Author: Christopherus

  • Dibutuhkan Kesabaran yang Tinggi

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Semoga hari ini kita sehat-sehat, semakin segar dan tetap semangat. Jack Ma, seorang pebisnis besar asal Tiongkok berkata, “Saat ini tidak tepat kalau kita berbicara tentang untung rugi, apalagi tentang mengembangkan suatu usaha. Saat ini paling tepat berbicara tentang bagaimana kita mempertahankan hidup sampai pandemi Covid – 19 berlalu.”

    Untuk bisa bertahan hidup dalam situasi yang serba tidak menentu, sulit, menekan, dan mencekam dibutuh KESABARAN yang tinggi.

    Di zaman yang serba instan dan teknologi serba canggih, orang yang sabar menjadi barang langka, sulit ditemukan.

    Saat ini, kita sulit sekali menjadi orang yang sabar. Banyak orang maunya melakukan segala sesuatu serba cepat, tanpa pikir panjang dan terburu-buru. Karena itu kepada kita semua, pembaca RH pada hari ini, Rasul Paulus menasihati, “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” (Roma 12:12)

    Apa yang dimaksud dengan sabar dalam kesesakan? Ketika kita sedang dalam masalah, kesulitan, tantangan atau beban hidup, kita tidak ber-sungut-sungut atau mengeluh. Namun kita selalu memiliki penyerahan diri penuh kepada Tuhan. Semua persoalan yang terjadi kita pasrahkan kepada Tuhan di dalam doa.

    Kita mau menunggu waktu Tuhan untuk dinyatakan bagi kita. Jadi kita tidak akan pernah mengambil jalan pintas dan menuruti kemauan kita sendiri. Sebaliknya kita akan rela dan tekun menantikan waktu Tuhan tanpa harus mempersoalkan apakah masa penantian itu cepat atau lambat.

    Untuk melewati masa kesesakan ini, belajarlah selalu mencukupkan diri dengan berkat-berkat yang ada dan tetap bersabar menantikan kuasa Tuhan dinyatakan, karena segala sesuatu indah pada waktu-Nya!

    Bacaan Alkitab pada hari ini diambil dari Roma 8:28, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”

    Marilah kita jalani dan nikmati hidup pada hari ini dengan satu keyakinan bahwa semua orang yang menantikan Tuhan takkan mendapat malu.

    Ingatlah! Dalam situasi yang sangat sulit seperti saat ini, kita perlu terus memohon kepada Tuhan agar Ia berkenan memberitahukan jalan-jalan-Nya. Mari bersama dengan raja Daud kita berdoa, “Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari.” (Mazmur 25:5) GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • Dibentuk Menjadi Manusia yang Utuh dan Seimbang

    Nama lengkap saya Kezia Jelang Surya Yuanita. Nama panggilan di Panti Asuhan  Christopherus (PA Chp) dan di rumah Nita, kalau di sekolah dan di kantor, saya dipanggil Kezia.

     Saya anak tunggal. Dititipkan di  PA Chp karena  Papa dan Mama  berpisah. Papa di Kalimantan dan Mama  bekerja sendiri di Semarang. Saya masuk PA Chp pada tahun 1988, sejak umur 5 tahun.  Banyak sekali pengalaman dan didikan yang saya dapatkan selama 9 tahun   tinggal di PA Chp.  

    Saya menerima didikan mengenai semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji dari Sr. Christine dan Sr. Margrit. Mereka tidak hanya memikirkan semuanya itu, tetapi melakukannya sebagai  bentuk teladan tindakan nyata bagi kami, anak-anak didiknya.

    Saya sangat terkesan dengan prinsip yang ditanamkan kepada anak-anak, segala sesuatu harus diawali dengan doa. PA Chp benar-benar mempersiapkan dan membentuk kami menjadi manusia yang utuh dan seimbang.

    Anak-anak di PA Chp dibudayakan untuk hidup sehat. Suster dan pengasuh sangat memerhatikan menu makan dan kesehatan kami. Semua yang disediakan harus dimakan, tidak boleh membuang makanan. Mereka juga memperhatikan hari-hari spesial bagi anak-anak (misalnya saat ulang tahun, liburan sekolah, hari raya Kristen, dan lain-lain).

    Kami diajar untuk hidup dekat dengan Tuhan, saling mengasihi dan memerhatikan, tahu sopan santun, bagaimana bersikap terhadap tamu, suster, pengasuh dan orang yang lebih tua.

    Kami juga dibentuk supaya hidup teratur, tertib dan bertanggung jawab. Anak yang besar membantu adiknya yang kecil.  Ada tugas pagi, siang, dan malam, tertib sesuai jadwal. Rincian jadwal tugas semua anak ditempel di dinding antara dapur dan kamar mandi tengah. Setiap sore belajar 1 jam (Pukul 16.30 – 17.30). Minta maaf kalau berbuat salah. Kami diberi pelajaran ketrampilan sesuai dengan bakat dan minat masing-masing,  juga diberi ketrampilan mencari solusi untuk setiap masalah.

    Selesai bermain dan memakai alat, semua harus kembali pada tempatnya semula.Loker buku dan lemari pakaian selalu harus tertata rapi.

    Kami juga diajak untuk mengingat dan peduli kepada orang lain. Kami diajak berbagi roti, susu, dan putih telur yang kami terima dengan berlimpah ke orang-orang kampung dan panti asuhan yang lain. Kami sering diajak mengunjungi panti jompo, panti pemulihan jiwa di Ungaran dan panti asuhan yang lain. Kami diminta untuk mengajak  anak-anak kampung ikut acara Gelanggang Ria, seperti Sekolah Minggu tapi diadakan pada hari Sabtu. Setiap Minggu siang makan enak, minggu malam di piring cuma ada nasi. Jadi kami hanya makan nasi dengan kecap atau garam, untuk mengingat mereka yang tidak bisa makan.

    Kami menerima uang saku bulanan, jumlah setiap anak berbeda, sesuai dengan  jatah pekerjaan dan prestasi yang dihasilkan masing-masing anak.  Selain itu ada hadiah utk anak-anak yang nilai rapornya bagus dan yang berprestasi. Tapi juga ada hukuman menulis untuk yang melanggar peraturan, sebanyak  jumlah kelasnya kali 10, misalnya kelas 5 SD, 5×10 = 50 kali; kelas 2 SMP, 8X10 = 80 kali.  Selain itu bagi anak-anak yang masih mempunyai orangtua dan tinggal di Semarang, diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing, satu tahun 2 kali  selama 1 minggu, yaitu saat liburan natal dan liburan kenaikan kelas.

    Pesan untuk adik-adik: Jangan berkecil hati, jangan merasa rendah diri, hidup kita semua berharga. Tuhan merancang hidup kita semua untuk menjadi indah. Taat pada Firman Tuhan dan pada ibu pengasuh. Cari Tuhan dengan sungguh-sungguh, sekolah yang rajin, cari uang yang halal, sabar dalam segala hal. Semua indah pada wktu-Nya.

    Pesan untuk pengasuh: Saya mendoakan, kiranya Tuhan memampukan, memberi kekuatan, sukacita, panjang sabar, penuh kasih sayang dan cinta yang tulus pada para pengurus dan Ibu-ibu pengasuh dalam melayani, mendampingi dan merawat adik-adik yang masih di PA Chp sampai saat ini. (pg/sb)

    Kezia Yuanita bersama dengan 2 orang anaknya.
  • Tidak Boleh Dilakukan Ala Kadarnya

    Nama saya Ribka Lilik. Ketika saya tinggal di Panti Asuhan  Christopherus (PA Chp) saya dipanggil Ribka, tapi kalau di rumah saya dipanggil Lilik. Saya anak ketiga dari empat orang bersaudara.

    Ayah dan ibuku berpisah setelah pernikahan mereka berjalan selama 15 tahun. Saya masih ingat benar, pada tahun 1994, Ibu membawa keempat anaknya (perempuan semua) dari Jakarta ke Semarang naik kereta api.

    Perjuangan Ibu semakin berat setelah berpisah dengan ayah, walaupun secara psikologis Ibu bebas dari ayah, tapi Ibu harus berjuang seorang diri membesarkan keempat anaknya.

    Pada tahun 1999 kakak saya yang pertama menikah. . Karena ibu kurang matang perhitungannya, maka untuk biaya pesta pernikahan kakak, ibu  harus menanggung hutang yang cukup besar. Syukur ibu bertemu dengan seorang kenalannya yang menjadi pengurus panti asuhan. Ibu diberi jalan keluar oleh temannya itu,   diminta menjadi asisten rumah tangga teman dari kenalan ibu yang tinggal di Singapura. Gaji ibu dibayar di muka untuk melunasi hutangnya. Sedangkan saya dan adik saya (Ester Marlina) dititipkan di PA Chp,

    Pada awalnya kami sangat sedih ketika harus tinggal di Panti Asuhan,karena harus berpisah dengan Ibu yang sangat kami sayangi, biasanya susah senang kami bersama.  Namun, inilah jalan yang Tuhan bukakan untuk menolong kami.  

    PA Chp sangat   mengedepankan disiplinan dan pendidikan. Di sinilah saya terus dibentuk, saya justru semakin berprestasi. Saya semakin menyadari bahwa untuk meraih masa depan, saya harus belajar dengan sungguh-sungguh, meraih prestasi setinggi-tingginya. Setelah 2  tahun lamanya kami tinggal di PA Chp, saya pun lulus SMK dengan nilai yang sangat memuaskan, kedua terbaik saat itu.

    Di PA Chp  saya disadarkan bahwa untuk berhasil, kita harus berdoa dan berjuang dengan sungguh-sungguh, segala sesuatu tidak boleh dilakukan dengan ala kadarnya. Saya bersyukur di PA Chp saya mendapatkan 1 (satu) ruang belajar bersama dengan Mbak Ruth yang mempunyai jiwa misi yang sangat tinggi. Saya tidak hanya mendapatkan kesempatan intensif untuk belajar, tetapi juga bersekutu dengan Tuhan bersama-sama dengan Mbak Ruth. Saya diubahkan Tuhan di tempat ini, saya menemukan bahwa Tuhan tidak sekadar ada di Alkitab atau nyanyian semata. Saya menemukan Tuhan melalui kesaksian hidup yang saya lihat melalui Sr Christine, Sr Margrit, Sr Puryati dan semua Ibu pengasuh di PA Chp. Walaupun sakit saat saya dibentuk oleh mereka, ketika menemukan bahwa saya salah dalam berbagai hal kedisiplinan dan kejujuran. Selain itu, semangat mereka melayani membuat saya terpanggil untuk melayani Tuhan dan memakai hidup saya untuk kemuliaan Tuhan.

    Setelah saya lulus SMK, adik masih di Panti Asuhan, sedangkan saya yang duduk di bangku kuliah diperbolehkan tinggal diluar di Kos. Kakak kedua saya yang ada di Jakarta sudah bekerja dan sangat ingin keluarga kami bisa berkumpul kembali bagaimanapun keadaannya. Rumah yang kami tinggalkan selama 6 tahun sangat buruk keadaannya. Saat saya kuliah semester 3, tahun 2003, saya memutuskan untuk bisa bersama-sama dengan Ibu kembali. Adik diambil dari PA yang saat itu sudah kelas 2 SMP. Dengan penuh perjuangan dan anugerah dari Tuhan kami menata kembali rumah kami yang rusak. Saya bekerja sambil kuliah dan uangnya kami kumpulkan untuk membetulkan rumah seadanya. Bila perlu saya ikutan jadi tukang tak apa. Syukurlah saya tetap bisa kuliah sambil bekerja di toko meubel meski harus angkat-angkat kasur tiap buka toko dan tutup toko. Yang terpenting pemilik toko memperbolehkan saya bekerja sambil kuliah. Saya juga bersyukur, bisa bekerja sebagai asisten dosen di Perguruan Tinggi, karena dosen sangat puas dengan prestasi saya.

    Dengan kemurahan Tuhan, saya bersyukur bisa dipertemukan kembali dengan Ayah. Meskipun keadaan Ayah saya sudah lemah karena stroke, hanya sedikit-sedikit bisa mengenal saya. Yang menjadi masalah adalah Ibu saya yang belum bisa menerima Ayah. Kami anak-anak berdoa tak henti-hentinya agar Ibu saya dapat menerima Ayah kembali ke rumah. Tahun 2004, Suatu anugerah Ibu mau menerima Ayah yang  menderita stroke.  Ayah kembali ke rumah kecil kami satu-satunya yang masih kami miliki. Kami bersyukur, pengampunan terjadi dan Ayah meninggal 2,5 bulan setelah kami berkumpul bersama serumah.

    Saya akhirnya lulus sebagai lulusan terbaik. Pada tahun  2006 saya menikah  dengan Suhaji dan 3 tahun kemudian saya diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil. Saat ini kami dikaruniai Tuhan dua orang anak, Obed dan Elzi.  

    Kami tidak pernah menyangka jalan kami akan menjadi seperti ini, sepertinya masa depan suram, tapi ternyata Tuhan terus membentuk kami. Saya semakin meyakini waktu Tuhan selalu indah pada waktu-Nya.

    Perjuangan saya belum berakhir, harus terus berjuang sampai dengan Tuhan memanggil saya kembali. Perjuangan iman dalam bekerja, mengasuh dan mendidik anak-anak untuk menjadi alat Tuhan Yesus selama hidupnya. Semua merupakan perjuangan saya untuk dapat hidup menyenangkan hati Tuhan. (pg/sb)

    Ribka Lilik bersama suami dan 2 orang anak mereka.
  • Hidup adalah KESEMPATAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Tuhan menyapa kita dengan pagi hari. Cerita kita bermula  dari pagi hari. Kesempatan baru juga dibukakan Tuhan di pagi hari. Karena itu nikmati pagi hari bersama Tuhan, jangan kita sia-siakan. 


    Ada ungkapan yang menyatakan bahwa kesempatan tidak datang untuk kedua kalinya.  Oleh karena itu jangan pernah sia-siakan setiap kesempatan yang ada.  Dalam perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah (Lukas 13:6-9), dikatakan sudah tiga tahun lamanya si pemilik kebun mencari buah pada pohon ara itu, namun ia tidak mendapatkannya.  Lalu si pengurus kebun meminta kepada pemilik kebun untuk diberi kesempatan setahun lagi;  “…aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!”  (ayat 8-9).  Ini berbicara tentang sebuah kesempatan!

    Dalam hidup kita menjumpai ada banyak kesempatan.  Dengan kata lain hidup ini adalah sebuah kesempatan.  Pertanyaannya:  bagaimana agar kita dapat melihat kesempatan itu dan menggunakannya dengan baik?  Orang-orang yang berhasil dalam bidang apa pun yang ditekuninya adalah mereka yang mampu menangkap setiap kesempatan yang menghampiri hidupnya.  Bukan berarti mereka tidak pernah gagal, tapi mereka mampu menjadikan kegagalan sebagai kesempatan untuk belajar, berbenah dan memperbaiki diri.  Sebaliknya ada banyak orang yang hidup dalam kegagalan demi kegagalan oleh karena telah menyia-nyiakan dan membuang kesempatan yang datang dalam hidupnya.

    Sesungguhnya semua orang mempunyai kesempatan yang sama, yang membedakan antara yang satu dengan yang lain adalah apakah dia bisa menggunakan kesempatan dalam hidup ini dengan baik, ataukah justru menyia-nyiakannya.  Maka penulis kitab Pengkhotbah mengingatkan kita  “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.”  (Pengkhotbah 9:10). 

    Selagi ada waktu dan kesempatan, selagi kita masih diberi nafas hidup oleh Tuhan, mari kita kerjakan segala sesuatu yang Tuhan sudah percayakan dalam bidang apa pun  (pelayanan, pekerjaan, studi, bisnis, dan lain sebagainya)  dengan  sungguh-sungguh, sepenuh hati,  tidak setengah-setengah, dengan segenap daya upaya.

    Ingatlah ! Tugas kita menemukan kesempatan dalam setiap situasi yang ada, sebab jika hidup ini berakhir tidak ada lagi kesempatan untuk bertobat.  Sesudah mati tidak ada lagi kesempatan untuk berbuat baik bagi diri sendiri dan sesama. GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • Bahan Baku Terjadinya Mukjizat

    Selamat jumpa Para Pendukung Kristus, apa kabar? Kesehatan adalah harta terpenting dari kehidupan, karena segala aktivitas kita hanya bisa dilakukan ketika kondisi tubuh kita sehat. Cara termudah untuk menjaga kebugaran tubuh kita dan mencegah supaya tidak mudah terserang penyakit adalah dengan menjaga pola makan dan pola hidup kita.

    Saudara, cukup banyak orang pandangannya hanya terfokus atau tertuju kepada hal-hal yang lahiriah saja.  Akibatnya karena hanya memusatkan perhatian terhadap hal-hal yang kelihatan saja, mereka mudah sekali tawar hati.  Tawar hati adalah ungkapan yang menyatakan suatu keadaan seseorang yang sedang tidak bersemangat, tak ada kemauan atau motivasi lagi, mudah cemas dan khawatir, tidak lagi antusias, hilang keberanian, dan mudah kecewa.

    Mengamati dan merasakan tubuh lahiriahnya semakin merosot, orang menjadi tawar hati.  Padahal tubuh jasmani  semakin hari semakin merosot adalah fakta yang tak bisa kita hindari dan pungkiri.  Bagaimanapun juga semakin bertambahnya usia seseorang, semakin tua, maka fisik pun semakin melemah.  Tak ada obat atau cara untuk menghambat menjadi tua atau bertahan agar tetap awet muda.  Tidak sedikit orang menjadi stres karena takut menjadi tua, takut fisiknya tidak bagus lagi, karena itu mereka berusaha sedemikian rupa untuk memermak tubuhnya dengan cara oplas sana sini. 

    Rasul Paulus tidak tawar hati sekalipun tubuh lahiriahnya semakin merosot, “Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.”  (2 Korintus 4:16),   karena ia sadar bahwa manusia itu berasal dari debu  (Kejadian 2:7).  Pada saatnya manusia akan kembali kepada debu.  “…sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.”  (Kejadian 3:19).

    Hal berikut yang menguatkan Rasul Paulus, sekalipun manusia lahiriahnya merosot, manusia batiniahnya diperbaharui dari hari ke sehari.  Ada kebenaran di sini:  ada manusia lahiriah dan batiniah;  ada yang kelihatan dan tak kelihatan.  Manusia lahiriah atau yang kelihatan sifatnya hanya sementara, akan kembali kepada debu.  Tetapi manusia batiniah itu kekal dan akan membawa kita bertemu Tuhan. 

    Alkitab menyatakan bahwa pada saat kedatangan Kristus kelak, orang percaya akan hidup dengan tubuh yang sudah dibangkitkan dan dimuliakan.  “Demikianlah pula halnya dengan kebangkitan orang mati. Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan. Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan. Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah.”  (1 Korintus 15:42-44).

    Yang kelihatan juga berbicara tentang masalah dan penderitaan hidup yang kita alami.  Masalah dan penderitaan seringkali membuat kita mudah tawar hati.  Rasul Paulus tidak tawar hati sekalipun ia harus mengalami penderitaan dan masalah yang berat dalam hidupnya  (2 Korintus 11:23-28), karena ia percaya akan janji Tuhan, bahwa di balik penderitaan yang kelihatan ini ada sesuatu yang tidak kelihatan, yaitu kemuliaan.  “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.”  (Roma 8:18).  Ingatlah! Di balik masalah ada rencana Tuhan yang indah, karena masalah adalah  bahan baku  terjadinya mukjizat! GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • Jalan Keteladanan itu Dekat dan Efektif

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Sehat-sehat dan tetap semangat menyambut sang mentari pagi yang setia menyapa kita dengan ramahnya. Bersyukurlah untuk anak-anak dan cucu-cucu yang Tuhan titipkan kepada kita.

    Mira Widjaja (Novelis) berkata bahwa mendidik anak bukan dengan segebung nasihat dan larangan, tapi dengan teladan dan penuh pengertian. Ada tugas dan panggilan yang diberikan Tuhan kepada setiap orangtua dalam memersiapkan generasi penerusnya.  Tugas dan panggilan itu adalah memberikan teladan hidup bagi anak-anak dan cucu-cucunya melalui kehidupan sehari-hari. 

    Jadi orangtua haruslah bisa menjadi teladan dan panutan bagi anak-anak dan cucu-cucunya.  Menjadi teladan berarti memberi nilai atau dampak yang bisa dirasakan anak-anak dan cucu-cucunya.  Pada taraf ini orangtua bisa berkata,  “…turutilah teladanku!”  (1 Korintus 4:16). 

    Orangtua harus menjadi teladan dalam hal berbuat baik.  Orangtua harus bisa mengajarkan kepada anak-anak dan cucu-cucunya  bagaimana melakukan kebaikan kepada semua orang.  Berbuat baik di sini bukan semata-mata berbicara tentang pemberian materi, tetapi termasuk juga perhatian, waktu dan tenaga, yang dikorbankan bagi orang lain yang sedang membutuhkan.  “Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.”  (Amsal 3:27).  

    Orangtua harus menjadi teladan dalam hal pengajaran.  Inilah tugas terpenting yang tidak boleh dilupakan oleh orangtua yaitu mengajarkan kebenaran firman Tuhan kepada anak-anak dan cucu-cucunya.  Betapa banyak orangtua yang lalai menjalankan tugas ini karena mereka lebih memprioritaskan pemenuhan kebutuhan materi  (jasmani)  untuk anak-anaknya, daripada memenuhi kebutuhan rohaninya, yaitu mengajarkan firman Tuhan kepada anak-anak dan cucu-cucunya, sebagaimana yang Tuhan perintahkan,  “Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun;” (Ulangan 11:19).

    Orangtua tidak bisa menuntut anak-anak dan cucu-cucunya untuk berubah jika mereka sendiri tidak menunjukkan perubahan hidup.  Wujud dari apa yang diajarkan orangtua adalah keteladanan.  Karena itu orangtua harus berhati-hati dalam setiap perkataan dan perbuatannya, sebab anak-anak dan cucu-cucu memperhatikan apa yang dilihatnya setiap hari.

    Ingatlah! Orang dapat meragukan apa yang Saudara katakan, tetapi mereka akan memercayai apa yang Saudara lakukan. Seneca (filsuf dan negarawan) berkata, “Manusia lebih cenderung memercayai matanya, dibanding dengan telinganya. Jalan dari peraturan itu panjang dan membosankan, tetapi jalan dari keteladanan itu dekat dan efektif. GBU & Fam. Better days are coming. (pg)