Category: Karib Dengan Tuhan

  • Menjadi ORANG YANG BAIK HATI

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Saat ini hampir semua orang turun pendapatannya, bahkan ada cukup banyak orang yang tidak mempunyai pendapatan selama beberapa bulan terakhir ini. Mari kita berdoa kepada Tuhan, agar kita dimampukan oleh Tuhan, di tengah-tengah situasi seperti itu, kita masih tetap dapat menaruh perhatian kepada orang-orang yang lebih lemah dan lebih membutuhkan daripada kita.

    Saudara, ada cukup banyak orang percaya yang berpendapat bahwa ibadah adalah ketika kita mengikuti kegiatan-kegiatan yang bersifat ritual di gereja. Kamus Besar Bahasa Indonesia memberi definisi bahwa ibadah adalah  perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah, yang didasari ketaatan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.  Sedangkan di dalam Yakobus 1:27 dijelaskan,  “Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.”


    Coba kita simak apa yang disampaikan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Galatia, “hanya kami harus tetap mengingat orang-orang miskin dan memang itulah yang sungguh-sungguh kuusahakan melakukannya.”(Galatia 2:10). Itulah yang disampaikan Rasul Paulus  agar mereka juga mau memerhatikan dan membantu orang-orang miskin dengan tindakan nyata.  

    Firman Tuhan jelas menyatakan bahwa apa yang kita lakukan kepada orang miskin dan berkekurangan adalah bukti bahwa kita mengasihi Tuhan, dan itu sama dengan kita melakukannya untuk Dia.  Tuhan Yesus bersabda,  “… sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”  (Matius 25:40).

    Saudara, di saat pandemi Covid – 19, di sekitar kita banyak sekali orang yang mengalami kesulitan dengan pendapatan  dan usaha mereka. Ada cukup banyak saudara-saudara kita yang dirumahkan, bahkan di PHK. Juga banyak para usahawan yang saat ini sedang bingung dan gelisah, karena usaha mereka hampir macet total. Tentu saja kesulitan tersebut juga berimbas pada lembaga-lembaga gerejawi dan lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan. Pengurus Panti Asuhan Christopherus juga melaporkan bahwa di masa pandemi saat ini ada cukup banyak donatur yang tidak dapat memberikan donasi mereka. Saudara, saya sadar saat ini banyak diantara kita yang sedang mengalami kesulitan keuangan. Minimal pendapatan kita mengalami penurunan. Di tengah-tengah situasi seperti itu, baiklah kita tetap ingat dengan panggilan untuk menjadi orang yang baik hati, Salomo dalam amsalnya berkata,  “Orang yang baik hati akan diberkati, karena ia membagi rezekinya dengan si miskin.”  (Amsal 22:9).

    Ingatlah! Tuhan  tidak akan menutup mata terhadap apa pun yang diperbuat oleh orang yang baik hati,“Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi Tuhan, yang akan membalas perbuatannya itu.” (Amsal 19:17).  GBU & Fam. Better days are coming. (pg).

  • MENGUATKAN HATI

    Selamat jumpa para Pengikut Kristus, apa kabar? Saat ini, hampir semua orang, terutama orang-orang lanjut usia, sedang menghadapi masa yang sulit. Kita perlu tabah dan menguatkan hati, bukan hanya untuk hari ini, tapi juga untuk hari-hari ke depan.

    Raja Daud dan rakyatnya pada saat itu sedang menghadapi pergumulan yang amat sangat sulit, digambarkan, “Lalu menangislah Daud dan rakyat yang bersama-sama dengan dia itu dengan nyaring, sampai mereka tidak kuat lagi menangis.”  (1 Samuel 30:4). Daud dan segenap rakyatnya menangis dengan nyaringnya sampai akhirnya mereka sudah tidak kuat lagi menangis.  Rasa-rasanya sudah tidak kuat lagi menanggungnya,  “…tampaklah kota itu terbakar habis, dan isteri mereka serta anak mereka yang laki-laki dan perempuan telah ditawan.”  (1 Samuel 30:3).  Sungguh,  “…Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu.”  (1 Samuel 30:6a).

    Saudara, keadaan Daud dan rakyatnya pada waktu itu dapat digambarkan, “Sudah jatuh tertimpa tangga.”   Mungkin apa yang menimpa Daud saat itu juga pernah kita rasakan, atau mungkin bahkan sedang kita alami saat ini.  Ketika kita sedang menghadapi satu kasus, satu penyakit, satu musibah, atau satu kesulitan, orang-orang terdekat, teman, sahabat, dan kerabat yang kita harapkan dapat menolong, menguatkan dan meneguhkan kita, justru beranjak menjauh dan meninggalkan kita.  Dalam keadaan yang seperti ini, sebagai orang percaya, hendaknya kita tidak cepat putus asa.  Mari kita belajar untuk menyikapinya dengan benar seperti yang dilakukan Daud yaitu  “…menguatkan kepercayaannya kepada Tuhan, Allahnya.”  (1 Samuel 30:6c). 

    Yakinlah, sesungguhnya peristiwa demi peristiwa yang terjadi dalam kehidupan kita bukanlah sebuah kebetulan, sesungguhnya ada rencana Tuhan dibalik itu semua, sebab  “…Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”  (Roma 8:28).  Ketika masalah berat menimpa kita, jangan panik!  Kuatkan hati untuk datang kepada Tuhan, karena  “…dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.”  (Yesaya 30:15).  Mari belajar dari Daud. Ia menguatkan hatinya dan mau mendengarkan Tuhan sehingga ia dapat mengerti apa kehendak-Nya.  Daud tidak lagi lemah, semangatnya bangkit kembali.  Semangatlah yang menjadikan kita kuat, dan siap mengatasi setiap masalah yang ada.  “maka Daud melanjutkan pengejaran itu beserta empat ratus orang.”  (1 Samuel 30:10a).

    Di balik semangat hidup ada kekuatan iman.  Dengan menguatkan hati di dalam Tuhan Daud lebih tenang dan sabar meski banyak prajuritnya tidak kuat dan berbalik meninggalkannya.  Daud yakin bahwa Tuhan ada di pihaknya dan akan memberikan kemenangan.

    Ingatlah! Seberat bagaimana pun masalah yang sedang kita hadapi saat ini, jangan putus asa, tetapi kuatkan hati di dalam Tuhan karena pertolongan-Nya selalu datang tepat pada waktunya!“,,,  Tuhan ALLAH menolong aku; …  Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu … .” (Yesaya 50:7). GBU & Fam. Better days are coming. (pg).

  • Harta Paling Berharga: INTEGRITAS

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Selasa, 1 September 2020 malam, ada 2 berita yang membuat saya semakin prihatin. Yang pertama berjudul: “Semarang Jadi Daerah dengan Kasus Corona Tertinggi di Indonesia.” Yang kedua: “Malaysia Tutup Pintu untuk Warga Indonesia, India, dan Filipina.”. Semoga sebagai orang percaya, di tengah-tengah situasi yang semakin mencekam dan menekan, kita tetap bisa menjaga INTEGRITAS kita.

    Apa itu integritas? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Integritas adalah mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan;  kejujuran.  Orang yang memiliki integritas berarti memiliki kualitas hidup yang baik. 

    Saudara, ketika kita berada dalam kesulitan, tekanan atau masalah berat biasanya orang mudah sekali melupakan Tuhan, karena fokus kita  hanya tertuju kepada besarnya masalah.  Daniel merupakan salah seorang tokoh besar di Alkitab yang pernah melewati masa-masa sulit dalam hidupnya.  Kala itu para pejabat tinggi pemerintahan raja Darius berusaha mencari alasan untuk menuduh dan menyalahkan Daniel dengan meminta raja mengeluarkan surat ketetapan:  melarang semua orang menyembah Tuhan, dewa atau manusia lain kecuali kepada raja, dan bagi yang melanggar akan dilemparkan ke gua singa.

    Oh ya, siapakah Daniel itu?  Dia merupakan tawanan perang yang ditangkap Nebukadnezar  bersama-sama dengan orang-orang Yahudi dari golongan atas lainnya. Mereka diangkut ke Babel untuk dididik dan dipekerjakan di pemerintahan;  Daniel bekerja dibawah pemerintahan raja Nebukadnezar, Belsyazar dan Darius dari tahun 605-536 SM.  Dalam bahasa Ibrani nama Daniel berarti Tuhanlah hakimku.  Mendengar surat perintah raja, Daniel tidak takut atau gentar sedikit pun melainkan tetap menjaga integritas dirinya.  “… Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.”  (Daniel 6:11).  Apa yang diyakini dan dikatakan sesuai dengan apa yang dilakukan.  Ia percaya tidak ada yang layak disembah dan ditinggikan selain Tuhan yang hidup, yang duduk di atas takhta-Nya yang kudus di dalam Kerajaan Surga.  Sesuai arti namanya Daniel berkeyakinan bahwa Tuhanlah hakim yang adil, pasti sanggup menegakkan keadilan di tengah ketidakadilan.

    Begitu melihat Daniel sedang berdoa kepada Tuhannya segeralah orang-orang melaporkan kepada raja, sehingga raja pun terpaksa melaksanakan ketetapannya:  melemparkan Daniel ke gua singa.  Selama Daniel berada di gua singa  “…pergilah raja ke istananya dan berpuasalah ia semalam-malaman itu; ia tidak menyuruh datang penghibur-penghibur, dan ia tidak dapat tidur.”  (Daniel 6:19), karena membayangkan hal-hal buruk menimpa Daniel.  Apa yang dikhawatirkan raja tak terjadi!  Karena Tuhan benar-benar telah menjadi hakim yang membela perkara Daniel.

    Ingatlah! Sebagai komunitas orang percaya, mari kita kembangkan karakter kita masing-masing sehingga kita menjadi orang yang memiliki INTEGRITAS. Byron Pulsifer (penulis buku) berkata, “Salah satu harta yang paling berharga adalah integritas, jika Saudara memilikinya, jangan pernah saudara berkompromi untuk melepaskannya.” GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • Ada IMAN Ada HARAPAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Doa dan harapan saya, Saudara dalam keadaan sehat, segar, dan tetap bersemangat. Jadikan doa menjadi gaya hidup kita. Semoga kita berani berikrar: “Tidak bersaat teduh, tidak sarapan.”

    Saya yakin kita sebagai orang percaya setiap hari berdoa, minimal 5 kali sehari.  Tahukah Saudara,  ternyata berdoa bukan hanya aktivitas fisik saja, melainkan suatu perbuatan rohani juga.  Bukan hanya tindakan yang digerakkan oleh tubuh kita, melainkan juga suatu gerakan yang dilakukan dan didasari oleh roh kita.  Sebenarnya tubuh kita hanya sebatas membantu melaksanakan perbuatan roh kita;  jadi yang berdoa adalah roh kita.   Rasul Paulus menulis,  “… Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.”  (Roma 8:26)

    Sesungguhnya berdoa bukan hanya sebatas meminta atau memberi laporan terperinci tentang kebutuhan kita kepada Tuhan. Berdoa merupakan sarana mempererat hubungan kita dengan Tuhan yang didalamnya terkandung pujian, penyembahan dan ucapan syukur.  Bagaimanakah supaya doa kita berkuasa dan mampu menggerakkan hati Tuhan untuk bertindak?  Kita harus berdoa dengan iman.

    Hanya dengan iman, kita dapat berdoa dengan benar;  dan hanya dengan iman saja kita akan mengalami penggenapan janji-janji Tuhan. Yesus bersabda,  “…apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.”  (Markus 11:24).  Doa yang disertai dengan iman yang hidup membuka kesempatan bagi kita untuk mengalami mukjizat dan pertolongan dari Tuhan.  Ditegaskan pula,  “Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya.”  (Markus 11:23b).  Jadi kuncinya adalah iman!

    Selain iman, unsur lain yang tak kalah penting dalam doa adalah pengharapan.  Ini berbicara tentang ketekunan dan kesabaran kita dalam menantikan jawaban dari Tuhan,  “… dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.”  (Roma 5:4).  Iman dan pengharapan merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dan saling berkaitan satu sama lain.  Iman berarti percaya kepada Tuhan dan firman-Nya, sedangkan pengharapan berarti menantikan jawaban dan pertolongan dari Tuhan dengan tekun dan sabar.  Pengharapan inilah yang mendorong kita untuk terus-menerus berdoa siang dan malam sampai doa kita beroleh jawaban dari Tuhan (Baca Lukas 18:1-8).

    Saudara, Martin Luther King Jr. (Pendeta dan pemimpin pergerakan hak-hak sipil di AS) berkata, “Iman berani mengambil langkah pertama walaupun kita belum melihat seluruh anak tangganya.” Sedangkan Kenneth Hagin (Pendeta asal Amerika) berkata, “Iman mengubah harapan menjadi kenyataan.”  Penulis kitab Ibrani menuliskan, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat”  (Ibrani 11:1)

    Ingatlah! Tidak peduli seberapa mengkhawatirkan, mencekam dan menekan kondisi di sekitar kita saat ini, yakinlah SELALU MASIH ADA HARAPAN, JIKA KITA MEMILIKI IMAN. GBU & Fam. Better days are coming. (pg).

  • Tuhan BERKUASA Melaksanakan JANJI-NYA

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Manusia mudah berjanji, tapi juga mudah untuk melupakan apa yang pernah dia janjikan. Orang bijak berkata, “Bukanlah janji dan ucapan yang penting, yang jauh lebih berharga adanya tindakan dalam menepati semuanya.”

    Dalam masa Pandemi Covid – 19, kecemasan, kekhawatiran, dan ketakutan membayangi kita. Masih belum lengkap,  ada satu lagi yang membayangi kita yaitu kebimbangan. Sesungguhnya kebimbangan merupakan musuh dari iman.  Selama kebimbangan menguasai hati dan pikiran seseorang mustahil ia mempercayai janji Tuhan yang tertulis di Alkitab. 

    Apa saja yang seringkali mempengaruhi sikap dan reaksi kita terhadap janji Tuhan? Minimal ada 2 hal,  yang pertama keadaan kita sendiri dan yang kedua keadaan sekitar kita. Ketika kita sedang menantikan janji Tuhan, kadang keadaan kita justru tidak semakin  membaik, justru semakin memburuk.  Akhirnya kita menjadi bimbang dan ragu akan kepastian janji Tuhan.  Sementara kita melihat orang lain yang tidak hidup sungguh-sungguh di dalam Tuhan sepertinya lebih beruntung dan mendapatkan segala yang diinginkan.  Dalam keadaan seperti ini tidak jarang  kita kemudian mulai bertanya-tanya tentang janji Tuhan.

    Hari ini saya ajak Saudara untuk belajar dari Abaraham. Sebenarnya kita bisa memahami ketika Abraham menjadi bimbang ketika Tuhan berkata,  “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, …”  (Kejadian 12:2), dan  “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya. … Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.”  (Kejadian 15:5). Ketika dia mendengar janji Tuhan tersebut usianya sudah lanjut, sudah berumur 75 tahun, dan istrinya  (Sara)  juga sudah menopause, yang secara ilmu kedokteran sudah mustahil untuk memiliki keturunan.  Bagaimana respons Abraham ketika mendengar hal itu?  “… percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.”  (Kejadian 15:6).  Bahkan Sara sempat tertawa ketika mendengar janji Tuhan tentang hal itu, tetapi pada akhirnya mereka melihat janji Tuhan tersebut digenapi.  “Maka mengandunglah Sara, lalu ia melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham dalam masa tuanya, pada waktu yang telah ditetapkan, sesuai dengan firman Allah kepadanya.”  (Kejadian 21:2).

    Penantian yang dijalani Abraham bukanlah penantian yang singkat, namun butuh waktu yang cukup lama.  Kita tahu bahwa menanti adalah pekerjaan yang sangat membosankan!  Belum lagi kondisi fisiknya yang sudah menua dan melemah.  Sesungguhnya Abraham punya alasan untuk berhenti berharap, namun ia tetap memegang teguh janji Tuhan dan percaya Tuhan sanggup melakukan segala perkara dan tidak ada rencana-Nya yang gagal  (Ayub 42:2), termasuk dalam hal memberi keturunan, “Adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk TUHAN?”  (Kejadian 18:14a)

    Ingatlah! Perjalanan iman Kristen adalah sebuah proses!  Proses adalah berkenaan dengan waktu, butuh kesabaran, kesetiaan dan ketekunan.  Proses ini bertujuan untuk melatih, menguatkan dan menguji iman kita.  Orang percaya yang mampu melewati proses ini akan tampil sebagai pribadi yang berkualitas, mampu bertahan di tengah goncangan, tidak terombang-ambing oleh keadaan yang tidak menentu, membuat kita tetap fokus dalam menanti janji Tuhan, dan tetap memiliki keyakinan seperti Abraham bahwa,   “…Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.”  (Roma 4:21). GBU & Fam. Better days are coming. (pg). 

  • Kenalilah JALAN Tuhan

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Sesungguhnya setiap orang mempunyai jalan hidup sendiri. Orang bijak berkata, “Jangan pernah berharap jalan hidupmu akan seperti orang yang lain. Perjalanan hidupmu adalah sesuatu yang unik seperti dirimu.”

    Saudara, dalam hidup ini setiap hari kita berjumpa dan berurusan dengan yang namanya jalan. Coba perhatikan, untuk mencapai suatu tujuan,  hal yang paling kita butuhkan adalah jalan, sebab tanpa adanya jalan, sampai kapan pun kita tidak akan pernah mencapai tempat yang hendak kita tuju.  Begitu pula bila kita salah dalam memilih jalan,  akan berakibat sangat fatal dan tidak akan pernah membawa kita ke tempat tujuan, sebab  “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.”  (Amsal 14:12).

    Bagaimana dengan jalan Tuhan? Kadang sangat tidak mudah untuk memahami dan mengerti jalan-jalan Tuhan,  “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.”  (Yesaya 55:8-9). 

    Memang terkadang jalan-jalan Tuhan terasa berat untuk diikuti, tapi selalu ada rencana-Nya yang indah dan semua itu mendatangkan kebaikan bagi kita.  Pemazmur menyatakan,  “Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya.”  (Mazmur 25:10).  Sayang, tidak semua orang mau menempuh jalan Tuhan, mereka lebih memilih berjalan menurut pengertian dan kehendaknya sendiri.  Pikir mereka jalan Tuhan itu penuh aturan atau rambu-rambu,  “… lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.”  (Matius 7:13-14). 

    Kalau kita tidak mengenali jalan-jalan Tuhan, kita tidak akan memiliki pengalaman iman berjalan bersama-Nya.  Dengan memahami jalan-Nya kita juga akan semakin mengenal pribadi-Nya,  “Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.”  (Yesaya 43:19).

    Ingatlah! Kadang jalan Tuhan itu memang sulit untuk dimengerti dan serasa tidak masuk akal, karena itu mari bersama dengan Daud berdoa, “… sebab kepada-Mulah aku percaya! Beritahukanlah aku jalan yang harus kutempuh, …”  (Mazmur 143:8). GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • KABECIKAN GUSTI Langgeng Salaminya

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Sehat-sehat dan tetap antusias untuk menyatakan bahwa Tuhan itu baik sepanjang waktu. Kabecikan Gusti langgeng salaminya.  Memang tidak ada seorang pun manusia yang sempurna, tapi apa yang telah Tuhan berikan kepada kita, baik adanya.

    Siapa diantara kita yang belum pernah merasakan kebaikan Tuhan?  Sesungguhnya, semua yang telah kita jalani  dan alami  merupakan akumulasi kasih dan kebaikan Tuhan.  Kita tidak akan  sanggup menghitung dan mengukurnya,  “…betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus.”  (Efesus 3:18).

    Ketika di pagi hari kita dapat bangun dari tidur, itu semata-mata karena kebaikan Tuhan.  Tubuh kita sehat dan segar karena kebaikan Tuhan.  Jika kita bisa makan, minum, bekerja, terlibat dalam pelayanan, memiliki keluarga dan orang-orang dekat yang mengasihi kita, semuanya karena kebaikan Tuhan. 

    Kasih terbesar yang telah kita terima adalah keselamatan melalui pengorbanan Kristus di kayu salib. Dosa kita diampuni-Nya dan kita didamaikan dengan Bapa,   “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN,”  (Mazmur 32:1-2).  Lebih dari itu kita yang percaya kepada-Nya diangkat menjadi anak-anak-Nya.  “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;”  (Yohanes 1:12).

    Saudara, jika menyadari Tuhan sangat mengasihi kita, maka seharusnya kita mengasihi-Nya   lebih dari apa pun.  Tanda orang mengasihi Tuhan adalah kerinduannya yang besar untuk mencari hadirat-Nya lebih dari berkat-berkat-Nya,  “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?”  (Mazmur 42:2-3). 

    Nabi Yeremia membuat pengakuan,  “Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya; firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku, sebab nama-Mu telah diserukan atasku, ya TUHAN, Allah semesta alam.”  (Yeremia 15:16). 

    Ingatlah! Mari bersama dengan Pemazmur, setiap hari kita bertanya, “Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku?”  (Mazmur 116:12). GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • KESUKSESAN Milik Siapa?

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Semoga kita menjadi orang yang rajin bangun pagi dan bersaat teduh. Menyediakan waktu secara khusus untuk mendengar suara Tuhan dan berbicara kepada Tuhan. Thomas Alva Edison (Penemu lampu pijar dan pendiri General Electric) berkata bahwa sukses adalah milik mereka yang rajin dan giat bekerja.

    William A. Ward (Motivator asal Amerika) memberikan resep bagaimana menjadi sukses:  “Kunci kesuksesan adalah rajin belajar pada saat orang lain sedang tidur, rajin bekerja pada saat orang lain sedang bermalas-malasan, memersiapkan diri pada waktu orang lain bermain-main, dan memiliki mimpi di saat orang lain memiliki keinginan.”

    Prinsip yang perlu kita pegang, untuk menjadi orang yang sukses,  ada harga yang harus dibayar yaitu berani keluar dari zona nyaman, mau bekerja lebih keras dari kebanyakan orang, serta memergunakan waktu yang ada sebaik mungkin. 

    Saudara, ketika Tuhan menempatkan manusia pertama,  Adam dan Hawa di taman Eden, Tuhan memberikan perintah kepada mereka untuk bekerja, bukan untuk bermalas-malasan,    “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”  (Kejadian 2:15). 

    Jadi, perintah untuk bekerja sudah diberikan Tuhan sebelum manusia jatuh dalam dosa.  Dengan kata lain bekerja bukanlah sebagai akibat manusia jatuh dalam dosa, sebab  “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga.”  (Yohanes 5:17).  Jika Tuhan saja tetap bekerja, masakan kita sebagai anak-anak-Nya hanya mau berpangku tangan? 

    Pesan firman Tuhan hari ini,  “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.”  (Pengkotbah 9:10).  Kalimat kerjakanlah itu sekuat tenaga artinya harus dikerjakan dengan rajin, bersungguh-sungguh, dan tidak dengan setengah hati.  Mengapa kita harus bekerja dengan rajin?  Karena kerajinan adalah salah satu modal untuk meraih kesuksesan, sebab   “Tangan orang rajin memegang kekuasaan,”  (Amsal 12:24).

    Maka tidak heran kalau penulis Amsal pun memeringatkan kita untuk tidak malu belajar dan mencontoh kehidupan semut, yang termasuk salah satu binatang terkecil di bumi,  “…tetapi yang sangat cekatan: semut, bangsa yang tidak kuat, tetapi yang menyediakan makanannya di musim panas,”  (Amsal 30:24-25).

     
    Ingatlah! Anda ingin jadi orang yang berhasil? Berikut salah satu resepnya, “Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya.” (Amsal 10:4). Better days are coming. (pg)

  • Kemuliaan Tuhan TERBIT ATASMU

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Ketika pagi hari ini mentari  menyapa kita dengan ramahnya, kembali kita diingatkan bahwa kegelapan tidak mungkin mengubah kegelapan, hanya TERANG yang dapat mengubah kegelapan. Semoga kita senantiasa ingat dengan panggilan hidup kita UNTUK MENJADI TERANG.

    Kemarin pagi saya membaca berita di “Media Indonesia” bahwa pencairan program Bantuan Subisidi Upah (BSU) bagi pekerja yang sejatinya akan mulai dicairkan tanggal 25 Agustus 2020 ditunda. Berita tersebut kemudian saya teruskan kepada teman-teman di kantor,  secara spontan mereka berujar, “Hari ini kami belum beruntung.”.

    Siangnya saya ke Pusat Isi Ulang Tinta Printer. Saya sudah lama menjadi pelanggan di toko tersebut. Salah seorang pegawainya berbagi cerita kepada saya, “Sejak bulan April 2020 gaji mereka setiap bulan diangsur empat kali dan sampai 25 Agustus 2020 gaji yang sudah dibayar baru sampai bulan Juni 2020.”.

    Setelah tiba di kantor, HP saya berdering, ternyata datang dari seorang teman sepelayanan. Dengan nada sedih dia berkata, “Pak Paul, maaf, saya mau mundur dari kepengurusan, saya mau konsentrasi dulu mengurus 4 perusahaan saya yang hampir macet total.”.

    Saudara, sejatinya hidup orang percaya adalah hidup  berjalan bersama Kristus setiap hari.  Sebagaimana Kristus adalah terang dunia, maka orang percaya pun diminta untuk bisa menjadi terang dunia, sebab  “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.”  (1 Yohanes 2:6).  “Kamu adalah terang dunia… Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”  (Matius 5:14a,16).

    Saudara, hidup  menjadi terang berarti orang percaya tidak lagi menjalani hidup secara asal-asalan, tetapi punya kehidupan yang berarti dan berdampak bagi dunia.  Karena itu orang percaya harus mengalami percepatan untuk bangkit dari segala permasalahan hidup, bangkit dari keterpurukan, dan bangkit dari segala ketertinggalan.  “…marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.”  (Ibrani 12:1).  Itulah caranya agar  kehidupan kita bisa menjadi kesaksian yang baik.  Tanpa memiliki kehidupan yang berbeda dari orang-orang dunia, kita tidak akan bisa menjadi terang dan menyatakan kemuliaan Kristus di tengah-tengah dunia ini.  Perhatikan dunia saat ini!  Dunia semakin hari semakin kelam dan diliputi oleh kegelapan yang teramat pekat. Banyak orang yang menjadi pesimis dan frustasi.

    Ingatlah! Ketika banyak orang berputus asa, frustasi dan kehilangan semangat, ini adalah kesempatan bagi orang percaya untuk bangkit dan menjadi terang.  Kita harus bersaksi kepada mereka bahwa di dalam Kristus  ada masa depan dan harapan. Di dalam Kristus ada jalan keluar. Kristus adalah jawaban yang pasti untuk setiap pergumulan hidup. “Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu.”  (Yesaya 60:1). GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • Semakin DISUKAI Tuhan dan Sesama

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Sehat-sehat dan tetap semangat mengerjakan hal-hal yang masih Tuhan percayakan kepada kita. Kerjakanlah dengan sepenuh hati. Mahatma Gandhi (Politikus dari India) berkata bahwa kualitas pekerjaanmulah yang akan menyenangkan Tuhan, bukan jumlahnya.


    Manusia hidup di dunia ini hanya satu kali dan singkat, maka Musa menggambarkan, “Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh, di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu.” (Mazmur 90:5-6). Jika kita menyadari bahwa hidup ini hanya sekali dan teramat singkat seharusnya kita   termotivasi mengisi hari-hari yang ada  dengan hal-hal yang positif dan berguna.

    Pepatah lama mengatakan,  “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, dan manusia mati meninggalkan nama.”  Sedangkan Alkitab  menyatakan:  “Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, …”  (Amsal 22:1).  Karena itu selagi kita masih beroleh kesempatan menikmati hidup, marilah melakukan segala tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan dengan kualitas terbaik, karena tidak selamanya pintu kesempatan itu terbuka untuk kita.  “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.”  (Pengkotbah 9:10). 

    Lalu apa yang menjadi sasaran utama hidup kita? Menjadi serupa dengan Kristus.   Bagaimana kita mencapai sasaran tersebut bila grafik kualitas hidup kita tidak menunjukkan adanya suatu peningkatan?  Untuk mencapai tingkat serupa dengan Kristus kita harus mau berubah  ke arah yang positif.

    Lalu apa yang harus kita lakukan? Hal pertama adalah mengevaluasi diri.  Salah satu unsur utama evaluasi diri adalah kejujuran.  Kendala terbesar penghambat evaluasi atau koreksi adalah keakuan yang besar, kesombongan, gengsi, kenyamanan dan keengganan mengalami perubahan itu sendiri.  Karena itu diperlukan kerendahan hati dan juga kerelaan membayar harga.

    Nah, sekarang perhatikan hidup Samuel.  “…Samuel yang muda itu, semakin besar dan semakin disukai, baik di hadapan TUHAN maupun di hadapan manusia.”  (1 Samuel 2:26), artinya Samuel tidak hanya mengalami pertumbuhan secara fisik saja, tetapi karakter dan kerohaniannya pun semakin bertumbuh sehingga hidupnya berkenan kepada Tuhan dan menjadi kesaksian yang baik bagi sesama.   Ingatlah! Kalau dulu fokus hidup kita hanya untuk kepentingan diri sendiri, sekarang kita harus punya tekad yang kuat, hidup kita harus bisa  menjadi berkat bagi keluarga dan sesama. Seperti Samuel, kita semakin disukai Tuhan dan juga manusia. GBU & Fam. Better days are coming. (pg)