KEPAHITAN: Penyakit Rohani Yang Sangat Berbahaya

Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh damai sejahtera. Semoga kita dapat menikmati hari-hari yang dianugerahkan Tuhan tanpa dibebani peristiwa-peristiwa dan kasus-kasus di masa lalu yang menimbulkan luka hati yang cukup dalam. Semoga kita dimampukan oleh Tuhan untuk dapat lepas dari belenggu kepahitan hati.

Saudara, saat ini kita berada di minggu ke-3 bulan Desember 2020. Tidak lama lagi tahun 2020 akan berganti dengan tahun 2021. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan akhirnya tahun pun berganti tahun.  Hal tersebut menunjukkan bahwa segala sesuatu ada akhirnya dan selalu berubah.  Bila segala sesuatu harus ada akhirnya dan berganti dengan suasana baru, bagaimana dengan keadaan dan suasana hati saudara?  Apakah juga sudah mengalami pembaharuan? 

Jika di masa-masa lalu saudara merasakan luka hati, penolakan, atau pengkhianatan. Bahkan mungkin sampai terjadi pertikaian, saling membenci, saling menfitnah di antara keluarga, teman, atau rekan sepelayanan. Apakah sampai hari ini akibat dari peristiwa atau kasus tersebut masih tertanam kuat-kuat di dalam hati saudara, sehingga timbul suatu kepahitan?  Atau apakah saudara terus diam saja dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa, padahal di hati saudara masih bergejolak rasa dendam, tidak dapat melupakan?

Sungguh, kepahitan adalah salah satu penyakit rohani yang sangat berbahaya!  Apabila kepahitan hati ini terus dibiarkan, ia akan seperti kanker yang dapat menggerogoti tubuh manusia:  merusak kehidupan rumah tangga, memporakporandakan karir, membuat orang mudah jatuh sakit, putus asa dan bahkan bisa mendorong orang untuk melakukan perbuatan nekat yaitu bunuh diri.

Saudara, sebagai anak-anak Tuhan kita tidak boleh terus-menerus menyimpan kepahitan.  Harus segera dibereskan!  Kita harus dengan rendah hati datang kepada Tuhan Yesus dan membuka hati kita untuk dijamah dan diselidiki oleh Roh Kudus sehingga kita menyadari segala perbuatan salah kita dan bukan sebaliknya,  kita tetap merasa paling benar dan menyalahkan pihak lain. 

Memang kita tak bisa mencegah masalah-masalah yang terjadi, tetapi kita bisa memilih cara untuk menyikapinya. Kepahitan yang dipelihara itu akan menguras jiwa dan tenaga. Menyiksa dan menghancurkan hidup kita sendiri.

Maka marilah kita membuka hati dan mengizinkan Allah bekerja untuk membersihkan hati kita serta memenuhi hati kita dengan kasih-Nya yang memulihkan. Seperti yang firman Tuhan katakan, “Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang” (Ibrani 12:15). Benar, hanya oleh kasih dan karunia-Nya, kita bisa memperoleh kemerdekaan sejati dari hal-hal yang merusak diri kita sendiri. Ingatlah! Tuhan tidak menghendaki kita memiliki dendam dan terus-menerus menyimpan kepahitan.  Kita harus bersikap ramah, penuh kasih mesra dan saling mengampuni satu sama lain. Kita yang telah beroleh pengampunan dari Tuhan juga harus mau membuka hati untuk mengampuni orang lain, dan buanglah semua kepahitan yang ada! Mari kita kerjakan nasihat dari Rasul Paulus, “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.”  (Efesus 4:31). Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Merry Christmas. (pg)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *