Category: Karib Dengan Tuhan

  • KEHIDUPAN DOA Tuhan Yesus

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Semoga  kita tidak lupa mengawali hari ini dengan bersaat teduh, saat yang baik untuk berbicara kepada Tuhan dan membuka telinga hati kita untuk mendengar suara Tuhan. Ridwan Kamil (Gubernur Jawa Barat) berkata, “Tidak ada kesuksesan tanpa kerja keras. Tidak ada keberhasilan tanpa kebersamaan. Tidak ada kemudahan tanpa doa.”


    Saudara, berdoa menjadi hal terpenting dalam kehidupan dan pelayanan Tuhan Yesus! Ketika fajar menyingsing, Ia sudan bangun untuk berdoa, “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.”  (Markus 1:35)

    Sebelum Tuhan Yesus menyatakan diri-Nya dan memulai pelayanan di muka bumi, Tuhan Yesus terlebih dahulu mengasingkan diri di padang gurun untuk berdoa dan berpuasa selama 40 hari 40 malam lamanya.  Karena kekuatan doa inilah Tuhan Yesus mampu mengalahkan segala tipu daya Iblis yang berusaha menggagalkan misi-Nya  (Matius 4:1-11). 


    Tuhan Yesus punya kebiasaan, sebelum memulai segala sesuatu pada hari itu, Ia berdoa terlebih dahulu kepada Bapa-Nya.  Pagi-pagi benar sebelum matahari terbit Yesus telah bangun dan berdoa kepada Bapa-Nya, dan seringkali juga sepanjang malam dalam kesunyian di atas gunung Ia berdoa sendirian:  “Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa.” (Markus 6:46).  Lukas juga mencatat:  “Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah.”  (Lukas 6:12).  Coba kita perhatikan catatan dari penulis Kitab Ibrani:  “Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan.”  (Ibrani 5:7).  Karena memiliki kehidupan doa yang luar biasa, maka Yesus tampil sebagai Pribadi yang luar biasa pula dan penuh kuasa.

    Saudara, membangun persekutuan dengan Bapa, melibatkan Bapa dalam setiap kehendak dan rencana-Nya adalah kunci keberhasilan pelayanan Yesus.  Meski selalu menjadi sasaran bidikan banyak orang yang memusuhi dan berusaha menjatuhkan-Nya, Ia mampu menguasai diri-Nya dan tetap tenang karena Ia selalu menempatkan doa sebagai hal yang utama.  “Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.”  (1 Petrus 4:7b).  Selama 3,5 tahun pelayanan-Nya di bumi Yesus bukan hanya mengajar murid-murid-Nya secara teori tetapi juga secara praktis tentang pentingnya berdoa! Ia telah memberi teladan!

    Ingatlah! Tuhan Yesus telah memberikan teladan hidup bagaimana Ia menempatkan doa sebagai hal utama dalam hidup-Nya, supaya kita sebagai murid-murid-Nya mengikuti jejak Sang Guru Agung. Merry Riana (Motivator asal Indonesia) mengingatkan kita, “Doa akan sangat besar kuasanya, ketika diselipkan kepercayaan di setiap baitnya.” GBU & Fam. Better days are coming. (pg).

  • TUHAN yang MEMULIHKAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Betapa baiknya Tuhan itu, setiap pagi Dia menyambut kita melalui sang mentari yang terbit di ufuk Timur. Yakinlah sebagaimana mentari pagi yang pasti hadir setiap pagi, demikian juga Tuhan pasti menepati janj-janji-Nya. Dia pasti menyediakan jalan keluar terhadap permasalahan yang kita hadapi. Tuhan sanggup memulihkan kita.

    Saudara, kalau Saudara berkata, “Tidak punya masalah.” Sesungguhnya itulah masalah Saudara. Sesungguhnya selama kita masih menginjakan kaki di bumi, setiap orang dan setiap keluarga pasti mempunyai masalah atau persoalan. Memang setiap orang atau setiap keluarga mempunyai masalah tersendiri, tidak sama dengan yang dihadapi oleh orang atau keluarga yang lain.

    Apakah masalah itu? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, masalah adalah sesuatu yang harus diselesaikan atau dipecahkan.

    Tentu setiap orang yang sedang menghadapi masalah berharap mendapatkan pertolongan atau jalan keluar.  Kepada siapa kita meminta pertolongan?  Berserulah kepada Tuhan dan mintalah pertolongan-Nya,  “Tolonglah kami, ya Allah penyelamat kami, demi kemuliaan nama-Mu! Lepaskanlah kami dan ampunilah dosa kami oleh karena nama-Mu!”  (Mazmur 79:9).

    Latar belakang ditulisnya Mazmur 79 ini adalah ketika kerajaan Yehuda mengalami keruntuhan, kota Yerusalem menjadi puing-puing karena serangan tentara Babel.  Dalam keadaan terancam dan teraniaya, bani Asaf memanjatkan doa disertai dengan ratapan kepada Tuhan untuk meminta pertolongan.

    Masalahnya, saat ini ada cukup banyak orang percaya  yang bertanya-tanya dalam hati, “Mengapa pertolongan Tuhan datangnya  itu begitu lama?” Padahal Tuhan sendiri yang bersabda, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.  Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.”  (Matius 7:7-8).  Apa Ia ingkar dengan janji-Nya? 

    Saudara, yakinlah.  Tuhan  tidak pernah ingkar dengan janji-Nya.  Janji-Nya yang tertulis dalam Alkitab pasti akan digenapi asalkan kita mau bersabar untuk menantikan Dia.

    Nah, pergumulan berat apa yang Saudara alami saat ini?  Mungkin keadaan Saudara seperti tembok runtuh, yang tersisa hanyalah puing-puing kehancuran.  Manusia boleh saja beranggapan tidak ada harapan dan tak mungkin dipulihkan, tapi bagi Tuhan tidak ada perkara yang mustahil. 

    Sehancur apa pun keadaan kita, Tuhan sanggup memulihkan.  Tuhan berfirman:  “…apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan memulihkan keadaanmu…”  (Yeremia 29:12-14).  Dalam menantikan pertolongan Tuhan kita seringkali salah dalam memahami waktu dan cara Tuhan untuk menolong, kita berpikir pertolongan Tuhan akan terjadi sama persis seperti yang kita harapkan.

    Ingatlah! Tuhan selalu punya cara tersendiri untuk menolong dan memulihkan kita, karena itu tetaplah percaya!Pertolongan dan janji pemulihan Tuhan pasti akan terjadi sesuai waktu-Nya.  Karena itu dalam menantikan pertolongan Tuhan kita dilatih untuk bersabar dan berserah penuh kepada-Nya;  dan yang pasti, pertolongan Tuhan itu selalu mendidik dan mendewasakan kita. GBU & Fam. Better days are coming. (pg).

  • SAHABAT di Semua MUSIM KEHIDUPAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Diantara sekian ratus atau sekian ribu orang temanmu, pasti ada beberapa orang yang menjadi sahabatmu. Sydney Smith (Penulis asal Inggris) mengatakan,  “Hidup ini harus diisi dengan banyak persahabatan.  Mengasihi dan dikasihi adalah kebahagiaan terbesar dalam kehidupan.” 

    Siapakah sahabat itu? Orang bijak berkata bahwa sahabat itu bukan tentang siapa yang telah lama kamu kenal, tapi tentang siapa yang menghampiri hidupmu dan tidak pernah meninggalkanmu dalam situasi dan kondisi seburuk bagaimana pun. Sedangkan Fiersa Besari (Penulis dan pemusik asal Indonesia berkata, “Sahabat mencarimu ketika yang lain mencacimu. Sahabat merangkulmu ketika yang lain memukulmu.”

    Sesungguhnya setiap orang membutuhkan orang lain di dalam hidupnya untuk hidupnya. Adakah di antara saudara yang merasa  tidak membutuhkan orang lain dalam hidup ini?  Atau mungkin ada yang berkata,  “Ah …aku tidak butuh orang lain, karena aku bisa melakukan segala sesuatu sendiri dan punya segala-galanya.” 

    Saudara, manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk sosial.  Sekecil apapun aktivitas dalam keseharian kita akan selalu bersentuhan dengan orang lain, Selalu terjalin interaksi dengan orang lain, dengan hadirnya orang-orang di dekat kita.  Di lingkungan tempat tinggal, kita mempunyai tetangga.  Di sekolah, kita menghabiskan banyak waktu dengan teman sekelas untuk belajar, berdiskusi, dan bermain. Di tempat pekerjaan ada rekan-rekan kerja yang bekerjasama. Bahkan di gereja pun kita membangun persekutuan yang erat dengan saudara-saudara seiman lainnya.

    Salomo menyatakan,  “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.”(Amsal 27:17). Sesungguhnya pembentukan atau pematangan pribadi seseorang itu sangat ditentukan oleh kerelaannya  digosok dan digesek  oleh orang lain.  Melalui persekutuan dengan sesamanya seseorang akan mengalami penajaman-penajaman sebagai proses.  Jadi penajam-penajam kita itu bukanlah dari orang yang jauh, melainkan dari orang-orang yang berada di sekitar kita.  Karena itu  “Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang.”  (Amsal 13:20). 

    Dengan siapa kita bergaul dan orang-orang terdekat yang bagaimana itulah yang akan berpengaruh besar dalam perjalanan hidup kita.  Rasul Paulus pun mengingatkan kita,  “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.”  (1 Korintus 15:33). Kehadiran orang lain dalam hidup kita, entah itu teman atau sahabat adalah sangat penting dan dibutuhkan.

    Jika kita rindu memiliki seseorang untuk kita jadikan sebagai sahabat, kita perlu ekstra hati-hati dan harus benar-benar selektif, sebab seorang sahabat bukanlah sekadar teman biasa.  Perjumpaan dengan seorang sahabat bukanlah suatu hal yang secara kebetulan, namun merupakan suatu proses yang penuh pertimbangan, dan hal itu membutuhkan waktu yang tidak singkat.

    Ingatlah! Jangan pernah meragukan kasih Tuhan. Dia adalah sahabat sejati.  Bersama Yesus kita sanggup menjalani dan menikmati hari-hari yang ada di depan kita,  karena Dia ada di setiap musim kehidupan.  Kita tidak akan berjalan sendirian menjalani kehidupan ini karena Dia adalah Imanuel, Allah yang menyertai kita, bahkan penyertaan-Nya atas kita sampai kepada kesudahan zaman.  Halleluya!. GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • MULUTMU HARIMAUMU

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Semoga sehat-sehat saja, tetap semangat dan selalu bisa memperkatakan hal-hal yang positif. Merry Riana (Motivator asal Indonesia) berkata, “Berhati-hatilah dalam perkataan atau perbuatan. Jika salah, itu bisa membuat orang lain terluka. Bagaikan sebuah paku yang menancap pada kayu, walaupun dicabut, bekasnya akan tetap ada.”

    Saudara, sesungguhnya betapa besar peranan perkataan dalam hidup seseorang. Salomo mengingatkan kita, “Perut orang dikenyangkan oleh hasil mulutnya, ia dikenyangkan oleh hasil bibirnya.”  (Amsal 18:20)

    Tanpa disadari, ada cukup banyak orang yang meremehkan kuasa dari sebuah perkataan sehingga banyak perkataan sembrono keluar dari mulutnya.  Alkitab dengan keras mengingatkan,  “Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.”  (Amsal 18:21). 

    Bila kita mempergunakan mulut kita untuk memperkatakan hal-hal yang positif  dan mendeklarasikan apa yang kita percayai, maka hidup kita pasti akan mengalami perubahan sesuai dengan firman yang kita perkatakan.  Karena itu sediakanlah waktu setiap hari untuk membaca dan merenungkan firman Tuhan, supaya  “…semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji …”  (Filipi 4:8)  senantiasa mengisi perbendaharaan hati kita, sehingga yang keluar dari mulut kita  adalah hal-hal yang selaras dengan firman-Nya,  “… Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati.”  (Matius 12:34).

    Kita harus memahami bahwa perkataan kita akan memimpin kita pada jalan yang benar atau  mengarahkan kita pada jalan yang salah.  Kehidupan dan kematian ditentukan pula oleh lidah.

    Mereka yang selalu memperkatakan perkataan yang buruk akan menerima akibat dari perkataan mereka;  dan itu adalah suatu pilihan!  Kita bisa memilih untuk memperkatakan hal-hal positif yang berdampak positif bagi kita, atau hal-hal negatif yang senantiasa mewarnai dan mendominasi setiap perkataan kita.  Perkataan manusia adalah seperti bejana yang diisi dengan hal-hal yang baik atau buruk. 

    Perkataan yang dikuasai oleh Roh Kudus akan tinggal bersama dengan kita dan akan mengubah hidup kita.  Sering kita kurang  menyadari bahwa kata-kata yang kita dengar dapat memimpin atau merusak jalan hidup kita.  Dengan perkataan, kita bisa membangun kepercayaan diri seseorang atau menghancurkan iman mereka.  Perkataan yang pedas dan tidak menyenangkan dapat menyakiti orang lain.  Akan tetapi perkataan yang lembut dan penuh kasih akan membuat orang lain gembira, dipulihkan, dikuatkan dan dipimpin kepada kemenangan.

    Setiap saat kita diperhadapkan pada pengambilan keputusan yang sangat penting:  “Apa yang kita pilih untuk  kita katakan?”  Bagaimana caranya kita menata perkataan kita yang nantinya akan menentukan masa depan kita?  Akankah kita membangun lingkungan dengan kebahagiaan atau akankah kita merusak segalanya dengan perkataan kita?  Perkataan kita mengandung kuasa dan berkat dari Tuhan, untuk itulah kita harus benar-benar memperhatikan perkataan kita.  Begitu pula dalam hal menegur orang lain, kita pun harus berhati-hati dan tidak boleh sembarangan, apalagi dengan kata-kata yang menyakitkan, sebab  “Teguran orang yang bijak adalah seperti cincin emas dan hiasan kencana untuk telinga yang mendengar.”  (Amsal 25:12).

    Ingatlah! Pribahasa lama berkata, “Mulut kamu, harimau kamu” yang artinya keselamatan dan harga diri kita bergantung pada perkataan kita sendiri. Hati-hatilah dengan perkataan kita, terkadang perkataan itu bisa menembus apa yang tidak bisa ditembus oleh jarum.  Salomo mengingatkan kita, “Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak.” (Amsal 25:11). GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • TUHAN SANG PENOLONG

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Saya tahu ada cukup banyak diantara kita yang saat ini sedang menghadapi berbagai masalah hidup. Ada yang sakit, ada yang kehilangan pekerjaan, ada yang kehilangan anggota keluarganya, ada yang usahanya bangkrut, ada yang terkena musibah atau bencana, dan lain-lain. Tapi yakinlah Tuhan kita jauh lebih besar daripada segala masalah yang sedang Saudara hadapi saat ini.

    Saudara, Hari-hari yang sedang kita jalani dan hadapi saat ini  adalah hari-hari yang sangat berat, serba tidak menentu dan menekan.  Wajarlah bila ada cukup banyak orang yang  mengeluhkan dan stres. 

    Kita perlu menyadari bahwa terus mengeluh tidak akan memberi solusi, karena sesungguhnya selama kita masih bernafas dan kaki kita masih menginjak bumi, kita tidak akan pernah bisa menghindar dari masalah, sakit penyakit, kesukaran, bencana, musibah, atau penderitaan yang bisa datang silih berganti tanpa permisi, tanpa memandang usia atau status sosial. 

    Dengan gamblang Alkitab menyatakan bahwa bangsa Israel adalah bangsa yang tegar tengkuk  (Keluaran 32:9).  Mereka mudah sekali melupakan kebaikan Tuhan.  Karena itu mereka perlu selalu diingatkan bahwa tidak ada pertolongan lain selain dari Tuhan, “Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.”  (Mazmur 121:2).

    Ayat tersebut biasanya dibacakan ketika umat Israel hendak memulai ibadah di Bait Suci di Yerusalem atau ketika mereka sedang melakukan ziarah ke Bait Allah.  Pernyataan, seruan atau pengakuan yang dibacakan sebelum ibadah dimulai ini disebut votum.  Ini bukan sekadar pernyataan atau pengakuan biasa sebagai pembuka ibadah, melainkan sebuah pengakuan terhadap kemahakuasaan Tuhan.  Seruan atau pernyataan adalah hal penting untuk didengar dan diketahui semua orang bahwa sumber pertolongan itu datangnya dari Tuhan, bukan yang lain.

    Bangsa-bangsa yang tidak mengenal Tuhan berusaha mencari pertolongan kepada berhala-berhala, seperti azimat, patung, pohon atau kuburan.  Mereka berpikir bahwa berhala-berhala itu dapat memberikan pertolongan atau solusi untuk setiap masalah yang dihadapi, padahal  “Berhala bangsa-bangsa adalah perak dan emas, buatan tangan manusia, mempunyai mulut, tetapi tidak dapat berkata-kata, mempunyai mata, tetapi tidak dapat melihat, mempunyai telinga, tetapi tidak dapat mendengar, juga nafas tidak ada dalam mulut mereka. Seperti itulah jadinya orang-orang yang membuatnya, semua orang yang percaya kepadanya.”  (Mazmur 135:15-18). 

    Mereka juga pergi ke laut atau gunung-gunung untuk mencari perlindungan dan keselamatan.  Hasilnya?  Nihil! Zonk!  Pemazmur membuktikannya:  “Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku?”  (Mazmur 121:1).  Tidak ada pertolongan di gunung-gunung!

    Bagi umat Israel pertolongan datang bukan dari laut atau gunung, tetapi dari Tuhan yang adalah pencipta langit dan bumi dan seluruh isinya.  Dengan kata lain, yang menjadi sumber pertolongan umat Israel bukanlah benda-benda mati atau berhala-berhala buatan tangan manusia, tetapi Tuhan yang hidup, Tuhan yang tidak pernah tertidur dan terlelap.  Tuhanlah yang menjadi Penjaga Israel dari sekarang sampai selamanya!

    Ingatlah! Marilah bersama dengan Daud, kita sebagai komunitas orang percaya bersaksi: “Pertolongan kita adalah dalam nama TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.”  (Mazmur 124:8). GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • Kunci KEBERHASILAN Estee Lauder

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Bersyukurlah kalau selama ini kita menjadi orang yang rajin karena kadang-kadang KESEMPATAN itu sering menyamar menjadi KERJA KERAS. Karena itu berbahagialah kalau selama ini kita tidak menjadi pemalas.

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, rajin mempunyai makna:  Suka bekerja (belajar dsb); getol; sungguh-sungguh bekerja; selalu berusaha giat. Rajin merupakan salah sastu modal untuk mencapai keberhasilan. Sekalipun orang punya seribu macam keinginan, tapi apabila ia malas mewujudkan keinginannya  melalui tindakan, maka keinginan tersebut tidak akan pernah menjadi kenyataan. Bagai mimpi di siang bolong.  Penuh dengan keinginan tapi tidak disertai dengan tindakan adalah ciri seorang pemalas. Kita perlu menyadari,  “Oleh karena kemalasan runtuhlah atap, dan oleh karena kelambanan tangan bocorlah rumah.”  (Pengkhotbah 10:18).

    Saudara, yakinlah Tuhan menghendaki anak-anak-Nya  tidak menjadi pemalas, tapi menjadi pekerja yang rajin.  Mengapa?  Yesus bersabda,  “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga.”  (Yohanes 5:17).  Sejak awal penciptaan Tuhan sudah mendesain manusia untuk bekerja:  “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”  (Kejadian 2:15). Kalau kita rajin:  berdoa, bekerja,  menabung, baca Alkitab, menabur, berbuat baik, melayani Tuhan dan sebagainya, suatu saat kita pasti akan memetik hasilnya, sebab di dalam setiap jerih payah selalu mendatangkan keuntungan  (Amsal 14:23).

    Kerajinan adalah jalan yang akan menuntun kita kepada mukjizat dan berkat Tuhan. Yusuf adalah salah satu contoh orang rajin yang tercatat di Alkitab.  Karena kerajinannya dalam bekerja ia dipercaya oleh Potifar dan juga disukai oleh kepala penjara.  Orang yang rajin, di mana pun berada dan ditempatkan, selalu menjadi berkat dan hidupnya berdampak bagi orang lain.  Dinyatakan bahwa Yusuf menjadi orang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya  (Kejadian 39:2), sebab ia rajin, karena itu ia selalu disertai oleh Tuhan.

    Ingatlah! Estee Lauder (Pebisnis asal Amerika) berkata, “Saya tidak pernah bermimpi tentang keberhasilan. Saya bekerja keras untuk mendapatkan keberhasilan.” Sedangkan Salomo mengingatkan kita, “Hati si pemalas penuh keinginan, tetapi sia-sia, sedangkan hati orang rajin diberi kelimpahan.”  (Amsal 13:4). GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • Dibentuk Menjadi PELAUT yang HANDAL

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Dalam masa pandemi Covid – 19, orang-orang seusia saya, di atas 60 tahun menghadapi banyak tantangan dan tantangannya cukup berat, Namun saya dan Saudara, tidak boleh mudah putus asa, orang bijak berkata bahwa laut yang tenang tidak pernah melahirkan pelaut yang handal. Kita perlu menyadari bahwa dunia merupakan lahan tantangan yang tak terbatas.

    Salah satu hobi saya membaca biografi orang-orang yang berhasil. Ternyata mereka yang berhasil mewujudkan impian dalam hidup tidaklah meraihnya tanpa tantangan dan rintangan.  Bahkan terkadang perjalanan yang harus ditempuh berliku-liku, penuh cadas dan mendaki.  Tapi yang pasti mereka tidak pernah berhenti untuk berusaha dan berjuang. 

    Sayangnya,  ada cukup banyak  orang menunjukkan reaksi yang negatif setiap kali diperhadapkan dengan tekanan dan tantangan yang berat:  mengeluh, kecewa, frustasi dan putus asa.  Mereka tak dapat melihat sedikit pun sisi positif di balik tantangan. Justru melalui tekanan dan tantangan sesungguhnya kita sedang dibentuk  menjadi pribadi yang kuat dan tangguh dalam segala keadaan.  Di balik besarnya tekanan dan tantangan tersimpan kesempatan yang memungkinkan kita menjadi besar!

    Saudara, sebagai orang percaya, tidak berarti perjalanan hidup kita akan bebas dari masalah, luput dari ujian dan tantangan, atau jalan hidup kita akan semulus jalan tol yang bebas hambatan.  Justru kita akan semakin diperhadapkan pada tantangan yang jauh lebih besar, sebab Iblis takkan pernah rela kita ini menjadi milik Kristus seutuhnya.  Jika menyadari akan hal ini, tak perlu kita menghindar  dari tantangan, melainkan justru bersiap menghadapinya.  Bukankah firman Tuhan menegaskan,  “…dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.”  (Roma 8:37).

    Saudara, coba kita belajar dari Daud. Seandainya Daud tidak pernah menghadapi tantangan dari Goliat  (raksasa dari Filistin), takkan terlihat dan takkan teruji kualitas hidupnya.  Ketika Daud berhasil mengalahkan raksasa itu,  sesungguhnya ia sedang menapaki anak tangga baru yang lebih tinggi dalam kehidupannya. Sampai akhirnya Tuhan mengangkat dia menjadi raja atas Israel.  Jadi, memiliki impian bukanlah menunggu sampai badai berlalu, melainkan harus berani menghadapi badai seperti burung rajawali.  “Ketika orang Filistin itu bergerak maju untuk menemui Daud, maka segeralah Daud berlari ke barisan musuh untuk menemui orang Filistin itu;”  (1 Samuel 17:48). 

    Untuk dapat melihat perkara-perkara besar dari Tuhan ada harga yang harus dibayar!  Perlu upaya dan usaha yang keras untuk meraihnya, sebab berkat-berkat Tuhan yang besar tersedia di tempat yang  dalam. (Lukas 5:4).

    Ingatlah! Barbara De Angelis (penulis asal Amerika) berkata, “Kita tidak mengembangkan keberanian, jika hidup kita setiap hari senang terus. Kitas justru akan mengembangkan keberanian kita, jika hidup kita menghadapi tantangan dan bertahan di waktu-waktu yang sulit.”  Daud bersaksi, “mereka melihat pekerjaan-pekerjaan TUHAN, dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di tempat yang dalam.”  (Mazmur 107:24). GBU & Fam. Better days are coming. (pg).

  • IDENTITAS Murid Yesus

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Syukur hari ini kembali Tuhan memberikan hari yang baru kepada kita. Semoga kita dapat menjani dan menikmati hari ini dengan satu keyakinan bahwa betapa bahagianya  jika dalam hidup ini kita dapat mengasihi dan dikasihi.

    Saudara, kadar kasih seseorang kepada Tuhan itu berbeda-beda!  Ada orang percaya yang mengasihi jikalau …: Jikaiau dia mengasihi saya, jikalau dia mau bertobat, jikalau saya sudah berkecukupan, dll. Tapi ada juga orang percaya yang mengasihi walaupun …:  Walaupun dia telah berbuat jahat kepada saya, walaupun dia belum mau percaya, walaupun hidup saya masih pas-pasan, dll.

    Bapak Andreas Christanday menyatakan, “Kita bisa memberi tanpa kasih, tapi kita tidak dapat mengasihi tanpa memberi.”

    Dengan demikian sesungguhnya bagi orang percaya kasih bukan hanya suatu ajaran yang harus dipahami dan dimengerti, tapi kasih adalah inti kekristenan yang harus dipraktikkan dan dilakukan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.  Kristus memberikan sebuah perintah yang tidak bisa ditawar yaitu:  “…supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” (Yohanes 13:34).  Kristus bukan hanya sekadar mengajarkan dan memberikan perintah kepada para pengikut-Nya, tetapi Ia sendiri telah memberikan teladan hidup bagaimana seharusnya mengasihi dengan benar.

    Ada cukup banyak orang percaya merasa keberatan bila harus mengasihi orang lain, karena mengasihi itu selalu identik dengan tindakan memberi atau berkorban.  Kristus sendiri telah membuktikan betapa Ia mengasihi kita dengan mengorbankan nyawa-Nya di kayu salib:  “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya…”  (Yohanes 15:13).  Karena kita telah mengalami kasih Kristus, maka sudah sepatutnya kita membagikan kasih itu kepada orang lain. 

    Mengasihi yang Kristus ajarkan bukan sebatas mengasihi terhadap orang yang mengasihi kita, tapi juga mengasihi  musuh kita  sekalipun.  “Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian.” (Lukas 6:32-33). 

    Kita harus ingat bahwa Tuhan memerintahkan kita untuk mengasihi karena kita sudah memiliki benih kasih Bapa  (1 Yohanes 4:7).  Inilah yang memampukan kita untuk mengasihi, sedangkan dari pihak kita hanya diperlukan  kemauan, bukan kemampuan.  Roh Tuhan yang ada di dalam kita itulah yang memampukan kita untuk bisa mengasihi.

    Ingatlah! Barbara De Angelis (Penulis asal Amerika) berkata, “Kasih dan kebaikan adalah hal yang tidak pernah terbuang. Dua hal itu selalu membawa perbedaan. Dua hal itu akan memberkati yang menerima, dan juga yang memberikannya.” Tuhan Yesus bersabda, “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”  (Yohanes 13:35). GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • Kearah Mana PIKIRANKU?

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Semoga hari ini dan hari-hari ke depan pikiran kita dipenuhi dengan hal-hal yang positif. Pikiran kita hanya terarah kepada Tuhan, Sang Sumber Hidup. Kita perlu mengingat, sesungguhnya tidak ada satu halpun di dunia ini yang dapat mengganggu kita lebih daripada pikiran kita sendiri.

    Saudara, ada dua sisi penting dalam kehidupan manusia yaitu hidup dan mati, yang sepenuhnya adalah otoritas Tuhan, “Siapa di antara semuanya itu yang tidak tahu, bahwa tangan Allah yang melakukan itu; bahwa di dalam tangan-Nya terletak nyawa segala yang hidup dan nafas setiap manusia?” (Ayub 12:9-10)

    Jika perhatian dan pikiran kita hanya terpusat kepada kehidupansaja maka kita akan takut dan khawatir.  Karena berbicara tentang kehidupan akan membuat perhatian dan pikiran kita tertuju kepada kebutuhan-kebutuhan hidup.  Sebenarnya Tuhan sudah mengingatkan, “Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?” (Matius 6:25). 

    Sebaliknya, jika kita hanya memusatkan pikiran dan perhatian pada kematian, kita juga akan dihantui oleh rasa takut dan khawatir.  Yang terpenting adalah jangan sampai kematian itu menjadi suatu jerat bagi kita seperti tertulis:  “Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba.”  (Pengkhotbah 9:12). Saudara, camkanlah ini, Tuhan itu  bukan hanya pemberi hidup, tapi juga menyediakan segala sarana dan prasarana penunjang kehidupan manusia, supaya hidup yang dikaruniakan-Nya dapat dipertahankan.  Karena itu penting sekali kita memusatkan pikiran dan perhatian kepada Tuhan Sang Pemberi Hidup, sebab hidup manusia sepenuhnya berada dalam tangan-Nya.

    Ingatlah! Nasihat Rasul Paulus, “…perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,”  (Efesus 5:15). Karena itu arahkan perhatian dan pikiran kita senantiasa tertuju kepada Tuhan, Sang Pemilik Kehidupan, maka kita akan menjalani hidup dengan penuh ucapan syukur, sebab  “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.”  (1 Korintus 2:9).GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • Mengapa Aku KHAWATIR?

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Semoga pagi ini kita bangun tidur dipenuhi dengan rasa syukur. Sesekali kita merasa khawatir, itu wajar dan manusiawi. Namun jangan sampai kekhawatiran itu membelenggu hidup kita. John Lubbock (bankir asal Inggris) berkata bahwa hari yang penuh kekhawatiran lebih melelahkan daripada hari kerja.

    Mengapa kita sering merasa khawatir?  Karena kita suka sekali menghitung-hitung masalah, kesukaran dan penderitaan yang kita alami.  Jika hal itu terus kita lakukan, kita akan semakin kecewa dan terpuruk. 

    Karena itu berhentilah menghitung-hitung, milikilah iman yang teguh bahwa Tuhan sangat peduli dengan apa yang kita alami, “Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan?”  (Mazmur 56:9)

    Apa itu Khawatir? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata  khawatir  memiliki pengertian:  takut  (gelisah, cemas)  terhadap suatu hal yang belum diketahui dengan pasti.  Perasaan ini biasanya dihubungkan dengan pikiran negatif tentang sesuatu yang mungkin terjadi di masa yang akan datang. 

    Khawatir juga berarti was-was, bingung dan pikiran terpecah-pecah.  Tuhan berfirman:  “Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?”  (Matius 6:25).  Lalu Dia menambahkan:  “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?”  (Matius 6:27).  Tuhan memperingatkan kita untuk tidak khawatir, karena Dia sendiri yang menjadi jaminan bagi kita.  “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”  (Ibrani 13:5b).

    Hendaknya kita menyadari bahwa kekhawatiran itu hanya memindahkan beban dari bahu Tuhan yang kuat ke bahu kita yang lemah.  Kekhawatiran adalah sebuah obsesi akan hal buruk yang mungkin terjadi:  ketakutan terhadap hal yang tidak menyenangkan, menderita sakit, mengalami kekurangan, kehilangan sesuatu dan sebagainya.  Daud, seorang raja pun, juga pernah merasa khawatir, tapi ia tak mau terus dibelenggunya, karena itu  “… kepada kasih setia-Mu aku percaya, …”  (Mazmur 13:6).  Daud mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan melalui doa dan percaya penuh kepada-Nya!

    Ingatlah! Dale Carnegie (motivator asal Amerika) memberikan tips: “Jika saudara tidak dapat tidur, bangunlah dan lakukan sesuatu daripada saudara berbaring dan khawatir. Karena kekhawatiran itu yang menggganggu saudara, bukan kurang tidurnya.”. GBU & Fam. Better days are coming. (pg)