Category: Sejenak Merenung

  • ALLAH Melimpahkan BERKAT dalam KERUKUNAN

    Sahabat, di lingkungan tempat tinggal kita ada istilah Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW)   RT dan RW dibentuk dengan tujuan untuk membangun kerukunan antarwarga dalam lingkup kecil.  Mengapa kerukunan itu penting?  Sebab bila masing-masing warga memiliki hubungan yang dekat dan saling mengenal satu sama lain, mereka bisa bekerja sama dan saling tolong-menolong sehingga tidak ada jurang pemisah di antara mereka. 

    Kerukunan, di masa sekarang sepertinya sudah menjadi sesuatu yang sulit ditemukan. Beberapa puluh tahun yang lalu, slogan “gotong royong” di kampung-kampung menggambarkan betapa indahnya hidup dalam kebersamaan.

    Di lingkup yang lebih kecil, keluarga, kerukunan pun mulai memudar. Mengapa hal ini bisa terjadi? Semua ini berawal dari sikap egois yang telah meracuni pola pikir masing-masing individu. Hubungan antar anggota dalam keluarga retak karena egoisme yang mendominasi. Kita seakan lupa tentang janji Tuhan yang diberikan-Nya bahwa: Allah melimpahkan berkat dalam kerukunan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “ALLAH Melimpahkan BERKAT dalam KERUKUNAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 133:1-3 dengan penekanan pada ayat 1. Sahabat, Allah melimpahkan berkat dalam kerukunan. Cara hidup yang penuh konflik dengan sesama dan keluarga tidak akan pernah mendatangkan kebaikan.

    Sebaliknya, keegoisan, kemarahan, dan pertengkaran hanya akan menimbulkan kehancuran yang begitu parah. Ketiadaan kerukunan akan meretakkan dan menghancurkan sebuah keluarga. Namun, mereka yang hidupnya rukun memiliki keuntungan besar! Di sanalah berkat-berkat Tuhan dicurahkan dan Allah hadir dan berdiam dalam keluarga yang rukun.

    Sahabat, keluarga yang rukun tidak tercipta dengan sendirinya, tapi perlu diusahakan, dipupuk dan dibina dari hari ke sehari.  Ada berbagai cara yang bisa dilakukan untuk membangun kerukunan dalam sebuah keluarga. Pertama,  sediakan waktu bersama.  Membangun mezbah keluarga atau melakukan saat teduh bersama adalah momen terbaik.  Kita juga dapat menyediakan waktu bersama dengan keluarga untuk kegiatan-kegiatan tertentu, misalnya makan bersama di luar pada waktu akhir pekan atau pergi piknik ke tempat wisata.  Ketika keluarga hidup rukun dan kompak, ikatan emosi antar anggota keluarga akan semakin kuat.

    Kedua, praktikkan kasih.  Keluarga adalah gereja terkecil, tempat awal kita mempraktikkan kasih.  Kasih dapat dinyatakan dengan saling peduli, memperhatikan, menghargai, menghormati dan menolong.   Jika kita mau dikasihi kita pun harus belajar mengasihi;  kalau kita tidak mau disepelekan, kita pun tidak boleh menyepelekan orang lain, oleh karena itu,  “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.”  (Galatia 6:2).

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Tolong bagikan usaha-usaha yang kamu lakukan untuk meningkatkan kerukunan dalam keluargamu.

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Di mana ada kerukunan, di situlah Tuhan memerintahkan berkat-berkat-Nya. (pg).

  • DIPULIHKAN untuk MEMULIHKAN

    Sahabat, mengamati perjalanan kehidupan Esau, seharusnya ia akan menjadi orang yang susah dan melarat. Ishak, ayahnya, menubuatkan hal-hal yang jauh dari kehidupan layak baginya, apalagi untuk menjadi orang kaya (Kejadian 27:39). Ia juga telah  menjual hak kesulungannya kepada Yakub. Namun, dua puluh tahun kemudian, saat berjumpa dengan Yakub, ternyata Esau menjadi orang yang kaya! Ia sanggup membayar empat ratus orang pengiring. Ia berkata kepada Yakub bahwa dirinya memiliki banyak harta sehingga bermaksud menolak segala pemberian Yakub.

    Esau telah berhasil melemparkan “kuk”  dari tengkuknya. Dia telah menjadi orang yang kaya. Dia telah berusaha dengan sungguh-sungguh maka dia telah mengalami pemulihan. Maka tiba saatnya bagi Esau yang sudah dipulihkan, untuk memulihkan hubungan dengan adik kandungnya, Yakub.

    Untuk lebih memahami topik tentang “DIPULIHKAN untuk MEMULIHKAN” Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 33:1-20, dengan penekanan pada ayat 1, 4, dan 9. Sahabat, Yakub sadar dengan siapa ia akan berhadapan: Esau, kakak yang pernah ditipunya. Yakub menduga, Esau akan mengamuk jika berjumpa dengannya. Perbuatan curangnya ketika mencuri hak sulung dan berkat Esau, masih menghantuinya.  Sesal menerornya. Apalagi, saat para utusan melaporkan bahwa Esau datang dengan iringan empat ratus tentara (Kejadian 32:6-7). Yakub menjadi kalut, kecut, takut, dan sesak hatinya.

    Ada peribahasa berbunyi:  “Pembalasan lebih kejam daripada perbuatan.” Peribahasa itu tertuju kepada orang yang sedang dirasuki dendam. Biasanya Si Pendendam akan berusaha mencari cara membalaskan kesumatnya. Sebenarnya kerasnya hati seseorang bisa dilembutkan. Bara dendam bisa diredam asal dia rela terbuka terhadap kasih dan pengampunan.

    Sahabat, sejak Yakub berjumpa dengan Allah di tepi sungai Yabok, ia mengalami perubahan yang luar biasa (Kejadian 32:27-28). Maka ketika Yakub melihat bahwa Esau datang didampingi oleh 400 orang, ia tidak lagi gentar, ia berani berjalan di depan.  Kemudian ia sujud sampai ke tanah tujuh kali, hingga ia sampai ke dekat kakaknya itu (ayat 3).

    Selanjutnya terjadi hal yang luar biasa, Esau berlari mendapatkan Yakub, didekapnya dia, dipeluk lehernya dan diciuminya dia, lalu bertangis-tangisanlah mereka (ayat 4). Ternyata justru Esau yang berinisiatif terjadinya rekonsiliasi diantara mereka.

    Sahabat, sungguh, Allah berkenan mengubah hati manusia. Dendam dan permusuhan pun berubah ketika kasih yang bertakhta. Kasih Allah mampu membuat keduanya melupakan getirnya masa lalu.

    Awal pemulihan relasi adalah niat dan keberanian untuk mengambil risiko demi memulai perubahan. Kita harus melawan rasa takut dan prasangka. Untuk itu, kita bisa meniru kisah dua bersaudara tersebut. Mereka sadar bahwa permusuhan tak selamanya harus dipelihara.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Nilai hidup apa yang dapat Sahabat peroleh dari kisah perjalanan hidup Esau?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Cara yang paling efektif dan terhormat untuk membalas dendam adalah dengan mengampuni. (pg).

  • SUMPAH DAUD

    Sahabat, padanan kata SUMPAH yaitu nazar, kaul, janji, niat dan prasetia. Pengalaman hidup kita bercerita,  banyak orang yang bernazar berkaitan dengan kepentingan dirinya. Misalnya, pasangan suami istri yang sudah menikah lebih dari 10 tahun tapi belum dikaruniai seorang anak pun, mereka kemudian bernazar kalau Tuhan mengaruniai mereka seorang anak, mereka akan menjadi donatur rutin panti asuhan.

    Berbeda dengan Sumpah Palapa yang diucapkan oleh Gajah Mada pada tahun 1336 pada saat dia dilantik menjadi Patih Amangkubhumi di Kerajaan Majapahit. Sumpah Palapa yaitu janji Gajah Mada tidak akan memakan buah palapa, sejenis rempah-rempah, bila belum berhasil menguasai (menyatukan) pulau-pulau di Nusantara di bawah Kerajaan Majapahit.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “SUMPAH DAUD”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 132:1-18 dengan penekanan pada ayat 3-5. Sahabat, Mazmur 132 termasuk nyanyian ziarah. Pada zaman Daud, Sion menjadi pusat dan tujuan untuk keperluan berziarah. Ini selaras dengan keyakinan bahwa Sion merupakan tempat kediaman Allah.

    Ketika orang berziarah, kedekatan dengan Allah menjadi tujuannya dan dibutuhkan tekad yang kuat. Gambaran tentang hal ini tampak dalam nyanyian ziarah. Lewat nyanyian tersebut, para peziarah dapat mengungkapkan semua perasaan tentang tekad dan kehendaknya.

    Sahabat, dalam Mazmur 132 mengungkapkan kehendak kuat Daud; ia bersumpah: “Sesungguhnya aku tidak akan masuk ke dalam kemah kediamanku, tidak akan berbaring di ranjang petiduranku, sesungguhnya aku tidak akan membiarkan mataku tidur atau membiarkan kelopak mataku terlelap, sampai aku mendapat tempat untuk TUHAN, kediaman untuk Yang Mahakuat dari Yakub.” (ayat 3-5)

    Luar biasa, Daud adalah manusia biasa seperti kita, tapi ia menjadi orang yang hidupnya dikenan Tuhan (Kisah Para Rasul 13:22).  Pasti ada banyak faktor yang membuat hidup Daud berkenan di hati Tuhan.  Faktor utama karena Daud sangat mengasihi Tuhan.  Kasihnya kepada Tuhan melebihi segala-galanya.  Kerinduannya untuk tinggal dalam hadirat Tuhan begitu mendalam. Ia sangat mencintai dan menghormati hadirat Tuhan,  “Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya Tuhan semesta alam! Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran Tuhan; …”  (Mazmur 84:2-3a). 

    Bagi Daud, lebih baik satu hari di pelataran-Nya dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahnya dari pada diam di kemah-kemah orang fasik  (Mazmur 84:11).  Meski sudah menjadi raja atas Israel, tinggal di istana yang megah, perabot yang mewah, dengan tentara yang kuat, dia tetap merasa bahwa lebih baik berada di rumah Tuhan.

    Sahabat, dikenan oleh manusia saja membuat kita merasa bahagia dan bangga, coba bayangkan bila hidup kita ini dikenan oleh Tuhan, yang adalah Bapa yang bertakhta di dalam Kerajaan Surga, Pencipta langit dan bumi dan juga Raja di atas segala raja.  Itulah yang harus kita kejar!  Itulah sasaran hidup kita sebagai orang percaya!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Menurut Sahabat, apa yang menjadi latar belakang Sumpah Daud di ayat 3-5?
    2. Hikmat apa yang Sahabat petik dari perenunganmu pada hari ini?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sudahkah kita menjadi orang percaya yang berkenan di hati Tuhan seperti Daud? (pg).

  • PERJUMPAAN dengan ALLAH

    Sahabat, pagi itu Bapak dan Ibu Andreas Christanday yang saat ini sedang berada di Amerika, mengirimkan foto mereka bersama Johan (anak kami yang kedua) bersama istri dan anaknya. Bapak dan Ibu Andreas berjumpa dengan Johan dan keluarganya di Columbus Ohio. Suatu perjumpaan yang tidak terduga dan membawa sukacita.

    Perjumpaan dengan sesama yang tidak terduga membawa sukacita, apalagi perjumpaan dengan Allah.  Perjumpaan dengan Allah adalah peristiwa istimewa dalam pengalaman manusia karena kita adalah manusia berdosa sehingga mustahil dapat bertemu dengan Dia yang Mahakudus. Hanya Allah sendiri yang merelakan diri-Nya hadir, berdiam, dan bersekutu bersama dengan umat-Nya. Semua dilakukan-Nya karena kasih dan anugerah-Nya,

    Untuk lebih memahami topik tentang: “PERJUMPAAN dengan ALLAH”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 32:22-32. Sahabat, kita percaya Allah memelihara kehidupan kita. Tetapi kepercayaan kita bukanlah kepercayaan yang pasif, melainkan percaya yang aktif. Pemeliharaan Allah harus kita perjuangkan melalui karya kita. Berkat Allah tidak sekonyong-konyong turun dari langit. Manusia diberi akal dan kekuatan untuk memperjuangkan berkatnya. Allah sendiri yang akan menghargai perjuangan kita dengan menurunkan berkat-Nya.

    Sahabat, sama seperti kita, Yakub bukanlah manusia sempurna. Ia bahkan merupakan karakter yang memiliki cukup banyak kelemahan. Kehidupan Yakub terasa begitu lekat dengan persoalan tipu menipu. Namun, dibalik segala kelemahan itu Yakub memiliki iman yang sangat kuat, yaitu iman yang percaya dan berjuang untuk mendapatkan berkat Allah, sampai akhirnya ia mendapatkan berkat yang dibutuhkannya. Kita perlu belajar untuk memiliki iman seperti itu, yang percaya penuh akan kuasa Allah dan mau berjuang keras supaya Allah memberkati kita.

    Perjumpaan Yakub dengan Allah di tepi sungai Yabok mengubah hidupnya (ayat 24-29). Yakub bergumul dengan seorang pria hingga fajar menyingsing (ayat 24). Pertarungan yang sengit dan menguras tenaga. Dari pertarungan ini Yakub memperoleh tiga hal: Nama baru, dari Yakub menjadi Israel (ayat 28), pangkal paha yang sakit (ayat 25), dan sebuah kemenangan (ayat 28).

    Sahabat, kitab Hosea mengatakan bahwa Yakub dapat menang dalam pergumulannya dengan Allah bukan melalui kekuatan yang dimilikinya, tetapi dengan menangis dan memohon belas kasihan (Hosea 12:5). Itulah kunci dari kemenangan Yakub dalam pergumulannya dengan Allah, dari pergumulan sengit dan keinginan kuat untuk memohon berkat dari Tuhan. Yakub menamai tempat itu Pniel, karena dia melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawanya tertolong (ayat 30).

    Sejak diberkati Allah, Yakub mengalami perubahan. Ia mulai bergantung kepada Allah dan tak lagi hanya mengandalkan pikiran dan kemampuannya.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat petik dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Tolong bagikan pengalaman perjumpaanmu dengan Yesus Kristus yang mengubahkan hidupmu.

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Ketika berjumpa pribadi dengan Kristus hidup kita diubahkan. (pg)

  • Tetap RENDAH HATI

    Sahabat, berlaku sombong adalah tindakan yang paling mudah dilakukan orang karena bisa dilakukan di mana pun dan kapan pun, dengan hanya bermodalkan ucapan.  Itulah sebabnya orang menganggap kesombongan perkara sepele, tidak termasuk dosa.  Benarkah demikian?

    Sesungguhnya kesombongan merupakan dosa yang sering kurang disadari oleh banyak orang, termasuk orang percaya, padahal dosa ini mengantarkan si pelaku kepada kehancuran.  Ciri-ciri orang yang berlaku sombong: Merasa diri hebat, paling benar dan patut dihormati.  Orang yang berlaku demikian memiliki kecenderungan untuk merendahkan orang lain. 

    Sadar atau tidak kesombongan akan terus membawa orang kepada dosa-dosa yang lain.  Itulah sebabnya orang yang sombong akan mudah sekali marah atau tersinggung apabila keberadaannya kurang dianggap.  Karena itulah orang yang sombong sangat suka dipuji dan dihormati  (gila hormat).  Karena merasa diri hebat dan benar orang yang sombong juga cenderung tidak mau menerima teguran atau kritikan dari orang lain. Karena itu kita sebagai orang percaya, sepatutnya kita tetap rendah hati.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Tetap RENDAH HATI”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 131:1-3. Sahabat,
    Daud memahami bahwa rasa puas diperoleh ketika ia memercayakan hidupnya hanya kepada Allah saja. Dalam doanya di hadapan Allah, ia belajar menenangkan hatinya, berserah dan berharap sepenuhnya hanya kepada Allah (ayat 2-3).

    Penyerahan ini yang menjadi alasan mengapa ia dengan berani berkata bahwa ia tidak tinggi hati, tidak memandang dengan sombong, tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar bahkan hal-hal yang terlalu ajaib (ayat 1).

    Raja bangsa-bangsa di sekitar Israel dapat dipastikan mengejar hal-hal yang ditolak oleh Daud tersebut. Namun, Daud menjadikan Allah sebagai sandaran jiwanya dan kepuasan batinnya. Dia menyerahkan kehidupannya ke dalam pimpinan Allah. Kepuasannya di dalam Allah inilah yang menjadi alasan bagi keamanan jiwanya. Daud tidak harus membuktikan keunggulannya dibandingkan dengan raja-raja di sekitar Israel. Kerendahan hati dan penyerahan diri kepada Allah inilah yang diungkapkan dalam seruan kepada Israel untuk berharap senantiasa hanya kepada Allah (ayat 3).

    Sahabat, sebagai umat Allah, teladan yang diberikan oleh Daud menjadi dasar bagi kita UNTUK TETAP RENDAH HATI. Tidak ada hal yang perlu disombongkan karena segala sesuatu berasal dari Allah dan kita sudah dipuaskan dengan itu.

    Kepuasan di dalam Allah membuat kita tidak perlu mengejar kesia-siaan yang umumnya dikejar oleh orang-orang yang belum mengenal Allah. Sesama yang Tuhan tempatkan di sekeliling kita bukanlah saingan untuk menunjukkan superioritas diri. Di dalam kerendahan hati dan penyerahan diri, kita dapat mengajak orang-orang yang ada di sekitar kita untuk turut berharap kepada Allah.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami tentang kesombongan? (Amsal 21:4 dan Amsal 6:16-19)
    2. Nilai hidup apa yang Sahabat petik dari perenunganmu pada hari ini?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: “Manusia yang sombong akan direndahkan, dan orang yang angkuh akan ditundukkan; dan hanya TUHAN sajalah yang maha tinggi pada hari itu.”  (Yesaya 2:11)

  • Mendapat KEKUATAN BARU

    Sahabat, ada harga yang harus kita bayar ketika kita menantikan sesuatu dari Tuhan.  Menantikan sesuatu dari Tuhan juga membutuhkan kesabaran dan ketekunan.  Ada cukup banyak orang percaya yang menyerah di tengah jalan ketika yang dinantikan itu tidak kunjung tiba, dan karena ketidaksabarannya itu akhirnya mereka juga tidak memperoleh apa-apa.

    Kesabaran dan ketekunan dalam menanti-nantikan Tuhan pasti akan membuahkan hasil dan mendatangkan berkat yang luar biasa.  Setiap orang yang menanti-nantikan Tuhan akan mendapatkan kekuatan baru (Yesaya 40:31). 

    Pergumulan berat yang kita alami seringkali membuat kita lemah, baik secara roh maupun tubuh.  Tapi, kekuatan yang baru akan diberikan Tuhan ketika kita senantiasa menanti-nantikan Dia. 

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Mendapat KEKUATAN BARU”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 130:1-8 dengan penekanan pada ayat 5-6. Sahabat, Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) memberi judul  Mazmur 130: “Seruan dari dalam kesusahan.” Kita memang tidak tahu secara persis apa latar belakang dari Pemazmur hingga menuliskan Mazmur ini. Di bagaian awal Pemazmur mengatakan “Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya Tuhan!” (ayat 1). Dari sini terlihat Pemazmur sedang menghadapi suatu kesusahan yang besar.

    Karena itu Pemazmur menanti-nantikan pertolongan Tuhan: “Aku menanti-nantikan TUHAN, jiwaku menanti-nanti, dan aku mengharapkan firman-Nya. Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi, lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi.” (ayat 5-6). Dalam keadaan tidak baik pun Pemazmur tetap menaruh pengharapan kepada Tuhan dan dengan sabar menanti-nantikan pertolongan-Nya. 

    Sahabat, untuk memiliki kesabaran memang tidak mudah, memerlukan suatu perjuangan. Ketika Tuhan memberikan janji-Nya kepada Abraham (Kejadian 12:2-3), Abraham menantinya dengan sabar.

    Kata sabar mengandung dua arti yaitu: Pertama,  menunggu dalam waktu yang panjang. Waktu Tuhan bukanlah waktu kita, namun pasti waktu-Nya adalah yang terbaik. Maka di dalam menantikan janji-Nya diperlukan ketaatan dan ketekunan dalam diri kita. Kedua, sabar terhadap tekanan, penderitaan, caci maki dan aniaya. Untuk bisa sabar kita harus senantiasa hidup dalam pimpinan Roh Kudus. Kita tahu bahwa kesabaran merupakan salah satu dari buah Roh (Galatia 5:22-23). Seseorang yang memiliki persekutuan dengan Roh Kudus pasti memiliki penguasaan diri dan bisa bersabar dalam segala hal.

    Abraham mendapatkan apa yang dijanjikan oleh Tuhan karena dia sabar dan menantikan janji Tuhan itu dengan tekun dan penuh ketaatan. Secara manusia kita tidak kuat, tapi saat kita memandang Tuhan dan berserah penuh kepada-Nya, kekuatan itu akan muncul dan membuat kita tetap bersemangat dan tetap tekun menantikan Dia.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari ayat 3-4?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Penantian akan Tuhan menghasilkan kekuatan bagi kita dalam menghadapi segala permasalahan. (pg).

  • ALLAH Tidak Lupa Pada Janji-Nya

    Sahabat, hidup manusia diwarnai kondisi pasang-surut kehidupan. Itulah dinamika hidup yang tengah kita jalani. Dalam kondisi yang baik, hidup itu akan dijalani dengan sukacita, tetapi pada saat manusia hidup dalam pergumulan yang panjang tanpa ada solusi, maka tidak sedikit orang menjadi frustasi dan putus asa.

    Sebagai orang percaya kita harus sungguh-sungguh percaya pada kesetiaan Allah pada janji-Nya. Allah tidak lupa pada janji-Nya. Percaya akan kesetiaan Allah seharusnya menjadikan orang percaya kuat menghadapi tantangan dan pergumulan, sehingga tidak mudah jatuh dalam dosa. Orang percaya sesungguhnya beroleh semangat hidup karena janji-Nya. Oleh janji itulah kita akan hidup dalam pengharapan akan kepastian janji-Nya. Keyakinan itulah yang memberanikan diri kita untuk membawa segala permasalahan hidup kita dalam doa kepada Allah.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “ALLAH Tidak Lupa Pada Janji-Nya”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 31:22-42 dengan penekanan pada ayat 29. Sahabat,  kalau kita peka, sesungguhnya kita telah menikmati pemeliharaan Allah dalam kehidupan kita. Itu merupakan anugerah Allah, merupakan hal yang sangat luar biasa dan ajaib, dan merupakan hal yang sesungguhnya tidak pantas kita terima. Kita manusia berdosa yang layak dihukum, tetapi Tuhan tetap mengasihi kita sedemikian rupa.

    Seperti itulah Tuhan memperlakukan keturunan Abraham. Walaupun Yakub dan keluarganya melakukan hal yang tidak terpuji, ternyata Tuhan tetap memelihara mereka, dengan mencegah Laban mencelakainya. 

    Sahabat, kebaikan Allah bagi Yakub haruslah dilihat dalam kerangka besar janji Allah kepada Abraham dan Ishak. Allah telah berjanji untuk menjadikan keturunan Abraham sebagai berkat bagi dunia. Sekalipun keturunan Abraham telah menunjukkan sikap yang kurang terpuji sebagaimana yang ditunjukkan oleh Yakub, Allah tetap setia pada janji-Nya.

    Perlindungan Allah kepada Yakub, bukan didasarkan pada kepantasan Yakub melainkan karena kasih setia Allah semata-mata. Kepada Yakub yang berdosa itu, Allah tidak akan tinggal diam, Ia akan menunjukkan keadilan-Nya dan akan membentuk hamba- Nya ini menjadi sebuah pribadi yang sesuai dengan kehendak-Nya. 

    Sahabat, sebagai orang percaya, kita pun seringkali bertindak seperti Yakub. Akan tetapi kita boleh percaya bahwa Allah tetap setia pada janji keselamatan-Nya. Janganlah kita menyepelekan kasih Allah ini, tetapi marilah kita belajar untuk setia kepada Allah yang tetap setia dengan janji-Nya. Belajarlah untuk menghargai kasih karunia- Nya itu dengan hidup setia dan taat pada perintah-Nya sampai Tuhan menjemput kita.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang dilakukan Allah di ayat 24 sebagai bukti bahwa Ia setia dengan janji-Nya?
    2. Hikmat apa yang Sahabat petik melalui perenungan pada hari ini?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kesetiaan Tuhan akan janji-Nya selayaknya kita respons dengan kesetiaan pula. (pg).

  • BERKAT TUHAN dan KUCURAN KERINGAT

    Sahabat, mungkin hampir semua orang setuju bahwa sesungguhnya keberhasilan hidup itu hak semua orang. Lalu di benak banyak orang sering timbul pertanyaan: Apakah keberhasilan hidup itu  karena usaha keras manusia atau berkat Allah?

    Kepada teman-teman yang sedang sakit atau dalam proses penyembuhan saya sering menyampaikan agar mereka melakukan 5 B: Berdoa, Beriman, Berusaha, Bersabar dan Bersyukur. Bagi saya keberhasilan hidup itu membutuhkan keduanya: Berkat Tuhan dan Kucuran Keringat.  

    Untuk lebih memahami topik tentang: “BERKAT TUHAN dan KUCURAN KERINGAT”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 30:25-43 dengan penekanan pada ayat 32. Sahabat, setelah mendapat Rahel dan selesai membayar kepada Laban, melalui pekerjaannya, Yakub berpamitan. Namun Laban yang melihat bahwa Tuhan memberkati Yakub (ayat 27),  meminta dia untuk bekerja lagi untuknya dengan perjanjian tentang upah yang disepakati bersama.

    Yakub sudah mendapatkan apa yang diinginkan, tetapi karena diminta bekerja lagi maka ia pun kembali memutar otaknya agar kali ini pekerjaannya memberikan hasil yang lebih banyak (ayat 37, 39, 42). Permintaannya sederhana, yaitu kambing yang lahir dengan bintik/belang dan domba dengan warna hitam/gelap adalah ternak yang akan menjadi bagian yang dia miliki (ayat 33).

    Sahabat, pada umumnya, kambing memiliki warna coklat tua/hitam sedangkan domba umumnya berwarna putih. Hanya sedikit kambing yang memiliki corak bintik/belang. Demikian pula hanya sedikit domba yang memiliki warna hitam/gelap. Laban jelas gembira dengan tawaran Yakub, sebab Laban melihat bahwa dirinya tentu akan lebih diuntungkan dalam perjanjian tersebut. Maka tanpa ayal, Laban pun dengan cepat menyetujui apa yang diminta oleh Yakub (ayat 34).

    Namun apa yang terjadi kemudian? Yakub malah memperoleh banyak kambing dan domba sehingga harta Yakub menjadi semakin banyak, entah itu kambing, domba, budak perempuan, budak laki-laki, unta, maupun keledai (43).

    Sahabat, lalu muncul pertanyaan di benak kita: Apakah keberhasilan Yakub dalam memperoleh kekayaan tersebut semata-semata disebabkan oleh kecerdikannya, karena dia itu kreatif dan inovatif,  atau ada faktor lain? Ternyata Yakub pun tahu dan percaya bahwa bukan hanya karena kemampuan dirinya, ia menjadi berhasil,  karena ada Allah yang telah memberkati dirinya dengan keberhasilan (Kejadian 31:7-9).

    Pengalaman Yakub ini mengajarkan kepada kita bahwa kita tidak bisa hanya berpangku tangan dan berharap berkat Tuhan turun dari langit. Untuk menikmati keberhasilan hidup, kita harus bekerja keras, bersedia mengucurkan keringat, dan menggunakan kecerdikan,  sambil memohon agar Tuhan memberkati usaha kita. Ingatlah: Keberhasilan itu kita peroleh tidak semata-mata karena usaha keras kita, melainkan karena Allah berkenan untuk memberkati usaha kita.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh melalui perenunganmu pada hari ini?
    2. Pelajaran apa yang Sahabat peroleh dari ayat 32, 37-39, dan 41-42?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Doa tanpa usaha itu bohong. Usaha tanpa doa itu sombong. (pg). 

  • TUHAN itu MAHAADIL

    Tuhan itu Mahaadil, Ia selalu menolong dan menunjukkan keberadaan-Nya bagi orang yang selalu setia kepada-Nya. Lihatlah: Allah akan selalu melakukan keadilan dengan menyelamatkan mereka yang berserah kepada-Nya ketika mereka dijahati.

    Sahabat, pengalaman hidup kita bercerita bahwa  TUHAN akan memberi keadilan kepada umat-Nya yang tertindas, yang teraniaya, yang haknya dirampas dan tidak akan membiarkan orang-orang yang berkuasa selalu berjaya dalam merampas hak orang kecil, sekalipun hak itu hanyalah perkara kecil. Sekalipun nampaknya orang-orang yang berkuasa itu semakin hebat, tetapi yang pasti Ia tidak akan membiarkan semua itu terjadi begitu saja.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “TUHAN itu MAHAADIL”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 129:1-8. Sahabat, penderitaan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kisah keselamatan umat Tuhan di sepanjang sejarah. Rasul Paulus mengatakan bahwa seluruh makhluk mengharapkan kelepasan dari penderitaan dalam kehidupan mereka (Roma 8:18-23).

    Sahabat, demikian pula yang terjadi dalam kehidupan umat Israel. Mereka mengalami penganiayaan yang begitu menyesakkan (ayat 1-2) dan kesewenang-wenangan (ayat 3) tidak pernah dapat membinasakan mereka. Keyakinan akan Tuhan yang adil (ayat 4), yang akan memberikan penghukuman yang setimpal kepada mereka yang menganiaya umat-Nya, menjadi sumber kepercayaan diri.

    Berhadapan dengan situasi yang demikian, orang Israel diajak untuk belajar menerima bahwa Tuhan mengizinkan hal ini terjadi dalam hidup umat-Nya. Mereka juga diajak untuk percaya bahwa Tuhan akan menolong mereka sesuai dengan waktu-Nya. Umat Tuhan harus menantikan Tuhan yang akan menghakimi musuh-musuh mereka (ayat 4-8). Masa-masa seperti ini merupakan kesempatan untuk melihat pekerjaan-Nya yang dinyatakan bagi umat-Nya.

    Sahabat, dalam kehidupan orang percaya pada masa kini, penderitaan hadir dalam wajah yang berbeda-beda. Umat Tuhan mungkin melihat orang fasik yang memakai hak mereka untuk menindas orang percaya. Bahkan dalam situasi ekstrem, sentimen terhadap kaum minoritas dapat melegalkan tindakan sewenang-wenang.

    Dalam menghadapi situasi seperti ini, umat Tuhan diajak untuk belajar memercayai Tuhan yang memberikan pertolongan tepat pada waktu-Nya. Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Di tengah kesulitan seberat apa pun, akan ada kelepasan dari-Nya.

    Umat Tuhan juga harus belajar menantikan Tuhan yang akan menyatakan penghakiman-Nya atas orang-orang fasik. Kita terkadang sering tergoda untuk menjadi hakim terhadap mereka. Namun, satu hal perlu kita ingat, Dialah Hakim yang Mahaadil terhadap musuh-musuh-Nya.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat petik dari perenungan kita pada hari ini?
    2. Mengapa penderitaan yang dialami oleh umat Israel tidak membuat mereka hancur?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan itu Mahaadil. Di dalam Tuhan ada kelepasan. (pg).

  • MENGUCAP SYUKUR: Kekuatan Dahsyat

    Sahabat, kalau kita hidup dalam komunitas orang percaya, maka kita sering mendengar atau membaca ungkapan MENGUCAP SYUKUR. Karena seringnya kita mendengar, maka tanpa sadar kita kerap mengabaikan  makna dari ungkapan tersebut. Kita menjadi kurang peka terhadap kekuatan yang dahsyat yang terkandung didalamnya.

    Ungkapan tersebut disampaikan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Teslonika (1 Tesalonika 5:18).  Latar belakang jemaat tersebut  adalah penyembah-penyembah berhala, yang kemudian oleh pemberitaan Injil yang disampaikan Paulus, Silwanus dan Timotius, akhirnya mereka melayani Allah yang hidup dan benar (1 Tesalonika1:9). Artinya ungkapan “Mengucap syukur” tidak bisa dipandang sebelah mata. Mengandung kekuatan dahsyat di dalamnya. Ada dampak yang sangat luar biasa bagi orang yang mengucapkan kata-kata ini dengan sepenuh hati.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “MENGUCAP SYUKUR: Kekuatan Dahsyat”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 29:31-35 dengan penekanan pada ayat 35. Sahabat, banyak cara sudah dilakukan Lea untuk membuat Yakub mencintainya. Tapi semua itu tetap tidak mengubah cinta Yakub untuk Rahel. Lea berpikir pengorbanannya tidak dihargai. Bahkan apa yang Lea pikir dengan memberi anak maka ia dapat merebut hati Yakub, ternyata hal itu tidak terbukti. Kelahiran Ruben, Simeon, dan Lewi ternyata tidak membuat Yakub mencintainya.

    Sahabat, tetapi hal yang berbeda dilakukan Lea saat melahirkan Yehuda. Kali ini ia berkata, “Sekali ini aku akan bersyukur kepada Tuhan.” (ayat 35).  Lea sadar bahwa dengan belajar mengucap syukur kepada Tuhan saja maka ia akan memperoleh cinta yang diharapkannya. Tuhan mengasihi Yehuda dan Tuhan memilih Yehuda menjadi bagian rencana-Nya untuk kehadiran Mesias di bumi.

    Dampak dari Lea mengucap syukur tidak hanya berhenti sampai di situ, ucapan syukur tersebut  benar-benar telah membuat Yakub mencintainya. Dalam Kejadian 49:29-32, ditulis bahwa sebelum meninggal Yakub berpesan agar ia dikuburkan dekat di sisi nenek moyangnya, yaitu dalam gua yang di ladang Efron. Di situ juga telah dikuburkannya Lea. Akhirnya, Yakub memberi perhatiannya dan menghargai Lea sebagai istrinya. Yakub memberi tempat bagi Lea di hatinya.

    Sahabat, tidak hanya cinta, tetapi hal-hal terbaik pasti akan kita dapatkan ketika hati dan perkataan kita dipenuhi dengan ucapan syukur. Ucapan syukur kita tidak hanya mengubah situasi yang buruk menjadi berkat, tetapi kasih Tuhan akan semakin tertuju kepada kita.

    Mari jangan anggap remeh ungkapan ‘Mengucap syukur”. Memang dua kata itu sangat sederhana, tetapi dibalik kata yang sederhana ini, ada satu kekuatan Allah yang sangat dahsyat  dan tidak ada tandingannya di seluruh muka bumi. Apa yang belum pernah Sahabat lihat dan  pikirkan bahkan belum pernah timbul dalam hatimu, maka itu yang akan Allah berikan bagi hidupmu.

    Berdasarkan hasil perenungan dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pelajaran apa yang Sahabat dapatkan dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang membuat Lea akhirnya mendapatkan cinta dari Yakub? (ayat 35 dan Kejadian 49:29-32)

     
    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Ucapan syukur tidak saja memberi kita kekuatan saat susah, namun juga apa pun yang kita harapkan. (pg).