Author: Christopherus

  • Tetaplah MENGUCAP SYUKUR

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur. Saudara, ketika bangun tidur di  tiap pagi, bersyukurlah untuk apa yang saudara miliki. Bersyukurlah untuk berkat-berkat kecil, dan tetaplah bersyukur meskipun saudara tidak mendapatkan apa yang saudara inginkan.  

    Saudara, mengucapkan syukur dalam segala hal adalah kehendak Tuhan bagi orang percaya, “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”  (1 Tesalonika 5:18)

    Jika kita teliti, ternyata banyak sekali ayat dalam Alkitab yang membahas tentang pengucapan syukur.  Itu berarti  pengucapan syukur adalah bagian penting dalam kehidupan orang percaya yang tidak boleh diabaikan dan disepelekan.  Hati yang penuh ucapan syukur kepada Tuhan,  itulah yang mendorong terciptanya mazmur pujian yang ditulis oleh Daud.  “Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib;”  (Mazmur 9:2). 

    Saudara, bila  kita merenungkan kasih dan kebaikan Tuhan, sesungguhnya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mengucap syukur kepada-Nya, bahkan pengucapan syukur itu seharusnya bak nafas hidup kita yang tak pernah berhenti untuk berhembus sepanjang kita hidup. 

    Namun seringkali ucapan syukur keluar dari mulut kita hanya saat kita menikmati dan mengalami hal-hal yang baik dari Tuhan.  Ketika hal-hal yang tidak baik  (menurut penilaian kita)  terjadi dan menimpa hidup kita, sulit sekali kita mengucap syukur kepada Tuhan, sebaliknya yang keluar dari bibir kita hanya ungkapan kekecewaan, kekesalan, keputusasaan, sungut-sungut, omelan dan bahkan kita berani menuduh dan menyalahkan Tuhan, seperti yang diperbuat oleh bangsa Israel.

    Saudara, hal-hal yang baik atau buruk, keberhasilan atau kegagalan, sakit atau sehat, dalam kelimpahan atau kekurangan, suka atau duka, sesungguhnya merupakan bagian dari dinamika kehidupan. Hal tersebut merupakan warna-warni dalam kehidupan manusia.  Semoga pernyataan Rasul Paulus berikut akan meyakinkan dan menguatkan kita,   “… Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan”  (Roma 8:28). Karena itu tetaplah mengucap syukur bagaimana pun keadaannya.

    Ingatlah! Mengucap syukur adalah perintah dan kehendak Tuhan yang harus kita taati  Mengucap syukur dan bersabar merupakan rem untuk memperlambat ketinggian hati, kecepatan lupa diri, dan kelebihan ambisi. Karena itu,  mulai sekarang, berhentilah selalu mengeluh, syukuri segala yang kita dapatkan dan miliki.  Sesungguhnya keluhan itu tidak ada gunanya, hanya akan membuat orang lain bosan dan tidak akan menyelesaikan masalah apa pun. Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Merry Christmas. (pg)

  • PERUBAHAN sebaiknya dimulai DARI DIRI SENDIRI

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh persahabatan. Saudara, ada satu hal yang pasti di dunia ini yaitu segala sesuatu di dunia ini akan berubah, tidak ada yang tetap atau sama untuk selama-lamanya. Leo Tolstoy (Sastrawan asal Rusia) berkata, “Setiap orang berpikir bagaimana mengubah dunia, tapi jarang orang yang  berpikir bagaimana mengubah dirinya sendiri.”

    Saudara, ada kecenderungan orang lebih senang berusaha mengubah orang lain untuk menjadi sebagaimana  yang dia harapkan atau kehendaki. Sesungguhnya, belajar berusaha mengubah diri sendiri jauh lebih baik ketimbang berusaha mengubah orang lain  menjadi seperti yang kita kehendaki. Perubahan sebaiknya dimulai dari diri sendiri.

    Hampir setiap orang memiliki keinginan untuk berubah dalam hal penampilan. Karena ingin mengikuti tren yang ada, orang berusaha mengubah penampilannya, mulai dari cara berpakaian, model dan warna rambut, bentuk anggota tubuh, dan lain sebagainya,  Ada pula yang aktif pergi ke tempat kebugaran dengan harapan ingin mengubah bentuk fisiknya, agar lebih proporsional dan seksi. Bahkan ada yang melakukan oplas (operasi plastik) sana, oplas sini.

    Perubahan dalam hal jasmani seharusnya juga diimbangi dengan perubahan dalam hal rohani. Mari kita simak nasihat Rasul Paulus,  “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”  (Roma 12:2)

    Memang tidak  mudah untuk melakukan perubahan dalam hal rohani bila kita hanya mengandalkan akal, kekuatan dan kemampuan sendiri.  Karena itu penting sekali kita bergaul karib dengan Tuhan, melekat kepada-Nya dan tunduk pada pimpinan Roh Kudus.  Sesungguhnya, setiap orang percaya punya kekuatan untuk berubah  karena di dalam dirinya ada Roh Kudus, yang lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia  (1 Yohanes 4:4). 

    Rasul Yohanes juga menegaskan bahwa semua yang lahir dari Bapa mengalahkan dunia.  Inilah kemenangan yang mengalahkan dunia:  iman kita  (1 Yohanes 5:4).  Tidak ada alasan bagi orang percaya untuk tidak bisa berubah!  Kita bisa berubah asalkan kita yang sudah dibenarkan karena iman kepada Kristus dan beroleh pembenaran dari Bapa rela menyerahkan hidup sepenuhnya untuk dipakai Tuhan sebagai wujud ibadah yang sejati  (Roma 12:1).

    Ingatlah! Hidup adalah perubahan!  Adalah mustahil kita berubah jika tidak ada kemauan untuk berubah dan tidak mau membayar harga.  Hidup kita akan berubah bila kita mau dididik, dibentuk dan dipimpin oleh Roh Kudus.  Saat kita dipimpin-Nya kita akan dimampukan untuk tidak lagi hidup dalam kedagingan.  “Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh,”  (Efesus 5:18). Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Merry Christmas. (pg)

  • Memilih Hospitalitas (Keramah-tamahan)

    Mengapa tema hospitalitas (keramah-tamahan) menjadi penting dalam hidup kekristenan?

                Hari ini, bacaan Alkitab kita (2 Raja –Raja 4: 8-11) berhubungan dengan nabi Elisa yang melakukan pelayanan keliling bagi umat Israel. Ia seorang nabi keliling, sebab ia bepergian dari kota ke kota untuk memberitakan firman Allah.             

                Suatu hari, nabi Elisa tiba di sebuah kota kecil bernama Sunem (Ibrani, Shunaam). Kota itu terletak di antara kota Samaria dan Gunung Karmel. Nabi Elisa seringkali bepergian untuk melakukan pelayanannya melewati kota Sunem. Ayat 8 berbunyi,  “Pada suatu hari, Elisa pergi ke Sunem. Di sana tinggal seorang perempuan kaya yang mengundang dia makan. Dan seberapa kali ia dalam perjalanan, singgahlah ia ke sana untuk makan”.

                Wanita Sunem ini memang orang kaya (bdng. ayat 18). Suaminya sudah tua. Suami istri itu memiliki sejumlah pekerja yang bekerja di ladang mereka. Waktu itu sedang musim tuai gandum ketika nabi Elisa mengunjungi keluarga itu. Lebih daripada  itu, wanita Sunem tersebut memiliki  iman dalam Allah. Tetapi, suaminya nampaknya  tidak beriman teguh pada Allah. Jadi, kapan pun nabi Elisa tiba di kota Sunem, ia selalu singgah untuk makan di rumah wanita tersebut.

                Di sini, kita bisa melihat bahwa wanita Sunem dan suaminya menerima  nabi Elisa dengan sangat baik. Ini menunjukkan, mereka terbuka  kepada Allah dengan menerima  hamba Allah untuk singgah di rumah mereka. Penerimaan  merupakan suatu sikap yang penting dalam bacaan Alkitab ini. Apakah penerimaan itu?  Penerimaan adalah suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan kepercayaan kita, nilai, karunia, dan rasa hormat kepada orang lain. Penerimaan juga merupakan kemampuan kita untuk membuat orang merasa berarti, dihormati, dan dihargai.

                Dalam ayat 9, sangatlah jelas bahwa nabi Elisa telah sangat sering mengunjungi wanita Sunem dan suaminya. Dengan demikian, Allah sudah menyentuh  hati wanita itu untuk menunjukkan hospitalitas (keramah-tamahan) kepada sang nabi. Di sini, wanita Sunem itu mengenali, nabi Elisa merupakan seorang yang ditugasi untuk melakukan pekerjaan Allah dalam arti yang sangat khusus. Oleh sebab itu, wanita Sunem dan suaminya tidak ragu-ragu  lagi untuk menjamu nabi Elisa di rumahnya.

                Ayat 10 berkata, “Baiklah kita membuat sebuah kamar atas yang kecil yang berdinding batu, dan baiklah kita menaruh di sana baginya sebuah tempat tidur, sebuah meja, sebuah kursi dan sebuah kandil, maka apabila ia datang kepada kita, ia boleh masuk ke sana”. Wanita Sunem dan suaminya mempunyai  kerinduan besar untuk menyediakan sebuah kamar tidur khusus bagi nabi Elisa. Tujuannya adalah agar nabi Elisa bisa tinggal dan istirahat di dalam kamarnya kapan saja ia mengunjungi wanita dan suaminya itu. Inilah sikap hospitalitas (keramah-tamahan) yang besar kepada nabi Elisa, hamba Allah. Terutama sang wanita Sunem, dia ingin  melayani Allah di setiap kesempatan. Ini sangat indah, bukan? Allah memberkati keluarga dan usahanya secara berkelimpahan.

    Lihatlah frase ini sekali lagi, apabila ia datang kepada kita, ia boleh masuk ke sana” . Dengan menunjukkan hospitalitasnya, wanita Sunem itu mampu  membantu kelangsungan pemberitaan firman Allah yang dilakukan melalui nabi Elisa. Dalam misi penginjilan, Allah sudah menaruh kerinduan  serta komitmen dalam diri orang-orang untuk mendukung pelayanan misi. Lebih dari itu, Allah pun mengutus hamba-Nya atau misionaris untuk melaksanakan tugas misi di banyak ladang pelayanan di dunia ini.

    Dalam perjalanan-perjalanan misi di padang rumput dan padang gurun Gobi di Mongolia, tim misi dan saya seringkali singgah  di sejumlah keluarga nomaden Buddhis maupun ateis (yang mana kami belum kenal), karena kami tersesat jalan. Kami diterima  dengan keterbukaan diri yang lebar. Dijamu dengan keramah-tamahan  nomaden. Dan secara mengejutkan, kami malah diberi bekal makanan untuk makan dalam perjalanan. Mereka pun dipakai  oleh Allah untuk memberikan tumpangan dan menjamu tim misi yang kelelahan dalam perjalanan.

    Dalam makna yang sederhana, hospitalitas adalah suatu kemurahan hati dalam menyambut tamu, pengunjung, maupun orang asing ke dalam rumah kita. Kemurahan hati juga merupakan salah satu buah Roh (Galatia 5:22). Hospitalitas berbicara tentang sebuah hubungan antara tamu dan tuan rumah. Di sini, hospitalitas mampu membuat orang merasa diterima  dan bisa menikmati persekutuan bersama dalam Tuhan Yesus. Dan, hospitalitas merupakan salah satu karakter Kristen.

                Kita mesti ingat, hospitalitas juga merupakan sebuah karunia  khusus, yang Allah berikan kepada semua orang percaya, termasuk Saudara dan saya (bndg. 1 Petrus 4:9-10). Bacaan Alkitab kita berbicara tentang dua hal dalam hospitalitas (keramah-tamahan). Pertama, kita harus  berbuat baik kepada semua orang, terutama kepada kawan-kawan kita seiman (Galatia 6:10). Kedua, kita harus  melakukan hospitalitas/keramahan (Roma 12:13). Allah juga memanggil kita (kamu  dan aku) untuk menunjukkan hospitalitas kepada setiap orang, terutama kepada saudara-saudara seiman. Allah memberkati kita semua. (Petrus E. Handoyo/pg).  

    ******

  • PILIH dan KEJARLAH yang TERBAIK

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Semoga kita senantiasa sehat dan dapat menikmati hidup. Saudara, Rasul Paulus menggambarkan bahwa perjalanan hidup kita bagaikan kita bertanding dalam satu gelanggang pertandingan. Maka kita jangan hanya mengejar hal-hal baik, bahkan yang lebih baik saja; namun kita harus mengejar hal-hal yang terbaik.

    Oswald Chambers (Penulis asal Skotlandia) berkata, “Musuh iman bukanlah dosa, melainkan hal yang baik yang bukan yang terbaik. Hal yang baik adalah musuh hal yang terbaik.”

    Saudara, hari ini kita akan belajar dari Injil Lukas 10:38-42. Perikop ini memberitahukan kepada kita tentang perjalanan dan pelayanan Tuhan Yesus bersama para murid-Nya dalam pemberitaan Injil-Nya.  Lukas menyampaikan beberapa hal penting, di antaranya: Tuhan Yesus diterima di rumah Marta; Marta sibuk melayani Tuhan; Maria duduk dekat kaki Tuhan; dan Maria telah memilih bagian yang terbaik. Mengingat halaman yang terbatas, kita akan fokus pada bagian yang terakhir saja.

    Ketika Tuhan Yesus mengajar, Maria duduk di dekat kaki Tuhan. Dengan hati yang tulus ia mendengarkan ajaran Tuhan. Dengan hati yang tulus ia terus mendengar setiap perkataan Tuhan,  “Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, …” (ayat 39).

    Maria lebih memilih duduk di dekat kaki Tuhan dan mendengarkan setiap ajaran-Nya. Mungkin Maria berpikir bahwa kesempatan tersebut merupakan kesempatan yang sangat luar biasa. Juga barangkali ia berpikir bahwa kesempatan seperti itu tidak akan terulang lagi. Karenanya, ia memanfaatkan kesempatan tersebut untuk duduk di dekat kaki Tuhan Yesus agar dapat mendengarkan ajaran-Nya dengan baik.

    Saudara, Maria memilih bagian yang terbaik, Coba kita simak baik-baik ayat 42, “… tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” Tuhan Yesus mengatakan bahwa Maria telah memilih bagian yang terbaik. Maria telah memilih untuk duduk di dekat kaki Yesus Kristus.  Ia lebih fokus dan mengutamakan mengambil bagian bersama-Nya. Ia telah memilih hal yang baik, lebih baik dan terbaik bersama dengan Tuhan Yesus. Ia siap untuk menerima perkataan-Nya dengan setulus hati dan segenap jiwa.

    Ingatlah! Dalam satu pertandingan hanya yang terbaik yang meraih kemenangan. Saudara, jika kita masih dipusingkan antara memilih yang baik dan yang buruk, maka kita akan kesulitan untuk naik ke jenjang berikutnya, yaitu memilih antara yang baik dengan yang terbaik. Kejarlah dan pilihlah yang terbaik bagi hidup kita, karena Tuhan menyediakannya untuk kita. Jangan berlama-lama membiarkan diri kita berkutat hanya di antara pilihan yang baik dan yang buruk saja. Pilih dan kejarlah yang terbaik. Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Merry Christmas. (pg)

  • JANGAN BERLUMUT dalam KEMALASAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Sehat-sehat dan tetap semangat. Saudara, jangan berharap kita bisa meraih keberhasilan di masa depan, jika hari ini rasa malas selalu kita hiraukan. Kita perlu menyadari bahwa malas adalah kemenangan di saat ini dan kekalahan di masa nanti.

    Mario Teguh (Motivator asal Indonesia) berkata, “Seorang yang berkelas tinggi, yang sangat cerdas dan berbakat untuk menjadi pribadi yang mengagumkan, tetapi yang membiarkan dirinya berlumut dalam kemalasan, akan menjadi seorang pengeluh dengan pikiran dan perasaan kelas rendah, dan bergaul dalam pertemanan yang tidak berkelas.”

    Saudara, dalam perumpamaan tentang talenta  (Matius 25:14-30), si tuan kecewa dengan hamba yang dipercaya menerima satu talenta karena ia tidak mengembangkannya, melainkan menyembunyikannya di dalam tanah.  “Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam? … Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.”  (Matius 25:26, 30). 

    Hamba yang malas harus menuai akibat kemalasannya itu.  Tuhan telah memberi kita talenta atau modal  dengan maksud supaya kita berkarya dan mengembangkan modal tersebut semaksimal mungkin, sebab pada saatnya akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.  Alkitab menyatakan bahwa orang yang malas disebut jahat, bahkan disebut sebagai perusak,  “Orang yang bermalas-malas dalam pekerjaannya sudah menjadi saudara dari si perusak.”  (Amsal 18:9)

    Tuhan telah memiliki rancangan hal-hal baik bagi setiap orang percaya, tapi Ia menghendaki adanya kerjasama. Ada bagian yang harus kita kerjakan untuk menggenapi rencana-Nya.  Namun karena kita malas dan tidak mau membayar harga, semua rancangan Tuhan atas kita menjadi berantakan. Hal tersebut terjadi bukan karena Tuhan tidak sanggup melaksanakan rencana-Nya, tetapi karena kita sendiri yang tidak mau taat, tidak mau melakukan yang menjadi bagian kita.

    Saudara, ketahuilah bahwa kemalasan hanya akan berdampak buruk:  merusak masa depan, impian dan harapan menjadi buyar, menghambat kemajuan  (stagnan)  dan cenderung mengalami kemunduran, menyebabkan penderitaan karena tidak ada kekayaan yang akan singgah di dalam rumah pemalas, sebab  “Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya.”  (Amsal 10:4).  Akhirnya para pemalas bisanya hanya mengeluh, bersungut-sungut, menjadi beban bagi orang lain, kecewa dan ujung-ujungnya berani menyalahkan Tuhan.

    Ingatlah! Andrie Wongso (Motivator asal Indonesia) berkata, “Kemalasan bukan penyakit keturunan, tapi kebiasaan. Maka buang sikap negatif itu, dengan mulai bergerak dan beraktivitas.” Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg)

  • Supaya KUASA KRISTUS turun MENAUNGI aku

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat, Sesungguhnya menyadari kekurangan diri, jauh lebih baik daripada membanggakan kelebihan yang kita miliki. Memang tak ada manusia yang sempurna!  Setiap  manusia pasti punya kekurangan, kelemahan dan keterbatasan, hanya masalahnya, tidak semua orang bersedia mengakuinya. 

    Saudara, hanya sedikit orang yang mempunyai kebesaran hati untuk mengakui kelemahannya dan berani berkata dengan jujur kepada Tuhan bahwa ia mempunyai banyak sekali kekurangan. Padahal kuasa Kristus menjadi nyata ketika kita bersedia mengakui kelemahan kita dihadapan-Nya.

    Memang, di mata dunia, menunjukkan sisi kekurangan, kelemahan atau keterbatasan adalah tindakan bodoh.  Tetapi dalam kehidupan rohani, saat kita mengakui betapa kita lemah, terbatas dan tak berdaya, sebagai bentuk penyerahan diri kepada Tuhan, saat itulah Tuhan akan menggerakkan tangan-Nya untuk turut campur tangan dan melimpahkan kekuatan kepada kita.  Karena itu Rasul Paulus bisa bersaksi,  “… aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.”  (2 Korintus 12:10). 

    Saudara, kadang Tuhan mengizinkan kita mengalami masalah, pencobaan, penderitaan, kesulitan, dan kegagalan, dengan tujuan supaya kita menyadari akan keterbatasan kekuatan kita, belajar untuk hidup mengandalkan Tuhan, dan tidak lagi menyombongkan diri.  Mari kita hayati pengakuan Rasul Paulus berikut,   “… supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.”  (2 Korintus 12:7).

    Rasul Paulus mampu menyikapi kelemahan dengan sudut pandang yang berbeda, ia tidak mengasihani diri sendiri,  “Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.”  (2 Korintus 12:9b).

    Ingatlah! Sesungguhnya dengan kelemahan yang ada kita dituntun untuk hidup bergantung kepada Tuhan! Watchman Nee (Pemimpin gereja asal Tiongkok) mengingatkan kita, Kita memang memiliki kelemahan, tetapi kita tidak akan menjadi kuat jika kita terus melihat kelemahan kita.” Sedangkan Gus Mus (Penulis asal Indonesia) memberikan tips supaya kita menjadi orang yang berhasil, “Dalam hidup ini gunakan dua cermin: satu untuk melihat kekuranganmu, dan satu lagi untuk melihat kelebihan orang lain.” Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg)