
Author: Christopherus
-
Bertandinglah dalam PERTANDINGAN IMAN
Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Hidup kita merupakan sebuah perjalanan, maka orang bijak memberi nasihat agar kita menetapkan tujuannya dan mengambil langkah yang diperlukan untuk mencapainya. Selanjutnya kita perlu memerhatikan nasihat Rasul Paulus kepada anak rohaninya, “Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi.” (1 Timotius 6:12)
Saudara, sangat menarik, Rasul Paulus menggambarkan perjalanan hidup orang percaya dalam mengiring Kristus sebagai sebuah pertandingan. Bak seorang pelari yang sedang berjuang dalam suatu kejuaraan olahraga demi memperebutkan sebuah medali. Perjalanan hidup Paulus sendiri, sebagai hamba Tuhan, merupakan sebuah pertandingan yang sangat berat dan keras.
Paulus sebagai seorang pemberita Injil, di sepanjang perjalanan hidupnya, dia harus menghadapi berbagai ujian dan tantangan yang tak mudah: siksaan, bencana, berbagai ancaman, kesukaran, penderitaan, dan bahaya, mewarnai perjalanan hidupnya. Sekalipun dia harus membayar harganya begitu mahal, tak sedikit pun terbersit dalam benak Paulus untuk mundur atau menyerah dalam melayani Tuhan dan sesama. Dia terus berjuang: “Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat.” (2 Timotius 4:6). Luar biasa, Rasul Paulus mampu menyelesaikan pertandingan sampai garis akhir. (2 Timotius 4:7).
Saudara, Rasul Paulus mengingatkan bahwa berjerih payah untuk melayani Tuhan itu tidak pernah sia-sia, Tuhan selalu memperhitungkan, “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” (1 Korintus 15:58)Bagi setiap orang yang mampu menyelesaikan pertandingan sampai garis akhir, Tuhan akan anugerahkan mahkota kebenaran kepadanya, “Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.” (2 Timotius 4:8)
Saudara, garis akhir pertandingan iman adalah akhir hidup kita, jadi teruslah berjuang! Jangan putus asa. Jangan berhenti di tengah jalan. Teruslah berjalan bersama Tuhan sampai ujung jalan. Perhatikankanlah tekad David Livingstone (Misionaris asal Britania Raya dan melayani di Afrika), “Saya memutuskan untuk tidak berhenti sampai saya mencapai garis akhir dan mendapatkan tujuan saya.”Ingatlah! Jika Saudara mulai lemah dan hampir putus asa untuk melanjutkan pertandingan iman, ingatlah baik-baik janji Tuhan berikut ini, “Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya.” (Wahyu 3:21). Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg)
-
Berfokus pada Apa yang Kita Miliki
Di dalam Kisah Para Rasul 2, para rasul dan orang-orang percaya dipenuhi oleh Roh Kudus. Mereka berbicara dalam bahasa-bahasa yang berbeda. Di samping itu, para rasul juga mengadakan banyak mukjizat dan tanda (2:43). Bacaan Alkitab dalam Kisah Para Rasul 3: 1-10 memaparkan satu mukjizat yang sudah mereka lakukan. Banyak orang telah menyaksikannya.
Ayat 2 menjelaskan tentang seorang lelaki yang lumpuh sejak lahirnya. Ia menjadi pengemis dekat pintu masuk Bait Allah. Baik orang sakit maupun orang miskin seringkali menunggu di pintu masuk itu. Apa tujuan mereka menunggu dekat pintu masuk Bait Allah? Mereka meminta sedekah atau uang dari para pengunjung Bait Allah. Barangkali para pengunjung itu bersikap lebih murah hati ketika mereka hendak beribadah kepada Allah.
Saat tiba di pintu gerbang Bait Allah, rasul Petrus menatap langsung kepada lelaki lumpuh itu. Lalu, sang lelaki menatap kembali rasul Petrus dengan harapan bahwa ia akan mendapatkan uang darinya (ayat 4-5).
Ayat 6 berbunyi, “Tetapi Petrus berkata: “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!” Dalam ayat ini, rasul Petrus memberikan kepada lelaki lumpuh itu sesuatu yang lebih baik bagi hidupnya. Yaitu, rasul Petrus menyembuhkannya dalam nama Yesus Kristus. Ini artinya, rasul Petrus menyembuhkan lelaki lumpuh itu dengan kuasa dan otoritas Yesus Kristus sendiri. Ini pun berarti lelaki itu mengalami perubahan/transformasi hidup yang besar.
Lelaki lumpuh tersebut menginginkan uang dari rasul Petrus dan rasul Yohanes. Tetapi, dengan kejutan yang besar rasul Petrus memberikan kepadanya apa yang lelaki lumpuh itu betul-betul butuhkan. Yakni, pemulihan kedua kakinya. Lutut dan pergelangan kakinya kini menjadi kuat. Terlebih itu, ia memiliki iman untuk sembuh (bdng. ayat 16).
Mari kita lihat ayat 6 lagi, “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu”. Di sini, rasul Petrus tidak berkata kepada lelaki lumpuh itu, “Aku tidak memiliki sesuatu”. Namun, rasul Petrus sungguh-sungguh berkata padanya, “Aku memiliki sesuatu bagimu”. Itulah mukjizat kesembuhan bagi lelaki lumpuh tersebut.
Begitu sering, Allah meminta kita untuk memberikan dari apa yang kita miliki, bukan dari apa yang tidak kita miliki. Allah selalu berkenan dengan apa yang kita miliki, yang hendak kita persembahkan atau berikan kepada-Nya sebagai ucapan syukur untuk mendukung pelayanan-Nya (bdng. 2 Korintus 8:12).
Sekarang, apa yang kita miliki untuk diberikan kepada Allah? Jangan pernah kita mengatakan, “Aku tidak punya apa-apa, Tuhan”. Kita harus mengatakan, “Aku betul-betul memiliki sesuatu untuk kupersembahkan pada-Mu, Tuhan”. Mungkin kita bisa memakai kemampuan kita, waktu, karunia, nilai-nilai, komitmen, pengalaman, bakat/talenta, kesetiaan, tenaga, keuangan, maupun hidup kita dalam melayani Tuhan Yesus atau terlibat dalam pelayanan/dukungan sekecil apapun dan di manapun. Tuhan Yesus senantiasa berkenan dengan apa yang kita miliki dan mau memberkatinya.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering merasa kecewa dan kurang bahagia ketika kita menghadapi kesulitan-kesulitan. Mengapa kita merasa kurang bahagia? Sebab, kita sering berfokus pada apa yang tidak kita miliki. Keinginan di dalam diri kita lebih besar daripada hal-hal yang ada di luar kita (bdng. Yakobus 1:14-15). Kita seharusnya berfokus pada apa yang kita miliki di sini dan kini.
Dalam kegembiraannya, bekas pengemis lumpuh itu kini mulai melompat dan berjalan kian ke mari. Di sini, hal yang indah adalah ketika lelaki itu juga memuji Allah. Ungkapan sukacita dan pujiannya kepada Allah juga menjadi suatu kesaksian manis bagi orang-orang di sekitarnya. Dan, orang-orang itu pun takjub dengan kuasa Allah (KPR 3:10).
Juga, kita harus ingat untuk memuji Allah atas pemeliharaan dan perlindungan-Nya. Mengapa? Karena, hanya orang-orang yang mengucap syukur mampu bertumbuh dalam pemahaman anugerah Allah. Satu lagi, kita seharusnya tidak lupa untuk berterima kasih kepada orang-orang yang sudah membantu kita di tengah-tengah kesulitan hidup.
Marilah kita berfokus pada apa yang kita miliki sebagaimana kita mengikuti Tuhan Yesus dan juga menjadi saksi-Nya bagi orang lain. Tuhan memberkati kita. (Petrus E. Handoyo/pg).
******
-
Menetap dalam KEBAHAGIAAN
Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat dan bahagia. Orang bijak mengingatkan kita, “Tuhan ingin kita bahagia. Jangan ada orang atau apa pun yang membuat kita melupakan hal itu.” Mari kita perhatikan baik-baik janji Tuhan yang disampaikan melalui Daud, “Siapakah orang yang takut akan TUHAN? Kepadanya TUHAN menunjukkan jalan yang harus dipilihnya. Orang itu sendiri akan menetap dalam kebahagiaan dan anak cucunya akan mewarisi bumi.” (Mazmur 25:12-13)
Andar Ismael (Pendeta dan penulis asal Indonesia) berkata, “Kebahagiaan adalah ibarat kupu-kupu. Kalau kita mengejarnya, kupu-kupu itu pasti terbang dan cepat-cepat pergi. Tetapi bila kita tenang dan berdiam diri, kupu-kupu itu malah akan hinggap. Demikian pula dengan kebahagiaan.”
Saudara, mungkin ada cukup banyak orang yang membangun kebahagiaan hidupnya berlandaskan materi atau kekayaan duniawi. Mereka berpendapat bahwa memiliki kekayaan yang berlimpah berarti kebahagiaan pasti bisa diraih. Jika memiliki uang dan harta yang berlimpah, maka akan dapat melakukan apa saja sesuai dengan yang mereka inginkan. Akibatnya hidup mereka hanya tertuju pada uang dan kekayaan. Pikiran mereka hanya terfokus pada bagaimana caranya dapat mengumpulkan uang dan kekayaan sebanyak-banyaknya. Benarkah uang dan materi merupakan sumber kebahagiaan bagi manusia?
Sesungguhnya tidak ada kebahagiaan sejati di dunia ini! Sebab kebahagiaan yang dunia tawarkan adalah semu, tidak abadi. Sekalipun memiliki segalanya (uang, harta, popularitas, kedudukan dan kekuasaan), tidak menjamin seseorang hidup bahagia. Bukankah sering kita baca dan dengar berita, ada banyak pesohor yang punya segalanya, tapi mengalami frustasi dan depresi, hidup mereka berantakan. Mereka merasakan kehampaan dalam hidup, ada sesuatu yang kosong.Saudara ingin menemukan kebahagiaan sejati? Carilah Tuhan dengan segenap hati, dan hiduplah seturut dengan kehendak-Nya. Sebab bila kita hidup menyimpang dari jalan-jalan Tuhan, kita akan terpisah dari Dia, itu artinya hidup kita akan semakin jauh dari sumber kebahagiaan. Dosalah yang membuat manusia kehilangan kebahagiaan, seperti manusia pertama yang harus terusir dari taman Eden oleh karena ketidaktaatannya (Kejadian 3).
Jadi siapa pun yang ingin mengalami dan menikmati kebahagiaan dalam hidupnya, tidak ada jalan lain selain harus datang kepada Tuhan dan punya hati yang takut akan Dia, “… orang yang takut akan Allah akan beroleh kebahagiaan, sebab mereka takut terhadap hadirat-Nya.” (Pengkhotbah 8:12). Firman Tuhan adalah kebenaran yang akan menuntun kita untuk menemukan jalan kebahagiaan itu, “… dan ikutilah seluruh jalan yang Kuperintahkan kepadamu, supaya kamu berbahagia!” (Yeremia 7:23).
Ingatlah! Dale Carnegie (Penulis dan motivator asal Amerika) berkata, “Kebahagiaan tidak tergantung dari keadaan di luar kita, melainkan tergantung dari sikap mental kita.” Mari perhatikan baik-baik kesaksian Daud, “Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.” (Mazmur 16:11). Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg) -
PENYEMBAHAN
Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh pengharapan. Di masa pandemi Covid – 19, masalah dan kekhawatiran lebih rajin menyambangi kita. Karena itu perhatikanlah nasihat orang bijak, “Ubahlah kekhawatiran saudara menjadi penyembahan dan saudara akan melihat masalah saudara dari terang Tuhan.”
Rick Warren (Pendeta dan penulis buku asal Amerika) berkata, “Saat saudara menjadikan hidup saudara untuk kemuliaan Tuhan, maka semua yang saudara lakukan merupakan suatu penyembahan.”Saudara, sesungguhnya penyembahan tak dapat dipisahkan dari hidup kita sebagai orang percaya. Penyembahan adalah ungkapan penghormatan atas kebesaran, keagungan dan kekudusan Tuhan. Kita perlu menghormati hadirat Tuhan dengan jalan menyembah-Nya bukan lewat kata-kata saja, tetapi juga melalui sikap tubuh kita: bersujud, tersungkur, berlutut sebagai tanda merendahkan diri dan ketidaklayakan kita di hadapan-Nya.
Penyembahan adalah bentuk pujian yang tertinggi! Secara umum kita bergerak mulai dari puji-pujian dan kemudian menuju kepada penyembahan. Kata penyembahan berasal dari kata Inggris kuno worship, yang artinya: meninggikan kelayakan dan untuk memberikan tanggapan yang benar kepada yang layak mendapatkannya.
Penulis dan pelukis asal Lebanon, Kahlil Gibran, melukiskan menyembah Tuhan sebagai berikut, “Di sinilah cinta mulai menerjemahkan prosa kehidupan ke dalam himne yang digubah oleh malam, dan dinyanyikan oleh pagi. Di sinilah cinta menyingkapkan cadar, dan menerangi lekuk-lekuk hati, menciptakan puncak kebahagiaan kala sukma menyembah Tuhan.”Ketika seseorang dipenuhi oleh hadirat dan kemuliaan Tuhan, secara spontan ia akan berlutut dan sujud menyembah di hadapan Tuhan, “Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita.” (Mazmur 95:6)
Ini adalah tanda dari rasa hormat. Jatuh tersungkur di hadapan seseorang tanda penghormatan yang paling dalam.Teman sepelayanan saya di kantor bersaksi, “Ketika istri saya terinfeksi virus Corona dan harus menjalani isolasi di salah satu rumah sakit di Semarang, saya dan anak-anak setiap malam ‘ndeprok’ (tersungkur) dan bersujud di hadapan Tuhan, minta pertolongan dan kesembuhan dari Dia untuk istri saya. Puji Tuhan! Setelah menjalani isolasi selama 14 hari, istri saya dinyatakan sembuh.”
Jack Hayford (Pendeta dan penulis asal Amerika) menyaksikan dasyatnya dampak penyembahan sebagai berikut, “Penyembahan mengubah penyembah menjadi gambar Yang Disembah.”
Ingatlah! Pada saat kita menyembah Tuhan, Dia lebih menikmati hati kita daripada suara kita. Maka Daud mengingatkan kita, “Sujudlah menyembah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan, gemetarlah di hadapan-Nya, hai segenap bumi!” (Mazmur 96:9). Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg) -
SELALU BARU TIAP PAGI
Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh harapan. Mungkin sebagian besar dari kita menjadi gamang ketika harus memulai mengerjakan hal-hal yang baru. Joyce Meyer (Penulis dan pembicara asal Amerika) berkata, “Tidak ada istilah terlambat untuk memulai sesuatu yang baru dalam hidup saudara.”
Ketika mentari pagi menyapa di ufuk timur, itu pertanda hari baru telah tiba, artinya kita kembali beroleh kesempatan dari Tuhan untuk menjalani hidup ini, dan terlebih lagi kita beroleh kesempatan untuk menikmati kasih dan kebaikan Tuhan. Nabi Yeremia bersaksi, “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” (Ratapan 3:22-23). Karena itu kita harus mengawali hari dengan ucapan syukur untuk apa yang Tuhan sudah sediakan bagi kita di hari baru ini.Saudara, Daud merupakan pribadi yang memiliki rasa haus dan lapar akan perkara-perkara rohani. Ia begitu dekat dengan Tuhan dan selalu mencari hadirat-Nya di sepanjang hidupnya. Daud memulai harinya dengan mencari Tuhan dan mengatur persembahan bagi-Nya, “TUHAN, pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku, pada waktu pagi aku mengatur persembahan bagi-Mu, dan aku menunggu-nunggu.” (Mazmur 5:4)
Mengatur persembahan berbicara tentang pujian dan penyembahan kepada Tuhan sebagai cara untuk mengundang hadirat-Nya turun melawat dan memenuhi kehidupannya. “… Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel.” (Mazmur 22:4). Itu artinya Tuhan sangat disenangkan dengan pujian umat-Nya.
Selain itu, kata persembahan bukan hanya berbicara tentang materi atau sesuatu yang dipersembahkan kepada Tuhan, tetapi meliputi segenap keberadaan hidup Daud: hati, pikiran, kehendak dan rencana, diserahkan kepada Tuhan sepenuhnya. Nasihat Rasul Paulus, “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23).
Memulai hari baru dengan membangun persekutuan yang karib dengan Tuhan, berbicara kepada-Nya dan mendengarkan Dia adalah hal yang biasa Daud lakukan. Apa yang menjadi kebiasaan kita saat memulai hari baru?
Orang bijak berkata, “Permulaan yang baik merupakan setengah dari pekerjaan itu sendiri.” Permulaan yang baik sebelum memulai hari adalah mencari Tuhan, bersekutu dengan-Nya dan mempertajam pendengaran akan suara-Nya. “Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.” (Yesaya 50:4). Kita sangat membutuhkan tuntunan dan penyertaan Tuhan dalam menjalani hari yang baru, kita harus melibatkan Tuhan di setiap rencana dan tindakan kita. Bila Tuhan yang beserta kita, segala perkara dapat kita tanggung di dalam Dia.Ingatlah! Di masa pandemi Covid – 19, kita perlu mencari terobosan-terobosan baru, baik dalam bisnis, pelayanan, dan bidang-bidang yang lain. Kita perlu memulai sesuatu yang baru. Frank Tibolt (Penulis Self Help dari Amerika) berkata, “Kita seharusnya diajar untuk tidak menunggu inspirasi untuk memulai sesuatu. Tindakan selalu melahirkan inspirasi. Sedangkan inspirasi jarang diikuti dengan tindakan.” Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg).



