Author: Christopherus

  • DIPERSIAPKAN UNTUK MENJADI ORANG YANG BERHASIL

    Nama saya Ria Pujiastuti. Biasa saya dipanggil Ria. Saya anak pertama dari 3 orang bersaudara.  Saya mau bersaksi sedikit tentang kesan saya selama tinggal di Panti Asuhan  Christopherus (PA Chp). Alasan saya dan adik saya (Nia Pujiastuti) dimasukkan ke PA Chp karena ketika saya kelas 5 SD, Mama dipanggil Tuhan setelah menderita sakit paru-paru akut dan bersamaan dengan itu  Papa kena PHK.

    Pada bulan Juni 1998 ketika musim kenaikan kelas, saya kelas 1 SMP & Nia kelas 6 SD, akhirnya kami berdua dimasukkan ke PA Chp. Saat itu saya tidak bisa menerima keadaan kenapa saya harus dimasukkan ke PA dan tidak bisa seperti anak-anak lain yang hidup bahagia bersama keluarga. Karena saking sedihnya selama 1 bulan pertama,  setiap malam sebelum tidur saya selalu menangis di tempat tidur. Waktu itu saya ingat Kak Ani yg sekamar dengan saya terus menghibur saya setiap malam dan selalu membuat cerita yang lucu-lucu supaya saya tidak sedih. Hari demi hari, bulan demi bulan berlalu dan akhirnya saya bisa merasakan bahwa PA adalah  tempat tinggal saya.

    Semua kegiatan dan pola hidup menjadi berubah total setelah saya masuk ke PA.  Setiap hari harus bangun jam 5 pagi untuk berdoa, kemudian tugas piket membersihkan halaman PA, mandi, sarapan dan kemudian berangkat sekolah. Sepulang sekolah sudah tersedia makan siang dan buah-buahan. Setelah makan siang harus tidur siang, setelah bangun di sore hari makan kue, melakukan tugas piket lagi  mandi, makan malam dan harus belajar sampai jam 9 malam. Jam 9 malam semua anak-anak harus masuk kamar & harus tidur.

    Makanan di PA semua bergizi & enak-enak, kue juga terjamin dan melimpah, baju anak-anak  juga bersih semua. Setiap pagi anak-anak makan dan minum teh manis, ke sekolah kami diberi bekal kue, kemudian makan siang ada nasi sayur lauk dan buah. Makan malam nasi, sayur, dan lauk. Jadi untuk kenyamanan, justru tinggal di PA-lah saya mendapat kenyamanan secara jasmani karena semua kebutuhan makanan yang bergizi bisa terpenuhi. Tiap awal bulan di Minggu pertama, orangtua kami diperbolehkan untuk mengunjungi kami. Kebetulan Papa dan adik laki-laki  selalu rutin berkunjung. Ketika saya menginjak kelas 3 SMP dan bisa lulus dengan nilai NEM masuk 3 besar di SMP Yohanes, Papa bangga sekali, sampai meneteskan air mata ketika melihat nilai di ijazah saya.  Saya juga bangga bisa mendapat nilai yang sangat-sangat memuaskan. Karena saya mendapat nilai yang bagus, Sr. Christine dan Sr. Margrith memberi kesempatan kepada  saya untuk melanjutkan ke  SMA yang saya harapkan. Sesuai pilihan dari Papa, akhirnya saya masuk ke SMA YSKI.  

    Pada saat  kelulusan SMP itu saya mengalami masa yang sedih  karena pada saat itu Sr Christine diminta  untuk  kembali ke Jerman. Kami semua sedih sekali seperti kehilangan seorang Ibu kandung. Setelah acara perpisahan dan  Sr Chistine sudah pulang ke Jerman, selama 1 bulan kami semua penghuni PA Chp  bersedih & tidak bersemangat. Kami  kehilangan seorang Ibu, seorang mentor dan seorang yang benar-benar  mengasihi kami. Waktu terus berputar dan satu tahun kemudian Sr. Margrit juga harus pulang ke Jerman. Setelah  Sr. Christine dan Sr. Margrit kembali ke Jerman, kami benar-benar merasa kehilangan. Tidak ada kasih sayang yang tulus yang bisa menyamai ketulusan mereka. Tapi di  sisi lain  kami juga tidak boleh egois karena banyak anak-anak dan orang lanjut usia  di Jerman juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang mereka.

    Saat awal masuk PA, saya sangat sedih, tapi seiring berjalannya waktu, saya sangat menikmati dan merasa bahagia dan bersukacita tinggal di PA. Saya bisa mengenal Sr. Christine, Sr. Margrtih, Bu Yanti, Bu Hin, Bu Lydia, Bu Topo, Pak Rudi yang saya anggap sebagai  pengganti orangtua saya. Dari merekalah saya belajar tulusnya hati seorang yang melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh. Oh  iya ketika saya sekolah  di SMA YSKI pun, Tuhan tidak pernah mempermalukan saya. Dari kelas 1 sampai  kelas 3 IPA saya selalu masuk rangking 10 besar di kelas. Bahkan ketika saya kelas 2 SMA  semester 1 saya sempat masuk rangking 5 besar.

    Oh iya selama tinggal di PA, saya belajar bercocok tanam, menjahit, menyulam kruistik & juga prakarya. Bu Yanti yang waktu itu  menggantikan Suster, sempat memberi tugas kepada saya untuk membuat 300 kartu Natal sebelum saya keluar dari PA. Saya senang bisa berkarya lewat kartu untuk dikirimkan kepada para sponsor dari Indonesia dan juga dari luar negeri.

    Jadi saya tinggal di PA selama 6 tahun. Rasanya banyak hal yang harus saya tulis di sini tentang pengalaman di PA. Banyak suka duka tinggal di PA, tapi setelah saya keluar dari PA, justru yang selalu saya ingat adalah hal-hal yang menyenangkan.

    Pesan untuk adik-adik yang masih tinggal di PA,  jangan menyerah & jangan berkecil hati atau sedih karena kalian tinggal di PA. Percayalah kehidupan di PA Chp jauh lebih asyik, lebih terjamin dam membuat adik-adik menjadi pribadi yang kuat dan disiplin. Kalian sedang dipersiapkan untuk menjadi orang yang berhasil. Nanti setelah kalian keluar dan lulus dari PA, kalian akan merasakan betapa bahagianya bisa tinggal di PA Chp.

    Berkat didikan dan pengenalan akan Tuhan di PA Chp, sampai sekarang Ria melayani anak-anak Sekolah Minggu dan sudah dua periode menjadi Ketua Komisi Sekolah Minggu di GKMI Gloria Patri. “Sungguh saya sangat bersyukur, Tuhan telah mempertemukan saya dengan James Suryadi Kurniawan, seorang suami yang cinta Tuhan, Segala puji dan kemuliaan hanya bagi Tuhan Yesus,” Ria menutup kesaksiannya. (pg/sb) 

    Ria Pujiastuti & Suami
  • BAK MELEMPAR BATU KE LAUTAN

    Nyaris Purnama

    Nyaris purnama, bulan datang di langitku.

    Memancar terang di langit yang gelap.

    Berbinar ceria bak wajah perempuan pujaanku.

    Jangan keindahan bentuk dan sinarmu membuatmu lupa diri.

    Tengoklah benda kecil yang  kelap-kelip di belakangmu.

    Bintang…, jauh… jauh sekali di angkasa, jauh dari kata pujian asmara.

    Sesungguhnya dia lebih besar darimu.

    Jangan hakimi dia hanya dari pancaran kelap-kelip cahayanya.

    Disepelekan

    “Anak kecil, masuk sana.”

    Masih terngiang di alam mayaku ucapan itu. Padahal sudah lima puluh lima tahun yang lalu.

    Seorang teman pernah menulis pernyataan   kekecewaannya, “Menyakiti seseorang itu ibarat kamu melempar batu ke lautan, gampang banget… Tapi kamu pernah berpikir nggak? Seberapa dalam batu itu akan tenggelam di lautan?”

    Jawabku: “lima puluh lima tahun++.”

    Koko dan teman-temannya sepulang sekolah singgah di rumah papa. Tertawa terbahak-bahak, rasa ingin tahuku muncul dan ikut bergabung. Seorang teman koko mengatakan “penyepéléan” itu padaku karena aku masih kecil.

    Jangan Mau Direndahkan

    Paulus menasihati Timotius yang muda, agar jangan sampai karena kemudaannya Timotius direndahkan.

    Timotius mempunyai tugas berat, menghadapi pengajar sesat. Menjadi pelayan Kristus Yesus yang  mengingatkan, memberitakan dan mengajarkan pokok-pokok iman dan ajaran sehat yang telah dihidupi Timotius selama ini.

    Lansia pun Tak Mau Direndahkan

    Saat ini aku sudah tidak muda lagi, tapi “penyepéléan” tetap masih bisa terjadi.

    Untuk itu aku akan berusaha menjadi teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataan, dalam tingkah laku, dalam kasih, dalam kesetiaan dan dalam kesucian, seperti nasihat Paulus pada Timotius yang muda, .”Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” (1 Timotius 4:12) – (Simon NHK)

    Nyaris Purnama
  • Minggu-Minggu yang Tetap Untuk Panen

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Sehat-sehat dan tetap semangat mengiring Yesus Kristus. Kita menjadi murid yang senantiasa mau taat kepada Sang Guru yang telah memberi keteladanan kepada kita tentang ketaatan.

    Saudara, takut akan Tuhan adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh setiap orang yang mengaku dirinya sebagai orang percaya. Dalam kitab Amsal 1:7 dikatakan bahwa  “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.”  Itulah sebabnya orang yang takut akan Tuhan pasti akan menjadi orang yang bijaksana, karena ia  “…mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.”  (Ibrani 5:14). 

    Wujud sikap takut akan Tuhan adalah taat melakukan kehendak-Nya, sebagaimana Kristus telah memberikan teladan bagaimana Ia taat melakukan kehendak Bapa, bahkan taat sampai mati di kayu salib.  Karena itu kita wajib mengikuti jejak-Nya yaitu hidup dalam ketaatan. 

    Kekristenan tanpa memiliki rasa takut akan Tuhan adalah sia-sia!  Hidup takut akan Tuhan adalah hidup yang penuh hormat kepada Tuhan, yang ditandai dengan rasa takut untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan firman Tuhan, sehingga dengan penuh komitmen kita mengasihi Tuhan dan menempatkan Dia sebagai yang terutama dalam hidup ini.

    Secara sepihak kita seringkali menuntut Tuhan untuk memberkati atau menggenapi janji-janji firman-Nya, tetapi kita sendiri tidak mau membayar harga.  Adakalanya Tuhan mengizinkan masalah terjadi dalam hidup kita sebagai bagian dari proses pendewasaan iman, namun tidak sedikit masalah harus kita alami sebagai akibat dari ketidaksungguhan kita dalam mengikut Tuhan atau kita tidak takut akan Tuhan.  Padahal takut akan Tuhan adalah kunci utama untuk kita mengalami berkat-berkat Tuhan. 

    Tuhan pasti akan mengerjakan bagian-Nya yaitu memberkati kita, asalkan kita juga mengerjakan bagian kita yaitu takut akan Dia.  Pemazmur menulis:  “Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati. Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap untuk selamanya.”  (Mazmur 112:1-3).

    Dikatakan pula bahwa  “Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia,”  (Mazmur 33:18)  dan  “Ia melakukan kehendak orang-orang yang takut akan Dia,”  (Mazmur 145:19).  Berkat tidak datang secara otomatis dalam hidup saat kita memutuskan untuk menjadi pengikut Kristus.  Tetapi berkat akan menjadi bagian hidup kita seiring dengan ketaatan kita dalam melakukan firman Tuhan!

    Ingatlah! Di hari-hari ini banyak orang merasa pesimis menghadapi hari esok karena melihat situasi yang semakin sulit dan serba tidak menentu.  Tetapi orang yang senantiasa takut akan Tuhan tak perlu merasa takut dan khawatir, karena keberadaan kita tidak ditentukan oleh situasi yang ada, melainkan karena kehadiran Tuhan dalam hidup ini.   “Baiklah kita takut akan TUHAN, Allah kita, yang memberi hujan pada waktunya, hujan pada awal musim maupun hujan pada akhir musim, dan yang menjamin bagi kita minggu-minggu yang tetap untuk panen.”  (Yeremia 5:24). GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • Setia Sampai Akhir

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Di saat pandemi seperti saat ini yang paling penting menjaga kesehatan rohani dan jasmani kita. Marilah kita terus setia dan disiplin menjalankan pola makan dan pola hidup. Semoga ketika Tuhan datang menjumpai kita, Tuhan menemukan kita sebagai orang yang setia.

    Saat ini mencari orang yang pandai dan berpendidikan tinggi sangat banyak, tapi untuk mencari orang yang setia, bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami, sangat sulit menemukannya.

    Saudara, Smirna  (di Turki)  adalah sebuah kota yang terkenal sangat makmur dan indah.  Di kota itu diberlakukan suatu aturan yang sangat keras,  rakyat diwajibkan untuk menyembah kaisar.  Hal tersebut untuk membuktikan kesetiaan dan loyalitas rakyat kepada pemerintahan Romawi, sampai-sampai rakyat menyerukan kaisar sebagai tuhan.  Ini menjadi suatu tantangan besar bagi para pengikut Kristus  (jemaat Tuhan)  di kota Smirna.

    Syukur kepada Tuhan, sekalipun berada dalam tekanan, jemaat di Smirna ini tetap teguh memertahankan imannya kepada Tuhan dan tidak mau berkompromi dengan dosa, mereka menolak untuk menyembah Kaisar.  Akhirnya mereka pun dianggap telah melanggar hukum, pembangkang, sehingga tidak sedikit dari mereka yang mengalami penganiayaan.  Jemaat Smirna rela mempertaruhkan nyawanya demi kebenaran dan berpendirian teguh untuk tidak menyembah kepada  kaisar.  Mereka berkomitmen untuk tetap setia mengiring Kristus sampai akhir sekalipun ada harga yang harus dibayar. 

    Dalam perjalanan kehidupan rohani, kita seringkali diperhadapkan pada tantangan yang tak beda jauh dengan jemaat di Smirna.  Tapi karena tak kuat dengan tekanan, intimidasi, aniaya, atau penderitaan, ada cukup banyak orang percaya yang menyerah di tengah jalan, memilih untuk melakukan kompromi, dan menyangkal imannya.  Padahal Tuhan telah menyediakan upah yang besar bagi setiap orang percaya yang setia sampai akhir, yaitu mahkota kehidupan.  Tuhan menginginkan kita setia, apa pun keadaannya, sampai garis akhir hidup kita.  Kita bisa meneladani Rasul Paulus yang berkomitmen,  “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”  (Filipi 1:21).

    Kata  Smirna  berarti mur, semacam damar yang pahit, tetapi baunya sangat harum dan sering dipakai sebagai bahan untuk membuat minyak wangi.  Itulah gambaran kehidupan orang percaya yang mampu bertahan sampai akhir, yang sekalipun harus diperhadapkan dengan hal-hal yang pahit  (penderitaan), tapi hidup mereka berbau harum di hadapan Tuhan, hidup yang mempermuliakan nama Tuhan. 

    Ingatlah! Tuhan minta supaya kita setia sampai akhir, dan mahkota tersedia bagi kita, “Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.”  (Wahyu 2:10b). GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • Mbabat Alas

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Dalam situasi kita masih berperang melawan pandemi virus Corona, bersyukurlah jika kita masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menikmati hari yang baru, menikmati rahmat-Nya yang selalu baru setiap pagi.

    Cukup banyak orang hanya memusatkan perhatian atau fokus kepada hal-hal yang besar saja, seringkali mereka melupakan, bahkan meremehkan dan menyepelekan hal-hal yang kecil dan sederhana. Padahal untuk bisa sampai kepada perkara-perkara yang besar, kita harus mulai dari hal-hal yang kecil.

    Untuk bisa mencapai puncak gunung, kita harus mulai pendakian dari bawah, melewati lembah, lereng, dan bukit terlebih dahulu. Ada kalimat bijak yang mengatakan bahwa perjalanan beribu-ribu mil, dimulai dari langkah pertama.

    Pengalaman hidup saya bercerita bahwa sebelum kita layak untuk menerima sebuah kepercayaan yang lebih, mau tidak mau, kita harus terlebih dahulu melewati proses dari bawah. Kita tidak bisa secara tiba-tiba berada di puncak. Ada ujian kesetiaan, ujian ketekunan, dan ujian kesabaran dalam melakukan perkara-perkara kecil. Bahkan, adakalanya kita harus melewati pengalaman pahit atau situasi yang sangat menyakitkan, namun kita tidak boleh menyerah begitu saja. Kita harus terus melangkah dan tetap mengerjakan apa yang menjadi bagian kita, tanpa ada sungut-sungut. Itu adalah modal untuk beroleh kepercayaan lebih!

    Saat paceklik seperti saat ini, bisa kita pakai untuk mencoba aktivitas, bentuk pelayanan dan atau usaha yang baru. Kita mesti mbabat alas, mulai dari nol, mulai dari bawah, mulai dari kecil-kecilan dulu. Butuh hati yang mantap untuk memulai, butuh keuletan, ketekunan, dan kesabaran. Butuh doa dan perjuangan.

    Bacaan Alkitab pada hari ini diambil dari Matius 13:32, “Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.”

    Mari kita jalani dan nikmati hidup pada hari ini dengan satu keyakinan bahwa terhadap orang yang setia,  Tuhan berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela, Tuhan berlaku tidak bercela.

    Ingatlah! Terlebih dahulu kita harus bersedia melewati proses dari bawah sebelum kita layak untuk menerima sebuah kepercayaan yang lebih, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. …” (Lukas 16:10). GBU & Fam. Better day are coming. (pg)

  • HASIL KERJA BERSAMA

    Kemarin saya sempat melihat pekerja bangunan yang sedang bekerja di sebuah kompleks perumahan.Dari pembantu tukang, tukang dan mandor tukang, berjajar rapi walau tidak sama tinggi.

    Seorang mengisi èmbèr dengan adonan, diambil seorang tukang yang lain, kemudian dia mengoperkan ke rekannya yang berdiri di tangga, diterima rekan lain lagi yang berdiri di tengah-tengah antara tanah dan tujuan akhir. Yang di atas menerima dan menuang ke lubang kolom bangunan yang nantinya akan jadi salah satu penyangga bangunan rumah.

    Bekerjasama

    Tidak akan ada adonan bila tak ada yang menyiapkan dari bahan bangunan mentah menjadi siap dipakai. Yang menyiapkan tak bisa tinggi hati, karena tanpa teman-teman perantara adonan itu tak akan sampai ke atas. Yang mengeksekusi adonan di atas, yamg menuang ke lubang kolompun tak bisa meninggikan diri. Tanpa orang bawah dan orang tengah, dia hanya akan kelelahan dan kepanasan berdiri di atas.

    Bawah, tengah, atas, tak bisa mengatakan ini hasil kerjaku, karena memang ini hasil kerja bersama.

    Aduh 

    Sementara di sudut yang  lain seorang pekerja berteriak kesakitan memegang tangannya yang berdarah. Rupanya akibat kurangnya kesepakatan diantara mereka berdua saat akan mengangkat anyaman besi untuk dirakit. Yang terjepit belum siap, yang mengangkat tanpa perasaan dengan sekuat tenaga: aduh …

    Organisasi

    Sebuah organisasi biasanya dikelola oleh  beberapa orang  yang menyandang jabatan berbeda:  Ketua, sekretaris, bendahara, anggota. Akan ada yang mengaduh jika salah seorang diantara mereka bekerja tanpa memerhatikan yang lain.

    Sebaliknya akan mencapai hasil yang baik jika berjajar rapi walau tidak sama tinggi di jabatan maupun tugasnya. Bila hasil baik tercapai, penyiap adonan maupun si pengeksekusi tak dapat meninggikan diri, karena secara keseluruhan adalah hasil kerja bersama.

    Setelah rumah jadi, pemilik akan menikmati kenyamanan rumah, menikmati pujian dari para penikmat, “wih cekli tapi bakoh,” “wih tampak gagah,” dan “wèlèh apik nemen…”

    Pekerja

    Di mana pekerjanya? Di mana yang berdarah-darah?

    Mereka telah pergi mengerjakan rumah lain lagi, siap dilupakan dan memberikan pujian pada yang memiliki.

    Demikian juga dengan sebuah organisasi.

    Pemiliknyalah yang akhirnya memiliki pujian dan kebanggaan:

    “Kerja organisasimu, apik”

    Badan Pelayanan

    Siapa yang dilayani oleh badan ini? Kepada dialah badan memberikan yang terbaik agar kepada siapa badan melayani, dialah yang mendapat pujian.

    Aku sebagai salah seorang anggota pengurus Badan Pelayanan yang melayani Penyelamat jiwaku, Tuhan Yesus. Berusaha bekerjasama dan sama-sama bekerja dengan anggota pengurus yang lain untuk mencapai pelayanan yang menyenangkan-Nya.

    Tapi aku kadang tergoda merasa lebih penting dari anggota badan yang lain, mengklaim ini hasil kerjaku dan meninggikan diri. Tapi aku kadang juga tergoda kerja serampangan dan membuat anggota pengurus yang lain berdarah-darah, sakit hati, marah, …

    Dan parahnya aku kadang juga tergoda mengambil alih pujian yang harusnya bagi Dia yang kulayani.

    Ampuni aku Juruselamat jiwaku, Tuhan Yesus. (Simon NHK)

  • STRATEGI PELAYANAN ANAK-ANAK KOS

    oleh : Simon Nugroho

    Pendahuluan

    Seorang misionari yang bekerja di Amerika Selatan menulis sebuah artikel, dia mengungkapkan ketidaksetujuannya pada strategi perkembangan gereja. Gereja tidak perlu membuat strategi pelayanan, cukup berjalan dengan bergantung pada Roh Kudus. Misionari itu bahkan mengatakan: “Teori tentang Pertumbuhan Gereja membatasi kemahakuasaan Allah dan menghalangi Roh Kudus untuk bekerja dengan leluasa”. (Peter Wagner, Strateqi Perkembangan Gereja, Gandum Mas, Malang, 1996, hal. 6.)

    Dr. Peter Wagner, pengarang buku di atas, tidak menyetujui pendapat tersebut, ia mengatakan bahwa manusia diciptakan Tuhan berbeda dengan binatang. Manusia mempunyai akal budi, binatang tidak. Akal budi adalah karunia Tuhan. Mazmur 32:9 mengatakan, “Jangan seperti kuda atau bagal yang tidak berakal”. la juga berkata :”Dengan menggunakan segenap akal budi kita dalam melakukan penginjilan, prakasa manusia bersatu dengan kehendak Ilahi. Selama hamba-hamba Tuhan mempunyai hubungan yang benar dengan Tuhan, mereka bebas untuk merencanakan strategi, sambil menggunakan metode dan tehnik penginjilan yang dianggap tepat dalam melakukan pekerjaan Tuhan..”. (Ibid, hal. 11-12)

    Anak-anak kos di jalan dr. Cipto 44 (pav.) Semarang sependapat dengan teori Dr. Peter Wagner. Dalam melaksanakan “Amanat Agung” Tuhan Yesus, mereka menerapkan strategi-strategi tertentu. Mereka bergantung pada Roh Kudus, namun juga memakai akal budinya. Strategi yang diterapkan ternyata diberkati Tuhan, sudah 35 tahun melayani, dan ternyata pelayanan itu berkembang dan berbuah-buah.

    Anak-anak Kos dan Visinya

    Siapakah yang disebut anak-anak kos itu? Mereka adalah pemuda pemudi Kristen yang waktu itu mengadakan persekutuan doa di rumah kos jalan dr. Cipto 44 (pav.) Semarang. Sebagian dari mereka berasal dari GKMI yang terbangun rohaninya akibat Bible Camp yang diadakan oleh gerejanya pada tahun 1955-1960-an; sebagian lagi non GKMI yang memang berjiwa misioner misalnya Padmawati anggota GKI dan Eliatha Suteja yang akhirnya menjadi pendeta di Gereja Isa Almasih di kota Surabaya.

    Visi anak-anak muda ini sangat jelas, yaitu melaksanakan “Amanat Agung” selagi ada kesempatan. Pemuda pemudi Kristen yang bersekutu di rumah kos itu sangat giat melayani Tuhan. Sebuah tim vokal grup terbentuk dan diberi nama : All For Christ”. Tuhan memakai kesaksian serta lagu-lagu yang dinyanyikan mereka untuk membawa beberapa orang kepada-Nya. Namun terasa kurang cukup, mereka ingin menjangkau daerah pelayanan yang lebih luas dan lebih luas lagi. “Apa yang harus kami lakukan?”, tanya mereka kepada Tuhan. Tercatat demikian:

    “Dalam bulan Agustus 1968, Tuhan memberikan inspirasi kepada kelompok doa pemuda pemudi di JIn. dr. Cipto 44 (pav). Semarang yang sedang mencari kehendak Tuhan. Bagaimana dapat memberitakan Firman Tuhan kepada khalayak banyak yang dapat izin pemerintah. Seorang anggota persekutuan mengajukan pertanyaan: :bagaimana kalau kita membangun radio siaran?” Pertanyaan itu kemudian didiskusikan dan didoakan untuk meminta kepastian dari Tuhan”. (Jikalau Bukan Tuhan, Buku HUT 25 Radio Siaran lchthus, 1994, hal. 25)

    Mukjizat terjadi di kalangan mereka. Dalam waktu dua minggu kelompok doa ini mendapat jawaban dari Tuhan; ada seorang asal Surabaya ingin menjual seperangkat alat pemancar radio seharga Rp. 60.000,- yang lengkap berikut jasa pemasangannya; apalagi pembayarannya boleh diangsur. Tuhan bekerja luar biasa, sehingga dalam bulan September, tepatnya tanggal 28 tahun 1968, mengudaralah untuk pertama kalinya siaran radio baru di kota Semarang dengan gelombang 100 meter yang diberi nama ALPHA-OMEGA. Beberapa waktu kemudian pengurus mengganti nama ALPHA-OMEGA menjadi ICHTHUS. (Ibid, hal. 25) Setelah berdirinya Radio Siaran lchthus, pelayanan kelompok doa ini tetap berlanjut, bahkan kian meluas. Untuk lebih memantapkan serta mengarahkan kegiatan agar tidak terkesan liar, mereka sepakat untuk membentuk sebuah wadah baru guna menyalurkan visi mereka, yang juga merupakan strategi pelayanan ke depan. Andreas Christanday yang waktu itu baru saja pulang dari mengikuti International Visit Exchange Program dari MCC di Amerika merupakan motor pembentukan wadah ini. Tercatat yang hadir dalam rapat 11 Januari 1971 antara lain Soendjojo, Markus Hendra Kusuma, Chrismanto Jonathan, Agus Suwantoro, Christian Nugroho, Rina, Ang Giok Ing dan Padmawati. (Kenangan Perak, Buku HUT 25 Yayasan Christopherus, hal. 24)

    Anak-anak Kos dan Strategi Pelayanannya

    Kelompok doa anak-anak kos itu memutuskan memakai strategi pelayanan dengan tiga pilar yaitu: berwadahkan yayasan, bersifat interdenominasi dan pelayanan yang holistik.

    Pilar pertama, berwadahkan Yayasan.

    Kita mengenal lembaga gereja, lalu apakah “Yayasan Kristen” itu? Yayasan Kristen disebut “para­gereja”. Secara harafiah, “para-gereja” berarti “di samping gereja”, karena kata “para” adalah kata depan bahasa Yunani yang berarti : di dekat, di samping, dari samping, berjajar dengan dan berdekatan dengan. (Charles Christano, Hubungan Yang Serasi Antara Gereja dan Organisasi Para­ Gereja, dalam Sebuah Bunga Rampai Pertumbuhan Gereja, Yayasan Andi, Yogya, 1999, hal. 132)

    Definisi Yayasan Kristen adalah: “suatu lembaga Kristiani yang memiliki sifat nirlaba, beranggotakan orang-orang Kristen yang bekerja bersama-sama di luar kontrol denominasi, untuk mencapai tujuan pelayanan tertentu”. (Charles Christano, ibid, hal. 132). Sedang Jerry White mendefinisikannya sebagai: “Setiap bentuk pelayanan rohani yang organisasinya tidak diatur atau tidak di bawah otoritas suatu jemaat lokal”. (Jerry White, Gereja dan Yayasan Penginjilan, Gandum Mas, Malang, hal. 23)

    Keuntungan berwadahkan Yayasan Penginjilan adalah birokrasi ketat yang biasanya terdapat dalam organisasi gereja dapat dihilangkan. Menjamurnya yayasan PI memerlihatkan banyaknya orang Kristen yang merasa terhambat visinya dalam melayani Tuhan oleh sebab ketatnya birokrasi di dalam gereja. Seorang tokoh yayasan mengatakan dalam karangannya : “gereja terlalu kaku berorganisasi dan kurang memberi kebebasan Roh Kudus untuk bekerja”. (Andreas Christanday, Majalah Cresendo, nomor 298, Semarang, hal. 25)

    Struktur gereja disebut struktur modalitas, yang mementingkan penggembalaan bagi jemaatnya. Struktur ini biasanya digambarkan dengan sebuah rumah tempat bernaung bagi anggota keluarga. Keakraban, persatuan, kerukunan dan pengambilan keputusan berdasarkan musyawarah menjadi prioritas di dalam gereja; hal inilah yang menjadikan birokrasi dalam gereja ketat dan kadang-kadang berbelit-belit.

    Berbeda dengan gereja, struktur Yayasan Penginjilan disebut struktur sodalitas. Struktur ini berorientasi pada penyelesaian tugas; biasanya digambarkan dengan sebuah mobil truk yang siap dipakai bekerja. Birokrasi dalam tubuh yayasan PI biasanya kendor; kadang-kadang keputusan diambil hanya dengan penggunaan telepon antar sesama pengurus. Yayasan tidak mempunyai anggota jemaat yang harus digembalakan. Sasaran utama adalah merealisasi visi.

    Keuntungan lain memakai wadah yayasan adalah pelayanan menjadi terfokus. Gereja Tuhan mempunyai tiga panggilan utama, yaitu persekutuan, pelayanan dan kesaksian. (ada anggapan “pengajaran” sebagai panggilan keempat; ada yang menganggap dalam persekutuan ada pengajaran) Namun disebabkan kompleksnya kehidupan jemaat, maka panggilan persekutuan dan pelayanan lebih diprioritaskan dalam gereja. Pelayanan pastoral menjadi pelayanan utama. Pdt. Charles Christano mengatakan : “Pelayanan gereja dapat disimpulkan sebagai pelayanan pastoral dalam arti yang seluas-luasnya. (Charles Christano, ibid, hal 135)

    Yayasan Penginjilan biasanya hanya terpanggil melaksanakan satu atau dua panggilan dari beberapa panggilan gereja. Sering ditemui yayasan yang mempunyai visi sangat tajam dan terfokus, misalnya pelayanan pada anak yatim piatu, pekabaran Injil melalui radio, dan lain-lain. Sebagai akibat melakukan pelayanan yang terfokus, pelayanan yayasan menjadi sangat efektif. Komitmen tinggi dan perhatian yang terkonsentrasi akan mendatangkan hasil maksimal.

    Beberapa yayasan memang berubah visinya. Ada yang menjadi gereja, ada yang berorientasi pada bisnis, dan sebagainya. Jerry White mengingatkan, “Yayasan-yayasan PI itu akan menjadi tidak efektif apabila mereka berkompromi dengan visi mereka. Mereka perlu mengetahui apa sebabnya mereka itu ada, dan harus sanggup menyampaikan sasaran – sasaran mereka dengan jelas. (Jerry White, ibid, hal. 157)

    Pilar kedua: bersifat interdenominasi.

    Interdenominasi atau multi aliran dipakai kelompok ini sebagai salah satu strategi pelayanannya. Yayasan Kristen interdenominasi tidak akan berpihak pada suatu aliran gereja tertentu. Sifat interdenominasi yayasan seperti ini dianggap benar, dikatakan : “Para-gereja (Yayasan Kristen) yang benar dan murni harus Interdenominasional, atau malah lebih tepat disebut Nondenominasional”. (Charles Christano, ibid, hal. 132)

    Dengan bersifat interdenominasi, tidak ada seorangpun dari anggota yayasan yang tersisih dan tertinggal, semuanya bisa berperan serta  ikut melayani. Dengan dukungan semakin banyak orang, yayasan akan menjadi semakin kuat. Dalam perkembangannya, yayasan mudah mencari pendukung dan pengurus baru yang mempunyai visi sama. Tak ada batasan dan hambatan denominasi.

    Strategi ini juga memungkinkan mereka bekerja sama dengan banyak gereja, atau bahkan dengan semua gereja. Dengan status interdenominasi diharapkan fungsi yayasan akan maksimal, akan menjadi berkat bagi sebanyak mungkin gereja.

    Perdebatan kredo atau pengakuan iman dapat diredam agar pelayanan maksimal. Kredo yang dipegang adalah kredo yang hakiki, atau pokok-pokoknya saja. Perbedaan kredo sering menyebabkan gereja-gereja tidak dapat bersatu mengabarkan Injil Kristus. Kekuatan gereja habis disedot untuk membentengi anggotanya agar tidak terpengaruh ajaran lain ataupun pindah gereja. Sangat menyedihkan, beberapa gereja harus terkoyak akibat perbedaan dalam penafsiran. Kuiper mengatakan: “Keretakan gereja amat menghambat kekuatan dan effek PI”. (A. De Kuiper, Missiologia, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1972, hal. 88)

    Pilar ketiga,pelayanan yang holistik.

    Yang dimaksud dengan pelayanan holistik adalah pelayanan menyeluruh, balk hal rohani maupun jasmani. Pelayanan ini tidak hanya memberitakan keselamatan jiwa saja, namun menolong penderitaan tubuh juga. Pada waktu Yesus Kristus masih di dunia, la melakukan misi pelayanan holistik. la mengabarkan berita keselamatan, mengusir setan; tetapi la juga memberi makan perut yang lapar, menyembuhkan orang sakit dan sebagainya.

    “Misi holistik melihat bahwa penyelamatan manusia bersifat menyeluruh, yang meliputi semua aspek kehidupan: rohani-spiritual, mental-kepribadian, fisik dan sosial. Selaras dengan misi Kristus yang datang ke dunia, bukan hanya menyelamatkan manusia secara rohani saja, tetapi meliputi kehidupan secara menyeluruh”. (Yakub Tanuwidjaya,  Buletin

    Optasia, GIA Pringgading, edisi 15, Juni 1999, hal.1)

    Dua sisi pelayanan holistik, yaitu sisi pelayanan rohaniah dan sisi pelayanan sosial tidak dapat dipisahkan. Seperti sekeping mata uang yang mempunyai duasisi, demikian juga pelayanan holistik. Aksi ini akan menjadi berkat untuk sesama manusia secara utuh dan menyeluruh.

    Sisi rohaniah adalah usaha usaha membawa manusia kepada Tuhan Yesus. Berita Injil harus disebarkan. Secara klasik G. Voetius merumuskan sisi rohaniah pelayanan Kristiani sebagai:

    1. Conversio gentilium; atau pertobatan orang-orang. lni tujuan utama.
    2. Plantatio ecclesiae: atau penanaman gereja. Di mana Injil diterima, lahirlah gereja.
    3. Gloria et manivestatio gratiae divinae; kemuliaan dan penampakan anugerah Ilahi. (A. De Kuiper, ibid, hal. 90)

    Sisi sosial merupakan wujud dari pelaksanaan perintah Yesus agar kita mengasihi sesama kita, hal ini seperti orang Samaria yang menolong sesamanya yang sedang berada dalam kesusahan. Arthur Glasser menyebut sisi sosial ini sebagai sisi amanat budaya. (Peter Wagner. ibid. hal 85)

    Ketiga pilar strategi pelayanan dipakai sejak awal oleh kelompok doa anak-anak kos dan ternyata tetap dipegang erat-erat oleh penerus kelompok itu. Masih tetap berwadahkan yayasan, masih bersifat interdenominasi serta masih melakukan pelayanan holistik.

    Buah hasil strategi pelayanan

    Siapa yang menyangka jikalau dari persekutuan doa di rumah kos Jalan dr. Cipto 44 (pav.) bisa berdiri sebuah pemancar radio dan sebuah yayasan Kristen. Mungkin juga tidak pernah ada pemuda pemudi anggota kelompok doa itu yang membayangkan bahwa strategi pelayanan mereka diberkati Tuhan seperti sekarang ini. Pemancar radio yang mereka dirikan adalah Radio Ichthus, sedangkan Yayasan yang mereka dirikan 35 tahun yang lalu adalah Yayasan Christopherus, dimana Christopherus mempunyai arti mendukung Kristus.

    Pada tanggal 3 Mei 1972 resmilah berdiri Yayasan Christopherus, dengan ditandatanganinya akta pendirian di depan notaris Rusbandy Yahya SH. Susunan pengurus pertama pada waktu itu adalah:

    Ketua 1         :        Adi Sutjipto
    Ketua 2:                Agus Suwantoro
    Sekretaris:            Markus Hendra Kusuma
    Benndahara:        Soendjojo
    Anggota:               Timotius Gunawan
    Atno Stepanas
    Fulltimer:             Andreas Christanday (Buku HUT 25 Christopherus, hal, 25)

    Yayasan Christopherus Semarang tidak didirikan oleh orang-orang kaya yang bermodal besar. Yayasan ini didirikan oleh pemuda pemudi kristen yang kebanyakan dari mereka adalah pelajar dan mahasiswa yang tidak mempunyai penghasilan sendiri sehingga belum mapan. Persembahan awal yang menjadi modal bagi pendirian yayasan ini hanya terkumpul sebesar Rp. 43.500,- (Adi Sutjipto, Panggilan Yang Tidak Pemah Berubah, Buku HUT 25 Yayasan Christopherus Semarang, hal. 20)

    Modal awal sebesar itu sangat kecil nilainya, tidak cukup untuk menyewa sebuah rumah sebagai kantor yayasan yang juga sebagai tempat tinggal fulltimer. Baru awal tahun 1973 pengurus yayasan mempunyai Dana untuk menyewa sebuah rumah di jalan Pringgading Dalam/Utara Semarang yang diperuntukan sebagai tempat tinggal fulltimer serta kantor yayasan. Rumah yang disewa itu merupakan rumah sederhana yang berdinding papan; bekas rumah perjudian dan pelacuran, sehingga murah harganya.

    Strategi pelayanan dengan tiga pilar yang dipakai Yayasan Christopherus ternyata diberkati Tuhan. Yayasan ini berkembang di Semarang, di Kudus bahkan sampai ke Tumbang Marikoi di Kalimantan Tengah. Berkembang dalam aset dan kepemilikan, tapi yang terpenting berkembang juga dalam jenis pelayanan.

    Di Semarang, Yayasan Christopherus mempunyai sebuah kantor sendiri berlantai dua di jalan Sompok Lama 62 C Semarang, di mana di dalamnya terdapat Sekolah Musik Gerejawi dan Studio Audio Visual; bangunan panti asuhan dan sebuah kapel di jalan Karangrejo Timur 11I/7 serta peralatan pelayanan yang cukup lengkap. Jikalau semula Yayasan Christopherus Semarang hanya melayani pemberitaan Firman Tuhan dan kelompok vokal, sekarang bidang pelayanan bertambah banyak, misalkan:

    1. Pelayanan Firman; khotbah, seminar, kursus, ceramahpceramah serta pelayanan lain.
    2. Persekutuan Biji Sesawi (PBS); aktivitasnya yaitu menghimpun dana untuk menunjang calon dan hamba Tuhan penuh waktu serta mendukung guru-guru agama Kristen di SD negeri.
    3. Pendidikan Musik Gerejawi, dengan kursus musik Kristen dan Chistopherus Music Ministrynya (CMM).
    4. Pelayanan Diakonia, dengan panti asuhannya serta beasiswa untuk murid-murid sekolah.
    5. Kelompok sisterhood (persaudarian Kristen)
    6. Pelayanan Media. Tiga kegiatan pokok departemen ini sekarang adalah: Production House untuk pembuatan film/sinetron Kristen, Video Layar Lebar untuk penayangan film Kristen dan Terang 2000 untuk pendistribusian VCD kristen.

    Di kota Kudus, Christopherus juga sangat berkembang dan diberkati Tuhan. Api penginjilan serta pelayanan menyala dengan kuat. Saat artikel ini ditulis, Christopherus cabang Kudus sedang berupaya untuk mempunyai tempat sendiri yang rencananya akan dipakai untuk sekretariat, tempat tinggal hamba Tuhan penuh waktu, dan sekolah musik. Doakan dan dukunglah kerinduan mereka ini.

    Di Tumbang Marikoi, Christopherus juga berhasil mendirikan cabang pelayanan. Tumbang Marikoi adalah nama sebuah desa yang sangat kecil ditepi sungai Kahayan di Kalimantan Tengah. Nama desa ini tidak tertulis di peta Indonesia, karena memang sangat terpencil. Tidak ada listrik, telpon, koran serta belum ada hubungan transport darat dengan Palangkaraya, ibu kota Kalimantan Tengah. Di kalangan saudara-saudara suku Dayak, Christopherus melayani dengan mendirikan Taman Kanak-kanak, poliklinik yang baru saja diajak bekerja sama dengan pemerintah setempat sehingga ditingkatkan menjadi puskesmas Kristen serta pelbagai pelayanan di GKE setempat. Disini Christopherus terpaksa membangun helipad atau landasan helikopter, karena agar transportasi bisa cepat harus disewa helikopter untuk menerbangkan orang maupun barang dari dan ke Palangkaraya.

    Penutup

    Betapa cepatnya perjalanan waktu. Sejak didirikiannya pada tanggal 3 Mei 1972, Yayasan Christopherus telah berusia 35 tahun. Selama itu strategi yang dipakai ternyata dapat mendukung dan mengembangan pelayanan. Yayasan Christopherus sampai sekarang tetap eksis bahkan terus bertumbuh, berkembang dan berbiak.

    Namun disadari, bahwa semua hasil perkembangan pelayanan itu hanyalah semata-mata anugerah dan pertolongan Tuhan. Betapapun hebatnya stategi manusia, apabila Tuhan tidak memberkati, semuanya sia-sia belaka. Yayasan Christopherus yang melakukan pelayanan holistik serta ingin menjadi berkat bagi banyak gereja disebabkan sifatnya yang interdenominasi memerlukan banyak dana; padahal sebagai yayasan nirlaba, Christopherus tidak mempunyai jemaat yang rutin memberikan persembahan persepuluhan ataupun kolekte. Sangat benarlah Mazmur 127: 1 yang mengatakan : “Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan Tuhan yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga”.

    Juga diinsyafi bahwa perkembangan yayasan Christopherus di Semarang, di Kudus dan di Tumbang Marikoi selama 35 tahun ini bukanlah hasil kerja satu atau dua orang saja, tetapi hasil dari banyak orang. Hasil dari orang yang terlihat, tapi juga yang mendukung dari belakang. Hasil dari yang memimpin, tapi juga dari yang mengerjakan. “Mungkin kamu yang menanam, aku yang menyiram, tetapi sebenarnya Allahlah yang menumbuhkan”, itulah yang dikatakan Firman Tuhan, Amin.

    —————————————

    Catatan: Data selain kutipan bersumber dari Bapak Samuel Wijaya.

  • Pemeliharaan Tuhan

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Sehat-sehat dan tetap semangat. Syukur kepada Tuhan, kita masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk memasuki dan menikmati hari terakhir di bulan Juli 2020.

    Hanya karena anugerah Tuhan semata, perjalanan hidup yang  penuh warna  di sepanjang bulan Juli 2020 telah mampu kita lewati dan esok kita akan memasuki hari baru di bulan Agustus 2020.  Penyertaan Tuhan di hari-hari lalu kiranya semakin meneguhkan iman kita bahwa janji firman-Nya adalah ya dan amin,  “… Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”  (Ibrani 13:5b). 

    Tuhan tidak hanya menyertai kita, tapi Ia juga memelihara hidup kita, karena Dia adalah Jehovah Jireh yaitu Tuhan yang menyediakan kebutuhan kita dan memelihara kehidupan kita seutuhnya;  tidak hanya memenuhi kebutuhan rohani tetapi juga kebutuhan jasmani, karena Dia tahu bahwa kita memerlukan keduanya.  Hanya kita harus ingat firman-Nya yang berkata,  “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”  (Matius 6:33). 

    Ketika Elia berada di sungai Kerit dalam masa kekeringan dan kelaparan, dengan cara-Nya yang ajaib Tuhan memelihara hidup nabi-Nya itu.  “Pada waktu pagi dan petang burung-burung gagak membawa roti dan daging kepadanya, dan ia minum dari sungai itu.”  (1 Raja-Raja 17:6). 

    Coba kita simak Matius 6:11, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.”  Ayat tersebut merupakan bagian dari Doa Bapa Kami. Sesungguhnya Tuhan Yesus hendak mengajarkan supaya kita tidak khawatir akan kebutuhan kita hari ini, apalagi mencemaskan apa yang akan kita butuhkan pada hari esok.  “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”  (Matius 6:34).  Ingatlah selalu kisah perjalanan hidup bangsa Israel ketika berada di padang gurun, bukankah mereka dipelihara Tuhan setiap hari dengan manna, roti dari surga yang disediakan bagi umat-Nya.

    Oleh karena itu  “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”  (Filipi 4:6).  Tuhan adalah sumber berkat, sumber segala-galanya bagi kita, maka dari itu marilah kita bergantung penuh kepada Tuhan hari demi hari.  Yakinlah, jika Tuhan sudah membuka pintu berkat bagi kita tak seorang pun dapat menutupnya.

    Ingatlah! “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!”  (Ratapan 3:22-23). GBU & Fam. Better days are coming. (pg).