Menjadi ORANG yang HEBAT

Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Alangkah indahnya hidup ini, jika kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan dapat hidup saling tolong menolong, Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” (Galatia 6:2)

Saudara, Ronald Reagen (Presiden Amerika pada tahun 1981-1989) berkata, “Kita tidak dapat membantu semua orang, tapi setiap orang dapat membantu seseorang.” Dengan demikian sesungguhnya setiap orang dapat menjadi orang yang hebat, karena setiap orang dapat menjadi penolong bagi sesamanya.

Kita sebagai orang-orang yang sudah dewasa punya tanggung jawab untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup kita sendiri. Bahkan bagi kita yang sudah berkeluarga punya tanggung jawab untuk mencukupi semua kebutuhan keluarga kita.  Jika orangtua kita dikaruniai panjang umur dan mereka sudah tidak mampu lagi untuk bekerja, kita  berkewajiban untuk menopang kebutuhan mereka.

Saudara, walaupun kita punya kewajiban untuk memenuhi kebutuhan kita dan keluarga, kita sebagai makhluk sosial juga diminta untuk memerhatikan kebutuhan sesama, dan Tuhan sudah mengatur semua begitu indahnya. 

Rasul Paulus memberi nasihat,  “Sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu.”  (2 Korintus 8:12).  Apa artinya?  Dalam memberi kepada sesama kita diminta  menyesuaikan dengan kemampuan kita.  Setelah kebutuhan keluarga terpenuhi dan kita masih punya kelebihan, maka kelebihan itulah yang kita gunakan untuk menolong sesama.  Jangan sebaliknya, kita menolong sesama tapi keluarga sendiri kita korbankan:  istri, anak, orangtua, hidup dalam kekurangan.

Kalau Tuhan memberi kepercayaan kepada kita untuk mengelola berkat begitu banyak, sesungguhnya Tuhan punya rencana, Tuhan punya tujuan agar kita dapat menjadi saluran berkat bagi sesama. Dengan jelas, Rasul Paulus mengingatkan, “Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan.”  (2 Korintus 8:14)

Saudara, sesungguhnya ketika kita menolong sesama, kita menolong diri kita sendiri. Ketika kita membantu sesama, kita membantu diri kita sendiri (Amsal 11:17). Karena itu kita diminta untuk tidak jemu-jemu berbuat baik kepada sesama, terutama kepada saudara seiman,  “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.”  (Galatia 6:9-10).

Saudara, sesungguhnya kita hanyalah sebagai pengelola atas berkat  Tuhan,  bukan pemilik.  Jika kesadaran ini tertanam dalam-dalam di hati kita, maka kita akan dengan sukacita dan ikhlas menjadi penolong bagi sesama. Kita akan menjadi orang yang peka terhadap kebutuhan sesama. Kita akan bersedia menjadi kepanjangan tangan kasih Tuhan.

Ingatlah! Kita  tidak dapat hidup sendiri tanpa orang lain.  Keberhasilan kita di bidang apa pun tidak luput dari dukungan atau peran serta  orang lain juga. Karena itu Rasul Yohanes mengingatkan kita,  “Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?”  (1 Yohanes 3:17). GBU & Fam. Better days are coming. (pg).

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *