Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh pengharapan. Di masa pandemi Covid – 19, masalah dan kekhawatiran lebih rajin menyambangi kita. Karena itu perhatikanlah nasihat orang bijak, “Ubahlah kekhawatiran saudara menjadi penyembahan dan saudara akan melihat masalah saudara dari terang Tuhan.”
Rick Warren (Pendeta dan penulis buku asal Amerika) berkata, “Saat saudara menjadikan hidup saudara untuk kemuliaan Tuhan, maka semua yang saudara lakukan merupakan suatu penyembahan.”
Saudara, sesungguhnya penyembahan tak dapat dipisahkan dari hidup kita sebagai orang percaya. Penyembahan adalah ungkapan penghormatan atas kebesaran, keagungan dan kekudusan Tuhan. Kita perlu menghormati hadirat Tuhan dengan jalan menyembah-Nya bukan lewat kata-kata saja, tetapi juga melalui sikap tubuh kita: bersujud, tersungkur, berlutut sebagai tanda merendahkan diri dan ketidaklayakan kita di hadapan-Nya.
Penyembahan adalah bentuk pujian yang tertinggi! Secara umum kita bergerak mulai dari puji-pujian dan kemudian menuju kepada penyembahan. Kata penyembahan berasal dari kata Inggris kuno worship, yang artinya: meninggikan kelayakan dan untuk memberikan tanggapan yang benar kepada yang layak mendapatkannya.
Penulis dan pelukis asal Lebanon, Kahlil Gibran, melukiskan menyembah Tuhan sebagai berikut, “Di sinilah cinta mulai menerjemahkan prosa kehidupan ke dalam himne yang digubah oleh malam, dan dinyanyikan oleh pagi. Di sinilah cinta menyingkapkan cadar, dan menerangi lekuk-lekuk hati, menciptakan puncak kebahagiaan kala sukma menyembah Tuhan.”
Ketika seseorang dipenuhi oleh hadirat dan kemuliaan Tuhan, secara spontan ia akan berlutut dan sujud menyembah di hadapan Tuhan, “Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita.” (Mazmur 95:6)
Ini adalah tanda dari rasa hormat. Jatuh tersungkur di hadapan seseorang tanda penghormatan yang paling dalam.
Teman sepelayanan saya di kantor bersaksi, “Ketika istri saya terinfeksi virus Corona dan harus menjalani isolasi di salah satu rumah sakit di Semarang, saya dan anak-anak setiap malam ‘ndeprok’ (tersungkur) dan bersujud di hadapan Tuhan, minta pertolongan dan kesembuhan dari Dia untuk istri saya. Puji Tuhan! Setelah menjalani isolasi selama 14 hari, istri saya dinyatakan sembuh.”
Jack Hayford (Pendeta dan penulis asal Amerika) menyaksikan dasyatnya dampak penyembahan sebagai berikut, “Penyembahan mengubah penyembah menjadi gambar Yang Disembah.”
Ingatlah! Pada saat kita menyembah Tuhan, Dia lebih menikmati hati kita daripada suara kita. Maka Daud mengingatkan kita, “Sujudlah menyembah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan, gemetarlah di hadapan-Nya, hai segenap bumi!” (Mazmur 96:9). Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg)
Leave a Reply