Category: Karib Dengan Tuhan

  • Memberi KEUNTUNGAN BESAR

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat dan semoga kita bisa semakin  menikmati hidup karena kita bisa mensyukuri apa yang telah kita miliki. Mahatma Gandhi (Politikus asal India) berkata, “Bumi ini cukup untuk tujuh generasi, namun tidak akan pernah cukup untuk tujuh orang serakah.”

    Saudara, sudah menjadi sifat manusia tidak puas dengan apa yang sudah dimilikinya.  Inginnya mendapatkan lebih dan lebih, seperti si lintah yang mempunyai dua anak perempuan, “Untukku” dan “Untukku” (Amsal 30:15). Salomo  mengingatkan kita semua, “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. …”  (Pengkotbah 5:9).

    Sifat tidak puas terhadap uang atau kekayaan telah mendorong banyak orang untuk melakukan tindakan yang melanggar hukum atau bertentangan dengan kebenaran firman Tuhan, dan tampaknya sifat tidak punya malu ini semakin mewabah  di berbagai kalangan.  Itulah sebabnya sejak dulu Yohanes Pembaptis memperingatkan para pemungut pajak,  “Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu.”  (Lukas 3:13), dan juga para prajurit,  “Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu.”  (Lukas 3:14b).

    Basuki Tjahaya Purnama (Politikus asal Indonesia) menyatakan, “Anda tidak perlu angkat senjata ke medan perang seperti zaman dulu, Anda cukup jangan korupsi saja itu sudah cukup.”

    Mari belajar dari sikap hidup Rasul paulus yang di segala keadaan tetap bisa mengucap syukur:   “Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.”  (Filipi 4:12). 

    Mengapa Rasul Paulus tetap bisa puas dan bersyukur?  Karena dia tahu bahwa  “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”  (Filipi 4:13).  Bagi Paulus kepuasan bukan lagi ditentukan oleh kekurangan atau kelebihan, melainkan menerima dengan sukacita berapa pun porsi berkat yang Tuhan tetapkan untuk dirinya.

    Ketidakpuasan yang tanpa batas dalam diri seseorang akan membawa kepada keserakahan dan ketamakan, akibatnya orang akan selalu merasa kurang dan tidak pernah cukup.  Meski telah mengecap pertolongan dan kebaikan Tuhan, bangsa Israel tidak pernah merasa puas sehingga yang keluar dari mulut mereka hanyalah keluh kesah dan persungutan.  Maka, mari belajar untuk mengucap syukur di segala keadaan!

    Ingatlah. Mari kita endapkan dalam-dalam nasihat Rasul Paulus, “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.  Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar.”  (1 Timotius 6:6-7). Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg)

  • Tuhan TERKESAN dengan KARAKTER

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh sukacita. Daya tarik seseorang pada pandangan pertama lebih banyak pada fisiknya, bentuk tubuh dan wajahnya. Rick Warren (Penulis asal Amerika) berkata, “Orang tertarik dengan bakat, tapi Tuhan terkesan dengan karakter.” Sedangkan karakter saudara akan terlihat dari tindakan-tindakan yang saudara pilih.

    Saudara, faktor fisik seringkali menjadi faktor utama orang menilai sesamanya.  Karena itu banyak orang mengandalkan tampangnya yang rupawan, cantik, bodi yang seksi dan proporsional sebagai pendongkrak rasa percaya diri. 

    Maka pada akhirnya ada cukup orang hanya memusatkan diri kepada perkara-perkara jasmaniah dan melupakan perkara-perkara rohaniah.  Mereka hanya memikirkan hal-hal duniawi yang sifatnya hanya sementara daripada memerhatikan hal-hal rohani yang sifatnya kekal.   Bagi Tuhan hal-hal jasmaniah sama sekali tidak masuk penilaian!  Yang Tuhan nilai adalah hati (1 Samuel 16:7).   Ini berbicara tentang  karakter.

    Saudara, hari ini kita akan belajar sedikit tentang Timotius. Rasul Paulus bertemu dengan Timotius untuk pertama kalinya saat ia berada di Listra.  Timotius adalah pemuda yang memiliki reputasi yang baik di daerahnya.  Ia memiliki latar belakang keluarga yang takut akan Tuhan.  “… ibunya adalah seorang Yahudi dan telah menjadi percaya, sedangkan ayahnya seorang Yunani.” (Kisah Para Rasul  16:1b).  Tidak hanya itu, neneknya (Lois)  juga seorang percaya.  Sangat tepat jika Paulus memilih Timotius  menjadi rekan sepelayannya.  Sudah terbukti, Timotius begitu setia menjalankan tugasnya sebagai seorang pelayan Tuhan.

    Karena ketekunan dan kesetiaannya dalam mengerjakan tugas-tugas yang dipercayakan kepadanya, Timotius beroleh promosi dari Tuhan dan ia dipercaya sebagai pemberita Injil serta menggembalakan jemaat di Efesus. 

    Mari kita perhatikan pernyataan Paulus tentang Timotius:  “…  aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, …”  (2 Timotius 1:5).  Hal itu menunjukkan bahwa Timotius memiliki iman yang tulus, tidak ada kepura-puraan atau keterpaksaan.  Paulus menambahkan,  “… tak ada seorang padaku, yang sehati dan sepikir dengan aku dan yang bersungguh-sungguh memperhatikan kepentinganmu;  sebab semuanya mencari kepentingannya sendiri, bukan kepentingan Kristus Yesus.  Kamu tahu bahwa kesetiaannya (nya = Timotius) telah teruji dan bahwa ia telah menolong aku dalam pelayanan Injil sama seperti seorang anak menolong bapanya.”  (Filipi 2:20-22).

    Timotius memiliki karakter yang tidak perlu disangsikan lagi:  setia, suci, tulus ikhlas, berhati hamba, peduli akan orang lain dan sangat terbeban terhadap pekerjaan Tuhan.  Karakter seperti Timotius inilah yang Tuhan cari! 

    Ingatlah! Albert Einstein (Ahli fisika asal Jerman) berkata, Banyak orang mengatakan kepintaran yang menjadikan seseorang ilmuwan besar. Mereka keliru … itu adalah karakter.” Tuhan saat ini mencari orang-orang yang berkarakter seperti Timotius, semoga banyak ditemukan dalam komunitas orang percaya. Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg)

  • ADA SEMUA JAWABAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Almarhum bapak Pdt. Andreas Setiawan punya tekad, “No Bible, No Breakfast” (Kalau belum baca Alkitab di pagi hari, maka tidak boleh menikmati makan pagi). Ronald Reagan (Presiden ke-40 Amerika) berkata, “Di dalam Alkitab ada semua jawaban dari semua masalah yang manusia hadapi.”

    Saudara, Rasul Paulus memberi nasihat kepada Timotius, anak rohaninya yang dipercaya melayani jemaat di Efesus,  “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.”  (2 Timotius 3:16)

    Mengapa Paulus perlu menekankan kembali pentingnya mempelajari dan merenungkan firman Tuhan?  Karena pada waktu itu banyak sekali pengajar-pengajar sesat yang menyusup di antara jemaat sehingga mereka tidak lagi menjadikan Alkitab sebagai pedoman hidup, melainkan lebih menyendengkan telinganya kepada ajaran-ajaran yang menyimpang dari kebenaran (2 Timotius 4:3-4).

    Saudara, apa manfaat Alkitab bagi kehidupan orang percaya?  Sebagai sarana utama belajar mengenal pribadi Tuhan, mempercayai janji-Nya, serta memahami apa kehendak dan rencana-Nya bagi kehidupan kita.  Melalui Alkitab Tuhan mengajar dan mendidik kita untuk hidup dalam kebenaran.  Daud bersaksi, “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”  (Mazmur 119:105). 

    Ketahuilah bahwa proses pertumbuhan menuju karakter Kristus tidak terjadi secara otomatis, namun butuh durasi seumur hidup.  Untuk bertumbuh secara rohani Allah sudah memberikan pedoman-Nya yaitu melalui Alkitab.  Diperlukan kebenaran untuk mengubah hidup kita, dan Alkitab menunjukkan kebenaran itu kepada orang percaya.  Hidup kita akan berubah bila kita mau membayar harga, yaitu menyediakan waktu membaca Alkitab, mempelajari, merenungkan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

    Ingatlah! Ketika kita tekun mendalami Alkitab, Roh Kudus akan menolong menyingkapkan hal-hal yang tersembunyi yang tak terpahami  (Yohanes 14:26)  dan  memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran  (Yohanes 16:13), sehingga kebenaran-Nya bekerja di dalam kita, dan kita pun semakin disadarkan untuk berubah dalam segala hal:  pikiran, perkataan, dan perbuatan. Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg)

  • Kabar Baik: ADA KESEMBUHAN dan JALAN KELUAR

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Almarhum Pdt. Gombak Sugeng merupakan salah seorang pendeta di lingkungan GKMI yang diberi karunia kesembuhan. Salah seorang cucunya bercerita kepada saya bahwa Kong Gombak setelah membacakan firman Tuhan. ia selalu mengatakan kepada orang-orang yang didoakannya sebagai berikut, “Aku sambut dan aku amini itu firman khusus untukku. Terjadilah dan terlaksanalah!”


    Saudara, hari ini kita akan merenungkan Injil Markus 5:25-34. Dikisahkan ada seorang perempuan yang kondisi kesehatannya sangat buruk, karena  sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan.  (ayat 25).  Ia sudah pergi berobat kemana-mana, sampai harta bendanya ludes untuk biaya berobat, tapi hasilnya tetap saja nihil dan keadaannya makin memburuk (ayat 26).  Tak dapat dibayangkan betapa menderitanya perempuan tersebut. 

    Secara manusia, ia sudah tidak punya harapan lagi.  Meski demikian, ia tidak menyerah dengan keadaan yang ada. Ia sudah mendengar berita tentang mukjizat-mukjizat yang dilakukan oleh Yesus (ayat 27). Itulah sebabnya, ketika melihat Yesus dari dekat, dengan sisa-sisa kekuatannya ia berusaha untuk menjamah jubah-Nya, karena ia sangat percaya bahwa dengan menjamah jubah Yesus saja, sudah cukup baginya untuk mengalami kesembuhan. (Ayat 28)

    Saudara, saat jubah-Nya dijamah oleh perempuan tersebut, Yesus merasakan ada tenaga yang keluar dari dalam diri-Nya;  Ada kuasa yang keluar dari diri Yesus  (ayat 30) dan kuasa-Nya pun sanggup menyembuhkan dan memulihkan keadaan perempuan tersebut.  Setelah menjamah jubah Yesus,  “Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya.”  (Markus 5:29). 

    Akhirnya, perempuan tersebut pulang dengan sukacita, karena selain mengalami kesembuhan total, ia juga beroleh keselamatan, “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!”  (Markus 5:34)

    Kabar baik: Ada kesembuhan dan jalan keluar.   Masih ada harapan bagi pembaca yang sedang menderita sakit atau sedang mengalami pergumulan hidup yang berat. Tuhan Yesus yang telah menyembuhkan perempuan tersebut, adalah Tuhan yang  masih tetap sama sampai hari ini. Ia sanggup menyembuhkan sakit yang sedang saudara derita. Ia sanggup memberikan jalan keluar terhadap pergumulan hidup yang saudara hadapi saat ini.

    Karena itu datanglah kepada Tuhan Yesus dan arahkan pandangan Saudara kepada-Nya. Ia adalah Dokter di atas segala dokter, Sang Tabib yang ajaib. Segala kuasa ada dalam diri Yesus, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.”  (Matius 28:18). Rasul Petrus menyatakan, “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.”  (1 Petrus 2:24).

    Ingatlah! Saudara, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mempersembahkan korban syukur kepada Tuhan, sebagaimana yang Daud lakukan:  “Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu, …”  (Mazmur 103:2-3). Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg) 

  • COBALAH PERIKSA!

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Saya punya seorang teman, dia sudah berkeluarga bahkan pada waktu itu istrinya  akan melahirkan anak pertama mereka. Tapi teman saya ini belum bekerja, sedangkan istrinya bekerja di toko kertas. Dia masih kuliah di Fakultas Hukum untuk jejang S3. Anehnya teman saya tersebut terus melanjutkan pendidikan bukan karena ia ingin lebih pintar atau mendapat kesempatan kerja yang lebih baik, tetapi malah untuk mengelak dari bekerja. Setidaknya dengan terus belajar, ia punya alasan untuk tidak melamar kesana kemari dan menghindar dari desakan orangtua untuk mencari pekerjaan.

    Ternyata orang yang mempunyai pendidikan cukup tinggi (S2 atau S3) belum tentu dia dapat mengetahui potensi dirinya (bakatnya). Saya mengenal beberapa orang yang sudah menyelesaikan  jenjang pendidikan cukup tinggi tetapi mereka tidak kunjung menghasilkan apa-apa. Hidupnya tetap tidak produktif bahkan sebagian masih bergantung kepada orangtuanya.

    Saudara, sesungguhnya Tuhan menciptakan kita begitu lengkap. Bukan saja organ tubuh, bukan saja nafas kehidupan, tapi Tuhan telah mempersiapkan rancangan-Nya yang terbaik bagi kita untuk mencapai hari depan gemilang. Tuhan pun telah melengkapi kita dengan BAKAT-BAKAT khusus, lengkap dengan keunikan dan kemampuan yang berbeda-beda bagi setiap orang.

    Hari ini kita akan belajar dari perikop ”Yesus memberi makan lima ribu orang” (Markus 6:30-44). Ketika itu ada 5000 orang laki-laki,  belum termasuk perempuan dan anak-anak yang ikut dengan-Nya untuk mendengar pengajaran-Nya. Masalah muncul ketika hari sudah larut malam dan mereka semua belum makan sama sekali. Dalam ayat 37 Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk memberi semuanya makan.

    Apa reaksi murid-murid-Nya? Mereka terlebih dahulu mengeluh sebelum mulai berbuat apa-apa. Mereka langsung melihat kesulitan ketimbang memeriksa terlebih dahulu apa yang ada pada mereka. Kata mereka kepada-Nya: “Jadi haruskah kami membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?” (ayat 37b). Lihatlah jawaban Yesus. “Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!” (ayat 38a). Dan setelah memeriksa, mereka pun kemudian mendapati ada lima roti dan dua ikan (ayat 38b) yang dimiliki seorang anak yang ada di sana.

    Yesus lebih senang meminta kita untuk memeriksa terlebih dahulu apa yang ada pada kita, dan dengan berkat-Nya semua itu bisa Dia berkati menjadi berlimpah-limpah. Ini adalah pelajaran penting bagi kita agar tidak menjadi orang-orang manja dan mau berubah menjadi pribadi yang giat berusaha. “Periksalah!” kata Yesus.  Periksa ada berapa “roti dan ikan” yang kita miliki, dan Tuhan siap melipatgandakan itu menjadi berkat yang berlimpah.

    Ingatlah! Mulailah berusaha untuk mencari tahu potensi diri kita yang sebenarnya. Yesus berkata, “periksalah dahulu.” Mari kita periksa bakat apa yang Tuhan berikan kepada kita, dan mari kita kembangkan, asah dan olah. Saatnya untuk mempergunakan bakat yang kita miliki untuk sukses, dan memakainya untuk kemuliaan Tuhan. Tuhan Yesus memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg).

  • Mengenal Yesus Kristus

                “Bila seseorang yang Saudara kasihi menjadi sebuah kenangan, lalu kenangan itu bisa menjadi sebuah kekayaan” (the Unknown). Sebagaimana kita mengasihi seseorang, awalnya kita mesti mengenalnya secara pribadi. Pengenalan merupakan sebuah perbuatan sangat penting untuk menjaga hubungan kita dengan orang yang kita kasihi.   

    Mengapa pengenalan akan Yesus Kristus sangat penting dalam hidup orang percaya? Sebab, di dalam pengenalan akan Yesus sudah terkandung pengakuan diri  bahwa Yesus adalah sumber hidup kita (bndg. Ulangan 30:20; Yohanes 1:4).

                Hosea 6:3 berbunyi, Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi”. Nabi Hosea mengingatkan kita agar kita sungguh-sungguh mengenal Allah melalui penyembahan kita. Dengan penyembahan itu, Allah memberikan berkat-berkat rohani dan jasmani.  

                Mari kita membaca bagian dari bacaan kita dalam Filipi 3:8, Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. Oleh karena Dialah, aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus…”.

                Di sini, rasul Paulus menganggap bahwa pengenalan akan Yesus Kristus lebih mulia daripada segala hal di dunia ini. Kita seharusnya menghargai hubungan kita dengan Yesus Kristus sebagai yang lebih penting daripada semua hal lain. Dengan demikian, mengenal Yesus Kristus harus menjadi tujuan utama kita dalam hidup ini.

                Mengenal Yesus Kristus berarti mengalami perubahan (transformasi) hidup sepenuhnya. Kita melihat dalam 2 Korintus 5:17, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang”.

                Lalu, sebuah pertanyaan muncul, Bagaimana kita bisa mengenal Yesus Kristus lebih baik?  Pertama, mempelajari kehidupan Yesus Kristus dalam kitab Injil (Matius 11:29). Kedua, sebagaimana kita menyembah dan berdoa, kita membiarkan Roh Kudus menuntun kita terhadap perkataan Yesus (Yohanes 14:26). Ketiga, menjalankan misi Yesus Kristus untuk memberitakan Injil-Nya kepada banyak orang dan belajar dari penderitaan-Nya (Matius 28:19; Filipi 3:10).

                Selanjutnya Filipi 3:10 berkata, “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya”. Melalui ayat ini, rasul Paulus menghendaki agar ia meninggalkan segala sesuatu (keluarganya, sahabat, keinginan, dan kebebasan), supaya ia mampu mengenal Yesus Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya.

                Rasul Paulus dan kita semua juga berkehendak  untuk mengenal Yesus Kristus lebih dalam lagi. Di sini, pengenalan itu bukan pengenalan akademik (bhs. Yunani, oida)/pendidikan tinggi, tetapi pengenalan pribadi oleh pengalaman (Yunani, gnosis).

                Di dalam ayat 10 ini, kita tidak hanya belajar tentang Kristus, tetapi kita juga mulai mengenal-Nya secara pribadi  dalam pengalaman kita sendiri, dan membangunnya atas pengenalan itu melalui pengalaman lebih lanjut (bdng. Yeremia 31:34; Hosea 6:6).

                Pengenalan diri terhadap Yesus Kristus membutuhkan keterbukaan diri  kita. Kita membuka diri pada Kristus, supaya Ia masuk dan menguasai hidup kita setiap hari. Dengan demikian, kita bisa menikmati persekutuan dengan-Nya setiap hari.

                Kiranya Roh Kudus terus menolong kita untuk mengenal  Yesus Kristus hari demi hari. Allah memberkati kita semua. (Petrus E. Handoyo/pg).

    *******

  • Dalam tiap JERIH PAYAH ada KEUNTUNGAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Pengalaman hidup saya bercerita bahwa sukses lebih banyak  dimilik mereka yang rajin dan bekerja dengan sepenuh hati. Abdullah Gymnastiar (Penulis asal Indonesia) berkata,  “Waktu bekerja orang rajin adalah sekarang, sedangkan waktu bekerja orang yang malas adalah besok.”

    Saudara, sekalipun orang punya seribu macam keinginan, tapi apabila ia malas mewujudkan keinginan tersebut melalui tindakan, maka keinginan tersebut tidak membuahkan hasil apa-apa.  Penuh dengan keinginan tapi tidak disertai dengan tindakan adalah ciri seorang pemalas.  Satu ciri lain dari pemalas adalah suka berdalih atau punya banyak alasan untuk tidak melakukan sesuatu. 

    Maka jika ciri tersebut ada pada diri kita, berubahlah mulai dari sekarang, karena kemalasan hanya mendatangkan kerugian, tidak ada sisi positif dan untungnya.  “Oleh karena kemalasan runtuhlah atap, dan oleh karena kelambanan tangan bocorlah rumah.”  (Pengkhotbah 10:18).

    Saudara, ketika menempatkan manusia pertama yaitu Adam dan Hawa di taman Eden Tuhan memberikan perintah kepada mereka untuk bekerja, bukan untuk bermalas-malasan,  “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”  (Kejadian 2:15).  Jadi, perintah untuk bekerja sudah diberikan Tuhan sebelum manusia jatuh dalam dosa.  Dengan kata lain bekerja bukanlah sebagai akibat manusia jatuh dalam dosa.

    Selain itu Allah Bapa saja masih sedang terus bekerja sampai sekarang (Yohanes 5:17),   masakan kita tidak mau bekerja?  Coba kita perhatikan nasihat penulis kitab Pengkotbah,  “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.” (Pengkotbah 9:10). 

    Kalimat kerjakanlah itu sekuat tenaga artinya harus dikerjakan dengan rajin, bersungguh-sungguh, dan tidak dengan setengah hati.  Mengapa kita harus bekerja dengan rajin?  Karena kerajinan merupakan salah satu modal untuk meraih kesuksesan, sebab  tangan orang rajin menjadikan kaya  (Amsal 10:4) dan  tangan orang rajin memegang kekuasaan  (Amsal 12:24).

    Oleh karena itu penulis Amsal pun memperingatkan kita untuk tidak malu belajar dan mencontoh kehidupan semut, yang termasuk salah satu binatang terkecil di bumi (Amsal 6:6)

    Ingatlah! Bekerjalah dengan rajin, maka hidup kita akan semakin diberkati Tuhan, sebab dalam tiap jerih payah ada keuntungan  (Amsal 14:23). Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg)

  • TUHAN sedang MENCARI RUT-RUT di Zaman Now

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat dan tetap semangat. Kita bukanlah orang yang sempurna, tetapi kita dapat menjadi orang yang setia. Kita perlu mengikuti jejak Sang Guru Agung yang setia sampai mati bahkan sampai mati di atas kayu salib.

    Saudara, dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai mertua perempuan tidak akur dengan menantu perempuannya, begitu juga sebaliknya. Namun dalam Rut 1:16, kita menjumpai kenyataan yang berbeda, “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku;” 

    Firman Tuhan tersebut  memberikan satu contoh tentang seorang menantu (Rut) yang begitu setia, mengasihi ibu mertuanya (Naomi) dengan segenap hati, padahal suaminya sudah meninggal. Bukankah hal semacam ini langka ditemukan?

    Salomo  membeberkan kenyataan, memang tidak mudah mendapatkan kesetiaan dalam diri seseorang, “Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?” (Amsal 20:6). Tuhan sedang mencari “Rut-Rut” di zaman now. Banyak orang baik hati, tetapi Tuhan mencari lebih daripada itu yaitu orang-orang yang setia.

    Saudara, kesetiaan sesorang akan teruji kualitasnya seiring dengan berjalannya waktu. Banyak orang percaya gagal dalam ujian kesetiaan karena: Doanya belum dikabulkan oleh Tuhan, sakitnya tidak kunjung sembuh, belum memperoleh pekerjaan, gagal dalam studi dan sebagainya. Karena berbagai alasan tersebut, mereka tidak lagi setia melayani Tuhan dan sesama. Mereka begitu mudahnya berubah padahal Tuhan Yesus begitu setia mengasihi kita, bahkan sampai mati di kayu salib. Sungguh, kesetiaan seperti barang yang sangat langka dan sulit didapat. Kini, rasa-rasanya telah lenyap orang-orang yang setia dari antara anak-anak manusia (Mazmur 12:2).

    Tuhan meminta kita menjadi anak-anak-Nya yang setia. Kesetiaan berbicara tentang keteguhan hati, kepatuhan atau ketaatan.  Kesetiaan membuat seseorang tetap kuat, mampu bersabar dan selalu tabah dalam menanggung beban di dalam hidupnya.  Seberat bagaimanapun tantangannya dan sekecil apapun tugas dan tanggung jawabnya, mari kita lakukan dengan setia.   Jerih lelah kita tidak akan pernah sia-sia, Tuhan selalu memperhitungkannya! (Ibrani 6:10).

    Ingatlah! Kita diminta untuk setia dalam melayani. Tuhan telah memperlengkapi kita dengan karunia, talenta, dan bakat, yang harus kita maksimalkan untuk melayani Tuhan dan sesama.  Jadikan  kehidupan kita berbuah. Mari bekerja selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja (Yohanes 9:4). Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg).

  • TUHAN MENYELIDIKI HATI

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Setiap orang pasti memiliki motivasi dalam melakukan segala sesuatu. Hampir setiap hari saya bangun tidur sekitar jam 03.00 fajar dengan tujuan supaya saya mendapatkan suasana yang hening untuk bersaat teduh. Saya punya waktu yang cukup untuk berdoa dan merenungkan firman Tuhan. Selain itu saya punya waktu untuk menikmati sarapan buah dan membagikan renungan kepada teman-teman.

    Saudara,   Apa itu motivasi?  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI) motivasi:  1. Dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu; 2. Usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya.

    Dengan kata lain motivasi adalah sebuah kekuatan yang melatarbelakangi perencanaan, keputusan, pilihan dan tindakan seseorang.  Kekuatan inilah yang memberi semangat dan gairah mengerjakan segala hal, baik positif maupun negatif.

    Selain itu motivasi berbicara tentang sikap hati seseorang. Berangkat dari hal inilah maka Tuhan lebih memerhatikan motivasi dalam diri seseorang ketika melakukan segala sesuatu, karena Ia melihat hati, bukan apa yang tampak secara kasat mata. 

    Sangat jelas, Tuhan berbicara kepada nabi Yeremia, “Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.”  (Yeremia 17:10.). Tuhan menyelidiki niat dan cita-cita kita,  “… dan mengerti segala niat dan cita-cita.”  (1 Tawarikh 28:9). 

    Maka dari itu kita harus selalu menjaga motivasi secara benar dalam mengerjakan apa pun:  pekerjaan, hubungan dengan sesama, dan terlebih dalam melayani Tuhan, sebab motivasi yang ada dalam hati secara otomatis memengaruhi pikiran, tindakan, perilaku dan reaksi kita.  Kalau motivasi kita benar semua yang kita hasilkan adalah benar dan bisa menjadi berkat bagi orang lain.  Demikian pula sebaliknya!

    Saudara, memang tidak mudah kita mengerti motivasi dalam diri seseorang, sebab motivasi dapat dibalut atau disembunyikan secara rapi dibalik sikap, perilaku ataupun tindakan. Pepatah lama mengatakan, “Dalamnya laut dapat diduga, dalamnya hati siapa tahu.” 


    Ingatlah! Tuhan mengetahui rahasia hati setiap orang, karena itu berhati-hatilah!

    Milikilah motivasi yang benar dalam mengerjakan segala sesuatu, sebab Tuhan menyelidiki hati dan menguji batin kita!  Ia tahu secara persis apa yang ada di dalam hati kita. Jadi, Tuhan tidak hanya melihat dan menilai apa yang kita perbuat, tetapi lebih daripada itu,  Ia menilai, memerhatikan, dan menyelidiki motivasi  kita. Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg) 

  • SATU JAM saja

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Semoga sehat dan senantiasa dapat menyediakan waktu untuk bersaat teduh setiap hari. Pengalaman hidup saya bercerita, ketika saya sedang diopname di rumah sakit, jarum jam terasa sangat lambat geraknya. Tapi kalau saya sedang sehat, apalagi kalau pekerjaan sedang menumpuk, jarum jam terasa sangat cepat geraknya.

    Saudara, sebelum ada pandemi Covid – 19. Saya amati hampir semua orang tampak sibuk dengan aktivitas sehari-hari, serasa berkejar-kejaran dengan waktu.  Bangun pagi sudah disuguhi agenda kerja yang teramat padat di hari itu. 

    Akibatnya semua hal dikerjakan serba terburu!  Makan terburu-buru, berangkat ke tempat kerja atau ke tempat belajar terburu-buru karena takut jalanan macet, berdoa terburu-buru, baca Alkitab terburu-buru.   Waktu 24 jam sehari terasa tidak pernah cukup.  Keadaan seperti itu sudah pasti membuat orang tidak bisa hidup tenang, dan tentu saja akan berimbas pada hidup kerohanian kita.

    Bila kita mengerjakan segala sesuatu dengan terburu-buru, kapan kita punya waktu untuk bersekutu dengan Tuhan dalam arti yang sebenarnya?  Kapan kita punya waktu untuk membaca, meneliti dan merenungkan firman Tuhan?  Jangan sampai karena terjebak dengan kesibukan sehari-hari lalu kita mengesampingkan perkara-perkara rohani. 

    Adalah penting sekali kita menyediakan waktu secara khusus untuk Tuhan setiap hari.  Tuhan bertanya,  “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?”  (Matius 26:40b).  SATU JAM saja, melepaskan diri dari kesibukan, untuk bersaat teduh, duduk diam di bawah kaki Kristus:  Berdoa, membaca firman, dan mendengar suara-Nya. Bagaimana jawab Saudara?  Rasul Petrus mengingatkan,  “Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.”  (1 Petrus 4:7). 

    Saudara, Daud, sebagai seorang raja, pasti sibuk sekali mengatur pemerintahannya, ia pun pernah mengalami ketakutan dan kekhawatiran, tapi ia tidak pernah melupakan pertolongan dan kebaikan Tuhan.  Karena itu ia paksa jiwanya untuk kembali tenang,  “Kembalilah tenang, hai jiwaku, sebab TUHAN telah berbuat baik kepadamu.”  (Mazmur 116:7).  Sesungguhnya didalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatan kita (Yesaya 30:15).

    Untuk dapat melihat kuasa Tuhan dinyatakan dalam hidup,  kita harus bersikap tenang.  Ketenangan akan dapat kita miliki bila kita dapat berdoa dan bersekutu dengan Tuhan.  Hanya dekat Tuhan saja kita akan tenang (Mazmur 62:2).

    Ingatlah! Sebagai komunitas orang percaya, kita harus mampu mengendalikan diri  di tengah dunia yang sedang tidak terkendali. Tetaplah tenang, seburuk bagaimanapun keadaan dunia saat ini, semua masih ada dalam kendali Tuhan, Sang Pencipta dan Pemelihara. Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg)