Category: Sejenak Merenung

  • BEREMPATI untuk MEMBERIKAN AKSI

    Sahabat, dalam hidup selalu ada nilai-nilai penting yang bisa kamu dapatkan setiap harinya. Entah itu dari hal yang sederhana atau nilai besar yang kamu rasakan.

    Terkadang tanpa disadari akan timbul berbagai macam perasaan setelah kamu bertemu dengan sebuah kejadian. Kamu bisa merasa sedih, bahagia, kecewa, ataupun marah. Semua itu dikatakan wajar terjadi ketika kamu rasakan. Namun sebaliknya, jika kamu tidak pernah merasakan kepedulian,  termasuk pada hal yang memilukan.

    Rasa peduli bisa tumbuh karena banyak hal. Kepekaan perasaan akan membuatmu berpikir mengenai tindakan yang akan kamu lakukan. Apakah hanya akan sekadar bersimpati atau kamu akan berempati untuk memberikan aksi.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “BEREMPATI untuk MEMBERIKAN AKSI”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 14:1-16. Sahabat, meskipun tempat yang didiami Lot sangat subur, namun daerah itu tidak aman karena rawan konflik dan peperangan.

    Sahabat, itulah yang terjadi: Gejolak politik di daerah tersebut pecah. Beberapa raja yang takluk di bawah kekuasaan Kedorlaomer selama 12 tahun bermufakat untuk mengadakan pemberontakan (ayat 1-4). Peperangan terjadi di mana-mana. Raja Sodom dan Gomora kalah perang (ayat 10). Karena itu, seluruh rakyatnya ditawan (ayat 11). Lot pun ditawan dan hartanya juga dirampas (ayat 12).

    Saat Abram mendengar kabar buruk tentang Lot, ia pun mengangkat senjata untuk membebaskan keponakan beserta keluarganya, dan juga harta bendanya (ayat 14-16).

    Sahabat, tindakan Abram menunjukkan kasihnya yang besar kepada Lot. Walaupun Lot pernah berselisih dengan pamannya soal lahan untuk makanan ternak, namun Abram tetap peduli akan nasib keponakannya.

    Untuk menyelamatkan Lot, Abram mengerahkan segala daya yang dimilikinya. Abram menyiapkan 318 orang pasukan terlatih yang siap tempur (ayat 14). Pasukan ini adalah orang-orang yang lahir dan menjadi dewasa di rumah Abram (ayat 14). Pernyataan ini memperlihatkan adanya kedekatan relasional antara Abram dan pasukannya. Tidak perlu diragukan lagi bahwa mereka sangat setia kepada tuan mereka, Abram.

    Selama ini kita hanya melihat figur Abram sebagai pedagang. Tetapi, siapa pernah menyangka bahwa seorang pedagang bersama 318 orang pasukan saja mampu mengalahkan kekuatan besar Kedorlaomer dan para sekutunya (ayat 14-17a). Tentu saja kemenangan itu bukan milik Abram, melainkan milik Allah. Tanpa penyertaan Allah mustahil Abram dapat memenangkan peperangan tersebut.

    Berulang kali kita mendengar kata cinta muncul dalam kehidupan manusia. Tentu saja itu baik, namun belum cukup jika tidak diwujudkan dalam tindakan nyata. Karena itulah, kita dipanggil Allah untuk menjadi terang dan garam dunia. Tindakan tersebut mencerminkan kepedulian dan cinta kasih Allah kepada ciptaan-Nya agar mereka tidak binasa, melainkan beroleh keselamatan, dapat menikmati hidup kekal.

    Berdasar hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, berkat apa yang Sahabat peroleh dari tindakan Abram dalam menyelamatkan Lot (ayat 14-16 dan Kejadian 13:8). Selamat sejenak merenung. Tuhan menolong dan memberkati. (pg).

  • Tuhan DEKAT dengan ORANG yang HINA

    Sahabat, yang lazim orang senang DEKAT dengan para penguasa, para konglomerat, orang-orang yang terkenal, dan para tokoh masyarakat. Tapi justru Tuhan dekat dengan orang yang hina, orang yang direndahkan, orang yang dianggap sampah masyarakat, orang yang ditolak, dan orang yang dipandang dengan sebelah mata.

    Penggambaran Tuhan yang mahatinggi dan manusia yang rendah bukan dimaksudkan supaya hamba-hamba-Nya diliputi kekaguman dan pemujaan. Sebaliknya, ini merupakan peringatan akan apa yang dapat dilakukan Tuhan dari takhta-Nya yang kudus. Dia dapat membolak-balikkan keadaan manusia. Bagi-Nya mengangkat derajat orang miskin dan hina bukanlah hal yang sulit. Ia juga dapat menghapus aib manusia dan menggantinya dengan kebanggaan dan sukacita.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Tuhan DEKAT dengan ORANG yang HINA”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 113:1-9 dengan penekanan pada ayat 7-9. Sahabat, Mazmur haleluya ini juga permulaan dari kumpulan mazmur yang dalam tradisi Yahudi disebut hallel (Mazmur 113-118). Mazmur hallel dikaitkan  dengan beberapa perayaan utama umat Yahudi, terutama dalam konteks  perayaan Paskah. Mazmur 113-114 dilantunkan sebelum memulai makan Paskah, Mazmur 115-118 untuk mengakhirinya.

    Pemazmur menguatkan bahwa Tuhan bukan saja memperhitungkan ibadah dan ketaatan kita, tetapi juga memperhatikan hidup kita sehari-hari. Marilah kita mengimani bahwa pengakuan akan Tuhan Yang Mahatinggi bukan sekadar ungkapan pemujaan, melainkan pengingat bahwa Dia sanggup mengangkat kita dari segala kerendahan, kehinaan, dan keterpurukan, bahkan kehancuran hidup.

    Tuhan menginginkan kita hidup sederajat dengan sesama sekalipun jalan hidup kita berbeda. Lihatlah Hana dan Maria yang ditinggikan Allah (1 Samuel  2:1-10 dan Lukas 1:46-55). Ada kalanya Allah meninggikan kita melalui peristiwa-peristiwa ajaib karena itu marilah kita sadari dan kita akui bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah.


    Sahabat, Kristus telah datang bahkan tinggal bersama ciptaan-Nya. Dia mau  menyamakan diri dengan mereka yang mengalami diskriminasi sosial  dan agama. Dia datang untuk memulihkan tatanan yang rusak karena  dosa. Mari sekarang bersama umat Tuhan lainnya, kita memuji Dia dan mengagungkan nama-Nya dengan sikap kita yang tidak diskriminatif terhadap orang yang berbeda dengan kita.

    Berdasarkan  hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa harapan Pemazmur yang terdapat dalam ayat 2-4?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari pernyataan Pemazmur di ayat 7-9?

    Selamat sejenak merenung. Ingatlah: Yang merasa diri rendah dan tak berdaya dipandang dan dimuliakan Tuhan, bukan yang merasa kaya, mulia, dan terpandang. (pg).

  • Pentingnya TAHU DIRI

    Sahabat, habitat pertama bagi manusia adalah taman Eden. Kebun permai ini dilengkapi dengan segala yang manusia perlukan. Kekayaan, kesuburan, dan keindahan alam tersedia. Tetapi mengapa tiba-tiba harus ada larangan: Memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat? (Kejadian 2:17).

    Rupanya Tuhan hendak menegaskan sebuah ketetapan utama dalam kehidupan: Kepemilikan.  Larangan itu berfungsi mengingatkan manusia, mereka bukan pemilik taman. Eden beserta segala isinya itu milik Allah. Manusia hanyalah dia yang diberi kepercayaan untuk mengolah atau membudidayakannya (Kejadian 2:15). Sebuah pelajaran kepemilikan yang sudah setua umur umat manusia, bukan? 

    Sahabat, sesungguhnya sumber dari segala kerusuhan dan kekacauan hidup memang di sini: Manusia tidak  TAHU DIRI. Seharusnya dirinya bukan pemilik. Hanya pengelola.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Pentingnya TAHU DIRI”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 13:1-18 dengan penekanan pada ayat 10-11.  Sahabat, Abram menjadi sangat kaya karena Tuhan memberkatinya (ayat 2). Kekayaannya itu ditandai dengan banyak ternak yang dimilikinya.

    Kekayaan kadang menjadi sumber konflik. Hal itu tampak pada percekcokan dan perkelahian para gembala Abram dan Lot (ayat 7). Mereka saling berebut lahan untuk makanan ternak majikannya. Wilayah di mana mereka tinggal menjadi sangat sempit bagi Abram dan Lot. Dalam hal ini, Abram mencoba mengalah dengan mengajak keponakannya untuk berunding mencari solusi. Abram memberikan Lot kesempatan untuk memilih lebih dahulu wilayah manakah yang hendak didiami. Akhirnya Lot memilih daerah Lembah Yordan (ayat 10).

    Sahabat, inilah kesalahan Lot yang utama. Dia TIDAK TAHU DIRI. Lot tidak ingat dengan posisinya. Abram itu pamannya. Dia lebih tua. Dia yang mengajak Lot berangkat dari Mesir ke Tanah Negeb. Sesungguhnya Abram-lah yang menjadi sumber kekayaan Lot. Seharusnya Abram yang berhak menentukan masalah pembagian wilayah. Abram lebih berhak sebagai pemilih pertama.

    Kesalahan Lot yang kedua, dalam hal memilih wilayah, Lot menjatuhkan pilihan hanya berdasarkan apa yang tampak di mata.  Lot yang melihat betapa suburnya rumput yang berada di wilayah Lembah Yordan. Jika dilihat dari sisi ekonomi, wilayah Yordan sangat menarik hati siapa pun jua. Karena daerah tersebut bukan hanya terkenal sangat subur dan banyak airnya, tetapi juga sangat indah seperti taman surgawi (ayat 10).

    Sahabat, sedang  Abram lebih mementingkan menjaga kekerabatan daripada berebut wilayah yang subur, yang menjanjikan (ayat 8). Abram orang yang rendah hati dan suka mengalah.  Baginya, tidak menjadi soal apakah tempat yang akan didiaminya itu subur atau tidak. Sebab ia memegang janji Allah.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang menjadi penyebab kegagalan pemilihan Lot? (Ayat 10)
    2. Berkat apa yang Abram terima ketika dia mengedepankan kekerabatan dan mengalah? (Ayat 8, 14-15).

    Selamat sejenak merenung. Ingatlah: “Berkat TUHANlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.”  (Amsal 10:22).  (pg)

  • ADA BERKAT yang LUAR BIASA

    Sahabat,  BERKAT   sangat dirindukan, dinantikan dan diharapkan oleh sebagian besar orang.  Siapakah di antara kita yang menolak berkat?  Hampir tidak ada!  Ke mana pun kaki ini melangkah, yang dituju berkat.

    Berkat hampir selalu memenuhi pikiran kita:  Saat memberi persembahan di gereja atau melayani kita pun berharap Tuhan membalasnya dengan berkat;  doa-doa kita pun dipenuhi dengan segala keinginan dan permohonan berkat kepada Tuhan.  Intinya ada cukup banyak  orang yang mengejar berkat.

    Tapi ada juga orang-orang yang dikejar berkat yaitu orang-orang benar, orang-orang yang takut akan Tuhan. Bagi mereka ada bekat yang luar biasa.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “ADA BERKAT yang LUAR BIASA”,  Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 112:1-10. Sahabat,   Mazmur 112 menyebut dua tipe orang, yaitu orang yang takut akan Tuhan (ayat 1-3) dan orang benar (ayat 4-10). Pada bagian tertentu tidak ada perbedaan antara keduanya. Orang yang takut akan Tuhan dapat dikatakan sebagai orang benar juga.

    Menurut Pemazmur, orang yang takut akan Tuhan dan yang suka pada perintah-Nya adalah orang yang akan diberkati. Orang seperti itu akan memiliki keturunan yang perkasa; angkatannya diberkati, harta miliknya akan tetap, dan kebajikannya akan dikenang (ayat 2-3).

    Sahabat, hampir setiap orang percaya ingin menikmati berbagai hal yang dijanjikan Tuhan. Namun, kita seringkali tidak memperhatikan atau bahkan menyepelekan syarat dan ketentuan yang diminta oleh Tuhan, yaitu takut akan Tuhan. Di sini Pemazmur menekankan bahwa takut akan Tuhan adalah prinsip utama dari semua kebijaksanaan dan sumber kebahagiaan sejati.

    Ketika seseorang hidup dalam takut akan Tuhan, dapat dipastikan bahwa ia akan membenci kejahatan, kesombongan, kecongkakan, tingkah laku jahat, dan mulut penuh tipu muslihat (Amsal 8:13).

    Jadi, kunci mengalami berkat-berkat Tuhan adalah memiliki hati yang takut akan Dia, karena takut akan Tuhan membawa kita hidup dalam perjanjian berkat-Nya yang tidak bisa dibatalkan dan dibatasi oleh apa pun dan siapa pun, dan tidak terpengaruh situasi.

    Sahabat, berkat bagi kita yang takut akan Tuhan akan mengalir ke seluruh anggota keluarga kita (Ayat 2).  Bila kita hidup takut akan Tuhan maka berkat Tuhan akan sampai kepada anak cucu   kita.  Luar biasa! 

    Hidup dalam perjanjian berkat Tuhan bukan berarti bebas dari masalah, justru masalah akan Tuhan pakai untuk meneguhkan perjanjian-Nya;  dan satu hal yang tak boleh dilupakan adalah tujuan Tuhan memberkati yaitu supaya kita jadi berkat.  Karena itu orang yang takut akan Tuhan pasti akan banyak memberi karena ia diberi kelimpahan oleh Tuhan  (ayat 9).

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Dari ayat 2, berkat apa yang akan diperoleh oleh orang yang takut akan Tuhan?
    2. Dari ayat 3, berkat apa yang akan diperoleh oleh orang yang takut akan Tuhan?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan menolong dan memberkati. (pg)

  • Meninggalkan KENYAMANAN, KEMAPANAN, dan KEAMANAN

    Sahabat, ketika usia saya dan istri sudah berkepala 6, dan kedua anak kami sudah berumah tangga, kami ingin menikmati hasil jerih juang kami di masa muda. Tapi justru pada saat itulah ada beberapa orang rekan sepelayanan mengajak kami untuk tetap terlibat dalam penggenapan rencana baik Tuhan.

    Siapa yang tidak menyukai kenyamanan? Pekerjaan mapan, keluarga harmonis, tinggal di lingkungan yang aman, memiliki banyak teman yang akrab. Pasti amat sangat berat ketika kita harus meninggalkan semua itu.  Terlebih jika kita belum mengetahui dengan jelas  tempat tujuan kita, situasi dan kondisinya seperti apa, ditambah usia kita sudah tidak muda lagi.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Meninggalkan KENYAMANAN, KEMAPANAN, dan KEAMANAN”, Bacaan Sabda saya ambil dari Kejadian 12:1-9 dengan penekanan pada ayat 2. Sahabat,  Allah memerintahkan Abram untuk meninggalkan tanah kelahirannya. Meninggalkan keluarga besar yang begitu mengayominya, menuju suatu tempat yang belum diketahuinya.

    Perintah ini menguji Abram, apakah ia memercayai Allah lebih daripada yang dapat ia lihat, atau lebih mencintai tanah kelahirannya, teman-teman terkasihnya dengan segala kenyamanannya.

    Sahabat, ternyata Abram lebih memilih untuk menaati  kehendak Allah, tanpa menyisakan ruang untuk menempatkan keraguan dalam hatinya terhadap wewenang Ilahi. Padahal, tidak ada jaminan yang tampak jelas selain mengandalkan kepercayaannya kepada Allah.

    Sering kali hidup sebagai orang percaya menuntut kita berlaku seolah konyol. Meninggalkan apa yang kelihatan demi apa yang tidak kelihatan. Rela mengalami penderitaan dengan berharap menerima kemuliaan yang masih menjadi harapan. Bak pepatah mengatakan:  “Anak di pangku dilepaskan, beruk di rimba disusukan.”

    Syukur karena Allah yang kita sembah senantiasa menggenapi janji-Nya. Seperti rancangan dan penyertaan yang diberikan-Nya kepada Abram, Allah juga menyediakan rancangan yang baik bagi kehidupan kita. Tidak ada yang lebih baik untuk dilakukan selain memainkan peran kita seturut kehendak-Nya. Dengan cara demikian kita diajar untuk terus bergantung pada penyertaan Allah dan membawa hati supaya senantiasa berfokus kepada-Nya.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Bagikanlah pemahamanmu tentang diberkati untuk menjadi berkat? (ayat 2-3)
    2. Apa yang menjadi kuncinya sehingga Abram dapat menikmati terobosan baru? (Ayat 4 dan Kejadian 22:2)

    Selamat sejenak merenung. Ingatlah: Bagikanlah berkat Tuhan karena tidak akan pernah habis orang yang membutuhkannya. (pg). 

  • Mempertemukan yang MAU dengan yang MAMPU

    Sahabat, dalam rangka persiapan pelaksanaan Kebaktian Syukur Yubileum Christopherus, khususnya dalam rangka penerbitan buku Bunga Rampai “Christ for all, all for Christ”, saya seringkali berkomunikasi dengan Bapak Andreas Christanday.

    Dalam berbagai kesempatan bertemu atau berkomunikasi, Pak Andreas bercerita bahwa pendekatan pelayanan yang dikembangkan Yayasan Christopherus yaitu mempertemukan mereka yang mau dengan yang mampu. Dengan demikian terjadi saling tolong menolong dalam menanggung beban pelayanan  bersama.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Mempertemukan yang MAU dengan yang MAMPU”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Galatia 6:1-10 dengan penekanan pada ayat 2. Sahabat, bertolong-tolongan adalah sifat keunggulan melayani dalam kebersamaan. Dengan bertolongan kita menangung beban secara bersama. Dengan bertolongan kita berbagi pergumulan hidup. Dengan demikian akan terjadi yang mau dapat menolong yang mampu, demikian sebaliknya yang mampu dapat menolong yang mau.

    Salah satu program Departemen Persekutuan Biji Sesawi  (PBS) yaitu memberikan tunjangan kepada Guru-Guru Agama Kristen (GAK) di SD-SD Negeri (SDN) di Semarang. Ada cukup banyak SDN yang belum mempunyai GAK, padahal di SDN tersebut cukup banyak murid yang beragama Kristen.

    Di sinilah Departemen PBS berperan mempertemukan antara yang mau dengan yang mampu. Ada kaum muda yang terpanggil sebagai GAK dan ada orang-orang percaya dan gereja yang berkenan memberi dukungan setiap bulan kepada mereka melalui Departemen PBS.

    Sahabat, nasihat Rasul Paulus, “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus” (Galatia 6:2). Itu bermakna bahwa dengan bergandengan tangan dalam melewati berbagai tantangan hidup, kita dapat  saling menguatkan dan mendukung satu sama lain di tengah masa-masa yang sulit. Melalui kepedulian dan kasih Kristus yang ditunjukkan kepada sesama, kesulitan-kesulitan hidup yang dialami sepatutnya mendekatkan kita kepada Kristus dan kepada satu sama lain, dan bukannya membuat kita terkucil sendirian di tengah kesulitan yang menghimpit.

    Hidup yang tolong menolong diharapkan mampu peduli terhadap kebutuhan orang lain, dan bukti nyata kita mau dan bisa bekerjasama dengan orang lain. Kepedulian ini sangat dibutuhkan dalam sebuah kerjasama untuk saling tolong menolong sebagai sesama orang percaya.

    Sahabat, hidup yang tolong menolong berarti juga kita saling memberi. Kita saling memberi diri untuk menolong orang lain. Kita memberikan pemikiran dan ide-ide kita untuk menolong orang lain. Dengan bertolong-tolongan kita bisa merasakan penderitaan orang lain. Kita terhindar dari sikap egoisme dan penonjolan diri. Karena itu, marilah berjuang untuk terus bertolong-tolongan  meringankan beban kita. 

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Berkat apa yang Sahabat peroleh dari nasihat Rasul Paulus di ayat 3-5?
    2. Hikmah apa saja yang Sahabat peroleh melalui prinsip universal dalam dunia pertanian   yang disampaikan oleh Rasul Paulus dalam ayat 7-9?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan menolong dan memberkati. (pg)

  • Takut Akan Tuhan: MENDATANGKAN REZEKI

    Sahabat, Felix Baumgartner, pemegang rekor dunia terjun bebas dari Austria, dijuluki “manusia tanpa rasa takut”. Tepatkah julukan tersebut?  Ternyata justru rasa takutlah yang berperan besar dalam kesuksesannya melakukan berbagai aksi menantang maut. Rasa takut menjadi teman seperjalanannya selama mempersiapkan diri melakukan terjun bebas. Baginya, rasa takut itulah yang membuatnya ekstra hati-hati dan memperhitungkan segala situasi dengan cermat.

    Dalam wawancara dengan The New York Times, ia berkata, “Saya tahu apa saja konsekuensinya jika ada yang salah. Pikiran seperti itulah yang melintas di benak saya setiap saat. Bagaimana kalau saya tidak akan bertemu lagi dengan keluarga saya?” Untuk mengatasi ketakutan itu, ia didampingi seorang psikolog.

    Rasa takut dapat diibaratkan sebagai alarm yang Tuhan tanamkan dalam diri manusia. Dengan adanya rasa takut, manusia diharapkan tidak melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya atau orang lain. Ini yang sangat istimewa: Takut akan Tuhan mendatangkan rezeki.

    Untuk lebih memahani topik tentang: “Takut Akan Tuhan: MENDATANGKAN REZEKI”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 111:1-10 dengan penerkanan pada ayat 5. Sahabat, haleluya!  Demikianlah Pemazmur memulai pujiannya kepada Allah. Seruan itu merupakan awal dari rangkaian tulisan Mazmur 111.

    Seruan liturgis yang ingin menyatakan betapa Tuhan layak untuk dipuji. Melalui pujian ini, Pemazmur ingin menyatakan syukur, sukacita, dan pengakuan imannya di hadapan publik. Ia juga mengajak yang hadir untuk ikut serta dalam rasa syukur dan menaruh keyakinan pada Allah Israel, Penguasa alam semesta.

    Secara detail Pemazmur menyatakan bahwa perbuatan Tuhan itu sangat dahsyat. Hal itu tampak nyata pada alam semesta dan dalam peristiwa-peristiwa yang dialami. Semuanya itu layak direnungkan siang dan malam agar pelajaran berharga dapat dipetik dalam hidup ini dan diwujudkan dalam keseharian, baik melalui perkataan, perbuatan, nyanyian, pujian, dan berbagai bentuk kesenian lainnya.

    Apa yang ditulis dalam ayat 6-9 mengingatkan kita pada peristiwa pembebasan bangsa Israel dari tanah Mesir. Pengalaman itu mengajak kita untuk semakin yakin bahwa Tuhanlah Sang Pembebas. Perbuatan tangan-Nya ialah kebenaran dan keadilan. Segala titah-Nya teguh. Dia melakukan segala sesuatu dalam kebenaran dan kejujuran-Nya. Ia mengikat perjanjian dengan umat-Nya untuk selama-lamanya. Karena itu, umat diajak untuk memegang teguh segala titah-Nya supaya mereka memperoleh hikmat, yakni takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan. Jika umat Allah hidup menurut ketetapan-Nya, maka hidup mereka akan memperlihatkan perbuatan yang baik dan berakal budi (ayat 10).

    Sahabat, takut akan Tuhan lahir dari dorongan untuk menghormati Tuhan, suatu rasa takut yang memungkinkan seseorang berpikir untuk melakukan hal-hal yang selaras dengan perintah-Nya. Takut akan Tuhan membuat cermat mengambil keputusan dan memilih, bukan hanya berdasarkan kesenangan pribadi, melainkan menurut kehendak-Nya. Rasa takut seperti itu  yang akan mendatangkan rezeki, “Diberikan-Nya rezeki kepada orang-orang yang takut akan Dia. …” (ayat 5).  

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Mengapa Pemazmur mengajak umat untuk bersyukur kepada Tuhan? (Ayat 2-4)
    2. Hidup seperti apakah yang tepat untuk merespons segala kebaikan Tuhan? (ayat 5, dan 7-9)

    Selamat sejenak merenung. Ingatlah: Takut akan Tuhan  mengantarkan kita ke dalam kebahagiaan hidup yang sejati. (pg)

  • Gantungkan Cita-Citamu SETINGGI LANGIT

    Sahabat, pada waktu saya jadi Guru Sekolah Minggu, cerita tentang “Menara Babel” menjadi salah satu cerita favorit saya. Dengan penuh antusias saya sering menceritakannya kepada para murid.

    Nimrod dan kawan-kawan ingin mendirikan sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, tapi Tuhan tidak berkenan dengan program mereka.

    Lalu bagaimana dengan Bung Karno,  Presiden pertama Indonesia, yang dengan suara menggelegar, mencoba menggoncang hati generasi muda bangsanya, “Gantungkan cita-citamu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit, Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh diantara bintang-bintang. ” Salahkah Beliau?

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Gantungkan Cita-Citamu SETINGGI LANGIT”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 11:1-9 dengan penekanan pada ayat 4. Sahabat, keadaan bumi dikatakan satu logat dan satu bahasa (ayat 1). Kesatuan bahasa membuat manusia dapat berkomunikasi dan berkumpul di tanah Sinear (ayat 2). Di sanalah mereka merancang untuk membangun kota yang sangat besar dan megah dengan menara menjulang sampai ke langit (ayat 4a).

    Tapi Tuhan tidak berkenan dengan rencana mereka itu, maka Tuhan mengacaukan bahasa mereka sehingga mereka tidak dapat saling berkomunikasi satu sama lain (ayat 6-7) dan Allah menyerakkan mereka ke seluruh bumi (ayat 8-9).

    Sahabat, mengapa Tuhan tidak berkenan dengan rencana mereka. Ini yang menjadi kuncinya,  “ … dan marilah kita cari nama.” Ternyata mencari nama dapat dipahami sebagai keinginan untuk bebas, mandiri, dan tanpa kungkungan Allah. Artinya, mereka ingin menjadi  “Tuhan” atas hidup sendiri. Pernyataan menara yang puncaknya sampai ke langit menunjukkan seolah-olah mereka tengah melawan Tuhan. Karena itu, sejak awal Tuhan melihat rencana mereka sebagai tindakan pemberontakan (ayat 6).

    Selain itu, keinginan mereka untuk mengumpulkan dan memusatkan semua bangsa untuk tinggal di satu kota sangat bertentangan dengan rancangan Tuhan. Sejak penciptaan dunia ini, Allah telah merencanakan supaya manusia dapat memenuhi bumi. Caranya adalah dengan menyebar ke segala penjuru bumi. Karena kedegilan hati manusia, Allah turun tangan untuk mengacaubalaukan bahasa mereka. Itu sebabnya, kota itu disebut Babel, yang artinya kekacauan.

    Lalu, mengapa Tuhan perlu mengacaubalaukan bahasa manusia? Tuhan sangat mengerti bahwa komunikasi merupakan hal terutama dalam kehidupan manusia. Tanpa komunikasi mustahil sebuah komunitas dapat melaksanakan rencana dan programnya dengan baik. Karena komunikasi di antara mereka terhambat, maka satu sama lain tidak dapat memahami bahasa masing-masing. Akibatnya rencana mereka pun ambyar.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Mengapa Tuhan tidak berkenan dengan program dari Nimrod dan kawan-kawannya? (Ayat 4 dan Yesaya 2:11).
    2. Menurut pemahaman Sahabat, apa yang menjadi kunci utama keberhasilan sebuah program? (Ayat 6).

    Selamat sejenak merenung. Ingatlah: Kita ini tidak lebih daripada embusan nafas, tak sepantasnya menyombongkan diri! (pg)

  • Pelayanan yang HOLISTIS

    Sahabat, kita sebagai keluarga besar Yayasan Christopherus patut bersyukur kepada Tuhan,  karena Yayasan Christopherus pada 3 Mei 2022 genap berusia 50 tahun. Pada awal pelayanannya, Yayasan Christopherus lebih berfokus pada pelayanan firman yang didukung dengan pelayanan musik dan pelayanan media.

    Sesungguhnya sejak awal berdirinya, Yayasan Christopherus ingin mengembangkan pelayanan yang holistis, pelayanan yang utuh, pelayanan yang memerhatikan kebutuhan rohani dan jasmani. Maka mulai tahun 1977 (di usia yang ke 5 tahun) Yayasan Christopherus mulai merintis pelayanan panti asuhan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Pelayanan yang HOLISTIS”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Injil Lukas 4:18-19. Sahabat, secara sederhana, kata holistis  berarti seluruhnya,  sepenuhnya, sebagai suatu kesatuan. Dengan demikian pelayanan yang holistis dapat dipahami sebagai pelayanan yang bersifat menyeluruh, tidak terbagi-bagi. Pelayanan yang memandang, memahami, mendekati, dan memperlakukan manusia sebagai satu kesatuan yang utuh.

    Sahabat, dalam Alkitab dijelaskan perhatian Allah terhadap masalah jasmani. Misalnya, Allah memelihara janda di Sarfat dengan membuat tepung dalam tempayan tidak akan habis  dan minyak dalam buli-buli tidak akan berkurang walaupun telah dipakai berkali-kali (1 Raja-raja 17:14-16). Para rasul memilih tujuh orang untuk mengurus santunan kepada para janda (Kisah Para Rasul 6:1-6).

    Jika pelayanan yang  holistis dianggap sebagai pelayanan gereja yang menyeluruh maka pelayanan tersebut harus mencakup semua aspek pelayanan yang meliputi pelayanan: Koinonia (persekutuan), Marturia (kesaksian), dan Diakonia (pelayanan sosial). Hal tersebut mutlak dalam penginjilan dan akan mendatangkan shalom  yang dijanjikan Tuhan.

    Sahabat, Tuhan Yesus telah memberikan contoh dalam hal pelayanan holistis saat di dunia. Kitab Injil mencatat bahwa di dalam pelayanan-Nya, Ia tidak sekadar memperhatikan kebutuhan rohani banyak orang, tetapi juga kebutuhan jasmaninya.

    Ia memang datang untuk menebus manusia berdosa, namun Ia juga menghadirkan Kerajaan Allah dengan menyembuhkan banyak orang sakit: Orang buta, orang lumpuh, orang bisu, orang tuli, penderita kusta, wanita yang mengalami pendarahan, dan sebagainya. Hal itu menyatakan bahwa karya Tuhan Yesus atas diri manusia bersifat utuh. Ia menganugerahkan pengampunan dosa, sekaligus kesembuhan rohani dan jasmani.

    Christopherus sebagai lembaga gerejawi mendapat mandat untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah yang disertai dengan pelayanan di segala bidang kehidupan. Cakupan pelayanannya harus  utuh dan seimbang. Yang penting visinya tetap sama: Terlaksananya Amanat Agung Tuhan di seluruh pelosok dunia.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang engkau pahami tentang pelayanan yang holistis?
    2. Adakah Sahabat yang terpanggil untuk melayani di bidang diakonia, dengan memerhatikan anak yatim piatu?

    Selamat sejenak merenung. Ingatlah: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya adalah mati (Yakobus 2:17). (pg)

  • INDAHNYA Kenangan Indah

    Sahabat, puncak acara Yubileum Christopherus berupa Kebaktian Syukur,  diselenggarakan pada hari ini 30 Mei 2022,  di GBT KAO Semarang.

    Dalam buku Bunga Rampai “Christ for all, all for Christ” yang diterbitkan dalam rangka Yubileum Christopherus, Setio Boedi menulis satu artikel berjudul: “Memandang Andreas Christanday”.

    Dalam bagian awal tulisannya, dia menulis, “Seorang Andreas Christanday adalah manusia langka. Salah satu kelangkaan yang kudapati dari  Evangelis  Andreas Christanday adalah semangat dan cintanya yang luar biasa untuk melayani Tuhan Yesus.  Sejak muda dia terlibat dalam pelayanan-pelayanan penting di ladang Tuhan sampai saat ini.”

    Sahabat, kejadian sangat menyesakkan yang diketahui oleh banyak orang karena termuat di berbagai media, terutama media online (internet). Yakni berpulangnya kedua cucu tercinta Pak Andreas pada peristiwa  kecelakaan di pantai Seminyak, Bali pada pertengahan tahun 2020.

    Beberapa bulan setelah peristiwa itu, Pak Andreas membuat pelayanan online melalui channel Youtube (@Yayasan Christopherus) dengan serial  yang diberi judul “Satu Menit Bersama Andreas Christanday”. Saat ini, sudah enam ratus nomor lebih terposting di channel tersebut. Dengan tema yang sangat aktual dan variatif.

    Bayangkanlah, seorang yang pada  tahun 2022 genap  berusia 78 tahun begitu bersemangat, gigih dan sukacita melayani Tuhan dengan bentuk pelayanan online yang mengglobal. Setiap hari! Sungguh pribadi hamba  pilihan-Nya.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “INDAHNYA Kenangan Indah”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Filipi 1:3-11 dengan penekanan pada ayat 3. Sahabat, menjadi seseorang yang diingat oleh orang lain karena kenangan yang baik ternyata sungguh indah.

    Tak terkecuali bagi jemaat di Filipi. Kepada jemaat itu, Rasul Paulus menulis surat singkat dari balik jeruji penjara. Secara khusus, ia mengingat kembali akan kebaikan-kebaikan Tuhan yang dialaminya melalui jemaat Filipi. Jemaat itu mempunyai kontribusi yang penting dalam pelayanan Paulus, baik melalui persekutuan mereka dengan Paulus maupun melalui dukungan finansial mereka. Paulus dan jemaat di Filipi saling mendukung. Mereka, tentu saja, juga bersyukur karena saling memiliki satu sama lain.

    Sahabat, kita tentu rindu untuk meninggalkan kenangan yang baik dan indah bagi sesama. Tentu saja, bukan supaya mereka mengingat bahwa diri kita orang yang baik, melainkan supaya mereka dapat melihat kebaikan Tuhan. Melalui kebaikan-kebaikan kita, kiranya orang-orang di sekeliling kita bisa bersyukur dan melihat kasih Tuhan. Sebaliknya pula, kiranya kita senantiasa menyimpan kenangan tentang kebaikan hati sahabat-sahabat kita.  
       
    Belum terlambat, masih terbuka kesempatan bagi kita untuk meninggalkan kenangan indah. Sesungguhnya setiap perjumpaan kita dengan sesama, akan menggoreskan kesan. Sedangkan hari yang kita jalani saat ini akan segera menjadi masa lalu. Karena itu lakukanlah yang terbaik agar menjadi masa lalu yang indah untuk dikenang. (pg)