Category: Karib Dengan Tuhan

  • PELAYANAN PENDAMAIAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Sehat-sehat dan tetap semangat menjadi murid Yesus dan kita tetap semangat menjadi pembawa damai. Billy Graham berkata bahwa untuk menjadi pembawa damai, maka Anda harus mengenal Sang Pemberi Damai.

    Saudara, kata  damai  dalam bahasa Ibrani  shalom, yang memiliki arti:  sejahtera, tidak ada yang hilang, tidak ada perpecahan, sehat, kaya, bahagia dan keadaan baik.  Tuhan adalah penyelenggara damai itu sendiri.  Dengan kata lain Tuhan merupakan sumber damai itu, karena Dia adalah Raja damai  (Yesaya 9:5). 

    Sesungguhnya Allah telah menunjukkan kasih-Nya yang luar biasa kepada dunia dengan memberikan Putra-Nya yaitu Yesus Kristus,  “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16). Melalui pengorbanan Kristus di kayu salib, kita diperdamaikan dengan Allah. 

    Karena Allah telah mendamaikan kita dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan dosa dan pelanggaran kita, maka Ia pun memberikan tugas dan tanggung jawab kepada setiap kita untuk memberitakan kabar damai ini kepada dunia.  Hal ini merupakan sebuah kepercayaan yang tak ternilai harganya;  jadi sesungguhnya kita ini adalah duta-duta Tuhan di tengah dunia.

    Ada cukup banyak orang percaya yang belum menyadari bahwa dirinya menyandang predikat sebagai duta Kristus.  Sebagai duta Kristus kita memiliki tugas untuk bersaksi tentang Kristus dan karya keselamatan-Nya kepada dunia.  Inilah pelayanan yang dipercayakan Tuhan kepada kita yaitu pelayanan pendamaian.  Pelayanan pendamaian adalah mengenai bagaimana kita membawa orang lain kepada Tuhan Yesus dan membawa Tuhan Yesus kepada orang lain. 

    Melakukan pelayanan pendamaian dengan membawa orang lain mengenal Tuhan Yesus dan menghadirkan Tuhan Yesus dalam kehidupan orang lainlah yang menyenangkan hati Tuhan.  Jadi, kita tidak akan mampu menjalankan tugas pelayanan pendamaian ini bila kita sendiri tidak memiliki kehidupan seperti Kristus.  “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.”  (1 Yohanes 2:6).  Inilah sebabnya Yesus berkata,  “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.”  (Matius 5:9).

    Keberadaan orang percaya seharusnya  selalu membawa damai bagi orang lain.  Membawa damai berarti mengekspresikan karakter kasih Allah.  Bukti bahwa kita sudah menjalankan tugas pelayanan pendamaian adalah ketika hidup kita menjadi kesaksian bagi banyak orang!

    Ingatlah! Bapak Ev. Andreas Christanday ketika mendirikan Yayasan Christopherus  mencanangkan visi: “Terlaksananya Amat Agung Tuhan di seluruh dunia.”. Semoga kita sebagai Pendukung Kristus senantiasa ingat dengan visi tersebut.  Mari bersama dengan Fransiscus dari Assisi, kita berdoa: ”Tuhan, jadikan aku alat-Mu untuk membawa damai. Saat ada kebencian, biarlah aku menabur kasih.” GBU & Fam. Better days are coming. (pg).

  • KEHENDAK TUHAN Selalu Baik

    Selamat jumpa Pendukung Kristus, apa kabar? Watchman Nee (Pemimpin gereja di Tiongkok) berkata bahwa hal yang baik belum tentu kehendak Tuhan, tetapi kehendak Tuhan selalu baik. Karena itu Rasul Paulus mengingatkan kita, “Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.”  (Efesus 5:17)

    Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita diperhadapkan dengan pillihan. Kita harus mengambil keputusan: Mana yang harus kita pilih? Apa yang harus kita kerjakan? Apa yang harus kita pelajari? Apa yang harus kita beli? Dan lain sebagainya. Untuk itu kita perlu semakin peka untuk mengerti kehendak Tuhan dalam hidup ini.

    Lalu bagaimana caranya mengerti  kehendak Tuhan?  Sesungguhnya arah hidup seseorang sangat ditentukan oleh pola pikirnya!  Apa yang memenuhi pikiran kita akan menentukan arah hidup kita.  Rasul Paulus mengingatkan,  “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”  (Roma 12:2).

    Jika kita menginginkan Tuhan dan kehendak-Nya menjadi fokus dalam hidup ini maka kita harus mengisi pikiran kita dengan firman Tuhan setiap hari.  Mengapa kita harus menempatkan Tuhan dan kehendak-Nya sebagai yang terutama dalam hidup ini?  Supaya langkah hidup kita senantiasa dipimpin dan dituntun oleh Tuhan, sebab kalau kita melakukan segala sesuatu menurut kehendak sendiri tanpa melibatkan Tuhan dan tanpa mengikuti kehendak-Nya, cepat atau lambat kita pasti akan jatuh dan tersesat.  Oleh karena itu apa saja yang hendak kita rencanakan dan kerjakan, biarlah kita serahkan sepenuhnya kepada kehendak Tuhan terlebih dahulu,  “Sebenarnya kamu harus berkata: ‘Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.’”  (Yakobus 4:15). Sesungguhnya, seorang pun  tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi esok, bahkan esok mungkin tidak hadir untuk kita.

    Sebagai pengikut Kristus sudah selayaknya kita meneladani Tuhan Yesus yang menempatkan kehendak Bapa sebagai yang terutama.  “… Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku.”  (Yohanes 5:30).

    Inilah janji Tuhan kepada setiap orang yang bersungguh hati mencari Dia.  “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.”  (Matius 7:7-8).

    Ingatlah! Rencana yang terbaik adalah rencana Tuhan bagi kita. Terhadap orang yang karib, perjanjian dan kehendak-Nya diberitahukan kepada mereka.  (Mazmur 25:14). GBU & Fam. Better days are coming. (pg).

  • Mendengar SUARA Tuhan

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Ketika kita bersaat teduh, jangan hanya kita yang berbicara kepada Tuhan, tapi berilah ruang di hati kita agar Allah Roh Kudus mendapat kesempatan dan tempat untuk berbicara kepada kita. Kita perlu terus melatih telinga hati kita untuk semakin peka mendengar  suara Tuhan.

    Aiden Wilson Tozer (penulis asal Amerika) berkata bahwa tragedi yang paling buruk di dunia adalah: Kita mengizinkan hati kita mengecil sampai tidak ada ruangan lagi kecuali hanya untuk diri kita sendiri.


    Nama Samuel berasal dari bahasa Ibrani yang berarti  “Tuhan mendengar”.  Itu merupakan ekspresi sukacita Hana karena Tuhan mengerti pergumulannya dan mengabulkan doanya.  “Ia menamai anak itu Samuel, sebab katanya: ‘Aku telah memintanya dari pada TUHAN.’”  (1 Samuel 1:20).  Samuel merupakan jawaban doa Hana yang terus-menerus dinaikkan kepada Tuhan di tengah kepedihan hatinya yang mendalam. 


    Samuel memulai pelayanannya sejak masih kecil sesuai janji ibunya untuk menyerahkan anaknya ke dalam pengasuhan imam Eli.  “Maka akupun menyerahkannya kepada TUHAN; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada TUHAN.”  (1 Samuel 1:28). 

    Sejak itulah Samuel berada di lingkungan pastori dan belajar melayani Tuhan di bawah bimbingan imam Eli.  Setiap hari Samuel muda dibimbing imam Eli untuk tugas sucinya dan dilatih belajar mendengarkan suara Tuhan. 

    Karena keterbatasan pengetahuannya, pada awalnya Samuel tidak mengenal suara yang berbicara kepadanya.  Alkitab mencatat bahwa Tuhan memanggil Samuel sebanyak tiga kali namun ia belum menanggapinya karena belum mengenali suara Tuhan.  Imam Eli terus membimbing dan mengajari Samuel bagaimana melatih kepekaan mendengar suara Tuhan.  “Pergilah tidur dan apabila Ia memanggil engkau, katakanlah: Berbicaralah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar.”  (1 Samuel 3:9).  Ketika Tuhan memanggil Samuel lagi untuk ketiga kalinya ia pun menjawab:  “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.”(1 Samuel 3:10b).

    Seiring berjalannya waktu  “… Samuel makin besar dan TUHAN menyertai dia dan tidak ada satupun dari firman-Nya itu yang dibiarkan-Nya gugur.”  (1 Samuel 3:19).  Akhirnya Tuhan memercayakan tanggung jawab pelayanan yang lebih besar kepada Samuel karena ia memiliki kepekaan mendengar suara Tuhan.

    Dalam kapasitasnya sebagai pemimpin rohani menggantikan imam Eli dengan otoritas dari Tuhan, Samuel berhasil mempersatukan bangsa Israel yang tercerai-berai karena terpukul oleh bangsa Filistin  (1 Samuel 7:3).  Keberhasilan pelayanan Samuel adalah dampak dari kepekaannya dalam mendengar suara Tuhan. 

    Ingatlah! Jangan biarkan suara hiruk pikuk dari sekeliling kita menghalangi kita untuk mendengar suara Tuhan. Sesungguhnya dengan terus berlatih mendengarkan suara Tuhan, kita dipersiapkan untuk menerima tanggung jawab yang lebih besar. GBU & Fam. Better days are coming. (pg).

  • Miliki Waktu UNTUK BERSEKUTU dengan TUHAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Sehat-sehat dan semoga kita tetap setia  membagi waktu setiap pagi untuk bersaat teduh pribadi. Aiden Wilson Tozer (Penulis asal Amerika) berkata bahwa barangsiapa yang ingin mengenal Tuhan, harus memiliki waktu untuk bersekutu dengan Dia.

    Hari ini merupakan hari keduapuluh kita menapakkan kaki di bulan Agustus 2020. Tak  terasa sudah hampir delapan bulan lamanya kita menjalani dan menikmati tahun 2020.  Masihkah kita konsisten bertekun menyediakan waktu secara pribadi untuk Tuhan di dalam doa dan merenungkan firman-Nya? Ataukah tanpa kita sadari kita telah meninggalkan jam-jam doa pribadi kita oleh karena kesibukan?

    Walaupun saat ini masih serba terbatas gerak kita,  hiruk-pikuk dunia mulai menggeliat. Nah, di tengah hiruk pikuk dunia seperti ini tentu ada begitu banyak pengaruh yang membuat kita tidak lagi bertekun di dalam Tuhan.  Pekerjaan, hobi dan aktivitas-aktivitas  lain telah menguras waktu dan tenaga kita sehingga kita pun mengabaikan persekutuan kita dengan Tuhan. 

    Mungkin ada cukup banyak orang berpikir bahwa menyediakan waktu untuk berdoa dan merenungkan firman Tuhan adalah sebuah pemborosan waktu.  Benarkah?  Tidak benar!  Justru semakin kita bertekun di dalam Tuhan hidup kita makin diperbaharui dari hari ke hari sehingga kita memiliki kehidupan yang berkualitas.  Jadi tidak ada kata sia-sia  (mubazir)  jika kita berjerih lelah dan bertekun  dalam bersaat teduh.  Alkitab dengan tegas menghimbau,  “Latihlah dirimu beribadah.  Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.”  (1 Timotius 4:7b-8).

    Bertekun di dalam doa dan merenungkan firman-Nya adalah sama seperti orang yang membangun rumahnya di atas batu,  “Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.”  (Matius 7:25).  Memiliki persekutuan yang karib dengan Tuhan merupakan fondasi yang kuat bagi kehidupan rohani kita. 

    Bagaimana jika kita mengabaikan persekutuan kita dengan Tuhan?  Sudah pasti kita tidak akan memiliki kekuatan rohani untuk menghadapi setiap tantangan dan badai kehidupan yang datangnya tanpa permisi.  Daud mengingatkan kita, “TUHAN memerintahkan kasih setia-Nya pada siang hari, dan pada malam hari aku menyanyikan nyanyian, suatu doa kepada Allah kehidupanku.”  (Mazmur 42:9).
    Di sepanjang hari Tuhan telah mencurahkan kasih setia-Nya kepada kita, maka sudah seharusnya pada malam hari  kita mempersembahkan korban syukur bagi Tuhan melalui doa kita.

    Milikilah kerinduan untuk mendekat kepada Tuhan seperti Daud.  Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?”  (Mazmur 42:2-3).  Kedekatannya dengan Tuhan adalah kunci kekuatan Daud dalam menghadapi setiap masalah, bukan karena kekuasaan yang dimilikinya sebagai raja.  Daud sadar bahwa ia tidak bisa hidup tanpa penyertaan Tuhan.  Itulah sebabnya ia memohon kepada Tuhan,  “Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!”  (Mazmur 51:13).

    Ingatlah! Jika kita meluangkan waktu untuk bersekutu dengan Tuhan, maka Dia akan memberi kemampuan, sehingga kita dapat menata hidup. Di luar Tuhan kita tidak dapat berbuat apa-apa dan kita ini bukan siapa-siapa, karena itu  “Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!”  (Mazmur 105:4). GBU & Fam. Better days are coming. (pg).

  • Teladanilah TABITA

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Setiap pagi dengan terbitnya sang mentari di ufuk Timur, semoga kita senantiasa diingatkan bahwa kegelapan tidak dapat menguasai kegelapan, hanya cahaya yang dapat melakukannya. Karena itu Yesus bersabda, “ …hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16)

    Rabindranath Tagore (Filsuf dan Sastrawan dari India) berkata bahwa barangsiapa terlalu sibuk sehingga dia tidak melakukan kebaikan, sebenarnya dia telah kehilangan kesempatan untuk menjadi orang yang baik.

    Sesungguhnya kebaikan adalah sifat Ilahi yang harus terpancar dalam kehidupan orang percaya.  Mengapa?  Karena status kita adalah anak-anak terang.  “Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran,”  (Efesus 5:8-9).  Tuhan itu baik adanya, dan teladan tentang kebaikan telah ditunjukkan oleh Tuhan Yesus yang senantiasa berbuat baik kepada semua orang tanpa memandang status atau latar belakang:  menyembuhkan yang sakit, melepaskan mereka dari segala keterikatan, memberi makanan kepada mereka yang lapar dan sebagainya.

    Karena Tuhan Yesus baik maka semua anak-Nya wajib mengikuti jejak-Nya yaitu menjadi orang-orang yang baik, dimana kebaikan itu harus dibuktikan melalui tindakan nyata,  “Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.”  (Amsal 3:27)
    Apalah artinya orang menilai diri sendiri baik apabila orang lain tidak melihat secara nyata kebaikan itu.  “Biarlah orang lain memuji engkau dan bukan mulutmu, orang yang tidak kaukenal dan bukan bibirmu sendiri.”  (Amsal 27:2).

    Dorkas adalah orang baik, dan karena kebaikannya ia menjadi berkat bagi lingkungan.  Orang-orang Yahudi memanggilnya Tabita yang berarti rusa betina.  Di dunia Timur rusa betina adalah gambaran tentang kecantikan.  Kecantikan Dorkas ini terpancar melalui perbuatan baik yang ditunjukkan.  “Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah.”  (Kisah 9:36b).  Begitu mendengar bahwa Dorkas sakit dan meninggal, orang-orang menjadi sangat kehilangan dan bersedih hati.  Mereka pun berusaha mencari cara bagaimana agar Dorkas dapat hidup kembali.  Ketika mendengar Petrus ada di Yope, orang-orang memohon kepadanya agar bisa membangkitkan Dorkas.  Ajaib!  Tuhan mendengar doa-doa mereka dan membangkitkan Dorkas dari kematian.  Dari kejadian inilah semakin banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan!

    Ingatlah! Berbuatlah kebaikan, maka kebaikan itu akan datang kembali kepadamu. Dukunglah program kami, “Christopherus Peduli Covid – 19”. “Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah.”  (Ibrani 13:16). GBU & Fam. Bettter days are coming. (pg)

  • Jujur dan Rendah Hati

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Sehat-sehat dan tetap semangat mengikut Yesus. Kahlil Gibran (Sastrawan asal Lebanon) berkata bahwa sesungguhnya kecantikan bukan di wajah, kecantikan adalah cahaya hati.

    Saudara, keadaan hati kita adalah faktor penting yang dapat memengaruhi hubungan kita dengan Tuhan, sebab yang dinilai Tuhan bukanlah rupa atau paras, perawakan, kekuatan, kehebatan, atau kepintaran, melainkan isi hati kita:  “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.”  (1 Samuel 16:7b) dan  “…TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita. …”  (1 Tawarikh 28:9). 

    Nah, untuk memberi gambaran tentang  hati manusia, Yesus memberikan satu perumpamaan tentang orang Farisi dengan  pemungut cukai  (Lukas 18:9-14).  Orang Farisi adalah seorang tokoh agama yang tahu kebenaran, mengajar Taurat Tuhan, tapi hatinya penuh kesombongan dan kemunafikan.  Ia merasa bersih dari dosa dan tanpa cela:   “Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.”  (Lukas 18:11-12).  Karena merasa dirinya sudah suci dan tak bercacat cela, orang Farisi ini merasa tidak lagi memerlukan belas kasihan dan anugerah keselamatan dari Tuhan.

    Berbeda dengan si pemungut cukai, dia justru menunjukan sikap  yang bertolak belakang,   “… pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.”  (Lukas 18:3).  Pengakuan jujur disertai kerendahan hati yang ditunjukkan si pemungut cukai telah mengetuk pintu rahmat Tuhan. Yesus bersabda,  “Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”  (Lukas 18:14). Juga Daud berkata, “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.” (Mazmur 51:19). 


    ingatlah! Jelaslah, Tuhanlah yang menguji hati! (Amsal 16:2).  Orang bijak berkata, “Di atas langit ada langit.”. Ketika kamu merasa dirimu paling hebat, ingatlah, ada banyak orang yang lebih hebat daripadamu. Karena itu jangan sombong. Tuhan benci hati yang sombong, tapi Ia mengasihi orang yang rendah hati! GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • MERDEKA dari Belenggu MASA LALU

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Hari ini, Senin 17 Agustus 2020, ketika kita merayakan HUT ke-75 Kemerdekaan RI, semoga kita dimampukan oleh Tuhan untuk MERDEKA dari keterikatan masa lalu. Kalau kita terus dibelenggu oleh masa lalu, kita tidak akan bisa mensyukuri dan menikmati hidup pada hari ini.

    Saudara, memang tidak semudah membalikan tangan untuk melupakan masa lalu, apalagi jika masa lalu itu dipenuhi dengan kenangan-kenangan indah bersama dengan orang yang kita kasihi:  orangtua, sahabat, kekasih dan sebagainya.  Itulah sebabnya ada orang yang sulit sekali “move on” dari masa lalu, padahal yang namanya masa lalu sudah tidak mungkin terulang kembali. 

    Sesungguhnya kenangan masa lalu itu akan indah kalau hanya sebatas untuk dikenang, tapi akan menyesakkan kalau diharapkan bisa terulang kembali,  karena hal itu tak mungkin terjadi.  Terlebih lagi bila masa lalu kita dipenuhi oleh kegagalan dan luka hati, sangat sulit rasanya untuk melupakan begitu saja, sehingga kegagalan dan luka hati itu terus membayangi dan menghalangi  setiap langkah hidup kita.

    Sampai kapan kita menjalani hidup  dengan dibayang-bayangi oleh masa lalu? Sedangkan kita hari ini menghadapi dan menjalani  sebuah kenyataan, bukan masa lalu.  Karena itu, mari jadikan masa lalu sebagai pengalaman dan bahan pembelajaran, jangan malah menghalangi dan menghambat langkah kita hari ini untuk menatap masa depan.

    Yakinlah intuk memiliki kehidupan yang lebih baik, mau tidak mau, kita harus keluar dari belenggu masa lalu.  Percuma terus meratapi kegagalan masa lalu atau membangga-banggakan kejayaan masa lalu karena hal itu tidak bisa mengubah keadaan yang sedang kita hadapi.  Kita harus hidup dalam realitas hari ini, bukan kemarin atau masa lalu.

    Rasul Paulus, yang dulunya bernama Saulus, orang dari Tarsis, dikenal banyak orang sebagai penganiaya dan pembunuh pengikut Kristus.  Salah satunya adalah ketika Stefanus dirajam batu ia pun punya andil besar dalam peristiwa itu.  Namun setelah bertemu dengan Tuhan Yesus ia mengalami kelahiran baru.  “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Korintus 5:17).  Setelah itu Paulus dipanggil Tuhan untuk menjangkau jiwa-jiwa melalui pemberitaan Injil. 

    Melihat hal tersebut Iblis tidak tinggal diam, ia terus mendakwa dan mengganggu memori Paulus tentang masa lalunya yang kelam, namun syukur Paulus tidak terprovokasi.  Ia membuat keputusan berani yaitu meninggalkan masa lalu, dan mengarahkan pandangan ke depan dengan penuh iman kepada Kristus, “…aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,”  (Filipi 3:13b)

    Ingatlah! Jangan membiarkan diri kita dibelenggu masa lalu, supaya kita bisa menikmati berkat yang Tuhan sediakan untuk kita pada hari ini! Jangan menengok masa lalu, berlarilah dengan pandangan lurus ke depan dengan mata terarah kepada Tuhan, karena Tuhan telah menyediakan masa depan yang penuh harapan,  “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”  (Yeremia 29:11). GBU & Fam. Better days are coming. (pg) 

  • Diciptakan untuk MEMUJI Tuhan

    Selamat jumpa Para Pendukung Kristus, apa kabar? Sehat-sehat dan tetap semangat untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Billy Graham berkata, “Kita memuliakan Kristus ketika kita hidup bagi Allah: memercayai, mengasihi, serta menaati-Nya”.


    Mungkin ada cukup banyak orang, tak terkecuali orang percaya, tidak mengerti bahwa sesungguhnya semua manusia yang ada di dunia ini diciptakan untuk memuji Tuhan, sebab ada tertulis:  “Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!”  (Mazmur 150:6).  Oleh karenanya memuji dan meninggikan nama Tuhan seharusnya menjadi bagian hidup kita sehari-hari. Menjadi gaya hidup kita.

    Maka tak heran kalau pemazmur melakukan ini:  “Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku.”  (Mazmur 34:2).  Kata memuji berasal dari kata dasar puji yang berarti pengakuan dan penghargaan yang tulus terhadap kebaikan, keunggulan seseorang. 

    Memuji berarti menyatakan kekaguman dan penghargaan kepada seseorang dengan kata-kata yang tentunya dianggap sangat positif, semisal memuji seseorang karena ia memiliki kemampuan, keahlian, prestasi, keunggulan atau kualitas di atas rata-rata orang pada umumnya.

    Padanan kata memuji adalah memuliakan. Memuliakan adalah tindakan memuji yang biasanya secara khusus ditujukan kepada Tuhan.  Orang yang memiliki pengenalan yang benar tentang Tuhan pasti tidak akan memuji Tuhan dengan sembarangan atau sesuka hati;  ia tidak akan memuji Tuhan hanya saat beribadah atau menghadiri persekutuan doa saja, atau saat mengalami hal-hal yang baik saja, tetapi puji-pujian itu akan selalu keluar dari hati dalam segala keadaan. 

    Kapan pun dan di mana pun ia takkan menahan bibirnya untuk terus memuji-muji Tuhan.  “Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau, karena hukum-hukum-Mu yang adil.”  (Mazmur 119:164).  Daud memuji Tuhan tujuh kali dalam sehari karena ia tahu bahwa nama Tuhan adalah nama yang indah dan di dalam nama itu ada kuasa yang dahsyat dan ajaib.

    Pemazmur adalah sosok yang patut kita teladani dalam hal memuji dan memuliakan nama Tuhan, karena hampir segenap isi kitab Mazmur berisikan puji-pujian bagi Tuhan.  Alkitab menyatakan bahwa nama Yesus bukanlah sembarang nama,  “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan,’ bagi kemuliaan Allah, Bapa!”  (Filipi 2:9-11). 

    Kita harus memuji dan meninggikan nama Tuhan Yesus karena nama-Nya bukan sembarang nama, tetapi nama-Nya di atas segala nama, nama yang mampu membuat setiap lutut bertelut.  Kalau Daud memuji Tuhan tujuh kali sehari, bagaimana kita?  Kasih dan kebaikan Tuhan atas kita sungguh tak terhitung jumlahnya, maka kita patut memuji dan memashyurkan nama-Nya!

    Puji-pujian yang keluar dari sikap hati yang benar akan sangat menyenangkan Tuhan;  dan ketika Tuhan disenangkan, kasih-Nya pasti akan dicurahkan atas hidup kita.  Bagian kita adalah memuji dan memuliakan Tuhan, Ia pun akan bekerja dengan bagian-Nya sendiri.

    Ingatlah! Jangan Malu Memuji Tuhan. Bernyanyilah, karena Tuhan senang dengan pujianmu! “Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari.”  (Mazmur 96:2). GBU & Fam. Better days are coming. (pg) 

  • KEINGINAN yang Kuat

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Napoleon Hill (penulis asal Amerika) berkata bahwa awal dari semua pencapaian (prestasi) adalah KEINGINAN. Sedangkan Merry Riana (motivator asal Indonesia) berkata bahwa memiliki KEINGINAN saja tidak cukup. Harus ada usaha, tekad yang kuat, dan kemauan keras untuk mewujudkannya.

    Saudara, saya yakin Bartimeus yang buta dalam kisah Yesus menyembuhkan Bartimeus (Markus 10:46-52) mempunyai KEINGINAN yang kuat untuk bisa melihat.

    Dengan mata rohaninya ia dapat melihat kebesaran dan kuasa Tuhan. Pengharapan yang ia tujukan kepada Yesus adalah kunci utama yang membangkitkan imannya meski orang-orang di sekitarnya meremehkan dan menuding bahwa dia tidak akan bisa disembuhkan. Bartimeus tidak berkecil hati atau menyerah pada keadaan. Iman adalah melihat apa yang tidak terlihat, dan itu membutuhkan perjuangan.

    Maka ketika ia mendengar Yesus sedang lewat, dengan segenap kekuatan ia berseru,  “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!“ (ayat 47-48). Bartimeus tahu bahwa inilah saat dan kesempatan baginya bertemu dengan Yesus, karena itu ia terus berteriak memanggil-manggil Yesus di tengah keramaian. Akhirnya teriakannya itu menggetarkan hati Yesus untuk bereaksi; Yesus memalingkan wajahnya ke arah Bartimeus yang sedang bertindak dengan imannya itu. Lalu kata Yesus kepadanya, “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. (ayat 52).

    Mungkin saat ini dokter sudah memvonis, umurmu tidak lama lagi akibat penyakit yang engkau derita, atau orang memprediksi usahamu akan bangkrut, atau keluargamu nampak tidak mungkin dipulihkan. Kita akan semakin tidak berdaya bila kita terlalu memberi tempat pada masalah itu dan terpengaruh oleh situasi yang ada. Mari kita ubah cara berpikir kita! Berilah tempat untuk Tuhan, sumber segala mukjizat itu. Berkatalah dengan iman, “Tuhan, aku percaya Engkau sanggup menyembuhkanku. Manusia sangat terbatas, tetapi aku memiliki Engkau yang sungguh tidak terbatas. Tidak ada yang mustahil bagiMu.” Camkan ayat ini:  “Sebab Tuhan maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat dari pada segala allah.” (Mazmur 96:4).

    Kalau kita memandang Dia sebagai pribadi yang Mahabesar, maka apa pun masalah kita tidak berarti apa-apa di hadapan-Nya. Bartimeus mengalami lawatan Tuhan karena ia memiliki pola pikir yang berbeda dengan orang lain.

    Ingatlah! KEINGINAN yang kuat akan menghasilkan motivasi yang kuat, dan motivasi yang kuat akan menghasilkan PENCAPAIAN yang HEBAT. Perjumpaan dengan Yesus telah mengubah hidup Bartimeus; ia dipulihkan dan disembuhkan! Dia dapat melihat dunia yang penuh warna. GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • Bukan Pilihan yang Bisa Ditawar

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat dan tetap semangat.  Sesungguhnya merupakan anugerah Tuhan yang luar biasa, jika kita memiliki keluarga dan komunitas yang saling mengasihi dan saling peduli. 

    Manusia merupakan makhluk sosial, artinya kita diciptakan untuk hidup berpasangan dan berinteraksi dengan orang lain. Kita tidak bisa hidup sendiri, kita butuh kehadiran orang lain di dalam hidup kita dan untuk hidup kita. 

    Karena itu Tuhan Yesus memberi ketetapan agar kita mengasihi sesama manusia seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Dia juga memberi perintah dan mewajibkan kita untuk hidup saling mengasihi.

    Kita diminta untuk saling memerhatikan, saling mendoakan, saling peduli, saling berbagi, saling menolong, dan saling melengkapi.

    Sesungguhnya hal tersebut merupakan kebutuhan dasar hidup setiap manusia, agar kita bisa hidup seimbang, dan menjadi sehat.

    Tuhan tahu, sebagai manusia biasa, suatu saat kita akan menghadapi situasi-situasi yang sulit, seperti: sakit, kegagalan, butuh pekerjaan, kerepotan, kesesakan, penderitaan, dan kelemahan-kelemahan lainnya, maka kita memerlukan pertolongan dari orang lain.

    Sudahkah kita menunjukkan kasih kita kepada orang lain dalam wujud satu tindakan nyata? Ataukah kita diam saja dan sengaja menghindar ketika melihat orang lain sedang dalam kesusahan, karena kita takut direpotkan? Tuhan Yesus mengajak kita untuk memahami makna dari perumpamaan orang Samaria yang baik hati.

    Bacaan Alkitab pada hari ini diambil dari Lukas 10:34, “Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.”

    Marilah kita jalani dan nikmati hidup pada hari ini dengan satu keyakinan bahwa bagi orang percaya mengasihi bukanlah pilihan yang bisa ditawar, namun perbuatan yang wajib dilakukan dan harus menjadi gaya hidup.

    Ingatlah! Di tengah-tengah situasi yang serba tidak menentu dan serba terbatas, kita diharapkan  tetap dapat  hidup saling mengasihi dan bertolong-tolongan dalam menanggung beban hidup.  “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.” (Efesus 4:2) GBU & Fam. Better days are coming. (pg).