
Author: Christopherus
-
MEMBAGIKAN SUKACITA
Selamat jumpa para Pendukung Kristus? Salam sehat penuh sukacita. Bulan Desember telah tiba, biasanya kemeriahan natal mulai kita rasakan di mana-mana, bukan hanya di gereja, tapi terutama di mal-mal, hotel-hotel, tempat hiburan, dan tempat wisata. Tapi untuk tahun ini tentu sangat berbeda, kemeriahan dan gegap gempita menyambut natal dan tahun baru tidak begitu terasa karena adanya pandemi Covid-19.
Saudara, sesungguhnya sukacita natal itu tidak tergantung dari seberapa spektakuler perayaan natal yang kita selenggarakan, melainkan tergantung dari bagaimana sikap hati kita setelah bertemu dengan Yesus, Sang Juruselamat dunia, yang sedang kita peringati hari lahirnya di dunia.
Maka hari ini saya ajak saudara belajar dari para gembala dalam perikop yang terdapat di Injil Lukas 2:8-20 di bawah judul: “Gembala-gembala” Biasanya suasana malam hari adalah sunyi senyap dan gelap gulita karena banyak orang sudah terlelap di balik selimutnya. Namun malam itu, di padang belantara, tempat para gembala menjaga kawanan ternaknya ada pemandangan dan peristiwa yang berbeda.
Biasanya di tempat tersebut hanya terdengar suara kambing domba mengembik, tiba-tiba berubah menjadi gegap gempita, “Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: ‘Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa:” (Lukas 2:9-10).
Apakah yang sedang terjadi? Terang dari surga meliputi tempat itu seiring datangnya malaikat Tuhan membawa kabar sukacita bahwa telah lahir Sang Juruselamat yaitu Yesus Kristus di kota Daud (Ayat 11)Setelah menerima kabar sukacita, para gembala berkata seorang kepada yang lain: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.” (ayat 15). Para gembala memiliki respons yang benar akan kedatangan Sang Juruselamat, sehingga tanpa menunda-nunda waktu mereka pun segera pergi ke Betlehem bukan sekadar ingin tahu, tetapi mereka memiliki kerinduan yang mendalam untuk bertemu dengan Yesus.
Setelah mereka bertemu dengan Yusuf, Maria, dan bayi Yesus, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu (ayat 17). Sungguh luar biasa tindakan mereka selanjutnya, mereka tidak tinggal diam. Sukacita yang mereka peroleh tidak mereka nikmati sendiri tetapi mereka bagikan kepada orang lain (Ayat 20)
Ingatlah! Marilah kita meneladani respons dan tindakan para gembala. Membagikan sukacita. Tuhan menghendaki kita menjadi saksi-saksi-Nya di tengah dunia ini. Bersaksi tentang Yesus, Sang Juruselamat, yang memperdamaikan manusia dengan Sang Khalik. Bersaksi bahwa kelahiran Yesus membawa sukacita sejati bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya, karena di dalam Dia ada pengampunan dan keselamatan. Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Merry Christmas and Happy New Year. (pg) -
Izinkanlah TUHAN MEMBALUT LUKA HATI Kita
Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat selalu. Sahabatku, tidak selalu sakit yang diderita oleh seseorang disebabkan oleh karena virus, bakteri, atau pola makan dan pola hidup yang salah. Terkadang ada faktor lain yang membuat ia jatuh sakit; salah satunya adalah karena ia senang menyimpan sakit hati.
Sebuah penelitian yang diterbitkan oleh jurnal Psychological Science menyatakan bahwa menyimpan rasa dendam dan sakit hati itu berdampak buruk bagi kesehatan mental dan fisik seseorang. Selain dapat meningkatkan rasa cemas, stres dan frustasi, rasa dendam dan sakit hati yang dipendam selama bertahun-tahun dapat menyebabkan orang berisiko terkena serangan jantung, tekanan darah tinggi, nyeri lambung, sakit kepala dan bahkan kanker!
Saudara, sesungguhnya sakit hati tidak pernah membawa keuntungan bagi orang yang mengalaminya. Sebaliknya, sakit hati yang terpendam justru akan melunturkan semangat dan merampas damai sejahtera di dalam hati.
Ada dua hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan rasa sakit hati: Pertama, segera buang jauh-jauh semua sakit hati. Jika kita sedang menyimpan sakit hati terhadap orang lain, jangan tunda-tunda waktu untuk segera membereskannya. Datanglah di bawah kaki Tuhan, curahkan segala hal yang mengganjal di hati, kekesalan, amarah, kepahitan, kebencian dan sebagainya. Izinkanlah Tuhan membalut luka hati kita, “Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka;” (Mazmur 147:3).
Kedua, berhati-hatilah dalam perkataan dan perbuatan. Saudara, kalau kita tidak ingin merasakan sakit hati, janganlah kita membuat gara-gara atau menjadi penyebab sakit hati bagi orang lain. Karena itu kita harus bisa menjaga perkataan dan perbuatan kita di mana pun kita berada. Dari perkataan-perkataan yang tak terkontrol (pedas, tajam, fitnah, gosip dan sebagainya) dapat menimbulkan sakit hati dalam diri orang lain, “Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya, orang yang berpengertian berkepala dingin.” (Amsal 17:27). Begitu juga bila perbuatan kita sembrono, orang lain juga akan terkena dampaknya. Maka selalu waspada, berpikirlah minimal 2 kali sebelum berkata-kata dan bertindak!Tuhan dapat memakai siapa saja di dalam kehidupan kita sehari-hari untuk membentuk dan mendewasakan kita, termasuk memakai orang-orang di sekitar kita untuk membentuk kita sesuai kehendak-Nya (Amsal 27:17).
Seperti yang dialami oleh Yusuf, yang dilukai dan disakiti oleh saudara-saudaranya, ia tidak membiarkan rasa dendam dan sakit hati itu bersarang di hatinya. Yusuf tetap dapat melihat kebaikan di balik penderitaan yang dialami, “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.” (Kejadian 50:20).
Ingatlah! Rugi besar bila kita terus menyimpan sakit hati, selain akan kehilangan sukacita dan damai sejahtera, doa-doa kita pun akan terhalang karenanya. Maka ubahlah sakit hatimu menjadi hikmat. Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Merry Christmas. (pg) -
Memilih Kehidupan Hari Ini (Bagian Kedua)
Dalam perikop Alkitab Ulangan 30:15-20, nabi Musa sebenarnya berbicara kepada umat Israel tentang persekutuan, bukan pembenaran. Maksudnya sederhana, kenikmatan hidup mereka bergantung pada kepatuhan kepada firman Allah.
Ayat 16 berbunyi, “Karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya, supaya engkau hidup dan bertambah banyak dan diberkati oleh TUHAN, Allahmu, di negeri ke mana engkau masuk untuk mendudukinya.”
Di sini, nabi Musa tetap menekankan kata hari ini.Kata tersebut memang begitu krusial bagi kehidupan kristiani. Tuhan Yesus sendiri menghubungkan kata hari ini dengan keselamatan. Dalam Lukas 19:9, Yesus berkata kepada Zakheus, kepala pemungut cukai, tentang keselamatan hari ini. Ia akhirnya juga mengikuti Tuhan Yesus. “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini…” Tuhan Yesus tahu bahwa keselamatan sungguh-sungguh mendesak bagi kita semua. Sebab itu, Yesus menekankan kata hari ini yang dihubungkan dengan keselamatan kita. Kita mesti membuat keputusan di sini dan kini.
Dengan ayat 16 tersebut, nabi Musa ingin menjelaskan kepada umat Israel bahwa mereka sungguh-sungguh mempunyai kebebasan untuk memilih. Mereka bisa menerima perintah Allah dan juga bisa menolak-nya. Bila umat Israel benar-benar ingin menyenangkan Tuhan, mengasihi-Nya, dan hidup dalam jalan-Nya, mereka akan hidup dalam berkat-berkat Allah.
Itulah sebuah keputusan yang harus mereka buat. Itulah pilihan antara kehidupan atau kematian, kesejahteraan atau kehancuran, kebaikan atau kejahatan, kepatuhan atau ketidakpatuhan. Nabi Musa tidak dapat mengambil keputusan bagi mereka. Mereka harus memilih yang terbaik. Tapi, umat Israel berdiri di persimpangan jalan.
Lebih lanjut ayat 19a berkata, “Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini : kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu”.
Nabi Musa menghadapkan orang Israel dengan pilihan yang sangat penting di sini, yaitu kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk (penyebab kesulitan). Ia memanggil langit dan bumi untuk menjadi saksi terhadap pilihan yang orang Israel buat. Nabi Musa tahu, nampaknya sulit bagi umat-nya untuk membuat pilihan yang tepat.
Apa arti kehidupan di sini? Ini berarti orang Israel dan juga kita bisa menikmati berkat dan kebaikan Tuhan setiap hari. Sedangkan, kematian menunjuk pada orang Israel dan juga kita yang mengalami kutuk dan penderitaan dalam hidup, yang membuat kita tak mampu lagi menanggung beban hidup ini. Sebab itu, kita membutuhkan anugerah ilahi.
Sekali lagi, dalam ayat 19b, nabi Musa dengan jelas menegaskan pesannya, “Sekarang pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu”. Inilah permohonan nabi Musa yang terakhir bagi umat Israel. Dan, ini juga suatu tantangan bagi kamu dan aku untuk menanggapi ajakan itu, sekalipun di tengah-tengah keadaan yang tak menentu dari wabah Covid-19 akhir-akhir ini.
Kata kehidupan menjadi tema utama dalam Kitab Ulangan 30 (ayat 6, 15, 16, 18, 19, 20). Memilih kehidupan berarti memilih Allah sendiri, percaya dalam anugerah Allah, dan mematuhi perintah-Nya. Bagi kita, ini juga butuh keberanian untuk membuat pilihan hidup.
Nabi Musa mengajak umat Israel dan juga kita semua untuk memilih kehidupan. Mengapa? Sebab, memilih kehidupan adalah salah satu berkat rohani paling berharga yang datang dari kebebasan memilih. Inilah eksistensi manusia yang sesungguhnya, sebab kamu dan aku memilih untuk hidup bagi Kristus. Ini pun sangat penting bagi perjalanan hidup rohani kita.
Ayat 20, nabi Musa mengingatkan umatnya lagi, “Tuhan adalah hidupmu.” Saat bangsa Israel memilih Tuhan, mereka juga memilih kehidupan (ayat 19). Begitu indah, bukan? Pilihan hidup atau kematian juga ditekankan dalam ajaran Yesus (bdng. Yohanes 3:36). Pilihan yang kita buat benar-benar memiliki implikasi-implikasi yang penting.
Lantas, mengapa kita harus memilih kehidupan? Pertama, sebab Tuhan sendiri adalah kehidupan kita (Ulangan 30:20). Kedua, sebab dalam Yesus ada hidup (Yohanes 1:4). Ketiga, sebab hidup itu karunia dari Allah (Ayub 10:12).
Kehidupan ini sungguh berharga dan sangat bernilai. Marilah kita memilih kehidupan hari ini. Kita mau tinggal dalam Tuhan Yesus saja. Terlepas dari Yesus, kita tidak dapat berbuat apa-apa dalam hidup yang penuh tantangan dan pergumulan ini. (Petrus E. Handoyo/pg).
*****
-
SEPERTI AIR MENCERMINKAN WAJAH
Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh sukacita dan damai sejahtera. Wajah itu memancarkan apa yang ada di dalam hati dan pikiran kita. Semoga wajah kita berseri-seri, sebagai pertanda hidup kita dipenuhi dengan syukur, sukacita, dan damai sejahtera.
Saudara, langit kehidupan kita memang tidak selamanya biru. Kadang berawan tipis, kadang berawan tebal. Kadang dipenuhi dengan awan hitam legam. Pengalaman hidup kita bercerita bahwa tidak bisa dipungkiri kehidupan orang percaya tidak terlepas dari pergumulan hidup. Acapkali hari-hari yang kita jalani berjalan tidak seperti yang kita harapkan: sakit tiba-tiba datang menghampiri, krisis keuangan, bisnis yang semakin sepi dan terus merugi, ada permasalahan keluarga, dan masih banyak yang lainnya.
Seberat bagaimana pun, kita diminta untuk tetap kuat dan selalu berpegang teguh pada janji firman Tuhan, “Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;” (Mazmur 34:20). Yakinlah, selalu ada pertolongan dari Tuhan, “Padang gurun dan padang kering akan bergirang, padang belantara akan bersorak-sorak dan berbunga;” (Yesaya 35:1)
Kalau pun kita harus melewati padang gurun, padang kering, padang belantara (gambaran masalah, penderitaan, kesesakan atau situasi sulit lainnya), biarlah mata kita tetap tertuju kepada Tuhan. Percayalah bahwa tidak ada yang mustahil bagi Dia! Pada saatnya Tuhan akan menyatakan kebesaran kuasa dan kemuliaan-Nya, “Kemuliaan Libanon akan diberikan kepadanya, semarak Karmel dan Saron; mereka itu akan melihat kemuliaan TUHAN, semarak Allah kita.” (Yesaya 35:2-b).Kata kemuliaan, dalam bahasa Ibrani kabod, memiliki arti: Mulia, makmur, berlimpah. Sedangkan dalam bahasa Yunani doxa, memiliki arti: Semarak, kecemerlangan, kemashyuran, terkenal. Kalau Tuhan datang melawat kita, sesuatu yang dahsyat pasti terjadi, kehidupan kita akan dipulihkan dan diubahkan. Berikut gambaran yang ditulis oleh Yesaya, “… mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka … orang lumpuh akan melompat seperti rusa…mulut orang bisu akan bersorak-sorai; … mata air memancar di padang gurun, … tanah kersang menjadi sumber-sumber air; di tempat serigala berbaring akan tumbuh tebu dan pandan.” (Yesaya 35:5-7). Luar biasa!
Pergumulan berat bagaimanapun yang sedang saudara alami saat ini, berhentilah mengeluh dan bersungut-sungut. Jangan pula menjadi tawar hati, “Kuatkanlah hati, janganlah takut!” (Yesaya 35:4). Jangan berhenti berharap kepada Tuhan: “Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!” (Mazmur 27:14).
Ingatlah! Dari kehidupan kita akan terpancar kemuliaan Kristus bila kita menjalani hidup dengan iman dan penuh ucapan syukur,“Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu.” (Amsal 27:19). Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Merry Christmas. (pg). -
KEPAHITAN: Penyakit Rohani Yang Sangat Berbahaya
Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh damai sejahtera. Semoga kita dapat menikmati hari-hari yang dianugerahkan Tuhan tanpa dibebani peristiwa-peristiwa dan kasus-kasus di masa lalu yang menimbulkan luka hati yang cukup dalam. Semoga kita dimampukan oleh Tuhan untuk dapat lepas dari belenggu kepahitan hati.
Saudara, saat ini kita berada di minggu ke-3 bulan Desember 2020. Tidak lama lagi tahun 2020 akan berganti dengan tahun 2021. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan akhirnya tahun pun berganti tahun. Hal tersebut menunjukkan bahwa segala sesuatu ada akhirnya dan selalu berubah. Bila segala sesuatu harus ada akhirnya dan berganti dengan suasana baru, bagaimana dengan keadaan dan suasana hati saudara? Apakah juga sudah mengalami pembaharuan?
Jika di masa-masa lalu saudara merasakan luka hati, penolakan, atau pengkhianatan. Bahkan mungkin sampai terjadi pertikaian, saling membenci, saling menfitnah di antara keluarga, teman, atau rekan sepelayanan. Apakah sampai hari ini akibat dari peristiwa atau kasus tersebut masih tertanam kuat-kuat di dalam hati saudara, sehingga timbul suatu kepahitan? Atau apakah saudara terus diam saja dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa, padahal di hati saudara masih bergejolak rasa dendam, tidak dapat melupakan?
Sungguh, kepahitan adalah salah satu penyakit rohani yang sangat berbahaya! Apabila kepahitan hati ini terus dibiarkan, ia akan seperti kanker yang dapat menggerogoti tubuh manusia: merusak kehidupan rumah tangga, memporakporandakan karir, membuat orang mudah jatuh sakit, putus asa dan bahkan bisa mendorong orang untuk melakukan perbuatan nekat yaitu bunuh diri.
Saudara, sebagai anak-anak Tuhan kita tidak boleh terus-menerus menyimpan kepahitan. Harus segera dibereskan! Kita harus dengan rendah hati datang kepada Tuhan Yesus dan membuka hati kita untuk dijamah dan diselidiki oleh Roh Kudus sehingga kita menyadari segala perbuatan salah kita dan bukan sebaliknya, kita tetap merasa paling benar dan menyalahkan pihak lain.
Memang kita tak bisa mencegah masalah-masalah yang terjadi, tetapi kita bisa memilih cara untuk menyikapinya. Kepahitan yang dipelihara itu akan menguras jiwa dan tenaga. Menyiksa dan menghancurkan hidup kita sendiri.
Maka marilah kita membuka hati dan mengizinkan Allah bekerja untuk membersihkan hati kita serta memenuhi hati kita dengan kasih-Nya yang memulihkan. Seperti yang firman Tuhan katakan, “Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang” (Ibrani 12:15). Benar, hanya oleh kasih dan karunia-Nya, kita bisa memperoleh kemerdekaan sejati dari hal-hal yang merusak diri kita sendiri. Ingatlah! Tuhan tidak menghendaki kita memiliki dendam dan terus-menerus menyimpan kepahitan. Kita harus bersikap ramah, penuh kasih mesra dan saling mengampuni satu sama lain. Kita yang telah beroleh pengampunan dari Tuhan juga harus mau membuka hati untuk mengampuni orang lain, dan buanglah semua kepahitan yang ada! Mari kita kerjakan nasihat dari Rasul Paulus, “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.” (Efesus 4:31). Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Merry Christmas. (pg)
-
Karena dalam MEMBERI itulah kita MENERIMA
Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh damai sejahtera. Sesungguhnya hidup itu tidak hanya berbicara mengenai apa yang kita miliki, tapi juga tentang apa yang telah kita bagi. Billy Graham (Penginjil asal Amerika) berkata, “Tuhan memberi dua tangan, yang satu untuk menerima dan satunya untuk memberi.”
Saudara, peristiwa natal sesungguhnya berbicara tentang memberi. Allah Bapa memberikan Anak-Nya yang tunggal, Yesus memberikan diri-Nya untuk diutus ke dunia, Maria memberikan dirinya untuk mengandung dan melahirkan Sang Bayi Kudus, dan para orang majus memberikan persembahan berupa emas, kemenyan, dan mur.
Karena itu saya ajak pembaca yang punya potensi, mari di masa raya natal 2020 kita mengikuti jejak para peran utama dalam peristiwa natal yang pertama, untuk menjadi Si Pemberi.
Dengan penuh antusias, mari kita mulai memeriksa apa saja yang ada di dalam diri kita, yang kita miliki, yang mungkin dapat kita bagi. Selain itu kita juga mulai mengamati, siapa saja yang akan kita beri.
Sangat menarik, Yesus sendiri menyatakan bahwa kita akan menerima jika kita memberi, bahkan kita akan menerima lebih banyak dari yang kita beri. “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Lukas 6:38).
Saudara, intinya adalah kita akan menerima setelah kita memberi. Tuhan menghendaki kita untuk memberi dengan hati yang rela, sukacita, dan yang terbaik, sebab apa yang ditabur orang itu juga yang dituainya (Galatia 6:7). Entah sudah berapa kali kita diingatkan bahwa dalam kehidupan ini, ada yang namanya hukum tabur tuai. Semakin banyak yang kita tabur, akan semakin banyak pula yang akan kita tuai, “Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga” (2 Korintus 9:6)
Memang dunia memiliki prinsip yang berbeda dengan firman Tuhan dalam hal memberi. Dunia berprinsip bahwa jika kita banyak memberi, maka kekayaan kita akan semakin berkurang dan akhirnya kita bisa mengalami kekurangan. Oleh karena itu, kita harus menghemat sedemikian rupa, kalau perlu kita menjadi orang yang pelit.
Sebaliknya Salomo bersaksi dan memberi peneguhan, “Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan. Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.” (Amsal 11:24-25). Ingatlah! Santo Fransiscus dari Asisi berkata, “Karena dalam memberi itulah kita menerima.” Maka hidup kita semakin bermakna ketika kita mampu berbagi bukan hanya menikmatinya sendiri. Rasul Paulus mengingatkan kepada kita bahwa Tuhan terlebih dahulu telah memberikan apa yang kita butuhkan, “Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; …” (2 Korintus 9:10). Selamat memberi. Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Merry Christmas. (pg)
-
BAWALAH SUKACITA di HATIMU
Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh sukacita. Jika saudara dapat menyambut pagi, siang, dan malam dengan sukacita, itu pertanda saudara dapat menikmati hidup. Jangan lupa, bawalah sukacita di hatimu, supaya kehadiranmu di segala tempat menghadirkan sukacita.
Saudara, saat ini ada cukup banyak orang kehilangan sukacita karena pandemi Covid – 19 yang berkepanjangan dan melanda hampir semua negara di dunia.
Sebenarnya orang percaya tidak akan kehilangan sukacita di segala situasi bila ia memiliki fondasi hidup yang kokoh. Fondasi hidup orang percaya adalah Kristus dan firman-Nya. Mari kita renungkan dalam-dalam sabda Yesus berikut, “… Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun.“ (Lukas 6:48-b).
Maka kita perlu terus membangun fondasi hidup. Bagaimana caranya? Kita perlu menyediakan waktu untuk membaca dan merenungkan firman Tuhan setiap hari, serta melakukannya.
Bila kita tekun merenungkan firman Tuhan, perbendaharaan hati dan pikiran kita akan dipenuhi oleh firman Tuhan. Sebab kunci untuk tetap merasakan sukacita di segala situasi itu bermula dari hati dan pikiran kita, “Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia.” (Amsal 23:7-a).
Saudara, oleh karena itu pusatkan hati dan pikiran hanya kepada Tuhan. Orang yang selalu memikirkan kasih dan kebaikan Tuhan, akan bisa bersukacita. Ia akan selalu memiliki alasan untuk memuji Tuhan. Mari kita sambut ajakan Daud, “Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!” (Mazmur 103:2).
Mari tanamkan dalam hati dan pikiran bahwa TUHAN, Yang Mahatinggi, adalah dahsyat, Raja yang besar atas seluruh bumi (Mazmur 47:3). Masalah sebesar apa pun yang menimpa kita, tak sebanding dengan kedahsyatan kuasa Tuhan kita.
Saudara, tidak ada alasan untuk tidak bersukacita karena kita punya Tuhan yang begitu peduli dan penuh belas kasihan. Pemazmur menyatakan bahwa Tuhan menegakkan orang yang hina dari dalam debu dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur (Mazmur 113:7).
Bahkan, Tuhan sanggup membuka jalan saat tiada jalan, membuat yang tak mungkin menjadi mungkin, yang kehilangan pengharapan menjadi berpengharapan, sebab tidak ada yang mustahil bagi Dia, Pemazmur menggambarkannya sangat luar biasa, “Ia mendudukkan perempuan yang mandul di rumah sebagai ibu anak-anak, penuh sukacita.” (Mazmur 113:9) Ingatlah! Kita bersukacita karena TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia (Ratapan 3:25). Karena itu jangan hanya fokus pada besarnya masalah dan situasi yang sedang berkembang saat ini, melainkan arahkanlah mata hati kita kepada Tuhan, yang berjanji tidak akan membiarkan dan meninggalkan kita. (Ibrani 13:5-b). Dialah Sang Imanuel. Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Merry Christmas. (pg).
-
TUHAN JAGAI dengan DAMAI SEJAHTERA
Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh damai sejahtera. Semoga di hari-hari di masa raya Natal ini, kita tetap dapat menikmati damai sejahtera di tengah-tengah pandemi Covid-19 yang belum mereda juga.
Amy Carmichael (Misionaris yang melayani di India) membukakan rahasia supaya kita dapat menikmati damai sejahtera, “Berbahagialah orang yang hatinya tulus, karena mereka akan menikmati damai sejahtera yang limpah. Jika Anda menolak untuk selalu tergesa-gesa dan tegang, jika Anda menaruhkan hidup Anda pada Tuhan, tidak ada yang dapat mencegah Anda hidup dalam roh yang bening, yang hidup dan dipenuhi damai sejahtera. Dalam keheningan seperti itu Anda tahu apa yang menjadi kehendak-Nya”.
Di saat virus Corona mengganas kembali, ada cukup banyak orang yang menjalani hari-harinya dipenuhi dengan ketakutan, kecemasan, kekhawatiran, dan kegelisahan. Tentu saja damai sejahtera di hati pun terbang melayang entah kemana!
Saudara, sebagai orang percaya tidak seharusnya kita kehilangan damai sejahtera sekalipun harus mengalami pergumulan hidup yang berat, sebab kita punya Tuhan, yang adalah Sang Raja damai (Yesaya 9:5), Dialah sumber damai sejahtera kita. Damai sejahtera yang sejati tidak kita dapatkan dari dunia atau pun dari hal-hal materi, melainkan hanya didapatkan oleh mereka yang telah dipulihkan hubungannya dengan Bapa melalui kelahiran baru di dalam Kristus!
Damai sejahtera adalah salah satu berkat rohani dari surga yang Tuhan sediakan bagi orang percaya, sebagaimana yang Tuhan janjikan, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.”(Yohanes 14:27).Maka dari itu bila seseorang ingin memiliki damai sejahtera, ia tidak perlu mencarinya dengan berkelana sampai ke ujung dunia. Cukup datang kepada Kristus dan menerima Dia di dalam hatinya, maka damai sejahtera itu akan Tuhan berikan.
Dengan demikian, bukanlah hal yang mustahil bagi orang percaya untuk tetap dapat menikmati damai sejahtera, sekalipun saat-saat ini keadaan di kota tempat tinggal kita kembali mencekam
Ingatlah! Biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia Tuhan tidak akan beranjak dari hidup kita dan perjanjian damai-Nya tidak akan bergoyang (Yesaya 54:10). Yakinlah, bagi mereka yang mempercayakan hidupnya kepada Tuhan dan hatinya teguh, Tuhan jagai dengan damai sejahtera (Yesaya 26:3). Mari bersama dengan Daud kita berdoa, “TUHAN kiranya memberikan kekuatan kepada umat-Nya, TUHAN kiranya memberkati umat-Nya dengan sejahtera!” (Mazmur 29:11). Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Merry Christmas. (pg)
