Category: Sejenak Merenung

  • MANUSIA: Makhluk Pekerja

    Sahabat, Tuhan menciptakan manusia dengan maksud dan tujuan mulia sehingga Ia menjadikan manusia menurut gambar dan rupa-Nya.  Ia menempatkan manusia pertama  (Adam) di tempat yang indah dan menyenangkan, di Taman Eden. 

     
    Kata Eden memiliki arti kesenangan.  Tuhan tidak menempatkan manusia pada tempat yang tandus atau mengerikan, tapi Dia menempatkan manusia di suatu tempat kesenangan.  Di taman itulah manusia memiliki hubungan yang sangat intim dengan Tuhan, dapat bersenda gurau, berbicara dan bersekutu dengan Tuhan.  Kehadiran Tuhanlah yang membuat Taman Eden itu menjadi tempat paling nyaman yang pernah ada di dunia ini.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “MANUSIA: Makhluk Pekerja”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 2:8-25. Sahabat, dalam bacaan kita pada hari ini, kita menemukan cerita penciptaan yang berbeda dari Kejadian 1. Di sini, manusia diciptakan pertama kali (Kejadian 2:7). Setelah itu, Tuhan menciptakan taman di Eden (ayat 8).

    Gambaran yang diberikan tentang Eden adalah taman yang indah dan subur (ayat 10-14). Di taman itulah manusia bekerja (ayat 15). Pekerjaan manusia adalah merawat taman dan memberi nama pada binatang. Melihat keberadaan manusia, Tuhan menciptakan perempuan sebagai mitra kerja dalam berkarya (ayat 20).

    Sahabat, ada cukup banyak orang yang menyebut Tuhan adalah Pekerja Agung (bdk. Yohanes 5:17). Karena Tuhan adalah Pekerja, maka Ia juga mengajak manusia untuk bekerja. Di Taman Eden, manusia pertama diberi kesempatan untuk bekerja mengusahakan dan memelihara taman itu (ayat 15). Apa yang dilakukan ini adalah pekerjaan terkait dengan pertanian. Selain itu, manusia juga bekerja di bidang peternakan, yang ditandai dengan pemberian nama kepada ciptaan Tuhan lainnya (ayat 19).

    Di tengah kesibukan kerja yang dilakukan, Tuhan menyadari bahwa manusia tidak bisa melakukan segala hal seorang diri. Karena itu, Ia memberikan seorang penolong yang sepadan (ayat 20). Penolong berarti mitra, bukan pembantu! Mitra menunjukkan pada status kesejajaran. Bahkan dalam Alkitab, kata “penolong” disematkan untuk Tuhan (Mazmur 46:1). Hal itu berarti laki-laki dan perempuan adalah makhluk yang setara dan saling melengkapi. Dengan kehadiran seorang penolong, kerja dan potensi manusia diharapkan menjadi optimal dalam mengusahakan, mengembangkan, dan memelihara ciptaan Tuhan.

    Sahabat, dalam iman Kristen, bekerja bukanlah akibat dosa dan sekadar pemenuhan kebutuhan hidup. Bekerja merupakan tindakan memuliakan Tuhan. Karena itu, seorang yang beriman dan hidup takut akan Allah akan bekerja dengan tekun, baik, jujur, dan bertanggung jawab. Semangat kerja semacam ini akan menghasilkan orang-orang yang mampu mendayagunakan potensinya secara optimal dan menghindari korupsi. Itulah etos kerja yang diharapkan Tuhan.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa pemahaman Sahabat tentang bekerja?
    2. Apa kaitannya antara penolong yang dijadikan Tuhan bagi Adam itu sepadan dengan Adam (ayat 18) dan penolong itu dibangun oleh Tuhan dari salah satu tulang rusuk Adam (ayat 21-22)?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan Yesus menolong dan memberkati. (pg).  

  • Kobarkan Api-Nya

    Syukur kepada Tuhan, hari ini, 3 Mei 2022, Yayasan Christopherus genap berusia 50 tahun. Untuk itu telah dibentuk Panitia Yubileum Christopherus dan Panitia telah menetapkan tema untuk Yubileum Christopherus: “Kobarkan Api-Nya” (Imamat 6:13 dan Roma 12:11).

    Sahabat, terima kasih untuk perhatian, dukungan, dan kebersamaannya selama ini.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Kobarkan Api-Nya”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Imamat 6:8-13 dengan penekanan pada ayat 13. Sahabat, dalam Perjanjian Lama, umat perlu mempersembahkan kurban sesuai perintah Allah. Selama seremoni pembakaran kurban, tiap kelompok punya tugas yang berbeda-beda. Tugas umat sebatas menyembelih, menguliti, dan memotong-motong binatang kurban. Selebihnya adalah tugas imam, yaitu meletakkan hewan kurban di mazbah. Peran ini penting, sehingga lewat Musa, Tuhan memberi perintah khusus kepada mereka (ayat 8).

    Sahabat, para imam wajib mempersembahkan kurban bakaran dua kali setiap hari, yaitu pagi dan petang. Kurban bakaran pada waktu petang harus tinggal di atas perapian semalam suntuk sampai pagi. Api di mazbah juga mesti dipelihara agar terus menyala (ayat 9). Keesokan harinya, imam akan mengangkat abu dari atas mazbah dan membuangnya ke tempat yang tahir (ayat 10-11). Saat pagi tiba, imam wajib membakar kurban lagi sebagai persembahan pagi.

    Perintah agar api mazbah harus terus menyala ditekankan sampai tiga kali (ayat 9, 12, 13). Dalam Keluaran 29:38-46 disebutkan bahwa kurban bakaran harus terus ada. Mengapa? Sebab pada momen itulah Tuhan akan bertemu umat-Nya.

    Sahabat, kita melihat bahwa kurban bakaran ternyata wajib selalu ada. Ini menegaskan kontinuitas ibadah. Ibadah tidak dilakukan hanya pada waktu tertentu. Ibadah justru harus berlangsung terus-menerus. Apinya mesti tetap berkobar dalam setiap detik kehidupan.

    Di dalam kehidupan  kita sebagai orang percaya hendaknya kita harus selalu ada api Tuhan! Minta Tuhan sentuh kehidupan kita dengan api kasih-Nya senantiasa dan biarlah api itu terus menyala-nyala.  Kobarkan Api-Nya.

    Sahabat, inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita di Hari Ulang Tahun ke-50 Yayasan Christopherus pada hari ini: Tuhan mau setiap kita menjaga agar api Tuhan terus tetap menyala dalam kehidupan kita. Sebagai gereja-Nya, hidup kita tidak boleh berkompromi dengan dunia, manusia roh kita harus senantiasa terjaga peka. Kepekaan ini hanya didapat lewat kehidupan yang intim dengan Tuhan. Sebagai imamat yang rajani kita memiliki tugas dan bertanggung jawab untuk tetap menjaga api Tuhan tetap menyala dalam hidup  kita. 

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaam kita pada hari ini, ada pertanyaan penting yang harus kita tanyakan kepada diri kita sendiri: Adakah senantiasa api di atas mazbah hati kita? Sebab jikalau tidak, kita hanya akan menjadi orang percaya yang biasa, dingin dan tidak peduli dengan apa yang Tuhan percayakan bagi gereja-Nya. Tidak ada kegairahan lagi untuk melakukan sesuatu bagi rencana yang Ia sudah siapkan bagi kita dan tidak ada semangat untuk bergaul  intim dengan-Nya. Karena itu jagalah agar api itu tetap menyala di mazbah hati kita. Mari kobarkan api-Nya dalam mazbah hati kita.

    Sahabat, maaf, ada satu pertanyaan lagi: Maukah Sahabat mendoakan dan mendukung pelayanan Yayasan Christopherus? Christ for all, all for Christ. (pg).

  • BERSYUKURLAH dan MEMUJILAH

    Sahabat, satu-satunya hal yang tetap sama, yang konstan di dunia ini adalah perubahan. Segala sesuatu pasti berubah. Musim berganti, orang-orang di sekitar kita menua, keinginan kita berubah. Jika demikian, apa yang dapat kita pegang di dunia yang selalu berubah ini?

    Penulis surat Ibrani menyatakan bahwa Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya (Ibrani 13:8). Dia selalu baik dan mengasihi kita dalam kuasa-Nya. Tidak peduli bagaimana dunia berubah, kita dapat percaya bahwa kasih Tuhan konsisten. Berbeda dengan hubungan antarmanusia yang tidak dapat dipungkiri kerap kali mengalami inkonsistensi.  Untuk itu bersyukurlah dan memujilah.

    Untuk dapat lebih memahami topik tentang: “BERSYUKURLAH dan MEMUJILAH”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 100:1-5 dengan penekanan pada ayat 4. Sahabat, Di dunia medis ada alat yang disebut Heart Rate Variability Monitor yang berfungsi untuk mengukur ritme/irama detak jantung seseorang.

    Idealnya irama atau ritme detak jatung dari detak satu ke detak yang lain itu teratur dan seimbang. Penelitian HeartMath Institute mengungkapkan bahwa ucapan syukur, penghargaan, pujian, belas kasihan, dan kemurahan hati  dapat menciptakan ritme detak jantung seseorang menjadi seimbang dan selaras.

    Hal tersebut menyebabkan seseorang merasakan kedamaian dan terhindar dari stres. Sebaliknya frustrasi, kemarahan, kepahitan, kebencian dan emosi-emosi beracun lainnya akan menyebabkan ketidaksinkronan irama jantung sehingga akan menyebabkan seseorang menderita kegelisahan dan stres.

    Sahabat, prinsip tersebut di atas secara ilmiah mengungkapkan bahwa seseorang yang bersyukur dan membiasakan memuji, dengan cepat akan berpindah dari frustrasi, depresi, khawatir, jengkel, marah atau benci kepada penghargaan dan kedamaian. Demikian pula mereka yang menanggapi segala sesuatu dengan syukur, penghargaan, pengampunan, sukacita, kasih dan belas kasihan menjadi orang yang sangat damai dalam hidupnya.

    Maka Pemazmur mengajarkan agar umat Tuhan senantiasa bersyukur dan memuji Tuhan, “Bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya.” (ayat 4).  Dalam tradisi Yahudi bersyukur dan memuji Allah adalah ciri kesalehan. Sementara itu Tuhan Yesus memusatkan tindakan dan ajaran-Nya pada kasih. Ia mengajarkan agar setiap orang mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi serta mengasihi sesama seperti diri sendiri.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan di bawah ini:

    1. Mengapa Pemazmur mengajak umat-Nya untuk beribadah dengan syukur? (ayat 2-3)
    2. Mengapa Pemazmur mengajak umat-Nya untuk bersyukur dan memuji Tuhan? (ayat 4-5)

    Selamat sejenak merenung. Ingatlah: Allah mendambakan kita bukan hanya sehat secara rohani tetapi juga secara jasmani, karena itu bersyukurlah dan memujilah. (pg).

  • ALLAH: PENCIPTA dalam Keteraturan

    Dengan sukacita mulai hari ini saya mengajak Sahabat untuk belajar menggali kitab Kejadian. Kitab tersebut menceritakan tentang penciptaan dunia, sejarah awal umat manusia, nenek moyang Israel dan asal usul orang-orang Yahudi. Di tradisi Yahudi dan kristiani, dikatakan bahwa Kitab Kejadian ditulis oleh Musa,

    Sahabat, kitab ini dapat dibagi menjadi dua bagian, yakni bagian “Sejarah Purba” (Bab 1–11) dan bagian “Sejarah Leluhur” (Bab 12–50). Pada bagian “Sejarah Purba” diceritakan bahwa Tuhan menciptakan dunia yang baik dan cocok untuk umat manusia. Sedangkan bagian “Sejarah Leluhur”  menceritakan tentang prasejarah Israel, umat   pilihan Tuhan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “ALLAH: PENCIPTA dalam Keteraturan”, Bacaan Sabda saya ambil dari kitab Kejadian1:1-2:7. Sahabat, hakikat kehidupan berawal dari Allah (ayat 1). Allah menciptakan alam semesta dalam keteraturan. Gambaran keteraturan diperlihatkan lewat urutan penciptaan. Diawali dengan penciptaan terang (ayat 3), cakrawala (ayat 6), daratan (ayat 9), tumbuh-tumbuhan (ayat 11), benda-benda langit (ayat 14), binatang air dan udara (ayat 20), serta binatang melata (ayat 24). Pada puncaknya, Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Allah (ayat 26).

    Sahabat, lewat kisah penciptaan, umat Israel belajar tentang Allah yang adalah asal muasal dari segalanya. Itu sebabnya, umat dipanggil hanya untuk menyembah kepada Allah. Umat juga disadarkan bahwa Allah yang mereka kenal adalah Allah yang teratur.

    Kekacauan yang merupakan keadaan semesta (ayat 1) diubah-Nya menjadi teratur. Dengan demikian, Allah yang umat sembah adalah Allah yang menyukai keteraturan. Umat memeragakan keteraturan lewat ibadah yang mereka jalani, baik ibadah harian maupun ibadah pada hari Sabat.

    Dalam rangka memelihara keteraturan itulah, Allah secara khusus menciptakan manusia. Kekhususan ditampakkan lewat adanya percakapan dengan istilah “Kita”, sebelum menciptakan manusia (ayat 26).

    Tugas manusia juga disebutkan secara khusus, yaitu memenuhi, menaklukkan, dan berkuasa atas bumi serta ciptaan lainnya (ayat 28). Tugas “berkuasa” bukanlah berarti bahwa manusia dapat sewenang-wenang memuaskan hasrat kerakusan dan keserakahannya. Lewat  tugas itu, manusia justru dipanggil untuk menjaga dan memelihara bumi dan ciptaan lainnya dalam kondisi baik, sebagaimana saat diciptakan (ayat 31). Sebutan “baik” menunjuk pada fungsi dan keindahan.  Artinya, tugas utama manusia adalah merawat ciptaan Tuhan agar tatanan tetap teratur dan indah.

    Tugas merawat bumi bukanlah tugas yang mudah. Manusia perlu mengelola diri agar dapat hidup dalam keteraturan. Di sini dibutuhkan kemampuan untuk mendisiplinkan diri. Misalnya berdoa dan membaca Alkitab setiap hari secara berkesinambungan. Hal itu memberikan dasar bagi kita untuk hidup bertanggung jawab.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, apa yang menjadi citra dirinya? Apa tujuan Allah menciptakan manusia dengan citra diri tersebut? (Ayat 26)
    2. Apa mandat Allah untuk manusia? (Ayat 28)

    Selamat sejenak merenung. Ingatlah: Menjadikan orang murid Kristus, menambah jemaat secara kualitas. (pg). 

  • Memahami SIAPA yang KITA SEMBAH

    Ketika kita hidup di hadapan Tuhan yang adalah Raja tentu respons “sujud menyembah” adalah hal yang sangat alami. Namun saat kita bersikap terhadap Tuhan semata-mata sebagai sosok yang bisa kita mintai pertolongan kapan pun atau sebagai petugas “telepon 24 jam seperti 911 di Amerika”, maka respons yang muncul saat beribadah pun akan berbeda. Sahabat, memahami siapa yang kita sembah, sangat kita butuhkan, supaya kita dapat merespons Tuhan dengan benar.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Memahami SIAPA yang KITA SEMBAH”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 99:1-9 dengan penekanan pada ayat 9. Sahabat, Memahami siapa yang kita sembah adalah hal penting. Itulah yang dirasakan Pemazmur dalam Mazmur 99. Pujian Pemazmur kepada Allah dilandasi oleh pengenalannya akan Tuhan.

    Pemazmur menyebutkan sifat-sifat Allah sebagai Raja. Allah itu kudus. Nama-Nya besar dan dahsyat. Ia adalah Raja yang kuat dan mencintai hukum. Ia menjawab seruan umat-Nya. Ia mengampuni dan membalas perbuatan umat-Nya (ayat 3-8).

    Semua sifat Allah yang sempurna mendorong Pemazmur untuk mengajak umat Israel dalam meninggikan nama-Nya dan sujud menyembah kepada-Nya. Pada akhirnya, semua seruan Pemazmur bermuara pada Allah sebagai Allah Yang Mahakudus. Sifat Allah yang kudus beberapa kali diulang oleh Pemazmur dalam mazmurnya.

    Sahabat, Mazmur 99 mengingatkan kita bahwa DIA juga adalah Allah yang “Mahabesar … mengatasi segala bangsa” (ayat 2), bukan Allah yang cuma mengatasi berbagai masalah pribadi dalam kehidupan kita. Seberapa sering sifat Allah yang disebutkan itu kita sadari dalam kehidupan sehari-hari? Seberapa sering kita berjuang untuk menyatakan kekudusan, kekuatan, kebenaran, dan keadilan Allah melalui hidup kita?

    Memang benar Allah itu pengampun, tetapi Allah tidak membiarkan perbuatan salah kita berlalu begitu saja. DIA mencintai hukum. DIA menegakkan kebenaran. DIA lah sang Raja. Kesadaran bahwa Tuhan adalah Raja yang berdaulat dan pemilik hidup kita seharusnya membawa ketaatan dengan kepastian dan jaminan penuh dari Allah sendiri. tanpa syarat bagi kita. Apalagi di dalam Kristus, Sang Raja yang sudah menang itu, kita dipelihara

    Dengan menyadari itu maka kita akan meninggikan TUHAN dengan sujud menyembah-Nya di dalam setiap kehidupan kita. Menyembah-Nya di dalam setiap ibadah-ibadah harian kita menunjukkan bahwa kita sangat meninggikan TUHAN. Ibadah menjadi sarana kita meninggikan dan memuliakan-Nya. Tentu selain ibadah, kita juga harus meninggikan TUHAN melalui pola sikap dan laku kita di hadapan manusia dan terlebih di hadapan-Nya. Tingkah laku kita menjadi seperti TUHAN dengan mengasihi dan berbuat baik bagi semua orang. Karena itu, tinggikanlah TUHAN di setiap kehidupan kita. 

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami tentang sesungguhnya siapa  Tuhanmu?
    2. Bagaimana Sahabat bersikap dan mengekspresikan memuji dan memuliakan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan Yesus menolong dan memberkati. (pg)

  • WARISAN KETAATAN

    Sesungguhnya warisan tidak hanya selalu berupa harta benda. Sebagai orang percaya, warisan terbesar yang dapat diwariskan kepada anak dan cucu bukanlah uang atau materi, melainkan iman dan karakter.

    Ilmu dan penghargaan juga bisa dijadikan warisan yang abadi. Tak jarang penghargaan seseorang akan menjadi motivasi bagi generasi setelahnya untuk melampauinya. Sementara ilmu akan terus menerus turun hingga menjadi warisan abadi.

    Warisan merupakan bagian sejarah atau peninggalan yang dititipkan untuk generasi setelahnya. Sebuah warisan bisa memberikan kontribusi berharga di masa depan. Lalu warisan apa yang ingin kita tinggalkan? Mari kita meninggalkan warisan ketaatan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “WARISAN KETAATAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Bilangan 36:1-13 dengan penekanan pada ayat 9. Sahabat, pasal penutup kitab Bilangan ini merupakan babak kedua kisah putri-putri Zelafehad (Bilangan 27:1-10). Milik pusaka mereka dipertanyakan oleh para pemimpin suku, bila perempuan-perempuan itu menikah dengan pria berlainan suku (ayat 1-4). Hal itu dapat mengacaukan kepemilikan warisan tersebut.

    Menurut Allah, putri-putri Zelafehad harus menikah dengan orang-orang sesuku agar harta warisan mereka tidak beralih ke tangan suku lain, sebab hal itu memang tidak diperbolehkan (ayat 5-9). Bagaimana respons putri-putri Zelafehad? Mereka patuh. Mereka taat menikah dengan laki-laki dari kaum-kaum bani Manasye sehingga milik pusaka mereka tetap berada di tangan suku kaum ayah mereka sendiri (ayat 10-12).
     

    Kitab Bilangan yang dimulai dengan kisah di padang gurun Sinai (Bilangan 1:1), kemudian berakhir di tepi sungai Yordan dekat Yerikho (ayat 13). Allah telah memimpin bangsa Israel dalam perjalanan di padang belantara selama kurang lebih empat puluh tahun. Meski sedemikian lama mereka bergerak di padang belantara, tidak banyak kemajuan yang mereka buat karena sungut-sungut dan berbagai pemberontakan.

    Maka kita melihat bahwa kitab Bilangan banyak berisi contoh-contoh negatif tentang ketiadaan iman dan ketaatan. Konsekuensinya, Allah menunda pencurahan berkat-Nya. Bahkan banyak dari antara umat, yang kemudian tidak dapat menikmati keindahan berkat-berkat Allah tersebut. Satu generasi yang tidak beriman harus mati sebelum memasuki Tanah Perjanjian.

    Syukur, pada hari ini kita sampai pada pasal terakhir dari kitab Bilangan.  Kitab Bilangan ditutup dengan contoh positif dari putri-putri Zelafehad, teladan yang patut diikuti oleh segenap bangsanya. Dengan ketaatan semacam itu, kitab Bilangan menjadi pelajaran tentang pentingnya iman dan ketaatan kepada Allah. Iman, yaitu mau mencari Allah dan mengutamakan kehendak Allah dalam setiap permasalahan hidup, akan membuat umat menemukan jalan keluar yang membawa kebaikan dan damai sejahtera bagi semua pihak.

    Sahabat, bagaimana kisah perjalanan hidup kita? Kisah apa yang menandainya? Ketaatan atau pemberontakan? Kiranya Tuhan menolong kita sehingga kita mampu mewariskan iman dan ketaatan.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah, warisan apa yang ingin Sahabat tinggalkan bagi anak-anak dan cucu-cucumu serta generasi mendatang ? Selamat sejenak merenung. Tuhan Yesus menolong dan memberkati. (pg)

  • TUHAN SANG PENOLONG

    Sahabat, dalam tradisi masyarakat kuno,  lazim bahwa seorang pahlawan didewa-dewakan dan dipuja-puja. Semua rakyat harus datang kepadanya dan berlindung di bawah naungannya. Ia dijadikan sebagai pelindung dan kubu pertahanan. Hal tersebut terlihat saat Daud berhasil mengalahkan bangsa Filistin. Ketika Daud masuk kota ia disambut dengan tari-tarian,  diagung-agungkan dan dipuja-puja. 

    Dalam Zaman Now tradisi seperti tersebut di atas masih berlaku. Orang-orang masih menjadikan pembesar-pembesar sebagai tumpuan utama. Di saat ini hal dewa-mendewakan seseorang bisa saja masih terjadi. Bisa terhadap para pemimpin atau pahlawan. Bisa pula kepada mereka yang kaya raya  atau kepada mereka yang dianggap sakti, memiliki  kekuatan magis. 

    Sahabat, kita sebagai komunitas orang percaya hendaklah memberlakukan bahwa hanya Tuhan yang patut dipuja dan diagungkan. Jangan mendewakan manusia melainkan puji dan sembahlah Tuhan sebab hanya Dialah penolong sejati. Hanya Tuhan yang dapat menjadi penolong yang tak terbatas. Ingatlah selalu:  Tuhan Sang Penolong.

    Untuk dapat lebih memahami topik tentang: “TUHAN SANG PENOLONG”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 98:1-9. Sahabat, Pemazmur  percaya bahwa tiada illah mana pun yang lebih besar daripada Tuhan Israel. Ia telah membebaskan umat-Nya dari pembuangan di Babel, menyatukan kaum sisa yang tercerai-berai, dan membawa mereka kembali ke Tanah Perjanjian.

    Itu sebabnya Pemazmur mengundang bangsanya menaikkan nyanyian baru kepada Tuhan mereka (ayat 1, 4-5). Dengan keperkasaan-Nya, Ia membawa umat-Nya membangun negeri mereka dan sekaligus Ia mencurahkan murka-Nya atas bangsa-bangsa yang bergembira di atas penderitaan Israel (ayat 2).

    Penghukuman Tuhan terhadap bangsa-bangsa menggambarkan Tuhan tidak lupa akan ikatan perjanjian-Nya dengan leluhur mereka. Tuhan memulihkan nama baik dan derajat bangsa Israel di antara bangsa-bangsa dunia (ayat 3). Karena itu, Pemazmur mengajak orang-orang Israel meniup sangkakala bagi Tuhan Israel yang adalah Raja di atas segala raja (ayat 6).

    Luapan sukacita yang tidak terlukiskan dengan kata-kata membuat Pemazmur mengajak alam ikut bergembira bersamanya (ayat 7-8). Sebab mereka memiliki Tuhan yang tidak melupakan umat-Nya. Dengan keadilan dan kebenaran, Ia bukan hanya membuat dunia menderita tetapi juga membawa keselamatan bagi bangsa-bangsa (ayat 9). Hal itu dilakukan Tuhan agar mereka mengetahui bahwa Dialah Tuhan Pencipta langit dan bumi (bdk. Yesaya  45:5-8).

    Sahabat, seberapa besar pun masalah yang sedang kita hadapi, kita harus percaya bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang Mahakuasa, yang sanggup menolong dan memulihkan kita, karena tidak ada yang terlalu sukar bagi-Nya.  Tuhan dapat menciptakan dan menyediakan segala sesuatu yang kita butuhkan dalam hidup ini, karena itu bergantunglah penuh pada Tuhan Sang Penolong.


    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Mengapa Pemazmur mengajak bangsa Israel untuk memuji, bermazmur, dan mengagungkan Tuhan? (Ayat 1-3)
    2. Saya yakin Sahabat sudah banyak menikmati kebaikan dan pertolongan Tuhan, lalu apa yang menjadi responsmu?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan Yesus menolong dan memberkati kita. (pg)

  • TEMPAT PERLINDUNGAN

    Si Boen, teman sepelayanan di kala muda, sore itu dia bercerita tentang masa kecilnya. Ia mengenang  kejadian saat ia harus lari sementara dari rumah setiap kali melakukan kesalahan yang membuatnya harus dihukum. Karena takut, ia kemudian akan mengungsi sejenak ke rumah Engkongnya (Kakeknya) yang tak jauh dari rumahnya. Ia tahu bahwa di tempat tersebut ia akan aman untuk sementara sampai kemarahan orangtuanya mereda dan ia dipanggil pulang ke rumah. Rumah Engkongnya menjadi tempat perlindungan.

    Bagi penduduk Israel tersedia Kota-kota Perlindungan. Kota-kota perlindungan sejatinya adalah kurang lebih enam kota yang dikhususkan di dalam negeri yang telah diberikan oleh Allah bagi bangsa Israel. Kota-kota tersebut  merupakan tempat pelarian bagi mereka yang butuh tempat bersembunyi untuk sementara, saat nyawa mereka sedang dalam bahaya. Kota-kota tersebut menjadi tempat perlindungan yang aman.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “TEMPAT PERLINDUNGAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Bilangan 35:9-34. Sahabat, untuk penduduk Israel, akan disediakan kota-kota perlindungan bagi orang-orang yang secara tidak sengaja menyebabkan terbunuhnya orang lain. Di tempat-tempat tersebut mereka beroleh jaminan keselamatan (ayat 11-15).

    Namun tidak dapat dipungkiri, sebuah kejahatan telah terjadi walaupun secara tidak sengaja. Itu berarti tetap ada konsekuensi yang harus ditanggung. Pertumpahan darah harus ditebus dengan pertumpahan darah pula. Dalam hal ini, Imam Besar menyimbolkan  menjadi penanggung dan penebus kesalahan orang-orang yang bersalah. Kematian Imam Besar menebus kesalahan para pembunuh tak sengaja tersebut sehingga sesudah Imam Besar mangkat, mereka bebas kembali beraktivitas dan keluar dari status tahanan kota.

    Kita pun acap melakukan kesalahan yang tak dapat kita selesaikan sendiri. Kita bersyukur bahwa kita dapat mengandalkan kemujaraban darah Kristus yang tercurah di atas salib untuk menebus dosa-dosa kita, sehingga dengan memohon ampun kepada-Nya, dosa kita dibereskan dengan tuntas.

    Darah Kristus memutuskan ketegangan yang terjadi antara pelanggaran yang telah terjadi dan harus dihukum di satu sisi, dengan kemurahan dan belas kasih Allah di sisi lain. Banyak orang hidup dalam kecemasan besar, karena belum mengetahui kota perlindungan yang Tuhan sediakan ini. Kita yang sudah ditebus Tuhan dan hidup dalam kebebasan penuh, bersediakah kita menunjukkan jalannya kepada mereka?

    Sahabat, jika kota-kota perlindungan dapat menjadi tempat yang aman di masa lalu, di masa kini kota-kota perlindungan tersebut menjadi nyata dalam pribadi Kristus yang senantiasa menerima kita yang butuh perlindungan akan hal apapun. Kita hanya perlu berlari kepada-Nya, memohon penyertaan-Nya dan diam dengan aman di dalam-Nya. Sungguh hingga kini tak ada yang sebaik Tuhan kita dalam melindungi milik kepunyaan-Nya.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang menjadi “Kota Perlindungan” bagimu saat ini?
    2. Kita sudah ditebus dan sudah dibebaskan oleh Tuhan Yesus, lalu apa yang menjadi kewajiban kita saat ini?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan Yesus menolong dan memberkati. (pg)

  • Dipanggil Menjadi TERANG

    Cahaya dan kegelapan menginspirasi kita bahwa hidup memiliki sisi yang berbeda. Cahaya dan kegelapan merupakan dua sisi yang tak bisa dipisahkan. Siang hari, langit terlihat terang karena cahaya matahari. Namun, ketika malam datang, perlahan menjadi gelap dan kita bisa melihat bulan dan bintang-bintang di langit.

    Sesungguhnya cahaya merupakan rahmat dari Tuhan untuk kita semua. Tanpa cahaya, siang dan malam hanyalah hitam tanpa keindahan. Tanpa cahaya, mata pun tak dapat melihat apa-apa. Dengan cahaya itulah kita bisa melihat keindahan dari pagi hingga malam.

    Sahabat, kita sebagai orang percaya dipanggil menjadi terang dunia. Lebih khusus lagi kita dipanbggil untuk menjadi terang bagi mereka,  para pembuat kejahatan dan penyembah barhala.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Dipanggil Menjadi TERANG”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 97:1-12. Sahabat, Pemazmur mengajak alam semesta dan orang-orang benar bergembira dan menaikkan pujian syukur kepada Allah.  Allah yang diimaninya adalah Raja Agung (ayat 1 dan  12). Ia menciptakan alam semesta dan berkuasa atas ciptaan-Nya. Dunia tidak dikuasai oleh kejahatan, melainkan di bawah kendali dan kekuasaan Allah Israel (ayat 9).

    Kehadiran-Nya dilukiskan seperti awan dan kekelaman (ayat 2a; bdk. Keluaran 19:16, 18, 20; Ulangan  5:22). Kata “awan” memiliki sisi terang dan gelap. Kata “kekelaman” lebih dipahami dalam artian awan tebal dan gelap berawan. Pada dasarnya, keduanya menyimbolkan fenomena kehadiran Ilahi.

    Allah itu bukan hanya mahakuasa, tetapi juga adil dan benar dalam segala keputusan-Nya (ayat 2b). Dengan keadilan dan kebenaran-Nya, Ia menghakimi perbuatan manusia (ayat 6 dan 8). Keadilan Allah diibaratkan seperti api yang menghanguskan (ayat 3). Kebenaran-Nya seperti kilat yang membuat alam semesta menggigil dan menciut (ayat 4-5). Di sini, kilat dan api menandakan murka Allah. Dengan murka-Nya, Ia menghukum bangsa-bangsa yang beribadah kepada allah palsu (ayat 7). Karena itu, Pemazmur mengajak seluruh umat Allah menjauhi perbuatan tercela serta hidup dalam kekudusan dan kemurnian di hadapan-Nya (ayat 10-11).

    Sahabat, Pemazmur ingin sejelas mungkin mengungkapkan keagungan Tuhan sebagai Raja. Selain mengungkapkan kemahakuasaan Tuhan, Pemazmur juga menyatakan hukuman Tuhan atas para penyembah berhala. Umat Tuhan bersukacita karena para penyembah berhala akan mendapat malu.

    Pemazmur juga mengajak semua orang benar untuk bersukacita karena mereka akan mengalahkan kejahatan. Mereka juga pantas bersukacita dan memuji Tuhan karena Tuhanlah yang melakukan semua itu bagi mereka.

    Berbagai bentuk “berhala” masih tetap menjadi persoalan di Zaman Now. Begitu juga berbagai macam kejahatan. Itu semua sering membuat orang-orang yang tetap berjalan dalam kebenaran menjadi ragu-ragu. Juga bisa membuat orang percaya menjadi bimbang.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Mazmur ini dimulai dengan serangkaian pengakuan iman. Sifat Tuhan yang manakah yang ditekankan dalam bagian ini? (Ayat 1-6)
    2. Bagian ini mengungkapkan sukacita umat israel (ayat 8, disebut dengan Sion) Apa yang membuat umat Tuhan bersukacita? (Ayat 7-9)
    3. Bagian ini mengungkapkan bahwa sukacita itu tidak hanya dirasakan oleh umat israel, namun juga meluas pada setiap orang. Siapakah yang disebut sebagai orang yang akan bersukacita di bagian ini? (Ayat 10-12)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan Yesus menolong dan memberkati. (pg)

  • BERKAT TUHAN: Mengandung Ketertiban Hidup

    Sahabat, sepengetahuan saya, bila kita mau membeli tanah, maka ada dua hal penting yang perlu kita perhatikan yaitu status tanah dan batas tanah. Apakah status tanah yang akan kita beli itu sedang dalam sengketa atau tidak.

    Selanjutnya perlu kita teliti adalah status kepemilikan tanah. Ada beberapa jenis status kepemilikan tanah: Sertifikat Hak Milik (SHM);  Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB); Sertifikat Hak Guna Usaha (SHGU); Sertifikat Hak Pakai (SHP); Sertifikat Hak Atas Satuan Rumah Susun (SHASRS);  dan Tanah Girik.  

    Sedangkan untuk mengetahui batas tanah, maka perlu diadakan pengukuran dan pemetaan tanah yang biasanya dilakukan oleh pihak Agraria.

    Sahabat, sebelum memasuki tanah perjanjian,  status tanah bagi bangsa Israel masih berupa janji Tuhan, namun Tuhan menghendaki agar batas tanah sudah mulai dibagi lebih dulu, agar tidak timbul masalah di kemudian hari. Bagi saya itu berarti bahwa berkat dan anugerah Tuhan mengandung ketertiban hidup.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “BERKAT TUHAN: Mengandung Ketertiban Hidup”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Bilangan 34:1-29. Sahabat, Sebelum bangsa Israel memasuki tanah perjanjian, Tuhan menyatakan dengan jelas melalui Musa batasan-batasan tanah perjanjian itu (ayat 1). Selain batasan dengan bangsa asing, Tuhan juga menetapkan batasan di antara umat Tuhan sendiri (ayat 13).

    Tuhan menuntun umat-Nya keluar dari Mesir untuk menggenapi perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub. Tuhan tidak melupakan perjanjian-Nya. Tetapi dalam kemurahan-Nya, Ia juga menetapkan batasan-batasan baik dengan bangsa lain maupun di antara mereka. Berkat dan anugerah Tuhan mengandung ketertiban hidup.

    Sahabat, bangsa Israel diberi tanah perjanjian dengan batasan yang jelas. Jadi, sejak awal mereka tidak diperintahkan untuk merebut daerah itu sesuai keinginan hati mereka. Allah mengkhususkan tanah perjanjian yang ditetapkan-Nya bagi bangsa Israel sebagai umat kepunyaan-Nya sesuai dengan kedaulatan-Nya. Bangsa Israel menerima tanah perjanjian dengan batasan-batasan yang sangat jelas.

    Jadi, anugerah dan berkat Tuhan tidak berdasarkan pada keinginan manusia, tetapi berdasarkan pada kehendak dan kedaulatan Tuhan. Umat Tuhan hanya menerima setiap batasan yang telah ditetapkan-Nya. Berkat dan anugerah tidak diberikan sesuai keinginan manusia yang tanpa batasan.

    Lalu, bagaimana sikap kita pada saat memohon berkat Tuhan? Bagaimana juga sikap kita pada saat menerima berkat Tuhan? Kita seharusnya bersedia menerima batasan-batasan yang telah Tuhan tetapkan, yaitu batasan sebagai manusia, baik secara individu maupun sosial. Dengan batasan itu, manusia memiliki ketertiban hidup. Orang lain pun sebenarnya memperoleh berkat-Nya. Orang yang makin diberkati Tuhan adalah orang yang hidup tertib dan menghormati hak-hak orang lain. Mari kita belajar menerima batasan yang ada di dalam diri kita. 

    Sahabat, berdasarkan hasil perenungan dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Bagaimanakah cara untuk membagi tanah bagi semua suku bangsa Israel? (ayat 13 dan Bilangan 33:54)
    2. Siapa saja yang dipilih Tuhan untuk melaksanakan pembagian tanah di tanah perjanjian? (Ayat 17-18)
    3. Mengapa Tuhan memerintahkan bahwa tanah perjanjian dibagikan hanya kepada 9,5 suku saja? (Ayat 13-15).
    4. Apakah berkat Tuhan didasarkan pada kita yang meminta atau pada Tuhan yang memberi?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan Yesus menolong dan memberkati. (pg)