Author: Christopherus

  • KESUKSESAN Milik Siapa?

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Semoga kita menjadi orang yang rajin bangun pagi dan bersaat teduh. Menyediakan waktu secara khusus untuk mendengar suara Tuhan dan berbicara kepada Tuhan. Thomas Alva Edison (Penemu lampu pijar dan pendiri General Electric) berkata bahwa sukses adalah milik mereka yang rajin dan giat bekerja.

    William A. Ward (Motivator asal Amerika) memberikan resep bagaimana menjadi sukses:  “Kunci kesuksesan adalah rajin belajar pada saat orang lain sedang tidur, rajin bekerja pada saat orang lain sedang bermalas-malasan, memersiapkan diri pada waktu orang lain bermain-main, dan memiliki mimpi di saat orang lain memiliki keinginan.”

    Prinsip yang perlu kita pegang, untuk menjadi orang yang sukses,  ada harga yang harus dibayar yaitu berani keluar dari zona nyaman, mau bekerja lebih keras dari kebanyakan orang, serta memergunakan waktu yang ada sebaik mungkin. 

    Saudara, ketika Tuhan menempatkan manusia pertama,  Adam dan Hawa di taman Eden, Tuhan memberikan perintah kepada mereka untuk bekerja, bukan untuk bermalas-malasan,    “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”  (Kejadian 2:15). 

    Jadi, perintah untuk bekerja sudah diberikan Tuhan sebelum manusia jatuh dalam dosa.  Dengan kata lain bekerja bukanlah sebagai akibat manusia jatuh dalam dosa, sebab  “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga.”  (Yohanes 5:17).  Jika Tuhan saja tetap bekerja, masakan kita sebagai anak-anak-Nya hanya mau berpangku tangan? 

    Pesan firman Tuhan hari ini,  “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.”  (Pengkotbah 9:10).  Kalimat kerjakanlah itu sekuat tenaga artinya harus dikerjakan dengan rajin, bersungguh-sungguh, dan tidak dengan setengah hati.  Mengapa kita harus bekerja dengan rajin?  Karena kerajinan adalah salah satu modal untuk meraih kesuksesan, sebab   “Tangan orang rajin memegang kekuasaan,”  (Amsal 12:24).

    Maka tidak heran kalau penulis Amsal pun memeringatkan kita untuk tidak malu belajar dan mencontoh kehidupan semut, yang termasuk salah satu binatang terkecil di bumi,  “…tetapi yang sangat cekatan: semut, bangsa yang tidak kuat, tetapi yang menyediakan makanannya di musim panas,”  (Amsal 30:24-25).

     
    Ingatlah! Anda ingin jadi orang yang berhasil? Berikut salah satu resepnya, “Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya.” (Amsal 10:4). Better days are coming. (pg)

  • Kemuliaan Tuhan TERBIT ATASMU

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Ketika pagi hari ini mentari  menyapa kita dengan ramahnya, kembali kita diingatkan bahwa kegelapan tidak mungkin mengubah kegelapan, hanya TERANG yang dapat mengubah kegelapan. Semoga kita senantiasa ingat dengan panggilan hidup kita UNTUK MENJADI TERANG.

    Kemarin pagi saya membaca berita di “Media Indonesia” bahwa pencairan program Bantuan Subisidi Upah (BSU) bagi pekerja yang sejatinya akan mulai dicairkan tanggal 25 Agustus 2020 ditunda. Berita tersebut kemudian saya teruskan kepada teman-teman di kantor,  secara spontan mereka berujar, “Hari ini kami belum beruntung.”.

    Siangnya saya ke Pusat Isi Ulang Tinta Printer. Saya sudah lama menjadi pelanggan di toko tersebut. Salah seorang pegawainya berbagi cerita kepada saya, “Sejak bulan April 2020 gaji mereka setiap bulan diangsur empat kali dan sampai 25 Agustus 2020 gaji yang sudah dibayar baru sampai bulan Juni 2020.”.

    Setelah tiba di kantor, HP saya berdering, ternyata datang dari seorang teman sepelayanan. Dengan nada sedih dia berkata, “Pak Paul, maaf, saya mau mundur dari kepengurusan, saya mau konsentrasi dulu mengurus 4 perusahaan saya yang hampir macet total.”.

    Saudara, sejatinya hidup orang percaya adalah hidup  berjalan bersama Kristus setiap hari.  Sebagaimana Kristus adalah terang dunia, maka orang percaya pun diminta untuk bisa menjadi terang dunia, sebab  “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.”  (1 Yohanes 2:6).  “Kamu adalah terang dunia… Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”  (Matius 5:14a,16).

    Saudara, hidup  menjadi terang berarti orang percaya tidak lagi menjalani hidup secara asal-asalan, tetapi punya kehidupan yang berarti dan berdampak bagi dunia.  Karena itu orang percaya harus mengalami percepatan untuk bangkit dari segala permasalahan hidup, bangkit dari keterpurukan, dan bangkit dari segala ketertinggalan.  “…marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.”  (Ibrani 12:1).  Itulah caranya agar  kehidupan kita bisa menjadi kesaksian yang baik.  Tanpa memiliki kehidupan yang berbeda dari orang-orang dunia, kita tidak akan bisa menjadi terang dan menyatakan kemuliaan Kristus di tengah-tengah dunia ini.  Perhatikan dunia saat ini!  Dunia semakin hari semakin kelam dan diliputi oleh kegelapan yang teramat pekat. Banyak orang yang menjadi pesimis dan frustasi.

    Ingatlah! Ketika banyak orang berputus asa, frustasi dan kehilangan semangat, ini adalah kesempatan bagi orang percaya untuk bangkit dan menjadi terang.  Kita harus bersaksi kepada mereka bahwa di dalam Kristus  ada masa depan dan harapan. Di dalam Kristus ada jalan keluar. Kristus adalah jawaban yang pasti untuk setiap pergumulan hidup. “Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu.”  (Yesaya 60:1). GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • Semakin DISUKAI Tuhan dan Sesama

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Sehat-sehat dan tetap semangat mengerjakan hal-hal yang masih Tuhan percayakan kepada kita. Kerjakanlah dengan sepenuh hati. Mahatma Gandhi (Politikus dari India) berkata bahwa kualitas pekerjaanmulah yang akan menyenangkan Tuhan, bukan jumlahnya.


    Manusia hidup di dunia ini hanya satu kali dan singkat, maka Musa menggambarkan, “Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh, di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu.” (Mazmur 90:5-6). Jika kita menyadari bahwa hidup ini hanya sekali dan teramat singkat seharusnya kita   termotivasi mengisi hari-hari yang ada  dengan hal-hal yang positif dan berguna.

    Pepatah lama mengatakan,  “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, dan manusia mati meninggalkan nama.”  Sedangkan Alkitab  menyatakan:  “Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, …”  (Amsal 22:1).  Karena itu selagi kita masih beroleh kesempatan menikmati hidup, marilah melakukan segala tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan dengan kualitas terbaik, karena tidak selamanya pintu kesempatan itu terbuka untuk kita.  “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.”  (Pengkotbah 9:10). 

    Lalu apa yang menjadi sasaran utama hidup kita? Menjadi serupa dengan Kristus.   Bagaimana kita mencapai sasaran tersebut bila grafik kualitas hidup kita tidak menunjukkan adanya suatu peningkatan?  Untuk mencapai tingkat serupa dengan Kristus kita harus mau berubah  ke arah yang positif.

    Lalu apa yang harus kita lakukan? Hal pertama adalah mengevaluasi diri.  Salah satu unsur utama evaluasi diri adalah kejujuran.  Kendala terbesar penghambat evaluasi atau koreksi adalah keakuan yang besar, kesombongan, gengsi, kenyamanan dan keengganan mengalami perubahan itu sendiri.  Karena itu diperlukan kerendahan hati dan juga kerelaan membayar harga.

    Nah, sekarang perhatikan hidup Samuel.  “…Samuel yang muda itu, semakin besar dan semakin disukai, baik di hadapan TUHAN maupun di hadapan manusia.”  (1 Samuel 2:26), artinya Samuel tidak hanya mengalami pertumbuhan secara fisik saja, tetapi karakter dan kerohaniannya pun semakin bertumbuh sehingga hidupnya berkenan kepada Tuhan dan menjadi kesaksian yang baik bagi sesama.   Ingatlah! Kalau dulu fokus hidup kita hanya untuk kepentingan diri sendiri, sekarang kita harus punya tekad yang kuat, hidup kita harus bisa  menjadi berkat bagi keluarga dan sesama. Seperti Samuel, kita semakin disukai Tuhan dan juga manusia. GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • PELAYANAN PENDAMAIAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Sehat-sehat dan tetap semangat menjadi murid Yesus dan kita tetap semangat menjadi pembawa damai. Billy Graham berkata bahwa untuk menjadi pembawa damai, maka Anda harus mengenal Sang Pemberi Damai.

    Saudara, kata  damai  dalam bahasa Ibrani  shalom, yang memiliki arti:  sejahtera, tidak ada yang hilang, tidak ada perpecahan, sehat, kaya, bahagia dan keadaan baik.  Tuhan adalah penyelenggara damai itu sendiri.  Dengan kata lain Tuhan merupakan sumber damai itu, karena Dia adalah Raja damai  (Yesaya 9:5). 

    Sesungguhnya Allah telah menunjukkan kasih-Nya yang luar biasa kepada dunia dengan memberikan Putra-Nya yaitu Yesus Kristus,  “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16). Melalui pengorbanan Kristus di kayu salib, kita diperdamaikan dengan Allah. 

    Karena Allah telah mendamaikan kita dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan dosa dan pelanggaran kita, maka Ia pun memberikan tugas dan tanggung jawab kepada setiap kita untuk memberitakan kabar damai ini kepada dunia.  Hal ini merupakan sebuah kepercayaan yang tak ternilai harganya;  jadi sesungguhnya kita ini adalah duta-duta Tuhan di tengah dunia.

    Ada cukup banyak orang percaya yang belum menyadari bahwa dirinya menyandang predikat sebagai duta Kristus.  Sebagai duta Kristus kita memiliki tugas untuk bersaksi tentang Kristus dan karya keselamatan-Nya kepada dunia.  Inilah pelayanan yang dipercayakan Tuhan kepada kita yaitu pelayanan pendamaian.  Pelayanan pendamaian adalah mengenai bagaimana kita membawa orang lain kepada Tuhan Yesus dan membawa Tuhan Yesus kepada orang lain. 

    Melakukan pelayanan pendamaian dengan membawa orang lain mengenal Tuhan Yesus dan menghadirkan Tuhan Yesus dalam kehidupan orang lainlah yang menyenangkan hati Tuhan.  Jadi, kita tidak akan mampu menjalankan tugas pelayanan pendamaian ini bila kita sendiri tidak memiliki kehidupan seperti Kristus.  “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.”  (1 Yohanes 2:6).  Inilah sebabnya Yesus berkata,  “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.”  (Matius 5:9).

    Keberadaan orang percaya seharusnya  selalu membawa damai bagi orang lain.  Membawa damai berarti mengekspresikan karakter kasih Allah.  Bukti bahwa kita sudah menjalankan tugas pelayanan pendamaian adalah ketika hidup kita menjadi kesaksian bagi banyak orang!

    Ingatlah! Bapak Ev. Andreas Christanday ketika mendirikan Yayasan Christopherus  mencanangkan visi: “Terlaksananya Amat Agung Tuhan di seluruh dunia.”. Semoga kita sebagai Pendukung Kristus senantiasa ingat dengan visi tersebut.  Mari bersama dengan Fransiscus dari Assisi, kita berdoa: ”Tuhan, jadikan aku alat-Mu untuk membawa damai. Saat ada kebencian, biarlah aku menabur kasih.” GBU & Fam. Better days are coming. (pg).

  • KEHENDAK TUHAN Selalu Baik

    Selamat jumpa Pendukung Kristus, apa kabar? Watchman Nee (Pemimpin gereja di Tiongkok) berkata bahwa hal yang baik belum tentu kehendak Tuhan, tetapi kehendak Tuhan selalu baik. Karena itu Rasul Paulus mengingatkan kita, “Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.”  (Efesus 5:17)

    Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita diperhadapkan dengan pillihan. Kita harus mengambil keputusan: Mana yang harus kita pilih? Apa yang harus kita kerjakan? Apa yang harus kita pelajari? Apa yang harus kita beli? Dan lain sebagainya. Untuk itu kita perlu semakin peka untuk mengerti kehendak Tuhan dalam hidup ini.

    Lalu bagaimana caranya mengerti  kehendak Tuhan?  Sesungguhnya arah hidup seseorang sangat ditentukan oleh pola pikirnya!  Apa yang memenuhi pikiran kita akan menentukan arah hidup kita.  Rasul Paulus mengingatkan,  “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”  (Roma 12:2).

    Jika kita menginginkan Tuhan dan kehendak-Nya menjadi fokus dalam hidup ini maka kita harus mengisi pikiran kita dengan firman Tuhan setiap hari.  Mengapa kita harus menempatkan Tuhan dan kehendak-Nya sebagai yang terutama dalam hidup ini?  Supaya langkah hidup kita senantiasa dipimpin dan dituntun oleh Tuhan, sebab kalau kita melakukan segala sesuatu menurut kehendak sendiri tanpa melibatkan Tuhan dan tanpa mengikuti kehendak-Nya, cepat atau lambat kita pasti akan jatuh dan tersesat.  Oleh karena itu apa saja yang hendak kita rencanakan dan kerjakan, biarlah kita serahkan sepenuhnya kepada kehendak Tuhan terlebih dahulu,  “Sebenarnya kamu harus berkata: ‘Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.’”  (Yakobus 4:15). Sesungguhnya, seorang pun  tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi esok, bahkan esok mungkin tidak hadir untuk kita.

    Sebagai pengikut Kristus sudah selayaknya kita meneladani Tuhan Yesus yang menempatkan kehendak Bapa sebagai yang terutama.  “… Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku.”  (Yohanes 5:30).

    Inilah janji Tuhan kepada setiap orang yang bersungguh hati mencari Dia.  “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.”  (Matius 7:7-8).

    Ingatlah! Rencana yang terbaik adalah rencana Tuhan bagi kita. Terhadap orang yang karib, perjanjian dan kehendak-Nya diberitahukan kepada mereka.  (Mazmur 25:14). GBU & Fam. Better days are coming. (pg).

  • Tiara, Mengapa Kau Menangis?

    Tiara termangu.

    Dia berdiri di dekat pembaringan suaminya.

    Ranjang di ruang ICU yang paling jauh dari meja para dokter dan suster.

    Oleh Linda, Tantenya, dia dipeluk.

    Dirangkul. Diusap kepalanya. Sambil berbisik, “Yang kuat ya Tiara!”       

    Baru saja dia melihat perjuangan para perawat untuk menyelamatkan David, suaminya dengan  alat kejut jantung, ketika detak jantungnya berhenti. Tapi gagal.

    David akhirnya meninggal dunia.

    Sementara para perawat membereskan selang-selang  monitor, ventilator, selang makanan, infus dan  kateter  yang masih melekat di tubuh David, Tiara diajak Linda melangkah menjauhi ranjang itu. Mengurus apa-apa yang perlu ditanda tangani dan diselesaikan guna proses keluarnya jenazah David.

    Usai  tanda tangan beberapa lembar kertas, jasad David sudah siap dibawa ke kamar jenazah.

    *

    Dalam perjalanan ke ruang jenazah itulah, memori  Tiara membongkar ingatan masa lalu. David adalah cinta pertamanya sejak SMA. Dan mereka pun sepakat untuk kuliah di kota yang sama, Jakarta.

    Betapa indahnya saat itu, bukan hanya menikmati kehangatan cinta tetapi juga bersama-sama melakukan kesepakatan-kesepakatan demi masa depan mereka bersama.

    Meski  mereka belum menikah, mereka belajar mengelola keuangan bersama.

    Mengangsur rumah. Mencicil mobil. Semua untuk rencana  berkeluarga.

    Meski orangtua  termasuk orang berada, mereka pengin tidak terlalu menganggu orangtua.

    Tapi hidup memang tak bisa diduga. Tak lama dari pernikahan mereka di tahun 2007,  tepatnya setelah bayi Sammy hadir di awal tahun 2009, David kepincut dengan perempuan lain. Kelak Tiara tahu nama perempuan itu, Nia! Akhirnya mereka minggat berdua. Kabarnya saat itu ke Kalimantan. Entah di kota apa.

    Sedang Tiara  mengisi hari-harinya tetap di sini dengan air mata. Dia rawat dan besarkan Sammy  sendirian, tanpa kehadiran Papanya.

    *

    Tekanan hidup sungguh sangat besar bagi Tiara. Memang  biaya hidup tak masalah bagi Tiara, karena ditolong oleh orangtuanya, tetapi tatapan mata teman-teman, tetangga, di mal  bahkan juga di gereja  kadang membuat dia risih di hari-hari itu. Seakan mereka berkata, “Kenapa lelaki loe sampai pergi?”

    Bertahun-tahun dia  menjalani  hari-hari buruk. Yang entah tidak tahu berhentinya kapan….

    Saat itulah dia berjumpa dengan seorang  seorang guru spiritual yang baik.  Yang banyak terjun melayani  masyarakat marjinal.

    Suatu saat  guru, yang dia panggil Pak Tua itu berkata, “Tiara hidup itu  sejatinya belum tentu  sesuai yang kita pikirkan. Kalau ada orang sehat, banyak duit dan semuanya lancar  itu  katanya berhasil! Belum tentu!

    Kalau ada orang sakit, miskin, menderita katanya hidupnya gagal! Belum tentu!

    Kalau ada orang kaya, hidupnya mewah katanya diberkati Tuhan! Belum tentu!

    Kalau ada orang yang terkena musibah,  sengsara tiada henti katanya dilaknat Tuhan! Juga belum tentu!

    Di dunia ini  hanya sebagian dari perjalanan. Belum selesai.

    Keberhasilan atau kegagagalan hidup orang, baru kelihatan jelas ketika masuk dalam alam kekekalan.

    Jusru itu dalam kefanaan dunia ini, jangan buru-buru berpikir  bahwa orang yang selamanya pendosa akan jadi pendosa terus. Yang selama ini hidup benar, akan seterusnya dia  menjauhi kejahatan! Semuanya itu belum tentu.

    Jadi yakinlah Tiara atas hidupmu. Jangan berpikir kamu sedang kena murka Allah sehingga kamu menjalaninya dengan berat.

    Kamu memang menderita ditinggal suami, tapi ini bukan akhir segalanya. Di depan kita semua belum tahu!”

    “Sepertinya ini Tiara!” ujar Linda membuyarkan lamunan Tiara.

    Tangan Linda menunjuk kamar jenazah.

    Di sana sudah hadir beberapa saudara Tiara.

    Baik saudara kandung dan saudara sepupu.

    Sementara kakak paling besar dari Tiara, yang banyak mengatur semua.

    Dengan handphone-nya dia menghubungi  pelayanan jasa kematian yang akan  menolong proses kedukaan.

    Dia juga menghubungi pihak gereja.

    *

    Sementara menanti kedatangan mobil jenazah yang akan membawa tubuh David ke rumah duka, Tiara termangu kembali.

    Merenungi kehidupannya.

    Apakah karena dia flegmatik dan David kholerik, sehingga bisa terjadi pernikahan seperti ini?  

    Dia nrimo saja atas apa yang dilakukan David kepadanya.

    Ataukah karena  terlampau besarnya cinta Tiara kepada David? Ah, nggak tahulah.

    Tapi memang ternyata cinta itu buta. Atau bahkan cinta itu bodoh?

    Tiara mengingat, ketika suatu pagi di tahun 2019 kemarin, David pulang.

    Tepatnya dipulangkan oleh Nia.

    Tiara ketemu Nia.

    Entah kenapa Tiara tak ada dorongan marah atau memaki, saat Nia berkata, “Kak mohon maaf. Ini Pak David minta pulang! Badannya memang kurang sehat.

    Di tas ini, ada semua rekaman semua pemeriksaannya dan obat-obatnya!”

    Setelah Nia balik, dia bingung mau ngomong dan bersikap bagaimana kepada David.

    Sudah sepuluh tahun berpisah, tanpa kabar sama sekali.

    Wajah David kurus sekali. Dan sangat tampak tidak sehat.

    Dia buka tas dan baca dokumen-dokumen yang ada. Hasil laborat, rontgen juga obat-obat yang ada dibaca dengan teliti. Ternyata sakit David sudah parah.

    Gula darahnya  menjadi masalah pertama dan utama, lalu merembet ke ginjal, jantung dan paru. Esok harinya dia langsung membawa David ke rumah sakit.

    (Sammy bingung Mamanya pergi dengan siapa)

    Dan sejak hari itulah, David dirawat dengan intensif di rumah sakit. Diinfus!

    Pun sempat beberapa kali cuci darah.

    Yang mengejutkan, Tiara  mau  dan sempat beberapa kali memberi makan David.

    Sayang, seminggu terakhir kondisi David menurun sehingga harus masuk ICU.

    Dan hari ini dia berpulang. Hampir satu bulan dia dirawat di rumah sakit.

      Tak terasa air bening menetes dari kedua sudut mata  Tiara.

    Dalam hati, dia berkata, “Ya Tuhan kenapa Engkau hanya memberi aku kesempatan sebentar bersama David?”

    Benarlah yang menyatakan bahwa cinta sejati itu menutupi segala sesuatu.

    Menutupi kesalahan. Air mata Tiara kian deras.

    Dia mengambil tisu dan mengelapnya.

    Linda berkata kepadanya, “Tiara, mengapa kau menangis?

    David bertahun-tahun membuat derita panjangmu bersama Sammy!”

    Tiara menjawab di tengah isak tangisnya, “Karena David tetap suamiku Tante!

    Seburuk-buruknya dia, David merupakan belahan jiwaku dan Papa dari Sammy!”

    Mobil jenazah datang.

    Air mata Tiara kian deras.

    Semarang, 20 Agustus 2020

    Setio Boedi

  • Mendengar SUARA Tuhan

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Ketika kita bersaat teduh, jangan hanya kita yang berbicara kepada Tuhan, tapi berilah ruang di hati kita agar Allah Roh Kudus mendapat kesempatan dan tempat untuk berbicara kepada kita. Kita perlu terus melatih telinga hati kita untuk semakin peka mendengar  suara Tuhan.

    Aiden Wilson Tozer (penulis asal Amerika) berkata bahwa tragedi yang paling buruk di dunia adalah: Kita mengizinkan hati kita mengecil sampai tidak ada ruangan lagi kecuali hanya untuk diri kita sendiri.


    Nama Samuel berasal dari bahasa Ibrani yang berarti  “Tuhan mendengar”.  Itu merupakan ekspresi sukacita Hana karena Tuhan mengerti pergumulannya dan mengabulkan doanya.  “Ia menamai anak itu Samuel, sebab katanya: ‘Aku telah memintanya dari pada TUHAN.’”  (1 Samuel 1:20).  Samuel merupakan jawaban doa Hana yang terus-menerus dinaikkan kepada Tuhan di tengah kepedihan hatinya yang mendalam. 


    Samuel memulai pelayanannya sejak masih kecil sesuai janji ibunya untuk menyerahkan anaknya ke dalam pengasuhan imam Eli.  “Maka akupun menyerahkannya kepada TUHAN; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada TUHAN.”  (1 Samuel 1:28). 

    Sejak itulah Samuel berada di lingkungan pastori dan belajar melayani Tuhan di bawah bimbingan imam Eli.  Setiap hari Samuel muda dibimbing imam Eli untuk tugas sucinya dan dilatih belajar mendengarkan suara Tuhan. 

    Karena keterbatasan pengetahuannya, pada awalnya Samuel tidak mengenal suara yang berbicara kepadanya.  Alkitab mencatat bahwa Tuhan memanggil Samuel sebanyak tiga kali namun ia belum menanggapinya karena belum mengenali suara Tuhan.  Imam Eli terus membimbing dan mengajari Samuel bagaimana melatih kepekaan mendengar suara Tuhan.  “Pergilah tidur dan apabila Ia memanggil engkau, katakanlah: Berbicaralah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar.”  (1 Samuel 3:9).  Ketika Tuhan memanggil Samuel lagi untuk ketiga kalinya ia pun menjawab:  “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.”(1 Samuel 3:10b).

    Seiring berjalannya waktu  “… Samuel makin besar dan TUHAN menyertai dia dan tidak ada satupun dari firman-Nya itu yang dibiarkan-Nya gugur.”  (1 Samuel 3:19).  Akhirnya Tuhan memercayakan tanggung jawab pelayanan yang lebih besar kepada Samuel karena ia memiliki kepekaan mendengar suara Tuhan.

    Dalam kapasitasnya sebagai pemimpin rohani menggantikan imam Eli dengan otoritas dari Tuhan, Samuel berhasil mempersatukan bangsa Israel yang tercerai-berai karena terpukul oleh bangsa Filistin  (1 Samuel 7:3).  Keberhasilan pelayanan Samuel adalah dampak dari kepekaannya dalam mendengar suara Tuhan. 

    Ingatlah! Jangan biarkan suara hiruk pikuk dari sekeliling kita menghalangi kita untuk mendengar suara Tuhan. Sesungguhnya dengan terus berlatih mendengarkan suara Tuhan, kita dipersiapkan untuk menerima tanggung jawab yang lebih besar. GBU & Fam. Better days are coming. (pg).

  • Miliki Waktu UNTUK BERSEKUTU dengan TUHAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Sehat-sehat dan semoga kita tetap setia  membagi waktu setiap pagi untuk bersaat teduh pribadi. Aiden Wilson Tozer (Penulis asal Amerika) berkata bahwa barangsiapa yang ingin mengenal Tuhan, harus memiliki waktu untuk bersekutu dengan Dia.

    Hari ini merupakan hari keduapuluh kita menapakkan kaki di bulan Agustus 2020. Tak  terasa sudah hampir delapan bulan lamanya kita menjalani dan menikmati tahun 2020.  Masihkah kita konsisten bertekun menyediakan waktu secara pribadi untuk Tuhan di dalam doa dan merenungkan firman-Nya? Ataukah tanpa kita sadari kita telah meninggalkan jam-jam doa pribadi kita oleh karena kesibukan?

    Walaupun saat ini masih serba terbatas gerak kita,  hiruk-pikuk dunia mulai menggeliat. Nah, di tengah hiruk pikuk dunia seperti ini tentu ada begitu banyak pengaruh yang membuat kita tidak lagi bertekun di dalam Tuhan.  Pekerjaan, hobi dan aktivitas-aktivitas  lain telah menguras waktu dan tenaga kita sehingga kita pun mengabaikan persekutuan kita dengan Tuhan. 

    Mungkin ada cukup banyak orang berpikir bahwa menyediakan waktu untuk berdoa dan merenungkan firman Tuhan adalah sebuah pemborosan waktu.  Benarkah?  Tidak benar!  Justru semakin kita bertekun di dalam Tuhan hidup kita makin diperbaharui dari hari ke hari sehingga kita memiliki kehidupan yang berkualitas.  Jadi tidak ada kata sia-sia  (mubazir)  jika kita berjerih lelah dan bertekun  dalam bersaat teduh.  Alkitab dengan tegas menghimbau,  “Latihlah dirimu beribadah.  Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.”  (1 Timotius 4:7b-8).

    Bertekun di dalam doa dan merenungkan firman-Nya adalah sama seperti orang yang membangun rumahnya di atas batu,  “Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.”  (Matius 7:25).  Memiliki persekutuan yang karib dengan Tuhan merupakan fondasi yang kuat bagi kehidupan rohani kita. 

    Bagaimana jika kita mengabaikan persekutuan kita dengan Tuhan?  Sudah pasti kita tidak akan memiliki kekuatan rohani untuk menghadapi setiap tantangan dan badai kehidupan yang datangnya tanpa permisi.  Daud mengingatkan kita, “TUHAN memerintahkan kasih setia-Nya pada siang hari, dan pada malam hari aku menyanyikan nyanyian, suatu doa kepada Allah kehidupanku.”  (Mazmur 42:9).
    Di sepanjang hari Tuhan telah mencurahkan kasih setia-Nya kepada kita, maka sudah seharusnya pada malam hari  kita mempersembahkan korban syukur bagi Tuhan melalui doa kita.

    Milikilah kerinduan untuk mendekat kepada Tuhan seperti Daud.  Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?”  (Mazmur 42:2-3).  Kedekatannya dengan Tuhan adalah kunci kekuatan Daud dalam menghadapi setiap masalah, bukan karena kekuasaan yang dimilikinya sebagai raja.  Daud sadar bahwa ia tidak bisa hidup tanpa penyertaan Tuhan.  Itulah sebabnya ia memohon kepada Tuhan,  “Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!”  (Mazmur 51:13).

    Ingatlah! Jika kita meluangkan waktu untuk bersekutu dengan Tuhan, maka Dia akan memberi kemampuan, sehingga kita dapat menata hidup. Di luar Tuhan kita tidak dapat berbuat apa-apa dan kita ini bukan siapa-siapa, karena itu  “Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!”  (Mazmur 105:4). GBU & Fam. Better days are coming. (pg).