Category: Sejenak Merenung

  • Ojo Cedak Kebo Gupak

    JUDUL  di atas merupakan pitutur kuno di Jawa, yang berarti jangan berdekatan dengan kerbau kotor. Adapun maknanya: Dalam bergaul, carilah teman (orang) yang baik, hindari berteman dengan orang yang tidak baik.

    Sahabat, dengan siapa kita bergaul atau membangun hubungan mempunyai pengaruh yang kuat terhadap kehidupan rohani kita.  Bersekutu atau bersahabat dengan orang-orang yang rohani akan turut mempercepat kita menuju kepada kedewasaan iman dan membawa kita kepada kemenangan. 

    Sebaliknya, bila kita lebih banyak menghabiskan waktu berhubungan dengan orang-orang yang tidak rohani, kita akan tersesat semakin jauh dari Tuhan dan kita akan terjun bebas menuju kekalahan.  Itulah sebabnya Rasul Paulus mengingatkan agar kita hati-hati dalam pergualan, hati-hati dalam memilih teman,  “Janganlah kamu sesat:  Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.”  (1 Korintus 15:33). 

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Ojo Cedak Kebo Gupak”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 19:1-29. Sahabat, kedatangan dua malaikat ke Sodom adalah hendak melihat kejahatan penduduk Sodom. Ternyata kejahatan orang-orang Sodom sedemikian hebatnya.

    Ketika dua malaikat bermalam ke rumah Lot, kaum laki-laki, dari anak-anak sampai orang tua, memaksa Lot untuk menyerahkan dua orang tamunya. Inilah kejahatan homoseksual.

    Selain itu, perzinaan tampaknya juga menjadi kebiasaan waktu itu. Terbukti dengan cara Lot melindungi dua orang tamunya, tanpa tanggung-tanggung ia menyodorkan dua anak perempuannya yang masih gadis kepada orang banyak (ayat 7-8). Ia rela mengorbankan 2 orang  anak gadisnya. Tampaknya praktik demikian sudah menjadi kebiasaan. Itulah dosa Sodom dan Gomora sehingga Allah hendak memusnahkannya.

    Sahabat, Lot sudah terpengaruh oleh lingkungan yang berdosa. Ia tidak bisa menjadi saksi yang dapat dipercaya Allah untuk menjadi penyelamat. Bahkan kedua calon menantunya meremehkannya (ayat 14). Apalagi untuk mengingatkan orang-orang Sodom dan Gomora untuk bertobat.

    Sungguh, dalam pergaulan, lingkungan sangat memengaruhi. Ketika anak kita bergaul dengan anak-anak nakal, maka mereka akan terpengaruh menjadi nakal. Ketika anak kita bergaul dengan anak-anak berprestasi, hal itu akan memacu mereka untuk berprestasi. Karena itu, carilah pergaulan yang baik.

    Sahabat, marilah kita selektif dalam bergaul. Ojo cedak kebo gupak.  Dalam arti bukan pilih yang kaya dan bukan asal pilih, namun memilih pergaulan yang dipandang baik bagi kebaikan dan yang dapat meningkatkan ketaatan iman. Jangan sampai kita menderita akibat salah pergaulan.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pelajaran berharga apa yang Sahabat peroleh dari perenungan hari ini?
    2. Mengapa Lot dan keluarganya dituntun keluar oleh malaikat keluar dari Sodom? (ayat 29)
    3. Mengapa gaya hidup Lot menjadi berubah sama seperti orang-orang yang tinggal di Sodom dan Gomora? (2 Petrus 2:7-8)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan menolong dan memberkati. (pg)

  • Menguatkan KEPERCAYAAN Kepada TUHAN

    Pernahkah Sahabat mengalami begitu banyak masalah yang datang bertubi-tubi dalam jarak waktu yang pendek? Masalah yang satu belum  beres,  sudah datang dua lagi sampai Sahabat tertimbun di dalam tumpukan masalah dan merasa tidak lagi mampu keluar dari timbunan tersebut?

    Saya rasa hampir semua orang pernah mengalaminya, tidak terkecuali saya sendiri. Bagi yang pernah mengalami hal seperti itu tentu tahu bagaimana berat rasanya. Tidak jarang orang lalu menyerah, putus asa dan memilih melakukan hal-hal yang bodoh akibat tidak tahan menderita lebih lama lagi. Ada yang kemudian menjadi ragu akan kebaikan Tuhan dan terjebak untuk mengambil jalan-jalan pintas yang menyesatkan. Sesungguhnya justru kita perlu menguatkan kepercayaan kepada Tuhan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Menguatkan KEPERCAYAAN Kepada TUHAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 118:1-18. Sahabat, dalam bacaan kita pada hari ini, Pemazmur mengajar kita tentang bagaimana seharusnya kita menaruh kepercayaan yang penuh kepada Tuhan. Pemazmur juga mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya yang penuh dengan kesesakan. Namun, di tengah kondisi yang demikian Pemazmur berseru kepada Tuhan memohon pertolongan-Nya (ayat 5).

    Pemazmur tidak mau meletakkan pengharapannya pada siapa pun meskipun orang itu memiliki kekuasaan dan kedudukan yang tinggi atau memiliki banyak harta (ayat 8-9). Mengapa? Sebab bagi Pemazmur, sehebat apa pun manusia, ia tetap tidak dapat menyelamatkan dirinya. Hanya Tuhan yang mampu menolong dan menyelamatkannya. Apabila Tuhan berada di pihaknya, manusia tidak dapat mencelakakannya (ayat 6).

    Sahabat, sekalipun kesulitan mungkin tidak berlalu begitu saja dari hidupnya, tetapi ia yakin tangan Tuhan tetap menopang dan memberi perlindungan. Hal ini terbukti ketika Pemazmur berseru kepada Tuhan dan Tuhan menjawabnya dengan memberi kelegaan (ayat 5).

    Jika kita berani untuk memercayakan diri kepada yang sementara, yang bahkan tidak memberikan jaminan apa pun kepada kita, masakan kita tidak mau menguatkan kepercayaan kita kepada Tuhan, Sang Pemilik dan Penguasa atas hidup kita?

    Sahabat, di tengah segala pergumulan hidup, mari kita belajar seperti Pemazmur untuk menaruh kepercayaan secara penuh hanya kepada Tuhan sebab Dialah satu-satunya Pribadi yang dapat menolong dan menyelamatkan kita.

    Memang kesulitan itu tidak segera berlalu, tetapi yakinlah bahwa tangan-Nya akan selalu menopang mereka yang berseru kepada-Nya. Marilah kita berharap dan menguatkan kepercayaan kita  kepada-Nya, Ia pasti akan memberikan pertolongan dan kelegaan kepada kita. 

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang dinyatakan berulang-ulang oleh Pemazmur dalam ayat 1-4? Mengapa?
    2. Apa yang dinasihatkan oleh Pemazmur dalam ayat 8-9? Mengapa?
    3. Apa jaminan bagi orang-orang yang takut akan Dia  (orang benar)? (Ayat 15-16)

    Selamat sejenak merenung. Ingatlah: Hidup kita sepenuhnya bergantung kepada Tuhan, Dia satu-satunya tempat perlindungan! (pg)

  • Cukup 10 ORANG Saja

    Bung Karno, Proklamator negara kita  pernah berkata, “Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Artinya: sedikit orang saja, jikalau benar-benar berpotensi dan berupaya, akan sanggup mewujudkan kerinduannya.

    Sahabat, seringkali kita menjadi apatis ketika melihat sesuatu yang rasanya mustahil kita perbaiki dengan melihat kemampuan yang ada. Misalnya, kita ingin memberantas korupsi di negara ini, tapi kita kemudian berpikir, berapa banyak orang yang peduli? Untuk membersihkan satu kecamatan saja rasanya sudah tidak mungkin, apalagi bermimpi untuk membersihkan satu negara.

    Terbersit satu pertanyaan: Berapa banyak orang benar yang dibutuhkan untuk bisa merubah nasib   sebuah bangsa atau negara? Seribu? Seratus ribu? Sejuta? Sepuluh juta atau lebih? Berapa angka yang akan membuat Sahabat yakin mampu membawa sebuah perubahan ke arah yang lebih baik bagi sebuah bangsa  atau negara? Bagi Tuhan, cukup 10 orang saja.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Cukup 10 ORANG Saja”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 18:16-33 dengan penekanan pada ayat 32. Sahabat, Abraham tahu bahwa Allah akan menghukum orang-orang Sodom. Pertanyaannya adalah apakah Tuhan akan menghukum orang benar bersama dengan orang fasik? (ayat 23).

    Abraham kemudian “tawar-menawar” kepada Tuhan dengan menyodorkan 50 orang benar. Jawaban Tuhan adalah Ia tidak akan membinasakan kota Sodom. “Tawar-menawar” itu berlangsung sampai batas 10 orang benar. Namun, jawaban Tuhan tetap sama. itu berarti Tuhan tidak menjumpai ada 10 orang benar di kota Sodom. Itu sebabnya Ia menghukum penduduk Sodom.

    Penghukuman Sodom merupakan peringatan dan contoh konkret bagi generasi mendatang agar mereka hidup yang menyenangkan Tuhan. Percakapan antara Abraham dan Allah cukup serius karena menyangkut rasa keadilan. Abraham terang-terangan mencoba memperkecil jumlah orang benar yang diperlukan guna menyelamatkan penduduk Sodom. Di sinilah perjuangan Abraham untuk mendesak Allah membatalkan hukuman-Nya demi orang benar walaupun jumlahnya relatif sedikit.

    Sering kali kita memakai istilah minoritas untuk tidak berani memperjuangkan kebenaran. Tuhan justru menghargai minoritas yang berani memperjuangkan kebenaran-Nya. Jumlah 10 orang benar jika dibanding dengan penduduk Sodom yang demikian banyaknya sangatlah tidak sebanding, namun Tuhan siap menyelamatkan Sodom jikalau ada 10 orang benar.

    Sahabat, 10 orang tidaklah banyak. Jumlah itu bahkan tidak cukup untuk membentuk sebuah kesebelasan sepak bola. Tapi dimata Tuhan jumlah itu sudah mampu membawa perubahan dan cukup pula untuk memulai sebuah gerakan yang bisa membuka pandangan orang akan kebenaran firman Tuhan. Sahabat  tidak perlu apatis, patah semangat atau putus asa. Jalankan tepat seperti apa yang dikehendaki Tuhan, dan disana Roh Kudus akan melakukan sesuatu lewat apa yang Sahabat  perbuat. Biar sedikit, atau bahkan Sahabat sendirian, percayalah orang bisa melihat sesuatu yang berbeda pada dirimu. Jangan lupa pula untuk terus mendoakan bangsa dan negara lewat doa-doa syafaat.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami tentang doa syafaat? (1 Timotius 2:1-4)
    2. Menurut Sahabat, mana yang lebih penting kualitas atau kuantitas? Mengapa?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan menolong dan memberkati. (pg)

  • KASIH TUHAN yang HEBAT

    Bila kita ingat tentang kasih Tuhan dalam hidup ini, sampai kapan pun kita takkan sanggup menghitung dan mengukurnya.  Kebaikan, kemurahan, kesetiaan, pemeliharaan dan perlindungan Tuhan atas kita sungguh tiada terbilang (Efesus 3:18).

    Sahabat,  memimpin acara kuis Alkitab menjadi salah satu hobi saya, dan Mazmur 117 hampir selalu menjadi salah satu bahan pertanyaan. Mengapa?  Karena Mazmur 117 merupakan pasal terpendek dalam Alkitab. Selain itu,  Mazmur 117 merupakan pasal tengah dalam Alkitab, yaitu pasal ke-595. Meskipun Mazmur 117 hanya berisi 2 ayat, tapi bercerita tentang KASIH TUHAN yang HEBAT.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “KASIH TUHAN yang HEBAT”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 117:1-2. Sahabat, Mazmur terpendek ini merupakan mazmur pujian yang menggemakan inti  iman umat Israel. Tuhan adalah Allah yang penuh KASIH   dan KESETIAAN  (ayat 2). Yang  lebih indah ialah bahwa mazmur ditujukan kepada semua bangsa (ayat 1).

    Sahabat, kasih  dan kesetiaan memang merupakan karakter Ilahi yang menjadi  dasar umat Israel hadir dalam sejarah dunia. Kasih setia Allah telah menjadikan Israel umat pilihan, yaitu dengan cara menebus  mereka dari perbudakan Mesir sesuai dengan janji Allah kepada nenek moyang mereka.

    Kasih setia juga yang membuat Allah mengikatkan diri-Nya kepada umat-Nya dengan perjanjian Sinai.  Ikatan anugerah tersebut ialah agar betapa pun Israel berontak,  sehingga Allah harus menghajar mereka dengan keras, Dia tetap pada akhirnya menyelamatkan mereka.

    Sahabat, kebenaran ialah karakter Allah yang Esa. Tidak ada kebenaran sejati di  luar Allah. Israel belajar hanya menyembah Dia, dan bukan ilah lain yang mati. Kebenaran berkaitan erat dengan kesetiaan, maka Allah yang adalah sumber kebenaran,  tidak bisa mengingkari diri-Nya sendiri termasuk janji-Nya bagi umat-Nya.

    Pada saat yang sama, umat Israel yang oleh kasih  dan kesetiaan  Allah telah menerima anugerah keselamatan, harus menyadari bahwa  mereka dipilih untuk membawa berita keselamatan ini bagi  bangsa-bangsa lain. Maka, Mazmur 117  dikumandangkan bukan hanya untuk Israel, melainkan untuk semua bangsa.

    Sahabat, bukankah kasih Tuhan sangat luar biasa dalam hidup kita, karena Dia rela mengorbankan nyawa-Nya menebus dosa-dosa kita, mengampuni kesalahan kita, membebaskan kita dari segala kutuk, dan karena kasih-Nya kita diangkat sebagai anak-anak-Nya. 

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa respons kita atas kasih Tuhan yang hebat bagi kita?
    2. Mengingat Mazmur 117 dikumandangkan untuk semua bangsa, apa yang menjadi respons kita sebagai komunitas orang percaya di Zaman Now?

    Selamat sejenak merenung. Mari kita mendaraskan: “Ya TUHAN, kasih-Mu sampai ke langit, setia-Mu sampai ke awan.  Betapa berharganya kasih setia-Mu, ya Allah! …”  (Mazmur 36:6, 8). (pg).

  • KASIH itu MELIHAT

    Terima kasih Tuhan, hari ini 8 Juni 2022, kami dapat mensyukuri ulang tahun pernikahan kami yang ke-40. Tuhan telah mempertemukan kami pada sekitar bulan April 1977 di GKMI Semarang. Kami sama-sama terlibat dalam pelayanan di Komisi Sekolah Minggu dan Pemuda Natanael.

    Kami menikah pada 8 Juni 1982. Dalam perjalanan kebersamaan, kami terus berupaya dan berjuang menggelorakan cinta dalam hati. Kami tidak terus mengungkit kesalahan, tapi terus mengingat kebaikan. Kami tidak saling menuntut, tapi saling memberi. Bagi kami, cinta itu mampu melihat. Dia mampu melihat kelemahan dan kesalahan, tapi itu tidak kami masalahkan. Kami lebih mengedepankan pengampunan dan penerimaan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “KASIH itu MELIHAT”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari 1 Petrus 4:7-11 dengan penekanan pada ayat 8. Sahabat, ada ungkapan yang mengatakan:  Cinta itu buta (Love is blind). Hampir semua orang mengenal ungkapan tersebut.  Apa artinya? Sebagian besar orang mengartikan bahwa jika seseorang jatuh cinta, maka ia tidak memikirkan hal-hal lain selain keinginan untuk mendapatkan orang yang dicintainya.

    Raja Edward VIII misalnya, melakukan sesuatu hal yang tidak pernah dibayangkan orang lain. Ia jatuh cinta kepada seorang wanita Amerika yang bersuami dan sebelumnya sudah pernah menjanda. Untuk bisa menikahi wanita tersebut, Raja Edward melepaskan takhta secara resmi pada tanggal 10 Desember 1936.

    Rasul Petrus mendorong jemaat agar saling mengasihi dengan sungguh-sungguh. Namun kasih yang dimaksud Petrus melampaui apa yang terjadi pada cinta Raja Edward VIII. Kasih murni tertuju tidak hanya pada seseorang yang dianggap istimewa. Kesabaran dan kelembutan sebagai ciri kasih menjadi karakter pribadi yang ditujukan bagi semua orang percaya. Saling merendah dan berkorban menjadi sifat mulia yang menguatkan satu sama lain.

    Kasih yang kudus tidaklah buta. Ia mampu melihat jelas adanya kelemahan dan kesalahan pada orang lain. Namun kelemahan dan kesalahan tidak lagi diperhitungkan. Terjadi saling mengampuni. Juga saling melayani (ayat 10). Kristus yang menderita menjadi teladan dan sumber inspirasi (ayat 1). Dengan demikian, orang percaya bahkan dapat bersukacita di tengah situasi penindasan dan aniaya. Namun kasih seperti itu tidak terjadi secara otomatis. Melainkan harus diupayakan dan diperjuangkan dengan sangat serius.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Menurut Sahabat, mana yang benar, kasih  itu buta atau kasih itu mampu melihat? Mengapa? (Ayat 8)
    2. Bagaimana supaya Sahabat dapat berdoa? (Ayat 7)
    3. Apa yang diminta oleh Rasul Petrus untuk kita lakukan? (Ayat 10-11)

    Selamat sejenak merenung. Mari berupaya mengasihi dengan sungguh-sungguh tanpa terus mengungkit kelemahan dan kesalahan orang lain. (pg)

  • Tinggal SATU TAHUN Saja

    Sahabat, hampir setiap orang percaya akan mudah berkata, “Tuhan  pasti akan menepati janji-Nya kepada kita.” Namun, bagaimana sikap kita dalam menantikan janji Tuhan itu? Kita sering kurang percaya kalau Tuhan sanggup menggenapi janji-Nya, dan kurang sabar untuk menantikan penggenapan janji-Nya.

    Untuk mengalami penggenapan janji Tuhan, kita harus bersabar menanti-nantikan waktu Tuhan.  Kesabaran adalah bagian dari proses ujian yang mesti kita jalani, seperti seorang petani yang harus bersabar menantikan hasil panen (Yakobus 5:7).  Mengapa ada orang percaya yang tidak menikmati janji-janji Tuhan?  Karena mereka tidak sabar.  Mereka berdoa meminta sesuatu kepada Tuhan, maunya saat itu juga Tuhan mengabulkan permintaannya.  Mereka tidak mau menunggu lama-lama.  Di Zaman Now yang mengedepankan serba instan, kesabaran menjadi  barang langka. Sahabat, bersabarlah, tinggal satu tahun saja.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Tinggal SATU TAHUN saja”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 17:1-27 dengan penekanan pada ayat 21. Sahabat, Allah terus-menerus mengulangi perjanjian-Nya kepada Abraham, yaitu Abraham akan mempunyai keturunan dan tanah Kanaan akan diberikan Allah kepada keturunan Abram (ayat 2-8).

    Allah mengikat perjanjian-Nya dengan sebuah tuntutan bahwa Abram harus hidup taat sesuai dengan kehendak-Nya, hidup tak bercela, dan setiap kaum laki-laki harus disunat. Dengan sunat maka hidup baru dimulai dan hidup lama berlalu. Di sini, sunat merupakan tanda keselamatan bagi keturunan Abram (ayat 9-10). Selain itu, sunat dapat dipahami sebagai meterai karya kasih Allah.

    Sahabat, Allah juga mengubah nama Abram menjadi Abraham, sedangkan Sarai menjadi Sara. Nama “Abram” berarti bapak yang diagungkan, sedangkan nama “Abraham” berarti bapak banyak bangsa. Sedangkan nama “Sara” berarti ia akan menjadi ibu raja-raja. Perubahan nama ini MENEGASKAN bahwa JANJI ALLAH PASTI  DIGENAPI .

    Kemudian Tuhan meyakinkan Abraham, “ … perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga.” (ayat 21). HANYA TINGGAL SATU TAHUN SAJA, janji Tuhan pasti mewujud.

    Sahabat, ketika Allah menginginkan hal-hal yang tampak mustahil terjadi dalam hidup, justru kita kadang meragukan kemampuan Allah. Akal budi kita sering kali menjadi persoalan utama. Ketidakmampuan pikiran manusia memahami cara kerja Allah membuat manusia menganggap rancangan Allah sebagai kemustahilan. Memang dibutuhkan kerendahan hati,  ketaatan, ketekunan, dan kesabaran  kita untuk melihat bagaimana Tuhan menggenapi janji-Nya.

    Tuhan juga memberikan janji-janji-Nya kepada kita. Keseluruhan janji itu tertulis di Alkitab, di antaranya janji penyertaan (Matius 28:20), janji pemenuhan (Filipi. 4:19), dan janji kehidupan yang penuh damai sejahtera (Yohanes 14:27). Faktanya, janji Allah bukan sekadar perkataan manis, melainkan sudah teruji kebenarannya! Maukah kita memercayainya?

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa respons Abraham setelah mendengar penegasan janji Tuhan?  (Ayat 17-18)
    2. Setelah Allah selesai berfirman kepada Abraham dan kemudian meninggalkan Abraham, apa yang segera dikerjakan oleh Abraham? (Ayat 23-27)

    Selamat sejenak merenung. Yakinlah:  Apabila kita menemukan sosok pribadi yang tidak pernah ingkar janji, Dia itu pasti adalah Tuhan! (pg)

  • SANGAT BERHARGA di Mata TUHAN

    Sahabat, saya kaget, prihatin, dan sedih dengan apa yang sering kita dengar akhir-akhir ini: Bunuh diri, pembunuhan, tawuran, penganiayaan dan tindak kekerasan lainnya yang semakin marak terjadi. Bahkan banyak tindak kekerasan dan pembunuhan seringkali terjadi karena masalah yang sepele, seolah-olah nyawa manusia  tidak ada harganya. Lebih miris lagi, banyak kejadian tersebut melibatkan anak muda, remaja bahkan anak-anak yang masih berstatus pelajar.

    Sesungguhnya tidak ada harta di dunia ini bisa menggantikan nyawa kita. Jikalau harta seluruh dunia ini dikumpulkan jadi satu, itupun tidak cukup berarti untuk bisa menggantikan nyawa dan hidup kita.

    Sahabat, ingatlah: Apapun keadaanmu saat  ini: Miskin, kaya, tinggi, pendek, hidung mancung, hidung pesek, sehat, sakit, hitam, atau putih,  Tuhan mengasihimu  semua. Hidupmu sangat berharga di mata-Nya.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “SANGAT BERHARGA di Mata TUHAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 116:1-19 dengan penekanan pada ayat 15. Sahabat, Pemazmur mengemukakan pengharapannya kepada Tuhan yang ia percayai bahwa Ia mendengar doanya dan tahu tentang keadaannya (ayat 1-4). Kemudian, ia menyatakan apa yang dipercayainya tentang sifat Allah yang pengasih, adil, dan pemelihara (ayat 5-6).

    Pemazmur juga menyampaikan apa yang telah Ia perbuat juga sebagai dasar bagi dia untuk percaya (ayat 7-10). Ia tidak menaruh pengharapannya pada manusia karena baginya semua manusia adalah pembohong. Ia hanya percaya dan berharap kepada Tuhan. Karena itu, ia berusaha menyenangkan hati Tuhan (ayat 12-14, dan 16-19).

    Sahabat, bagi Pemazmur, walau seandainya ia harus mengalami kematian karena Tuhan tidak meluputkannya dari maut, ia tetap memercayai bahwa kematiannya itu juga adalah kehendak Tuhan dan sesuatu yang berharga di mata Tuhan.

    Fakta yang kita temui sampai dengan hari ini barangkali adalah apa yang disampaikan Pemazmur hanya sebatas pengharapan kita kepada Tuhan dan biasanya hanya diucapkan di tengah-tengah dukacita karena kematian seseorang dengan mengutip ayat yang berbunyi,  “Berharga di mata TUHAN kematian semua orang yang dikasihi-Nya” (ayat 15).


    Ayat 15 menuntun kita dalam merespons kasih Allah yang memandang kita sebagai pribadi yang berharga. Kita ditantang untuk lebih memercayai-Nya dengan apa yang telah, sedang, dan akan Ia lakukan bagi kita sampai kita semua bertemu kembali dengan-Nya.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa saja yang dilakukan oleh Pemazmur karena Ia mengasihi Tuhan? (Ayat 1-4)
    2. Sifat-sifat Tuhan seperti apa yang digambarkan Pemazmur dalam ayat 5-6?
    3. Apa yang akan dilakukan oleh Pemazmur sebagai respons atas kebaikan, kemurahan, dan kesetiaan Tuhan? (ayat 12-14 dan 16-19)

    Selamat sejenak merenung. Mari kita daraskan ayat berikut ini: “Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan TUHAN untuk selama-lamanya.”  (Mazmur 117:2). (pg)

  • Allah TIDAK BUTUH bantuan kita

    Sahabat, jika sepasang suami istri tidak mempunyai anak, ada cukup banyak orang yang berpendapat bahwa  kebahagiaan dalam keluarga terasa kurang sempurna. Karena itu, ada pasangan yang bercerai dan menikah lagi hanya untuk memperoleh keturunan. Ada pula pasangan yang mengadopsi anak.

    Meskipun Sarai tidak mempunyai anak, hal itu tidak membuatnya ingin bercerai. Sebaliknya, ia membujuk Abram, suaminya  agar memperistri Hagar (hambanya) dengan harapan mempunyai anak yang bisa dijadikan sebagai ahli waris. Dalam budaya Mesopotamia, hal tersebut diatur dan diperbolehkan.

    Keraguan Sarai akan janji Allah membuatnya mengambil keputusan menawarkan Hagar kepada suaminya. Kurangnya iman Sarai terhadap janji Allah memunculkan ide agar Abram memperistri Hagar. Sarai berpikir tindakannya tersebut dapat membantu Allah untuk menggenapi janji-Nya. Sesungguhnya Allah tidak membutuhkan bantuan manusia untuk menggenapi janji-Nya. Dia itu Mahakuasa, tiada yang mustahil bagi-Nya. Allah tidak butuh bantuan kita.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Allah TIDAK BUTUH bantuan kita”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 16:1-16. Sahabat,  Secara status, Hagar hanyalah seorang hamba, orang asing yang tidak masuk hitungan. Seiring berjalannya waktu Hagar lupa pada perjanjiannya dengan Sarai  (majikan). Ketika Hagar mulai mengandung, muncullah dalam dirinya sikap meremehkan puannya.  Ia mulai merendahkan dan melukai hati Sarai yang dianggapnya tidak mampu memberikan keturunan kepada Abram. 

    Sarai pun tak kuat menanggung beban dan sakit hatinya, lalu menceritakan masalah tersebut kepada suaminya, tetapi Abram lepas tangan dan memberikan hak kepada istrinya untuk masalahnya dengan Hagar.  Sarai harus menanggung akibat dari tindakannya, sebab apa yang dirancangkan tidak sesuai dengan harapan, sebaliknya berdampak buruk terhadap dirinya sendiri.  Hati Sarai terluka oleh karena sikap Hagar yang tak berhenti menyakitinya.

    Sarai pun kemudian menindas Hagar. Itulah yang membuat Hagar tertekan dan lari meninggalkan rumah dalam kondisi hamil (ayat 6). Jikalau Sarai taat dan percaya kepada janji Allah, maka masalah tersebut tidak akan pernah muncul.

    Sahabat, tak bisa dipungkiri bahwa menunggu adalah pekerjaan yang sangat membosankan, apalagi menunggu janji untuk waktu yang lama, bukan pekerjaan mudah.  Menunggu janji Tuhan butuh kesabaran dan ketekunan!  Kita harus benar-benar memiliki penyerahan penuh kepada Tuhan. 

    Bila saat ini kita sedang menunggu janji Tuhan, apa pun itu:  Pekerjaan, pelayanan, pasangan hidup, keturunan dan sebagainya, tetaplah tekun dan sabar menanti-nantikan Tuhan dan belajarlah untuk selalu taat kepada kehendak Tuhan.  Jangan sekali-kali mencari jalan keluar dengan menggunakan akal dan kekuatan sendiri.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang menyebabkan Sarai gagal dalam menanti penggenapan janji Tuhan? (Ayat 2)
    2. Apa yang menyebabkan Sarai menindas Hagar? (Ayat 4-6)

    Selamat sejenak merenung. Marilah kita mendaraskan ayat berikut: “Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia.”  (Ibrani 10:23). (pg).

  • KEBIMBANGAN: Musuh dari Iman

    Sahabat, KEBIMBANGAN adalah salah satu panah yang Iblis lepaskan ke arah setiap orang percaya selain ketakutan, kekhawatiran dan sejenisnya.  Iblis mau supaya manusia tidak lagi percaya dan beriman kepada Tuhan dan firman-Nya, melainkan percaya kepada dustanya. 

    Jelas sekali bahwa kebimbangan adalah musuh dari iman.  Selama kebimbangan menguasai hati dan pikiran seseorang mustahil ia memercayai janji Tuhan yang tertulis di Alkitab.  Secara fisik mungkin saja seseorang berada di ruang ibadah dan mendengarkan firman Tuhan, tetapi sesungguhnya firman tersebut tidak lagi mendapat tempat di hati dan pikirannya.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “KEBIMBANGAN: Musuh dari Iman”, Bacaan Sabda saya ambil dari Kejadian 15:1- 21. Sahabat, Abram menyadari bahwa dirinya sudah tua. Ia juga tidak memiliki keturunan sebagai ahli waris. Karena itu, ia mempersiapkan Eliezer menjadi ahli warisnya (ayat 2). Itulah adat dan budaya yang berlaku pada waktu itu.

    Namun, Allah tetap setia pada perjanjian-Nya bahwa yang akan menjadi ahli waris adalah keturunan jasmani Abram dan Sarai (Kejadian 12:2). Allah memperteguh janji-Nya kepada Abram bahwa keturunannya akan sebanyak jumlah bintang di langit (ayat 5). Abram memercayai janji itu dan Allah memperhitungkannya sebagai kebenaran.

    Sahabat, Percaya bukanlah barang jadi. Kepercayaan dalam diri seseorang merupakan proses. Iman sangat terkait erat dengan pertumbuhan dan tidak sekali jadi. Setiap orang perlu belajar percaya.

    Meski telah empat kali Allah menampakkan diri kepada Abram, dan janji akan keturunan itu belum tergenapi, Abram belajar untuk percaya. Percaya berarti memercayakan diri kita kepada pribadi yang kita percayai. Dan Abram memercayakan dirinya kepada Allah. Itulah yang menyenangkan hati Allah.

    Mengapa Abram percaya? Sejatinya itulah jalan terlogis. Bukankah Allah itu Mahakuasa? Bukankah Abram telah menjadikan Dia sebagai Tuannya? Dan jalan terlogis seorang hamba-yang memang tidak tahu hari depan adalah percaya penuh kepada Sang Tuan.

    Sahabat, Allah sungguh menghargai orang yang percaya penuh kepada-Nya. Karena itu, apa pun persoalan yang kita hadapi, hanya iman kepada Allahlah yang akan menjadi kekuatan dan solusi. Tentu ada banyak hambatan, tantangan, dan godaan dalam hidup kita. Semuanya itu kadang membuat kita khawatir dan cemas akan janji Allah. Marilah kita terus belajar untuk tetap percaya kepada-Nya! Sebab Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita (Roma 8:28). Sekali lagi, percayalah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Mengapa Abram mendapat predikat: “Bapa orang beriman”? (ayat 6 dan Roma 4:20)
    2. Apa yang menyebabkan Abram percaya kepada janji-janji Tuhan? (Ayub 42:2)

    Selamat sejenak merenung. Ingatlah: Kuatkanlah iman kita demi meraih janji TUHAN dalam hidup kita. (pg)  

  • MUKJIZAT: Bagian Tuhan

    Sahabat, coba kita amanati, ketika kita merayakan ulang tahun gereja, maka hampir pasti akan disampaikan tentang Sejarah Gereja. Banyak hal akan diungkap, sejak awal gereja dirintis sampai saat ulang tahun gereja dirayakan.

    Hal yang paling ditonjolkan adalah campur tangan Tuhan dalam perjalanan pelayanan gereja. Banyak hal yang patut disyukuri dan dinyatakan. Salah satu pernyataan kita sebagai komunitas orang percaya: Bahwa sesungguhnya MUKJIZAT itu merupakan bagian Tuhan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “MUKJIZAT: Bagian Tuhan”,  Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 114:1-8.  Sahabat, dengan gaya sastra yang unik dan apik, Mazmur 114 menceritakan kembali bagaimana bangsa Israel keluar dari Mesir. Untuk membawa bangsa Israel ke Tanah Perjanjian, Allah membelah Laut Teberau (Keluaran 14:21-31) dan menghentikan aliran Sungai Yordan (Yosua 3:16). Hampir setiap gunung yang dilewati menyimpan kenangan ajaib, khususnya ketika gunung batu yang keras memancarkan air untuk diminum (Keluaran 17:6).

    Sahabat, Mazmur 114 menjadi menarik karena Pemazmur menceritakan kedahsyatan peristiwa tersebut dengan bertanya kepada alam, tentang apa yang membuat mereka (laut, sungai, gunung, dan bukit) bereaksi sedemikian dahsyat (ayat 5-6).

    Tanpa perlu dijawab, semua orang sudah tahu jawabannya: Tuhan semesta alamlah yang menggerakkan mereka. Walaupun demikian, pertanyaan Pemazmur membawa kita untuk menantikan jawaban maupun pengakuan alam terhadap kedahsyatan Tuhan.

    Dengan pertanyaan: “Ada apa …?”, jawaban yang diharapkannya merujuk pada suatu peristiwa (ayat  5). Peristiwa itu adalah penyelamatan umat Allah; ada umat Allah yang akan lewat. Pemazmur hendak menegaskan bahwa agar umat-Nya selamat, Allah tidak segan-segan mengadakan keajaiban alam. Tidakkah hal tersebut seharusnya menyadarkan kita: Betapa pentingnya keselamatan kita di hadapan Allah?

    Sahabat, hidup kita adalah perjalanan pembebasan dan penyelamatan oleh Allah. Sayangnya, kita sering lalai memerhatikan bagaimana Allah mengatur keadaan sekitar untuk menyelamatkan kita. Sering kali fenomena alam dimaknai sebagai hukuman Tuhan. Bagi orang Mesir, laut terbelah adalah penghancuran besar-besaran, dan aliran sungai yang terhenti adalah bencana bagi kehidupan orang Kanaan. Sebaliknya, bagi orang Israel, kedua keajaiban itu adalah peristiwa yang menyelamatkan.

    Belajar dari perjalanan orang Israel, baiklah kita mengimani bahwa Tuhan membawa kita pada keadaan yang lebih baik. Selain itu, setiap peristiwa yang terjadi, yang Tuhan izinkan untuk kita alami merupakan cara Tuhan untuk melapangkan jalan kita kepada-Nya.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Keyakinan apa yang perlu kita pegang erat-erat sebagai orang percaya? (Markus 9:23)
    2. Mengapa kita tidak boleh membiarkan ketakutan menguasai hidup kita? (Yesaya 51:10)

    Selamat sejenak merenung. Ingatlah: Tidak ada yang terlalu sukar bagi Tuhan, karena Dia Tuhan yang Mahakuasa! (pg).