Category: Sejenak Merenung

  • RIBKA: Pribadi yang Suka Menolong

    Sahabat, suka menolong adalah bukti bahwa dalam diri kita kasih Allah bekerja dengan baik. Pada dasarnya manusia senang dibantu. Dengan membawa spirit suka menolong dalam kehidupan keseharian, akan terbuka kesempatan hidup kita untuk menjadi berkat dan kesaksian bagi orang lain. Memang tidak mudah dan terkadang merepotkan, tetapi yakinlah bahwa taburan kebaikan kita akan berbuah manis.

    Pengalaman hidup saya dan istri membuktikan bahwa firman Tuhan itu ya dan amin, apa yang kita tabur, itulah yang akan kita tuai. Saat ini ketika kami sudah menjadi senior, kami menikmati apa yang telah kami tabur di masa muda. Bukan hanya saya dan istri yang menuai,  anak-anak kami juga sudah ikut menuai. Terpujilah Tuhan!

    Untuk lebih memahami topik tentang: “RIBKA: Pribadi yang Suka Menolong”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 24:1-67 dengan penekanan pada ayat 17-20. Sahabat, Dalam hal mencari jodoh, terlihat jelas bagaimana Tuhan menuntun Eliezer, hamba Abraham menemukan Ribka sebagai jodoh Ishak. Diceritakan bahwa Abraham sudah lanjut usia. Meskipun Sara telah wafat, Abraham masih memiliki tanggung jawab untuk mencarikan istri buat anaknya.


    Eliezer adalah pelayan Abraham yang bisa dikatakan sangat senior dan begitu setia sehingga ia dipercaya oleh tuannya untuk mengatur segala hal di rumahnya.  Bahkan Eliezer dipercaya oleh Abraham untuk tugas yang teramat penting, yaitu mencarikan jodoh untuk anaknya, yaitu Ishak. 

    Di satu sisi apa yang Abraham tugaskan ini merupakan suatu penghargaan dan kepercayaan yang luar biasa bagi Eliezer, namun di sisi lain perintah ini menuntut sebuah tanggung jawab yang besar, karena hal ini berdampak dan sangat menentukan bagi kehidupan Ishak di masa depan.  Bila salah dalam memilihkan pasangan hidup untuk Ishak, maka akibatnya akan sangat fatal.

    Setelah mengikat perjanjian dengan Abraham, pergilah Eliezer ke Aram-Mesopotamia dengan membawa berbagai barang berharga.  Sesampai di sana Eliezer merasa lelah, maka berhentilah ia di sebuah sumur di luar kota, di situlah ia melihat beberapa orang perempuan datang untuk menimba air.  Eliezer pun berdoa kepada Tuhan dan meminta tanda  (Ayat 12-14). 

    Hari itu Ribka menunjukkan kualitas pribadi yang luar biasa. Dikenal sebagai gadis yang berparas cantik (ayat 16), Ribka juga ternyata memiliki hati yang suka menolong. Kita dapat mengetahui hal itu ketika Eliezer menemuinya untuk meminta sedikit air minum, ternyata Ribka memberikan lebih dari yang diharapkan.

    Hamba itu diberinya minum sampai selesai, setelah itu giliran unta-untanya pun diberinya minum lewat air yang ditimba oleh Ribka. Bayangkan betapa repot dan melelahkannya semua itu, terlebih bagi seorang wanita. Namun, Ribka tidak ragu melakukannya karena kegemarannya membantu sesame (ayat 17-20). kebaikan Ribka hari itu yang membuka jalan baginya untuk menjadi istri dari Ishak.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, kerjakanlah beberapa tugas berikut ini:

    1. Sahabat, apa yang engkau pahami tentang pribadi yang suka menolong?
    2. Mengapa Eliezer berhasil menjalankan apa yang diamanatkan oleh Abraham kepadanya? (Ayat 12-14).

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: “Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata.” (Amsal 31:10).  (pg).

  • KISAH PERSAHABATAN Abraham dan Efron

    Apakah perbedaan antara teman dan sahabat? Sahabat sejati adalah ia yang tetap menemanimu pada saat semua teman pergi menjauhimu. Teman biasa adalah seseorang yang hanya mengenalmu. Namun sahabat adalah ia yang mengenal kebaikan dan keburukanmu, namun tetap menerimamu dengan apa adanya. Hubungan antar  sahabat bisa begitu kuat karena bisa memaknai hubungan tersebut.

    Sahabat, sesungguhnya selain keluarga, biasanya sahabatlah orang terdekat dalam hidup, tak jarang ia menjadi satu-satunya tempat pelarian, di saat   kebingungan mencari solusi atas masalah yang sedang kita hadapi. Dengan begitu betapa besarnya peranan seorang  sahabat.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “KISAH PERSAHABATAN Abraham dan Efron”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 23:1-20 dengan penekanan pada ayat 10-11. Sahabat,  pada usia 127 tahun Sara meninggal di daerah asing, yaitu Hebron, tanah Kanaan.

    Kematian Sara membuat Abraham terpukul dan berduka. Selama ini Sara telah menemaninya dalam suka dan duka. Mereka mengalami bagaimana janji Tuhan tentang ahli waris digenapi dalam kehidupan mereka. Semua kenangan tentang Sara membuat Abraham meratap dan menangis.

    Sahabat, sebagai rasa hormat dan terima kasihnya, Abraham ingin memberikan tempat pembaringan terakhir yang terbaik bagi Sara. Karena itu, ia meminta izin kepada bani Het untuk menguburkan istri tercintanya di tanah asing. Abraham juga meminta agar diperbolehkan membeli sebidang ladang dan sebuah gua Makhpela untuk kuburan Sara.

    Akan tetapi, Efron bin Zohar, sang pemilik, ingin memberikan kepada Abraham secara gratis. Bagi Efron, persahabatan dan persaudaraan dengan Abraham jauh lebih bernilai daripada sebidang tanah atau sejumlah uang.

    Sahabat, kisah kematian Sara dan pertolongan Efron adalah kisah persaudaraan, persahabatan  dan cinta kasih yang melampaui sekat dan batas suku, bangsa, bahasa, dan ikatan darah. Itulah persaudaraan sejati yang dikehendaki Tuhan kepada manusia.

    Sesungguhnya manusia tidak dapat hidup sendiri. Manusia perlu berelasi dengan sesamanya. Entah itu kerabat, tetangga, teman pelayanan, teman kuliah, teman kerja,  dan lain-lainnya. Persaudaraan dan persahabatan itu sungguh penting. Allah menghendaki setiap orang dapat berbagi dengan sesamanya dalam keragaman. 

    Sahabat, hari ini kita belajar bahwa di saat-saat sulit dan menyedihkan seperti kehilangan atau kemalangan yang kita alami, di situ kita tetap dapat  merasakan kemurahan dan janji Tuhan, melalui sahabat-sahabat  kita.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaam kita pada hari ini, bagikanlah pemahamanmu tentang persahabatan.

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hatimu: Allah kita setia! Di tengah ketidakpastian yang terjadi Ia tetap menunjukkan kemurahan-Nya melalui sahabat-sahabat kita. (pg).

  • BERSUKACITA Pergi Ke Rumah Tuhan

    Kalau Sahabat diminta untuk membuat daftar 10 tempat favoritmu yang paling sering kamu kunjungi dan membawa sukacita bagimu, adakah dalam daftar tersebut tercantum  gerejamu? Kalau tercantum ada di nomor berapa?

    Pertanyaan berlanjut, kalau hari Minggu tiba dan kamu pergi ke gereja, apakah itu merupakan jadwal rutin mingguan? Atau itu merupakan saat yang kamu nanti-nantikan dan kamu pergi ke gereja dengan penuh antusias? Semoga kita pergi ke rumah Tuhan dengan penuh sukacita.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “BERSUKACITA Pergi Ke Rumah Tuhan”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 122:1- 9 dengan penekanan pada ayat 1. Sahabat, pergi ke rumah TUHAN adalah kewajiban setiap orang percaya. Mengapa? Karena di sana kita bertemu dengan TUHAN yang akan memberikan segala berkat yang kita butuhkan. Di sana kita akan berjumpa dengan semua orang percaya dan akan saling mendukung dan mendoakan satu sama lainnya. Perasaan apa yang muncul di hati kita saat kita pergi ke rumah TUHAN?

    Pernyataan menarik disampaikan oleh Daud dalam Mazmur 122.  Ia merespons dengan sukacita ketika orang mengajaknya pergi ke rumah Tuhan. Tentulah ada alasan yang  mendasari respons Daud, antara lain: Ia melihat orang-orang bersyukur, ada otoritas yang diberikan bagi keluarga Daud, dapat berdoa bagi kesejahteraan bangsa pilihan Tuhan, dan bertemu dengan saudara-saudara seiman, seraya berharap mereka mengalami kebaikan dari Tuhan (ayat  2-9).

    Sahabat, Daud sesungguhnya punya alasan untuk bersukacita karena hal-hal lahiriah karena ia adalah seorang raja yang memiliki semua yang dibutuhkan:  Harta, pangkat/kedudukan, popularitas dan sebagainya.  Meski demikian ia tak menggantungkan harapan hidupnya kepada hal-hal lahiriah tersebut. 

    Bagi Daud sukacita sejati justru ia rasakan saat berada di rumah Tuhan.  Mengapa?  Karena di rumah Tuhan ia mendapatkan segala hal yang diperlukan:  Kelepasan, kelegaan, kemenangan, pertolongan dan mukjizat. 


    Namun yang paling utama, Daud mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan di bait-Nya yang kudus.  Bertemu dengan Tuhan berarti mendapatkan segalanya karena Dia adalah sumber segala-galanya.  Daud bersukacita karena Tuhan telah menyelamatkan hidupnya dan telah merancang hal-hal yang luar biasa sejak ia masih dalam kandungan,   “mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.”  (Mazmur 139:16).  Sukacita Daud makin melimpah-limpah karena di rumah Tuhan ia dikenyangkan dengan makanan rohani, yaitu firman Tuhan.

    Sahabat, tentu tidak salah kita dengan antusias berkunjung ke tempat tertentu yang kita sukai. Namun, jangan sampai mencoret rumah ibadah dari daftar tempat yang membuat kita bersukacita saat datang ke sana! Mengapa? Karena di rumah Tuhanlah, kita dapat berjumpa dengan Tuhan, yang dapat memberi kelegaan dan penghiburan yang sejati, lebih dari yang dunia tawarkan!

       
    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang memotivasi Sahabat datang beribadah di rumah Tuhan?
    2. Apa yang membuat Sahabat antusias dan bersukacita pergi ke rumah Tuhan?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: “Lebih baik satu hari di pelataran rumah Tuhan, daripada seribu hari di tempat lain!”  (Mazmur 84:11)

  • LEBIH BERHARGA daripada PERMATA

    Sahabat, syukur kepada Tuhan hari ini Ibu Padma, istri saya, berulang tahun yang ke-64. Sebagai rasa syukur dan terima kasih, di hari ulang tahun istri, saya menulis refleksi tentang: “Istri Yang Cakap Lebih Berharga Daripada Permata”

    Dia berprofesi sebagai pengajar. Saya sungguh bersyukur dengan istri saya. Dia sungguh-sungguh dapat  berperan sebagai penolong bagi saya.  Sejak kami pacaran, kami sudah menetapkan bahwa keluarga yang akan kami bentuk akan mengutamakan masalah pendidikan bagi anak-anak kami.

    Istri saya dapat mengelola keuangan keluarga dengan baik. Dia mengajak saya untuk berupaya agar pengeluaran rutin setiap bulan tidak lebih besar daripada pendapatan kami. Selain itu kami sepakat bahwa kami  beli dengan cara kredit hanya untuk pembelian rumah saja.

    Ketika saya masih muda, banyak waktu saya pergunakan untuk pelayanan, istri saya yang lebih banyak berperan dalam mendidik 2 orang anak kami.

    Untuk lebih memahami tema tentang: “LEBIH BERHARGA daripada PERMATA”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Amsal 31:10-31 dengan penekanan pada ayat 10. Sahabat,  salah satu fungsi istri adalah penolong bagi suami. Ia memiliki peran dan pengaruh besar dalam keluarga.

    Jika di Amsal 31:3,  Ibu Lemuel mengingatkan tentang figur istri yang dapat membinasakan  seorang raja, maka pada bacaan kita pada hari ini kita diberitahu tentang  berkat bagi keluarga yang disebabkan oleh istri yang takut akan  Tuhan.

    Sahabat, istri yang cakap adalah istri yang tidak ternilai dan lebih berharga  dari permata (ayat 10), sebab ia dipercaya oleh suami. Kehadirannya di  tengah keluarga menyebabkan suaminya berbahagia, dan ia berbuat  baik kepada suaminya sepanjang hidupnya (ayat 11-12).

    Dalam aktivitasnya, istri yang cakap mampu melakukan banyak hal.  Misalnya, ia mencari bulu domba dan rami, bekerja dengan tangan dan jari-jarinya memegang pemintal (ayat 13, 19). Ia serupa kapal  saudagar yang mendatangkan makanan dari jauh (ayat 14).

    Selain itu, ia membeli ladang dan mengelolanya (ayat 16). Dengan demikian, ia mempunyai pendapatan yang menguntungkan, dan pelitanya tidak padam  pada malam hari (ayat 18). Pada masa itu, hanya orang yang  berpenghasilan cukup dapat menyediakan pelita pada malam hari.  Berarti usaha keras dari istri yang cakap ini membantu suaminya  membuat keluarga tersebut dapat hidup nyaman. Bahkan pada musim  dingin mereka tidak usah khawatir dengan salju, karena mereka semua berpakaian rangkap (ayat 21).

    Sebagai seorang istri dan ibu, ia menyediakan makanan dan pakaian untuk seisi rumah. Ia memastikan tiada seorang pun berkekurangan  (ayat 15, 21). Ia juga membantu dan memperhatikan orang-orang yang  tertindas dan miskin (ayat 20). Bukan hanya dalam tindakan, ia memiliki  hikmat dalam berbicara dan pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya (ayat 26).

    Maka tidak mengherankan kalau ia dipuji oleh suami dan  anak-anaknya (ayat 28). Perbuatannya membuat ia dipuji dipintu-pintu  gerbang (ayat 31). Ini semua dimungkinkan karena ia adalah istri yang  takut akan TUHAN (ayat 30).

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah pemahamanmu tentang istri yang cakap.

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jadilah perempuan yang takut akan Tuhan sehingga  dapat menjadi berkat bagi keluarga dan orang di sekitar. (pg).

  • TAAT: Perjuangan yang BERAT

    Sahabat, melepaskan sesuatu yang diperoleh dengan susah payah dan dalam waktu yang panjang,  biasanya sangat sulit. Karena itu merupakan sesuatu yang diperoleh setelah melalui  berbagai perjuangan dan pengorbanan.

    Seorang teman  sekantor bercerita bahwa sepeda motor yang dia pakai untuk pergi ke tempat kerja itu milik istrinya. Istrinya berpesan, “Mas, tolong sepeda motor ini jangan sampai dijual karena saya membelinya dari hasil kerja saya bertahun-tahun”.

    Bagaimana jika sesuatu yang amat sangat berharga bagi kita dan itu satu-satunya yang kita miliki, tiba-tiba Tuhan berbicara kepada kita agar itu dipersembahkan kepada-Nya? Tentu kita akan menghadapi pergumulan yang amat sangat berat, bukan? Sesungguhnya, taat itu suatu perjuangan yang berat.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “TAAT: Perjuangan yang BERAT”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 22:1-19. Sahabat, sebuah ujian mahaberat dialami Abraham saat Allah meminta Abraham untuk mengurbankan Ishak, satu-satunya ahli waris yang sah.

    Mungkin ada diantara  kita yang  bertanya-tanya, apakah Allah tidak salah? Apakah tidak ada perintah yang lebih manusiawi dan masuk akal ketimbang perintah yang amat sangat  berat seperti itu? Namun, yang membuat kita terheran-heran adalah tindakan Abraham yang menuruti perintah Allah. Bagi sebagian besar orang, keputusan Abraham adalah perbuatan yang konyol dan gila.

    Namun tidak demikian bagi Abraham. Ketika ia berusia 75 tahun (Kejadian 12:4), Allah memintanya meninggalkan negerinya dan berjanji menjadikannya bangsa yang besar, serta olehnya semua kaum di muka bumi akan diberkati. Padahal istrinya mandul dan sudah tua. Janji itu mulai digenapi dengan lahirnya Ishak, saat Abraham berumur 100 tahun (Kejadian  21:5). 

    Sahabat, saat Ishak beranjak remaja, ujian besar dihadapi Abraham ketika Allah memintanya mempersembahkan putranya. Abraham taat tanpa protes. Pergumulan 25 tahun untuk memperoleh Ishak tidak membuatnya mengutamakan dirinya atau anaknya lalu menomorduakan Allah. Penulis kitab Ibrani menyatakan bahwa ia melakukannya karena iman, sebab ia tahu bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang dari kematian (Ibrani  11:17,19). Jadi ketaatan Abraham berasal dari pengenalannya akan Allah dan relasinya yang intim dengan Dia. Ia belajar taat pada Allah melalui proses yang panjang, disertai jatuh bangun, hingga kemudian ia menjadi “bapa semua orang percaya” (Roma 4:11). 

    Jika kita tidak mengenal Allah, tentu saja mustahil menaati Dia. Semakin kita mengenal Dia, semakin kita mengerti bahwa Dia adalah Allah yang menciptakan, mengasihi, dan menebus kita. Kasih-Nya yang sempurna telah dinyatakan melalui pengorbanan Kristus. Dengan demikian, seperti Abraham, kita pun dapat berjalan dalam iman untuk menaati Dia.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah pertanyaan berikut ini: Mengapa Abraham mau taat melaksanakan perintah Tuhan? (Ayat 1-6)

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati kita: Pengenalan yang benar akan Allah akan berbanding lurus dengan ketaatan kita melakukan kehendak-Nya. (pg).

  • TUHAN: Sumber Pertolongan yang ANDAL

    Sahabat, Pandemi Covid-19 membuat banyak orang kehilangan rasa aman. Kekhawatiran, kegelisahan bahkan ketakutan cukup banyak dirasakan.  Khawatir  akan hari esok, karena semua serba cepat berubah, dan serba tidak menentu.  Gelisah karena tidak tahu kapan pandemi ini akan  berakhir karena Pemerintah memutuskan untuk kembali memperpanjang masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di seluruh Indonesia selama satu bulan, hingga 4 Juli 2022. Ketakutan ketika mendengar berita masih ada orang-orang yang meninggal dunia karena terinfeksi Covid-19.  

    Sayangnya  ada banyak orang percaya yang gampang sekali putus asa ketika diperhadapkan pada pergumulan hidup yang berat, karena mereka berpikir Tuhan tidak memedulikan hidupnya.  Itu salah besar!  Sesungguhnya tidak sekalipun Tuhan meninggalkan dan membiarkan umat-Nya bergumul sendirian. Tuhan merupakan sumber pertolongan yang andal.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “TUHAN: Sumber Pertolongan yang ANDAL”, Bacaan Sabda saya ambil dari Mazmur 121:1-8 dengan penekanan pada ayat 4. Sahabat, Mazmur 121 ini merupakan salah satu nyanyian ziarah yang dinyanyikan oleh umat Tuhan dalam perjalanan mendaki gunung Sion selama pesta-pesta besar di Bait Suci. Sampai hari ini pun mazmur ini masih dipakai dalam mengawali sebuah perjalanan.

    Di sini terlihat jelas Pemazmur sangat mengerti bahwa tidak ada yang bisa diandalkannya selain Tuhan. Pemazmur melayangkan matanya ke gunung-gunung untuk mendapatkan sumber pertolongan, namun tidak ada pertolongan di situ. Pada waktu itu, gunung mempunyai peran yang sangat penting sebagai tempat berlindung dari serangan musuh. Selain itu, bagi bangsa Israel gunung Sion adalah tempat Tuhan bertakhta. Bangsa-bangsa lainnya pada zaman itu juga selalu melihat gunung sebagai tempat allah mereka bertakhta.

    Sahabat, Pemazmur memakai kata “gunung-gunung” sebagai gambaran bahwa dia sedang mencari alternatif pilihan untuk menemukan sumber pertolongan yang lain (ayat 1). Namun, dia mendapati bahwa tidak ada yang seperti Tuhan. Pemazmur melihat betapa hebatnya Tuhan. Dia dapat diandalkan dalam segala hal, Dia tidak pernah terlelap (ayat 3-4). Dia senantiasa menjaga dan memelihara, serta menjamin seluruh perjalanan hidup Pemazmur (ayat 5-7).

    Bukankah Tuhan yang kita sembah begitu luar biasa? Namun, apakah kita benar-benar mengandalkan-Nya? Ataukah, kita malah mencari pilihan-pilihan lain selain Tuhan? Sayangnya, itulah yang tanpa sadar seringkali kita lakukan. Kita lebih mengandalkan diri sendiri, orang tua, kekayaan, kerabat, atau kekuasaan. Padahal, bukankah Tuhan merupakan sumber pertolongan yang andal?

     
    Sahabat, mari kita renungkan kembali, siapakah yang selama ini kita andalkan. Apakah kita selalu mengandalkan Tuhan yang luar biasa itu? Jika kita masih mengandalkan yang lain, lihatlah Pemazmur dan belajarlah dari dia yang selalu mengandalkan Tuhan di sepanjang hidupnya. Dengan begitu, perjalanan hidup kita akan aman dan langkah kita menjadi semakin mantap. Sebab kita tahu siapa Pribadi yang kita andalkan itu.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah pertanyaan berikut ini: Apa saja yang dapat dilakukan Tuhan sebagai penjaga hidup kita? (pg).

    Selamat sejenak merenung. Ingatlah: Pertolongan dan perlindungan yang sempurna hanya kita dapatkan di dalam Tuhan, karena Dia Tuhan yang tidak pernah terlelap!  (pg).

  • SISI GELAP ABRAHAM

    Sahabat, dalam kajian ilmu psikologi terdapat sebuah teori yang bernama The Shadow Life (Sisi Gelap), teori ini dipopulerkan oleh Carl Jung. Menurutnya, persona digambarkan sebagai sisi lain manusia yang ingin ditunjukkan kepada dunia, jika kita pernah mendengar istilah bahwa manusia itu memakai topeng, maka topeng itu adalah persona yang dimaksud oleh Jung.

    Sedangkan shadow merupakan representasi dari hal-hal yang tidak kita inginkan, hal-hal yang ingin kita sangkal, maupun hal-hal yang membuat kita takut jika kita melakukannya. Dan hal-hal itulah yang dimaksud dengan shadow oleh Jung, di mana sisi gelap itu bertentangan dengan  norma di masyarakat secara umum. Abraham sebagai manusia biasa juga mempunyai sisi gelap dalam hidupnya.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “SISI GELAP ABRAHAM”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 20:1-18 dengan penekanan pada ayat 2 dan 5. Sahabat, Abraham adalah salah seorang pribadi yang bisa diteladani dalam hal iman. Namun, sisi keberdosaannya masih menguasainya. Dia juga memiliki sisi gelap dalam hidupnya.

    Hal ini terbukti ketika ia menetap di Negeb. Abraham kembali mengulangi tindakan dosa dengan cara membohongi Abimelekh saat mengatakan bahwa Sara bukan istrinya, melainkan saudaranya (ayat 2 dan 5). Di sini, Abraham tidak menyertakan Allah. Ia mengandalkan pikirannya dengan mengira-ngira bahwa Abimelekh pasti orang jahat. Ia rela mengorbankan istrinya demi menyelamatkan dirinya. Ia hanya berpikir untuk keselamatan dirinya saja. Suatu risiko besar diambil oleh Abraham.

    Sahabat, kesalahan Abraham berdampak pada hukuman bagi Abimelekh. Namun, di sisi lain Abimelekh juga bersalah karena mengambil istri orang lain. Hukumannya adalah semua perempuan di rumah Abimelekh menjadi mandul (ayat 18). Hukuman tersebut dimaksudkan sebagai peringatan, bukan mencelakai Abimelekh,  agar tidak tidur dengan Sara.

    Di sisi lain, makna positif dari peristiwa ini adalah Abimelekh menjadi sangat takut kepada Allah Abraham dan memberikan beberapa persembahan kepada Abraham dan Sara sebagai tanda penyesalannya (ayat 14-15).

    Sahabat, ketika orang percaya melakukan kesalahan, Allah memperlihatkan keadilan-Nya. Alangkah besar kemurahan hati Allah. Sudah berapa kali Allah menolong kita? Karena itu, kita perlu bersyukur karena kita memiliki Allah yang murah hati.

    Meskipun Allah itu Mahakasih, namun kadang-kadang Ia menghukum sebagai bentuk pendisiplinan terhadap dosa. Kadang kala Allah menyelamatkan sebagai bentuk belas kasihan karena penderitaan umat-Nya yang tertindas. Hal itu untuk menyadarkan kita supaya senantiasa bersandar kepada Allah. 

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan di bawah ini:

    1. Berkat apa saja yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari ayat 6?
    3. Berkat apa yang diterima Abimelekh dari Abraham? (Ayat 17)

    Selamat sejenak merenung. Ingatlah: Kuasa Tuhan dan hati yang bersih mampu mencegah kita dari melakukan dosa. (pg).

  • PEMELIHARAAN ALLAH Tak Mengenal BATAS

    Sahabat, tidak selalu mudah untuk kita memahami cara Tuhan memelihara hidup kita. Itu juga yang dirasakan tokoh-tokoh di Alkitab. Siapa dapat menduga bahwa turunnya Yusuf ke Mesir sebagai budak, yang disebabkan ulah kakak-kakaknya, serta difitnahnya Yusuf oleh istri Potifar sehingga ia dipenjara, merupakan cara Allah mempersiapkan pertolongan atas keluarga besar Yakub dari bencana kelaparan dahsyat.

    Lebih daripada itu, Allah menggunakan peristiwa tersebut untuk mempersiapkan umat-Nya kelak, keluar dari Mesir dan menjadi bangsa yang dipakai Allah menyatakan keselamatan-Nya bagi dunia ini. Tuhan memelihara umat-Nya dengan cara-Nya melampaui pengertian kita yang terbatas. Allah berdaulat menggunakan cara-Nya sendiri. Pemeliharaan Allah tak mengenal batas.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “PEMELIHARAAN ALLAH Tak Mengenal BATAS”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 21:8-21 dengan penekanan pada ayat 18.  Sahabat, pengusiran Hagar dan Ismael disebabkan oleh kecemburuan Sara. Ia takut Ismael akan menjadi ahli waris. Karena itu, ia meminta Abraham untuk mengusir mereka.  Abraham akhirnya menuruti usul istrinya setelah mendengarkan janji Allah bahwa Ia akan menjadikan Ismael sebagai bangsa yang besar (ayat 13).  Janji Allah itulah yang membuat Abraham mengambil keputusan untuk mengusir Hagar dan Ismael (ayat 14).

    Sahabat, peristiwa pengusiran itu pasti menyakitkan bagi Hagar dan Ismael. Mungkin Hagar merasa dirinya adalah korban, bak peribahasa “habis manis, sepah dibuang”.  Perjalanan menjadi semakin berat karena mereka harus melintasi padang gurun. Hagar pun mulai putus asa ketika kehabisan air, bahkan membuang Ismael ke semak-semak (ayat 15). Allah turun tangan dengan mengutus malaikat-Nya untuk memberitakan bahwa Ismael akan menjadi bangsa yang besar (ayat 18). Allah pulalah yang membuka mata Hagar sehingga dia dapat melihat sebuah sumur. Allah menyelamatkan mereka (ayat 19).

    Kekuatan Abraham sebagai seorang ayah sangatlah terbatas. Ia tidak bisa selamanya menjadi ayah bagi Ismael. Ketika Hagar dan Ismael dikirimnya pergi, ia bahkan hanya bisa membekali mereka dengan bekal yang sangat terbatas (ayat 14), tetapi pemeliharaan Allah tak mengenal batas. Allah memelihara hidup Ismael, dalam pemenuhan janji-Nya kepada Abraham. Bukan cuma dengan pemeliharaan sesaat pada saat mereka kehabisan air di padang gurun, tetapi hingga ia menjadi pria dewasa bisa menafkahi dirinya sendiri serta berkeluarga  (ayat 20-21).

    Sahabat, melalui bacaan kita pada hari ini,  kita melihat karakter Allah yang setia dan konsisten, tidak terbatasi oleh harapan dan kemauan manusia. Ia juga adalah Allah yang peduli dan memelihara umat-Nya. Bahkan di tengah keterbatasan dan kebandelan manusia,  Allah tetap teguh dengan janji dan rencana-Nya. Kepada Allah yang demikianlah kita beriman. Dan sebagai umat-Nya, kisah ini diberikan sebagai sebuah teladan untuk diikuti dan dijalani di hadapan-Nya.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Mengapa Abraham tetap mengasihi Ismael? (Ayat 11).
    2. Apa yang membuat Abraham terhibur walau dia harus mengusir Hagar dan Ismael? (Ayat 19).

    Selamat sejenak merenung.  Ingatlah: Mari kita mengasihi bukan dengan memandang siapa mereka, tetapi dengan memandang Tuhan sebagai penciptanya. (pg).

  • Menjadi Pribadi yang PUNYA INTEGRITAS

    Sahabat, pengalaman hidup saya bercerita bahwa perjalanan hidup itu tidak hanya mulus-mulus saja: Ada kebahagiaan, perjuangan, kesedihan, kekecewaan, hingga tekanan. Salah satu hal yang banyak dikeluhkan banyak orang adalah menghadapi tekanan karena seringkali menyebabkan stres. Padahal hampir semua perusahaan yang besar dan bonafide mensyaratkan pegawainya bersedia bekerja di bawah tekanan.

    Sesungguhnya tekanan bisa datang dari mana saja: Dari pekerjaan, orangtua, diri sendiri, dan masyarakat. Ada cukup banyak orang seringkali cepat putus asa atau berusaha menghindari tekanan yang membuatnya stres. Padahal tekanan sebenarnya dapat membuat seseorang menjadi lebih dewasa, serta berkembang lebih baik. Tekanan membentuk kita menjadi pribadi yang punya integritas.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Menjadi Pribadi yang PUNYA INTEGRITAS” Bacaan Sabda saya ambil dari Mazmur 120:1-7. Sahabat, dalam bacaan kita pada hari ini, Pemazmur mengalami kesesakan karena dua hal: Pertama, bibir dusta (ayat 2-a); kedua, lidah penipu (ayat 2-b, 3-b).

    Kedua kata tersebut tentu memiliki arti yang sama, namun diungkapkan dengan kata-kata yang berbeda.  Keduanya merupakan anggota tubuh yang membuat manusia dapat berbicara.  Tetapi sayangnya,  kadang keduanya dipakai untuk mengucapkan hal-hal yang menjatuhkan dan tidak membangun orang lain.

    Sahabat, inilah yang membuat Pemazmur merasa berada dalam kesesakan.  Ia berada di antara orang-orang yang tidak mengenal Tuhan, mereka  kasar dan keras, serta membenci perdamaian (ayat 5-7).

    Meskipun Pemazmur sudah cukup lama tinggal di antara mereka, Pemazmur tidak berlaku seperti mereka. Oleh sebab itu, ia berdoa agar Tuhan melepaskannya dari antara mereka. Kesesakan yang dialami oleh Pemazmur tidak membuatnya kehilangan jati diri, melainkan ia makin menunjukkan integritasnya di tengah orang-orang yang tidak mengenal Tuhan.  Ia tetap menyerahkan hidupnya kepada Tuhan dan tetap cinta akan kehidupan yang penuh perdamaian.

    Sahabat, saat ini, barangkali kita sedang berada di tengah lingkungan yang bukan hanya tidak memberi kenyamanan, tetapi juga menyesakkan. Mungkin itu lingkungan kerja atau pergaulan yang tidak sesuai dengan nilai dan ajaran-ajaran baik yang kita terima. Bahkan, bisa jadi lingkungan itu memaksa kita untuk berubah dan mengikuti gaya hidup yang ada di situ.

    Namun, belajar dari Pemazmur, biarlah kesesakan dan ketidaknyamanan yang kita hadapi justru membuat kita makin berintegritas dan menunjukkan nilai-nilai serta ajaran Kristus yang ada di dalam diri kita. Maka, bukan kita yang diubah, melainkan kitalah yang membuat perubahan. Dengan pertolongan Tuhan, mengubah mereka yang suka kegaduhan dam resek,  menjadi orang-orang yang cintai perdamaian,  berintegritas  dan  memuliakan Tuhan.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1.  Ketika merasa tertekan, apa yang Sahabat lakukan? (Ayat 1-3 dan Mazmur 34:18)
    2.  Apa yang Sahabat pahami berkaitan dengan pernyataan: “Menyerahkan pembalasan kepada Tuhan?

    Selamat sejenak merenung. Ingatlah: Pertolongan TUHAN datang tepat pada waktu-Nya. (pg)

  • BAHAGIA: Hidup dalam Firman Tuhan

    Kita hidup di dalam dunia yang telah jatuh ke dalam dosa. Kapan pun dan di mana pun, kita menemukan ada begitu banyak godaan yang dapat membuat kita jatuh. Karena itu kita perlu HIDUP DALAM FIRMAN TUHAN.

    Sebagai orang percaya kita harus melatih diri untuk mengembangkan kebiasaan-kebiasaan hidup yang benar, yang sesuai dengan firman Tuhan.  Kita harus menjadikan Kristus sebagai teladan dalam segala hal, perkataan dan perbuatan (1 Yohanes 2:6).

    Sahabat, membiasakan hidup sesuai firman berarti kita meninggalkan kebiasaan hidup  manusia  lama dan melatih diri membentuk kebiasaan hidup yang baru.  Ini harus dilakukan dengan kerelaan hati dan tanpa ada paksaan dari pihak lain.  Mengembangkan kebiasaan hidup baru yang sesuai dengan firman Tuhan berarti tidak lagi menyerahkan tubuh ini  untuk dipakai sebagai senjata kelaliman,

    Untuk lebih memahami topik tentang: “BAHAGIA: Hidup dalam Firman Tuhan”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 119:1-16. Sahabat, Pemazmur menyatakan bahwa orang yang berbahagia adalah yang memegang firman Tuhan dalam hidupnya, yang artinya melakukan firman (ayat 1-3). Tidak mungkin bisa tetap hidup kudus jika tidak menghidupi firman Tuhan, sebab kekuatan dan hikmat untuk menghadapi dunia hanya dapat diperoleh dalam firman. Bagi Pemazmur, saat ia hidup dalam firman, ia tidak akan mendapat malu (ayat 6).

    Pemazmur tidak menganggap firman Tuhan hanya sesuatu yang sambil lalu dalam hidupnya, juga bukan hanya direnungkan saat diperlukan. Ia rindu akan firman Tuhan. Ia menyimpan dan menjaganya dengan baik di dalam hatinya sehingga itulah yang menuntun jalan hidupnya setiap hari (ayat 11). Baginya, firman Tuhan bukanlah beban, melainkan pembawa sukacita. Pemazmur tidak menyimpan firman itu untuk dirinya sendiri; ia membagikannya dan mengajarkannya kepada orang lain (ayat 12-13).

    Sahabat, bagaimana agar kita dapat tetap hidup dalam firman-Nya? Pertama, menyediakan waktu untuk membaca dan mempelajari firman-Nya. Kedua, belajar untuk menghafal ayat-ayat firman Tuhan. Ketiga, mempraktikkan firman yang telah dipelajari dan mengingatnya dalam langkah hidup setiap hari.

    Firman yang telah dipelajari dan diingat itu akan berakhir sia-sia jika tidak pernah diterapkan dalam kehidupan. Tindakan mengingat firman-Nya diperlukan supaya firman itu benar-benar menguasai seluruh pikiran, sehingga mengalir keluar dalam setiap perkataan maupun tindakan yang kita lakukan.

    Sahabat,  mari kita senantiasa mempelajari, mengingat, dan melakukan firman-Nya. Marilah kita hidup dalam firman-Nya agar kita mampu menghadapi tantangan dan rintangan.Marilah kita menjaga kekudusan hidup sampai kita bertemu kembali dengan Tuhan kita di surga.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang menjadi kunci hidup bahagia bagi Pemazmur? (Ayat 1-3)
    2. Apa yang dilakukan dan apa yang didapat oleh Pemazmur dalam ayat 11-13?

    Selamat sejenak merenung. Ingatlah: Materi memang dibutuhkan untuk menopang hidup, tetapi mengarahkan hati kepada Tuhan akan mendatangkan hidup. (pg)