Category: Sejenak Merenung

  • Tidak Ada JANJI yang TIDAK Ditepati-Nya

    Kristus naik ke surga adalah bukti bahwa tidak ada janji yang tidak ditepati-Nya! Sahabat, sangat menarik Mazmur 110 yang menjadi Bacaan Sabda pada hari ini merupakan nubuatan tentang Kristus yang telah dinaikkan dan dipermuliakan oleh Bapa. 

    Kristus perlu naik ke surga, karena pekerjaan-Nya belum selesai pada waktu Ia bangkit dari antara orang mati, karena itu Ia harus duduk di sebelah kanan Bapa dan dari situlah Ia akan mencurahkan karunia-karunia kepada kepada orang percaya, teristimewa karunia Roh Kudus,  “Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.”  (Yohanes 16:7).

    Sahabat, coba perhatikan, Mazmur 110 dikutip beberapa kali oleh penulis Injil Matius, Markus, dan Lukas. Para penulis Injil mengutipnya dalam rangka menjelaskan hubungan Daud dan Mesias. Selain mengutip, penulis Injil tersebut memperlihatkan bahwa Yesuslah yang mengutip kembali kata-kata Daud untuk menjelaskan identitas diri-Nya kepada orang-orang Farisi (Perhatikan:  Matius  22:44; Markus 12:36; dan Lukas 20:42).

    Mazmur 110 berbicara tentang Mesias yang dinubuatkan dan dijanjikan oleh Allah bagi manusia. Gambaran yang Daud berikan masih bersifat bayang-bayang pada masa yang akan datang. Saat Yesus mengutip bagian ini, figur Mesias tersebut dikenakan kepada diri-Nya yang adalah Anak Manusia.

    Dalam Perjanjian Baru, berkali-kali disebutkan bahwa Anak Manusia sebagai orang yang duduk di sebelah kanan Allah yang Mahakuasa (Lukas  22:69; Markus 16:19). Bahkan Allah bersumpah bahwa Ia tidak menyesal mengangkat Anak Manusia sebagai Imam Besar Agung menurut aturan Melkisedek (ayat 4; bdk. Ibrani 4:14-15; 5:10). Apa artinya Allah bersumpah?

    Ketika Allah bersumpah, maka sumpah itu jangan dipahami sekadar pemenuhan janji yang mengikat, tetapi juga dilihat sebagai meterai yang mengesahkan sumpah tersebut (Ibrani  6:20).

    Sebab itu, menanti pemenuhan sebuah janji bukan hal yang mudah, apalagi pemenuhan janji Tuhan. Masalahnya, kita terkadang menilai pemenuhannya tersebut berdasarkan keinginan kita belaka. Hal inilah yang dilakukan oleh para agamawan Yahudi, yaitu mendikte apa dan bagaimana yang harus dilakukan oleh seorang Mesias. Yang terjadi adalah kebutaan rohani karena Mesias yang ditunggu-tunggu ada di hadapan mereka, namun mereka sama sekali tidak melihatnya.

    Sahabat, cepat atau lambat janji Allah pasti digenapi. Dalam janji-Nya, kita menemukan harapan dan kekuatan untuk teguh menjalani kehidupan, sekalipun dihadang oleh berbagai persoalan. Apa pun masalahnya, hendaknya kita tidak putus asa terhadap janji Allah. Jangan biarkan kesulitan menjadi hambatan bagi kita membuktikan terwujudnya janji-Nya dalam kehidupan kita.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Ayat ke berapa yang paling banyak dikutip dalam Injil?
    2. Dalam ayat 4 disebutkan bahwa Tuhan bersumpah. Apa artinya?
    3. Dalam ayat 5 dan 6, siapa saja yang dimusnahkan oleh Tuhan?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan menolong dan memberkati. (pg)

  • HIDUP dalam DAMAI dan saling MENGHORMATI

    Sahabat, pengalaman saya bercerita bahwa untuk mengikuti program “Pembacaan Alkitab Dalam Satu Tahun” banyak tantangannya. Salah satu tantangan yang dapat menjadi penghambat besar ketika kita sampai pada pasal atau bagian yang mencatat atau bercerita tentang silsilah.

    Salah satu contoh nyata, pada hari ini Bacaan Sabda kita sampai di Kejadian 10:1-32. Ketika kita membaca Kejadian 10,  kita akan  menemukan banyak nama-nama yang asing, susah dieja, dan cenderung membosankan. Mungkin ada diantara Sahabat,  ketika mulai membacanya,  ada satu keinginan untuk melewati saja Kejadian 10.

    Bagi saya,  Kejadian 10 itu membuat saya semakin serius berdoa, minta pewahyuan dari Tuhan, minta pencerahan dari Roh Kudus:   “Pengajaran apa yang bisa saya sampaikan kepada para Sahabat?” Akhirnya Roh Kudus berbicara agar saya menyampaikan: Hidup dalam damai dan saling menghormati.  

    Sahabat, dari Kejadian 10:1-32. Kita dapat menemukan daftar keturunan Sem, Ham, dan Yafet (ayat 1-10). Dari silsilah tersebut, terlihat jelas bagaimana keturunan Nuh tersebar ke segala penjuru dunia. Bukan hanya itu, keturunan Nuh juga membentuk peradaban. Contohnya, keturunan Yafet menjadi bangsa yang tinggal di daerah pesisir (ayat 5); keturunan Ham menjadi bangsa di Sinear (ayat 10), Asyur (ayat 11), dan Kanaan (ayat 18); keturunan Sem menjadi bangsa yang menguasai wilayah Mesa, Sefar, sampai daerah pegunungan sebelah Timur (ayat 30).

    Sahabat, sesungguhnya silsilah tersebut menunjukkan terpenuhinya tugas yang Tuhan berikan kepada manusia, yaitu beranak cucu dan memenuhi bumi. Tersebarnya manusia ke berbagai wilayah merupakan efek dari pemeliharaan Allah pada setiap bangsa. Karena itu, Allah Pencipta adalah Penguasa tunggal atas kehidupan bangsa-bangsa di dunia. Gambaran silsilah itu juga memperlihatkan bahwa keturunan Nuh menjadi cikal bakal berbagai suku bangsa di Asia, Eropa, dan Afrika.

    Sahabat, di satu sisi, bertambahnya populasi manusia dan banyaknya daerah yang dikuasai manusia merupakan hal baik. Tetapi di sisi lain, semakin banyak manusia, semakin besar pula konflik yang akan terjadi. Setiap orang, bangsa, dan suku,  saling bersaing untuk menguasai satu sama lain. Mereka ingin menunjukkan siapakah yang terkuat dan terhebat di antara mereka. Bagi bangsa Israel, pemikiran itu berasal dari keyakinan bahwa mereka adalah bangsa pilihan Allah.

    Pemikiran seperti itu sangat keliru. Sebab Allah memberikan mandat-Nya bukan hanya kepada Israel, tetapi juga kepada semua bangsa, yaitu menguasai, memberdayakan, dan memelihara bumi. Mandat Allah menjadi tanggung jawab bersama. Memahami hal ini seharusnya setiap bangsa saling menghormati dan bekerja sama.

    Sahabat, marilah kita hidup dalam damai dan saling menghormati satu sama lain. Sebab, Allah tidak membeda-bedakan kasih-Nya terhadap siapa pun. Ia mengasihi segenap ciptaan-Nya. Mengasihi Allah berarti mengasihi semua bangsa di muka bumi. 

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tolong sampaikan usulanmu: “Program atau kegiatan apa yang perlu dikerjakan gerejamu agar kita sebagai komunitas orang percaya dapat menjadi pelopor dalam gerakan masyarakat yang cinta damai dan hidup saling menghormati?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan Yesus menolong dan memberkati. (pg)

  • PERGI untuk KEMBALI

    Lagu ciptaan Minggus Tahitoe: “Pergi untuk Kembali, ” pernah dibawakan oleh beberapa penyanyi dalam berbagai versi, seperti versi Broery Marantika, Melly Goeslaw, dan Diana Nasution. Yang terakhir dinyanyikan oleh Marcello Tahitoe (Ello).

    Lagu tersebut telah populer sejak dekade 70-an dan 80-an, dan seolah menjadi lagu wajib momen perpisahan. Lagu tersebut menceritakan perpisahan sepasang kekasih. Sang kekasih berjanji untuk kembali lagi setelah ia pergi. Tetapi adakah yang bisa menjamin janji manusia akan ditepati?

    Kalau manusia yang berjanji, belum tentu ditepati, hanya Tuhan kalau janji pasti ditepati dan digenapi. Yesus, Tuhan, Dia berjanji pergi untuk kembali. Pasti itu akan terjadi.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “PERGI untuk KEMBALI”, Bacaan Sabda pada hari ini  saya ambil dari Kisah Para Rasul 1:6-11 dengan penekanan pada ayat 11. Sahabat,  bacaan kita pada hari ini mencatat bahwa  suatu ketika Yesus akan datang kembali.

    Namun, sebelum kedatangan-Nya kembali, Yesus berjanji akan mengutus Roh Kudus turun ke atas para murid sehingga mereka memiliki kuasa untuk menjadi saksi-Nya mulai dari Yerusalem hingga ke seluruh Yudea dan Samaria, bahkan sampai ke ujung bumi (ayat 8). Jelas bahwa kunci keberhasilan para murid dalam memenuhi Amanat Agung Tuhan Yesus adalah kuasa dan penyertaan Roh Kudus.

    Setelah Yesus naik ke surga dengan disaksikan murid-murid-Nya, tiba-tiba berdirilah dua orang berpakaian putih, perwujudan dari malaikat, yang mengingatkan bahwa Yesus yang terangkat ke surga akan datang kembali dengan cara yang serupa (ayat 11).

    Dengan kenaikan Tuhan Yesus ke surga ada jaminan keselamatan dan hidup kekal bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya.  Artinya surga bukan sekadar impian, angan-angan atau pengharapan kosong, melainkan sesuatu yang pasti, karena Tuhan telah menyediakannya bagi kita;  sebab Ia mau di mana Ia berada di situ pula kita akan berada.  Dunia ini adalah tempat persinggahan sementara, bukan tempat tinggal kita secara permanen.  Rumah atau tempat tinggal kita yang sesungguhnya adalah surga,  “Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, …”  (Filipi 3:20).

    Sahabat, selain itu peristiwa Kenaikan Yesus memiliki makna khusus yang berkaitan dengan kedatangan-Nya yang kedua kali. Kenaikan meneguhkan dan menjamin kedatangan-Nya kembali suatu hari nanti. Menurut sebagian penafsir Alkitab, kenaikan Kristus merupakan akhir karya Kristus di bumi, dan sekaligus permulaan sejarah gereja yang berlangsung hingga Kristus datang kembali.

    Marilah kita selalu mengingat, bersyukur, dan berjaga-jaga menantikan kedatangan Kristus yang kedua kali. Sepanjang penantian itu, kita melaksanakan Amanat Agung, yaitu bersaksi akan karya keselamatan-Nya.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa tujuan Tuhan Yesus naik ke surga (Yohanes 14:18 dan Yohanes 16:7)?
    2. Apa makna kenaikan Tuhan Yesus ke surga (Kisah Para Rasul 4:12)?

    Selamat Sejenak Merenung. Ingatlah: Menunggu kedatangan kembali Kristus bukan dengan pasif, melainkan dengan cara aktif bersaksi tentang karya keselamatan-Nya. (pg)

  • OUR GOD is the GOD of SECOND CHANCE

    Sahabat, ada sebuah ungkapan dalam bahasa Inggris yang mengatakan: Our God is the God of second chance. Begitu panjang sabar dan kasih setia Tuhan, sehingga Dia terus berulang-ulang memberikan kita kesempatan demi kesempatan untuk berubah, berbalik dari jalan-jalan yang sesat untuk kembali ke jalan Tuhan.

    Alkitab mencatat begitu banyak kisah mengenai pertobatan, pengampunan dan pemulihan. Apa persamaan dari Yunus, Daud, Petrus, dan Paulus? Semua nama tersebut sama-sama memperoleh kesempatan kedua, dan mereka mempergunakannya dengan baik. Sesungguhnya bukan hanya 4 nama tersebut, karena ada banyak kisah dimana Tuhan menunjukkan kesabarannya dengan memberi kesempatan berulang kali.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “OUR GOD is the GOD of SECOND CHANCE”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 9:1-17. Sahabat, Atas kesetiaanya, Nuh mendapat berkat dari Allah. Berkat itu berupa janji memiliki keturunan yang banyak (ayat 1) dan kekuasaan atas segala makhluk (ayat 2). Terkait dengan makanan, Nuh dan keturunannya boleh memakan binatang (ayat 3). Sebelumnya, manusia hanya boleh makan biji-bijian (Kejadian 1:29). Selain itu, Allah berjanji tidak akan memusnahkan bumi lagi dengan Air Bah (ayat 11).

    Perjanjian Allah tidak hanya ditujukan kepada Nuh dan keturunannya. Allah menyatakan bahwa perjanjian itu juga diperuntukkan semua makhluk hidup yang ada di bumi (ayat 12). Allah berjanji tidak akan murka lagi pada bumi. Perjanjian itu dinyatakan Allah akan berlangsung untuk selamanya. Dengan demikian perjanjian itu bersifat kekal.

    Biasanya suatu perjanjian terjadi atas dua orang yang sejajar. Dalam perjanjian ini Allah merendahkan diri. Ia rela menyejajarkan diri-Nya dengan manusia. Sebagai tandanya, Allah meletakkan sebuah busur di awan (ayat 13).

    Sahabat, sebenarnya perjanjian antara Allah dengan semua makhluk hidup yang ada di bumi yang diwakili oleh Nuh dengan keluarga, merupakan kesempatan kedua yang diberikan Allah kepada umat manusia. Kesempatan pertama yang telah diberikan Allah kepada manusia, tidak dipergunakan dengan baik oleh manusia. Seiring dengan bertambah banyaknya manusia di muka bumi, bertambah banyak pula dosa-dosa yang mereka perbuat. Maka Allah kemudian memusnahkan mereka dengan air bah.

    Mungkin ada diantara kita yang berpikir bahwa kalau ada kesempatan kedua, pasti akan ada kesempatan ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya. Itu pemikiran yang salah. Seharusnya kita sebagai orang percaya harus punya prinsip, kalau Tuhan sudah memberikan kesempatan kedua kepada kita, maka kita tidak lagi membutuhkan kesempatan yang ketiga. Kita akan mempergunakan kesempatan yang kedua dengan penuh tanggung jawab.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami tentang kesempatan kedua dari Allah?
    2. Busur adalah senjata untuk melepaskan anak panah. Allah menaruh busur-Nya di awan sebagai tanda perjanjian-Nya dengan manusia (ayat 13). Busur itu berbicara tentang apa?

    Selamat sejenak merenung. Ingatlah: Kesempatan akan selalu terbuka ketika kita masih hidup, maka berbaliklah segera kepada Tuhan sebelum terlambat, (pg).

  • FITNAH lebih KEJAM daripada PEMBUNUHAN

    Ada ungkapan jadoel yang berbunyi: “Fiitnah lebih kejam daripada pembunuhan”. Mengapa demikian?  Memfitnah memang tidak membunuh secara fisik, tapi ketika seseorang memfitnah sesamanya berarti ia membunuh karakter orang tersebut, menghancurkan karirnya, masa depannya, reputasinya, merampas kebahagiaan dan ketenangan hidupnya.  Itulah sebabnya fitnah adalah sebuah tindakan yang kejam dan sangat tidak manusiawi! 

    Untuk lebih memahami topik tentang: “FITNAH lebih KEJAM daripada PEMBUNUHAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 109:1-31 dengan penekanan pada ayat 2 dan 3. Sahabat, manusia memiliki kecenderungan untuk membela diri dan membalas. Jika seseorang berbuat baik terhadap diri kita, maka kita akan membalas dengan perbuatan baik. Jika seseorang berbuat jahat terhadap diri kita, maka kita akan membalas dengan perbuatan jahat. Akan tetapi, tidak demikian halnya dengan  Raja Daud. Dalam bacaan kita pada hari ini, sekalipun ia mendapat perlakuan jahat, bahkan dari orang-orang yang ia kasihi (ayat 2-5), ia tidak serta merta membalas kejahatan mereka.

    Wajar saja kalau kita tidak suka difitnah, bahkan Allah pun membenci fitnah. Karena itu, Allah memerintahkan bangsa Israel tidak mengucapkan saksi dusta terhadap sesama (Keluaran 20:16). Secara praktis hukum kesembilan dari Dasa Titah mengajak kita menjauhi gosip dan fitnah (Keluaran 20:16). Andaikata difitnah orang, apa yang akan kita lakukan? Secara spontan kita pasti menyangkal atau mengonfirmasi kabar yang tersiar. Terkadang sakit hati mendorong kita menyumpahi para pemfitnah agar mereka celaka, pendek umur, menjadi miskin, tak diampuni dosanya, dan dikutuk hidupnya (ayat 6-20).

    Padahal kita tahu betul bahwa Allah menghendaki kita bersabar menghadapi para pemfitnah. Sepatutnya kita meneladani Raja Daud yang memasrahkan nasibnya kepada Tuhan (ayat 21). Meskipun Daud berhak melakukan pembalasan, namun ia menyerahkan hak tersebut ke dalam tangan Tuhan. Ia percaya bahwa Allah akan bertindak memberikan pembelaan.

    Sahabat, karena itu janganlah kita merasa terganggu dengan fitnah maupun gosip. Lawanlah hal itu dengan pikiran dan perbuatan positif. Tindakan meluruskan fitnah hanya membuang waktu dan menguras tenaga kita. Apa pun alasannya mereka tidak akan percaya karena hatinya sudah dibutakan sehingga tidak bisa melihat kebenaran.

    Apakah kita masih berlelah-lelah membela diri atau malahan menyumpahi para pemfitnah? Marilah kita mengoreksi diri karena tindakan itu tidak diperkenan oleh Allah. Allah menghendaki kita mengampuni dan menyerahkan masalah itu dalam tangan-Nya. Jadikan fitnahan sebagai sarana untuk mengasah kita memiliki karakter seperti Kristus. Dengan demikian, hidup kita memuliakan Tuhan dan menjadi daya tarik bagi orang lain untuk mengenal Injil Kristus.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Situasai seperti apa yang digambarkan oleh Raja Daud dalam ayat 6-20?
    2. Apa yang diharapkan oleh Raja Daud yang dituangkan dalam ayat 21-31?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan Yesus menolong dan memberkati. (pg)

  • RITUAL di Waktu Pagi

    Sahabat, apa ritualmu di pagi hari setelah kamu bangun tidur? Kalau saya begitu bangun tidur langsung kumur, minum secangkir air putih hangat, menaikan doa syukur, membaca ayat yang akan menjadi Bacaan Sabda di “Sejenak Merenung”, kemudian bersaat teduh. Setelah itu baru membagikan  “Sejenak Merenung” untuk hari itu.

    Pagi merupakan awal hari dan jika kita mengawali hari dengan benar, dengan mencari wajah Tuhan dan bersekutu dengan-Nya sebelum memulai segala sesuatunya, kita akan mengalami sukacita, pertolongan, mukjizat dan kekuatan dari Tuhan sepanjang hari. 

    Pagi hari bisa diibaratkan sebuah fondasi bangunan;  jika kita memulai dengan fondasi yang benar maka bangunan itu akan tetap tegak berdiri dengan kokoh, meskipun pada hari itu turun hujan badai. Maka sangat penting kita memperhatikan: Ritual di waktu pagi.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “RITUAL di Waktu Pagi”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 108:1-14 dengan penekanan pada ayat 2-3. Sahabat, Mazmur 108 memiliki kemiripan dengan Mazmur 57 dan 60. Ketiganya mengisahkan pertolongan Tuhan kepada Pemazmur dalam menghadapi musuh. Mazmur 108 merupakan pengucapan syukur yang dilakukan bukan secara pribadi, melainkan oleh satu bangsa. Oleh karena itu, Pemazmur ingin mengumandangkan atau memberitahukan betapa kemuliaan Allah selalu menyertainya dalam peperangan. Jelas terlihat bahwa Pemazmur menginginkan semua bangsa memuliakan Allah yang disembahnya.

    Pemazmur mengawali tulisannya dengan kesiapan hati untuk memuji kebesaran kasih setia Tuhan. Bukan dengan mulut saja ia memuji Allah, tetapi juga mengajak jiwanya turut bermazmur. Di sini Pemazmur menggunakan kata “bangunlah”.  Kata itu menunjukkan arti bahwa hati, pikiran, dan jiwa raganya ikut serta memuji dan memuliakan Tuhan. Sebab Allah yang dipuji dan disembah oleh Pemazmur adalah Pencipta langit dan bumi, yang berkuasa atas segala makhluk yang ada di dalamnya. Di bagian akhir ayat ke 3, Pemazmur mengajak kita “membangunkan fajar”, di pagi hari kita bersyukur dan memuji Tuhan.

    Pada bagian kedua, Pemazmur memuji Allah karena Ia telah melindungi orang-orang pilihan-Nya. Ia menjamin keselamatan mereka. Semua wilayah, seperti Sikhem, lembah Sukot, Gilead, Manasye dan Efraim, Yehuda, Moab, dan Edom, menjadi tempat kudus-Nya. Ini berarti semua daerah itu akan diserahkan kepada orang-orang pilihan-Nya (ayat 8-10).

    Pada bagian yang ketiga, Pemazmur mengangkat kidung pujian untuk memohon pimpinan Allah. Pemazmur meyakini betapa sia-sianya keselamatan yang berasal dari manusia. Kini Ia hanya mengandalkan pertolongan dari Tuhan. Bersama Allah, Pemazmur melakukan berbagai perbuatan yang besar. Melalui pertolongan Tuhan, Pemazmur bisa mengalahkan para musuhnya (ayat 11-14).

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu pada bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Menurut pemahamanmu, mengapa kita perlu menaikan syukur ke hadirat Tuhan di pagi hari, dengan mengingat kasih setia dan kebaikan Tuhan dalam hidup kita?
    2. Apa yang menjadi pengharapan Pemazmur dalam ayat 7-10?
    3. Apa yang menjadi keyakinan Pemazmur dalam ayat 11-14?

    Selamat sejenak merenung. Berikut resep keberhasilan hidup  dari Tuhan Yesus,   “… carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33). (pg)

  • PENGHARAPAN: Sehelai Daun Zaitun

    Saya sering mengirimkan qoute: “Terus jaga HARAPAN, sekecil apa pun. Mukjizat dapat terjadi setiap saat” kepada Sahabat yang sedang sakit. Saya belajar dari pengalaman nabi Elia, awan  kecil sebesar telapak tangan bagi nabi Elia merupakan sinyal pengharapan hujan akan turun (1 Raja-raja 18:44).

    Sahabat, bagi penumpang kapal karam yang terdampar di pulau terpencil, raungan helikopter adalah sinyal pengharapan. Bagi pelaut yang sedang digempur dan bertempur dengan ganasnya ombak laut di malam hari, kelap-kelip cahaya mercusuar adalah sinyal pengharapan. Bagi orangtua yang hidupnya selalu dililit oleh kemiskinan, anak berprestasi di sekolah adalah sinyal pengharapan. Bagi Nuh, sehelai daun  Zaitun merupakan sinyal  pengharapan bumi akan segera kering.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “PENGHARAPAN: Sehelai Daud Zaitun”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 8:1-22, dengan penekanan pada ayat 11. Sahabat, hujan telah berhenti. Allah mengingat untuk menolong Nuh (ayat 1). Allah meniupkan angin hingga air mulai surut (ayat 1).

    Dengan agak rinci dituturkan proses catatan waktu keluarnya Nuh dari bahtera. Untuk mengetahui keadaan, Nuh melepas burung gagak (ayat 7). Selanjutnya dilepaskan burung merpati sebanyak 2 kali (ayat 8 dan 10). Akhirnya mereka keluar dan bersyukur dengan memberikan persembahan yang harum kepada Allah (ayat 21). Tuhan pun berjanji tidak akan membinasakan bumi lagi dengan Air Bah (ayat 21).

    Pemulihan yang Allah lakukan mengingatkan kita pada cerita penciptaan. Angin yang dihembuskan Allah (ayat 1) senada dengan Roh Allah yang melayang-layang (Kejadian  1:2). Perintah untuk berkembang biak dan bertambah banyak (ayat 17) tampaknya mengulangi perintah Allah yang sama saat menciptakan manusia (Kejadian  1:28). Pemulihan lewat Air Bah ini boleh dikatakan menjadi cerita penciptaan ulang.

    Sahabat, melalui seekor merpati yang dilepaskan oleh Nuh, Allah mengirim sinyal pengharapan (ayat 11), Zaitun itu tanaman bandel, mudah tumbuh dan tak mudah dibunuh. Jadi, begitu ada tanah kering lekas tumbuhlah ia. Sehelai daun segarnya di paruh merpati mengabarkan kepada Nuh, ada sinyal pengharapan akan sebuah kehidupan lagi.

    Sahabat, di sekeliling kita mungkin ada orang yang hidupnya seperti dikepung oleh masalah, kesukaran, dan kebuntuan yang melumpuhkan. Sinyal pengharapanlah yang mereka butuhkan. Sebab tanpanya, tak tersisa kekuatan untuk bertahan dan melanjutkan langkah ke depan.

    Mungkin itu sekadar berupa: Ucapan berhikmat. Kunjungan bersahabat. Kiriman pesan atau doa pembangkit semangat. Selipan amplop berbagi berkat. Referensi atau rekomendasi ke alamat yang tepat, dan sebagainya. Siapa tahu, kebaikan sederhana kita mampu memberi sinyal pengharapan bagi mereka.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Bagaimana pemahamanmu tentang: Sehelai daun Zaitun dapat menjadi sinyal pengharapan bagi Nuh? (Ayat 11)
    2. Apa yang mendorong Nuh memberikan persembahan bakaran kepada Allah? (Ayat 20)
    3. Bagaimana respons Allah terhadap persembahan bakaran dari Nuh? (Ayat 21-22)

    Selamat sejenak merenung. Ingatlah: Tindakan memberi sinyal pengharapan kepada sesama yang menantikannya adalah karya Tuhan. (pg).

  • KEMURAHAN TUHAN yang MENGUBAH KEADAAN

    Sahabat, masih ingat dengan nyanyian Hana (1 Samuel  2:1-10) dan  nyanyian Maria (Lukas 1:46-55)? Dalam kedua nyanyian tersebut, kedua wanita ini mengungkapkan kebaikan Tuhan yang telah mengangkat mereka masing-masing dari keadaan terhina, menurut pandangan manusia, menjadi terhormat bahkan mulia. Kedua wanita itu juga mengungkapkan keadilan Allah dengan membalikkan keberuntungan orang jahat atau fasik menjadi petaka. Kemurahan Tuhan yang mengubah keadaan kedua wanita tersebut menjadi mulia.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “KEMURAHAN TUHAN yang MENGUBAH KEADAAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 107:1-43 dengan penekanan pada ayat 43. Sahabat, Mazmur 107 adalah mazmur pembuka kitab kelima Mazmur (I: 1-41; II:42-72; III: 73-89; IV: 90-106; V: 107-150).

    Tema syukur mazmur ini melanjutkan Mazmur 105 dan 106. Namun, alasan bersyukur lebih kepada pertolongan Tuhan dalam berbagai situasi kehidupan. Alasan mendasar bersyukur diberikan pada ayat 2-3, yaitu Allah telah menebus mereka. Alasan spesifik diberikan dalam ayat-ayat 4-9,10-16, 17-22, dan 23-32.  Ayat 33-43 memaparkan karya Tuhan yang mengubah situasi manusia dari keadaan tidak berdaya menjadi diberkati, sebaliknya yang merasa hebat menjadi tak berdaya (ayat 33-43).

    Mazmur  107  yang menjadi bacan kita pada hari ini  ditutup dengan pengungkapan karya Tuhan dalam berbagai aspek kehidupan yang menunjukkan bahwa Dia adalah Tuhan yang adil. Bagian ini bisa dibagi menjadi tiga bagian yang berpasangan (ayat 33-38, 39-41, 42) dan penutup yang merupakan nasihat hikmat (ayat 43).

    Bagi mereka yang hidupnya jauh dari Tuhan dan melakukan kejahatan, Tuhan bisa menjauhkan mereka dari berkat-berkat-Nya (ayat 33-34). Sebaliknya, mereka yang hidup menderita dalam kemiskinan karena perbuatan jahat orang lain, akan diberkati dengan limpah (ayat 35-38).

    Ayat 39-41 kalau dibaca dengan urutan 40-39-41, maknanya lebih mudah dipahami, yaitu orang yang terkemuka akan dihina dan direndahkan, sebaliknya orang miskin dilindungi bahkan dijadikan melimpah. Sedangkan ayat 42 mengontraskan orang benar yang melihat keadilan ditegakkan dengan penuh sukacita, sebaliknya orang yang jahat akan terbungkam olehnya.

    Sahabat, karena kemurahan Tuhan kita diselamatkan dan beroleh pengampunan dosa.  Kita tahu bahwa keselamatan dan pengampunan yang Tuhan berikan tidak bisa ditebus dengan kesalehan hidup manusia atau amal kebaikan manusia (Mazmur 103:3).   Karena itu:  “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Biarlah itu dikatakan orang-orang yang ditebus TUHAN, …”  (Ayat 1-2).

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Mengapa Pemazmur mengajak umat untuk bersyukur? (Ayat 2-3)
    2. Ketersesatan di padang gurun melambangkan apa? (Ayat 4-5)


    Selamat sejenak merenung.  Mari kita renungkan dalam-dalam pernyataan raja Daud berikut ini: “Siapakah aku ini, ya Tuhan … sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini?”  (2 Samuel 7:18). (pg)

  • GARAM: Larut tapi Tidak Hanyut

    Dengan tegas Yesus bersabda,  “Kamu adalah garam dunia.” Itulah panggilan Tuhan kepada kita sebagai orang percaya. Kita diminta menjadi garam, itu artinya kita diminta supaya bisa bermasyarakat,  bergaul  dengan siapa saja, tidak terbatas hanya dengan mereka yang seiman dan sesuku saja

    Sahabat, justru kehadiran garam itu bisa dirasakan ketika dia mau larut dalam masakan, larut dalam adonan. Tapi walaupun garam itu larut, tapi rasa asin itu tidak hilang, masih terasa.  Justru peran dan fungsinya menjadi nyata ketika garam itu sudah larut. Garam itu memang harus larut, tapi tidak hanyut, tidak tertelan oleh rasa lain. Menghadirkan perubahan. Menghadirkan pembaruan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “GARAM: Larut tapi Tidak Hanyut”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 7:1-24. Sahabat,  pembaruan yang dikerjakan Tuhan sudah dimulai. Nuh dipersiapkan bersama dengan keluarga serta binatang haram dan tidak haram (ayat 1). Seminggu sebelum hujan turun mereka sudah masuk ke dalam bahtera (ayat 4).

    Tepat seperti yang dikatakan Allah, hujan turun dengan lebat selama 40 hari 40 malam (ayat 12). Air semakin lama semakin banyak seperti air bah sehingga terjadi banjir semesta yang membuat bahtera terapung-apung (ayat 18). Banjir itu membuat semua ciptaan Tuhan tewas (ayat 23). Sangat mengerikan.

    Banjir semesta melanda bumi dengan hebatnya. Kehebatan banjir itu digambarkan tingginya sampai melebihi semua gunung yang tinggi (ayat 19). Bahkan disebutkan ketinggian air di atas 15 hasta atau 7 meter dari gunung yang tinggi itu (ayat 20). Tentu semua disapu habis.

    Sahabat, bumi kembali berada dalam kondisi yang kacau. Keteraturan yang telah ditata Tuhan dalam kisah penciptaan menjadi rusak karena Air Bah. Kekacauan itu terpaksa dilakukan demi memurnikan bumi agar sesuai kembali dengan rancangan Tuhan. Lewat kekacauan itu, seolah-olah “penciptaan” kembali dirancang oleh Tuhan.

    Peristiwa kekacauan melalui Air Bah begitu mengerikan. Karena banjir semesta itu, semua makhluk hidup yang ada di darat maupun di udara mati. Hal itu terjadi karena memang Allah hendak menghapus semua yang pernah diciptakan-Nya (ayat 23) dan melakukan pembaruan atas bumi. Hanya Nuh, keluarganya dan segala makhluk yang ada di dalam bahtera yang merupakan “kaum tersisa”.

    Nuh menjadi duta pembaruan Allah atas bumi ini. Peristiwa itu di satu sisi memperlihatkan kedahsyatan kuasa Allah, namun di sisi lain menunjukkan kepedulian Allah atas bumi. Kedahsyatan Allah membuat kita menyadari betapa kecilnya kita di hadapan-Nya. Kepedulian Allah membuat Ia selalu berkarya untuk membarui tatanan di bumi.

    Sahabat, pembaruan sering kali mendapat penolakan. Tanpa pembaruan kehidupan kita akan tenggelam. Realitas yang ada di sekitar kita selalu mengalami perubahan. Dengan demikian, pembaruan adalah suatu keharusan. Kita dipanggil sebagai agen pembaruan Allah. Hal itu diawali dengan pembaruan diri sendiri. Dimulai dari diri kita sendiri.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tolong bagikan pemahamanmu tentang:

    1. Kita dipanggil sebagai garam dunia.
    2. Kita dipanggil untuk menjadi agen pembaruan.

    Selamat sejenak merenung. Ingatlah: Karena kesetiaannya kepada Tuhan, Nuh dan keluarganya selamat! (pg)

  • AIR SUSU dibalas dengan AIR TUBA

    Sahabat, sejak kelas V SD saya sangat senang dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia, apalagi kalau sedang membahas peribahasa,  puisi, dan pantun. Salah satu peribahasa yang saya ingat di luar kepala yaitu: “Air susu dibalas dengan air tuba” yang artinya kebaikan dibalas dengan kejahatan.

    Tentu saja kita tidak suka diperlakukan demikian oleh orang lain yang sudah kita tolong. Sekalipun kita tidak mengharapkan balasan, tetapi kita juga tidak ingin mendapat perlakuan jahat sebagai balasannya. Namun, kadang tidak kita sadari  bahwa justru hal itulah yang kita lakukan kepada Allah?

    Untuk lebih memahami topik tentang: “AIR SUSU dibalas dengan AIR TUBA”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 106:1-12. Sahabat, bangsa Israel memang dikenal sebagai bangsa yang tegar tengkuk, bahkan Allah sendiri pun menyatakan demikian (Keluaran  32:9). Berulang kali mereka menyaksikan dan mengalami karya Tuhan dalam kehidupan mereka, tetap saja mereka memberontak kepada Allah.

    Mukjizat demi mukjizat mereka lihat dan alami, namun hal itu seolah-olah tidak membekas di hati dan pikiran mereka (ayat 7). Tak terhitung banyaknya pertolongan dan kemurahan Allah atas kehidupan umat-Nya. Kenyataannya, bukan rasa terima kasih yang keluar dari hati mereka, melainkan sungut-sungut dari mulut mereka. Walaupun mereka dikenal sebagai bangsa yang bebal, tetapi hal itu tidak menghalangi Allah untuk menyelamatkan mereka.

    Pemazmur berseru kepada umat Israel untuk bersyukur kepada Tuhan karena Ia baik dan kasih setia-Nya abadi (ayat 1). Di sini Pemazmur dengan gamblang mengungkapkan bahwa kebahagiaan akan dimiliki oleh mereka yang senantiasa berpegang pada hukum Allah dan berlaku adil (ayat 3).

    Sahabat, dalam Mazmur 106 kita melihat bahwa Pemazmur sedang menaikkan pujian kepada Allah karena kasih setia-Nya yang besar. Dalam pujiannya, Pemazmur menceritakan tentang pengalaman bangsa Israel ditolong Tuhan. Meskipun pada waktu itu umat Tuhan memberontak, Tuhan tetap mengasihi dan menyelamatkan umat-Nya dari musuh-musuh mereka (ayat 6-11). Sekalipun berkali-kali mereka berpaling dari Tuhan, Ia tetap menyelamatkan, bahkan memelihara kehidupan mereka. Namun, kebaikan Allah dibalas dengan ketidaksetiaan umat-Nya, bagaikan air susu dibalas dengan air tuba.

    Mengapa Allah tetap mengasihi dan menyelamatkan umat-Nya? Karena Ia adalah Allah yang setia dan penuh kasih. Kasih setia-Nya begitu besar melebihi langit. Kasih dan kesetiaan-Nya tidak terpengaruh oleh perbuatan manusia. Allah berbuat seperti itu karena didorong oleh kebaikan dan kemurahan hati-Nya, bukan didasarkan pada perbuatan baik umat-Nya. Hanya karena kasih dan kesetiaan-Nya, umat diselamatkan.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Bagaimana pemahaman Sahabat tentang kebaikan Allah dalam hidup kita?
    2. Lalu respons apa yang dapat kita berikan atas anugerah-Nya?

    Selamat sejenak merenung. Ingatlah kebaikan-Nya, jangan lupakan itu;  di luar Dia kita tak bisa berbuat apa-apa! (pg).