Category: Sejenak Merenung

  • PAKET KOMPLIT

    Dalam membangun mahligai pernikahan setiap pasangan pasti memiliki impian-impian yang hendak diwujudkan bersama pasangannya.  Impian itu adalah sebuah keluarga yang harmonis, diberkati dan dipenuhi oleh kebahagiaan.  Memang untuk mewujudkan impian tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan, namun hal itu juga bukanlah perkara yang mustahil asalkan kita mau menapaki hari-hari bersama dengan Tuhan.

    Sesungguhnya Tuhan sudah menyediakan berkat dalam bentuk PAKET KOMPLIT bagi kita, dengan syarat keluarga tersebut memiliki laki-laki (suami atau kepala rumah tangga) yang takut akan Tuhan dan hidup menurut jalan Tuhan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “PAKET KOMPLIT”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 128:1-6 dengan penekanan pada ayat 1 dan 4. Sahabat, Penulis Mazmur ini, yang kemungkinan adalah Raja Hizkia, melihat bahwa Allah harus menjadi Kepala di dalam setiap keluarga agar hal ini dapat tercermin dalam kehidupan berbangsa. Umat Allah harus dididik dalam takut akan Tuhan dan menghidupi firman yang telah disampaikan-Nya kepada mereka (ayat 1). Mazmur ini sejalan dengan Mazmur 112 yang mengingatkan umat Allah untuk hidup dalam takut akan Dia dan berjalan dalam ketaatan kepada firman-Nya.

    Dalam Mazmur 128 ini Pemazmur memberikan sebuah kunci berkat bagi rumah tangga. Keluarga yang diberkati dan berbahagia adalah keluarga yang memiliki “laki-laki” (suami atau kepala rumah tangga) yang takut akan Tuhan dan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya. Dengan kata lain, keluarga bahagia adalah keluarga yang dipimpin oleh seorang laki-laki yang hidup sesuai dengan prinsip-prinsip firman Tuhan dan yang menerapkannya dalam kehidupan keluarganya setiap hari.

    Ada  berkat dalam bentuk paket komplit yang disediakan oleh Tuhan bagi keluarga yang senantiasa takut akan Dia. Pertama, mereka akan menikmati hasil kerjanya (ayat 2).  Orang yang takut akan Tuhan adalah orang yang hidup dalam perjanjian berkat. Dia bukan lagi hidup dari apa yang dunia sediakan, tetapi dari apa yang disediakan oleh Bapa Surgawi.

    Kedua, sang istri akan seperti pohon anggur yang subur (ayat 3-a). Bila istri menjadi pohon angggur yang subur, ia tidak sekadar berbuah lebat, tetapi keluarganya pasti tidak akan kekurangan anggur sukacita dan damai sejatera.  Semakin lama usia pernikahan mereka, semakin mereka menikmati kebahagian dalam rumah tangga. 

    Ketiga, anak-anak akan seperti tunas pohon zaitun (ayat 3-b).  Pohon zaitun adalah pohon yang kuat dan tidak mudah roboh. Anak-anak akan kuat dan kokoh dalam iman karena telah melihat teladan yang baik dari kedua orangtuanya dalam melakukan firman Tuhan. Dengan demikian mereka tidak mudah diombang-ambingkan oleh berbagai angin pengajaran  di zaman now.

    Keempat, akan menikmati anugerah Tuhan berupa usia yang panjang, dapat melihat anak-anak dan cucu-cucunya bertumbuh dan berkembang (ayat 6).

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pelajaran apa yang Sahabat peroleh dari perenungan pada hari ini?
    2. Mengapa takut akan Tuhan menjadi salah satu kunci untuk menikmati kebahagiaan hidup? (Amsal 14:6 dan Amsal 3:7).

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Memiliki hati yang takut akan Tuhan merupakan kunci menikmati kebahagiaan hidup. (pg).

  • Makna KEHADIRAN TUHAN

    Alkitab menceritakan bagaimana Daud membawa Tabut Perjanjian dari rumah Obed-Edom menuju ke kota Yerusalem (2 Samuel 6:1-23).  Pada waktu itu Daud baru saja dinobatkan jadi raja atas seluruh Israel dan baru saja memindahkan ibu kota ke Yerusalem, dan dia baru saja berhasil mempertahankan Yerusalem dari serangan Filistin. 

    Lalu Daud berusaha untuk mengembalikan Tabut Perjanjian, yang adalah lambang kehadiran Tuhan, Ke Yerusalem, di mana selama 20 tahun Tabut Perjanjian tidak berada di tempat semestinya karena dirampas oleh bangsa Filistin;  dan meski orang Filistin telah mengembalikannya, tapi tabut itu berada di Kiryat-Yearim yang merupakan pinggiran dari wilayah Israel.  Karena itu Daud ingin mengembalikan tabut ini ke Yerusalem, kota Daud, pusat pemerintahan.

    Di sepanjang perjalanan Daud mengekspresikan rasa syukurnya, karena ia tahu bahwa Tabut Perjanjian adalah lambang kehadiran Tuhan,  Kala Tabut Perjanjian berada di tangan musuh, bangsa Israel selalu mengalami kekalahan demi kekalahan, namun setelah Tabut Perjanjian itu kembali berada di tangan orang Israel, terjadilah suatu pemulihan yang luar biasa. Itulah makna kehadiran Tuhan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Makna KEHADIRAN TUHAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 28:10-21 dengan penekanan pada ayat 16-18. Sahabat, satu-satunya cara bagi Yakub untuk terhindar dari ancaman dan dendam kesumat Esau adalah melarikan diri ke rumah pamannya, Laban.

    Yakub juga tidak menyadari betapa Allah hadir sangat dekat dengannya, sebelum ia mengalami peristiwa luar biasa dalam perjalanannya ke Padan- Aram (ayat 16). Mungkin ia terlalu larut dalam kesendiriannya. Ia tak lagi bisa menatap orangtuanya, terutama sang ibu yang selama ini dekat dengannya. Ia juga tak lagi bisa dekat-dekat dengan sang kakak yang menaruh dendam. Namun, dalam mimpi yang menakjubkan, Tuhan menyatakan bahwa Yakub tidak sendirian karena Tuhan menyertainya (ayat 12-15).

    Sahabat, Tuhan memperkenalkan pribadi-Nya kepada Yakub, dan memberikan janji berkat, serta penyertaan sebagaimana yang Dia berikan kepada para bapa leluhur Yakub (ayat 13-15). Betapa hal itu mengubah sikap Yakub (ayat 17-18). Ia menyebut tempat pertemuannya dengan Tuhan sebagai “pintu gerbang surga”, “rumah Allah”, atau Betel (Bait-El). Ia juga merespons perjumpaan itu dengan komitmen untuk selalu memberikan persembahan kepada Tuhan.

    Dalam hal-hal apa kesadaran kita akan kehadiran Tuhan dan kuasa-Nya mengendur? Mintalah kepada Tuhan, supaya baik dalam susah dan senang, kesadaran akan hadirat-Nya tetap menyala dalam hati kita. Kesadaran itu akan membuat perbedaan besar dalam pilihan sikap hidup kita.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pelajaran apa yang Sahabat peroleh dari perenungan kita pada hari ini (Perikop: “Mimpi Yakub di Betel”)?
    2. Apa respons Yakub ketika dia menyadari kehadiran Tuhandalam hidupnya? (Ayat 16-22)

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati:  Sesungguhnya kehadiran Tuhan tidak pernah undur, kesadaran kitalah yang sering mengendur. (pg).

  • TUHAN: Dasar dan Pusat Kehidupan

    Sahabat, memiliki DASAR yang teguh dalam kehidupan merupakan suatu hal yang esensial. Bagi orang percaya, Tuhan harus menjadi fondasi dalam seluruh area kehidupan, baik dalam membangun rumah, karier maupun keluarga. Tanpa Tuhan segalanya akan berakhir dengan kesia-siaan.

    Sedangkan PUSAT disini sama artinya dengan fokus, tujuan, arti atau makna dan nilai. Menempatkan Tuhan sebagai pusat kehidupan berarti menjadikan-Nya sebagai fokus hidup, tujuan, arti atau makna dan nilai kehidupan ini. Tanpa Tuhan, hidup ini tidak bertujuan, tidak berarti, tidak bermakna dan tidak bernilai sama sekali.

    Maka kita perlu menjadikan Tuhan sebagai dasar dan pusat kehidupan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “TUHAN: Dasar dan Pusat  Kehidupan”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 127:1-5 dengan penekanan pada ayat 1. Sahabat,  Salomo melihat bahwa keluarga membangun rumah dan penjaga menjaga kota (ayat 1). Namun, jikalau Tuhan tidak dilibatkan, semua akan berakhir dengan kesia-siaan. Usaha dan jerih lelah manusia tidak akan menghasilkan apa-apa jikalau Tuhan tidak hadir dan turut bekerja.

    Sahabat, jangan salah mengerti,  Salomo tidak menentang segala usaha yang manusia lakukan, melainkan ia menekankan tentang keseimbangan antara bekerja dan beristirahat di dalam kehidupan manusia (ayat 2). Tuhan yang memberikan berkat bagi hidup manusia. Sesungguhnya Salomo ingin menekankan bahwa dalam bekerja maupun beristirahat, ingatlah senantiasa akan Tuhan.

    Salomo melanjutkan bahwa anak-anak adalah pemberian dan warisan yang Allah berikan kepada sebuah keluarga dalam kehidupan yang sementara ini (ayat 3-5). Artinya, baik keluarga maupun pekerjaan berasal dari Tuhan. Hargailah setiap kepercayaan yang Tuhan berikan.

    Sahabat, fondasi yang benar dalam mengerjakan segala sesuatu merupakan hal yang mutlak dipahami oleh setiap orang percaya. Di dalam setiap aspek, Tuhan harus menjadi dasar dan pusat kehidupan. Rumah tangga dibangun atas dasar takut akan Tuhan. Keamanan yang sesungguhnya hanya diperoleh di dalam Tuhan. Keamanan bukan hanya menyangkut keselamatan jiwa semata, tetapi juga kebutuhan fisik yang diperlukan hari demi hari. Dan ini semua tersedia dalam pemberian Tuhan.

    Ingatlah, kerja keras dari pagi hingga larut malam tanpa Tuhan justru akan mengorbankan banyak hal, baik kesehatan maupun relasi dengan sesama anggota keluarga. Hubungan orangtua dan anak menjadi rusak akibat orangtua yang gila kerja.

    Semua aspek kehidupan yang kita jalani, jangan sampai berlalu tanpa kemampuan untuk melihat campur tangan Tuhan di dalamnya. Tuhan berdaulat dalam kehidupan kita. Jangan pernah melupakan-Nya. Jangan Lupakan Tuhan!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenungan kita pada hari ini?
    2. Apa pemahaman Sahabat dengan frasa kunci dalam Mazmur 127: “Jikalau bukan Tuhan …”? (Ayat 1)

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam  di hati: Jika Tuhan tidak ikut campur tangan dalam hidup kita, tidak ada hal baik yang dapat kita hasilkan. (pg)

  • GIGIH MEMPERJUANGKAN PEMULIHAN

    Apakah Sahabat ingin bahagia, sukses dan mudah bergaul dengan  banyak orang? Sahabat cukup mengembangkan kegigihan seperti yang dikutip Genius Beauty: Setelah 33 kali mengajukan kepada bank, Disneyland baru mendapat persetujuan. Sebanyak 134 penerbit menolak buku Chicken Soup for the Soul karangan J. Canfield dan Mark V. Hansen. Setelah gagal 10.000 kali, Thomas Alpha Edison baru menemukan bola lampu listrik. Apakah Sahabat menemukan polanya?

    Polanya: Kegigihan. Jangan mudah berputus asa atau cepat puas diri. Dua hal itu sama-sama jadi penghambat kita untuk terus dan semakin maju dalam segala hal yang baik. Tuhan kita melihat hati dan tujuan kita. Oleh sebab itu mari kita pastikan telah mengambil sikap hati dan perencanaan dengan benar. Di samping itu kita juga memastikan bahwa semua yang kita kerjakan semata-mata berdasar iman kepada Dia dan upaya terbaik yang dapat kita lakukan. Percayalah, rencana Tuhan selalu indah meski kita sering tak sanggup melihatnya. Kita perlu gigih dalam memperjuangkan pemulihan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “GIGIH MEMPERJUANGKAN PEMULIHAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 126:1-5 dengan penekanan pada ayat 5. Sahabat,  Pemazmur menunjukkan bahwa Allah sanggup memulihkan kehidupan umat-Nya, melebihi apa yang dapat  kita pahami.

    Mereka yang memberontak dan dibuang ke Babel, dibawa kembali ke Israel sesuai dengan janji-Nya. Umat Allah yang pulang dari pembuangan (ayat 1) melihat hal ini sebagai sesuatu yang sepertinya mustahil, tetapi hal tersebut merupakan sebuah kenyataan. Mulut yang penuh dengan tawa dan sukacita merupakan ekspresi dari keajaiban karya Allah di tengah-tengah mereka (ayat 1-3). Seruan dinaikkan ke hadapan Allah untuk pemulihan keadaan dari penderitaan yang telah mereka jalani (ayat 4-6).

    Pemazmur juga hendak menunjukkan bahwa ratap tangis dan air mata bukanlah kondisi yang permanen. Allah sanggup memberikan yang terbaik melalui setiap tragedi yang terjadi. Inilah alasannya umat Allah selalu hidup dalam pengharapan.

    Sahabat, prinsipnya kita harus tetap menabur di masa paceklik (ayat 5-6). Pemazmur mengingatkan bahwa perbaikan tidak terjadi dengan sendirinya. Tuhan menegaskan umat-Nya, yang berjuang memperbaiki keadaan dengan cara yang benar, akan mengenyam kelimpahan. Kuncinya adalah gigih. Orang gigih tidak takut menderita. la tidak bosan berusaha dan terus bertahan dalam keadaan yang sedang dijalaninya.

    Dasarnya adalah imannya kepada Allah Israel. Inilah yang menggerakkan semua upaya. Ini juga yang menjadi sumber kegigihannya. Orang ini tahu, arah perjuangan dan tujuan perjuangannya. Ia bukan hanya sedang berjuang untuk mengubah keadaan, melainkan juga sedang membuktikan kepada siapa dirinya berharap.

    Sahabat, di masa-masa yang sulit seperti saat ini kita harus makin mendekat dan melekat kepada Tuhan, sebab seberat dan seburuk apa pun keadaan kita Tuhan sanggup memulihkan.  Ia memiliki rancangan terbaik bagi setiap umat-Nya yang mau datang kepada-Nya.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenungan pada hari ini?
    2. Prinsip apa yang perlu Sahabat pegang dari ayat 5 dan 6?

    Selamat sejenak merenung. Tanamkan dalam-dalam di hati: Menabur  berarti sebuah tindakan yang kita lakukan berulang-ulang. (pg).  

  • BAGAIMANA Kita Mendapatkannya?

    Sahabat, siapakah di antara kita yang tidak menginginkan kelimpahan harta duniawi selama menumpang hidup di dunia ini? Sesungguhnya.  Tuhan tidak melarang umat yang dikasihi-Nya untuk bekerja dan berusaha agar mendapatkan berkat kasih setia, kasih karunia dan anugerah-Nya. Tuhan juga tidak melarang umat-Nya bekerja dan berusaha untuk mengumpulkan uang. Tuhan juga tidak melarang kita untuk menjadi orang kaya.

    Sesungguhnya yang perlu kita perhatikan dan cermati: Bagaimana CARA KITA MENDAPATKAN dan bagaimana CARA MENGGUNAKAN harta atau kekayaan kita? Demikian juga dengan masalah keberhasilan atau kesuksesan hidup. Kesuksesan hidup itu memang hak semua orang, tapi BAGAIMANA Kita Mendapatkannhya?  

    Untuk lebih memahami topik tentang: “BAGAIMANA Kita Mendapatkannya?” , Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 27:1-40 dengan penekanan pada ayat 30-38. Sahabat, sesungguhnya berkat Tuhan yang dapat dirasakan di sekitar kita berasal dari orangtua. Orangtua yang pertama kali melatih bagaimana kita berjalan, naik sepeda, berbahasa, berkomunikasi, dan sebagainya. Waktu kita sakit, merekalah yang merawat kita. Mereka membesarkan dan membiayai pendidikan kita agar kelak kita dapat mandiri dan dewasa.

    Sahabat, Esau dan Yakub juga merasakan berkat Allah yang sama dengan manusia pada umumnya. Melalui Ishak dan Ribka, Esau dan Yakub tumbuh menjadi dewasa dengan bakat dan talenta masing-masing. Esau gemar berburu, sementara Yakub memilih di rumah untuk bercocok tanam dan beternak. Mestinya mereka berdua bisa saling melengkapi, namun sangat disayangkan Esau dan Yakub memiliki persaingan dalam hal ingin memiliki berkat yang paling banyak.

    Kisah Esau dan Yakub penuh intrik dan dramatis. Setidaknya ada dua pertikaian yang terjadi di antara keduanya. Pertama, ketika Yakub dengan licik meminta hak kesulungan Esau dan menukarnya hanya dengan roti dan semangkuk kacang merah. Kedua, ketika Esau dipanggil Ishak dan akan diberkati sebagai anak sulung, sebelum Ishak mati. Namun, Yakub dengan bantuan ibunya, Ribka mendahului semua permintaan Ishak kepada Esau sehingga Yakublah yang diberkati Ishak, bukan Esau.

    Perlu kita catat, dua kali Yakub mendapatkan keinginannya dengan cara curang; dengan tipu daya. Akan tetapi, akibat dari perbuatannya itu, Yakub harus pergi jauh dari rumahnya dan hidup dalam pelarian agar tidak dibunuh oleh Esau.

    Sahabat, harta, jabatan, kesuksesan, dan banyak hal lain di dunia ini bisa membuat kita tergoda dan lupa diri, sehingga kita tidak lagi memakai akal sehat untuk memperolehnya. Sesungguhnya, setiap orang diberkati oleh Tuhan; berkat Tuhan tersedia bagi semua orang sehingga semestinya tidak ada yang berebut dan berbuat curang untuk mendapat berkat.

    Raih dan nikmatilah berkat Tuhan dengan cara-cara yang Tuhan perkenan. Jauhkan diri dari perbuatan jahat, tipu daya dan kecurangan, sebab hanya akan mendatangkan celaka.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pelajaran apa yang Sahabat petik dari perenungan kita pada hari ini?
    2. Mengapa Yakub berani dan berhasil menipu Ishak, ayahnya? (Ayat  5-17 dan Kejadian 25:28)

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati kita:  Jauhkanlah diri dari cara-cara curang, sebab hanya akan membawa kesenangan sesaat, tetapi bencana yang berkepanjangan. (pg).

  • KADYA CAKRA MANGGILINGAN

    Sahabat, dalam pergaulan saya di tengah komunitas orang Jawa, saya seringkali mendengar ungkapan: “Kadya Cakara Manggilingan”.  Kata Kadya berasal dari bahasa Jawa yang berarti seperti. Cakra berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya sebagai cakram atau roda. Sedangkan manggilingan berasal dari bahasa Jawa dari kata dasar giling yang artinya berputar atau menggerus. Istilah kadya cakra manggilingan diartikan sebagai kehidupan ibarat roda berputar.

    Intisari atau esensi dari kadya cakra manggilingan adalah waktu. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan ini sudah menjadi kodrat manusia hidup di dunia, baik dari hari ke hari, bulan ke bulan, dan  tahun ke tahun. Sesungguhnya ungkapan tersebut mau mengingatkan kita bahwa siapa pun diri kita, akan mengalami pasang surut kehidupan. Roda kehidupan itu terus berputar, ada kalanya kita  di atas, dan ada kalanya kita di bawah.

    Untuk lebih memahami makna topik: “KADYA CAKRA MANGGILINGAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 26:1-35. Sahabat, Ishak merupakan  satu-satunya ahli waris ikatan perjanjian Allah dengan Abraham. Ikatan perjanjian itu diteruskan kepada Yakub. Melalui Yakub lahirlah dua belas suku Israel.

    Meskipun Ishak merupakan  orang yang diberkati Allah, “orang yang spesial”, satu-satunya ahli waris ikatan perjanjian Allah dengan Abraham.  namun ia juga mengalami pasang surutnya kehidupan seperti orang lain. Saat itu terjadi bencana kelaparan di beberapa wilayah, termasuk Gerar. Ishak berniat mengungsi ke tanah Mesir, tetapi Allah mencegahnya dan menyuruh Ishak menetap di Gerar sebagai orang asing.

    Sahabat, meski Ishak telah mendapatkan janji Allah, ia tetap merasa takut. Bagaimana Ishak bisa hidup tenang dan aman di tanah orang asing? Karena itulah, ia merasa harus berbohong dengan mengatakan kepada orang Filistin bahwa Ribka adalah saudaranya. Ishak takut kalau orang-orang tersebut akan membunuhnya apabila ia mengatakan Ribka sebagai istrinya. Mungkin ada diantara kita yang  berpendapat bahwa jawaban Ishak cerdik, namun sesungguhnya ia hanya mau cari aman bagi dirinya sendiri.

    Pada akhirnya, raja Filistin, Abimelekh, mengetahui yang sebenarnya. Ternyata reaksi Abimelekh di luar prasangka buruk Ishak. Abimelekh memberikan perintah agar siapa pun tidak boleh mengganggu keluarga Ishak. Siapa saja yang mencoba mengganggu akan dikenakan hukuman mati.

    Sahabat, Allah dapat memakai siapa pun untuk memelihara dan memberkati umat-Nya, termasuk pihak yang kita anggap sebagai musuh. Karena itu, di tengah pasang surutnya kehidupan, sepatutnya kita perlu belajar memercayai pemeliharaan Allah atas hidup kita.

    Dalam pemeliharaan-Nya, segala kekhawatiran dan ketakutan bisa kita transformasikan menjadi berkat. Mungkin saja kita dapat dipakai Allah untuk menjadi jalan berkat yang mendatangkan kebaikan dalam kehidupan sesama. Belajarlah dari Ishak, di tengah surutnya kehidupan, dia tetap menabur, dengan jalan itu dia dapat menuai seratus kali lipat.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari bacaan kita pada hari ini?
    2. Teladan apa yang Sahabat peroleh dari Ishak dari ayat 1-6?
    3. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh dari tindakan Ishak di ayat 12-13?

    Selamat sejenak merenung. Tanamkan dalam-dalam di hati kita: Milikilah ketaatan, jangan berhenti menabur, niscaya berkat-Nya dicurahkan atas kehidupan kita. (pg)

  • Tidak GOYANG saat GONCANGAN Menerjang

    Sahabat, badai dalam hidup diibaratkan sebagai GUNCANGAN, terpaan kuat berupa peristiwa atau kejadian yang kedatangannya tak diharapkan, yang menimbulkan kehidupan yang semula tenang dan nyaman menjadi porak poranda. Apakah itu kehilangan untuk selamanya orang yang dikasihi, kejatuhan dalam karier dan bisnis, mengidap sakit penyakit. Badai lebih sering diasosiasikan dengan hal negatif, suram, pedih, gelap, dan kesedihan.

    Adakah tempat perlindungan yang kokoh kuat, tatkala guncangan datang menerjang? Setiap makhluk yang hidup di dunia ini membutuhkan tempat yang aman untuk tinggal, berdiam, dan berlindung, bukan? Namun, apakah kita menemukannya? Pemazmur dengan tegas menyatakan bahwa hanya orang-orang yang percaya kepada Tuhan yang tidak akan goyang tatkala guncangan datang menerjang.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Tidak GOYANG saat GONCANGAN Menerjang”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 125:1-5. Sahabat,  Pemazmur menggambarkan orang yang percaya kepada Tuhan seperti gunung Sion, sebab Sion terkenal sebagai gunung pilihan Allah, tempat kudus Allah, serta sebagai kota benteng. Mereka yang percaya kepada Tuhan akan mendapatkan perlindungan, sehingga tidak akan goyah (ayat 1).

    Perlindungan Tuhan juga layaknya Yerusalem yang dikelilingi oleh gunung-gunung. Melalui letak geografis Yerusalem ini, Pemazmur hendak memberitahukan bahwa Tuhan senantiasa berada di sekeliling orang-orang yang percaya kepada-Nya, sehingga mereka menjadi kuat dan tidak berubah, juga aman dan terlindungi. Mereka akan hidup aman dalam jaring pengaman kehidupan (ayat 2).

    Sahabat, oleh sebab itu, jika umat Tuhan hendak memperoleh keamanan sepenuhnya, ada yang harus dilakukan. Pertama, percaya dan mengandalkan Tuhan sepenuhnya. Kedua, menjauhi kejahatan dan melakukan kebaikan. Ketiga, hidup dalam ketulusan hati. Keempat, tidak menyimpang ke jalan yang berbelit-belit (ayat 3-5).

    Jika kita melakukan semua itu, maka kita tidak perlu khawatir dan takut terhadap segala ancaman dunia. Sebab Tuhan memerhatikan dan mengutus malaikat-malaikat-Nya berkemah di sekeliling kita.

    Sahabat, mungkin banyak di antara kita sedang ketakutan, bahkan mungkin sedang mengalami musibah, penyakit, bencana alam, dan lainnya. Hari ini kita mau belajar percaya  dan menyerahkan hidup sepenuhnya kepada Tuhan.

    Sebab itu, di mana pun kita berada, tidak ada alasan untuk takut dan gentar, ataupun khawatir. Sebab Tuhan ada bersama-sama dengan kita dan Dia mengendalikan semua itu dengan kuasa-Nya. Hanya, jika hal itu diizinkan Tuhan terjadi atas kita, maka apa yang Ia inginkan adalah agar kita memiliki pengalaman rohani bersama-Nya. Tak Ada Lagi Khawatir. Tidak goyang saat guncangan menerjang.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami tentang guncangan?
    2. Apa yang harus Sahabat lakukan agar tidak goyang saat guncangan menerjang?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati kita: “ … kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut” (Ibrani 12:28). (pg)

  • Mengapa Berlaku BODOH?

    Sahabat, orang bijak memberi nasihat: “Belajarlah untuk menghargai kepunyaanmu sebab selalu ada seseorang di luar sana yang sangat berharap dapat memilikinya seperti dirimu. Jangan sampai kelak engkau dipaksa untuk menghargainya tatkala itu sudah bukan milikmu lagi.”

    Nasihat tersebut mengingatkan kita supaya kita tidak berlaku BODOH, supaya kita menghargai dan menjaga baik-baik “milik” kita. Jangan sampai kita menukarkan atau menjual milik kita yang sangat berharga, dengan sesuatu yang tidak bernilai. Sesuatu yang bernilai kekal, kita tukarkan dengan sesuatu yang fana.

    Saya yakin, Sahabat  akan tersinggung jika dikatakan orang bodoh.  Tapi kenyataannya memang tidak sedikit orang yang berlaku bodoh.  Kalau kita sudah tahu bahwa apa yang kita lakukan itu salah, berdampak buruk, merugikan dan bertentangan dengan firman Tuhan, tapi masih saja kita perbuat, itulah yang disebut kebodohan atau tindakan bodoh karena kita telah salah melangkah. Lalu mengapa berlaku bodoh?

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Mengapa Berlaku BODOH?”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 25:27-34. Sahabat, Sebagai putra sulung, Esau memiliki hak kesulungan yang memberinya keistimewaan berupa berkat anak sulung yang kelak pasti diwariskan oleh sang ayah kepadanya (Kejadian 27:1-4). Tetapi, sayangnya, Esau bersikap tak mengacuhkan haknya tersebut. Dia memandang remeh atas hak yang sangat istimewa yang dia miliki.  

    Padahal seseorang yang memiliki hak kesulungan itu mewarisi  otoritas ilahi dari ayahnya untuk memimpin sukunya. Berhak menjadi imam bagi sukunya, dan mendapatkan warisan dalam jumlah dua kali lipat dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain.  

    Maka Yakub, adik kembarnya, sangat mendambakannya, sangat  ingin mendapatnya. Dia menunggu kesempatan yang tepat untuk dapat mengambil atau merebut hak istimewa yang dimiliki kakak kembarnya.

    Nah, kesempatan yang dinanti Yakub tiba. Ketika dia sedang memasak sesuatu, lalu datanglah Esau dengan lelah dari padang. Esau minta kepada Yakub agar dia diberi apa yang sedang dimasak oleh adiknya karena dia lelah dan lapar. Tapi Yakub minta agar masakannya itu ditukar dengan hak kesulungan yang dimiliki kakaknya. Konyolnya, Esau setuju dan mengukuhkan “transaksi” itu dengan sumpah! (ayat 31-34)


    Sahabat, mengapa Esau berlaku bodoh,  menukarkan hak kesulungan dengan semangkok sup kacang merah? Karena Esau itu orang yang berpikir pendek, orang yang hanya memikirkan kebutuhan sesaat. Esau memandang ringan tentang hak kesulungannya.

    Hidup ini ialah seni sekaligus disiplin untuk menghargai apa yang ada pada kita, yang diizinkan Tuhan menjadi kepunyaan kita. Sebab tak selamanya itu ada pada kita. Jika kita terlalu sibuk mengejar apa yang belum ada pada kita, akibatnya kita mengabaikannya, tidak melihat potensinya, bahkan memandangnya dengan sebelah mata. Padahal banyak karunia Tuhan tersimpan di situ dan menanti untuk kita hargai, syukuri, dan berdayakan.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Mengapa Esau bersedia menukar hak kesulungan yang dimilikinya dengan semangkok sup kacang merah?
    2. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari  perenungan kita pada hari ini?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati kita: Hargai dan syukuri segala sesuatu yang Tuhan izinkan menjadi kepunyaan kita. (pg).

  • JANGAN cepat MENYERAH

    Sahabat, hampir semua orang mengakui bahwa hari-hari yang sedang kita jalani saat ini adalah hari yang teramat sukar, terlebih-lebih dengan adanya pandemi Covid-19.  Pandemi adalah wabah yang berjangkit serempak di mana-mana, meliputi daerah geografis yang luas. 

    Pandemi Covid-19 ini benar-benar membawa dampak yang luar biasa di segala bidang kehidupan:  Ekonomi menjadi sangat sulit, krisis terjadi di mana-mana, terjadi PHK secara besar-besaran, aktivitas manusia menjadi tersendat, proses belajar mengajar  (pendidikan)  menjadi  terhambat.  Banyak orang menjadi frustasi, kehilangan semangat dan putus asa, karena merasa sudah tak kuat lagi menanggung beban hidupnya yang semakin berat.

    Dalam kelelahan yang sudah melebihi batas, biasanya orang akan diserang oleh rasa mengasihani diri sendiri.  Saat tubuh dan jiwa merasa letih lesu dan berbeban berat, ingatlah: Tuhan penolong kita. Tuhan ada di pihak kita. Jangan cepat  menyerah.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “JANGAN cepat MENYERAH”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 124:1-8 dengan penekanan pada ayat 8. Sahabat, Pemazmur begitu menyadari pertolongan Tuhan atas Israel setelah merenungkan kembali perjalanan dan sejarah hidup bangsanya. Betapa banyak musuh yang ingin menyerang dan menghancurkan, hendak menelan mereka hidup-hidup dengan amarah yang menyala-nyala (ayat 3). Mereka juga menghadapi ancaman bencana alam, yakni banjir (ayat 4).


    Meski mereka menghadapi banyak ancaman, mereka tetap luput dari semua itu. Sebab Tuhan pencipta alam semesta menyertai dan menolong mereka (ayat 6, 8). Jika Tuhan pencipta semesta telah memihak mereka, bukankah tidak ada satu ciptaan pun yang bisa menyakiti mereka? Dikatakan bahwa Israel luput seperti burung dari jerat penangkapnya, bahkan jerat itu pun telah terputus (ayat 7).

    Sahabat, sesungguhnya Mazmur 124 merupakan nyanyian ziarah Raja Daud ketika menghadapi persoalan dengan Absalom, anaknya sendiri yang memberontak (2Samuel 15). Dalam keadaan susah di pelarian, Daud mengalami pertolongan Tuhan. Hal itu membuat Daud tidak berputus asa, tetapi memiliki pengharapan yang kuat. Mazmur ini merupakan sebuah nyanyian ungkapan syukur karena Tuhan berpihak kepadanya (ayat 1-5) dan menyelamatkan jiwanya (ayat 6-7).
     

    Kondisi hidup bisa jadi membuat kita susah dan merasa frustasi. Kita sudah berusaha sekuat tenaga, tetap saja belum ada terobosan yang berarti. Kita mungkin ingin menyerah. Pertanyaannya: Sudahkah kita berpaling pada Allah dan menantikan pertolongan-Nya?

    Sahabat, sepatutnya kita bersyukur bila Tuhan masih berkenan mendidik kita melalui masalah sehingga kita boleh mendapat pengalaman berjalan bersama Dia. Dengan demikian iman kita semakin bertumbuh dan pada saatnya kita beroleh kekuatan untuk mengerjakan pekerjaan-Nya.

    Berdasarkan hasil peremunganmu dari bacaan kita pada hari ini, kerjakanlah beberapa tugas berikut ini:

    1. Jika Sahabat sedang ditindih dengan beban yang berat, apa yang sebaiknya engkau lakukan?
    2. Bagikanlah pengalamanmu bagaimana engkau dapat melewati Pandemi Covid-19 dengan selamat?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hatimu: Hendaklah hati kita meluap dengan ungkapan syukur, sebab kita mendapati bahwa Tuhan memihak kepada kita dan meluputkan kita dari malapetaka. (pg).

  • Ketika PERUNDUNGAN Menimpa

    Sahabat, saat ini mungkin kita sering mendengar atau membaca kata PERUNDUNGAN. Kata perundungan  dalam bahasa Inggris bullying, sedangkan padanan dalam bahasa Indonesia  penindasan atau risak.

    Perundungan adalah segala bentuk penindasan atau kekerasan, yang dilakukan secara sengaja oleh satu orang atau kelompok yang lebih kuat. Tujuan dari perundungan itu untuk menyakiti orang lain dan dilakukan secara terus menerus.

    Peristiwa perundungan seringkali terjadi di: Sekolah, rumah, tempat kerja, masyarakat, sampai dunia maya. Aktivitas perundungan tidak memilih umur dan jenis kelamin. Banyak anak-anak, remaja, maupun orang dewasa sekarang ini yang mengalami perundungan. Tidak hanya secara langsung, tetapi juga melalui media sosial. Perundungan ternyata tidak terjadi pada zaman sekarang saja; pada masa lampau pun hal seperti itu sudah terjadi.

    Sahabat, ketika perundungan menimpa, apa yang harus kita lakukan? Memandang Tuhan dan menantikan pertolongan-Nya.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Ketika PERUNDUNGAN Menimpa”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 123:1-4. Sahabat, dalam Mazmur 123, Pemazmur dengan jelas mengungkapkan bahwa ia pun mengalami perundungan, yaitu penghinaan dan olok-olok.

    Ada dua tipe orang yang melakukannya. Pertama, orang-orang yang merasa aman pada dirinya sendiri, yakni mereka yang merasa berkecukupan secara ekonomi dan sosial. Mereka menjadi tidak tahu diri dan meremehkan orang lain. Kedua, orang-orang yang sombong. Mereka mudah menghina dan mengolok-olok orang yang dipandangnya lebih rendah (ayat 3-4).

    Sahabat, akibat dari perundungan yang terus-menerus akan membuat seseorang mengalami penderitaan batin. Hal itulah yang dialami oleh Pemazmur, sehingga ia berlari kepada Tuhan dan memohon perlindungan serta belas kasihan-Nya. Pemazmur memohon layaknya seorang hamba laki-laki dan perempuan yang memandang kepada tangan tuan dan nyonyanya (ayat 2).

    Ketika kita dihina dan mengalami perundungan, biasanya kita menjadi tertekan, stres, bahkan ada yang sampai bunuh diri. Hal itu disebabkan sebagian besar  dari kita hanya berfokus pada situasi dan kondisi yang ada, bukan memandang kepada Tuhan. Oleh karena itu, jika saat ini ada di antara kita yang sedang berada dalam situasi yang demikian, marilah kita mengambil sikap seperti Pemazmur.

    Pertama, kita harus memandang kepada Tuhan dengan berseru dan berdoa. Sebab, ketika kita memandang kepada Tuhan, kita tidak akan takut lagi dalam menghadapi siapa pun. Kedua, menanti pertolongan Tuhan dengan setia, seperti seorang hamba yang senantiasa memandang kepada tangan tuannya hingga mendapatkan belas kasihan dari tuannya itu. Bila kita setia memandang kepada-Nya, Allah yang penuh kasih akan memberikan pertolongan kepada kita.

    Berdasarkan hasil perenungan dari bacaan kita pada hari ini, kerjakanlah beberapa tugas berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami tentang perundungan?
    2. Bagikanlah, apa yang Sahabat lakukan ketika sedang ditimpa perundungan.

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dlam di hati kita: Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.”  (Mazmur 16:8). (pg).