Gambaran apa yang muncul dalam pikiran kita saat kita berpikir tentang kata “damai”? Apakah kita pun berdoa bagi perdamaian di dalam kota kita?
Mazmur 122 ini ditulis oleh raja Daud bagi perdamaian kota Yerusalem. Ia juga memerintah Kerajaan Israel dari kota Yerusalem. Ia memahami bahwa banyak orang mencintai kota Yerusalem. Hingga hari ini, orang-orang percaya tetap berdoa buat perdamaian di kota Yerusalem dan sekitarnya di tengah-tengah konflik politik-budaya-ekonomi-ras yang tak berkesudahan.
Ayat 2 berbunyi, “Sekarang kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem”. Mazmur ini berbicara banyak tentang kota Yerusalem. Ini disebut tiga kali di sini: ayat 2, 3, dan 6. Ayat-ayat ini menjelaskan bahwa orang-orang mencintai kota Yerusalem. Mereka mencintai Yerusalem, sebab kota itu kota suci, dan rumah Tuhan terletak di sana.
Yerusalem dinamai tempat terhormat, karena tahta (pemerintahan) raja Daud berada di situ. Juga disebut sebagai tempat yang bahagia, karena suku-suku bangsa berada di sana untuk merayakan kebesaran dan kebaikan Allah.
Kota Yerusalem adalah kota sangat penting dalam Alkitab dan juga bagi Allah (bdng. KPR 1:8). Bagaimanapun, kota Yerusalem telah banyak menginspirasi orang Kristen di daratan Cina untuk melakukan gerakan misioner Back to Jerusalem. Ide dari gerakan ini mulanya muncul pada tahun 1920-an oleh gereja Jesus Family di provinsi Shandong. Gerakan ini bersifat injili dan bermaksud mengirim minimum 100.000 misionaris ke orang-orang Buddhis, Hindu, dan Muslim yang tinggal di wilayah-wilayah antara Cina dan Yerusalem.
Mazmur 122:6 berkata, “Berdoalah untuk kesejahteraan Yerusalem: “Biarlah orang-orang yang mencintaimu mendapat sentosa”. Dalam konteks ini, kata perdamaian diartikan “kesejahteraan”. Disini, konteks perbincangan kita mengacu pada kata perdamaian. Kata ini dipakai sebanyak tiga kali (ayat 6, 7, 8).
Perdamaian yang diupayakan dalam ketiga ayat ini lebih besar daripada ketiadaan konflik. Perdamaian di sini meliputi keutuhan, kesehatan, keadilan, kebaikan, dan perlindungan.
Dunia tidak mampu memberikan perdamaian semacam ini. Perdamaian sejati berasal dari iman dalam Allah, karena Ia sendiri mewujudkan seluruh karakter perdamaian. Sebab itu, kita mesti mengalami perdamaian bersama Allah sebelum menemukan perdamaian hati-pikiran dan perdamaian dengan orang lain.
Tuhan Yesus juga mengutip ayat 6 ini tentang Yerusalem dalam injil Lukas 19:28 dan 42-44. Marilah kita memilih doa perdamaian sebagaimana kita menjadi saksi Yesus bagi orang lain di tengah-tengah tantangan maupun situasi sesulit apapun. (Petrus E. Handoyo/pg).
*****
Leave a Reply