Category: Sejenak Merenung

  • Henokh DIANGKAT oleh Allah

    Sahabat, pernahkah kita menyadari mengapa kitab Perjanjian Baru (Injil Matius), dimulai dengan silsilah Tuhan Yesus? Mengapa Perjanjian Baru tidak dimulai dengan kitab Yohanes misalnya, sehingga Perjanjian Baru diawali dengan kata-kata “Pada mulanya adalah Firman” (Yohanes 1:1)?

    Bangsa Yahudi setelah pembuangan ke Babel sangat menjaga sekali “darah biru” mereka. Mereka mencatat siapa ayah mereka, siapa kakek mereka, dan begitu seterusnya hingga dapat ditelusuri ke anak-anak Yakub. Silsilah mereka sangat penting karena mereka harus tahu apakah mereka benar-benar keturunan Yakub atau tidak. Itulah mengapa Matius saat menulis kitab Injil yang terutama ditujukan kepada bangsa Yahudi sendiri, memulai tulisannya dengan silsilah Yesus Kristus.

    Dalam silsilah Adam, Musa menulis satu catatan yang menarik dan penting untuk kita ketahui dan hayati: “… Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah.” (kejadian 5:24)

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Henokh DIANGKAT oleh Allah”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 5:1-32 dengan penekanan pada ayat 24. Sahabat, silsilah keturunan Adam dituturkan secara lengkap dengan usianya. Silsilah ini dimulai dari Adam, tanpa Kain dan Habel, langsung meloncat pada Set (ayat 3). Silsilah disebutkan sampai dengan Nuh dan ketiga anaknya (ayat 32).

    Dari daftar silsilah yang ada, Metusalah adalah orang yang berusia paling tua, yaitu 965 tahun (ayat 27). Sedangkan yang paling muda adalah Henokh yakni 365 tahun (ayat 23). Menariknya adalah ada keterangan tambahan yang menyatakan bahwa Henokh tidak mati, melainkan diangkat oleh Allah (ayat 24).

    Dalam silsilah Adam ada hal yang menarik terkait dengan istilah gambar dan rupa Allah. Istilah tersebut hanya dikenakan kepada Adam. Sedangkan keturunan Adam disebut dengan gambar dan rupanya, yang merujuk kepada figur Adam. Pembedaan ini tidak membuat keturunan Adam menjadi tidak istimewa. Alkitab mencatat bahwa apa yang terjadi pada Henokh sungguh peristiwa istimewa. Keistimewaan Henokh karena ia tidak mati, melainkan diangkat oleh Allah.

    Dalam Alkitab, kematian kerap dianggap sebagai peristiwa negatif. Sebab kematian adalah hukuman Allah bagi Adam dan Hawa (Kejadian  2:17). Lain halnya dengan Henokh yang tidak mengalami kematian sehingga ia menjadi pribadi yang sangat istimewa dari silsilah keturunan Daud. Kunci keistimewaan Henokh terletak pada hidupnya yang bergaul dengan Allah di sepanjang usianya (ayat  22 dan 24).

    Sahabat, sebutan bergaul dengan Allah memperlihatkan kedekatan Henokh dengan Allah. Tidak disebutkan apakah orang lain yang ada dalam silsilah tersebut kurang berhubungan dekat dengan Allah. Tidak pula dinyatakan bagaimana caranya Henokh hidup bergaul dengan Allah. Yang pasti ada relasi istimewa antara Allah dan Henokh.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Menurut pemahamanmu, bagaimana caranya supaya kita mempunyai relasi yang istimewa dengan Allah? (Mazmur 25:14)
    2. Bagaimana caranya agar kita dapat menjadi pribadi yang istimewa di mata Tuhan? (Ayat 22 dan 24).

    Selamat sejenak merenung. Tuhan Yesus menolong dan memberkati. (pg).

  • BEDA darI YANG LAIN

    Sahabat,  ada cukup banyak orang percaya yang tidak suka dan  merasa alergi  jika membaca renungan tentang ketaatan, karena yang ada di pikirannya,  ketaatan selalu identik dengan larangan-larangan:  Tidak boleh ini,  tidak boleh itu, sesuatu yang tidak boleh dilanggar, yang jika dilanggar ada sanksinya.

    Karena itu tidaklah mengherankan jika kita lebih suka membaca renungan tentang berkat, keberhasilan, kemenangan, pemulihan, kesembuhan, mukjizat dan sebagainya.  Sebenarnya yang harus kita sadari,   bahwa berkat, keberhasilan, kemenangan, pemulihan, kesembuhan, mukjizat adalah dampak atau upah dari ketaatan seseorang dalam melakukan firman Tuhan.

    Sahabat, kehidupan pada zaman Nuh tidak jauh beda dengan kehidupan kita di akhir zaman ini: Moral manusia sangat merosot, kejahatan merajalela di mana-mana, sampai disebutkan bahwa Tuhan sangat marah melihat dosa manusia saat itu. Namun, hal tersebut  tidak berlaku bagi Nuh. Dia tetap mampu menjaga kesucian hidupnya di tengah-tengah kehidupan manusia yang menyimpang dari jalan-jalan Allah. Nuh membuat pilihan hidup yaitu hidup TAAT, Dia berani tampil beda dari yang lain.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “BEDA dari YANG LAIN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 6:9-22. Sahabat, secara khusus riwayat Nuh diceritakan dengan agak rinci. Nuh disebutkan sebagai pribadi yang taat kepada Tuhan (ayat 9). Ia memiliki tiga orang anak, yaitu: Sem, Ham, dan Yafet (ayat 10). Kepadanya Tuhan memerintahkan agar Nuh membuat bahtera yang besar dan bertingkat (ayat 15). Itu sebabnya kapal itu harus menggunakan kayu yang kuat (ayat 14). Tuhan juga memerintahkan agar Nuh, istri, anak-anaknya, dan segala makhluk hidup lainnya diambil berpasang-pasangan untuk masuk ke dalam bahtera.

    Allah telah membuat keputusan untuk mengakhiri kekerasan dan kejahatan di bumi. Hanya saja tidak semuanya akan dibinasakan. Nuh dan keluarganya merupakan salah satunya. Nuh, seorang yang benar dan tidak bercela, justru menjadi jalan untuk menyelamatkan makhluk hidup lainnya. Kesalehan Nuh terlihat dalam kehidupan ibadah maupun sosialnya. Kemampuan yang luar biasa itu, seperti juga pada diri Henokh, terletak pada kehidupan Nuh yang bergaul dengan Allah (ayat 9). Hal itu terlihat ketika Nuh diminta oleh Tuhan membuat bahtera besar. Nuh menaati dan melakukan segala sesuatu yang diperintahkan oleh Tuhan (ayat 22).

    Sahabat, ketaatan adalah harga mati bagi seseorang yang  ingin menikmati penggenapan janji Tuhan!  Ketaatan bukanlah sebatas larangan untuk melakukan sesuatu atau keharusan melakukan sesuatu, tetapi merupakan keseluruhan gaya hidup yang harus dimiliki setiap orang percaya.  Ketika ketaatan sudah menjadi gaya hidup dalam diri seseorang, maka melakukan firman Tuhan bukan lagi menjadi suatu beban atau hal yang memberatkan, melainkan menjadi sebuah kesukaan.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang menjadi kunci, Nuh begitu istimewa di mata Tuhan? (Ayat 9)
    2. Bagaimana keadaan dunia pada Zaman Nuh? (Ayat 11 dan 12).

    Selamat sejenak merenung. Ingatlah: Karena ketaatannya, Nuh dan keluarganya diluputkan dari bencana air bah! (pg)

  • SAAT Tuhan MENGGENAPI Janji-Nya

    Sahabat, sudah menjadi rahasia umum bahwa menunggu adalah pekerjaan yang sangat membosankan.   Hal itu juga terjadi dalam kehidupan doa dan menanti penggenapan janji Tuhan! 

    Pada saat kita menanti datangnya jawaban doa dari Tuhan seringkali kita tidak sabar, menyerah di tengah jalan dan berhenti berharap, karena mata jasmani kita belum melihat secara nyata jawaban doa tersebut.  Padahal sesungguhnya Tuhan telah mempersiapkan berkat yang kita perlukan, hanya waktunya belum tiba, sebab Tuhan lebih tahu kapan waktu yang terbaik untuk menjawab doa-doa kita.  Dia sangat tahu dengan pasti: Kapan saatnya Tuhan menggenapi janji-Nya atas kita.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “SAAT Tuhan MENGGENAPI Janji-Nya” , Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 105:16-22 dengan penekanan pada ayat 19. Sahabat, dalam Mazmur 105, Pemazmur mengingat masa-masa awal umat Allah dibentuk. Pada masa itu, jumlah umat Allah  tidak banyak, dengan status sebagai orang asing di negeri orang dan hidup mengembara (ayat 12-13).

    Berawal dari Tuhan memanggil Abraham keluar dari negerinya dan pergi menuju Tanah Perjanjian. Meski dengan jumlah yang tidak banyak, Abraham tetap melangkah bersama Tuhan. Dalam pengembaraan itu, mereka menjadi orang asing, namun Tuhan tidak meninggalkan umat yang baru dibentuk-Nya (ayat 14-15). Raja-raja yang jahat kepada umat mengalami penghukuman Allah (ayat 14).

    Dengan berjalannya waktu, umat Allah bertambah banyak dan hidup makmur di Tanah Kanaan. Bencana kelaparan menimpa negeri itu dan Yusuf pun dijual sebagai budak (ayat 16-17). Yusuf hidup dalam perbudakan dan kesusahan di negeri asing (ayat 18). Sekali lagi, Pemazmur melihat semua peristiwa itu dari perspektif positif.

    Sahabat, dijualnya Yusuf menjadi budak dipandang sebagai cara Tuhan mengutusnya agar dapat menyelamatkan keluarga dan bangsanya (ayat 17). Bencana dan segala kesusahan yang menimpa mereka hanya bersifat sementara, sampai Tuhan menggenapi janji-Nya (ayat 19) dan membuktikan pemeliharaan-Nya atas umat yang dikasihi-Nya (ayat 20-22). 

    Ketika bangsa Israel dilanda kelaparan yang dahsyat, Tuhan menyelamatkan umat-Nya ini dengan cara-Nya yang di luar nalar, tak dapat dimengerti dan tak terjangkau oleh jalan pemikiran manusia.  Yusuf, yang pada waktu itu masih berusia belia yaitu sekitar 17 tahun, diutus Tuhan untuk ke Mesir demi penyelamatan bangsa dan juga sanak saudaranya.  Untuk sampai ke Mesir Yusuf harus melewati perjalanan hidup yang penuh liku dan derita. 

    Sahabat, pada waktu Tuhan tiba, Yusuf  mengurus tanah Mesir sehingga negeri itu makmur dan berlimpah bahan makanan  (Kejadian 41:46-49).  Dengan demikian bangsanya, orangtua serta sanak-saudaranya datang ke Mesir dan diselamatkan dari bencana kelaparan.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Ketika kita menanti-nanti pertolongan Tuhan, apa yang perlu kita lakukan dan apa yang perlu kita miliki?
    2. Apa yang perlu menjadi keyakinan kita dalam menantikan pertolongan Tuhan?

    Selamat sejenak merenung. Terus jaga harapan, sekecil apa pun. Mukjizat dapat terjadi setiap saat.  (pg)

  • TANGGAPAN atas KENYATAAN HIDUP

    Sahabat, ketika saya masih menjadi guru Sekolah Minggu di GKMI Semarang sering saya cerita pada anak-anak tentang: “Persembahan Kain dan Habel”. Saat itu saya bercerita bahwa Habel mempersembahankan kambing domba yang tambun dan tidak bercacat cela, sedangkan Kain mempersembahkan hasil pertanian yang kurang layak. Maka persembahan Habel diterima oleh Tuhan, sedangkan persembahan Kain ditolak oleh Tuhan.

    Menanggapi hal tersebut hati Kain menjadi panas dan mukanya menjadi muram. Pada akhirnya Kain membunuh Habel, adik kandungnya sendiri. Kain menanggapi respons Tuhan atas persembahannya dengan penuh kemarahan. Bagaimana tanggapan kita atas kenyataan hidup yang harus kita hadapi?

    Untuk lebih memahami topik tentang: “TANGGAPAN atas KENYATAAN HIDUP”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 4:1-16 dengan nas dari Ibrani 11:4.  Sahabat, Adam dan Hawa dianugerahi dua orang anak, yaitu Kain yang menjadi petani dan Habel yang menjadi peternak (ayat 2).

    Keduanya memberikan persembahan dari hasil kerja mereka (ayat 3-4). Tanpa disebutkan alasannya, persembahan Habel diterima, sedang Kain ditolak. Hal itu membuat Kain marah (ayat 6) sehingga membunuh Habel (ayat 8). Akhirnya Kain menerima murka Tuhan. Ia menjadi pelarian dan pengembara (ayat 14). Itu berarti ia tidak lagi memiliki hak atas tanah warisan.

    Apa yang membuat persembahan Kain ditolak? Mungkin ada banyak kemungkinan jawaban yang sempat kita pikirkan. Sebenarnya,  Alkitab sendiri tidak memberikan jawaban yang terang dan gamblang. Ada yang mengatakan karena Kain memiliki sifat buruk, yaitu iri hati. Hal itu ditandai dengan muramnya wajah Kain (ayat 7). Namun, wajah yang muram baru muncul karena ia merasa ditolak.

    Penulis surat Ibrani menyingkapkan sedikit alasan mengapa persembahan Habel diterima dan persembahan Kain ditolak, “Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati.” (Ibrani 11:4)

    Sahabat, jadi kita bisa mengatakan bahwa ditolak atau diterimanya persembahan adalah hak Tuhan. Yang penting bukanlah mencari alasan mengapa persembahan ditolak, melainkan bagaimana respons seseorang. Kain memberikan tanggapan negatif. Hal itu ditandai dengan hatinya panas dan wajah muram.

    Keadaan ini menarik perhatian Tuhan dan Ia menasihati Kain bahwa dengan hati semacam itu akan membuka peluang bagi kuasa dosa (ayat 7). Teguran Tuhan ditampik oleh Kain. Tanpa mengenal belas kasih, Kain membunuh adiknya. Ia merasa bahwa tindakannya tidak diketahui oleh siapa pun. Namun, darah adiknya berseru kepada Tuhan (ayat 10).

    Sahabat, mari kita sadari bahwa kenyataan hidup tidak selamanya sesuai dengan keinginan kita. Setidaknya ada dua tanggapan atas kenyataan hidup. Pertama, tanggapan negatif telah diperlihatkan oleh Kain. Kedua, tanggapan positif dengan melihat hidup dalam rencana Tuhan. Kalau pun saat ini hidup tidak berjalan dengan baik, kita percaya kepada pemeliharaan Tuhan bahwa Ia senantiasa menopang hidup kita. Tanggapan semacam itu dapat membuat  kita masih tetap bisa bersyukur.

    Berdasarkan hasil pernunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang menentukan apakah persembahan kita berkenan kepada Tuhan atau tidak? (Ibrani 11:4)
    2. Menurut pemahaman Sahabat, apa yang paling penting dalam menanggapi kenyataan hidup yang terjadi dalam hidup kita?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan Yesus menolong dan memberkati. (pg) 

  • Betapa BESAR dan MULIA Tuhanku

    Carl Boberg penulis lagu “How Great Thou Art” sangat mengagumi keindahan dan kedahsyatan alam ciptaan Tuhan, yang menggambarkan kebesaran dan kemuliaan Sang Pencipta.

    Sahabat, sesungguhnya segala sesuatu yang ada di atas muka bumi ini tidak terjadi secara kebetulan dan bukan sekadar rangkaian kejadian atau peristiwa, tetapi semua ada dalam kendali Tuhan, sesuai dengan kehendak dan rencana-Nya.

    Alam raya dan semua yang ada di dalamnya diciptakan Tuhan dengan suatu maksud yang indah, karena Dia adalah arsitek Mahadahsyat yang tiada taranya dalam merancang dan mencipta.  Alam semesta dan cakrawala Tuhan ciptakan dengan penuh semarak dan demikian indahnya, dan Ia pun puas melihat hasil karya-Nya itu,  “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.”  (Kejadian 1:31-a)

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Betapa BESAR  dan MULIA Tuhanku”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 104:1-9. Sahabat, alam merupakan ciptaan Tuhan yang sangat indah. Melalui alam, Tuhan memberikan pengajaran kepada kita mengenai siapakah Dia dan siapakah manusia.

    Dia adalah Sang Pencipta, sedangkan manusia adalah ciptaan yang dikasihi-Nya. Saat kita sungguh-sungguh menikmati dan memerhatikan alam, kita dapat merasakan kekaguman kepada Tuhan. Kekaguman tersebut membawa jiwa kita bersyukur dan mulut menaikkan pujian, sebagaimana yang dialami oleh Pemazmur.

    Sahabat, Mazmur 104 merupakan  mazmur pujian kepada Tuhan. Pujian itu didasarkan pada kebesaran Tuhan yang telah menciptakan alam semesta secara teratur dan memberikan makna bagi kehidupan manusia di dunia ini. Saat manusia bertanggung jawab menjaga dan memelihara dunia ini, berarti manusia telah merawat keharmonisan relasi dengan Allah melalui ciptaan-Nya. Inilah yang disebut kesatuan yang utuh antara Allah, manusia, dan alam. Itu sebabnya, Pemazmur menyatakan sukacitanya kepada Tuhan (ayat 1).

    Kebesaran Tuhan terwujud dalam kemuliaan-Nya (ayat 1-2) dan kuasa-Nya (3-9). Dalam kemuliaan-Nya, kebesaran Tuhan tergambarkan melalui terang yang semarak dan langit yang membentang. Begitu semarak dan luas membentang, tak seorang pun yang dapat mengukur batas kebesaran Allah. Demikianlah Pemazmur menggambarkan kebesaran Tuhan yang mulia.

    Sahabat, dalam kuasa-Nya, kebesaran Tuhan diperlihatkan dengan gambaran awan-awan sebagai kendaraan-Nya (ayat 3), angin sebagai pesuruh-Nya (ayat 4), nyala api sebagai pelayan-Nya (ayat 4). Begitu besarnya kekuasaan Tuhan sehingga Ia mampu mendasarkan bumi hingga tak goyah (ayat 5) dan menyelubunginya dengan samudera raya (ayat 6). Air pun taat pada hardikan-Nya (ayat 7-8) dan batasan yang ditentukan-Nya (ayat 9).

    Langit, terang, air, awan, api, samudera raya, semuanya itu seakan-akan menjadi saksi bisu dari kebesaran-Nya. Karena alam semesta merefleksikan kemuliaan Tuhan. Marilah kita bersyukur karena kita memiliki Allah yang Mahabesar, baik dalam kemuliaan-Nya maupun kuasa-Nya. Syukur kepada Allah atas kebesaran dan kemuliaan-Nya.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan di bawah ini:

    1. Apa respons kita ketika kita menyadari betapa Tuhan telah menciptakan kita secara dahsyat dengan rancangan-rancangan yang luar biasa? (Mazmur 139:14-16)
    2. Apa dampaknya bagi kita ketika kita menyadari bahwa kita diciptakan sesuai dengan rencana-Nya? (Mazmur 139:6)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan Yesus menolong dan memberkati.  (pg)

  • TERLAKSANANYA Amanat Agung TUHAN

    Bapak Ev.  Andreas Christanday  dilahirkan dalam keluarga Kristen dan dididik di sekolah  Katolik. Ketika dia  memasuki usia SMP, selama dua tahun dia bergumul tentang kepastian keselamatan dalam Yesus. Mengapa hanya Yesus?   Setelah dia  mendapatkan peneguhan melalui Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR), Bible Camp,  katekisasi dan mempelajari Alkitab sendiri, (antara lain melalui ayat-ayat: Roma 3:23; 6:23; Yohanes 14:6; Kisah Para Rasul 4:12 dan 1  Yohanes 5:13 ) dia tergerak untuk memberitakan Injil kepada orang lain, khususnya kaum muda yang belum tahu atau belum yakin seperti yang pernah dia alami.

    Maka tidak heran ketika dia bersama beberapa teman mendirikan Yayasan  Christopherus, maka visi yang ditetapkan untuk Yayasan Christopherus yaitu: Terlaksananya “Amanat Agung Tuhan” di seluruh dunia.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “TERLAKSANANYA Amanat Agung Tuhan”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Injil Matius 28:19-20. Sahabat, hampir semua orang setuju bahwa amanat itu sangatlah penting. Sebuah amanat merupakan instruksi, pesan atau perintah yang berasal dari orang yang statusnya (kedudukannya) lebih tinggi dari kita. Sebuah amanat biasanya akan kita usahakan untuk kita lakukan betapapun beratnya. Jika amanat biasa saja sudah tinggi, bagaimana dengan sebuah amanat yang dikatakan sebagai Amanat Agung?

    Sebuah panggilan penting dari Tuhan hadir lewat Yesus Kristus sesaat sebelum Dia naik kembali ke tahta-Nya di surga. Yesus menyampaikan sebuah tugas khusus bagi kita, semua para pengikut-Nyai: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:19-20).

    Sahabat, mari kita renungkan dalam-dalam amanat tersebut. Pertama-tama, Yesus menghendaki para murid-Nya untuk pergi, melakukan sesuatu, tidak tinggal diam di zona nyaman. Mereka harus mengambil inisiatif, berusaha sedemikian rupa, agar orang lain juga dapat menjadi murid Yesus seperti mereka. Caranya?

    Dengan membaptis dan mengajar. Dengan dibaptis, seseorang memutuskan untuk meninggalkan cara hidup yang lama dan menggantungkan diri sepenuhnya pada anugerah Allah. Dengan diajar, ia belajar untuk mencerminkan pengajaran dan kehidupan Kristus, yang kini menjadi Tuhan dan Juru Selamatnya.

    Sahabat, orang dengan kualitas murid tersebut harus dihasilkan di semua bangsa, atau lebih tepatnya, semua suku bangsa. Ketika diajar melakukan segala perintah Kristus, artinya para murid baru ini juga harus mengulangi proses yang sama: Pergi, menjadikan murid dengan membaptis dan mengajarkan semua perintah Kristus.

    Amanat Yesus menegaskan apa yang Dia kehendaki dari para murid-Nya. Kita tidak dipanggil untuk sekadar menjadi jemaat yang aktif dalam persekutuan dan kegiatan sosial. Kita diperintahkan untuk menghasilkan murid dari segala suku bangsa!

    Sahabat, kita sebagai anggota  keluarga besar Yayasan Christopherus, apakah kita bersedia terus mengobarkan visi Yayasan Christopherus? Mari kita periksa  semua kesibukan kita sebagai seorang murid. Adakah kita sedang melaksanakan Amanat Agung  Tuhan? (pg).

  • ALLAH: Kekal, Mahakuasa, dan Tidak Berubah

    Sahabat, kadang  kita  mendengar ada pasutri yang mengeluh karena pasangannya sudah mulai banyak berubah.  Suami yang dulunya sabar dan penuh perhatian kini berubah menjadi pemarah, kasar, bahkan suka memukul. Sebaliknya istri yang dulunya kalem dan halus budi bahasanya kini kasar dan cerewetnya minta ampun.   Berbeda sekali saat baru menikah! 

    Ada pula orangtua mengeluhkan perubahan dalam diri anak-anaknya.  Mereka yang dulunya penurut kini suka sekali memberontak.  Mungkin kita juga mengenal seseorang yang kita anggap baik dan kita berpikir bahwa kebaikan itu akan terus berlangsung … tetapi ternyata sekarang ia berubah.  Betapa sering kita dikecewakan orang lain yang ingkar terhadap janji-janjinya.  Tak ada jaminan bahwa manusia yang kita kenal akan tetap sama selamanya. 

    Manusia memang mudah berubah. Hanya Allah yang kekal, mahakuasa, dan tidak berubah.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “ALLAH: Kekal, Mahakuasa, dan Tidak Berubah, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 102:1-29. Pernahkah Sahabat merasa kewalahan dalam menghadapi persoalan hidup, namun ditolong oleh Tuhan sehingga membuat kamu kagum dengan cara Allah memelihara dan mengatur hidupmu  melewati berbagai kesulitan hidup? Itulah yang dirasakan oleh Pemazmur dalam Mazmur 102.

    Pada bagian awal dari Mazmur 102, kita melihat betapa sengsara hati Pemazmur dan bagaimana ia mengungkapkan isi hatinya kepada Tuhan. Ia merasa lemah lesu dan sengsara (ayat 1), merasa jauh dari Tuhan (ayat 2-3), penuh kesesakan dan merasa hancur (ayat 4-7), gelisah dan dicela sepanjang hari (ayat 8-10), serta mengira Tuhan marah kepadanya dan menghukumnya (ayat 11-12).

    Pemazmur sudah kewalahan dengan persoalan hidup yang menimpanya. Namun dalam situasi yang membuat Pemazmur frustrasi, ia tidak meninggalkan Tuhan. Ia memilih memandang dan memercayai Tuhan.

    Sahabat, hal apa yang membuat Pemazmur yakin dan menaruh kepercayaannya kepada Tuhan walau ia berada dalam situasi yang membuatnya frustrasi? Pertama, Pemazmur memercayai bahwa Allah itu kekal dan berkuasa (ayat 13-25). Allah seperti itu tidak dibatasi dan dipengaruhi oleh waktu. Kemahakuasaan-Nya memungkinkan Allah menetapkan segala sesuatu yang terjadi seturut dengan waktu dan kehendak-Nya. Karena Ia mahakuasa, maka kita dapat mengandalkan Dia sepenuhnya.

    Kedua, Pemazmur memercayai bahwa Allah itu ada dan tidak berubah (ayat 26-29). Keberadaan Allah tidak dipengaruhi oleh zaman yang terus-menerus berubah (ayat 26) dan Ia kekal adanya (ayat 27). Dari dulu sampai sekarang, Allah tetap sama, baik dalam hal kebaikan, kuasa, maupun kasih-Nya (ayat 28-29). Itu sebabnya, kita dapat senantiasa mengandalkan Allah sebagai gunung batu kita.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Mengapa pemahaman kita tentang siapakah Allah sangat memengaruhi cara kita menyikapi berbagai persoalan hidup?
    2. Tolong bagikan pemahamanmu tentang Allah yang engkau percayai selama ini.

    Selamat sejenak merenung. Tuhan menolong dan memberkati. (pg).

  • Christ for all, all for Christ

    Sahabat, masih dalam rangka menyambut Yubileum Christopherus, hari ini saya mengangkat topik dari moto pelayanan Yayasan Christopherus: Christ for all, all for Christ.

    Melalui wawancara dengan Bapak Ev. Andreas Christanday, pendiri dan Ketua Pembina Yayasan Christopherus, saya mendapat penjelasan mengapa Christ for all, all for Christ menjadi moto pelayanan Yayasan Christopherus.

    Pertama, Christ for all, all for Christ merupakan prinsip hidup dan pelayanan Christopherus.  Prinsip tersebut menjadi dasar Bapak Andreas menjawab panggilan hidupnya secara konsisten dan konsekuen.

    .

    Kedua, “all” (semua) menggambarkan pelayanan Yayasan Christopherus yang bersifat holistik (utuh). Ketiga. “all” menggambarkan pelayanan Yayasan Christopherus yang bersifat interdenominasi. Pelayanan Yayasan Christopherus didukung oleh gereja-gereja dan melayani untuk gereja-gereja.

    Keempat, “all”  juga berarti semua telenta, semua bangsa dan suku bangsa juga semua gender dan usia. Kelima, akhirnya “all” mencerminkan bahwa segala sesuatu dari Tuhan, oleh Tuhan, dan kepada Tuhan: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya (Roma 11:36).

    Sahabat, untuk lebih memahami topik tentang: “Christ for all, all for Christ”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari  2 Korintus 5:11-21 dengan penekanan pada ayat 14-15. Sahabat, pada zaman ini manusia semakin berfokus kepada dirinya sendiri. Tren seperti swafoto (selfie) membuat manusia semakin memuji diri sendiri dan puas terhadap keakuannya.


    Mari kita sadari bahwa hidup ini adalah anugerah Tuhan. Kita menjalaninya dengan kekuatan dan pengaturan dari Tuhan hingga kelak kita menghadap kepada-Nya. Hidup kita telah ditebus dengan bayaran yang sangat mahal, yang tidak terbeli secara materi karena dibayar dengan darah Kristus di kayu salib. Dengan demikian, sudah seharusnya kita tidak hidup untuk diri sendiri, melainkan juga untuk Tuhan dan sesama demi kemuliaan nama Tuhan (ayat 15).

    Sahabat, secara tidak sadar manusia hidup hanya untuk dirinya sendiri. Mereka berusaha mencukupi kebutuhan sendiri, dan sedapat mungkin hanya berelasi dengan orang lain untuk sesuatu yang menguntungkan dirinya. Karena Kristus telah mati untuk semua orang, baiklah semua potensi diri,  kita baktikan untuk kemuliaan Tuhan.

    Siapa pun yang ada dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru (ayat 17). Ia akan bermegah karena kemuliaan Allah, mampu menguasai diri, dan mengakui adanya kuasa dari kasih Kristus. Seperti inilah diri kita yang semestinya ketika kita percaya kepada Tuhan. Kita tidak ingin berdamai dengan keinginan daging yang memaksa kita melakukan berbagai hal yang tidak disukai Tuhan. Kita hanya mau berdamai dengan Allah, sehingga segenap pelayanan kita terima dari Kristus dan kita jalankan dengan penuh ketaatan.

    Mari kita menghayati kasih Tuhan di dalam hidup kita dan menjalani hidup dengan senantiasa bertanya mengenai kehendak-Nya terhadap hidup kita. Kita layak bersyukur atas pengurbanan-Nya dan bersungguh-sungguh mempersembahkan hidup kita untuk melayani sesama demi kemuliaan Tuhan.

    Sahabat, kita sebagai anggota keluarga besar Christopherus, semoga menjadikan moto pelayanan Christopherus: “Christ for all, all for Christ” menjadi moto hidup kita masing-masing. (pg) 

  • KASIH TUHAN: Tiada Bandingnya

    Sahabat, sebelum kita melangkah lebih jauh pada  hari ini,  coba sejenak renungkan betapa besar kasih Tuhan dalam kehidupan kita!  Detik demi detik, jam demi jam, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun kasih Tuhan kepada kita tidak pernah berubah.  Sungguh, kita tak dapat menghitung  betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus  (Efesus 3:18).

    Memang banyak cerita tentang cinta kasih yang ada di dunia ini, ada banyak yang mengagumkan,  namun kesemuanya itu tidak bisa dibandingkan dengan kasih Tuhan.  Kasih Tuhan itu sangat jauh berbeda dari kasih lain yang ada di dunia ini. Sesungguhnya kasih Tuhan tiada bandingnya.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “KASIH TUHAN: Tiada Bandingnya”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 3:1-24 dengan penekanan pada ayat 7 dan 21. Sahabat, Keberadaan manusia di Taman Eden tidak berlangsung abadi (ayat 24). Manusia tergoda oleh bujuk rayu ular, yang merupakan binatang melata yang paling cerdik (ayat 1). Percakapan ular dengan perempuan membuat Hawa dan Adam tergoda untuk makan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat (ayat 6). Akibat memakan buah itu mereka menjadi malu karena telanjang (ayat 7) dan takut berjumpa dengan Tuhan (ayat 8). Hukuman pun diberikan karena ketidaksetiaan manusia.

    Sahabat, ketika Adam dan Hawa menyadari bahwa diri mereka telanjang, mereka menjadi malu. Kemudian untuk menutupi bagian tubuh mereka yang membuat mereka malu, mereka menyematkan daun pohon ara (ayat 7). Tentu saja daun pohon ara tidak dapat menutupi bagian tubuh mereka dengan baik. Selain itu cawat yang terbuat dari daun pohon ara itu mudah rusak karena daun pohon ara itu cepat menjadi kering, tidak tahan lama, juga sulit untuk dibentuk. Tentu cawat dari daun pohon ara membuat mereka tidak nyaman.

    Yang luar biasa, walaupun Adam dan Hawa telah melanggar titah Tuhan, namun kasih Tuhan tetap berlaku bagi mereka. Hati Tuhan penuh dengan belas kasih. Coba, lihat di ayat 21, Tuhan dengan penuh kasih membuat pakaian dari kulit binatang. Tentu pakaian dari kulit binatang jauh lebih baik daripada pakaian dari daun pohon ara. Tindakan kasih Tuhan tidak berhenti sampai di situ, Tuhan bukan hanya membuatkan pakaian buat mereka, tapi juga mengenakannya kepada mereka. Sungguh-sungguh luar biasa kasih Tuhan itu.

    Sahabat, suatu kisah kasih yang sangat mengharukan. Kasih Tuhan mengalir terus-menerus tiada berhenti sampai selama-lamanya.  “Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan TUHAN untuk selama-lamanya. Haleluya!”  (Mazmur 117:2).  Kasih manusia bersifat sementara, mudah sekali berubah, sangat bergantung pada situasi dan kondisi;  tetapi kasih Tuhan tidak dapat dipengaruhi oleh apa pun.  Bahkan kita tidak dapat mempengaruhi kasih Tuhan dengan perbuatan-perbuatan baik kita.  Tuhan mengasihi kita sebelum ada perbuatan baik yang kita lakukan bagi-Nya.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang dilakukan oleh ular untuk menjebak Hawa? (Ayat 1-5)
    2. Apa yang membuat  Hawa memetik dan kemudian makan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat? (Ayat 6)
    3. Apa dampak pertama ketika mereka telah makan buah tersebut? (Ayat 7)
    4. Lalu apa dampak kedua bagi mereka? (Ayat 8)
    5. Apakah dampak berikutnya bagi mereka? (Ayat 12-13)

    Selamat sejenak merenung.  Ingatlah: Tidak ada alasan bagi kita untuk meragukan kasih Tuhan kepada kita. (pg)

  • INTEGRITAS: Dibentuk oleh PROSES dan ETIKA

    Apa itu integritas? Kata integritas mungkin sering Sahabat dengar sebagai tindakan, perilaku, atau sikap yang perlu dimiliki seseorang dalam dunia kerja atau prinsip kehidupan. Sederhananya, integritas adalah kejujuran yang menjadi prinsip dan selalu dipegang teguh. Pada dasarnya integritas memang perlu dimiliki oleh setiap orang sebagai bentuk tanggung jawab, baik untuk tugas, pekerjaan, atau aktivitas sehari-harinya.

    Sahabat, integritas adalah kualitas bersikap jujur dan memiliki prinsip moral yang kuat, atau kejujuran moral. Itulah mengapa, kita sebagai orang percaya harus memiliki integritas yang tinggi. Tindakan kita harus selaras dengan nilai, keyakinan, dan prisip yang kita pegang. Integritas tidak diwariskan secara DeoxyriboNucleic Acid (DNA), namun dibentuk oleh proses dan etika.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “INTEGRITAS: Dibentuk oleh PROSES dan ETIKA”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 101:1-8. Sahabat, Daud membuka Mazmur ini dengan sebuah pujian tentang kesetiaan TUHAN kepada perjanjian-Nya dan keadilan-Nya (ayat 1). Selanjutnya, sebagai seorang raja, selain menyatakan kerinduannya untuk hidup menurut jalan-jalan TUHAN yang sempurna (ayat 2a) dan memohon agar TUHAN sendirilah yang menolongnya (ayat 2b), Daud juga mau memiliki hidup yang berintegritas (ayat 2c).


    Dalam hidupnya bersama orang lain, Daud menolak untuk berkelakuan buruk (ayat 3a), membenci perbuatan murtad (ayat 3b), dan menjauhkan dirinya dari sikap serta perbuatan yang tidak benar (ayat 4-5). Namun, dia tahu bagaimana memperlakukan dengan tepat, baik terhadap orang-orang yang hidupnya benar (ayat 6) maupun yang salah (ayat 7). Kemudian Daud menutup tulisannya dengan komitmen untuk melenyapkan kefasikan dan kejahatan (ayat 8).

    Sahabat, kita sebagai orang percaya, apa pun status kita, terlebih jika kita seorang pemimpin, kita sudah sepatutnya menjaga hidup yang berintegritas. Pikiran yang mau hidup dalam kebenaran dan menolak kejahatan, seharusnya terwujud pula dalam tindakan nyata. Bukan sekadar retorika, melainkan terwujud dalam laku hidup.

    Hidup berintegritas membutuhkan komitmen yang harus dipelihara dan dikembangkan seumur hidup. Perlu diketahui bahwa integritas bukan semata-mata bersumber dari kebaikan dan usaha sendiri, tetapi juga berasal dari hidup yang takut akan Tuhan. Karena itu, sudah sepatutnya kita selalu ingat bahwa keberadaan kita, selain menjadi wakil Tuhan untuk menyatakan kebenaran-Nya, juga menjalani hidup yang benar dalam anugerah-Nya agar nama Tuhan dimuliakan.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Daud mengembangkan hidup yang tidak bercela dan tulus dimulai dari mana? Mengapa Daud mulai mengembangkan dari situ? (Ayat 2)
    2. Sifat-sifat apa saja yang menjadi kebencian bagi Daud? (Ayat 3-5)
    3. Apa syarat bagi orang yang ingin bergaul dekat dengan Daud? (Ayat 6)
    4. Orang-orang macam apa yang akan disingkarkan oleh Daud? (Ayat 7-8).

    Selamat sejenak merenung. Jadilah teladan dalam segala hal bagi orang-orang dunia. (pg)