Category: Sejenak Merenung

  • SALIB KEHIDUPAN: Sebuah Refleksi

    Sabtu Sunyi atau Sabtu Sepi atau Sabtu Suci (bahasa Latin : Sabbatum Sanctum – “Hari Sabat Suci”) adalah hari setelah Jumat Agung dan sebelum Minggu Paskah. Hari Sabtu Sunyi memperingati pada saat tubuh Yesus Kristus dibaringkan di kubur setelah pada hari Jumat Agung mati disalibkan. Keesokan harinya (Paskah) Yesus bangkit dari kematian-Nya.

    Perayaan Sabtu Sunyi umumnya dilaksanakan dalam keheningan, tentu tidak melulu soal kesedihan, melainkan refleksi dan evaluasi diri atas pengurbanan Kristus sampai mati dikubur. Sabtu Sunyi adalah keheningan yang menjembatani antara Jumat berdarah dengan Minggu bergelora, jembatan antara kematian Anak Domba dengan kebangkitan Mesias Yesus Kristus.

    Sahabat, salib jarang menjadi impian manusia. Bahkan salib merupakan hal yang ingin dihindari oleh setiap manusia. Mengapa? Karena salib dalam kehidupan manusia identik dengan penderitaan. Rasa sakit akibat penderitaan yang kita alami sering begitu dalam, dan itu tidak bisa hilang begitu saja. Hal itu merupakan sebuah realitas yang kita miliki karena kadang terkait dengan beberapa pengalaman hidup kita yang paling awal.

    Karena itu bukanlah hal yang mudah bagi kita untuk menerima, merangkul, memikul dan membawa salib hidup kita setiap hari. Kendati demikian, sebagai orang percaya, kita harus sadar bahwa yang menjadi hakikat panggilan hidup kita ialah untuk membawa penderitaan itu sebagai milik kita dan memasukkan rasa sakit kita ke dalam diri kita dan membiarkannya berbuah berkat di hati kita dan hati orang lain.

    Inilah yang Yesus maksudkan saat Ia meminta kita untuk memikul salib kita. Dia mendorong  kita untuk mengenal dan menerima penderitaan kita yang khusus dan percaya bahwa jalan menuju keselamatan terletak di dalamnya. Dengan mengambil salib berarti kita bersahabat dengan luka-luka kita dan membiarkan luka-luka itu mengungkapkan kebenaran pada kita. Hal demikian dapat terjadi jika kita bersandar pada salib Kristus. Kematian Yesus di kayu salib hendak mengatakan bahwa Yesus bukan hanya sekadar manusia, tetapi Ia adalah Tuhan yang merendahkan diri-Nya setara dengan manusia. Dialah Tuhan dan Penyelamat.

    Dalam kehidupan, ketika kita memandang salib, tentu terdapat beragam pikiran tentang salib itu. Namun, barangkali kita tak menyadari bahwa di dalam salib itu ada suatu kehidupan, dalam artian melalui salib itu, hidup kita diubah. Salib yang kita pasang di rumah bukan hanya sekadar simbol, tapi mempunyai makna yang dalam. Salib yang kita pasang itu menjadi sumber kehidupan. Karena dengan salib itu, kita mengenang akan sengsara dan wafat Kristus. Ingat juga bahwa berkat salib Kristus, kita diselamatkan. Hidup kita diubah. Meskipun perjalanan hidup kita penuh dengan derita (via dolorosa) tapi kalau perjalanan kita bersama Yesus, maka semuanya menjadi ringan.

    Sahabat,  Yesus bersabda,  “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Matius 11:28). Itu berarti salib merupakan sumber kehidupan dan kemuliaan. Salib sebagai salib kehidupan seharusnya menjadi sumber keselamatan kita. Salib Kristus sebagai salib kehidupan akan membawa kita kepada keselamatan. Oleh karena itu pandanglah salib Kristus sebagai salib kehidupan. Karena pada salib itulah terletak pengharapan dan keselamatan hidup kita. (pg)

  • Tetap BERBUAH di usia SENJA

    Sangat menarik Pemazmur menggambarkan orang benar akan bertunas seperti pohon korma. Pohon korma dapat hidup dan tumbuh secara ajaib di padang gurun.  Di padang yang kering dan berpasir itu biji korma yang ditanam tidak akan langsung bertumbuh ke atas, namun membutuhkan waktu yang cukup lama, bahkan bisa sampai bertahun-tahun.  Ternyata pada masa-masa itu biji korma akan bertumbuh ke bawah, mencari dan menuju kepada sumber air yang tersembunyi di bawahnya hingga biji itu semakin besar dan semakin kuat berakar ke dalam. 

    Bahkan sudah menjadi tradisi jika seorang petani menanam biji korma akan dengan sengaja menekan biji itu sedemikian rupa dengan menggunakan batu besar supaya biji itu makin terbenam ke dalam dan makin bertumbuh ke bawah, sehingga aman dari badai gurun yang sewaktu-waktu menerpa. 

    Pada saatnya, tunas korma itu akan menggulingkan batu yang menekannya, lalu bertumbuh ke atas dan tidak tergoyahkan meski ada badai sekalipun, karena akarnya telah kuat mengakar ke dalam, dan pada waktunya, tanaman korma itu akan menghasilkan buah dan terus berbuah sampai pada masa tuanya.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Tetap BERBUAH di usia SENJA”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 92:1-16 dengan penekanan pada ayat 13-16. Sahabat, dalam Mazmur 92 bangsa Israel mengungkapkan nyanyian syukur atas hari-hari yang penuh kebaikan dan berkat yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka. Allah adalah Raja di atas segala raja. Ia bertakhta. Menaikkan syukur dan pujian kepada Allah merupakan perbuatan yang dikehendaki Allah dari mulut umat-Nya.

    Ia adalah Allah. Karena itu, Ia layak menerima sujud sembah, pujian, hormat, dan kemuliaan. Pemazmur menyatakan semuanya ini lewat syair-syair yang dilantunkan. Mazmur ini mengajar kita bahwa memuji dan bersaksi atas pekerjaan Allah merupakan tindakan yang penting sebagai ekspresi iman yang sejati kepada Allah (ayat 6). Orang yang mengenal Allah adalah orang yang mengenal betapa besarnya pekerjaan Allah.

    Sahabat, pada bagian akhir, Pemazmur bersaksi bahwa orang benar akan bertunas seperti pohon korma. Mereka yang ditanam di bait Tuhan, akan bertunas di pelataran Allah. Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar (ayat 13-15).

    Adalah penting bagi kita untuk menyadari tujuan hidup kita di dunia secara umum, yaitu bekerja memberi buah. Tidak sedikit orang percaya yang lupa akan hal tersebut. Apa yang Dia perhatikan adalah buah yang kita hasilkan. Apakah kita sudah bertumbuh dengan subur dan menghasilkan banyak buah yang rasanya manis dan segar?

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, coba bagikan pemahamanmu, apa kaitannya antara orang benar akan bertunas seperti pohon korma dengan tetap berbuah di usia senja? Selamat sejenak merenung. Mari kita daraskan: “Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, untuk memberitakan, bahwa TUHAN itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya.” (ayat 15-16). (pg).

  • BERBAGI PERGUMULAN HIDUP

    Yesus itu Allah 100% dan Manusia 100%. Yesus sebagai manusia tentu butuh teman untuk berbagi ketika Dia sedang menghadapi pergumulan yang super amat sangat berat.

    Sahabat, sesungguhnya tidak mudah mengakui ketakutan dan kelemahan kita kepada orang lain, terlebih jika kita menduduki jabatan struktural yang tinggi. Kita akan berusaha terlihat tegar dan kuat, serta menyembunyikan berbagai kecemasan. Seolah-olah tak ada persoalan yang dapat menyentuh dan menjatuhkan kita. Kita kemudian menutup diri karena tidak ingin dinilai lemah, bahkan kerdil.

    Hari ini kita memasuki “Kamis Putih”, untuk itu saya ajak untuk lebih memahami topik tentang “BERBAGI PERGUMULAN HIDUP”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Matius 26:36-46 dengan penekanan pada ayat 38. Sahabat, setiba di Getsemani, Yesus menempatkan delapan murid-Nya untuk duduk agak jauh (ayat 36), tetapi Petrus, Yakobus, dan Yohanes diajak untuk menyertai-Nya berdoa (ayat 37). Sambil berbagi kesedihan-Nya yang sangat mendalam, Yesus meminta ketiga murid-Nya menemani-Nya berdoa sambil berjaga-jaga (ayat 38, 40, 41). Dalam doa-Nya, Yesus memohon agar cawan murka Allah tidak diminum-Nya. Namun, Ia tidak mau memaksakan kehendak-Nya, melainkan memasrahkan kepada kehendak Bapa apa yang terjadi atas diri-Nya (ayat 39).

    Ketika Yesus menemui ketiga murid-Nya, Ia menemukan mereka tertidur. Sekalipun gagal menemani-Nya dalam keadaan terjaga, kepada mereka Ia kembali meminta untuk menemani-Nya berdoa hanya satu jam saja (ayat 40), khususnya berdoa bagi pencobaan dari kelemahan kedagingan, yakni rasa kantuk (ayat 41).

    Sahabat, isi doa Yesus selanjutnya persis sama dengan yang pertama (ayat 42, 44). Dua kali pula Yesus mendapati ketiga murid-Nya tertidur (ayat 43, 45). Ironis, bagaimana mereka bisa siap siaga terhadap kehendak Bapa jika mereka tidak mampu mengalahkan rasa kantuk? (ayat 45). Akhirnya Yesus membangunkan dan mengajak mereka pergi sebab Sang Pengkhianat sudah datang (ayat 46).

    Tindakan Yesus ini menunjukkan bahwa sebagai manusia, mengalami ketakutan dan kesedihan itu sangat wajar. Memang kita tidak dianjurkan mengumbarnya kepada semua orang, tetapi membaginya dengan orang-orang tertentu yang diharapkan dapat memahami keadaan kita.

    Sahabat, para murid gagal memahami Yesus, mereka malah tertidur. Tetapi kehadiran mereka di dekat-Nya menjadi penguatan tersendiri bagi-Nya. Kiranya kita juga belajar membagikan pergumulan kita kepada orang lain, dan tidak menanggungnya sendirian, karena kita juga butuh topangan mereka.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami tentang berbagi pergumulan hidup?
    2. Kepada siapa saja biasanya kamu berbagi tentang pergumulan hidup yang sedang engkau hadapi?

    Selamat sejenak merenung. Ingatlah, membuka diri dapat membuat kita terlihat rentan dan lemah, tapi sekaligus dapat beroleh kekuatan karena dukungan dan doa mereka. (pg).

  • MEMFOKUSKAN diri untuk BERIBADAH

    Satu di antara hal tersulit dalam menjalani kehidupan adalah tetap fokus dan konsisten dengan tujuan hidup. Pada perjalanannya, pasti ada yang akan mengganjal. Terkadang, ada hal yang membuatmu ragu. Perasaan seperti itu bisa saja muncul karena kamu terlalu mendengarkan perkataan orang lain dan tidak fokus dengan apa yang sedang kamu lakukan.

    Sahabat, itulah mengapa kita perlu tetap fokus. Coba tetap fokus karena perkataan orang lain belum tentu cocok dan pas dengan situasi yang kamu hadapi maupun jalan hidup yang kamu pilih. Selain itu, tetaplah fokus pada hal yang kamu lakukan saat ini karena apabila terlalu fokus dengan hasil, kamu tidak akan pernah menikmati prosesnya.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “MEMFOKUSKAN diri untuk BERIBADAH”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Bilangan 28:16 – 29:40. Sahabat,  memfokuskan diri untuk beribadah kepada Allah tentu bukan hal yang mudah. Fokus ini dijabarkan dalam bacaan kita pada hari ini, khususnya mengenai berbagai aturan ibadah pada hari-hari suci. Setidaknya dicatat ada lima hari suci, yaitu: Paskah, Pentakosta, Tahun Baru, Hari Penebus Dosa, dan Pesta Pondok Daun.

    Hal yang menarik dari kelima hari suci tersebut adalah perintah agar umat tidak bekerja atau melakukan pekerjaan berat. Pada pesta Paskah, hari pertama dan ketujuh minggu itu adalah hari suci bagi umat dan mereka tidak diperkenankan bekerja (Bilangan 28:18, 25). Pada hari Pentakosta (hari hulu hasil), selain mempersembahkan hasil panen gandum pertama, umat juga tidak boleh bekerja (Bilangan 28:26).

    Pada Tahun Baru, hari pertama merupakan hari peniupan serunai sehingga umat tidak boleh bekerja (Bilangan 29:1). Pada hari Penebus Dosa, umat diperintahkan untuk merendahkan diri dengan berpuasa. Untuk itu, umat juga tidak diperbolehkan bekerja (Bilangan 29:7). Pada Pesta Pondok Daun, umat harus mengadakan perayaan bagi Tuhan selama 7 hari, sehingga pada hari pertama dan kedelapan umat tidak boleh bekerja (Bilangan 29:12, 35).

    Sahabat, semua itu menunjukkan pentingnya tidak bekerja pada setiap hari suci. Pentingnya umat memfokuskan diri untuk beribadah.  Pertemuan antara Tuhan dan umat Israel adalah pertemuan yang kudus. Karena itu, tidak ada satu pun hal yang boleh mengganggunya, termasuk pekerjaan sehari-hari mereka.

    Betapa pentingnya bagi umat Tuhan dapat memfokuskan segenap pikiran dan waktu mereka hanya untuk Allah.

    Sahabat, di tengah kesibukan, marilah kita bertekad menjaga fokus hidup, terutama ketika tiba hari yang kita khususkan untuk Tuhan. Terkadang kita terlalu sibuk dengan pekerjaan dan aktivitas sehingga tidak sungguh-sungguh berfokus dalam beribadah. Mari kita mulai sungguh-sungguh memberikan yang terbaik ketika beribadah kepada Tuhan, tidak hanya dalam hal materi, tetapi juga dalam hal waktu dan pikiran.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah pemahamanmu tentang mengfokuskan diri untuk beribadah. Selamat sejenak merenung. Ingatlah, perjumpaan kita dengan Tuhan adalah di dalam pertemuan ibadah yang kudus. (pg). 

  • Kala AKU TAKUT

    Pernahkah Anda merasa takut untuk berjuang menjalani hidup, terlebih ketika sedang menghadapi berbagai masalah yang pelik? Sebagai manusia, rasa takut itu tentulah yang wajar. Namun, ketika sedang menghadapi pergumulan yang berat, kita sering kali tidak dapat mengendalikan rasa takut kita sehingga tetap dapat melihat secuil harapan. Kita justru terkurung pada rasa takut itu, akibatnya merasa bahwa harapan kita telah sirna. 

    Sahabat, sesungguhnya tidak ada manusia yang bebas dari masalah, dan pengalaman merupakan guru terbaik. Pengalaman hidup mengajarkan kepada manusia bahwa ketakutan tidak dapat meniadakan masalah. Jika ada masalah, kita tidak harus menghindar atau melarikan diri. Sebaiknya, kita menghadapi setiap masalah dengan tenang sembari mencari solusinya. Maka ketika kita takut, itulah saatnya kita perlu semakin mendekatkan diri kepada Tuhan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Kala AKU TAKUT”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 91:1-16. Sahabat, Kitab Mazmur adalah nyanyian, pujian, dan ungkapan bangsa Israel yang dilantunkan dalam bentuk syair kepada Allah. Orang-orang Yahudi kebanyakan menggunakan mazmur dalam ibadah mereka (bnd. 1 Korintus 14:26; Efesus 5:19; Kolose 3:16). Isi mazmur menyatakan pujian manusia kepada pribadi dan karya Tuhan.

    Karena itu, dalam mazmur kita bisa melihat berbagai macam ekspresi dan perasaan yang mendalam tentang pernyataan kekuasaan Allah, kemegahan Allah, pertolongan Allah, dan sebagainya. Di sini dapat disimpulkan bahwa Allah adalah satu-satunya tempat pertolongan bagi bangsa Israel untuk mengadu dan bersandar saat mereka menghadapi kesulitan.

    Sahabat, Mazmur 91 merupakan ungkapan pengharapan kepada Allah pada saat bangsa Israel mengalami ketakutan. Mereka menaikkan pujian dan pengharapan kepada Allah. Pengharapan mereka teguh dan pasti karena bagi mereka Tuhan adalah “Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku” (ayat 2).

    Pemazmur percaya Allah akan membentangkan sayap-Nya untuk menudungi dan melindungi dari musuh. Umat-Nya tidak perlu takut dengan kedahsyatan malam, panah di waktu siang, terhadap penyakit, terhadap seribu orang bahkan sepuluh ribu orang, terhadap malapetaka dan tulah, antukan batu, dan terhadap singa dan ular tedung yang mengerikan (ayat 5-13). Kesetiaan-Nya ialah perisai dan pagar tembok. Pemazmur menggambarkan betapa penyertaan Tuhan sungguh-sungguh sempurna sehingga umat tidak perlu takut apa pun. Allah menjamin bahwa umat-Nya akan dikasihi dan diluputkan dari semua yang mereka takutkan.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang engkau pahami tentang ketakutan?
    2. Apa dampaknya jika ketakutan sampai membelenggu hidupmu?
    3. Apa yang harus engkau kerjakan ketika ketakutan menghampirimu?

    Selamat sejenak merenung. Ingatlah, bersama Tuhan kita cakap menanggung segala sesuatunya. (pg)

  • PUASA: Lebih Memahami Kehendak Allah

    Dalam Kitab Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB) kita menemui beberapa macam PUASA: Ada Puasa Musa, Daud, Elia, Ester, Ayub, Daniel, Yunus, Niniwe, Yesus, Yohanes Pembaptis, Paulus, dan lain-lainnya.

    Sahabat, kadang program atau kegiatan  doa dan puasa memicu pro dan kontra di  suatu gereja. Beberapa orang berpendapat bahwa puasa adalah hal yang tidak perlu dilakukan oleh orang percaya. Mereka beranggapan bahwa berpuasa itu sama dengan memaksa Allah untuk mengabulkan sesuatu. Sementara sebagian lainnya percaya, walaupun sebagai orang percaya kita sudah ditebus, puasa adalah jalan untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Saat berpuasa, kita menjauhkan diri untuk sementara waktu dari hal-hal jasmani yang selama ini mencuri waktu bersama Tuhan. Manakah pandangan yang tepat? Sesungguhnya puasa merupakan waktu yang kita khususkan untuk lebih memahami kehendak Allah.

    Hari ini kita memasuki Rabu Abu, untuk itu mari kita lebih memahami topik tentang: “PUASA: Lebih Memahami Kehendak Allah”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yesaya 58:1-12, dengan penekanan pada ayat 11. Sahabat, dalam kitab Yesaya, Tuhan sendiri menentang puasa yang selama ini dilakukan oleh umat-Nya karena mereka melakukannya tidak dengan tulus.

    Mereka tetap menindas yang lemah (ayat 3), mereka tetap berselisih paham dan berkelahi (ayat 4). Tentu saja bukanlah hal demikian yang dikehendaki Allah. Apa gunanya berpuasa sambil tetap melakukan hal-hal tercela! Allah tidak melihat puasa kita, namun niat di baliknya. Apakah ada roti bagi yang lapar, kemerdekaan bagi yang terjajah, dan pakaian bagi yang telanjang?

    Sahabat, tidak ada yang salah dengan keinginan untuk berpuasa. Bahkan Yesus sendiri pun melakukan puasa untuk lebih memahami kehendak Allah. Dan tujuan yang benar tersebut memampukan-Nya untuk melawan Iblis yang menggoda. Hendaknya keputusan kita untuk melakukan puasa didasarkan pada kerinduan untuk menjadi semakin dekat dengan Dia yang kita kasihi, tanpa “ada udang di balik batu” yang mengiringi.

    Allah menghendaki puasa yang membebaskan mereka dari belenggu kelaliman supaya mereka menjadi orang-orang yang rendah hati. Allah menghendaki ibadah yang membawa perubahan diri dan berdampak nyata dalam kehidupan umat, karena saat itulah umat menjadi terang dan berkat bagi orang lain.

    Ibadah yang Allah kehendaki adalah ibadah yang berorientasi kepada kepentingan Allah dan pengenalan yang benar akan kehendak-Nya, bukan kepada kepentingan diri sendiri.

    Hakikat ibadah adalah mengalami perjumpaan yang dalam dan indah dengan Tuhan baik dalam ritual ibadah maupun dalam praktiknya setiap hari. Itulah bentuk kesalehan dan ibadah kita yang sejati, yang Tuhan inginkan terwujud di dalam hidup kita sebagai umat-Nya. 

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah pemahamanmu tentang puasa dan model (bentuk) puasa yang engkau lakukan selama ini. Selamat sejenak merenung. Ingatlah, puasa adalah kesempatan untuk memahami kehendak Allah, bukan kesempatan untuk memaksakan kehendak kita kepada Tuhan. (pg)

  • PERSEMBAHKAN yang TERBAIK

    Pada waktu ulang tahun pernikahan ke-50 Bapak Andreas Christanday dengan Ibu Maria Susilowati pada 22 Maret 2022, kami berusaha membuat kartu ucapan untuk mereka yang apik, menarik, ada sentuhan personal, dan mempunyai makna yang dalam. Mengingat Pak Andreas dan Bu Maria menjadi teladan dan panutan kami. Kami ingin memberikan yang terbaik di momen ulang tahun pernikahan emas mereka.

    Kalau untuk orang yang kita hormati saja kita berusaha memberikan yang terbaik, apalagi untuk Tuhan. Kita wajib mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan. Karena itu  Hukum Taurat mengatur persembahan kepada Tuhan begitu detail.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “PERSEMBAHAN yang TERBAIK”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Bilangan 28:1-15. Sahabat, pemberian seperti apa yang diperkenan Allah? Pernahkah kita memikirkannya? Dalam ibadah kepada Allah, bangsa Israel memiliki berbagai aturan yang berkaitan dengan kurban. Kitab Bilangan  28-29 memuat peraturan untuk kurban yang harus dipersembahkan umat di Tanah Perjanjian.

    Kurban tersebut dapat dibagi dalam beberapa jenis. Pertama, kurban umum berupa kurban makanan yang setiap pagi dan sore hari harus dipersembahkan kepada Allah (ayat 2-8). Kedua, kurban pada hari Sabat yang dipersembahkan tiap minggu dalam ibadah kepada Allah (ayat 9-10). Ketiga, kurban pada pesta bulan baru yang dipersembahkan tiap bulan pertama dalam menyambut tahun baru (ayat 11-14).

    Ketiga kurban tersebut melibatkan kurban bakaran (domba jantan, lembu jantan, dan domba yang tak bercela); kurban sajian (tepung yang terbaik); serta kurban curahan (minuman yang memabukkan atau anggur). Semuanya harus dicurahkan di tempat yang kudus bagi Tuhan.

    Kurban seperti itulah yang disebut sebagai kurban api-apian/bakaran yang baunya menyenangkan Tuhan (Ayat 2, 13). Bangsa Israel tidak boleh mempersembahkan hal-hal yang lain. Apa yang disajikan ini menunjukkan bahwa Allah menghendaki persembahan yang terbaik dari umat-Nya.

    Sahabat, sekalipun kita tidak lagi mengadakan kurban seperti bangsa Israel, kita perlu melihat persembahan kita selama ini. Sudahkah kita memberikan yang terbaik kepada Allah? Ataukah, kita hanya memberikan sisa-sisa atau ala kadarnya bagi Allah?

    Allah telah memberikan banyak berkat kepada kita, dari anugerah keselamatan hingga berkat pemeliharaan tiap hari. Dibandingkan dengan pemberian Allah, tidak ada yang terlalu besar untuk dipersembahkankan kepada Allah.

    Sahabat, saat ini, kita tidak perlu lagi mempersembahkan binatang karena Yesus Kristus telah menjadi kurban tebusan yang membebaskan kita dari segala dosa. Namun Rasul Paulus mengajar kita supaya memberikan diri sebagai  persembahan bagi Tuhan. Persembahan yang hidup, yang kudus, yang berkenan kepada-Nya (Roma 12:1).

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagaimana Sahabat memaknai pesan Rasul Paulus dalam Roma 12:1 tersebut? Selamat sejenak merenung. Ingatlah, kualitas persembahan kita menunjukkan besarnya rasa hormat kita kepada Tuhan. (pg)

  • MENGHITUNG HARI

    Ada ungkapan yang menyatakan: Manusia adalah makhluk yang serba terbatas. Ungkapan tersebut benar adanya. Mulai dari umur, kekuatan, kesehatan, keuangan, dan beberapa hal lainnya kita memang terbatas. Meski begitu, terbatas itu baik kalau disikapi dengan cara yang benar. Kita  menjadi pribadi yang bijak,  yang menggunakan segala sesuatu yang Tuhan percayakan kepada kita dengan sebaik mungkin.

    Sahabat, dengan menyadari keterbatasan kita sebagai manusia, kita diajak untuk menghitung hari-hari kita dengan bijakasana. Kita diajak untuk menggunakan setiap kesempatan yang  masih Tuhan anugerahkan kepada kita dengan sebaik-baiknya karena tidak ada seorang manusia pun yang tahu kapan batas hidupnya di muka bumi ini.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “MENGHITUNG HARI”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 90:1-17, dengan penekanan pada ayat 12. Sahabat, Musa meminta kepada Tuhan agar diajari menghitung hari-hari hidup dirinya dan juga bangsanya Israel. Betapa pentingnya permintaannya ini karena dengan bisa menghitung hari-hari membuat orang menjadi bijaksana.

    Sahabat, kata menghitung dari kata Ibrani manah yang artinya: Menghitung; mempersiapkan;  dan mendaftarkan. Orang percaya harus memperhitungkan atau memperkirakan bahwa umur hidupnya ada batasnya,  70 sampai 80 tahun. Memang ada juga orang yang bisa punya usia lebih panjang dari 80 tahun,  tetapi tetap terbatas. Jika kita memahami bahwa ada batas umur hidup kita maka kita akan mempersiapkan dengan sebaik mungkin karena dibalik kematian ada kehidupan kekal. 

    Musa dalam doanya kepada Tuhan menunjukkan bahwa dalam segala keterbatasan manusia, kita harus mengucap syukur atas segala kebaikan Tuhan selama kita hidup. Kita diajar untuk menghitung hari-hari, sehingga memperoleh hati yang bijaksana.

    Sahabat, sesungguhnya setiap hari adalah hari baru dan satu hari hanya dapat kita jalani satu kali saja. Kemudian hari tersebut berganti dengan hari berikutnya yang sama lamanya namun berbeda keadaannya. Hari yang telah kita lalui itu sudah menjadi masa lalu dan tinggal kenangan; hari ini merupakan kesempatan, sedangkan hari-hari yang akan datang menjadi suatu pengharapan bagi kita.

    Karena begitu berharganya waktu, Musa berdoa kepada Tuhan agar ia diberi hati yang bijaksana sehingga dapat memperhatikan hari demi hari dengan sungguh-sungguh, supaya tidak ada satu hari pun yang terlewatkan dengan begitu saja. Begitu juga kita yang telah dikaruniai Tuhan dengan banyak talenta, pastilah kita tidak akan merelakan waktu berlalu begitu saja sebab kita tidak tahu apakah tersedia hari esok bagi  kita.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tolong bagikan bagaimana responsmu ketika kamu mengetahui bahwa waktu yang kita jalani ini sedang bergerak menuju kekekalan, dan hidup yang kita jalani sekarang ini memiliki dampak ke kekekalan. Selamat sejenak merenung. Semoga keterbatasan membuat kita benar-benar menghargai kehidupan yang Tuhan beri. (pg).

  • SUDAH DUDUK LUPA BERDIRI

    Suksesi kepemimpinan adalah proses pemindahan jabatan dari satu generasi ke generasi lainnya untuk memimpin suatu kelompok atau organisasi dengan tujuan agar kepemimpinan bisa terus berjalan.

    Sedangkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI) memberikan definisi: Suksesi yaitu  penggantian (terutama di lingkungan pimpinan tertinggi negara) karena pewarisan; dan  proses pergantian kepemimpinan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

    Sahabat, dalam setiap pemerintahan, peristiwa ini lazim terjadi dengan berbagai cara. Ada sistem yang melakukan suksesi per lima tahun sekali. Dalam sistem kerajaan, tampuk kepemimpinan berikut diberikan kepada keturunan raja. Namun, ada juga pergantian dengan tiba-tiba karena rakyat menuntut demikian. Dalam kenyataan di lapangan suksesi kepemimpinan tidak mudah dilaksanakan karena kalau sudah duduk lupa berdiri.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “SUDAH DUDUK LUPA BERDIRI”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Bilangan 27:12-23. Sahabat, berbagai persiapan dilakukan untuk memasuki tanah Kanaan, termasuk memilih pemimpin untuk menggantikan Musa. Allah telah menyatakan bahwa Musa akan mati sebelum memasuki tanah itu (Bilangan 20:12). Meski demikian, Allah memberi kesempatan kepada hamba-Nya itu untuk melihat Tanah Perjanjian dari Gunung Nebo (Ulangan 32:48-52).

    Reaksi Musa saat mendengar pemberitahuan Tuhan mengenai kematiannya cukup mengagumkan. Ia tidak panik seperti Raja Saul (1 Samuel 28:20), atau berdoa agar diberikan hidup lebih lama seperti Raja Hizkia (2 Raja-raja 20:1-3). Yang ia doakan adalah kesejahteraan Israel, bangsanya yang sering membuat dia  bersedih.

    Banyak pemimpin yang memilih dan mempersiapkan orang yang akan menggantikan tempatnya, tetapi Musa menyerahkan hal ini kepada Allah. Hal ini memperlihatkan penundukan dirinya ke bawah kedaulatan Allah atas Israel. Lalu Allah memilih Yosua, seorang yang penuh roh (ayat 18), yang telah melayani Musa selama bertahun-tahun (Keluaran 24:13). Musa kemudian melantik Yosua dengan menumpangkan tangannya atas Yosua (ayat 22-23). Pelantikan yang dilakukan di depan seluruh umat ini penting agar seluruh bangsa mengetahui bahwa Yosualah yang akan menjadi pemimpin untuk menggantikan Musa. Implikasinya, mereka harus mengikuti dan mematuhi kepemimpinan Yosua.

    Sahabat, betapa mulus proses penyerahan tongkat estafet kepemimpinan dari Musa kepada Yosua. Mari kita belajar dan meneladani Musa. Semoga kita tidak menjadi pemimpin yang kalau sudah duduk lupa untuk berdiri.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaam kita pada hari ini, tolong bagikan pengalamanmu tentang suksesi kepemimpinan di gerejamu atau lembaga gerejawi dimana kamu terlibat di dalamnya. Selamat sejenak merenung. Tuhan menolong dan memberkati. (pg)

  • TUHAN SETIA pada janji-Nya

    Burung merpati sering dipakai sebagai simbol kesetiaan karena burung itu dikenal sebagai burung monogami. Sekalipun ia (burung merpati jantan) terbang tinggi, bila melihat pasangannya ada di bawah, pasti ia akan segera meluncur turun. Bahkan, ketika di sekitarnya ada banyak burung betina yang lain, ia tidak akan pernah salah memilih pasangannya.

    Sahabat, seseorang akan disebut setia pada janji ketika janji itu ditepati. Faktanya, ada cukup banyak orang mengingkari janjinya dan hal itu membuat kita kecewa. Bahkan, ada cukup banyak juga pasangan suami istri yang berjanji sehidup semati tidak menepatinya ketika ada tantangan. Bagaimana dengan janji setia Tuhan kepada umat-Nya? Tuhan itu setia pada janji-Nya.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “TUHAN SETIA pada janji-Nya” Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 89:1-19. Sahabat, Mazmur 89 diawali dengan sebuah keyakinan akan kasih setia Tuhan. Pemazmur hendak menyaksikannya turun-temurun. Kasih setia Tuhan itu adalah janji Tuhan kepada Daud bahwa Dia akan menegakkan kerajaan Daud selamanya (bnd. 2 Samuel 7:8-16). Janji Tuhan tersebut telah melewati berbagai tantangan dan melampaui zaman, namun Tuhan tidak pernah lupa akan janji-Nya.

    Isi perjanjian itu adalah Tuhan menjadi Allah Israel dan menjamin kehidupan umat-Nya, sedangkan bangsa Israel menjadi umat pilihan-Nya. Jaminan Tuhan kepada Israel dinyatakan-Nya melalui Daud sebagai raja yang diurapi. Karena itu, seorang raja wajib melaksanakan titah Tuhan dengan cara menyejahterakan rakyatnya.

    Sahabat, dalam konteks ikatan perjanjian, umat Israel mengenal istilah “raja imam”, yaitu seorang raja menjadi jembatan penghubung antara Tuhan dan umat-Nya. Artinya, raja mewakili umat di hadapan Tuhan dan menjadi wakil Tuhan di hadapan umat. Segala pola pikir dan perilaku raja menjadi sorotan, baik bagi umat maupun Tuhan. Jika rajanya jahat, maka perilaku rakyatnya cenderung menyimpang. Jika rajanya setia, maka rakyatnya akan dibimbing hidup dalam takut akan Allah. Kekuasaan raja seharusnya dipakai untuk memperlihatkan kesetiaan Tuhan (ayat 6) yang melindungi umat-Nya dari kekuatan yang mengancam (ayat 10-11) dan menjamin terwujudnya keadilan yang merata bagi semua (ayat 15 dan  17).

    Kalau seorang raja menjalankan kehendak Allah dan memelihara ikatan perjanjian-Nya, maka Tuhan menjamin tahta dan keturunannya (ayat 5). Sebaliknya, jika raja tidak menjalankan misi Allah, maka kekuasaannya dicabut oleh Allah. Karena itu, segala hukum dan rencana Allah wajib dijalankan seorang raja dengan bertanggungjawab untuk menyejahterakan umat dan memuliakan nama-Nya.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tolong bagikan pemahamanmu, kita sebagai imamat yang rajani, apa yang perlu dihadirkan oleh setiap orang percaya  dalam dunia ini? Selamat sejenak merenung.  Mari kita berdoa: “Bapa, aku  berterima kasih untuk janji setia-Mu yang tidak pernah berkesudahan dalam hidupku.” (pg).