Category: Sejenak Merenung

  • Menemukan JALAN di tengah KEBUNTUAN

    Sahabat, pengalaman hidup kita bercerita bahwa setiap manusia pasti pernah mengalami sebuah penderitaan dalam hidupnya. Setiap manusia pasti pernah melewati masa-masa suram bahkan kadang gelap gulita. Masa dimana seakan sudah tidak ada harapan lagi, seakan terang menjadi sebuah mimpi yang terlalu tinggi untuk digapai. Merasa bahwa semua jalan telah berujung pada sebuah KEBUNTUAN.

    Pengalaman hidup kita juga bercerita bahwa di tengah kegelapan dan kebuntuan,  setiap orang akan menunjukkan hasil yang berbeda-beda. Ada yang terbentuk berkemanangan, tetapi ada juga yang malah kalah dan hancur. Pengenalan akan Tuhan pun bisa bertumbuh bisa juga menjadi merosot. Kita sebagai orang percaya, seharusnya memiliki keyakinan sebagaimana yang dimiliki oleh Don Moen: Tuhan akan membuka jalan saat tiada jalan. Dengan cara yang ajaib dibukanya jalan bagi kita.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Menemukan JALAN di tengah KEBUNTUAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 143:1-12. Sahabat, Mazmur 143 adalah doa yang dinaikkan dalam situasi genting. Bagi Daud, doa bukanlah sekadar tindakan untuk menenangkan diri, melainkan sebuah percakapan dengan Allah.

    Daud menaikkan doa ini dalam pemahaman bahwa hanya kepada Allah dia dapat berseru, karena Allah pasti mendengarkannya. Karena itu, Daud menyandarkan doanya pada kesetiaan Allah dan kesadaran bahwa tidak ada seorang pun yang benar di hadapan Tuhan (ayat 1-2).

    Selain itu Daud menyadari bahwa kehidupan sebagai orang percaya tidak selalu ada di jalan mudah (ayat 3-4). Namun, ia memahami bahwa kepuasan dan keselamatan yang utama ada di dalam Tuhan saja, karena Allah adalah setia (ayat 5-8). Daud memberikan ungkapan kesiapan untuk menaati tuntunan Tuhan, dan kekuatan inilah yang memberikan semangat baru kepadanya (ayat 9-12).

    Sahabat, saat ini mungkin ada diantara kita yang sedang berjalan dalam lembah kekelaman. Mengalami tekanan dan penderitaan yang luarbiasa. Yang mungkin bahkan berpengaruh pada kesehatan mental kita. Namun, melalui kisah Daud ini kita melihat sebuah pengharapan serta pertolongan yang pasti.

    Pertolongan tersebut hanya ada di dalam Tuhan. Kita belajar bagaimana Daud merekonstruksi hati dan pikirannya yang penuh tekanan itu menjadi memori-memori masa lalu yang indah akan karya Tuhan dalam hidupnya. Yang membuatnya kembali segar dan siap untuk menerima mukjizat-Nya. Daud menemukan jalan di tengah kebuntuan. 

    Mari, kita juga memiliki sikap seperti Daud ini. Meskipun berat dalam prosesnya, tetapi tidak menjadi masalah. Semua hal membutuhkan proses dan waktu yang harus dijalani. Kiranya pengalaman kejatuhan dan penderitaan itu menjadi momen kita untuk berpaling dan menyelidiki rancangan-Nya bagi hidup kita. Kegelapan bisa menjadi kesempatan agar mata rohani kita memandang terang yang sejati yaitu Allah dalam sifat-sifat mulia-Nya. Mari melatih doa, kenangan dan harapan kita agar menjadi sarana untuk semakin mengenal Tuhan.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 10?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sudahkah kita mengerjakan apa yang menjadi kehendak Tuhan? (pg).

  • Bagi Tuhan SELALU ADA SOLUSI

    Sahabat, sesungguhnya setiap manusia pasti punya masalah masing-masing. Bisa masalah dengan diri sendiri, keluarga, kerabat, sahabat, atasan, rekan kerja, ataupun orang lain. Semua beban masalah tersebut bisa membuatmu sedih, putus asa, hingga merasa terpuruk. Memang sulit menghadapi sebuah masalah, karena sifatnya yang beragam. Apalagi ketika kamu tidak punya seseorang untuk bersandar, atau seseorang yang dapat memberikan SOLUSI terhadap masalah yang sedang kamu hadapi.

    Orang bijak berkata bahwa orang yang berhasil adalah orang yang dapat memberikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi oleh sesamanya. Apa itu solusi? Solusi adalah penyelesaian atau pemecahan suatu masalah sehingga diharapkan dapat menghasilkan jalan keluar nantinya. Syukur, bagi Tuhan selalu ada solusi.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Bagi Tuhan SELALU ADA SOLUSI,” Bacaan Sabda pada pada hari ini saya ambil dari Kejadian 43:1-34 dengan penekanan pada ayat 14. Sahabat, Kejadian 43 dibuka dengan, “Tetapi hebat sekali kelaparan di negeri itu.” Maka tidak heran Yakub meminta anak-anaknya kembali ke Mesir untuk membeli bahan makanan (ayat 2).

    Tetapi, di pasal sebelumnya kita tahu, Yusuf tidak mengizinkan mereka kembali kecuali membawa Benyamin. Dalam hal ini, Yakub merasa berat hati mengizinkan mereka membawa Si Bungsu (ayat 6). Dia sepertinya tidak mau mengulang tragedi kehilangan anak lagi (ayat 14b)

    Tetapi, Yehuda menjadikan dirinya sebagai jaminan (ayat 9). Dia meyakinkan Yakub akan membawa Benyamin pulang kembali. Akhirnya, Yakub menyerah dan mengizinkan mereka membawa Benyamin ditambah persembahan dan upeti untuk memohonkan belas kasihan pemimpin Mesir itu.

    Sahabat, KEHABISAN MAKANAN menjadikan Yakub dan anak-anaknya tak lagi mampu menahan diri untuk tidak memenuhi apa yang diminta penguasa di Mesir yang sebenarnya adalah Yusuf, anak dan adik mereka. Permintaan Yusuf akhirnya dipenuhi oleh Yakub atas desakan anak-anaknya (ayat 14),

    Dengan nada putus asa setelah kehilangan Yusuf, sekarang ia harus melepaskan Benyamin; anak-anak dari istri yang dikasihinya. Permasalahan tentulah mesti dipecahkan. Yakub tidak bisa bersikukuh melarang Benyamin dibawa ke Mesir. Dia harus memecahkan masalah kekurangan bahan makanan bagi keluarga, hamba dan ternaknya. 

    Sahabat, keputusan yang tepat untuk mengatasi masalah itulah yang diperlukan dalam kehidupan kita. Itu yang dilakukan Yakub dan anak-anaknya. Kita pun tak luput dari masalah. Bagaimana kita menyelesaikannya dalam keluarga? Di gereja? Di tempat kerja? Di lingkungan tempat tinggal?

    Sesungguhnya mencari solusi terbaik dengan berlandaskan kasih menjadikan kita mampu menyelesaikan dengan baik masalah itu sambil terus berharap kepada Tuhan sang empunya hidup. Kita percaya di dalam Tuhan selalu ada solusi.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh dari renunganmu pada hari ini?
    2. Menurut pemahaman Sahabat, mengapa Yusuf memberikan porsi lima kali lebih banyak kepada Benyamin? (Ayat 34)

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Pada akhirnya, dalam masalah apa pun yang menghampiri, hal yang paling penting dan paling diperlukan adalah solusi. (pg).

  • DOA ketika sedang DIKEJAR-KEJAR

    Sahabat, siang itu kami bertiga sedang mengadakan “reuni” di warung “Rujak Cingur”. Kami pilih setelah jam 13.00 supaya pengunjung warung tersebut sudah agak sepi. Obrolan kami ditemani Petis Kangkung, Pecel Tahu, Kolak Pisang, dan Bubur Ketan Hitam.

    Siang itu, sahabat kami menumpahkan syukurnya setelah dapat melewati masa yang sangat menyesakkan di dalam hidupnya. Dia sangat bersyukur kepada Tuhan yang telah memberi kekuatan, ketabahan,  dan kesabaran kepadanya. Dia dapat mendampingi suaminya pada saat suaminya sedang dikejar-kejar banyak orang yang menagih hutangnya. Dia tetap dapat tekun berdoa ketika suaminya di kejar-kejar banyak penagih hutang.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “DOA ketika sedang DIKEJAR-KEJAR”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 142:1-8 dengan penekanan pada ayat 6. Sahabat, Daud bersembunyi di dalam gua dan menaikkan doanya kepada Allah. Baginya, Allah adalah tempat perlindungan yang tepat. Dalam kelemahan dan kesesakannya, Daud membutuhkan pertolongan Allah untuk melepaskannya.

    Sahabat, sudah dua kali Daud berada dalam bahaya besar di dalam gua. Daud mengeluhkan jerat yang dipasang baginya (ayat 3-4). Hal ini mungkin menunjuk kepada jerat yang dilakukan Saul (1 Samuel 18:21). Namun, di balik keluhannya, ia terhibur oleh kemahatahuan Allah.

    Allah tahu jalan hidup Daud (ayat 4). Ketika jiwa Daud kewalahan, bingung, dan putus asa, serta siap untuk tenggelam di bawah beban kesedihan dan ketakutan, Allah tahu jalannya. Ketika Daud berjuang seorang diri (ayat 5), Allah tahu kondisi Daud dalam segala aspeknya. Daud mengambil jalan yang tepat dengan berseru dan berlindung kepada Allah. Daud percaya bahwa Allah memihaknya, sehingga ia akan selamat dan memuji Allah. Demikianlah orang-orang benar akan datang dan turut bersukacita karena pembebasan Allah (ayat 8).

    Sahabat, sebagai orang percaya kita patut bersyukur karena kita memiliki Tuhan yang begitu peduli dengan keberadaan kita, bahkan Dia bersedia menjadi tempat untuk kita mencurahkan isi hati, mengadu dan mengeluh (Yesaya 25:4 dan Matius 11:28). 

    Karena itu, seberat apa pun permasalahan yang kita alami saat ini,  bawalah kepada Tuhan dan curahkan segala isi hatimu kepada-Nya.  Dia tidak hanya siap menjadi Pendengar keluhan kita, tapi juga sebagai Penolong yang sejati, karena:   “Sesungguhnya,  tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar;”  (Yesaya 59:1).

    Jika saat ini ada saudara seiman yang sedang berbeban berat dan membutuhkan tempat untuk berkeluh-kesah,  semoga kita berkenan untuk meminjamkan pundak kita.  Tuhan memberikan tugas dan tanggung jawab kepada kita untuk memerhatikan, menopang, menolong dan menguatkan mereka.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini? 
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 6? (Yesaya 25:4 dan Yesaya 59:1)

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tetap pertahankan integritas dan tetaplah meyakini kasih setia Tuhan. (pg).

  • MIMPI YUSUF MEWUJUD

    Sahabat, Tererai Trent lahir di Zimbabwe, dalam keluarga dan lingkungan miskin, yang hanya menyekolahkan anak laki-laki. Anak perempuan tidak boleh belajar, mereka hanya diminta siap menikah. Namun, Tererai berMIMPI menjadi perempuan terpelajar dan mengangkat kehidupan perempuan lain. Ia tuliskan mimpi itu di kertas, ia masukkan ke dalam kaleng, ia kubur di bawah batu.

    Suatu hari, seorang perempuan Amerika datang dan menantangnya untuk mengungkapkan  mimpinya. Dengan berani Tererai berkata ia ingin ke Amerika untuk belajar dan, secara ajaib, Tuhan membuka jalan. Tererai diajak ke Amerika, belajar di sana dengan semangat luar biasa, hingga meraih gelar doktor. Mimpinya terkabul! Kini ia terus berjuang bagi peningkatan hidup para perempuan, khususnya di Zimbabwe.

    Sahabat, orang yang memiliki mimpi, atau lebih tepatnya visi, memiliki tujuan yang jelas. Mereka pun berfokus melakukan apa saja yang perlu dilakukan, dan bersemangat mengejarnya. Dengan pertolongan Tuhan. MIMPI mereka akan MEWUJUD.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “MIMPI YUSUF MEWUJUD”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 42:1-38 dengan penekanan pada ayat 9. Sahabat, bencana kelaparan hebat melanda mulai dari Mesir hingga Kanaan, tempat di mana Yakub dan anak-anaknya tinggal.Yakub mendengar ada gandum di Mesir (ayat 1). Jadi, ia menyuruh anak-anaknya ke sana untuk membelinya (ayat 2).

    Ketika sampai di Mesir, mereka (tanpa disadari) bertemu dengan Yusuf, saudara yang pernah mereka jual. Ketika Yusuf melihat mereka tunduk kepadanya, seketika dia teringat mimpinya. Mimpi yang sudah menjadi kenyataan. Mimpinya kini telah mewujud (ayat 9).

    Sahabat, Yusuf ingin tahu apakah saudara-saudaranya masih sama seperti dahulu. Untuk itu, Yusuf sengaja membentak (ayat 7) dan menuduh mereka sebagai pengintai (ayat 9). Selanjutnya, Yusuf mulai menanyai mereka. Dalam proses “interogasi”, Yusuf menerima banyak informasi tentang keluarganya. Baik itu tentang keberadaan, jumlah keluarga, dan termasuk tentang “seseorang yang sudah tidak ada lagi” (ayat 13).

    Yusuf juga ingin tahu kabar saudara seibunya, Benyamin. Caranya, Yusuf pura-pura tidak percaya pada informasi itu. Untuk memastikan akurasinya, mereka disuruhnya untuk menjemput si bungsu (ayat 15-16)

    Pada saat inilah, saudara-saudara Yusuf mulai merasa menjadi tertuduh karena dosa-dosa masa lalunya (ayat 21-22).

    Sahabat, Yusuf, tidak sakit hati, apalagi dendam. Lebih lagi setelah mendengar kalau mereka menyesali perbuatannya. Dia menangis karena tak kuasa menahan haru bercampur rindu. Semua itu terjadi, tentu saja, karena Yusuf percaya pada pimpinan Tuhan (ayat 23-24).

    Pimpinan Tuhan bukan hanya untuk menunjuk arah perjalanan hidup. Tetapi, Dia juga mendidik kita bagaimana cara menjalaninya. Sebuah gaya hidup yang penuh kasih tanpa dendam dan kebencian.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat dapatkan dari perenunganmu hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 21-22?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan mengizinkan kita bermimpi agar kita memiliki  tujuan hidup. Bila Tuhan memberkati mimpi, pasti tercapai segala kerinduan. (pg).

  • TUHAN, Jagai dan Lindungi aku

    Sahabat, ditemani kopi hitam, sukun goreng, pisang goreng, dan tape goreng, obrolan kami sore itu semakin lama semakin gayeng. Saat ini dia menjadi salah seorang teman sepelayanan saya, tapi umur kami berbeda 20 tahun. Dia baru berumur 46 tahun.

    Dia bercerita bahwa masa kecilnya benar-benar hitam kelam. Dia tinggal di daerah pelacuran. Setiap hari dia melihat orang berjudi, mabuk-mabukan, saling mengumpat,  saling memaki, dan saling mengata-ngatai. Asap rokok dan bau minuman keras menjadi asupan hidungnya. Kata-kata jorok dan kasar menjadi asupan telinganya.

    Syukur, ada gereja yang membuka pelayanan di tempat tinggalnya. Guru Sekolah Minggunya selalu mengingat dia agar berdoa: “Tuhan, jagai dan lingdungi aku.”

    Untuk lebih memahami topik tentang: “TUHAN, Jagai dan Lindungi aku”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 141:1-10. Sahabat, menjaga hati agar tidak ternoda adalah perkara serius bagi Daud. Ia begitu takut untuk melakukan kesalahan di hadapan Tuhan, sekalipun hanya melalui perkataan mulutnya. Ia tahu bahwa Tuhan tidak berkenan kepada kejahatan. Itulah alasannya ia berseru kepada Tuhan.

    Maka tidak heran kalau Daud memohon agar Tuhan mengawasi mulutnya, agar ia tidak salah berucap dan akhirnya melakukan kejahatan melalui perkataannya (ayat 3). Jangan sampai ia memiliki hati yang jahat dan merasakan kesenangan orang jahat (ayat 4). Lebih baik orang benar menghukumnya daripada ia harus terlibat dalam kejahatan (ayat 5). Ada kalanya ia menerima ganjaran yang menyakitkan, namun hal itu diterima sebagai kasih. Baginya, hajaran orang benar mampu membawa dia kembali kepada kebenaran, asalkan ia tidak berkawan dengan orang fasik dan dilepaskan dari godaan.

    Sahabat, Daud pun berseru memohon perlindungan Tuhan agar menjaganya dari perangkap orang-orang yang melakukan kejahatan (ayat 8-9). Seruan Daud menunjukkan kesungguhan imannya di dalam Tuhan. Doa adalah seruan jiwa yang menjadi persembahan harum di hadapan Tuhan, apalagi disertai dengan kebencian terhadap kejahatan. Daud benci bila harus terlibat dalam perbuatan fasik. Orang benar akan membenci dosa, sekalipun tawaran manis menjadi godaan akan dosa. Ketika orang fasik jatuh ke dalam perangkap mereka sendiri, orang benar akan berlalu meninggalkan mereka (ayat 10).

    Ayo … Serukanlah kerinduan kita kepada Tuhan. Doa yang berasal dari hati yang gentar akan kejahatan merupakan persembahan yang harum di hadapan Tuhan. Lebih baik jatuh ke tangan orang benar (sekalipun menyakitkan) daripada ke tangan orang jahat. Hati yang mengasihi Tuhan akan menjaga dirinya dari kejahatan, dan memohon Tuhan agar menjagai dan melindunginya dari jalan yang serong.

    Sahabat, dengan seruan, “Dengarkanlah aku, Tuhan!”, kita hanya ingin memandang kepada Tuhan, supaya kita dijauhkan dari perangkap orang jahat dan doa kita menjadi persembahan yang harum bagi Tuhan.

    Dari hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 8-9?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kunci kemenangan kita bukan pada upaya kita yang kuat dan tidak ikut-ikutan dunia ini, melainkan pada mengarahkan iman kita kepada Kristus yang sudah menang melawan dosa. (pg).   

  • PENGENALAN dan PENGALAMAN Berjalan Bersama ALLAH

    Sahabat, pengalaman hidup kita bercerita bahwa tiada hari tanpa RUTINITAS. Apalagi bagi kita yang tinggal di kota besar, Rutinitas sudah menjadi sahabat yang terus menemani melewati hari demi hari. Lebih parah lagi, kita melakukan semua kebiasaan itu dengan irama yang monoton. Akibatnya, kita sering melewati hari begitu saja tanpa belajar apa-apa.

    Tanpa kita sadari, keadaan demikian mungkin akan berpengaruh pada pertumbuhan rohani. Kita bisa saja tidak mengalami kemajuan dalam pengenalan dan pengalaman berjalan bersama Allah. Untuk itu kita perlu punya tekad dan kemauan untuk MENJAGA SAAT TEDUH KITA. Semoga “Sejenak Merenung” dapat menjadi sahabat  setia dalam usaha Sahabat untuk mengalami kemajuan dalam pengenalan dan pengalaman berjalan bersama Allah.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “PENGENALAN dan PENGALAMAN Berjalan Bersama Allah”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 41:1-36 dengan penekanan pada ayat 16. Sahabat,  Yusuf masih dipenjara selama dua tahun sejak peristiwa “Mimpi juru minum dan juru roti” (Kejadian 40:1-23). Luar biasa, di sepanjang waktu tersebut, Yusuf terus melatih dirinya untuk lebih mengenali dan merespons Allah.

    Sahabat, diceritakan di bacaan kita, pada suatu hari, Firaun bermimpi hingga dua kali (ayat 1-7). Tetapi, tidak seorang pun mampu mengartikan mimpinya (ayat 8). Hal tersebut menyiksa hatinya hingga menjadi gundah gulana.

    Syukurlah,  juru minuman Firaun mengakui kesalahannya dan  mengingat Yusuf, dan menceritakan kepada Firaun kemampuan Yusuf menafsirkan mimpinya (ayat 9-13). Firaun, akhirnya, menyuruhnya untuk  memanggil Yusuf (ayat 14).

    Dengan rendah hati Yusuf menghadap dan berkata, “Bukan sekali-kali aku, melainkan Allah juga yang akan memberitakan kesejahteraan kepada tuanku Firaun” (ayat 16).

    Sesungguhnya lewat mimpi Firaun,  Yusuf bisa melihat rencana Allah. Sebuah rancangan untuk menyatakan kedaulatan-Nya atas dunia. Yusuf merespons rencana itu. Dia mencetuskan suatu gagasan yang luar biasa. Sesuatu yang tidak terpikirkan oleh siapa pun pada saat itu (ayat 33-36). Dengan cara itulah, Yusuf memberitakan perihal Allah kepada Firaun dan bangsa Mesir.

    Sahabat, Yusuf merupakan teladan bagaimana cara merespons Allah. Dalam kesukaran bertahun-tahun, dia tetap setia kepada Tuhan. Karena anugerah Allah, dia menunjukkan konsistensi yang tahan uji. Dia tidak mudah mundur walau banyak aral melintang datang menghadang. Dia mengalami pertumbuhan yang luar biasa dalam pengenalan dan pengalaman bersama Allah.

    Sesungguhnya, Itulah yang Tuhan harapkan dari kesaksian orang-orang percaya. Dunia bisa mengenal Dia dari cara kita merespons panggilan-Nya, sehingga, orang bisa mengenal Allah bukan melalui KATA, tetapi oleh AKSI NYATA

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh melalui perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 16?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Orang yang rendah hati akan menyadari bahwa  kemampuan dan segala yang dimilikinya,  ia dapatkan karena anugerah Allah; karena Allah memberkati dan menyertainya. (pg)  

  • Mintalah PERLINDUNGAN TUHAN

    Sahabat,  Tuhan Yesus pernah mengingatkan para murid bahwa mereka diutus, “… seperti domba ke tengah-tengah serigala, …” (Matius  10:16).  Zaman baheula, dunia yang berdosa sudah digambarkan sebagai serigala yang siap memangsa domba! Serigala yang siap menerkam mangsanya.  Apalagi dunia sekarang! Apalagi dunia di Zaman Now!

    Di dalam hidup yang penuh persaingan di segala sektor, kita harus senantiasa berjaga-jaga dan waspada bahwa ada cukup banyak orang yang menginginkan apa yang kita miliki saat ini. Ada yang mengincar posisi kita, ada yang mengiri keberhasilan kita, ada yang berusaha menjegal atau menghambat  karier kita, ada yang berusaha mengimbangi ketenaran kita, ada yang ingin mendapatkan harta kekayaan kita, dan lain sebagainya.

    Selain itu dalam setiap perjalanan kita setiap hari, sesungguhnya ada cukup banyak bahaya yang mengincar keselamatan kita. Kecelakaan di jalan. Selain itu  ada banyak virus di sekelilingi kita yang membahayakan kesehatan dan keselamatan jiwa kita. Kita pasti tidak akan mampu mengatasi dengan kemampuan dan kekuatan kita. Karena itu, mintalah perlindungan Tuhan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Mintalah PERLINDUNGAN TUHAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 140:1-14 dengan penekanan pada ayat 2. Sahabat, berada dalam situasi perang dan dikelilingi musuh bukanlah situasi yang diinginkan Daud. Setiap hari mereka memicu terjadinya perang dan dengan sembunyi memasang jerat, sehingga Daud berlari kepada Tuhan yang mampu menolongnya.

    Daud memohon pemeliharaan Tuhan supaya Tuhan meluputkannya dari mereka. Ia berseru agar Tuhan berada di pihaknya. Tuhan adalah kekuatan dan keselamatan. Dia menjaga Daud dalam perang-perang sebelumnya. Maka sekali lagi, Daud memohon perlindungan Tuhan atas dirinya (ayat 7-8).

    Sahabat, Daud sadar bahwa dengan kekuatan sendiri ia tidak sanggup menghadapi teror itu. Maka serunya, “Luputkanlah …, jagalah aku …” (ayat 2); “Peliharalah …, jagalah aku …” (ayat 5). Hanya Tuhan yang sanggup melepaskan umat-Nya dari bulan-bulanan para musuh. Ia meminta juga agar niat jahat para musuh dikendalikan Tuhan (ayat 9), bahkan menerima pembalasan setimpal dari Tuhan (ayat 10-12). Hal itu menimbulkan rasa keadilan bagi semua orang yang pernah mengalami penindasan yang tidak seharusnya mereka alami dari sesama manusia (ayat 13-14).

    Bersyukurlah karena kita memiliki tempat perlindungan yang adil. Ia mampu melindungi kita dari tipu dan jerat orang jahat. Saat ini mungkin kita tidak berada dalam situasi perang seperti Daud, tetapi kita perlu memohon perlindungan terhadap maksud-maksud jahat orang yang ingin menjatuhkan kita, bahkan yang ingin menjauhkan kita dari Tuhan.

    Sahabat, Tuhan berdaulat dan adil. Setiap kejahatan pada akhirnya dikalahkan, pelaku yang tidak bertobat akan dibinasakan. Yang perlu kita lakukan saat menghadapi tentangan langsung maupun lewat main belakang ialah tetap hidup dengan integritas, sehingga mereka yang jahat tidak dapat menjatuhkan kita oleh karena kita benar. Tuhan akan membela kita pada saat-Nya. Bahkan kita bisa seperti Yesus, mengampuni mereka dan berdoa bagi pertobatan mereka.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 13? (Mazmur 119:71)

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhanlah yang akan menjadi pelindung dan pembela kita. (pg).

  • JANJI tinggal JANJI

    Sahabat, mungkin ada yang pernah membaca atau mendengar kata “ONGAESHI”. Dalam bahasa Jepang Ongaeshi berasal dari kata “On” yang berarti kebaikan, dan  “-gaeshi” yang berarti mengembalikan.

    Ongaeshi merupakan konsep balas budi dalam budaya Jepang. Orang Jepang merasa berutang budi atas segala kebaikan yang diterimanya. Kalau ada orang Jepang yang sakit, umumnya mereka tak mau ditengok. Alasannya, ada kewajiban moral bagi si sakit atau keluarganya untuk membalas kunjungan itu.

    Tapi berbeda dengan cerita yang terdapat dalam Alkitab. Yusuf sudah membantu mengartikan mimpi  kepala juru minuman Raja Firaun yang ditahan bersamanya.  Yusuf berharap ketika kepala juru minuman itu dikembalikan kepada pangkatnya yang semula, dia akan mengingatnya, dan menolong dia sehingga dapat dikeluarkan dari rumah pengurungan. Akhirnya juru minuman  dilepaskan dari penjara dan mendapatkan pekerjaannya lagi seperti posisinya semula, tapi ternyata dia melupakan Yusuf, janji tinggal janji.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “JANJI tinggal JANJI”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 40:1-23 dengan penekanan pada ayat 23. Sahabat, Kepala pengawal menempatkan Yusuf di penjara bersama juru minuman dan juru roti Firaun (ayat 4). Mereka ditahan karena membuat kesalahan terhadap tuannya, raja Mesir (ayat 1)

    Selama di penjara, Yusuf merupakan orang yang dapat dipercaya. Hal itu membuat kepala pengawal raja meminta Yusuf untuk melayaninya. Dia pun melakukan tugasnya dengan baik.

    Suatu ketika, juru minuman dan juru roti bermimpi (ayat 6-7), namun tidak ada yang bisa mengartikannya. Hal tersebut sangat menggusarkan mereka. Karena pada masa itu, mimpi sering dihubungkan sebagai pertanda bahwa sesuatu akan terjadi di dunia nyata.

    Yusuf mendengar kisah mereka. Dia pun mengartikan mimpi tersebut. Namun, itu semua bukan karena kehebatannya, tetapi Allah yang menyingkapkan arti mimpi tersebut (ayat 8). Setelah diartikannya mimpi itu, Yusuf berpesan, “Tetapi, ingatlah kepadaku kalau keadaanmu telah baik” (ayat 14).

    Maka terjadilah sebagaimana arti mimpi itu (ayat 20-21). Tetapi di bagian akhir dari Kejadian 40, kita tahu bahwa juru minuman raja ternyata melupakan Yusuf. Walaupun, dia sudah kembali ke posisinya (ayat 23). Janji tinggal janji.

    Sahabat, pikiran manusia berbeda dengan pikiran Allah. Pikiran kita seringkali mengharapkan suatu kehidupan yang lebih baik. Tetapi nyatanya, rancangan kita berbeda dengan kehendak Allah. Realitas kerap tidak sesuai dengan harapan.

    Oleh karena itu, kita harus terbuka dalam pembentukan Allah. Ketika dalam kesulitan, kita harus belajar peka karena pada saat itulah, kita perlu bertanya kepada Allah apa yang menjadi keinginan-Nya, sehingga kita tidak larut dalam kekecewaan. Sebaliknya, kita beroleh kekuatan dan sukacita, sekalipun dalam penderitaan.

    Dari hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat dapatkan dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang diharapkan Yusuf dari juru minuman Raja Firaun? (ayat 14-15)

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kadangkala Tuhan mengizinkan seseorang melupakan janjinya kepada kita, supaya kita dapat belajar menaruh harap hanya kepada-Nya. (pg).

  • Tidak Bisa Main PETAK UMPET dengan TUHAN

    Sahabat, permainan PETAK UMPET bisa dibilang sebagai salah satu permainan tradisional yang tidak terkikis oleh waktu,  sama halnya dengan permainan tradisional lompat tali, layang – layang, dan egrang. Permainan yang dimainkan dua orang atau lebih ini sering kita mainkan saat kita berada di bangku sekolah dasar.

    Cara bermain petak umpet sangat mudah, yaitu dimana salah seorang pemain yang bertugas untuk mencari temannya harus menutup mata dan berhitung sementara pemain lainnya mencari tempat untuk bersembunyi hingga sang pencari selesai berhitung.

    Kita tidak bisa main petak umpet dengan  Tuhan karena Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang Mahahadir  (Omnipresent)  yang artinya Dia hadir di segala tempat dan di segala waktu, dan Dia juga Mahatahu, yang artinya Ia memiliki pengetahuan penuh, mengetahui segala hal, karena Dia berdaulat penuh atas segala yang diciptakan-Nya.  Jadi tidak ada tempat di belahan bumi manapun bagi orang dapat menyembunyikan diri dari hadapan Tuhan  (Ibrani 4:13).

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Tidak Bisa Main PETAK UMPET dengan TUHAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 139:1-24 dengan penekanan pada ayat 16. Sahabat, pernahkah kita berpikir bahwa tidak ada siapa pun yang mengetahui pergumulan kita? Daud menyadari bahwa hal itu tidak mungkin, sebab Tuhan adalah Allah Yang Mahatahu. Allah tahu ketika Daud duduk atau berdiri, berjalan atau berbaring, bahkan perkataan-perkataannya yang belum terucap (ayat 2-4).

    Sahabat, tidak ada tempat bagi manusia untuk lari dari Allah. Bagaimana mungkin manusia bersembunyi dari Allah, sementara Dialah yang merenda kehidupan manusia sejak dari kandungan (ayat 13-16). Pengalaman hidup bersama dengan Allah memberi Daud pemahaman bahwa Allah yang ia sembah adalah Allah Yang Mahatahu.

    Pengetahuan akan kuasa Allah tidak terselami dan terjangkau oleh manusia (ayat 5-6). Pemahaman itu bukan hanya didapat dari kegiatan religius, melainkan kontemplasi Daud akan kehadiran Allah yang ia alami secara langsung.

    Daud bersyukur karena kejadiannya dahsyat dan ajaib. Dalam ketidakberdayaannya untuk menyelami pikiran Allah, Allah pun tetap hadir bersama dengannya (ayat 17-18). Kelekatan hubungan ini membuat Daud setia berada di pihak Allah. Ia turut membenci semua pihak yang membenci Allah.

    Kendati demikian, Daud tidak ingin gegabah dalam hidupnya. Ia berdoa agar Allah menyelidiki dan mengenali pikirannya; melihat apakah jalannya serong dari jalan-Nya. Ia pun memohon agar Allah menuntunnya ke jalan yang kekal (ayat 23-24).

    Sahabat, pemahaman akan kemahatahuan Allah seharusnya membuat kita tidak khawatir. Ia yang merenda hidup kita sejak dari kandungan tahu apa yang terbaik bagi kita. Ia tahu ketika kita memikirkan suatu masalah, dan Ia tetap menuntun kita dengan sabar.
    Ini bukti pemeliharaan dan kepedulian Tuhan kepada umat-Nya.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Bagaimana seharusnya responsmu ketika kamu semakin menyadari Tuhan itu Mahatahu?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tak perlu merasa sendirian karena Tuhan selalu ada di setiap pergumulan kita! (pg).

  • YUSUF: Pribadi yang DISERTAI TUHAN

    Sahabat, sejak semula Musa menyadari bahwa PENYERTAAN TUHAN merupakan faktor utama dalam menjalani perziarahan hidup, apalagi untuk memimpin perziarahan bangsa Israel. Karena itu Musa berkata kepada Tuhan: “Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini” (Keluaran 33:15)

    Kita patut bersyukur karena kita memiliki Tuhan yang tidak pernah meninggalkan kita, di mana pun kita berada Dia selalu ada, Dialah Jehovah Shammah, Tuhan yang Mahahadir.  Betapa mengagumkan janji Tuhan ini, selalu hadir dan menyatakan penyertaan-Nya atas kita, anak-anak-Nya. 

    Tak ada pemimpin agama mana pun yang berjanji dan memberikan jaminan penyertaan kepada umatnya seperti Kristus.  Ketika Dia menyampaikan AMANAT AGUNG kepada murid-murid-Nya, dengan tegas Dia menyampaikan janji-Nya:  “… pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”  (Matius 28:19-20).

    Untuk lebih memahami topik tentang: “YUSUF: Pribadi yang DISERTAI TUHAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 39:1-23 dengan penekanan pada ayat  2. Sahabat, banyak hal sangat buruk menimpa Yusuf: Diceburkan ke sumur, dijual oleh kakak-kakaknya, dijadikan budak di Mesir, dipisahkan dari keluarga, dipenjarakan justru karena berbuat baik, dan banyak lagi. Dia pasti sangat menderita. Namun tak sepatah pun ia mengeluh. Seakan tidak ada hal buruk menimpanya, seolah semua baik-baik saja, Yusuf selalu bersikap positif, dan menjadi berkat di mana pun ia hadir.

    Sahabat, bagaimana Yusuf bisa begitu? Pasti karena sesuatu yang dia yakini dan dia hidupi. Bahkan, karena sesuatu yang menghidupi dia. Apa itu? Karena Tuhan menyertai Yusuf (ayat 2 dan 21). Penyertaan Tuhan menjadi benteng jiwani yang membuat tak satu hal pun menggoyahkan Yusuf.  Penyertaan Tuhan menjadi sandaran kokoh yang menolong Yusuf tetap tegak meski tantangan dan kesulitan menerpa hidupnya.

    Memang, disertai Tuhan tidak membuatnya lepas dari niat jahat saudaranya, tidak menghindarkannya dari menjadi budak, tidak meluputkannya dari fitnah yang menjebloskannya ke penjara. Disertai Tuhan tidak membuatnya steril dari masalah dan derita. Tetapi, penyertaan Tuhan menjadi batu karang yang membuat jiwanya sentosa betapa pun badai menerjang. Menjadi kekuatan yang memampukannya memikul semuanya, dan tetap bersukacita meski bertubi masalah menindihnya.

    Sahabat, bila hidup kita disertai Tuhan tidak ada perkara yang mustahil:  Pintu berkat, pintu kesempatan, pintu pemulihan, pintu kesembuhan dan sebagainya siap dibukakan bagi kita. Apabila Tuhan sudah membuka pintu-pintu tersebut, tidak ada yang dapat menutupnya   (Wahyu 3:7).  Jadi dalam penyertaan Tuhan selalu ada pengharapan.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang menjadi kunci keberhasilan hidup Yusuf? (Ayat 2, 3, 21, dan 23)

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Penyertaan Tuhan merupakan sandaran kokoh yang membuat orang tetap tegak meski puting beliung memilin hidup. (pg).