Category: Sejenak Merenung

  • PILIHAN TERBAIK

    Manakah yang Sahabat lebih sukai, ada banyak pilihan sehingga kita dapat memilih yang terbaik sesuai dengan kualifikasi yang kita tentukan,  atau hanya tersedia satu pilihan saja atau tidak ada pilhan, mau tidak mau kita harus mengambilnya atau menerimanya.

    Sahabat, sesungguhnya berada di tengah banyaknya pilihan bukan hal yang mudah. Kadang bisa membuat kita bingung dan ragu. Kadang dapat membawa kita kurang tepat dalam menjatuhkan pilihan. Padahal   kita setiap hari bertemu dengan begitu banyak pilihan dimana keputusan kita akan sangat menentukan langkah selanjutnya. Karena itu kita butuh hikmat dari Tuhan sehingga kita dapat membuat pilihan terbaik yang sesuai dengan kehendak Tuhan. 

    Untuk lebih memahami topik tentang: “PILIHAN  TERBAIK”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 96:1-13 dengan penekanan pada ayat 4. Sahabat,  memang berada di tengah banyaknya pilihan bukan hal yang mudah. Demikian pula dengan situasi yang dihadapi oleh bangsa Israel,  mereka diperhadapkan dengan ada banyak ilah di sekitar mereka. Hal tersebut membuat mereka menimbang-nimbang pilihan. Inilah yang membuat Pemazmur menegaskan bahwa Allah Israel lebih dahsyat dari segala ilah (ayat 4).

    Tujuan Pemazmur adalah agar bangsa Israel dapat lebih mantap menyandarkan pengharapannya kepada Allah. Mazmur 96 dipercaya sebagai mazmur yang ditulis untuk orang Israel dalam masa pembuangan. Pada masa itu bukan hal mudah bagi mereka untuk melihat kehancuran Yerusalem, apalagi mempertahankan iman.

    Sahabat, kekalahan orang Israel membuat bangsa Babel merasa bangga karena ilah mereka lebih kuat daripada Allah Israel. Hal tersebut  bisa membuat iman orang Israel terhadap Tuhannya menjadi goyah. Akan tetapi, sekali lagi pujian dalam Mazmur 96 justru menegaskan pengharapan kepada Allah Israel.

    Pengharapan itu tampak dalam pujian bahwa ada keselamatan dari Allah (ayat 2); ada kemuliaan dan perbuatan-perbuatan ajaib-Nya (ayat 3). Ia lebih tinggi dari segala ilah sembahan manusia (ayat 4-5). Keagungan, semarak, kekuatan, dan kehormatan pun dimiliki-Nya. Pada masa lalu, hal tersebut pernah mereka rasakan ketika dibebaskan dari Mesir. Di masa depan, mereka pun akan merasakan pembebasan dari Babel dan kembali ke Yerusalem (bdk. Ezra 1:1-11). Jadi, sangatlah layak untuk menyembah-Nya, membawa persembahan kepada-Nya, dan memuji-Nya. Tidak ada alasan bagi bangsa Israel untuk meninggalkan Allah Israel.

    Sahabat, dalam kehidupan di Zaman Now ada begitu banyak “ilah-ilah” yang nampak sepintas lebih menjanjikan daripada Allah yang kita sembah selama ini. Dalam  pergumulan hidup, kita sering menghadapi berbagai pilihan duniawi yang dapat membuat kita tidak lagi berharap kepada Allah. Pilihan itu telah membutakan kita terhadap kebaikan Allah, padahal begitu banyak kebaikan Allah telah hadir dalam hidup kita.

    Karena itu, marilah kita bertekad meletakkan pengharapan kita hanya kepada Allah. Mari kita mengingat kembali segala kebaikan yang telah Ia lakukan dalam hidup kita, baik yang kecil maupun yang besar. Percayalah, Yesus Kristus, Allah yang hidup, merupakan pilihan terbaik.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang menjadi tugas kita sebagai komunitas orang percaya? (Ayat  1-3)
    2. Dari pernyataan Pemazmur di ayat 5-6, keyakinan apa yang perlu tertanam dalam-dalam di hati kita?
    3. Apa saja yang perlu kita lakukan sebagai komunitas orang percaya? (Ayat  8-10)

    Selamat sejenak merenung. Jadi,  hidup kita penuh dengan pilihan yang membutuhkan pengambilan keputusan yang baik untuk berhasil. (pg)

  • Kisah KARYA ALLAH Dalam Hidup Kita

    Bagaikan mendapat durian jatuh kalau saya diberi kepercayaan untuk menulis atau mengedit satu naskah sejarah satu gereja atau satu lembaga gerejawi. Saya menaruh minat pada penulisan  sejarah karena saya meyakini bahwa  kisah-kisah pada masa lalu  dapat menjadi guru yang baik dalam menjalalani masa depan.

    Sahabat, mungkin  ada diantara  kita kalau mendengar atau membaca  kata “sejarah” langsung  menyamakannya dengan tanggal-tanggal berderet, diikuti serangkaian nama dan peristiwa yang tak jelas kaitannya satu sama lain. Padahal, sejarah bukanlah serentetan data yang kering dan hampa makna. Sejarah sesungguhnya merupakan kisah karya Allah dalam hidup kita.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Kisah KARYA ALLAH Dalam Hidup Kita”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Bilangan 33:1-56. Sahabat, ketika bangsa Israel akan mengakhiri pengembaraan di padang gurun, mereka tiba di dataran Moab, di seberang sungai Yordan dekat Yerikho (Bilangan  22:1). Lalu mereka menaklukkan wilayah sungai Yordan (Bilangan 32).

    Kisah pengembaraan padang gurun kemudian diakhiri dengan daftar tempat-tempat persinggahan orang Israel, setelah mereka keluar dari tanah Mesir (ayat 1). Daftar ini ditulis oleh Musa atas perintah Tuhan (ayat 2) sebagai ingatan bagi orang Israel di sepanjang zaman. Bukan hanya ingatan tentang kesulitan dan tantangan di dalam perjalanan, tetapi juga ingatan tentang kesetiaan dan kasih karunia Tuhan yang menyertai mereka dari waktu ke waktu, dari suatu tempat ke tempat lain.

    Sangat menarik, perjalanan tersebut  memakan waktu sampai empat puluh tahun, tetapi bukan karena jarak yang jauh. Allah menggiring mereka ke padang gurun karena ada generasi yang tidak percaya kepada Allah. Generasi itu harus mati di padang gurun sebelum generasi yang penuh iman dibangkitkan untuk merebut Tanah Perjanjian. Maka Tuhan memberikan perintah agar umat menghalau penduduk Kanaan, disertai peringatan bila mereka tidak melakukannya. Selanjutnya, mereka akan menempati tanah itu (ayat 50-56).

    Sahabat, melalui perjalanan panjang kehidupan kita bersama Tuhan, adakalanya kita perlu berdiam diri sejenak untuk  mengingat ulang momen-momen penting yang terjadi. Waktu kita melakukannya, adakah kita melihat Tuhan berkarya di dalamnya?

    Tapi ingat,  jangan berhenti sampai di situ karena perjalanan yang Sahabat  akan tempuh masih panjang. Mari kita  lihat kembali atau tanyakan kepada Allah, apa rancangan-Nya bagi hidup kita  selanjutnya.

    Sahabat, perhatikanlah  setiap peringatan atau perintah. Apa yang Allah kehendaki untuk kita  lakukan dengan sungguh-sungguh. Biarlah kiranya perjalanan panjang kehidupan kita merupakan kisah karya Allah yang luar biasa.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, pelajaran apa yang Sahabat peroleh dan tolong bagikan salah satu karya Allah dalam hidupmu yang tidak dapat kamu lupakan karena begitu berkesan. Selamat sejenak merenung.  Semoga kehidupan kita dapat selalu bermakna dan berguna bagi sesama. (pg)  

  • Pujilah dan Taatilah Tuhan

    Memuji Tuhan tidak dapat dilepaskan dari kehidupan orang percaya. Mengapa? Memuji Tuhan adalah perintah Tuhan, dan sebagai anak-anak-Nya kita harus taat melakukannya  (Ibrani 13:15). Selain itu bermazmur bagi Allah kita itu baik, bahkan indah (Mazmur 147:1).

    Sahabat, Tuhan sangat menikmati puji-pujian yang dinaikkan oleh umat-Nya, karena itu Ia selalu hadir dan bertakhta di atas pujian kita.  Meski berada di situasi sulit dan sepertinya kegelapan pekat mengelilingi hidup kita biarlah kita tetap memuji-muji Tuhan, karena ketika kita melakukannya Tuhan akan hadir melawat kita.  Kehadiran-Nya pasti membawa dampak luar biasa dalam kehidupan kita:  Memulihkan, menyembuhkan, menolong bahkan memberkati kita.  Karena itu pujilah dan taatilah Tuhan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Pujilah dan Taatilah Tuhan”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 95:1-16. Sahabat,  memuji Allah wajib dilakukan orang percaya. Pemazmur mengajak bangsa Israel bersorak-sorai dan sujud menyembah-Nya. Pemazmur mengajak umat menyembah Tuhan karena Ia adalah Allah dan Raja yang besar. Namun, Mazmur 95 tidak hanya mencakup ajakan untuk memuji, tetapi juga nasihat untuk menaati peringatan Allah.

    Peringatan yang diberikan tidak main-main sebab peringatan tersebut berasal dari Allah. Di bagian awal Mazmur 95, Pemazmur mengajak umat memuji Allah (ayat 1-7a). Akan tetapi, mulai dari ayat 7b, bangsa Israel dituntun untuk mendengarkan peringatan dari Allah. Seruan Allah dalam Mazmur 95 mengingatkan bangsa Israel dalam tiga hal:

    Pertama, jangan keras kepala dan bebal (ayat 8). Artinya, seruan dan peringatan Allah harus direspons dan tidak boleh diabaikan. Tindakan mengabaikan peringatan Allah sama artinya membangkang dan melawan Tuhan. Sikap ini yang dilakukan oleh leluhur bangsa Israel dalam peristiwa di Masa dan Meriba.

    Kedua, jangan mencobai Tuhan (ayat 9). Apa perbedaan besar antara menguji dan mencobai? Motif menguji selalu mencari bukti terhadap suatu kebenaran, sedangkan motif mencobai adalah menyangkal kebenaran sebagai fakta yang valid. Dalam hal ini, leluhur bangsa Israel telah mencobai Allah di Masa dan Meriba karena mereka bukan hanya menolak kebenaran yang telah dialami, tetapi juga mau mengatur Allah untuk tunduk kepada keinginan mereka.

    Ketiga, jangan sesat hati (ayat 10). Kata “sesat hati” bisa dipahami sebagai hati yang tidak lurus, memberontak, dan penuh tipu muslihat. Inilah yang menjadi inti permasalahan leluhur bangsa Israel yang dengan sengaja dan berulang-ulang mengabaikan jalan Allah. Akibatnya, Allah membinasakan satu generasi bangsa Israel yang keluar dari Mesir, kecuali keluarga Yosua dan Kaleb.

    Sahabat, berdoalah agar kita tidak hanya memuji Allah, tetapi juga dibarengi dengan ketaatan kepada-Nya. Karena itu, marilah saat ini kita belajar untuk terus taat kepada Allah sembari memuji kebaikan dan kebesaran-Nya dalam hidup kita hari lepas hari. 

    Berdasarakan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah pelajaran apa saja yang engkau dapatkan. Mengapa Allah merasa jemu dengan umat-Nya? (Ayat 10). Selamat sejenak merenung. Tuhan menolong dan memberkati. (pg).

  • Ada TANGGUNG JAWAB di Pundak Kita

    Setiap orang pada hakikatnya telah diberikan tanggung jawab, yang telah menjadi bagian dari kehidupan manusianya sebagai kodrat. Namun, belum tentu semua orang dapat mengetahui dan memahami apa sebenarnya arti dari tanggung jawab.

    Tanggung jawab menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) merupakan keadaan untuk wajib menanggung segala sesuatunya. Dalam hal ini, jika dijabarkan tanggung jawab adalah kesadaran seseorang akan kewajiban untuk menanggung segala akibat dari sesuatu yang telah diperbuatnya.

    Sahabat, tanggung jawab merupakan bagian yang tak terpisahkan dan harus tertanam dalam diri setiap orang. Tentunya, setiap orang memiliki tanggung jawab yang berbeda-beda. Bahkan, semakin dewasa seseorang, tanggung jawabnya pun makin kompleks. Pada kenyataannya, tidak semua orang mampu melakukan apa yang menjadi tanggung jawab dalam kehidupannya. Kendati demikian penting untuk mempunyai jiwa yang bertanggung jawab dalam hal apapun. Di dalam hati kita perlu tertanam dalam-dalam: Ada tanggung jawab di pundak kita.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Ada TANGGUNG JAWAB di Pundak Kita”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Bilangan 32:1-42 dengan penekanan pada ayat 18. Sahabat, para laki-laki dewasa di antara bangsa Israel memiliki dua macam tanggung jawab sosial, yaitu tanggung jawab sebagai kepala keluarga yang harus melindungi istri dan anak-anak mereka serta tanggung jawab sebagai anggota suku sebuah bangsa, yaitu bangsa Israel. Tanggung jawab sebagai kepala keluarga membuat suku Ruben dan suku Gad meminta agar mereka diizinkan untuk menempati daerah yang sudah mereka taklukkan di sebelah Timur Sungai Yordan (ayat 1-5).

    Sahabat, semula Musa merasa kesal mendengar permohonan tersebut, tetapi akhirnya Musa mengabulkan permohonan itu setelah para laki-laki dewasa dari suku Ruben dan suku Gad berjanji bahwa mereka tetap akan ikut berperang merebut daerah-daerah di sebelah Barat sungai Yordan sampai semua suku Israel memperoleh milik pusaka masing-masing. Dari kisah berikutnya (39-42), jelas bahwa langkah suku Ruben dan suku Gad itu kemudian diikuti oleh sebagian (setengah) dari suku Manasye.

    Bacaan kita pada hari ini mengingatkan bahwa bila kita menjadi anggota satu komunitas, kita tidak boleh hanya memerhatikan kepentingan sendiri, tetapi kita harus memerhatikan kepentingan anggota komunitas yang lain. Sebaliknya, perhatian kita terhadap segenap  anggota komunitas juga tidak boleh membuat kita melupakan kepentingan keluarga kita. Tanggung jawab kita dalam satu bidang tertentu tidak boleh membuat kita mengabaikan tanggung jawab kita dalam bidang yang lain.

    Sebagai orang percaya, kita harus menyadari bahwa kita harus bertanggung jawab dalam berbagai bidang di setiap lingkungan tempat kita berada. Kita harus bertanggung jawab terhadap keluarga kita, terhadap tempat kita bekerja, terhadap tempat kita berjemaat, terhadap lingkungan tempat kita tinggal, terhadap setiap organisasi yang kita ikuti, bahkan kita juga harus bertanggung jawab terhadap negara kita.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah pemahamanmu tentang tanggung jawab apa saja yang ada di pundakmu. Selamat sejenak merenung. Mari kita mendaraskan:  “Kami tidak akan pulang ke rumah kami, sampai setiap orang Israel memperoleh milik pusakanya.” (Ayat 18)

  • ADA KEBAHAGIAAN di balik HAJARAN

    Membaca atau mendengar kata hajaran pasti timbul kengerian di benak kita, karena terbayang keadaan seseorang yang sedang merintih kesakitan dalam kondisi babak belur, terluka dan berdarah-darah akibat menerima siksaan berupa pukulan. 

    Dalam kehidupan orang percaya, menerima hajaran dari Tuhan adalah perkara yang tidak bisa dihindari, terlebih-lebih jika kita berlaku menyimpang dari firman Tuhan, siap-siaplah menerima  hajaran  Tuhan.

    Sahabat, Tuhan menghajar umat-Nya bukan berarti membenci atau tidak mengasihi,  justru hajaran-Nya adalah wujud kasih-Nya kepada kita.  Hajaran Tuhan adalah bentuk proses pendisiplinan supaya hidup kita semakin sempurna dan lebih baik dari sebelumnya. Ada kebahagiaan di balik hajaran.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “ADA  KEBAHAGIAAN di balik HAJARAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 94:1-23 dengan penekanan pada ayat 12. Sahabat, setiap pukulan dan hajaran tentulah menyakitkan. Namun, Pemazmur justru menyatakan sebaliknya, HAJARAN Tuhan itu adalah sebuah kebahagiaan!

    Pemazmur memiliki beragam pengalaman hidup. Pengalaman yang dibentuk melalui berbagai penderitaan sebagai bentuk hajaran Tuhan yang akan membawa kebaikan baginya. Setiap bentuk hajaran yang Tuhan izinkan bukanlah untuk membuatnya hancur, melainkan disertai kerinduan Tuhan agar ia kembali pada kebenaran dan dibawa mendekat kepada-Nya.

    Saat mengarungi kehidupan ini, tanpa sadar kesibukan dan rasa nyaman telah menjadi gelombang yang membawa hidup kita jauh dari Tuhan. Pada saat itulah Tuhan mengingatkan, menegur, bahkan menghajar kita, anak-anak-Nya. Seperti Pemazmur, biarlah kita belajar menerima setiap “lemparan” dan “hajaran” Tuhan itu dengan sukacita. Karena kita tahu Dia tidak pernah melukai kita, Dia ingin membawa kita dekat kepada-Nya.

    Sahabat, sampai berapa lama Tuhan menghajar kita?  Itu sangat tergantung pada respons kita, apakah kita segera sadar dan mau menyerah penuh kepada Tuhan.  Kalau kita terus memberontak dan mengeraskan hati maka hajaran Tuhan akan berlangsung lama seperti yang dialami oleh bangsa Israel yang harus  diproses dan dihajar  Tuhan selama 40 tahun di padang gurun.  Karena itu Pemazmur berkata,  “Berbahagialah orang yang Kauhajar, ya TUHAN, dan yang Kauajari dari Taurat-Mu, untuk menenangkan dia terhadap hari-hari malapetaka, …”  (Mazmur 94:12-13). 

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Bagikanlah pemahamanmu tentang hajaran Tuhan.
    2. Mengapa Pemazmur mengatakan bahwa berbahagialah kita kalau Allah masih mau menghajar kita? (Ayat 12)

    Selamat sejenak merenung. Ingatlah, Orang yang memiliki kepekaan rohani tidak akan pernah memberontak atau pun lari ketika sedang  dihajar  Tuhan. (pg)

  • Meluluhlantakkan PENYEBAB DOSA

    Sepanjang sejarah bercerita bahwa hidup menjaga kekudusan tidak pernah mudah. Zaman dahoeloe saja masalah kekudusan sudah menjadi hal sulit dilakukan oleh manusia, terlebih di zaman now, dimana ada begitu banyak media yang menawarkan segala sesuatu yang bisa merusak kekudusan dengan begitu mudahnya.

    Sabahat, jika dahoeloe orang harus mengeluarkan biaya besar untuk memperolehnya, hari ini semua tersedia dengan sangat murah atau bahkan gratis. Menjaga kekudusan semakin lama semakin dianggap kuno oleh manusia. Orang tidak lagi kagum terhadap orang-orang yang hidup mempertahankan kekudusan, tetapi malah menertawakan dan menganggap mereka bodoh, ketinggalan zaman,  atau kurang gaul.

    Dunia terus menawarkan segala sesuatu yang bisa merusak kekudusan kita dalam berbagai bentuk yang biasanya membawa kenikmatan bagi daging kita tetapi sangatlah mematikan bagi perjalanan hidup kita. Karena itu kita harus meluluhlantakkan penyebab dosa.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Meluluhlantakkan PENYEBAB DOSA”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Bilangan 31:1-24. Sahabat, Allah ingin bangsa Israel terus hidup dalam kekudusan. Allah bertindak menyelamatkan mereka dengan menghancurkan secara tuntas penyebab dosa mereka. Allah mengasihi bangsa Israel sehingga menginginkan mereka kembali pada hidup yang kudus sebagai umat milik-Nya. Hal ini terlihat dengan jelas saat Allah memerintahkan bangsa Israel untuk menyucikan diri setelah berperang dengan bangsa Midian.

    Allah memerintahkan kepada bangsa Israel melalui Musa untuk melakukan pembalasan. Hal ini menunjukkan cara Allah menjaga umat-Nya untuk tetap hidup dalam kekudusan. Di satu sisi, pembalasan ini merupakan peringatan penting terhadap perbuatan bangsa Israel yang berpaling dari-Nya oleh sebab bujuk rayu bangsa Midian. Para perempuan Midian mengajak bangsa Israel berpaling dari Allah dengan menyembah Baal-Peor. Mirisnya, bangsa Israel memilih untuk menuruti mereka dan melanggar janji kesetiaan mereka kepada Allah.

    Di sisi lain, pembalasan Allah ini sekaligus menjadi satu peringatan yang ditujukan bagi bangsa lain yang melawan Allah. Bangsa lain diingatkan bahwa Allah Israel tidak akan tinggal diam jika ada yang membuat umat-Nya terpisah dari-Nya.

    Sahabat, sering kali kita berbuat dosa dan bahkan sering pula tidak menyadari apa yang menjadi penyebab dosa di hadapan Allah. Kita seakan membiarkan diri terhanyut di dalamnya dan terbawa makin menjauh dari Allah. Bacaan kita pada hari ini mengingatkan kita bahwa Allah tidak akan membiarkan kita terjatuh dan terus terjerumus ke dalam dosa. Allah akan bertindak; Dia akan menyelamatkan kita sehingga kita tetap hidup di dalam kekudusan sesuai dengan perjanjian-Nya dengan bangsa Israel. Allah tidak akan segan menghancurkan musuh-musuh kita sampai ke akar-akarnya.

    Sahabat, Tuhan bersikap sangat tegas terhadap kekudusan hidup umat-Nya. Segala kecemaran harus dijauhkan. Maka kita perlu bertanya, seberapa serius kita menjaga kekudusan hidup kita? Di tengah era ketika kita hidup semakin individualis, mari kita tetap menjaga diri di dalam komunitas yang saling membangun dan menjaga kekudusan hidup sebagai umat Tuhan, sebagai kesaksian yang kokoh di tengah dunia ini.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah berkat apa saja yang engkau peroleh dan apa saja usaha yang engkau lakukan untuk menjaga kekudusan hidup? Selamat sejenak merenung. Tuhan menolong dan memberkati. (pg)

  • Ajining Rogo SOKO BUSONO

    Ada pepatah dalam bahasa Jawa yang berbunyi: “Ajining Rogo Soko Busono” yang artinya harga diri kita sedikit banyak ditentukan oleh pakaian yang kita kenakan.

    Sahabat, dalam buku Wearing God (Mengenakan Allah), penulisnya,  Lauren Winner mengatakan bahwa secara diam-diam, pakaian kita dapat mengungkapkan jati diri kita kepada orang lain. Apa yang kita kenakan dapat saja menunjukkan karier, komunitas,  identitas, suasana hati, atau status sosial kita.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Ajining Rogo SOKO BUSONO”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 93:1-5 dengan penekanan pada ayat 1. Sahabat, Di satu sisi, raja itu sosok yang mulia. Di sisi lain, ia juga ditakuti oleh rakyatnya.

    Raja yang baik senantiasa dicintai rakyatnya. Zaman dahulu seorang raja selalu menjamin keamanan dan ketenteraman bagi rakyatnya. Mengusahakan kesejahteraan di wilayah kekuasaannya merupakan prioritas utama seorang raja. Menjaga dan melindungi rakyatnya dari segala ancaman dan bahaya  juga merupakan tanggung jawab raja.

    Sahabat, Pemazmur menggambarkan Allah sebagai Raja di bumi. Ini merupakan posisi tertinggi yang ada dalam kehidupan sosial zaman itu. Mazmur 93 ini menceritakan kemegahan Allah sebagai Raja yang kekal. Penggambaran Allah sebagai Raja yang bertakhta dan berkuasa dengan jelas dilukiskan Pemazmur (ayat 1-2).

    Dalam kekuatan-Nya, Allah menegakkan dunia untuk sepanjang masa. Takhta-Nya kekal dari dahulu, sekarang, dan selamanya. Ia menjabat secara kekal. Ia memiliki kedaulatan mutlak. Allah berada di atas takhta-Nya dan memerintah dalam keadilan-Nya secara kekal.

    Sahabat, menurut Paulus, kita juga dapat mengungkapkan tentang Kristus tanpa kata-kata, maka Rasul Paulus merintahkan kita, “… kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya” (Roma 13:14).

    Ketika kita menjadi orang percaya, kita mengenakan identitas Kristus. Kita semua adalah “anak-anak Allah karena iman” (Galatia 3:26-27). Itulah status kita. Namun, setiap hari kita perlu mengenakan karakter-Nya. Kita melakukannya dengan berjuang untuk hidup bagi Tuhan Yesus dan menjadi semakin serupa dengan-Nya, bertumbuh dalam kesalehan, kasih, dan ketaatan, serta meninggalkan dosa-dosa yang pernah memperbudak kita.

    Sahabat, pertumbuhan di dalam Kristus itu merupakan hasil dari karya Roh Kudus di dalam kita dan buah dari kerinduan kita untuk semakin mengenal-Nya melalui penggalian firman Tuhan, doa, dan persekutuan dengan sesama orang percaya (Yohanes 14:26).

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah pertanyaan ini: Ketika orang lain mendengar perkataan dan melihat perilaku kita, pernyataan apakah yang sedang kita tunjukkan tentang Kristus? Selamat sejenak merenung. Mari kita daraskan: “TUHAN adalah Raja, Ia berpakaian kemegahan, TUHAN berpakaian, berikat pinggang kekuatan. Sungguh, telah tegak dunia, tidak bergoyang; …” (ayat 1). (pg)

  • Melampaui TARGET Mereka

    Kita yang bekerja di bagian penjualan, tentu akan mengalami,  kadang hasil penjualan di bawah target, kadang sesuai dengan target, dan kadang dapat melampaui target. Tentu yang menjadi harapan kita minimal sesuai dengan target, kalau dapat melampaui target, itu suatu pencapaian yang WOUW, pencapaian yang melampaui harapan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Melampaui TARGET Mereka”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Lukas 24:1-12. Sahabat, dalam bacaan kita pada hari ini, target para perempuan pagi-pagi  datang ke kubur untuk merempah-rempahi tubuh Yesus yang baru meninggal. Mereka membawa rempah-rempah sesuai kebiasaan waktu itu (ayat 1). Mereka berharap untuk dapat menemukan jenazah Yesus.

    Ketika mereka sudah tiba di kubur Yesus, ternyata, batu besar yang menghalangi pintu masuk ke kubur sudah terguling (ayat 2). Halangan pertama teratasi tanpa penjelasan bagi mereka. Mereka tambah terkejut karena setelah mereka masuk tidak menemukan mayat Tuhan mereka (ayat 3). Tentu saja mereka  menjadi  termangu-mangu, hati mereka diliputi dengan berbagai tanya,  “Kemana jenazah-Nya? Siapa yang mengambil? Siapa yang memindahkannya?”

    Ketika banyak pertanyaan yang belum terjawab di benak mereka, .tiba-tiba ada dua orang berdiri dekat dengan mereka memakai pakaian yang berkilau-kilauan (ayat 4). Mereka membawa kabar yang di luar perkiraan, kabar yang melampaui harapan. Mereka mencari Yesus yang mati, tetapi mendapati Yesus yang bangkit.

    Sahabat, harapan yang terlampaui. merupakan penghiburan dan anugerah yang besar dalam hidup kita. Kadang, Allah mengizinkan kita mendapatkan  lebih daripada  yang kita targetkan, tujuannya antara lain agar kita memuliakan Dia dan semakin percaya pada-Nya. Semakin mengandalkan Tuhan

    .
    Kita layak bersyukur  ketika mengalami pencapaian melebihi target, tapi jangan lupa untuk  berbagi. Seperti para perempuan itu berbagi berita kebangkitan dengan para rasul (ayat 10). Para rasul kala itu tidak percaya pada berita yang mereka sampaikan (ayat 11). Mereka lupa dengan apa yang pernah Yesus sampaikan, “ … yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga.” (ayat 7)

    Kristus sudah bangkit. Haleluya. Itulah kabar baik atau berita sukacita bagi setiap orang percaya sepanjang masa. Syukur kepada Allah yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Berita suka cita, kabar baik ini bukan hanya untuk Yesus, tetapi kabar baik bagi dunia, kabar baik bagi orang percaya dan kabar baik bagi kita di manapun kita berada.

    Ternyata kematian bukan akhir kehidupan Yesus. Demikian juga hidup kita tidak berakhir di kematian. Ada kehidupan dan ada kebangkitan bagi orang percaya. Yesus dengan  tegas bersabda, “… barangsiapa  percaya kepada-Ku, Ia akan hidup walaupun ia sudah mati” (Yohanes  11:25).

    Sahabat, kini di atas pundak setiap orang percaya ada satu tanggung jawab yaitu untuk menjadi saksi-saksi Kristus di tengah-tengah dunia ini, membawa kabar keselamatan dan memberitakan bahwa Yesus adalah Tuhan yang hidup. Selamat Paskah. (pg)

  • Jangan Gampang BERNAZAR

    Mungkin ada diantara kita begitu mendengar kata Nasar langsung pikirannya tertuju kepada penyanyi dangdut  terkenal:  Nassar Sungkar atau King Nassar. Maaf, kali ini saya tidak hendak membicarakan tentang penyanyi tersebut. Saya akan membicarakan tentang NAZAR yang berarti mengikat diri kepada suatu janji. Pemakaian nazar dalam Alkitab selalu menyebut nama Allah.

    Sahabat, bernazar bisa berupa janji untuk melaksanakan suatu tin­dakan atau menjauhkan diri dari suatu tindakan untuk memperoleh belas kasihan Allah. Biasanya nazar diucapkan dengan suara nyaring dan ikatannya sama kudusnya dengan sumpah.  Oleh karena itu, janganlah bernazar tanpa  mempertimbangkannya dengan sungguh-sungguh,  sebab orang yang bernazar harus memenuhi nazarnya, maka jangan gampang bernazar.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Jangan Gampang BERNAZAR”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Bilangan 30:1-16. Sahabat, sangat menarik, dalam bacaan kita pada hari ini  nazar laki-laki dan perempuan dibedakan. Ada pesan yang sangat kuat bahwa seorang perempuan bergantung pada laki-laki, apakah  itu ayahnya atau suaminya.

    Perihal nazar, Allah memerintahkan kepada umat-Nya bahwa setiap orang yang bernazar haruslah melakukan tepat seperti apa yang sudah diucapkannya. Seorang yang bernazar disebut sebagai nazir. Seorang nazir dilarang melanggar nazar yang diucapkannya di hadapan Allah. Seorang nazir yang melanggar nazarnya sama halnya dengan melanggar perintah Allah.

    Sahabat, pada saat itu bangsa Israel cenderung patriarkat. Tampaknya juga,  Allah menghendaki seorang ayah atau suami untuk memutuskan berlaku atau tidak berlakunya nazar yang diucapkan oleh anaknya perempuan atau istrinya. Jika ayah atau suami diam, maka nazar itu akan berlaku. Jika ayah atau suami melarang, maka nazar itu tidak berlaku dan Allah mengampuni anaknya perempuan atau istrinya yang telah bernazar.

    Sejauh ini kita berupaya memahami ketetapan Allah yang diberikan kepada umat-Nya. Kita menyadari bahwa nazar sangatlah penting bagi kehidupan iman kita dan perlu perhatian yang serius. Tuhan Yesus pernah menyinggung tentang nazar dalam khotbah-Nya di atas bukit. Yesus menekankan perihal melanggar sumpah atau nazar yang artinya sama dengan bersumpah palsu. Jadi, jauh lebih baik kita tidak bersumpah. Ketimbang bersumpah, jauh lebih baik bagi kita berkata benar

    Sahabat, ketetapan yang ada di Bilangan 30 merupakan peringatan bagi kita untuk berhati-hati dengan perkataan kita. Jangan sembarangan berucap. Pertimbangkan baik-baik ikrar atau janji yang kita ucapkan di hadapan Tuhan. Yakinkan diri bahwa kita sanggup menepatinya.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tolong bagikan pemahamanmu tentang nazar dan peringatan apa yang kamu dapatkan. Selamat sejenak merenung. Ingatlah, lebih baik tidak bernazar daripada kita bernazar tapi  tidak bisa menepatinya. (pg).

  • PERTUNJUKAN PERISTIWA KASIH

    Sahabat, sebelum kita melangkah lebih jauh untuk menjalani hari ini, mari kita coba merenungkan betapa besar kasih Tuhan dalam kehidupan kita!  Detik demi detik, jam demi jam, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun kasih Tuhan kepada kita tidak pernah berubah.  Sungguh, kita tak dapat menghitung  betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus  (Efesus 3:18). 

    Banyak cerita tentang cinta kasih yang ada di dunia ini, namun kesemuanya itu tidak bisa dibandingkan dengan kasih Tuhan.  Kasih Tuhan itu sangat jauh berbeda dari kasih lain yang ada di dunia ini. Maka tatkala pada hari ini kita memperingati Jumat Agung, sesungguhnya kita sedang memperingati  “Pertunjukan Peristiwa Kasih”.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “PERTUNJUKAN  PERISTIWA  KASIH”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Injil Lukas 23:44-49. Sahabat, tidak terhitung berapa banyak hinaan, pukulan, dan perlakuan keji yang Yesus terima hingga akhirnya Ia dipaku di atas salib. Itu semua tidak masuk akal. Mengapa Ia mau mengalami itu semua? Mari kita ingat kembali. Ketika hidup di bumi, Yesus pernah menyampaikan kepada para murid-Nya: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yohanes15:13). Semua penderitaan yang Yesus alami adalah realisasi kasih tersebut.

    Peristiwa penyaliban Yesus sesungguhnya menjadi peristiwa kasih yang melahirkan banyak peristiwa dan perubahan ajaib: Langit yang gelap karena mentari tidak bersinar, tabir Bait Suci terbelah dua, kepala pasukan memuliakan Allah, hingga orang banyak yang menyesali apa yang terjadi (ayat 44-48).

    Sahabat, orang-orang yang mengenal Yesus dari dekat serta para pengikut-Nya melihat dan menjadi saksi akan peristiwa kasih terbesar sepanjang masa (ayat 49) ketika Yesus menyerahkan nyawa-Nya (ayat 46). Karena kasih-Nya, Yesus telah mati untuk kita (bdk. Yohanes 3:16). Dengan lebih dalam, mari kita lihat dan resapi semua peristiwa itu, dan katakan: “Yesus, terima kasih untuk kasih-Mu”.

    Tatanan masyarakat kita sekarang ini sedang kering dengan cinta kasih. Semua orang sibuk dengan kepentingan dirinya sendiri. Di tengah kehidupan dunia yang dipenuhi oleh nilai-nilai egoisme dan individualisme ini, kita belum bisa memiliki kualitas kasih seperti Yesus.

    Sahabat, marilah kita memohon kepada-Nya agar kita bisa mengasihi sama seperti Ia mengasihi dunia dan umat manusia. Dengan demikian, kasih terbesar yang telah Ia lakukan dan tunjukkan tidak hanya terjadi di atas salib 2.000 tahun yang lalu, namun bisa terus tampak nyata sampai akhir zaman melalui diri kita.

    Dengan kualitas kasih seperti kasih Yesus, kita bisa mewujudkan habitat hidup yang lebih baik untuk seluruh umat manusia. Dan dengan kasih-Nya pula kita menebarkan kasih Yesus kepada dunia di sekitar kita hingga banyak orang merasakan kasih-Nya dan kemudian menjadi percaya.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah pemahamanmu tentang karakteristik kasih Tuhan kepada umat-Nya. Selamat sejenak merenung.  Ingatlah, tidak alasan bagi kita untuk meragukan kasih Tuhan dalam hidup kita. (pg).