Author: Christopherus

  • Taruhlah Selalu KATA “YA”

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh damai dan sukacita. Dalam perjalanan hidup, kadang kita menjadi bimbang untuk melangkah, ketika kenyataan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Orang bijak memberikan resep agar dapat meraih keberhasilan, “Tarik nafas kepercayaan diri. Buang nafas kebimbangan. Taklukan ketakutanmu. Raih impianmu.”

    Saudara, sesungguhnya kebimbangan merupakan salah satu faktor penghalang untuk memperoleh apa yang Tuhan janjikan.  Yakobus mengingatkan,  “…  orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.”  (Yakobus 1:6-7).  Selama kita mengizinkan kebimbangan menari-nari di hati dan pikiran, jangan pernah berharap bahwa kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan dari Tuhan.

    Tuhan Yesus menegaskan,  “Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya.” (Markus 11:23).  Bila kita ingin melihat dan mengalami perkara-perkara yang dahsyat dinyatakan di dalam hidup kita, jauhkan segala kebimbangan, dan taruhlah selalu kata “ya” dalam hati dan pikiran. 

    Saudara, masih ada orang percaya yang menganggap bahwa janji-janji Tuhan itu  palsu. Musa memberi penegasan,  “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?”  (Bilangan 23:19). 

    Ada cukup banyak orang yang sudah sekian tahun lamanya mengikut Tuhan tapi hidupnya belum mengalami perubahan yang berarti.  Bagaimana dan mengapa janji-janji firman Tuhan belum tergenapi dalam hidupnya?  Ada kemungkinan salah satu sebabnya karena dalam hati dan pikirannya  ada  “ya”  dan  “tidak”.  “Ya” dan “tidak”  ketika bergabung menjadi yang namanya kebimbangan.  

    Maka bila kita berdoa meminta sesuatu kepada Tuhan, kita harus yakin dan membayangkan bahwa kita sudah menerimanya,  “… apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.”  (Markus 11:24).  Rasul Paulus menegaskan  “… di dalam Dia hanya ada ‘ya’. Sebab Kristus adalah ‘ya’ bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan ‘Amin’ untuk memuliakan Allah.”  (2 Korintus 1:19-20), Karena itu pegang kebenaran firman Tuhan itu, dan percayalah bahwa cepat atau lambat janji-Nya pasti digenapi.

    Ingatlah! Tuhan pasti menggenapi janji-janji-Nya karena janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah  (Mazmur 12:7). Karena itu Merry Riana (Motivator asal Indonesia) bertekad, “Aku akan perintahkan diriku dan mengatakan bahwa aku mampu! Aku akan mengalahkan kebimbangan, rasa takut, perasaan minder, dan menukarnya dengan keberanian.” Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Merry Christmas. (pg)

  • Memilih Kehidupan Hari Ini (Bagian 1)

    Setiap hari, Saudara dan saya menetapkan beberapa pilihan. Itulah sebabnya hidup ini sungguh-sungguh penuh pilihan. Pilihan-pilihan tersebu mungkin saja mencakup pilihan yang sederhana atau yang rumit atau kompleks. Pilihan-pilihan yang sederhana bisa mencakup misalnya, memilih sayuran atau buah-buahan di pasar, memilih minum teh atau coklat, memilih naik bis atau naik jasa tukang ojek.

    Sedangkan, pilihan-pilihan yang rumit atau kompleks meliputi memilih sekolah, memilih teman, memilih pekerjaan, memilih pasangan hidup, memilih keyakinan/agama, memilih mengikuti Tuhan Yesus, dan lainnya. Lalu, apa yang terjadi bila kita tidak membuat pilihan?  Barangkali orang lain akan memilihkan buat kita, tentu kita tidak menghendaki hal tersebut terjadi.

    Sekarang, apa yang membuat kita memilih? Atau dengan kata lain, Mengapa ada pilihan-pilihan dalam hidup ini? Kita menetapkan pilihan-pilihan, sebab ini didasarkan pada kebebasan yang kita miliki. Kebebasan adalah suatu kemampuan untuk memilih bagi diri sendiri. Lantas, dari mana datangnya kebebasan kita? Allah sendiri memberikan kita kebebasan untuk memilih. Namun, kita juga sering memilih dengan keliru (bdng. Kejadian 2:15-17).

                Bacaan kita dalam Kitab Ulangan 30:11-15, nabi Musa menawarkan pilihan-pilihan kepada umat Israel: kehidupan atau kematian, kesejahteraan atau kehancuran, berkat atau kutuk, yang baik atau yang jahat. Generasi baru dari umat Israel kini telah tiba di sebelah timur sungai Yordan, tepatnya di tanah Moab. Mereka berhenti di akhir perjalanan yang panjang setelah 40 tahun berada di padang gurun. Mereka segera akan memasuki dan mendiami tanah Kanaan, yaitu Tanah Perjanjian (Ulangan 1:5-8).

                Pemimpin mereka, nabi Musa, sudah lanjut usia saat itu. Ia tidak dapat memimpin umat Israel ke Tanah Perjanjian. Musa menyampaikan perintah Allah yang terakhir kepada umat Israel sebelum ia mengundurkan diri sebagai pemimpin mereka. Ia mengingatkan mereka tentang makna perjanjian Allah. Nabi Musa meminta umat Israel untuk memperbaharui komitmen mereka dalam mengikut Allah.

                Ulangan 30:11 berkata, Sebab perintah ini, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, tidaklah terlalu sukar bagimu dan tidak pula terlalu jauh”. Perintah-perintah itu tidak terlalu sulit dan tidak melampaui pemahaman mereka. Dan, perintah itu tidak di langit dan tidak di seberang laut (ayat 12-13). Perintah itu bersifat realistis. Perintah itu berbunyi Jangan ada padamu allah lain dan kasihilah Tuhan Allah-mu, Jangan menyembah berhala, Jangan menyebut nama Tuhan Allah-mu dengan sembarangan, hormatilah ayah ibumu, kuduskanlah hari Tuhan … (Keluaran 20:1-17 dan Ulangan 5:6-21).

                Lalu, tujuan perintah tersebut adalah kehidupan itu sendiri. Kehidupan itu akan dialami oleh orang Israel sendiri di dalam perjanjian dengan Allah, yang sudah disampaikan Musa kepada umat-nya. Kehidupan di sini bersifat rohani dan jasmani (lihat ayat 15-20).

                Ayat 14 menjelaskan pada kita bahwa perintah dan firman itu sesungguhnya dekat dengan kita, yaitu di dalam mulut dan di dalam hati kita. Inilah firman iman, yang diberikan oleh Tuhan Yesus kepada orang percaya melalui keselamatan-Nya. Dalam Roma 10:8-9, kita mengaku dengan mulut dan percaya dalam hati bahwa Yesus adalah Tuhan. 

                Ayat 15 berbunyi, Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan”. Kata “hari ini” (bhs. Ibrani) dalam perikop kita dipakai sebanyak lima kali (ayat 11, 15, 16, 18, dan 19). Saya kira, nabi Musa mempunyai maksud yang khusus mengapa ia menekankan kata itu. Hal-hal seperti kepatuhan pada Allah, mengasihi-Nya, memiliki persekutuan yang dekat dengan Allah, dan memilih kehidupan adalah sangat penting bagi kita. Kita tidak bisa menunggu untuk melakukan hal-hal ini sampai lusa atau minggu depan. Kita mesti membuat keputusan di sini dan kini.

                Kata hari ini berbicara tentang momen atau saat kesempatan. Inilah momen kesempatan secara  pribadi bagi kita untukmendengarkan suara Allah dan mengikuti perintah-perintah-Nya. Kita menanggapiAllah dengan kepatuhan iman. Dan, hari ini merupakan saat yang menentukan. Mengapa? Sebab, kita semua tahu, sesudah hari ini banyak haltak akan pernah menjadi sama. (lihat Pengkotbah 11:6). 

                Hari ini adalah berkat dan anugerah dari Allah. Marilah kita memilih kehidupan hari ini. Kita tinggal di dalam Yesus dan membuahkan sejumlah kesaksian bagi kerajaan-Nya. Terpisah dari Yesus, kita tidak mampu berbuat apa-apa dalam kehidupan ini. (Petrus E. Handoyo/pg).

    ******

  • MENJADI PEMENANG

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh persahabatan. Saudara, perjalanan hidup kita digambarkan oleh Rasul Paulus sebagai seorang atlet yang ada di arena pertandingan. Kita harus keluar sebagai pemenang. Untuk keluar sebagai pemenang, itu berarti kita harus bersedia berjalan di mil kedua. Kita harus mau berjalan lebih jauh, kerja lebih keras, dan berkorban lebih dibandingkan dengan lainnya.

    Saudara, sesungguhnya seorang pemenang bukanlah orang yang tidak pernah gagal atau orang yang sempurna, tanpa cela atau juga orang yang tidak pernah punya persoalan dalam hidupnya.  Seorang pemenang adalah orang yang pernah gagal tapi mau bangkit dan berusaha sampai ia meraih kemenangan. 

    Seorang pemenang adalah orang yang penuh ketekunan dan kesabaran melewati setiap ujian dan persoalan hidupnya tanpa keluh kesah dan persungutan, hingga ia memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan.  Setiap anak Tuhan dirancang bukan untuk menjadi pecundang.  Tetapi Rasul Paulus menegaskan bahwa setiap orang percaya diciptakan dan dirancang Tuhan dengan potensi untuk menjadi pemenang,  “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.”  (Roma 8:37).

    Berbicara soal kemenangan dalam hidup ini menyangkut pula tentang proses yang harus kita dijalani.  Proses yang dimaksud meliputi perjuangan, kesabaran, ketekunan, peperangan dan sebagainya.  Kita bisa belajar dari perjalanan hidup Yusuf.  Ketika ia memperoleh mimpi dari Tuhan, apakah mimpinya itu langsung menjadi kenyataan? 

    Tentu tidak.  Bahkan Yusuf harus mengalami proses yang begitu panjang dan berat, yang sepertinya sangat bertolak belakang dengan mimpinya itu.  Namun ia tetap tekun, sabar dan senantiasa mengarahkan pandangannya hanya kepada Tuhan. 

    Saudara, kemenangan itu ada di tangan Tuhan, “Kuda diperlengkapi untuk hari peperangan, tetapi kemenangan ada di tangan Tuhan”  (Amsal 21:31). Karena itu kegagalan-kegagalan di masa lalu tidak menjadi ukuran bahwa seseorang akan gagal seterusnya.

    Karena itu milikilah sikap hati yang benar sehingga di segala keadaan kita tetap bisa mengucap syukur dan senantiasa berpikiran positif.  Jangan pernah menyalahkan orang lain, tapi belajarlah untuk selalu mengoreksi diri!  Tetaplah bertekun di dalam Tuhan karena kemenangan orang percaya ada di dalam Dia sepenuhnya.  Katakan dalam hati Saudara masing-masing,  “Tuhan adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut?  Tuhan adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?” (Mazmur 27:1).

    Ingatlah! Kemenangan gemilang masih selalu mungkin diperoleh bagi orang yang menolak untuk berhenti berjuang. Zig Ziglar (Motivator asal Amerika) berkata, “Saudara dilahirkan untuk menang, tetapi untuk menjadi pemenang, saudara harus merencanakan, menyiapkan dan mengharapkan untuk menang”. Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Merry Christmas. (pg)

  • TIDAK ADA YANG MUSTAHIL Bagi Orang Yang Percaya!

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh keyakinan akan pertolongan Tuhan. Semoga di bulan Desember 2020 ini kita semakin dapat menikmati campur tangan Tuhan dalam kehidupan kita.

    Saudara, hari ini kita akan belajar dari satu perikop yang diambil dari Injil Lukas 1:26-38 yang berjudul: “Pemberitahuan tentang kelahiran Yesus”. Malaikat mengunjungi Maria di rumahnya dan menyampaikan kabar,  “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.”  (ayat 31). 

    Walaupun ketika malaikat menyampaikan berita tersebut mengawalinya dengan perkataan: Jangan takut dan engkau memperoleh kasih karunia di hadapan Allah, tetap saja Maria sangat terkejut dan bertanya-tanya dalam hatinya, maka dia menjawab, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?”

    Maka malaikat menjawab keraguan Maria dengan memberikan penjelasan yang terdapat dalam ayat 35 dan 36, dan puncak jawaban malaikat terdapat dalam ayat 37, “… bagi Allah tidak ada yang mustahil.”

    Saudara, pernyataan “tidak ada yang mustahil’  berarti tidak ada sesuatu pun yang tidak sanggup Allah kerjakan dalam kehidupan manusia karena Dia adalah Allah yang ajaib, Allah yang Mahakuasa,  dan perbuatan-perbuatan-Nya heran, serta sulit untuk kita pahami.  Dia sanggup melakukan mukjizat, membuat hal yang tidak mungkin menjadi mungkin,  “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.”  (Yesaya 55:8-9).

    Setelah Maria menerima penjelasan dari malaikat, akhirnya Maria berkata dengan yakin dan mantap, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu”  (ayat 38). Maria pun percaya dan firman-Nya pun digenapi dalam hidupnya.

    Di segala situasi dalam hidup ini marilah kita belajar untuk memiliki sikap seperti Maria yang percaya kepada Tuhan dan memiliki penyerahan penuh kepada-Nya.  Orang percaya seharusnya menjalani hari-harinya dengan penuh kemenangan, meski situasi saat ini serba tidak menentu dan sangat tidak menjanjikan.

    Kita punya Tuhan yang besar, heran dan teramat dahsyat kuasa-Nya!  Dalam sejarah kehidupan manusia tidak ada seorang pribadi atau seorang nabi pun yang berani berkata seperti Yesus,  “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.”(Matius 28:18), dan Yesus tak pernah berubah,  tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya  (Ibrani 13:8). Ingatlah! Kehidupan orang percaya yang sesungguhnya adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat  (2 Korintus 5:7). Segala sesuatu menjadi mungkin apabila kita melihat dari sudut pandang Tuhan, melihat dengan mata iman,  bukan melihat apa yang terlihat secara kasat mata, sebab tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!  (Markus 9:23b). Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Merry Christmas. (pg) 

  • BANTAL yang EMPUK

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh damai sejahtera. Saudara, ada pribahasa yang berbunyi, “Hati nurani yang bersih adalah bantal yang empuk”. Kalau kita mempunyai hati nurani yang bersih maka kita akan menikmati ketenangan, kenyamanan, dan kedamaian. Maka hampir setiap malam kita akan dapat menikmati tidur yang nyenyak.

    Saudara, Rasul Paulus, hamba Tuhan yang telah banyak makan asam garam dalam pelayanan pemberitaan Injil. Karena Injil Kristus, Paulus harus menanggung penderitaan. “Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati.” (2 Korintus 1: 8b-9a).

    Bagaimana pun hebatnya karakter dan pelayanan Paulus, ia tetaplah manusia biasa seperti kita. Pada ambang tertentu, ia bisa saja mengalami kelemahan. Namun hal itu tidak sampai membuat Paulus patah arang dan melarikan diri dari pelayanan yang dipercayakan Tuhan.

    Saudara, apa rahasia kemenangan Paulus sehingga ia tidak sampai tergeletak? Paulus, bukan hanya berhasil mengatasi kesulitan-kesulitan yang ada, melainkan juga masih bisa menolong dan memberi kekuatan kepada orang-orang yang dilayaninya.

    Salah satu kuncinya adalah ia memiliki hati nurani yang murni! Hati nurani atau suara hati adalah kemampuan batin untuk mengetahui dengan roh kita, memberi persetujuan ketika kita berbuat benar, tetapi menuduh ketika kita berbuat salah. Paulus berkata, “Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia.”  (Kisah Para Rasul 24:16).

    Seseorang yang memiliki suara hati atau hati nurani yang baik dan murni dipastikan akan memiliki integritas, tidak munafik, dan dapat dipercaya, “Inilah yang kami megahkan, yaitu bahwa suara hati kami memberi kesaksian kepada kami, bahwa hidup kami di dunia ini, khususnya dalam hubungan kami dengan kamu, dikuasai oleh ketulusan dan kemurnian dari Allah bukan oleh hikmat duniawi, tetapi oleh kekuatan kasih karunia Allah.”  (2 Korintus 1:12)

    Itulah sebabnya Rasul Paulus dengan bersungguh hati melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Motivasinya tulus yaitu hanya ingin menyenangkan hati Tuhan, bukan manusia.

    Ingatlah! Syukur kepada Tuhan!  Karena penebusan Kristus di kayu salib hati kita telah dibersihkan dari segala kotoran, sehingga kita dilayakkan untuk menghadap Tuhan.“Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni.”  (Ibrani 10:22). Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Merry Christmas. (pg)

  • PERINTAH BARU

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh kasih. Sungguh sangat menyenangkan tinggal bersama dengan orang-orang yang mengasihi kita. Karena kalau saudara mengasihi seseorang, cara saudara bicara dan bertindak akan berbeda, yang jelas, mereka merasa nyaman dan aman tinggal bersama saudara.

    Oscar Wilde (Novelis asal Irlandia) berkata, “Jagalah kasih di dalam hati saudara. Kehidupan tanpa kasih akan seperti taman yang bunga-bunganya mati karena tidak mendapat sinar matahari.”

    Tugas dan tanggung jawab orang percaya di tengah dunia ini adalah menjadi berkat dan menunjukkan kasih.  Itulah sebabnya Tuhan tak henti-hentinya dan begitu tegas menuntut agar kehidupan orang percaya dipenuhi dengan kasih.  Mengapa?  

    Pertama, kasih merupakan dasar utama seluruh pengajaran Injil. Kepada jemaat Korintus Paulus menegaskan:  meskipun seseorang dapat melakukan segala sesuatu, punya karunia yang hebat, dapat menyembuhkan orang sakit, bisa berbahasa malaikat, memiliki pengetahuan dan menguasai isi Alkitab, sudah melayani Tuhan sampai ujung bumi tidak ada arti apa-apa jika ia tidak memiliki kasih (1 Korintus 13:1-3).

    Tuhan Yesus bersabda,  “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.  Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”  (Matius 22:37-40.

    Kedua, kasih adalah Allah itu sendiri.  Jadi Allah bukan saja memiliki kasih, tetapi Dia adalah kasih, “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih”  (1 Yohanes 4:8). 

    Jika kita mengaku bahwa kita adalah anak-anak Allah, kasih harus menjadi bagian hidup kita.  Bukan kasih yang hanya digembar-gemborkan melalui ucapan saja, tapi kasih yang diwujudkan dalam tindakan yang konkrit.  Jika orang percaya yang tidak memiliki kasih ia telah gagal dalam pengiringannya kepada Tuhan dan sia-sialah kepercayaannya.  Ditegaskan:  “… jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.”  (1 Yohanes 4:11). 

    Ketiga, kasih adalah perintah baru Tuhan.  Yesus bersabda:  “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.”  (Yohanes 13:34).  Karena memiliki kasih itu adalah perintah dari Tuhan, maka mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus taat.  Kasih adalah untuk membuktikan bahwa kita ini adalah murid-murid Yesus;  jika tidak ada kasih di dalam kita, kita tidak layak disebut murid Yesus!

    Ingatlah! Kasih merupakan kekayaan hidup, yang akan menjadi makin banyak apabila ia dibagi-bagikan kepada orang lain. Karena itu Victor Hugo (Penyair asal Amerika) memberi nasihat, “Bila Anda pergi tidur, bawalah untuk bantal Anda tiga hal, yaitu: Kasih sayang, pengharapan, dan belas kasih.” Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Merry Christmas. (pg)

  • BERITAKANLAH INJIL

    Selamat jumpa Para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh pengharapan. Saudara, tanggal 6 Desember 2020, merupakan HUT ke-100 Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI). Pendiri GKMI adalah bapak Tee Siem Tat (Pak Tee), seorang pengusaha di kota Kudus yang mengalami jamahan Tuhan, mengalami kesembuhan dari sakit penyakitnya.

    Strategi Pemberitaan  Injil Pak Tee  berdasarkan Kisah Para Rasul 1:8. Pak Tee memahami ayat tersebut sebagai berikut: “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem (= Anggota keluarga terdekat: suami, isteri, anak-anak, menantu-menantu dan cucu-cucu),  dan di seluruh Yudea (= keponakan dan sanak keluarga yang lain) dan Samaria  dan sampai ke ujung bumi (= sahabat, para pegawai, relasi dagang, dan lain-lain yang belum mengenal Tuhan Yesus)”

    Saudara, Tuhan Yesus memberikan perintah kepada semua orang percaya untuk memberitakan Injil, tanpa terkecuali,  “… pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”  (Matius 28:19-20).  Itulah yang disebut Amanat Agung Tuhan! 


    Rasul Paulus merupakan salah seorang pemberita Injil yang patut dan layak menjadi panutan kita  Komitmen dan dedikasi Paulus dalam mengerjakan panggilan Tuhan ini tidak perlu diragukan lagi.  Bagi Paulus, celakalah dirinya jika dia tidak memberitakan Injil, “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.”  (1 Korintus 9:16)

    Bagi Paulus hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan  (Filipi 1:21), Paulus mempunyai tekad, “Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.”  (1 Korintus 9:19).  Ungkapan  ”menjadikan diriku hamba dari semua orang” menunjukkan bahwa dalam segala hal Rasul Paulus belajar untuk meneladani Kristus  (Matius 20:26b-28).

    Dalam memberitakan Injil Paulus tidak bersikap kaku, tetapi ia belajar untuk peka terhadap keadaan orang yang hendak dilayaninya serta berusaha menyesuaikan diri, agar dapat diterima dengan baik.  Bukan berarti Paulus berkompromi dengan cara hidup mereka yang tidak berkenan kepada Tuhan.  Penyesuaian diri Paulus hanya terbatas pada hal-hal yang bukan prinsip atau yang tidak bertentangan dengan firman.

    Ingatlah! Bagi Paulus, dipercaya menjadi hamba-Nya sudah merupakan anugerah yang tak ternilai sehingga ia berkata,  “… jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah.” (Filipi 1:22a).  Hidup Paulus benar-benar membawa dampak yang luar biasa:  Injil semakin maju dan hidupnya menjadi berkat bagi jiwa-jiwa. Karena itu,  beritakanlah Injil, baik atau tidak baik waktunya (2 Timotius 4:2).  Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Merry Christmas. (pg)