama adalah kepatuhan pada Yesus, keberanian untuk hadapi rintangan dalam perjalanan yang baru, dan rasa percaya pada-Nya.
Lukas 5:5 berbunyi, “Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.”
Marilah kita melihat kalimat ini, “…karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Tuhan Yesus meminta Simon untuk bertolak ke tempat yang dalam dan menebarkan jala. Di sini, perintah Tuhan Yesus selalu diikuti dengan hasil dalam ayat 6, yakni sejumlah ikan besar.
Lihat kembali frase “karena Engkau menyuruhnya”. Boleh jadi, hal yang paling sulit yang kita hadapi adalah melakukan hal yang lama dengan cara yang baru. Mengulangi apa yang sudah kita pernah lakukan sebelumnya, dan melakukannya dengan sia-sia. Namun, kini kita melakukannya lagi dengan motif yang segar, dengan energi yang segar, dan dengan penuh harapan serta kepercayaan.
Ada dua perbedaan paling menyolok dalam hidup ini: melakukan perkara bersama Allah, atau melakukan perkara tanpa Allah. Manakah yang cenderung kita pilih? (bdng. Roma 8:28).
Lukas 5:8 berkata, “Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.”
Lihatlah frase, “Tuhan, pergilah dari padaku”. Semakin dekat orang datang kepada Allah, semakin dalam ia merasakan dosa dan ketidaklayakannya di hadapan-Nya (bdng. Abraham, Kejadian 18:27; Ayub, 42:6; Yesaya, 6:5).
Simon Petrus tahu, Tuhan Yesus melakukan perkara besar dengan memakai perahunya yang sederhana menuju tempat yang dalam, yang penuh tantangan. Ia mengakui adanya perbedaan besar antara Tuhan Yesus dan dirinya. Namun, Simon Petrus juga kagum bahwa Yesus memberkati apa yang sudah ia lakukan sesuai perintah-Nya.
Bersama-sama, marilah kita membuka diri guna meresponi tantangan misi dari Tuhan Yesus untuk menjangkau lebih banyak jiwa di banyak tempat di dunia ini. (Petrus E. Handoyo/pg).
******
Leave a Reply