Author: Christopherus

  • Ada IMAN Ada HARAPAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Doa dan harapan saya, Saudara dalam keadaan sehat, segar, dan tetap bersemangat. Jadikan doa menjadi gaya hidup kita. Semoga kita berani berikrar: “Tidak bersaat teduh, tidak sarapan.”

    Saya yakin kita sebagai orang percaya setiap hari berdoa, minimal 5 kali sehari.  Tahukah Saudara,  ternyata berdoa bukan hanya aktivitas fisik saja, melainkan suatu perbuatan rohani juga.  Bukan hanya tindakan yang digerakkan oleh tubuh kita, melainkan juga suatu gerakan yang dilakukan dan didasari oleh roh kita.  Sebenarnya tubuh kita hanya sebatas membantu melaksanakan perbuatan roh kita;  jadi yang berdoa adalah roh kita.   Rasul Paulus menulis,  “… Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.”  (Roma 8:26)

    Sesungguhnya berdoa bukan hanya sebatas meminta atau memberi laporan terperinci tentang kebutuhan kita kepada Tuhan. Berdoa merupakan sarana mempererat hubungan kita dengan Tuhan yang didalamnya terkandung pujian, penyembahan dan ucapan syukur.  Bagaimanakah supaya doa kita berkuasa dan mampu menggerakkan hati Tuhan untuk bertindak?  Kita harus berdoa dengan iman.

    Hanya dengan iman, kita dapat berdoa dengan benar;  dan hanya dengan iman saja kita akan mengalami penggenapan janji-janji Tuhan. Yesus bersabda,  “…apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.”  (Markus 11:24).  Doa yang disertai dengan iman yang hidup membuka kesempatan bagi kita untuk mengalami mukjizat dan pertolongan dari Tuhan.  Ditegaskan pula,  “Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya.”  (Markus 11:23b).  Jadi kuncinya adalah iman!

    Selain iman, unsur lain yang tak kalah penting dalam doa adalah pengharapan.  Ini berbicara tentang ketekunan dan kesabaran kita dalam menantikan jawaban dari Tuhan,  “… dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.”  (Roma 5:4).  Iman dan pengharapan merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dan saling berkaitan satu sama lain.  Iman berarti percaya kepada Tuhan dan firman-Nya, sedangkan pengharapan berarti menantikan jawaban dan pertolongan dari Tuhan dengan tekun dan sabar.  Pengharapan inilah yang mendorong kita untuk terus-menerus berdoa siang dan malam sampai doa kita beroleh jawaban dari Tuhan (Baca Lukas 18:1-8).

    Saudara, Martin Luther King Jr. (Pendeta dan pemimpin pergerakan hak-hak sipil di AS) berkata, “Iman berani mengambil langkah pertama walaupun kita belum melihat seluruh anak tangganya.” Sedangkan Kenneth Hagin (Pendeta asal Amerika) berkata, “Iman mengubah harapan menjadi kenyataan.”  Penulis kitab Ibrani menuliskan, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat”  (Ibrani 11:1)

    Ingatlah! Tidak peduli seberapa mengkhawatirkan, mencekam dan menekan kondisi di sekitar kita saat ini, yakinlah SELALU MASIH ADA HARAPAN, JIKA KITA MEMILIKI IMAN. GBU & Fam. Better days are coming. (pg).

  • Tuhan BERKUASA Melaksanakan JANJI-NYA

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Manusia mudah berjanji, tapi juga mudah untuk melupakan apa yang pernah dia janjikan. Orang bijak berkata, “Bukanlah janji dan ucapan yang penting, yang jauh lebih berharga adanya tindakan dalam menepati semuanya.”

    Dalam masa Pandemi Covid – 19, kecemasan, kekhawatiran, dan ketakutan membayangi kita. Masih belum lengkap,  ada satu lagi yang membayangi kita yaitu kebimbangan. Sesungguhnya kebimbangan merupakan musuh dari iman.  Selama kebimbangan menguasai hati dan pikiran seseorang mustahil ia mempercayai janji Tuhan yang tertulis di Alkitab. 

    Apa saja yang seringkali mempengaruhi sikap dan reaksi kita terhadap janji Tuhan? Minimal ada 2 hal,  yang pertama keadaan kita sendiri dan yang kedua keadaan sekitar kita. Ketika kita sedang menantikan janji Tuhan, kadang keadaan kita justru tidak semakin  membaik, justru semakin memburuk.  Akhirnya kita menjadi bimbang dan ragu akan kepastian janji Tuhan.  Sementara kita melihat orang lain yang tidak hidup sungguh-sungguh di dalam Tuhan sepertinya lebih beruntung dan mendapatkan segala yang diinginkan.  Dalam keadaan seperti ini tidak jarang  kita kemudian mulai bertanya-tanya tentang janji Tuhan.

    Hari ini saya ajak Saudara untuk belajar dari Abaraham. Sebenarnya kita bisa memahami ketika Abraham menjadi bimbang ketika Tuhan berkata,  “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, …”  (Kejadian 12:2), dan  “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya. … Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.”  (Kejadian 15:5). Ketika dia mendengar janji Tuhan tersebut usianya sudah lanjut, sudah berumur 75 tahun, dan istrinya  (Sara)  juga sudah menopause, yang secara ilmu kedokteran sudah mustahil untuk memiliki keturunan.  Bagaimana respons Abraham ketika mendengar hal itu?  “… percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.”  (Kejadian 15:6).  Bahkan Sara sempat tertawa ketika mendengar janji Tuhan tentang hal itu, tetapi pada akhirnya mereka melihat janji Tuhan tersebut digenapi.  “Maka mengandunglah Sara, lalu ia melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham dalam masa tuanya, pada waktu yang telah ditetapkan, sesuai dengan firman Allah kepadanya.”  (Kejadian 21:2).

    Penantian yang dijalani Abraham bukanlah penantian yang singkat, namun butuh waktu yang cukup lama.  Kita tahu bahwa menanti adalah pekerjaan yang sangat membosankan!  Belum lagi kondisi fisiknya yang sudah menua dan melemah.  Sesungguhnya Abraham punya alasan untuk berhenti berharap, namun ia tetap memegang teguh janji Tuhan dan percaya Tuhan sanggup melakukan segala perkara dan tidak ada rencana-Nya yang gagal  (Ayub 42:2), termasuk dalam hal memberi keturunan, “Adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk TUHAN?”  (Kejadian 18:14a)

    Ingatlah! Perjalanan iman Kristen adalah sebuah proses!  Proses adalah berkenaan dengan waktu, butuh kesabaran, kesetiaan dan ketekunan.  Proses ini bertujuan untuk melatih, menguatkan dan menguji iman kita.  Orang percaya yang mampu melewati proses ini akan tampil sebagai pribadi yang berkualitas, mampu bertahan di tengah goncangan, tidak terombang-ambing oleh keadaan yang tidak menentu, membuat kita tetap fokus dalam menanti janji Tuhan, dan tetap memiliki keyakinan seperti Abraham bahwa,   “…Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.”  (Roma 4:21). GBU & Fam. Better days are coming. (pg). 

  • Kenalilah JALAN Tuhan

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Sesungguhnya setiap orang mempunyai jalan hidup sendiri. Orang bijak berkata, “Jangan pernah berharap jalan hidupmu akan seperti orang yang lain. Perjalanan hidupmu adalah sesuatu yang unik seperti dirimu.”

    Saudara, dalam hidup ini setiap hari kita berjumpa dan berurusan dengan yang namanya jalan. Coba perhatikan, untuk mencapai suatu tujuan,  hal yang paling kita butuhkan adalah jalan, sebab tanpa adanya jalan, sampai kapan pun kita tidak akan pernah mencapai tempat yang hendak kita tuju.  Begitu pula bila kita salah dalam memilih jalan,  akan berakibat sangat fatal dan tidak akan pernah membawa kita ke tempat tujuan, sebab  “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.”  (Amsal 14:12).

    Bagaimana dengan jalan Tuhan? Kadang sangat tidak mudah untuk memahami dan mengerti jalan-jalan Tuhan,  “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.”  (Yesaya 55:8-9). 

    Memang terkadang jalan-jalan Tuhan terasa berat untuk diikuti, tapi selalu ada rencana-Nya yang indah dan semua itu mendatangkan kebaikan bagi kita.  Pemazmur menyatakan,  “Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya.”  (Mazmur 25:10).  Sayang, tidak semua orang mau menempuh jalan Tuhan, mereka lebih memilih berjalan menurut pengertian dan kehendaknya sendiri.  Pikir mereka jalan Tuhan itu penuh aturan atau rambu-rambu,  “… lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.”  (Matius 7:13-14). 

    Kalau kita tidak mengenali jalan-jalan Tuhan, kita tidak akan memiliki pengalaman iman berjalan bersama-Nya.  Dengan memahami jalan-Nya kita juga akan semakin mengenal pribadi-Nya,  “Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.”  (Yesaya 43:19).

    Ingatlah! Kadang jalan Tuhan itu memang sulit untuk dimengerti dan serasa tidak masuk akal, karena itu mari bersama dengan Daud berdoa, “… sebab kepada-Mulah aku percaya! Beritahukanlah aku jalan yang harus kutempuh, …”  (Mazmur 143:8). GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • KABECIKAN GUSTI Langgeng Salaminya

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Sehat-sehat dan tetap antusias untuk menyatakan bahwa Tuhan itu baik sepanjang waktu. Kabecikan Gusti langgeng salaminya.  Memang tidak ada seorang pun manusia yang sempurna, tapi apa yang telah Tuhan berikan kepada kita, baik adanya.

    Siapa diantara kita yang belum pernah merasakan kebaikan Tuhan?  Sesungguhnya, semua yang telah kita jalani  dan alami  merupakan akumulasi kasih dan kebaikan Tuhan.  Kita tidak akan  sanggup menghitung dan mengukurnya,  “…betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus.”  (Efesus 3:18).

    Ketika di pagi hari kita dapat bangun dari tidur, itu semata-mata karena kebaikan Tuhan.  Tubuh kita sehat dan segar karena kebaikan Tuhan.  Jika kita bisa makan, minum, bekerja, terlibat dalam pelayanan, memiliki keluarga dan orang-orang dekat yang mengasihi kita, semuanya karena kebaikan Tuhan. 

    Kasih terbesar yang telah kita terima adalah keselamatan melalui pengorbanan Kristus di kayu salib. Dosa kita diampuni-Nya dan kita didamaikan dengan Bapa,   “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN,”  (Mazmur 32:1-2).  Lebih dari itu kita yang percaya kepada-Nya diangkat menjadi anak-anak-Nya.  “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;”  (Yohanes 1:12).

    Saudara, jika menyadari Tuhan sangat mengasihi kita, maka seharusnya kita mengasihi-Nya   lebih dari apa pun.  Tanda orang mengasihi Tuhan adalah kerinduannya yang besar untuk mencari hadirat-Nya lebih dari berkat-berkat-Nya,  “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?”  (Mazmur 42:2-3). 

    Nabi Yeremia membuat pengakuan,  “Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya; firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku, sebab nama-Mu telah diserukan atasku, ya TUHAN, Allah semesta alam.”  (Yeremia 15:16). 

    Ingatlah! Mari bersama dengan Pemazmur, setiap hari kita bertanya, “Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku?”  (Mazmur 116:12). GBU & Fam. Better days are coming. (pg)