Category: Karib Dengan Tuhan

  • MENGUASAI atau DIKUASAI

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Sesungguhnya hidup itu pilihan. Apakah kita memilih mau dikuasai kemalasan, atau sebaliknya kita memilih mau menguasai kemalasan. Pilihan ada di tangan kita.

    Anwar Sadat (Politikus dan mantan Presiden Mesir) berkata, “Kesuksesan nyata adalah kesuksesan dengan diri sendiri. Bukan dalam memiliki hal-hal, tetapi dalam memiliki penguasaan, memiliki kemenangan atas diri sendiri.”

    Saudara, barangkali kita sering mendengar pernyataan seorang atlet yang sedang bertanding di sebuah kejuaraan olahraga bahwa musuh terberat yang sesungguhnya bukanlah  lawan tandingnya, tetapi  menaklukkan diri sendiri.  Membuang semua ketegangan, keragu-raguan, membangun rasa percaya diri atau optimisme saat bertanding ternyata bukanlah perkara mudah!  Dengan kata lain ketidakmampuan dalam hal penguasaan diri seringkali menjadi faktor non teknis yang menjadi penyebab kegagalan  seorang atlet meraih prestasi.

    Ternyata Rasul Paulus memiliki pengalaman yang sama bagaimana beratnya menguasai diri sendiri,  “Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.”  (Roma 7:15).  Ungkapan Paulus ini mengindikasikan bahwa dalam tabiat sebagai  manusia lama  ia tak dapat menguasai dirinya sendiri, namun setelah mengalami perjumpaan dengan Kristus dan hidup sebagai  manusia baru  di dalam Dia, yang dikatakannya pun menjadi sangat berbeda.  “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”  (Galatia 2:19-20). 

    Sesungguhnya kemampuan Paulus dalam hal penguasaan diri ini bukan berasal dari kekuatannya sendiri, melainkan karena pertolongan Roh Kudus dan kerelaannya untuk dipimpin Roh Kudus,  “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.”  (2 Timotius 1:7).

    Ketika seseorang hidup dalam pimpinan Roh Kudus ia tidak akan menuruti keinginan dagingnya.  Itulah sebabnya raja Salomo memberikan apresiasi kepada orang yang mampu menguasai diri, katanya,  “Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.”  (Amsal 16:32).

    Ingatlah! Jika kita mampu menguasai diri kita sendiri, maka kita akan mempunyai kemampuan untuk menguasai banyak hal. Lao Tzu berkata: “Menguasai orang lain adalah kekuatan (strength). Menguasai diri sendiri adalah kekuasaan (power) yang sejati.” Sedangkan bagi Rasul Paulus memiliki penguasaan diri berarti:  “Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus,”  (2 Korintus 10:5b). GBU & Fam. Better days are coming. (pg).

  • Istirahat Itu Penting

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Sehat-sehat dan tetap semangat menyambut lembaran baru yang Tuhan anugerahkan kepada kita. Bob Sadino (Pengusaha) berkata, “Obat dan vitamin bukan jaminan hidup sehat. Jaga ucapan, jaga hati, istirahat cukup, makan dengan gizi seimbang dan olahraga yang teratur, itulah kunci hidup sehat.”

    Saudara, Tuhan Yesus adalah figur teladan dalam hal bekerja karena Ia adalah pekerja keras.  Yesus bersabda,  “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga.”  (Yohanes 5:17).  Saat diutus Bapa ke bumi Ia sangat sibuk setiap harinya dalam melakukan pekerjaan untuk Kerajaan Allah.  Tuhan Yesus menyembuhkan yang sakit, mewartakan pembebasan bagi yang terbelenggu dan membebaskan mereka yang terpenjarakan oleh kegelapan, dan banyak lagi hal yang lainnya.  Dia bekerja dari sejak terbitnya matahari sampai terbenamnya.  Tertulis:  “Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Iapun meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka.”  (Lukas 4:40). 

    Meski bekerja keras selama berada di bumi bukan berarti Tuhan Yesus tidak pernah beristirahat, Ia juga membutuhkan istirahat untuk tubuh-Nya supaya Ia bisa berdoa kepada Bapa-Nya, “Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa.”  (Lukas 5:16).  Yesus adalah Putera Tunggal Allah, tetapi Ia sering menyendiri ke tempat yang tersembunyi dan berdoa.

    Sangatlah perlu bagi kita untuk memiliki persekutuan yang intim dengan Tuhan.  Seringkali kita sulit untuk berkata  “tidak”  kepada teman sehingga kesempatan untuk menyendiri dengan Tuhan menjadi terlewatkan.  Terkadang pula kita terlalu menyibukkan diri dengan padatnya jadwal kerja, jadwal keluarga, jadwal pribadi, dan jadwal  pelayanan,  sampai-sampai kita tidak punya waktu beristirahat demi menjaga kesehatan kita, baik itu jasmani maupun rohani. 

    Seringkali hal beristirahat ini kita abaikan, padahal istirahat adalah hal penting bagi kita agar tetap menjadi kuat dan bugar.  Lalu bagaimana Tuhan Yesus menyelesaikan semua tugas diberikan Bapa kepada-Nya?  Dia mempunyai 24 jam sama seperti kita semua.  Tetapi rahasianya ada pada ketaatan-Nya untuk melakukan kehendak Bapa-Nya.  Tuhan Yesus bekerja dan juga beristirahat, bukan hanya bekerja, bekerja dan terus bekerja tanpa beristirahat.  Saat istirahat inilah Tuhan Yesus bersekutu dengan Bapa.

    Kita hanya perlu menyendiri dan berdoa sebelum kita memulai hari baru, sama seperti yang dilakukan Tuhan Yesus.  “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.” (Markus 1:35). 

    Ingatlah! Istirahat itu penting, yang lain bisa menunggu. Adalah lebih baik kita memulai hari yang baru bersama dengan Allah Roh Kudus terlebih dulu.  Saat ini banyak orang percaya yang memulai hari barunya dengan tergesa-gesa tanpa berdoa karena mereka dikejar-kejar oleh target dan pekerjaannya, sehingga Tuhan pun diabaikannya. Menyendiri bersama Allah Roh Kudus sebelum memulai segala sesuatu adalah bukti bahwa kita memiliki penyerahan diri penuh kepada-Nya. GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • Ketuklah Pintu Hati Tuhan

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Sehat-sehat dan tetap semangat menyambut hari yang baru dan berkat yang baru. Andrie Wongso (Motivator) berkata, “Sering kita terperangkap oleh penyesalan masa lalu dan mencemaskan masa yang akan datang, sehingga tidak mensyukuri hari yang penuh berkah dan berkat, yaitu hari ini.”

    Saudara, mungkin kita sering mendengar ungkapan, “Dia saat ini sedang naik daun”. Kalau orang sedang naik daun, apa saja yang dikerjakannya menghasilkan “emas”. Tapi pengalaman hidup saya bercerita bahwa tidak selamanya kita terus dalam kondisi naik daun. Di dalam kehidupan ini pasti ada saat di mana kita diperhadapkan dengan kondisi turun daun atau masa paceklik.  Apa saja yang kita kerjakan hampir tidak  membuahkan hasil apa pun.  Kita  mengalami jalan buntu di segala hal, semua pintu seolah-olah tertutup bagi kita. Bak bangsa Israel yang menghadapi laut Teberau.  Pintu-pintu kehidupan seolah-olah tertutup.  “Pintu”  bisa berbicara tentang:  pintu kesempatan, pintu kesembuhan, pintu berkat, pintu jawaban doa,  pintu pemulihan, pintu keberhasilan, dan sebagainya.

    Jika sampai hari ini kita menghadapi pintu-pintu yang tertutup, janganlah berkecil hati dan berputus asa.  Ketuk pintu hati Tuhan dengan seruan yang tiada berkeputusan, sebab Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan hidup, yang punya kuasa dan otoritas.  Ada tertulis:  “…apabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka.”  (Wahyu 3:7). 

    Pintu-pintu kesempatan, pintu kesembuhan, pintu berkat, pintu pemulihan, pintu keberhasilan…. pasti dibukakan bagi kita.  Penulis Amsal menegaskan bahwa selalu ada masa depan dan harapan bagi orang yang takut akan Tuhan:  “…masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.”  (Amsal 23:18). 

    Bukti orang yang takut akan Tuhan adalah hidup sesuai dengan kehendak-Nya,  sekalipun situasi atau keadaan sepertinya tak memungkin pintu itu terbuka, tapi bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.  Firman Tuhan mengatakan,  “Pintu-pintu gerbangmu akan terbuka senantiasa, baik siang maupun malam tidak akan tertutup, supaya orang dapat membawa kekayaan bangsa-bangsa kepadamu, sedang raja-raja mereka ikut digiring sebagai tawanan.”  (Yesaya 60:11) Artinya Tuhan sanggup membuka pintu bagi kita di segala keadaan, di segala musim kehidupan kita.  Dengan kata lain berkat Tuhan tidak terpengaruh situasi!

    Jadi, asalkan kita benar-benar hidup melekat kepada Tuhan dan  tinggal  di dalam firman-Nya, tak ada yang perlu ditakutkan dan dikhawatirkan dengan hidup ini.  Yakinlah, sekalipun dunia saat ini menghadapi goncangan ekonomi yang sangat dahsyat, resesi sudah ada di ambang pintu, tapi jika Tuhan membuka pintu-pintu berkat bagi kita, tak ada kuasa mana pun yang mampu menghalanginya.

    Ingatlah! Alexander Graham Bell (Penemu telepon) berkata, Apabila satu pintu tertutup, maka pintu yang lainpun terbuka lebar. Akan tetapi seringkali kita menatap pintu yang tertutup itu begitu lamanya dan begitu sedihnya, sehingga kita tak menyadari ada pintu lain yang terbuka lebar bagi kita.” GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • Dibutuhkan Kesabaran yang Tinggi

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Semoga hari ini kita sehat-sehat, semakin segar dan tetap semangat. Jack Ma, seorang pebisnis besar asal Tiongkok berkata, “Saat ini tidak tepat kalau kita berbicara tentang untung rugi, apalagi tentang mengembangkan suatu usaha. Saat ini paling tepat berbicara tentang bagaimana kita mempertahankan hidup sampai pandemi Covid – 19 berlalu.”

    Untuk bisa bertahan hidup dalam situasi yang serba tidak menentu, sulit, menekan, dan mencekam dibutuh KESABARAN yang tinggi.

    Di zaman yang serba instan dan teknologi serba canggih, orang yang sabar menjadi barang langka, sulit ditemukan.

    Saat ini, kita sulit sekali menjadi orang yang sabar. Banyak orang maunya melakukan segala sesuatu serba cepat, tanpa pikir panjang dan terburu-buru. Karena itu kepada kita semua, pembaca RH pada hari ini, Rasul Paulus menasihati, “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” (Roma 12:12)

    Apa yang dimaksud dengan sabar dalam kesesakan? Ketika kita sedang dalam masalah, kesulitan, tantangan atau beban hidup, kita tidak ber-sungut-sungut atau mengeluh. Namun kita selalu memiliki penyerahan diri penuh kepada Tuhan. Semua persoalan yang terjadi kita pasrahkan kepada Tuhan di dalam doa.

    Kita mau menunggu waktu Tuhan untuk dinyatakan bagi kita. Jadi kita tidak akan pernah mengambil jalan pintas dan menuruti kemauan kita sendiri. Sebaliknya kita akan rela dan tekun menantikan waktu Tuhan tanpa harus mempersoalkan apakah masa penantian itu cepat atau lambat.

    Untuk melewati masa kesesakan ini, belajarlah selalu mencukupkan diri dengan berkat-berkat yang ada dan tetap bersabar menantikan kuasa Tuhan dinyatakan, karena segala sesuatu indah pada waktu-Nya!

    Bacaan Alkitab pada hari ini diambil dari Roma 8:28, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”

    Marilah kita jalani dan nikmati hidup pada hari ini dengan satu keyakinan bahwa semua orang yang menantikan Tuhan takkan mendapat malu.

    Ingatlah! Dalam situasi yang sangat sulit seperti saat ini, kita perlu terus memohon kepada Tuhan agar Ia berkenan memberitahukan jalan-jalan-Nya. Mari bersama dengan raja Daud kita berdoa, “Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari.” (Mazmur 25:5) GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • Hidup adalah KESEMPATAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Tuhan menyapa kita dengan pagi hari. Cerita kita bermula  dari pagi hari. Kesempatan baru juga dibukakan Tuhan di pagi hari. Karena itu nikmati pagi hari bersama Tuhan, jangan kita sia-siakan. 


    Ada ungkapan yang menyatakan bahwa kesempatan tidak datang untuk kedua kalinya.  Oleh karena itu jangan pernah sia-siakan setiap kesempatan yang ada.  Dalam perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah (Lukas 13:6-9), dikatakan sudah tiga tahun lamanya si pemilik kebun mencari buah pada pohon ara itu, namun ia tidak mendapatkannya.  Lalu si pengurus kebun meminta kepada pemilik kebun untuk diberi kesempatan setahun lagi;  “…aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!”  (ayat 8-9).  Ini berbicara tentang sebuah kesempatan!

    Dalam hidup kita menjumpai ada banyak kesempatan.  Dengan kata lain hidup ini adalah sebuah kesempatan.  Pertanyaannya:  bagaimana agar kita dapat melihat kesempatan itu dan menggunakannya dengan baik?  Orang-orang yang berhasil dalam bidang apa pun yang ditekuninya adalah mereka yang mampu menangkap setiap kesempatan yang menghampiri hidupnya.  Bukan berarti mereka tidak pernah gagal, tapi mereka mampu menjadikan kegagalan sebagai kesempatan untuk belajar, berbenah dan memperbaiki diri.  Sebaliknya ada banyak orang yang hidup dalam kegagalan demi kegagalan oleh karena telah menyia-nyiakan dan membuang kesempatan yang datang dalam hidupnya.

    Sesungguhnya semua orang mempunyai kesempatan yang sama, yang membedakan antara yang satu dengan yang lain adalah apakah dia bisa menggunakan kesempatan dalam hidup ini dengan baik, ataukah justru menyia-nyiakannya.  Maka penulis kitab Pengkhotbah mengingatkan kita  “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.”  (Pengkhotbah 9:10). 

    Selagi ada waktu dan kesempatan, selagi kita masih diberi nafas hidup oleh Tuhan, mari kita kerjakan segala sesuatu yang Tuhan sudah percayakan dalam bidang apa pun  (pelayanan, pekerjaan, studi, bisnis, dan lain sebagainya)  dengan  sungguh-sungguh, sepenuh hati,  tidak setengah-setengah, dengan segenap daya upaya.

    Ingatlah ! Tugas kita menemukan kesempatan dalam setiap situasi yang ada, sebab jika hidup ini berakhir tidak ada lagi kesempatan untuk bertobat.  Sesudah mati tidak ada lagi kesempatan untuk berbuat baik bagi diri sendiri dan sesama. GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • Bahan Baku Terjadinya Mukjizat

    Selamat jumpa Para Pendukung Kristus, apa kabar? Kesehatan adalah harta terpenting dari kehidupan, karena segala aktivitas kita hanya bisa dilakukan ketika kondisi tubuh kita sehat. Cara termudah untuk menjaga kebugaran tubuh kita dan mencegah supaya tidak mudah terserang penyakit adalah dengan menjaga pola makan dan pola hidup kita.

    Saudara, cukup banyak orang pandangannya hanya terfokus atau tertuju kepada hal-hal yang lahiriah saja.  Akibatnya karena hanya memusatkan perhatian terhadap hal-hal yang kelihatan saja, mereka mudah sekali tawar hati.  Tawar hati adalah ungkapan yang menyatakan suatu keadaan seseorang yang sedang tidak bersemangat, tak ada kemauan atau motivasi lagi, mudah cemas dan khawatir, tidak lagi antusias, hilang keberanian, dan mudah kecewa.

    Mengamati dan merasakan tubuh lahiriahnya semakin merosot, orang menjadi tawar hati.  Padahal tubuh jasmani  semakin hari semakin merosot adalah fakta yang tak bisa kita hindari dan pungkiri.  Bagaimanapun juga semakin bertambahnya usia seseorang, semakin tua, maka fisik pun semakin melemah.  Tak ada obat atau cara untuk menghambat menjadi tua atau bertahan agar tetap awet muda.  Tidak sedikit orang menjadi stres karena takut menjadi tua, takut fisiknya tidak bagus lagi, karena itu mereka berusaha sedemikian rupa untuk memermak tubuhnya dengan cara oplas sana sini. 

    Rasul Paulus tidak tawar hati sekalipun tubuh lahiriahnya semakin merosot, “Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.”  (2 Korintus 4:16),   karena ia sadar bahwa manusia itu berasal dari debu  (Kejadian 2:7).  Pada saatnya manusia akan kembali kepada debu.  “…sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.”  (Kejadian 3:19).

    Hal berikut yang menguatkan Rasul Paulus, sekalipun manusia lahiriahnya merosot, manusia batiniahnya diperbaharui dari hari ke sehari.  Ada kebenaran di sini:  ada manusia lahiriah dan batiniah;  ada yang kelihatan dan tak kelihatan.  Manusia lahiriah atau yang kelihatan sifatnya hanya sementara, akan kembali kepada debu.  Tetapi manusia batiniah itu kekal dan akan membawa kita bertemu Tuhan. 

    Alkitab menyatakan bahwa pada saat kedatangan Kristus kelak, orang percaya akan hidup dengan tubuh yang sudah dibangkitkan dan dimuliakan.  “Demikianlah pula halnya dengan kebangkitan orang mati. Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan. Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan. Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah.”  (1 Korintus 15:42-44).

    Yang kelihatan juga berbicara tentang masalah dan penderitaan hidup yang kita alami.  Masalah dan penderitaan seringkali membuat kita mudah tawar hati.  Rasul Paulus tidak tawar hati sekalipun ia harus mengalami penderitaan dan masalah yang berat dalam hidupnya  (2 Korintus 11:23-28), karena ia percaya akan janji Tuhan, bahwa di balik penderitaan yang kelihatan ini ada sesuatu yang tidak kelihatan, yaitu kemuliaan.  “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.”  (Roma 8:18).  Ingatlah! Di balik masalah ada rencana Tuhan yang indah, karena masalah adalah  bahan baku  terjadinya mukjizat! GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • Jalan Keteladanan itu Dekat dan Efektif

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Sehat-sehat dan tetap semangat menyambut sang mentari pagi yang setia menyapa kita dengan ramahnya. Bersyukurlah untuk anak-anak dan cucu-cucu yang Tuhan titipkan kepada kita.

    Mira Widjaja (Novelis) berkata bahwa mendidik anak bukan dengan segebung nasihat dan larangan, tapi dengan teladan dan penuh pengertian. Ada tugas dan panggilan yang diberikan Tuhan kepada setiap orangtua dalam memersiapkan generasi penerusnya.  Tugas dan panggilan itu adalah memberikan teladan hidup bagi anak-anak dan cucu-cucunya melalui kehidupan sehari-hari. 

    Jadi orangtua haruslah bisa menjadi teladan dan panutan bagi anak-anak dan cucu-cucunya.  Menjadi teladan berarti memberi nilai atau dampak yang bisa dirasakan anak-anak dan cucu-cucunya.  Pada taraf ini orangtua bisa berkata,  “…turutilah teladanku!”  (1 Korintus 4:16). 

    Orangtua harus menjadi teladan dalam hal berbuat baik.  Orangtua harus bisa mengajarkan kepada anak-anak dan cucu-cucunya  bagaimana melakukan kebaikan kepada semua orang.  Berbuat baik di sini bukan semata-mata berbicara tentang pemberian materi, tetapi termasuk juga perhatian, waktu dan tenaga, yang dikorbankan bagi orang lain yang sedang membutuhkan.  “Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.”  (Amsal 3:27).  

    Orangtua harus menjadi teladan dalam hal pengajaran.  Inilah tugas terpenting yang tidak boleh dilupakan oleh orangtua yaitu mengajarkan kebenaran firman Tuhan kepada anak-anak dan cucu-cucunya.  Betapa banyak orangtua yang lalai menjalankan tugas ini karena mereka lebih memprioritaskan pemenuhan kebutuhan materi  (jasmani)  untuk anak-anaknya, daripada memenuhi kebutuhan rohaninya, yaitu mengajarkan firman Tuhan kepada anak-anak dan cucu-cucunya, sebagaimana yang Tuhan perintahkan,  “Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun;” (Ulangan 11:19).

    Orangtua tidak bisa menuntut anak-anak dan cucu-cucunya untuk berubah jika mereka sendiri tidak menunjukkan perubahan hidup.  Wujud dari apa yang diajarkan orangtua adalah keteladanan.  Karena itu orangtua harus berhati-hati dalam setiap perkataan dan perbuatannya, sebab anak-anak dan cucu-cucu memperhatikan apa yang dilihatnya setiap hari.

    Ingatlah! Orang dapat meragukan apa yang Saudara katakan, tetapi mereka akan memercayai apa yang Saudara lakukan. Seneca (filsuf dan negarawan) berkata, “Manusia lebih cenderung memercayai matanya, dibanding dengan telinganya. Jalan dari peraturan itu panjang dan membosankan, tetapi jalan dari keteladanan itu dekat dan efektif. GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • Minggu-Minggu yang Tetap Untuk Panen

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Sehat-sehat dan tetap semangat mengiring Yesus Kristus. Kita menjadi murid yang senantiasa mau taat kepada Sang Guru yang telah memberi keteladanan kepada kita tentang ketaatan.

    Saudara, takut akan Tuhan adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh setiap orang yang mengaku dirinya sebagai orang percaya. Dalam kitab Amsal 1:7 dikatakan bahwa  “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.”  Itulah sebabnya orang yang takut akan Tuhan pasti akan menjadi orang yang bijaksana, karena ia  “…mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.”  (Ibrani 5:14). 

    Wujud sikap takut akan Tuhan adalah taat melakukan kehendak-Nya, sebagaimana Kristus telah memberikan teladan bagaimana Ia taat melakukan kehendak Bapa, bahkan taat sampai mati di kayu salib.  Karena itu kita wajib mengikuti jejak-Nya yaitu hidup dalam ketaatan. 

    Kekristenan tanpa memiliki rasa takut akan Tuhan adalah sia-sia!  Hidup takut akan Tuhan adalah hidup yang penuh hormat kepada Tuhan, yang ditandai dengan rasa takut untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan firman Tuhan, sehingga dengan penuh komitmen kita mengasihi Tuhan dan menempatkan Dia sebagai yang terutama dalam hidup ini.

    Secara sepihak kita seringkali menuntut Tuhan untuk memberkati atau menggenapi janji-janji firman-Nya, tetapi kita sendiri tidak mau membayar harga.  Adakalanya Tuhan mengizinkan masalah terjadi dalam hidup kita sebagai bagian dari proses pendewasaan iman, namun tidak sedikit masalah harus kita alami sebagai akibat dari ketidaksungguhan kita dalam mengikut Tuhan atau kita tidak takut akan Tuhan.  Padahal takut akan Tuhan adalah kunci utama untuk kita mengalami berkat-berkat Tuhan. 

    Tuhan pasti akan mengerjakan bagian-Nya yaitu memberkati kita, asalkan kita juga mengerjakan bagian kita yaitu takut akan Dia.  Pemazmur menulis:  “Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati. Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap untuk selamanya.”  (Mazmur 112:1-3).

    Dikatakan pula bahwa  “Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia,”  (Mazmur 33:18)  dan  “Ia melakukan kehendak orang-orang yang takut akan Dia,”  (Mazmur 145:19).  Berkat tidak datang secara otomatis dalam hidup saat kita memutuskan untuk menjadi pengikut Kristus.  Tetapi berkat akan menjadi bagian hidup kita seiring dengan ketaatan kita dalam melakukan firman Tuhan!

    Ingatlah! Di hari-hari ini banyak orang merasa pesimis menghadapi hari esok karena melihat situasi yang semakin sulit dan serba tidak menentu.  Tetapi orang yang senantiasa takut akan Tuhan tak perlu merasa takut dan khawatir, karena keberadaan kita tidak ditentukan oleh situasi yang ada, melainkan karena kehadiran Tuhan dalam hidup ini.   “Baiklah kita takut akan TUHAN, Allah kita, yang memberi hujan pada waktunya, hujan pada awal musim maupun hujan pada akhir musim, dan yang menjamin bagi kita minggu-minggu yang tetap untuk panen.”  (Yeremia 5:24). GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • Setia Sampai Akhir

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Di saat pandemi seperti saat ini yang paling penting menjaga kesehatan rohani dan jasmani kita. Marilah kita terus setia dan disiplin menjalankan pola makan dan pola hidup. Semoga ketika Tuhan datang menjumpai kita, Tuhan menemukan kita sebagai orang yang setia.

    Saat ini mencari orang yang pandai dan berpendidikan tinggi sangat banyak, tapi untuk mencari orang yang setia, bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami, sangat sulit menemukannya.

    Saudara, Smirna  (di Turki)  adalah sebuah kota yang terkenal sangat makmur dan indah.  Di kota itu diberlakukan suatu aturan yang sangat keras,  rakyat diwajibkan untuk menyembah kaisar.  Hal tersebut untuk membuktikan kesetiaan dan loyalitas rakyat kepada pemerintahan Romawi, sampai-sampai rakyat menyerukan kaisar sebagai tuhan.  Ini menjadi suatu tantangan besar bagi para pengikut Kristus  (jemaat Tuhan)  di kota Smirna.

    Syukur kepada Tuhan, sekalipun berada dalam tekanan, jemaat di Smirna ini tetap teguh memertahankan imannya kepada Tuhan dan tidak mau berkompromi dengan dosa, mereka menolak untuk menyembah Kaisar.  Akhirnya mereka pun dianggap telah melanggar hukum, pembangkang, sehingga tidak sedikit dari mereka yang mengalami penganiayaan.  Jemaat Smirna rela mempertaruhkan nyawanya demi kebenaran dan berpendirian teguh untuk tidak menyembah kepada  kaisar.  Mereka berkomitmen untuk tetap setia mengiring Kristus sampai akhir sekalipun ada harga yang harus dibayar. 

    Dalam perjalanan kehidupan rohani, kita seringkali diperhadapkan pada tantangan yang tak beda jauh dengan jemaat di Smirna.  Tapi karena tak kuat dengan tekanan, intimidasi, aniaya, atau penderitaan, ada cukup banyak orang percaya yang menyerah di tengah jalan, memilih untuk melakukan kompromi, dan menyangkal imannya.  Padahal Tuhan telah menyediakan upah yang besar bagi setiap orang percaya yang setia sampai akhir, yaitu mahkota kehidupan.  Tuhan menginginkan kita setia, apa pun keadaannya, sampai garis akhir hidup kita.  Kita bisa meneladani Rasul Paulus yang berkomitmen,  “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”  (Filipi 1:21).

    Kata  Smirna  berarti mur, semacam damar yang pahit, tetapi baunya sangat harum dan sering dipakai sebagai bahan untuk membuat minyak wangi.  Itulah gambaran kehidupan orang percaya yang mampu bertahan sampai akhir, yang sekalipun harus diperhadapkan dengan hal-hal yang pahit  (penderitaan), tapi hidup mereka berbau harum di hadapan Tuhan, hidup yang mempermuliakan nama Tuhan. 

    Ingatlah! Tuhan minta supaya kita setia sampai akhir, dan mahkota tersedia bagi kita, “Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.”  (Wahyu 2:10b). GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • Mbabat Alas

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Dalam situasi kita masih berperang melawan pandemi virus Corona, bersyukurlah jika kita masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menikmati hari yang baru, menikmati rahmat-Nya yang selalu baru setiap pagi.

    Cukup banyak orang hanya memusatkan perhatian atau fokus kepada hal-hal yang besar saja, seringkali mereka melupakan, bahkan meremehkan dan menyepelekan hal-hal yang kecil dan sederhana. Padahal untuk bisa sampai kepada perkara-perkara yang besar, kita harus mulai dari hal-hal yang kecil.

    Untuk bisa mencapai puncak gunung, kita harus mulai pendakian dari bawah, melewati lembah, lereng, dan bukit terlebih dahulu. Ada kalimat bijak yang mengatakan bahwa perjalanan beribu-ribu mil, dimulai dari langkah pertama.

    Pengalaman hidup saya bercerita bahwa sebelum kita layak untuk menerima sebuah kepercayaan yang lebih, mau tidak mau, kita harus terlebih dahulu melewati proses dari bawah. Kita tidak bisa secara tiba-tiba berada di puncak. Ada ujian kesetiaan, ujian ketekunan, dan ujian kesabaran dalam melakukan perkara-perkara kecil. Bahkan, adakalanya kita harus melewati pengalaman pahit atau situasi yang sangat menyakitkan, namun kita tidak boleh menyerah begitu saja. Kita harus terus melangkah dan tetap mengerjakan apa yang menjadi bagian kita, tanpa ada sungut-sungut. Itu adalah modal untuk beroleh kepercayaan lebih!

    Saat paceklik seperti saat ini, bisa kita pakai untuk mencoba aktivitas, bentuk pelayanan dan atau usaha yang baru. Kita mesti mbabat alas, mulai dari nol, mulai dari bawah, mulai dari kecil-kecilan dulu. Butuh hati yang mantap untuk memulai, butuh keuletan, ketekunan, dan kesabaran. Butuh doa dan perjuangan.

    Bacaan Alkitab pada hari ini diambil dari Matius 13:32, “Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.”

    Mari kita jalani dan nikmati hidup pada hari ini dengan satu keyakinan bahwa terhadap orang yang setia,  Tuhan berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela, Tuhan berlaku tidak bercela.

    Ingatlah! Terlebih dahulu kita harus bersedia melewati proses dari bawah sebelum kita layak untuk menerima sebuah kepercayaan yang lebih, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. …” (Lukas 16:10). GBU & Fam. Better day are coming. (pg)