Category: Sejenak Merenung

  • TUHAN yang MENYELESAIKAN

    Sahabat, Tuhan itu Mahakuasa sehingga Ia dapat mengatur setiap peristiwa demi peristiwa dalam kehidupan kita sesuai dengan rencana-Nya.  Seringkali kita sulit untuk menerima cara kerja Tuhan yang sepertinya tidak sesuai dengan kenyataan yang ada, terlebih lagi bila peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidup kita begitu menyesakkan.  Tetapi sebenarnya di atas segala peristiwa yang terjadi dalam hidup kita, Tuhanlah yang memegang kendali dan melakukan apa yang Ia kehendaki. 

    Seringkali tanpa kita sadari,  kita menginginkan agar semua hal dapat kita perkirakan dan kita kendalikan. Tetapi, ke­nyataannya, ternyata terlalu banyak hal yang sebenarnya di luar kuasa kita, di luar kendali kita, ada faktor X di luar jangkauan kita.

    Banyak perkara yang kita hadapi setiap hari. Bahkan setiap perkara itu pastilah kita tidak bisa atasi semua dengan mengandalkan kekuatan kita sendiri. Kita butuh kekuatan ALLAH untuk menyelesaikannya. Itulah sebabnya izinkan Tuhan yang menyelesaikan.

    Untuk dapat lebih memahami topik tentang: “TUHAN yang MENYELESAIKAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 138:1-8 dengan penekanan pada ayat 8. Sahabat,  betapa senangnya Daud mendapati seruannya ditanggapi oleh Tuhan. Ia bersyukur dengan segenap hati akan kasih setia Tuhan (ayat 1-2). Baginya tanggapan Allah memberikan kekuatan baru bagi jiwanya (ayat 3).

    Daud yang adalah seorang raja, berharap agar semua raja bisa mengikuti jejaknya, yaitu memiliki pengalaman bersama dengan Tuhan dan janji-janji-Nya, serta menyaksikan kemuliaan dan keadilan Tuhan (ayat 4-6). Daud ingin agar ucapan syukurnya menjadi kesaksian bagi raja-raja di sekelilingnya. Ucapan syukur yang tulus hanya bisa dinaikkan oleh mereka yang mengalami Tuhan secara pribadi.

    Daud tidak meragukan karya Tuhan atas dirinya. Ia mengingat kembali apa yang telah Tuhan perbuat di masa lampau. Daud menyadari pertolongan Tuhan yang meluputkan mereka dari serangan dan amarah musuh (ayat 7). Ia menyaksikan bahwa Tuhan mampu menyelesaikan semua karya-Nya dan memberi perlindungan secara tuntas kepadanya.

    Fakta itulah yang membuat Daud tidak ingin ditinggalkan oleh Tuhan. Kemuliaan Tuhan begitu besar dan layak mendapatkan pujian. Kasih setia-Nya untuk selama-lamanya.  Dalam kasih setia-Nya, Tuhan telah menjadi penolong dan penyelamat yang ajaib baginya. Tuhanlah yang memegang kendali atas masa depannya dan TUHAN yang akan menyelesaikannya baginya (ayat 8).

    Sahabat, di tengah kehidupan yang seringkali di luar kendali kita, ingatlah akan kasih setia TUHAN yang tidak pernah meninggalkan perbuatan tangan-­Nya. Saat kita menjalani kehidupan yang sulit, bahkan saat kita berada dalam kesesakan, percayalah bahwa TUHAN tidak pernah meninggal­kan kita (Matius 28:20Ibrani 13:5-b). Berserulah kepada-Nya, mohonlah agar Ia menambahkan kekuatan dalam jiwa kita, teruslah me­langkah dengan penuh pengharapan, tetaplah hidup dalam jalan-Nya, ikutlah dalam rencana-Nya, karena Ia sendiri yang akan menyelesaikan apa yang sudah dirancangkan-Nya dalam hidup kita saat Ia menciptakan kita.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 4-6?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kesesakan bukanlah jalan buntu, melainkan jendela baru untuk melihat kebaikan Allah. (pg)

  • Di dalam TUHAN ada PENGAMPUNAN

    Sahabat, ada cukup banyak orang percaya masih bergumul sendiri dengan akal dan pikirannya, masih belum yakin bahwa dosa-dosanya telah diampuni oleh Tuhan.  Pertanyaan dalam hati pun semakin menjadi-jadi ketika mereka membaca ayat berikut ini:  “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.”  (1 Yohanes 1: 8).  Memang benar bahwa semua manusia telah berdosa, tetapi  “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.”  (1 Yohanes 1:9).

    Jangan pernah meragukan pengampunan Tuhan. Tuhan Mahapengampun. Di dalam Tuhan ada pengampunan, “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” (Yesaya 1:18)

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Di dalam TUHAN ada PENGAMPUNAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 38:1-30. Sahabat,  Yehuda tak peduli dengan tradisi keluarganya.   Kakek dan ayahnya menikah melalui proses  perjodohan dan prinsip kekerabatan, tetapi Yehuda keluar jalur. Ia bergaul ke kalangan luar yaitu kaum Adulam. Saat  melihat Syua (2), ia tertarik, lalu menikah.

    Dari pernikahannya, dia mendapat tiga orang anak: Er, Onan, dan Syela. Sebagaimana  pernikahannya yang dini dan tanpa  perencanaan, ia mengawinkan Er terlalu cepat juga. Tamar dipilihnya dari orang Kanaan. Tanpa penjelasan, dikatakan bahwa  Er jahat di mata Tuhan hingga Tuhan membunuh dia (ayat 7).

    Dalam tradisi Ibrani, adik almarhum harus memperistri janda kakaknya untuk mendapat keturunan atas nama almarhum. Namun Onan melakukan persetubuhan tidak sesuai aturan dan jahat di mata Tuhan, hingga ia dibunuh Tuhan juga (ayat 10).

    Singkat cerita, istri Yehuda meninggal (ayat 12). Tak lama berselang, ia bersetubuh dengan seorang perempuan yang dikiranya pelacur. Padahal, tanpa sepengetahuannya, perempuan itu adalah Tamar, menantunya sendiri. (ayat 16-19).

    Kemudian tersiar kabar bahwa Tamar telah bersundal. Berita itu sampai di telinga Yehuda. Dia menjadi marah dan menuntut agar Tamar dibawa dan dibakar. Tetapi, Tamar membela diri. Ia menunjukkan cap meterai, kalung, dan tongkat pemberian Yehuda saat bersama dengannya. Di situlah Yehuda sadar dan mengaku telah berbuat salah (ayat 26).

    Sahabat, dalam penilaian moral, kita bisa saja mengatakan perbuatan Yehuda dan Tamar salah. Bagaimana bisa seorang mertua tidur bersama dengan menantunya sendiri? Ini adalah sebuah kejahatan di mata Tuhan. Meskipun demikian, Allah tetap mengampuni Yehuda karena ia telah mengaku dosanya.

    Lalu bagaimana dengan kita? Sudahkah kita membuka diri seutuhnya kepada Tuhan? Jika belum, marilah kita mengaku dosa dan membuka diri kepada Tuhan. Janganlah kita merasa malu, sebab Tuhan itu baik dan penuh kasih. Ia akan mengampuni, asalkan kita mau mengaku dosa dan sungguh-sungguh mau bertobat.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang pengampunan dosa? (Yohanes 8:36 dan Efesus 1:7)

    Selamat sejenak merenung. Doa: “Tuhan mampukan kami untuk mau membuka diri dan mengaku dosa kami kepada-Mu.” (pg).

  • POLA ASUH dan POLA DIDIK ANAK

    Sahabat, saya dan istri sejak di awal pernikahan sudah punya komitmen, mengingat segala keterbatasan yang kami miliki, kami minta kepada Tuhan agar dititipi  2 orang anak saja. Tuhan mengabulkan permohonan kami, dua orang anak dititipkan kepada kami, perempuan dan laki-laki.

    Kami minta hikmat kepada Tuhan agar kami dapat mengembangkan pola asuh dan pola didik anak dengan benar. Oleh anugerah Tuhan, anak kami yang pertama dapat melanjutkan studi di Amerika sejak dia duduk di kelas 2 SMA. Sedangkan anak kami yang kedua menyelesaikan SMA nya di Semarang.

    Tuhan memakai seorang teman sepelayanan untuk mengingatkan kami agar kami juga dapat memberi kesempatan kepada anak kami yang kedua untuk melanjutkan studi di Amerika. Oleh berkat dan pertolongan Tuhan, kerinduan kami dapat mewujud. Orangtua perlu menjaga agar dapat memberikan perhatian dan kesempatan yang sama kepada  anak-anak mereka.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “POLA ASUH dan POLA DIDIK ANAK”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 37:1-11 dengan penekanan pada ayat 3. Sahabat, Yusuf merupakan anak  Israel yang kesebelas. Artinya, dia mempunyai banyak saudara. Ia masih muda. Dia biasa menggembalakan kambing dan domba bersama saudara-saudaranya (ayat 2).

    Ada julukan yang melekat dalam diri  Yusuf yaitu “Anak Emas Israel”.  Ayat ke-3 bagian awal mencatatat: “Israel lebih mengasihi Yusuf dari semua anaknya yang lain.” Salah satu buktinya adalah ketika Israel membuatkan jubah yang amat sangat indah hanya bagi Yusuf seorang (ayat 3-b).

    Sahabat, Yusuf punya satu tabiat yang tidak disukai saudara-saudaranya. Dia suka mengadu kepada ayahnya perihal kejahatan mereka (ayat 2). Hal-hal itulah yang memicu saudara-saudaranya membenci Yusuf.

    Kebencian saudara-saudara Yusuf makin menjadi-jadi ketika Yusuf menceritakan mimpinya. Pada saat itu
    Yusuf sudah berusia 17 tahun (ayat 2). Seharusnya, ia mampu menimbang sikap dan memilih yang baik. Tetapi, coba perhatikan:  Yusuf suka mencari-cari dan melaporkan kesalahan saudaranya. Dia suka diistimewakan, dan menikmati jubah mahaindah khusus untuknya. Dia mungkin tahu, mimpinya akan memantik kegusaran segenap keluarganya. Namun, dia menceritakan mimpinya, dan menceritakan lagi.

    Sahabat, karakter Yusuf muda sungguh buruk: Kurang peka, suka diistimewakan, tidak punya rasa keadilan, tidak mau menimbang lebih dalam maupun bertenggang rasa, tak peduli respons orang lain terhadap kata dan perilakunya. Akibatnya di keluarga Yakub terjadi perang dingin. Rasa iri dan benci tumbuh semakin subur. Semua itu bermula dari pola asuh dan pola didik yang dikembangkan oleh Israel (ayat 3a).

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa peranan seorang ayah dalam pembentukan karakter anak-anaknya? (Efesus 6:4)

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jika saling membenci, apakah kasih masih tinggal di dalam hati kita? (pg).

  • TERSEDU-SEDAN di tepian Bengawan BABEL

    Sahabat, kehidupan ini tak mesti selalu lancar dan tiada masalah. Ada saat-saat penuh sukaria, tetapi ada juga saat-saat penuh kesusahan. Orang percaya juga tak luput dari persoalan ini. Yang membedakan orang percaya dengan orang yang belum percaya adalah bagaimana orang percaya memakai setiap pergumulan hidupnya; apakah itu kelancaran atau penderitaan menjadi suatu kesempatan di mana ia belajar mengenal Tuhan lebih dekat.

    Lalu mungkinkah orang percaya menaikkan nyanyian syukur kepada Tuhan saat menderita? Sangat mungkin! Buktinya, Paulus dan Silas di penjara Filipi (Kisah Para Rasul 16:25). Mengapa mereka bisa memuji Tuhan di tengah penderitaan? Karena mereka melihat penderitaan itu sebagai kehormatan untuk melayani Dia yang sudah menderita bahkan mati bagi mereka.

    Oh ya, pernahkah Sahabat  terduduk hingga tersedu-sedan? Bagi yang pernah mengalami kedukaan tentu dapat membayangkan bagaimana perasaan orang yang terduduk diam dengan gundah hingga menangis tersedu-sedan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “TERSEDU-SEDAN di tepian Bengawan BABEL”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 137:1-9. Sahabat, Mazmur 137 berisi bait-bait kenangan akan kepahitan hidup ketika umat Israel berada di pembuangan Babel. Kedukaan paling mendalam adalah saat mereka tidak bisa lagi datang beribadah ke hadapan Tuhan. Begitulah keadaan di negara asing. Tidak mengherankan bila Sion, kota suci Yerusalem, tempat kediaman Tuhan, begitu dirindukan, hingga mereka terduduk dan menangis tersedu-sedan di tepian bengawan  Babel (ayat 1).

    Permintaan orang-orang Babel supaya umat Israel menyanyikan lagu Sion penuh dengan cemooh (ayat 3). Umat Israel sadar bahwa tantangan dari orang-orang Babel itu memperkuat kerinduan pulang ke tanah air. Kerinduan akan hadirat Tuhan memenuhi kata-kata pujian akan kemuliaan Sion sebagai takhta Tuhan.

    Sahabat, kenangan pahit itu tidak mudah dilupakan. Ketika umat sudah kembali, pengalaman tersebut sengaja tidak dilupakan. Bait-bait mazmur pun dicipta untuk menemukan dorongan transformatif.

    Dapat dibayangkan ketika umat Tuhan teringat akan masa pembuangan dulu. Sang pemazmur bertekad bahwa ia tidak akan melupakan Yerusalem sampai kapan pun (ayat 5-6). Ia juga berseru kepada Tuhan supaya Tuhan menunjukkan keadilan-Nya (ayat 7-9).

    Kini, sedu-sedan di tepian bengawan Babel terbayar sudah. Rindu yang terpendam untuk berziarah ke Sion akhirnya dapat dipuaskan. Yerusalem benar-benar menjadi puncak sukacita. Bila sewaktu berada di tepian bengawan Babel mereka terduduk hingga tersedu-sedan, kini di Sion mereka bisa berdiri dan bernyanyi dengan sukacita.

    Sahabat, begitulah kerinduan kita akan kemuliaan Tuhan dipuaskan. Dahulu di bawah kuasa dosa kita terduduk hingga tersedu-sedan, kini di dalam anugerah Tuhan kita bangkit berdiri dan menyanyikan pujian penuh sukacita. Sampai kapan pun hati kita tertuju kepada hadirat Tuhan. Betapa berharganya hati yang selalu rindu kepada Tuhan. 

    Berdasarkan hasil perenungan dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberpa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 1-4?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 5-6?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-alam di hati: Mazmur 137 mengajak kita dengan berani dan jujur menghadapi realita hidup, bagaimana pun pahitnya. (pg).

  • BERSYUKUR: Puncak Kebahagiaan

    Sahabat,  menurut pendapat banyak orang BERSYUKUR adalah berterima kasih. Mengucapkan terima kasih atau mengucapkan syukur kepada Allah. Bersyukur juga dapat dimaknai mensyukuri atas berkat-berkat-Nya yang sudah  kita terima.

    Jadi yang dimaksud dengan bersyukur kepada Allah adalah mengucapkan syukur ke hadirat Tuhan atas kelimpahan berkat-berkat-Nya, baik berkat makanan dan minuman, kesehatan, keselamatan, kebaikan, keberuntungan, perasaan senang, sukacita, bahagia dan damai sejahtera. Bersyukur kepada Allah adalah mengucapkan syukur kepada Tuhan atas kelimpahan kasih setia dan kasih karunia-Nya bagi kita dalam segala perkara.

    Sesungguhnya bersyukur merupakan SALAH SATU KEUTAMAAN HIDUP orang percaya, dikatakan sebagai PUNCAK KEBAHAGIAAN. Artinya, tidak ada kebahagiaan yang melebihi kebahagiaan orang yang bersyukur kepada Tuhan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “BERSYUKUR: Puncak Kebahagiaan”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 136:1-26. Sahabat, Mazmur 136 mengajak kita menaikkan syukur karena karya-Nya dalam hidup umat-Nya. Sepertinya mazmur ini dilantunkan dalam suatu ibadah dengan bersahut-sahutan. Satu baris pernyataan perbuatan Allah yang diucapkan oleh imam atau pemimpin pujian, disambut dengan satu baris yang diucapkan umat sebagai respons:  “Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.”

    Mazmur 136 dimulai dengan karya Allah dalam penciptaan (ayat 5-9). Kapan terakhir kali kita mengagumi karya Allah yang menjadikan alam semesta ini begitu asri dan harmonis? Kalau yang kita lihat kerusakan di sana sini, itu disebabkan ulah manusia. Polusi di kota-kota besar, membuat sulit kita melihat keindahan dan keasrian alam ini. Namun Kejadian pasal 1 mengingatkan kita bahwa Allah masih berkarya sampai saat ini dalam memperbarui ciptaan-Nya, dan satu kali kelak semua akan diperbarui total.

    Sahabat, dari karya penciptaan, Pemazmur meneruskan mensyukuri kasih setia Allah dengan menceritakan karya-Nya dalam sejarah permulaan Israel. Mulai dari karya penebusan dari perbudakan Mesir (ayat 10-15), diteruskan dengan perjalanan di padang gurun (ayat 16-20), sampai akhirnya mereka masuk ke tanah perjanjian (Mazmur 21-24). Mazmur Syukur ini ditutup dengan pernyataan perbuatan-Nya atas segala makhluk (ayat 25), untuk mengingatkan kita bahwa Dia Allah bukan hanya eksklusif untuk Israel, melainkan melalui Israel untuk semua makhluk.

    Bisakah kita bersyukur karena karya Allah dalam sejarah hidup kita? Dia adalah Allah pencipta kita yang dalam kasih setia-Nya telah menebus kita dari perbudakan dosa. Dia sedang menuntun kita dalam perjalanan perziarahan padang gurun dunia ini. Suatu hari kelak kita akan menikmati tanah perjanjian yang kekal, peristirahatan dari semua pergumulan hidup. Bila kita belum atau jarang bersyukur, marilah sekarang mulai dan jangan berhenti bersyukur.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Berdasarkan ayat 5-9, kebaikan dan kasih setia Tuhan diingat melalui apa?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kebaktian yang sejati hanya mungkin bila dialasi rasa syukur dari dalam hati. (pg).

  • Jangan Terkecoh oleh KEMAKMURAN HIDUP Seseorang

    Sahabat, pengalaman hidup kita dalam berjemaat dan bermasyarakat bercerita bahwa kalau seseorang berhasil dalam satu bidang, belum tentu dia juga berhasil dalam bidang-bidang yang lain. Misalnya, kalau ada  seseorang berhasil dalam meniti karier politiknya, belum tentu dia berhasil dalam kehidupan berkeluarga. Kalau seseorang berhasil dalam bidang pendidikan, belum tentu dia juga berhasil dalam bisnisnya.

    Banyak hal yang mempengaruhinya: Bidang minat, fokus hidup, nilai-nilai hidup yang diusung, faktor budaya, latar belakang keluarga,  dan lain sebagainya. Karena itu kita perlu terus belajar untuk tidak cepat-cepat mengambil kesimpulan. Jangan terkecoh oleh kemakmuran hidup seseorang.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Jangan Terkecoh oleh KEMAKMURAN HIDUP Seseorang”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 36:1-43. Sahabat, coba kita ingat betapa marahnya Esau ketika berkat yang seharusnya menjadi miliknya ternyata diambil oleh Yakub dengan cara menipu ayah mereka. Saat itu Esau hanya menerima bagian berkat yang kedua, yang menempatkan dirinya sebagai hamba dari saudara kembarnya, Yakub. Bahkan kemakmuran pun akan jauh dari hidupnya (Kejadian 27).

    Namun, kalimat terakhir dari berkat yang diberikan Ishak kepada Esau, bernada ada  pengharapan, yakni jika Esau berusaha dengan sungguh-sungguh maka kemungkinan untuk memperoleh hidup yang lebih baik tetap terbuka baginya. Dia dapat menikmati keberhasilan hidup dan kemakmuran.  Namun adakah hidup Esau kemudian berjalan baik?

    Sepintas Kejadian 36  memang mencatat tanda-tanda kehidupan Esau yang diberkati, yakni ia memperoleh keturunan dan juga materi yang melimpah (ayat 6-7). Namun itu semua tidak sebanding dengan hal-hal utama yang telah hilang dari hidupnya: Hak kesulungannya telah terjual, berkat sebagai anak sulung lenyap, dan ia pun kehilangan kasih orangtuanya karena mengambil istri dari perempuan-perempuan Kanaan dan keturunan Ismael (Kejadian 28:6-9).

    Sahabat, kita perlu menyadari bahwa memiliki banyak hal dalam hidup ternyata bukan jaminan bahwa Tuhan memberkati hidup orang tersebut. Justru oleh karena banyaknya harta yang dimiliki, Esau malah memutuskan untuk keluar dari tanah perjanjian Kanaan dan memilih tinggal di pegunungan Seir.

    Sebuah keputusan yang tampaknya arif dari seorang kakak yang ingin mengalah terhadap adiknya. Namun tanpa disadari, keputusan tersebut merupakan sebuah penggenapan bahwa Esau tidak akan mengambil bagian dalam rencana Tuhan. Terbukti, setelah Kejadian 36, tidak ada lagi catatan tentang Esau dan keturunannya. Sekalipun kaum keturunannya dikenal sebagai orang-orang perkasa sebelum masa raja-raja di Israel (ayat 31-43), tetapi sejarah mereka hanya tercatat sebagai musuh yang turut memerangi Israel.

    Sahabat, maka jangan terkecoh oleh kemakmuran hidup seseorang. Apa yang tampak merupakan berkat bisa jadi malah kebalikannya. Berkat Tuhan tidak melulu berupa materi. Kasih, campur tangan, dan pemeliharaan  Tuhan itulah BERKAT SEJATI bagi kita.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Mengapa setelah Kejadian 36 tidak ada lagi catatan tentang Esau dan keturunannya? (Kejadian 28:6-9 dan 2 Korintus 6:14)

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kriteria utama dalam memilih pasangan hidup: Seorang yang takut akan Tuhan, yang merupakan pasangan yang seimbang. (pg).

  • Mengapa Kita MEMUJI TUHAN

    Sahabat, memuji Tuhan tidak dapat dilepaskan dari kehidupan orang percaya.  Karena itu dalam setiap peribadatan, puji-pujian selalu mendapat porsi yang cukup banyak selain pemberitaan firman Tuhan.  Hal itu menandakan bahwa pujian merupakan bagian penting dalam kehidupan orang percaya.

    Lalu, mengapa kita memuji Tuhan? Tuhan sangat menikmati puji-pujian yang dinaikkan oleh umat-Nya, karena itu Ia selalu hadir dan bertakhta di atas pujian kita.  Meski berada di situasi sulit dan sepertinya kegelapan pekat mengelilingi hidup,  biarlah kita tetap memuji-muji Tuhan, karena ketika kita melakukannya Tuhan akan hadir melawat kita.  Kehadiran-Nya pasti membawa dampak luar biasa dalam kehidupan kita:  Memulihkan, menyembuhkan, menolong bahkan memberkati kita.  

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Mengapa Kita MEMUJI TUHAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 135:1-21. Sahabat, Mazmur 135 secara ritmis menyenandungkan pujian untuk kemuliaan nama Tuhan, yakni sebuah ungkapan pujian yang sangat dikenal dan gampang dihafal oleh umat. Itulah mengapa Mazmur 135 termasuk jenis kidung ziarah yang mengajak banyak orang, imam dan umat semuanya mendengarkan panggilan dan melibatkan diri dalam irama memuji nama Tuhan (ayat 1-3).

    Sahabat, mengapa memuji nama Tuhan menjadi seruan penting dalam melakukan ziarah? Menyerukan nama Tuhan adalah salah satu cara mendekati Sang Sumber Kehidupan. TUHAN (Yahweh) adalah sebutan untuk Allah Pencipta alam semesta. Dengan menyebut nama-Nya berarti kita sebagai ciptaan ingin selalu berelasi dengan Sang Pencipta.

    Lalu mengapa Tuhan layak dipuji sedemikian rupa? Pengalaman iman leluhur Israel telah menjadi dasar yang kuat. Tuhan adalah Pencipta sekaligus Pelindung Israel. Sudah terbukti bahwa kuasa-Nya melebihi segala allah dan raja dari bangsa mana pun (ayat 5-12). Tuhan yang membebaskan Israel dari Mesir, memimpin mereka masuk ke Kanaan, dan memelihara mereka untuk selamanya. Pengalaman iman inilah yang terus dipelihara oleh umat lewat ziarah ke Yerusalem.

    Paling tidak, dalam satu tahun liturgi, tiga kali umat Israel berziarah. Pada hari raya Paskah, Pentakosta dan Pondok Daun, umat berziarah dan mengenang penyertaan Tuhan Yang Mahakuasa. Berziarah pada hari raya merupakan sarana efektif supaya nama Tuhan mendapat tempat di dalam hati setiap generasi. “Ya TUHAN, nama-Mu adalah untuk selama-lamanya; ya TUHAN, Engkau diingat turun-temurun” (ayat 13).

    Sahabat, Tuhan bukan patung buatan yang tidak bisa berbuat apa-apa. Tuhan yang kita puji adalah Allah yang hidup, yang selalu memberikan keadilan dan kasih-Nya kepada umat-Nya. Dia memelihara dan menjaga umat-Nya dalam segala keadaan.

    Berkat ketekunan memuji nama Tuhan, niscaya ziarah dalam hidup kita pun makin bermakna. Kemahakuasaan Tuhan, seperti yang disaksikan para leluhur iman, juga bisa kita saksikan di masa kini. Pujilah Nama-Nya yang agung demi memuliakan-Nya.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 8-9?
    3. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 15-17?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Saat memuji Tuhan kita memberi kesempatan Tuhan menyatakan kuasa-Nya:  Mengubah tangisan menjadi tarian. (pg).

  • KETAATAN mendatangkan PEMULIHAN dan KESELAMATAN

    Sahabat, masalah ketaatan adalah masalah yang mungkin mudah untuk dijalankan ketika kita sedang dalam keadaan tenang, tapi bisa menjadi sulit ketika kita berada dalam kesesakan. Kenyataannya ada banyak orang yang tergiur dalam berbagai godaan ketika berada dalam keadaan tertekan dan terjatuh ke dalam beragam alternatif yang mengarah pada kejahatan di mata Tuhan, atau bahkan kepada pilihan-pilihan yang jelas-jelas bertentangan dengan firman Tuhan sendiri.

    Sesungguhnya tidak ada seorang pun manusia yang senang hidup menderita. Jika bisa tentu kita ingin hidup kita selalu lancar tanpa masalah. Namun dalam kehidupan kita tidak akan pernah selamanya berada dalam keadaan tenang. Ada waktu dimana kita mengalami kesulitan, dan disana sebenarnya iman kita diuji. Mampukah kita terus taat, tetap bersabar dan memercayakan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan, atau kita justru terjatuh akibat ketidaksabaran?

    Ketaatan sungguh penting dan merupakan kunci penting untuk terjadinya pemulihan dalam hidup kita. Dalam keadaan seperti apapun kita tetaplah dituntut untuk taat dan setia sepenuhnya kepada Tuhan. Dia mampu melepaskan kita pada waktunya, Dia akan selalu bisa melakukan hal-hal yang mustahil sekalipun. Yakinlah ketaatan mendatangkan pemulihan dan keselamatan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “KETAATAN mendatangkan PEMULIHAN dan KESELAMATAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 35:1-15. Sahabat, peristiwa yang dialami Yakub bersama seisi rumahnya membuat ia harus meninggalkan Sikhem (Kejadian 34). Kemudian Allah menyuruh Yakub pergi ke Betel dan mendirikan mezbah di sana bagi-Nya (ayat 1).

    Sahabat, perlu dicatat, ada maksud dari perintah Allah kepada Yakub untuk pergi ke Betel. Allah ingin, supaya kelak, Yakub kembali ke sana dan hidup semakin taat kepada-Nya.

    Untungnya, Yakub sadar akan rencana tersebut. Dia memerintahkan semua orang dan seisi rumahnya untuk membuang dewa-dewa asing dan menahirkan diri. Mereka mendengar dan melakukan apa yang dikatakan oleh Yakub (ayat 2-4). Ketaatan membuat Allah menyelamatkan Yakub serta seisi rumahnya. Tidak hanya itu saja, Allah juga berjanji memberkati Yakub bersama dengan keturunan-keturunannya kelak (ayat 5-12).

    Di sini Yakub berhasil menjadi pemimpin yang baik bagi keluarga serta orang-orang terdekatnya. Itu ditunjukkan lewat ketaatannya kepada Allah. Yakub dapat mengajak mereka untuk taat yang mendatangkan pemulihan dan keelamatan bagi mereka.

    Sahabat, dalam keseharian, kita mungkin masih belum mampu menjadi Yakub masa kini. Sebab kita sendiri pun terkadang masih sulit untuk memimpin diri sendiri, apalagi orang lain. Oleh sebab itu, marilah kita terus mengarahkan diri agar tetap hidup sesuai kehendak-Nya. Kita memohon agar Tuhan menuntun, sehingga kita bisa jadi pemimpin yang baik. Baik bagi diri sendiri, keluarga, gereja, dan masyarakat.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Bagaimana Tuhan Yesus menggambarkan orang yang taat? (Matius 7:24-27)

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan menuntut ketaatan kita sebagai bukti bahwa kita percaya kepada-Nya dan mengasihi Dia, tidak ada ketaatan tanpa ada bukti. (pg)

  • MEMUJI TUHAN di Setiap Waktu

    Sahabat, kadang kita kurang menyadari, jika pagi ini kita masih bisa melihat matahari terbit, jika kita masih bisa menghirup udara segar dan bernafas, jika hari ini kita bisa melakukan aktivitas dengan tubuh yang sehat, mengantarkan anak-anak pergi ke sekolah, lalu kita bisa sampai ke kantor atau tempat kerja dengan selamat tanpa ada halangan, bukankah semuanya itu karena anugerah Tuhan?  Tuhan yang menolong, memelihara, dan menyertai kita.

    Apa pun yang terjadi dalam kehidupan ini, kasih dan kebaikan Tuhan tak berkesudahan, Ia ada untuk kita.  Ironisnya, seringkali kita memuji-muji Tuhan hanya saat dalam keadaan baik saja, tapi begitu terbentur masalah, kesukaran, atau pergumulan hidup yang berat, kita tak lagi mau memuji Tuhan.  Mari kita belajar untuk selalu bersyukur!  Jangan hanya karena masalah, lalu kita bersungut-sungut,  kecewa dan akhirnya berhenti memuji Tuhan. Mari kita terus belajar untuk memuji Tuhan di setiap waktu.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “MEMUJI TUHAN di Setiap Waktu”, Bacaan Sabda saya ambil dari Mazmur 134:1-3. Sahabat, Seruan untuk memuji TUHAN dalam Mazmur 134 secara umum ditujukan kepada segenap umat TUHAN, tetapi secara khusus ditujukan bagi para hamba TUHAN atau orang-orang yang sibuk melayani TUHAN.

    Hal terpenting yang harus selalu disadari adalah bahwa TUHAN itu Pribadi yang hidup yang memiliki pendapat dan keinginan. TUHAN itu bisa berbicara, melihat, dan mendengar. TUHAN selalu ingin berkomunikasi dengan manusia. Oleh karena itu, semua orang yang terlibat dalam penyelenggaraan ibadah tidak boleh hanya menyelenggarakan ibadah, tetapi harus turut serta beribadah.

    Oleh karena itu, tidak mengherankan bila Pemazmur menyerukan kepada semua hamba TUHAN atau semua orang yang menyelenggarakan ibadah untuk memuji nama TUHAN dengan mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN (ayat 1-2).

    Sahabat, bila tidak waspada, orang-orang yang melayani TUHAN bisa menyelenggarakan ibadah tanpa ikut beribadah. Paduan suara bisa mempersembahkan pujian mereka kepada umat TUHAN, namun bukan kepada TUHAN. Pengkhotbah bisa menyampaikan firman TUHAN kepada umat TUHAN dan lupa untuk mendengarkan pesan TUHAN kepada dirinya sendiri. Pemain musik bisa mempertotonkan kehebatannya dan lupa untuk ikut memuji TUHAN dari dalam hatinya sendiri.

    Coba kita memeriksa sejenak hidup penyembahan kita kepada Tuhan selama ini! Bukankah seringkali, penyembahan kita hanya bersifat rutinitas, dengan sedikit atau bahkan tanpa penghayatan sama sekali. Penyembahan seperti itu, bukan penyembahan sejati.

    Sahabat, ajakan menyembah Tuhan merupakan kesempatan untuk menghayati ulang kebesaran dan kemuliaan-Nya, serta terkagum-kagum akan karya-Nya yang ajaib. Baiklah kita dengan jujur menyediakan diri untuk dikoreksi dalam ibadah kita. Kalau motivasi kita keliru, atau penghayatan kita dangkal. Lantunkan ulang Mazmur 134 ini. Hayati kembali penyembahanmu kepada Tuhan secara segar dan buka hatimu untuk menerima berkat-Nya.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Mengapa kita harus memuji Tuhan bukan hanya di waktu pagi tapi juga di waktu malam? (Ayat 1 dan Ratapan 3:22-23)

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati kita: “Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!”  (Mazmur 103:2). (pg)

  • BIJAKLAH dalam BERTINDAK

    Sahabat, pengalaman hidup kita  mengajarkan kepada kita tentang pentingnya sikap bijak dalam bertindak. Sikap bijak berarti tahu menempatkan diri, tahu membawa diri, tahu apa yang harus dilakukan, dan apa yang harus diputuskan.

    Bijak dalam bertindak berarti juga harus memadukan antara wadah  atau tindakan nyata kita dengan motivasi hati atau kedalaman batin kita. Tindakan atau sikap hidup kita merupakan cerminan atau pantulan hati. Karenanya menjernihkan dan memurnikan hati menjadi begitu penting. Itulah sebabnya kita perlu mengolah  hati dan rohani kita dengan firman Tuhan setiap hari.

    Usahakan apa yang memancar keluar dari kita, baik melalui tutur kata maupun sikap dan  tindak tanduk kita, selalu memancarkan kebaikan. Bijaklah dalam bertindak.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “BIJAKLAH dalam BERTINDAK”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 34:1-31. Sahabat, suatu ketika, Dina berjalan sendirian. Dia ingin mengunjungi temannya. Sikhem melihatnya dan terpesona. Tanpa berpikir panjang, Sikhem, pemuda Kanaan itu, memerkosa Dina, putri Yakub (ayat 2). Dampaknya serius. Bukan hanya Dina yang merasa terhina, tetapi juga semua anggota keluarganya. Yakub dan anak-anaknya marah karena kejadian itu (ayat 7 dan 31).

    Tidak berhenti sampai di situ, Sikhem hendak mengawini Dina secara paksa (ayat 4). Demi mencapai niatnya, ia menggunakan pengaruh ayahnya untuk membujuk penduduk kota agar memenuhi persyaratan dari anak-anak lelaki Yakub, yang sebenarnya hanya siasat saja (ayat 13, dan 19-22). Akibatnya, semua lelaki penduduk kota mereka, yang sedang kesakitan setelah disunat, mati diparang pedang Simeon dan Lewi (ayat 25-26).

    Sahabat, kita ini hidup bermasyarakat. Baik atau buruk perilaku kita, tak pernah hanya kita sendiri yang menanggung akibatnya. Baik secara langsung maupun tidak, sendiri atau bersama-sama, selalu ada orang yang ikut merasakan dampaknya.Tuhan memberi kita kebebasan individu agar dikelola secara harmonis dengan tanggung jawab kepada masyarakat. Karena itu bijaklah dalam bertindak.

    Lalu bagaimana seharusnya tindakan  jika kita disakiti, dijahati, dihina, dan dipermalukan? Tuhan Yesus bersabda: “Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, …” (Matius 5:38-39)  Lebih lanjut Rasul Paulus menasihati:  “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! (Roma 12:17-18).

    Sahabat, pembalasan itu adalah hak Tuhan. Oleh sebab itu, apapun yang terjadi dalam hidup kita: disakiti, dijahati dan dibenci, marilah kita selalu bersandar kepada Tuhan dan berusaha supaya tindakan-tindakan kita bijaksana.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Bagaimana respons kita ketika kita dihina atau dipermalukan? (Matius 5:38-39 dan Roma 12:17-18).

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Orang yang bijak adalah orang yang mampu melihat dan menyikapi segala sesuatu dari sudut pandang rohani sehingga ia tahu bagaimana harus bertindak. (pg).