Author: Christopherus

  • Teladanilah TABITA

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Setiap pagi dengan terbitnya sang mentari di ufuk Timur, semoga kita senantiasa diingatkan bahwa kegelapan tidak dapat menguasai kegelapan, hanya cahaya yang dapat melakukannya. Karena itu Yesus bersabda, “ …hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16)

    Rabindranath Tagore (Filsuf dan Sastrawan dari India) berkata bahwa barangsiapa terlalu sibuk sehingga dia tidak melakukan kebaikan, sebenarnya dia telah kehilangan kesempatan untuk menjadi orang yang baik.

    Sesungguhnya kebaikan adalah sifat Ilahi yang harus terpancar dalam kehidupan orang percaya.  Mengapa?  Karena status kita adalah anak-anak terang.  “Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran,”  (Efesus 5:8-9).  Tuhan itu baik adanya, dan teladan tentang kebaikan telah ditunjukkan oleh Tuhan Yesus yang senantiasa berbuat baik kepada semua orang tanpa memandang status atau latar belakang:  menyembuhkan yang sakit, melepaskan mereka dari segala keterikatan, memberi makanan kepada mereka yang lapar dan sebagainya.

    Karena Tuhan Yesus baik maka semua anak-Nya wajib mengikuti jejak-Nya yaitu menjadi orang-orang yang baik, dimana kebaikan itu harus dibuktikan melalui tindakan nyata,  “Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.”  (Amsal 3:27)
    Apalah artinya orang menilai diri sendiri baik apabila orang lain tidak melihat secara nyata kebaikan itu.  “Biarlah orang lain memuji engkau dan bukan mulutmu, orang yang tidak kaukenal dan bukan bibirmu sendiri.”  (Amsal 27:2).

    Dorkas adalah orang baik, dan karena kebaikannya ia menjadi berkat bagi lingkungan.  Orang-orang Yahudi memanggilnya Tabita yang berarti rusa betina.  Di dunia Timur rusa betina adalah gambaran tentang kecantikan.  Kecantikan Dorkas ini terpancar melalui perbuatan baik yang ditunjukkan.  “Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah.”  (Kisah 9:36b).  Begitu mendengar bahwa Dorkas sakit dan meninggal, orang-orang menjadi sangat kehilangan dan bersedih hati.  Mereka pun berusaha mencari cara bagaimana agar Dorkas dapat hidup kembali.  Ketika mendengar Petrus ada di Yope, orang-orang memohon kepadanya agar bisa membangkitkan Dorkas.  Ajaib!  Tuhan mendengar doa-doa mereka dan membangkitkan Dorkas dari kematian.  Dari kejadian inilah semakin banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan!

    Ingatlah! Berbuatlah kebaikan, maka kebaikan itu akan datang kembali kepadamu. Dukunglah program kami, “Christopherus Peduli Covid – 19”. “Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah.”  (Ibrani 13:16). GBU & Fam. Bettter days are coming. (pg)

  • Jujur dan Rendah Hati

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Sehat-sehat dan tetap semangat mengikut Yesus. Kahlil Gibran (Sastrawan asal Lebanon) berkata bahwa sesungguhnya kecantikan bukan di wajah, kecantikan adalah cahaya hati.

    Saudara, keadaan hati kita adalah faktor penting yang dapat memengaruhi hubungan kita dengan Tuhan, sebab yang dinilai Tuhan bukanlah rupa atau paras, perawakan, kekuatan, kehebatan, atau kepintaran, melainkan isi hati kita:  “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.”  (1 Samuel 16:7b) dan  “…TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita. …”  (1 Tawarikh 28:9). 

    Nah, untuk memberi gambaran tentang  hati manusia, Yesus memberikan satu perumpamaan tentang orang Farisi dengan  pemungut cukai  (Lukas 18:9-14).  Orang Farisi adalah seorang tokoh agama yang tahu kebenaran, mengajar Taurat Tuhan, tapi hatinya penuh kesombongan dan kemunafikan.  Ia merasa bersih dari dosa dan tanpa cela:   “Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.”  (Lukas 18:11-12).  Karena merasa dirinya sudah suci dan tak bercacat cela, orang Farisi ini merasa tidak lagi memerlukan belas kasihan dan anugerah keselamatan dari Tuhan.

    Berbeda dengan si pemungut cukai, dia justru menunjukan sikap  yang bertolak belakang,   “… pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.”  (Lukas 18:3).  Pengakuan jujur disertai kerendahan hati yang ditunjukkan si pemungut cukai telah mengetuk pintu rahmat Tuhan. Yesus bersabda,  “Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”  (Lukas 18:14). Juga Daud berkata, “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.” (Mazmur 51:19). 


    ingatlah! Jelaslah, Tuhanlah yang menguji hati! (Amsal 16:2).  Orang bijak berkata, “Di atas langit ada langit.”. Ketika kamu merasa dirimu paling hebat, ingatlah, ada banyak orang yang lebih hebat daripadamu. Karena itu jangan sombong. Tuhan benci hati yang sombong, tapi Ia mengasihi orang yang rendah hati! GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • MERDEKA dari Belenggu MASA LALU

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Hari ini, Senin 17 Agustus 2020, ketika kita merayakan HUT ke-75 Kemerdekaan RI, semoga kita dimampukan oleh Tuhan untuk MERDEKA dari keterikatan masa lalu. Kalau kita terus dibelenggu oleh masa lalu, kita tidak akan bisa mensyukuri dan menikmati hidup pada hari ini.

    Saudara, memang tidak semudah membalikan tangan untuk melupakan masa lalu, apalagi jika masa lalu itu dipenuhi dengan kenangan-kenangan indah bersama dengan orang yang kita kasihi:  orangtua, sahabat, kekasih dan sebagainya.  Itulah sebabnya ada orang yang sulit sekali “move on” dari masa lalu, padahal yang namanya masa lalu sudah tidak mungkin terulang kembali. 

    Sesungguhnya kenangan masa lalu itu akan indah kalau hanya sebatas untuk dikenang, tapi akan menyesakkan kalau diharapkan bisa terulang kembali,  karena hal itu tak mungkin terjadi.  Terlebih lagi bila masa lalu kita dipenuhi oleh kegagalan dan luka hati, sangat sulit rasanya untuk melupakan begitu saja, sehingga kegagalan dan luka hati itu terus membayangi dan menghalangi  setiap langkah hidup kita.

    Sampai kapan kita menjalani hidup  dengan dibayang-bayangi oleh masa lalu? Sedangkan kita hari ini menghadapi dan menjalani  sebuah kenyataan, bukan masa lalu.  Karena itu, mari jadikan masa lalu sebagai pengalaman dan bahan pembelajaran, jangan malah menghalangi dan menghambat langkah kita hari ini untuk menatap masa depan.

    Yakinlah intuk memiliki kehidupan yang lebih baik, mau tidak mau, kita harus keluar dari belenggu masa lalu.  Percuma terus meratapi kegagalan masa lalu atau membangga-banggakan kejayaan masa lalu karena hal itu tidak bisa mengubah keadaan yang sedang kita hadapi.  Kita harus hidup dalam realitas hari ini, bukan kemarin atau masa lalu.

    Rasul Paulus, yang dulunya bernama Saulus, orang dari Tarsis, dikenal banyak orang sebagai penganiaya dan pembunuh pengikut Kristus.  Salah satunya adalah ketika Stefanus dirajam batu ia pun punya andil besar dalam peristiwa itu.  Namun setelah bertemu dengan Tuhan Yesus ia mengalami kelahiran baru.  “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Korintus 5:17).  Setelah itu Paulus dipanggil Tuhan untuk menjangkau jiwa-jiwa melalui pemberitaan Injil. 

    Melihat hal tersebut Iblis tidak tinggal diam, ia terus mendakwa dan mengganggu memori Paulus tentang masa lalunya yang kelam, namun syukur Paulus tidak terprovokasi.  Ia membuat keputusan berani yaitu meninggalkan masa lalu, dan mengarahkan pandangan ke depan dengan penuh iman kepada Kristus, “…aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,”  (Filipi 3:13b)

    Ingatlah! Jangan membiarkan diri kita dibelenggu masa lalu, supaya kita bisa menikmati berkat yang Tuhan sediakan untuk kita pada hari ini! Jangan menengok masa lalu, berlarilah dengan pandangan lurus ke depan dengan mata terarah kepada Tuhan, karena Tuhan telah menyediakan masa depan yang penuh harapan,  “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”  (Yeremia 29:11). GBU & Fam. Better days are coming. (pg) 

  • Diciptakan untuk MEMUJI Tuhan

    Selamat jumpa Para Pendukung Kristus, apa kabar? Sehat-sehat dan tetap semangat untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Billy Graham berkata, “Kita memuliakan Kristus ketika kita hidup bagi Allah: memercayai, mengasihi, serta menaati-Nya”.


    Mungkin ada cukup banyak orang, tak terkecuali orang percaya, tidak mengerti bahwa sesungguhnya semua manusia yang ada di dunia ini diciptakan untuk memuji Tuhan, sebab ada tertulis:  “Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!”  (Mazmur 150:6).  Oleh karenanya memuji dan meninggikan nama Tuhan seharusnya menjadi bagian hidup kita sehari-hari. Menjadi gaya hidup kita.

    Maka tak heran kalau pemazmur melakukan ini:  “Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku.”  (Mazmur 34:2).  Kata memuji berasal dari kata dasar puji yang berarti pengakuan dan penghargaan yang tulus terhadap kebaikan, keunggulan seseorang. 

    Memuji berarti menyatakan kekaguman dan penghargaan kepada seseorang dengan kata-kata yang tentunya dianggap sangat positif, semisal memuji seseorang karena ia memiliki kemampuan, keahlian, prestasi, keunggulan atau kualitas di atas rata-rata orang pada umumnya.

    Padanan kata memuji adalah memuliakan. Memuliakan adalah tindakan memuji yang biasanya secara khusus ditujukan kepada Tuhan.  Orang yang memiliki pengenalan yang benar tentang Tuhan pasti tidak akan memuji Tuhan dengan sembarangan atau sesuka hati;  ia tidak akan memuji Tuhan hanya saat beribadah atau menghadiri persekutuan doa saja, atau saat mengalami hal-hal yang baik saja, tetapi puji-pujian itu akan selalu keluar dari hati dalam segala keadaan. 

    Kapan pun dan di mana pun ia takkan menahan bibirnya untuk terus memuji-muji Tuhan.  “Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau, karena hukum-hukum-Mu yang adil.”  (Mazmur 119:164).  Daud memuji Tuhan tujuh kali dalam sehari karena ia tahu bahwa nama Tuhan adalah nama yang indah dan di dalam nama itu ada kuasa yang dahsyat dan ajaib.

    Pemazmur adalah sosok yang patut kita teladani dalam hal memuji dan memuliakan nama Tuhan, karena hampir segenap isi kitab Mazmur berisikan puji-pujian bagi Tuhan.  Alkitab menyatakan bahwa nama Yesus bukanlah sembarang nama,  “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan,’ bagi kemuliaan Allah, Bapa!”  (Filipi 2:9-11). 

    Kita harus memuji dan meninggikan nama Tuhan Yesus karena nama-Nya bukan sembarang nama, tetapi nama-Nya di atas segala nama, nama yang mampu membuat setiap lutut bertelut.  Kalau Daud memuji Tuhan tujuh kali sehari, bagaimana kita?  Kasih dan kebaikan Tuhan atas kita sungguh tak terhitung jumlahnya, maka kita patut memuji dan memashyurkan nama-Nya!

    Puji-pujian yang keluar dari sikap hati yang benar akan sangat menyenangkan Tuhan;  dan ketika Tuhan disenangkan, kasih-Nya pasti akan dicurahkan atas hidup kita.  Bagian kita adalah memuji dan memuliakan Tuhan, Ia pun akan bekerja dengan bagian-Nya sendiri.

    Ingatlah! Jangan Malu Memuji Tuhan. Bernyanyilah, karena Tuhan senang dengan pujianmu! “Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari.”  (Mazmur 96:2). GBU & Fam. Better days are coming. (pg) 

  • KEINGINAN yang Kuat

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Napoleon Hill (penulis asal Amerika) berkata bahwa awal dari semua pencapaian (prestasi) adalah KEINGINAN. Sedangkan Merry Riana (motivator asal Indonesia) berkata bahwa memiliki KEINGINAN saja tidak cukup. Harus ada usaha, tekad yang kuat, dan kemauan keras untuk mewujudkannya.

    Saudara, saya yakin Bartimeus yang buta dalam kisah Yesus menyembuhkan Bartimeus (Markus 10:46-52) mempunyai KEINGINAN yang kuat untuk bisa melihat.

    Dengan mata rohaninya ia dapat melihat kebesaran dan kuasa Tuhan. Pengharapan yang ia tujukan kepada Yesus adalah kunci utama yang membangkitkan imannya meski orang-orang di sekitarnya meremehkan dan menuding bahwa dia tidak akan bisa disembuhkan. Bartimeus tidak berkecil hati atau menyerah pada keadaan. Iman adalah melihat apa yang tidak terlihat, dan itu membutuhkan perjuangan.

    Maka ketika ia mendengar Yesus sedang lewat, dengan segenap kekuatan ia berseru,  “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!“ (ayat 47-48). Bartimeus tahu bahwa inilah saat dan kesempatan baginya bertemu dengan Yesus, karena itu ia terus berteriak memanggil-manggil Yesus di tengah keramaian. Akhirnya teriakannya itu menggetarkan hati Yesus untuk bereaksi; Yesus memalingkan wajahnya ke arah Bartimeus yang sedang bertindak dengan imannya itu. Lalu kata Yesus kepadanya, “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. (ayat 52).

    Mungkin saat ini dokter sudah memvonis, umurmu tidak lama lagi akibat penyakit yang engkau derita, atau orang memprediksi usahamu akan bangkrut, atau keluargamu nampak tidak mungkin dipulihkan. Kita akan semakin tidak berdaya bila kita terlalu memberi tempat pada masalah itu dan terpengaruh oleh situasi yang ada. Mari kita ubah cara berpikir kita! Berilah tempat untuk Tuhan, sumber segala mukjizat itu. Berkatalah dengan iman, “Tuhan, aku percaya Engkau sanggup menyembuhkanku. Manusia sangat terbatas, tetapi aku memiliki Engkau yang sungguh tidak terbatas. Tidak ada yang mustahil bagiMu.” Camkan ayat ini:  “Sebab Tuhan maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat dari pada segala allah.” (Mazmur 96:4).

    Kalau kita memandang Dia sebagai pribadi yang Mahabesar, maka apa pun masalah kita tidak berarti apa-apa di hadapan-Nya. Bartimeus mengalami lawatan Tuhan karena ia memiliki pola pikir yang berbeda dengan orang lain.

    Ingatlah! KEINGINAN yang kuat akan menghasilkan motivasi yang kuat, dan motivasi yang kuat akan menghasilkan PENCAPAIAN yang HEBAT. Perjumpaan dengan Yesus telah mengubah hidup Bartimeus; ia dipulihkan dan disembuhkan! Dia dapat melihat dunia yang penuh warna. GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • Bukan Pilihan yang Bisa Ditawar

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat dan tetap semangat.  Sesungguhnya merupakan anugerah Tuhan yang luar biasa, jika kita memiliki keluarga dan komunitas yang saling mengasihi dan saling peduli. 

    Manusia merupakan makhluk sosial, artinya kita diciptakan untuk hidup berpasangan dan berinteraksi dengan orang lain. Kita tidak bisa hidup sendiri, kita butuh kehadiran orang lain di dalam hidup kita dan untuk hidup kita. 

    Karena itu Tuhan Yesus memberi ketetapan agar kita mengasihi sesama manusia seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Dia juga memberi perintah dan mewajibkan kita untuk hidup saling mengasihi.

    Kita diminta untuk saling memerhatikan, saling mendoakan, saling peduli, saling berbagi, saling menolong, dan saling melengkapi.

    Sesungguhnya hal tersebut merupakan kebutuhan dasar hidup setiap manusia, agar kita bisa hidup seimbang, dan menjadi sehat.

    Tuhan tahu, sebagai manusia biasa, suatu saat kita akan menghadapi situasi-situasi yang sulit, seperti: sakit, kegagalan, butuh pekerjaan, kerepotan, kesesakan, penderitaan, dan kelemahan-kelemahan lainnya, maka kita memerlukan pertolongan dari orang lain.

    Sudahkah kita menunjukkan kasih kita kepada orang lain dalam wujud satu tindakan nyata? Ataukah kita diam saja dan sengaja menghindar ketika melihat orang lain sedang dalam kesusahan, karena kita takut direpotkan? Tuhan Yesus mengajak kita untuk memahami makna dari perumpamaan orang Samaria yang baik hati.

    Bacaan Alkitab pada hari ini diambil dari Lukas 10:34, “Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.”

    Marilah kita jalani dan nikmati hidup pada hari ini dengan satu keyakinan bahwa bagi orang percaya mengasihi bukanlah pilihan yang bisa ditawar, namun perbuatan yang wajib dilakukan dan harus menjadi gaya hidup.

    Ingatlah! Di tengah-tengah situasi yang serba tidak menentu dan serba terbatas, kita diharapkan  tetap dapat  hidup saling mengasihi dan bertolong-tolongan dalam menanggung beban hidup.  “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.” (Efesus 4:2) GBU & Fam. Better days are coming. (pg).

  • MENGUASAI atau DIKUASAI

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Sesungguhnya hidup itu pilihan. Apakah kita memilih mau dikuasai kemalasan, atau sebaliknya kita memilih mau menguasai kemalasan. Pilihan ada di tangan kita.

    Anwar Sadat (Politikus dan mantan Presiden Mesir) berkata, “Kesuksesan nyata adalah kesuksesan dengan diri sendiri. Bukan dalam memiliki hal-hal, tetapi dalam memiliki penguasaan, memiliki kemenangan atas diri sendiri.”

    Saudara, barangkali kita sering mendengar pernyataan seorang atlet yang sedang bertanding di sebuah kejuaraan olahraga bahwa musuh terberat yang sesungguhnya bukanlah  lawan tandingnya, tetapi  menaklukkan diri sendiri.  Membuang semua ketegangan, keragu-raguan, membangun rasa percaya diri atau optimisme saat bertanding ternyata bukanlah perkara mudah!  Dengan kata lain ketidakmampuan dalam hal penguasaan diri seringkali menjadi faktor non teknis yang menjadi penyebab kegagalan  seorang atlet meraih prestasi.

    Ternyata Rasul Paulus memiliki pengalaman yang sama bagaimana beratnya menguasai diri sendiri,  “Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.”  (Roma 7:15).  Ungkapan Paulus ini mengindikasikan bahwa dalam tabiat sebagai  manusia lama  ia tak dapat menguasai dirinya sendiri, namun setelah mengalami perjumpaan dengan Kristus dan hidup sebagai  manusia baru  di dalam Dia, yang dikatakannya pun menjadi sangat berbeda.  “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”  (Galatia 2:19-20). 

    Sesungguhnya kemampuan Paulus dalam hal penguasaan diri ini bukan berasal dari kekuatannya sendiri, melainkan karena pertolongan Roh Kudus dan kerelaannya untuk dipimpin Roh Kudus,  “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.”  (2 Timotius 1:7).

    Ketika seseorang hidup dalam pimpinan Roh Kudus ia tidak akan menuruti keinginan dagingnya.  Itulah sebabnya raja Salomo memberikan apresiasi kepada orang yang mampu menguasai diri, katanya,  “Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.”  (Amsal 16:32).

    Ingatlah! Jika kita mampu menguasai diri kita sendiri, maka kita akan mempunyai kemampuan untuk menguasai banyak hal. Lao Tzu berkata: “Menguasai orang lain adalah kekuatan (strength). Menguasai diri sendiri adalah kekuasaan (power) yang sejati.” Sedangkan bagi Rasul Paulus memiliki penguasaan diri berarti:  “Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus,”  (2 Korintus 10:5b). GBU & Fam. Better days are coming. (pg).

  • Istirahat Itu Penting

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Sehat-sehat dan tetap semangat menyambut lembaran baru yang Tuhan anugerahkan kepada kita. Bob Sadino (Pengusaha) berkata, “Obat dan vitamin bukan jaminan hidup sehat. Jaga ucapan, jaga hati, istirahat cukup, makan dengan gizi seimbang dan olahraga yang teratur, itulah kunci hidup sehat.”

    Saudara, Tuhan Yesus adalah figur teladan dalam hal bekerja karena Ia adalah pekerja keras.  Yesus bersabda,  “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga.”  (Yohanes 5:17).  Saat diutus Bapa ke bumi Ia sangat sibuk setiap harinya dalam melakukan pekerjaan untuk Kerajaan Allah.  Tuhan Yesus menyembuhkan yang sakit, mewartakan pembebasan bagi yang terbelenggu dan membebaskan mereka yang terpenjarakan oleh kegelapan, dan banyak lagi hal yang lainnya.  Dia bekerja dari sejak terbitnya matahari sampai terbenamnya.  Tertulis:  “Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Iapun meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka.”  (Lukas 4:40). 

    Meski bekerja keras selama berada di bumi bukan berarti Tuhan Yesus tidak pernah beristirahat, Ia juga membutuhkan istirahat untuk tubuh-Nya supaya Ia bisa berdoa kepada Bapa-Nya, “Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa.”  (Lukas 5:16).  Yesus adalah Putera Tunggal Allah, tetapi Ia sering menyendiri ke tempat yang tersembunyi dan berdoa.

    Sangatlah perlu bagi kita untuk memiliki persekutuan yang intim dengan Tuhan.  Seringkali kita sulit untuk berkata  “tidak”  kepada teman sehingga kesempatan untuk menyendiri dengan Tuhan menjadi terlewatkan.  Terkadang pula kita terlalu menyibukkan diri dengan padatnya jadwal kerja, jadwal keluarga, jadwal pribadi, dan jadwal  pelayanan,  sampai-sampai kita tidak punya waktu beristirahat demi menjaga kesehatan kita, baik itu jasmani maupun rohani. 

    Seringkali hal beristirahat ini kita abaikan, padahal istirahat adalah hal penting bagi kita agar tetap menjadi kuat dan bugar.  Lalu bagaimana Tuhan Yesus menyelesaikan semua tugas diberikan Bapa kepada-Nya?  Dia mempunyai 24 jam sama seperti kita semua.  Tetapi rahasianya ada pada ketaatan-Nya untuk melakukan kehendak Bapa-Nya.  Tuhan Yesus bekerja dan juga beristirahat, bukan hanya bekerja, bekerja dan terus bekerja tanpa beristirahat.  Saat istirahat inilah Tuhan Yesus bersekutu dengan Bapa.

    Kita hanya perlu menyendiri dan berdoa sebelum kita memulai hari baru, sama seperti yang dilakukan Tuhan Yesus.  “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.” (Markus 1:35). 

    Ingatlah! Istirahat itu penting, yang lain bisa menunggu. Adalah lebih baik kita memulai hari yang baru bersama dengan Allah Roh Kudus terlebih dulu.  Saat ini banyak orang percaya yang memulai hari barunya dengan tergesa-gesa tanpa berdoa karena mereka dikejar-kejar oleh target dan pekerjaannya, sehingga Tuhan pun diabaikannya. Menyendiri bersama Allah Roh Kudus sebelum memulai segala sesuatu adalah bukti bahwa kita memiliki penyerahan diri penuh kepada-Nya. GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • Ketuklah Pintu Hati Tuhan

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Sehat-sehat dan tetap semangat menyambut hari yang baru dan berkat yang baru. Andrie Wongso (Motivator) berkata, “Sering kita terperangkap oleh penyesalan masa lalu dan mencemaskan masa yang akan datang, sehingga tidak mensyukuri hari yang penuh berkah dan berkat, yaitu hari ini.”

    Saudara, mungkin kita sering mendengar ungkapan, “Dia saat ini sedang naik daun”. Kalau orang sedang naik daun, apa saja yang dikerjakannya menghasilkan “emas”. Tapi pengalaman hidup saya bercerita bahwa tidak selamanya kita terus dalam kondisi naik daun. Di dalam kehidupan ini pasti ada saat di mana kita diperhadapkan dengan kondisi turun daun atau masa paceklik.  Apa saja yang kita kerjakan hampir tidak  membuahkan hasil apa pun.  Kita  mengalami jalan buntu di segala hal, semua pintu seolah-olah tertutup bagi kita. Bak bangsa Israel yang menghadapi laut Teberau.  Pintu-pintu kehidupan seolah-olah tertutup.  “Pintu”  bisa berbicara tentang:  pintu kesempatan, pintu kesembuhan, pintu berkat, pintu jawaban doa,  pintu pemulihan, pintu keberhasilan, dan sebagainya.

    Jika sampai hari ini kita menghadapi pintu-pintu yang tertutup, janganlah berkecil hati dan berputus asa.  Ketuk pintu hati Tuhan dengan seruan yang tiada berkeputusan, sebab Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan hidup, yang punya kuasa dan otoritas.  Ada tertulis:  “…apabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka.”  (Wahyu 3:7). 

    Pintu-pintu kesempatan, pintu kesembuhan, pintu berkat, pintu pemulihan, pintu keberhasilan…. pasti dibukakan bagi kita.  Penulis Amsal menegaskan bahwa selalu ada masa depan dan harapan bagi orang yang takut akan Tuhan:  “…masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.”  (Amsal 23:18). 

    Bukti orang yang takut akan Tuhan adalah hidup sesuai dengan kehendak-Nya,  sekalipun situasi atau keadaan sepertinya tak memungkin pintu itu terbuka, tapi bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.  Firman Tuhan mengatakan,  “Pintu-pintu gerbangmu akan terbuka senantiasa, baik siang maupun malam tidak akan tertutup, supaya orang dapat membawa kekayaan bangsa-bangsa kepadamu, sedang raja-raja mereka ikut digiring sebagai tawanan.”  (Yesaya 60:11) Artinya Tuhan sanggup membuka pintu bagi kita di segala keadaan, di segala musim kehidupan kita.  Dengan kata lain berkat Tuhan tidak terpengaruh situasi!

    Jadi, asalkan kita benar-benar hidup melekat kepada Tuhan dan  tinggal  di dalam firman-Nya, tak ada yang perlu ditakutkan dan dikhawatirkan dengan hidup ini.  Yakinlah, sekalipun dunia saat ini menghadapi goncangan ekonomi yang sangat dahsyat, resesi sudah ada di ambang pintu, tapi jika Tuhan membuka pintu-pintu berkat bagi kita, tak ada kuasa mana pun yang mampu menghalanginya.

    Ingatlah! Alexander Graham Bell (Penemu telepon) berkata, Apabila satu pintu tertutup, maka pintu yang lainpun terbuka lebar. Akan tetapi seringkali kita menatap pintu yang tertutup itu begitu lamanya dan begitu sedihnya, sehingga kita tak menyadari ada pintu lain yang terbuka lebar bagi kita.” GBU & Fam. Better days are coming. (pg)