Category: Sejenak Merenung

  • HALELUYA! Bersama Alam MENGKIDUNGKAN PUJIAN

    Sahabat, memuji Tuhan tidak dapat dilepaskan dari kehidupan orang percaya. Mengapa kita harus memuji Tuhan di segala waktu?  Karena kita diciptakan Tuhan dengan tujuan memberitakan kemasyhuran-Nya (Yesaya 43:21).  Memuji Tuhan adalah perintah Tuhan, dan sebagai anak-anak-Nya kita harus taat melakukannya  (Ibrani 13:15). 

    Tuhan sangat menikmati puji-pujian yang dinaikkan oleh umat-Nya, karena itu Ia selalu hadir dan bertakhta di atas pujian kita.  Meski berada di situasi sulit dan sepertinya kegelapan pekat mengelilingi hidup kita biarlah kita tetap memuji-muji Tuhan, karena ketika kita melakukannya Tuhan akan hadir melawat kita. Kehadiran-Nya pasti membawa dampak luar biasa dalam kehidupan kita:  Memulihkan, menyembuhkan, menolong bahkan memberkati kita.  Marilah bersama alam kita mengkidungkan pujian bagi Tuhan.

    Untuk dapat lebih memahami topik tentang: “HALELUYA! Bersama Alam MENGKIDUNGKAN PUJIAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 148:1-14. Sahabat, Mazmur 148 berisi ajakan kepada segenap ciptaan, baik yang di surga maupun di bumi, untuk memuji Tuhan. Pertama, ada ajakan kepada segenap isi surga. Kedua, ada ajakan kepada segala yang diciptakan di bumi, baik makhluk hidup yang bernapas maupun benda mati yang tidak bernapas. Dasar dari ajakan tersebut adalah semua yang diajak itu merupakan ciptaan Tuhan dan punya panggilan yang sama untuk memuji Tuhan.

    Semua ciptaan bergantung penuh pada Tuhan Sang Pencipta, yang sekaligus Sang Pemelihara. Ia yang menciptakan segala sesuatu dengan firman-Nya, Ia pula yang memberikan segala ketetapan agar semesta terus berjalan dengan baik (ayat 5-6).

    Sahabat, rasa kebersamaan dengan segenap alam, baik di surga maupun di bumi, yang Pemazmur rasakan adalah sesuatu yang sangat indah, istimewa, dan berharga. Perasaan dan ajakan sang Pemazmur ini didasarkan pada penghayatan bahwa Pemazmur sebagai manusia ada bersama dengan ciptaan yang lain.

    Ada kesadaran bahwa alam pun adalah subjek yang turut menyembah Tuhan, bukan objek untuk dieksploitasi. Kesadaran seperti ini menjadi teguran keras kepada kita yang seringkali hanya memusatkan segala sesuatu oleh, dari, dan untuk manusia. Kita bersikap sangat antroposentris. Akibatnya, kita cenderung mengabaikan keberadaan, keterkaitan, bahkan kebersamaan dengan ciptaan yang lain, termasuk ciptaan yang ada di surga yang tidak kasatmata.

    Sahabat, di tengah kerusakan alam yang menyebabkan ketidakteraturan, bahkan kekacauan musim, banjir, tanah longsor, dan lain-lain, kidung yang dinaikkan Pemazmur mengajak kita untuk peduli terhadap alam. Kita diajak untuk tidak menjadikan alam semesta sebagai alat pemuasan nafsu, tetapi sebagai sesama ciptaan yang menyembah Sang Pencipta yang Agung.

    Mari kita selalu ingat, peduli, dan melibatkan alam di dalam pujian kepada Tuhan. Biarlah kiranya semuanya bersama-sama memuji nama Tuhan Sang Pencipta dan Pemelihara ciptaan-Nya. Haleluya!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 7?

    Selamat sejenak merenung.  Simpan dalam-dalam di hati: Saat memuji Tuhan kita memberi kesempatan Tuhan menyatakan kuasa-Nya:  Mengubah keadaan buruk menjadi berkemenangan! (pg).

  • DIPRIORITASKAN karena Mendapat RESTU

    Sahabat, dalam budaya di Indonesia, RESTU  atau BERKAT  sangatlah diharapkan oleh orang muda dari orang yang lebih tua atau orang yang mempunyai kedudukan sosial keagamaan yang tinggi.

    Maka tidak heran, walau Pemilihan Presiden di Indonesia baru akan berlangsung pada tahun 2024, tapi mulai awal tahun 2022 sudah cukup banyak orang-orang yang berambisi untuk dapat dicalonkan sebagai presiden atau  wakil presiden mulai sibuk melakukan safari kesana kemari untuk mendapatkan “restu”.

    Sahabat, sesungguhnya hal yang paling didambakan seorang anak adalah setiap keputusan yang dia ambil mendapat restu dari orangtua. Mengapa restu orangtua sangat didambakan? Karena restu orangtua adalah doa yang dipanjatkan orangtua bagi anak. Saya yakin  setiap orangtua menginginkan perjalanan hidup anaknya berhasil. Ada banyak rintangan dan  tantangan menghadang di depan, tapi jika ada  restu dari orangtua maka hal yang berat menjadi ringan karena didukung oleh orangtua. Restu adalah bentuk dukungan orangtua atas keputusan yang diambil oleh seorang anak.

    Maka tidak heran kalau pengalaman hidup bermasyarakat kita bercerita bahwa orang yang mendapat restu akan lebih diprioritaskan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “DIPRIORITASKAN karena Mendapat RESTU”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 48:1-22. Sahabat, menjelang akhir hidupnya, Yakub menyatakan Efraim dan Manasye sebagai miliknya (ayat 5). Itu berarti mereka akan mendapatkan tanah, seperti anak Yakub yang lainnya, sehingga Yusuf diberi kehormatan untuk mendapatkan hak kesulungan berupa porsi ganda (1 Tawarikh 5:1).

    Ketika Yakub memberkati Efraim dan Manasye, Yakub sengaja menyilangkan kedua tangannya (ayat 13-14), sehingga, tangan kanan diletakkan di atas Efraim (Si Bungsu), sementara tangan kiri di atas Manasye (Si Sulung). Itu berarti Sang Adik, Efraim, akan menjadi bangsa yang lebih besar daripada Manasye (ayat 19).

    Sahabat, Yakub pun lebih dahulu menyebut nama Efraim daripada Manasye. “Allah kiranya membuat engkau seperti Efraim dan seperti Manasye, “ kata Yakub (ayat 20). Dalam  semua ayat, hampir selalu nama Efraim disebut lebih dahulu dibanding Manasye (ayat 5, 13, 14, dan 20). Fakta ini semakin menegaskan bahwa Efraim akan diberkati melebihi Manasye.

    Biasanya, dalam tradisi Israel, anak sulung yang lebih berkuasa dan diberkati. Namun, cerita dalam bacaan kita pada hari ini menuturkan sebaliknya. Efraim didahulukan daripada Manasye. Itu pertanda bahwa Efraim diprioritaskan semata-mata karena mendapat “restu” dari Tuhan.

    Melalui ini, Tuhan mau memberi pelajaran, jika kita mendapat berkat, itu semata-mata karena Tuhan beranugerah. Oleh karena itu, marilah kita menghargai segala berkat yang telah Tuhan titipkan. Kuantitas bukan persoalan,  karena semua berkat itu, sebenarnya  tidak layak kita dapatkan. Kita memperoleh itu semua semata-mata karena anugerah-Nya.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 17-19?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Hargai segala sesuatu yang Tuhan telah berikan kepadamu, karena semuanya itu adalah milik Tuhan dan semata-mata ada padamu karena anugerah-Nya. (pg).

  • Haleluya! ALLAH kita UNIK

    Haleluya! Sahabat, sering kita mendengar dan mengucapkan kata UNIK. Apa itu unik? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI), unik yaitu tersendiri dalam  bentuk atau jenisnya; lain daripada yang lain; tidak ada persamaan dengan yang lain.  

    Salah satu sifat manusia adalah kagum akan hal-hal yang unik. Sesuatu yang unik akan bernilai lebih, dan keunikan itu kita sematkan pada sesuatu atau satu pribadi yang tidak ada bandingannya. Sudahkah kita  menyadari betapa uniknya Allah kita. Betapa uniknya manusia ciptaan-Nya.

    Pernahkah Sahabat berpikir,  sudah berapa banyak manusia yang pernah hidup di muka bumi ini semenjak Adam dan Hawa? Adakah yang pernah  sama persis dari ujung rambut sampai ujung kaki? Yang kembar siam sekalipun masih juga bisa kita bedakan. Tidak pernah ada  seorang pun dari kita yang  sama persis. Masing-masing dengan keistimewaannya sendiri, masing-masing dengan keunikannya sendiri, sifat, hobi serta kemampuan atau talentanya sendiri. Betapa uniknya Sang Pencipta dan ciptaan-Nya.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “HALELUYA!  ALLAH kita UNIK”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 147:1-20. Sahabat, Mazmur 147 menguraikan keunikan Allah yang hidup. Allah membangun kota di mana umat-Nya menyembah Dia, dan memulihkan mereka yang patah hati (ayat 2-3).

    Dia berdiri sebagai pembela kaum yang lemah dan menentang mereka yang fasik (ayat 6). Allah menciptakan bumi dan memelihara segenap ciptaan (ayat 8-9). Ia meneguhkan umat-Nya dan memberkati mereka dengan kesejahteraan hidup (ayat 13-14). Dengan kuasa firman-Nya, Ia memerintah bumi (ayat 15-18) dan berkomunikasi dengan umat pilihan-Nya (ayat 19). Inilah rangkuman segala karya Allah yang diberikan secara unik dan khusus kepada umat-Nya (ayat 20).

    Sahabat, Pemazmur menegaskan bahwa semua tindakan Allah dikerjakan semata-mata oleh kedaulatan-Nya, tanpa meminta nasihat dari ciptaan-Nya. Maka, satu-satunya respons yang tepat adalah: “Haleluya!” (ayat 1, 20). Pujian inilah yang mengawali dan mengakhiri Mazmur.

    Allah yang kita sembah di dalam Alkitab adalah Allah yang tidak dapat dibandingkan dengan apa pun dan siapa pun  di dunia ini. Allah kita benar-benar unik. Maka, memuliakan Allah adalah sikap dan tindakan yang seharusnya muncul secara alami dari dalam diri kita.

    Sayangnya, manusia memilih untuk menghindari Allah. Dosa menjadi penghalang bagi kita untuk melihat dan mengenali kemuliaan Allah yang unik. Keunikan Allah justru digantikan dengan apa yang fana dari dunia ini. Itulah sebabnya, Pemazmur mengingatkan kita kepada pelbagai karya Allah. Dunia tidak mengenali firman Allah, tetapi kita dapat melihat kuasa Allah dan mendengarkan pengajaran-Nya. Seunik itulah pengenalan kita akan Allah! Maka, sekarang kita hidup untuk Allah yang unik, dalam arti menyembah-Nya sebagai satu-satunya Allah yang sejati.

    Sahabat, kemegahan Allah dinyatakan ketika Dia mampu memperlihatkan keunikan-Nya yang melampaui siapa pun. Kepada Allah yang demikian kita bermazmur dan menyanyikan: “Haleluya!” 

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pengertian baru apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Menurut pemahaman Sahabat, apa yang unik dari Mazmur 147?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: “Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka;”  (Mazmur 147:3). Haleluya!. (pg).

  • PEMIMPIN yang BIJAKSANA

    Sahabat, menemukan pemimpin yang baik,  berkualitas, dan berintegritas tidaklah mudah. Dibutuhkan kepribadian yang bertanggung jawab agar pemimpin yang didapat sesuai dengan yang diharapkan. Belajar dari Musa, ketika dia membutuhkan pemimpin-pemimpin yang baik dan berkualitas untuk membantunya mengurus umat Allah, maka kriteria yang pertama yang ditetapkannya yaitu BIJAKSANA (Ulangan 1:13).

    Lalu apa artinya bijaksana? Secara umum, arti bijaksana adalah sikap seseorang yang selalu bertindak berdasarkan akal sehat dan logis sehingga dapat bersikap tepat dalam menghadapi setiap keadaan dan peristiwa. Sikap bijaksana adalah sikap tepat dalam menyikapi setiap keadaan dan peristiwa sehingga memancarlah keadilan, dan kebeningan hati.

    Orang yang  bijaksana selalu menggunakan akal budinya (pengalaman dan ilmu pengetahuannya); arif; tajam pikiran, pandai dan hati-hati (cermat dan teliti) apabila menghadapi kesulitan dan sebagainya. Maka kita perlu memiliki pemimpin yang bijaksana.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “PEMIMPIN yang BIJAKSANA”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 47:13-26. Sahabat, wabah kelaparan selama tujuh tahun, seperti mimpi Firaun, akhirnya terjadi. Itu menyebabkan segenap  rakyat Mesir bergantung total kepada pemerintah. Dalam situasi ini, Yusuflah yang menjadi penanggungjawabnya.

    Pada awalnya rakyat memakai uangnya untuk membeli makanan (ayat 15). Setelah uang mereka habis, Yusuf meminta agar makanan ditukar dengan ternak (ayat 16-17). Ketika uang dan ternak pun habis, maka tanah dijadikan sebagai alat tukar. Hingga akhirnya, mereka pun ikhlas menjadi hamba Firaun asal mendapatkan makanan (ayat 19).

    Kemudian Yusuf membeli seluruh tanah di Mesir. Dia hanya menyisakan tanah para imam karena mereka mendapat tunjangan tetap dari Firaun (ayat 22). Akibatnya seluruh  negeri itu menjadi milik Firaun (ayat 20) serta seluruh rakyat mengabdi menjadi hambanya (ayat 21).

    Setelah itu Yusuf memberi rakyatnya benih untuk ditanam di ladang yang telah dibeli Firaun. Dia menetapkan bahwa seperlima dari hasil ladang adalah milik Firaun (ayat 23-24). Rakyat tidak keberatan. Mereka menerima kebijakan itu dengan baik dan senang hati (ayat 25-26).

    Sahabat, ketika berada di puncak kekuasaannya, Yusuf melakukan tugasnya dengan baik dan benar. Dia menguntungkan Firaun, tetapi juga berbelas kasihan menolong rakyatnya. Rasa syukur rakyat membuktikan bahwa Yusuf dinilai melakukan kebajikan. Yusuf merupakan seorang pemimpin yang bijaksana.

    Semoga rakyat Indonesia diberi hikmat dan bijaksana oleh Tuhan dalam memilih dan menentukan para pemimpin, sehingga Indonesia memiliki banyak pemimpin yang bijaksana.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 25-26?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan memilih orang-orang yang mau tunduk kepada-Nya, bukan mereka yang merasa diri bisa. (pg).

  • HALELUYA! TUHAN PENOLONG yang SEJATI

    Sahabat, kita sering mengucapkan dan menyanyikan kata “HALELUYA”. Pertanyaannya: apakah kita tahu makna kata yang kita ucapkan atau nyanyikan itu? Secara harfiah, arti haleluya adalah PUJILAH TUHAN. Kata haleluya berasal dari bahasa Ibrani yang diserap ke dalam bahasa Latin menjadi ALLELUIA. Dalam bahasa Inggris, kata tersebut menjadi HALLELUJAH. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti haleluya adalah ungkapan untuk menyatakan pujian, rasa syukur, atau rasa sukacita atas anugerah Tuhan.

    Berdasarkan ibadat Israel, kata haleluya sering digunakan sebagai ajakan untuk menyembah Tuhan. Seperti yang telah dicatat dalam kitab Mazmur, kata haleluya selalu berada di bagian awal maupun akhir pada sebuah pujian.

    Tak hanya untuk menyampaikan pujian, kata haleluya juga bisa digunakan sebagai salah satu cara mengugkapkan syukur atau rasa terima kasih kepada Tuhan secara spontan. Haleluya! Pujilah Tuhan sebab Tuhan penolong yang sejati.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “HALELUYA! TUHAN PENOLONG yang SEJATI”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 146:1-10 dengan penekanan pada ayat 5. Sahabat, Pemazmur mengawali dengan memuji Tuhan (ayat 1-2), dan dia segera mengingatkan kita untuk tidak menaruh kepercayaan kita kepada manusia, seberapa pun tinggi pangkat dan kedudukannya (ayat 3).

    Lebih lanjut Pemazmur mengingatkan tentang betapa fananya manusia yang tidak memiliki keselamatan pada dirinya. Ketika manusia mati, lenyaplah segala ingatan dan kenangan atas dirinya (ayat 4). Apa yang terjadi dengan harta dan simpanannya? Ke mana segala hal yang menjadi tumpuan dan pegangannya selama ini? Itu semua sirna begitu saja.

    Maka, diberkatilah mereka yang memiliki Tuhan Allah sebagai sandarannya (ayat 5). Ia menciptakan dunia, menebus umat-Nya dari penindasan, dan memulihkan hidup mereka (ayat 6-9). Bahkan, kematian tidak dapat menaklukkan-Nya karena Dia adalah Raja untuk selama-lamanya (ayat 10).

    Sahabat, inilah keyakinan iman bagi kita yang bersandar pada Tuhan Yesus Kristus, yang berkuasa atas kematian. Dialah jaminan abadi bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Dari keyakinan inilah kita menyanyikan “Haleluya!” Seruan “haleluya” bukanlah sebuah mantra atau ucapan jimat yang menenteramkan jiwa. Lebih daripada itu! Haleluya adalah ungkapan pengakuan iman kita ketika kita mengenali siapa Allah yang kita sembah.

    Persoalan terbesar dalam diri banyak manusia adalah mereka ingin memiliki kuasa atas diri dan kehidupan mereka. Manusia lupa bahwa hakikat hidupnya adalah buah karya ciptaan Allah Yang Mahakuasa. Maka, kepada Allahlah kita seharusnya bersandar. Siapa yang kita puji bukan lagi orang lain, atau diri sendiri, melainkan Tuhan, Sang Raja kita. Sebab di dalam nama-Nya ada keselamatan dan pemeliharaan yang kekal.

    Sahabat, jangan mengandalkan harapan pada apa yang fana, karena kuasa kasih Allah jauh lebih nyata, dan akan tetap ada untuk selamanya. Sampai kapan pun, dengan penuh keyakinan iman kita menyanyikan “Haleluya! Tuhan penolong yang sejati.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini? 
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 4? (Yesaya 2:22)

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Mengandalkan manusia akan tiba pada kekecewaan. Memercayai Allah akan memiliki kebahagiaan sejati. (pg).

  • Memiliki STRATEGI HIDUP

    Sahabat, kompleksnya hidup  menuntut kita untuk memiliki STRATEGI HIDUP. Apa itu strategi hidup? Strategi merupakan pendekatan secara umum yang berisi penjelasan bagaimana kita mencapai sasaran dan memecahkan masalah kita atau keahlian membuat beberapa proyek, rancangan, atau cara mencapai tujuan.

    Strategi hidup Kristen dipahami sebagai pelibatan Allah dalam seluruh kegiatan strategis orang percaya untuk mencapai tujuan dan sasaran Allah itu sendiri. Sedangkan strategi hidup merupakan seni dan ilmu menggunakan kecerdasan, kemampuan yang ada untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

    Sesungguhnya strategi hidup bukan suatu formula ajaib untuk menyulap hidup ini menjadi serba hebat, namun merupakan suatu proses. Dalam proses tersebut terjadi pemikiran, langkah-langkah hidup berdasarkan pada kehendak Allah dan kesadaran realistis sehingga pelaksanaannya terjadi pada kondisi yang menguntungkan. Karena itu kita perlu memiliki strategi hidup.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Memiliki STRATEGI HIDUP”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 46:1-34 dengan penekanan pada ayat 34. Sahabat, Yakub mengerti risiko perjalanannya ke Mesir. Artinya, ia tidak akan kembali lagi ke tanah Kanaan. Itu sebabnya ia membawa segala harta miliknya. Sebelum itu, ia pergi dulu ke Bersyeba untuk mempersembahkan kurban kepada Tuhan. Dalam penglihatan, Ia menyatakan penyertaan-Nya kepada Yakub. Ia berjanji akan membuat keturunannya menjadi bangsa yang besar di Mesir (ayat 1-4).

    Yakub pun memboyong segenap keturunannya ke Mesir. Jumlahnya enam puluh enam orang (ayat 26). Tetapi, jika dihitung dengan Efraim dan Manasye, yang lahir di Mesir, berjumlah tujuh puluh jiwa (ayat 27). Angka tujuh puluh bisa dipahami sebagai angka simbolik perlambang kesempurnaan.

    Yusuf langsung membawa mereka ke tanah Gosyen. Padahal Firaun belum memberi izin. Yusuf kemudian berstrategi supaya keluarganya dapat tinggal di sana. Caranya dengan meminta saudaranya memberitahu Firaun bahwa mereka adalah peternak, sebab segala gembala kambing domba adalah suatu kekejian bagi orang Mesir. Dengan begitu, mereka akan diperbolehkan tinggal di Gosyen (ayat 33-34). Suatu tempat terpisah dari hunian orang Mesir.

    Marilah kita seperti Yusuf. Seseorang yang berusaha memberikan yang terbaik bagi Kerajaan Allah dimana pun ditempatkan. Orang dunia sangat cerdik. Karenanya, kita harus lebih cerdik daripada mereka. Mintalah hikmat kepada Tuhan supaya kita memiliki strategi hidup.

    Sahabat, orang yang tidak memiliki strategi hidup, maka hidupnya tidak akan terarah dengan baik. Hidupnya akan menjadi kacau, tidak ada semangat karena tidak ada yang ingin dicapai. Sebagai orang percaya, apakah kita ingin menjadi seperti itu? Tentunya tidak. Untuk itu milikilah strategi hidup.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Mengapa Israel dengan mantap meninggalkan Kanaan dan melangkah menuju ke Mesir? (Ayat 3-4)

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sesulit apa pun situasi yang kita alami, kita harus tetap percaya bahwa ada Allah yang tidak sedetik pun meninggalkan kita. (pg).

  • TUHAN: Sang Penopang Hidup

    Sahabat, hidup tidak selalu terasa indah dan menyenangkan. Terkadang, kehidupan terasa menyesakkan dan begitu berat untuk dijalani. Saat itu, mungkin kamu hanya mampu  berteriak, “Tuhan beri aku kekuatan untuk melewati semua itu.”

    Kekuatan dari Tuhan, Sang Penolong yang akan memampukan kita menghadapi dan melewati segala tantangan hidup. Berapa pun usia kita dan betapa kayanya pengalaman hidup yang kita miliki, kita tidak akan mampu mengatasi tantangan dan rintangan hidup dengan kekuatan sendiri. Kekuatan Tuhan yang akan menjadi PENOPANG kita dalam masa kesukaran. Hal itu karena Tuhan setia kepada umat-Nya. Dia akan mendengar setiap teriakan minta pertolongan yang diucapkan hamba-Nya. Sesungguhnya hanya Tuhan yang dapat menjadi penopang hidup kita.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “TUHAN: Sang Penopang Hidup”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 145:1-21. Sahabat, Mazmur 145 merupakan mazmur yang merangkum pengenalan Daud akan Allah yang dia sembah, sebuah pujian syukur atas pemeliharaan Allah yang senantiasa bermurah hati kepada umat-Nya.

    Daud sebagai manusia biasa seperti kita,  mengalami pergumulan hidup yang tak beda jauh dengan kita, bahkan mungkin lebih berat karena masalah yang dialaminya dapat mengancam keselamatan jiwanya.  Namun meski berada di bawah bayang-bayang maut setiap hari Daud tetap mampu menjaga sikap hatinya, sehingga dari bibirnya selalu keluar ucapan yang memuliakan Tuhan (ayat 1-2). 

    Hal tersebut  jelas berbeda dengan respons hati kebanyakan orang percaya yang ketika masalah datang, lupa akan kasih dan kebaikan Tuhan, dan tak menunggu waktu lama mereka akan langsung mengeluh dan bersungut-sungut kepada-Nya.

    Sahabat, untuk dapat memuji Tuhan di segala segala musim kehidupan,  harus ada pengertian dan pengakuan terhadap kebaikan-Nya,  “TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya.”  (ayat 8-9). 

    Jika orang tidak pernah merasa bahwa Tuhan itu baik dan pengasih, mana mungkin ia dapat memuji Dia?  Sebaliknya yang keluar dari mulutnya adalah ungkapan-ungkapan kekecewaan dan ketidakpuasan kepada Tuhan atas masalah yang sedang  menimpanya.

    Sahabat, sebagai umat ciptaan-Nya sepatutnya kita bersyukur kepada Tuhan (ayat 10).  Orang yang telah mengalami pertolongan Tuhan dan kebaikan-Nya pasti tahu arti pentingnya berterima kasih dan mengucap syukur (ayat 16 – 18).

    Karya agung-Nya akan diberitakan ke seluruh penjuru dunia. Tuhan menopang dan memelihara hidup umat-Nya. Segala jalan-Nya ditandai dengan keadilan dan kesetiaan (ayat 10b-20). Karena itu, Daud menyimpulkan puji-pujian kepada Allah sebagai tindakan yang berkelanjutan untuk selamanya (ayat 21).

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh melalui perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 16-18?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Di sepanjang sejarah, Allah adalah Raja atas umat-Nya. (pg).

  • SENI Melipat KEPAHITAN

    Sahabat, hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan akhirnya tahun pun berganti tahun, itu  menunjukkan bahwa segala sesuatu ada akhirnya dan selalu berubah.  Bila segala sesuatu harus ada akhirnya dan berganti dengan suasana baru, lalu bagaimana dengan keadaan dan suasana hati kita?  Apakah juga sudah mengalami pembaruan? 

    Jika di masa-masa lalu terjadi kekecewaan, kegeraman, pertikaian, saling membenci, saling memfitnah di antara keluarga, teman, rekan sepelayanan atau di mana saja, apakah sampai hari ini rasa itu masih tertanam di dalam hati kita, sehingga timbul suatu akar pahit?  Ada kepahitan di hati kita?  Apakah kita terus diam saja dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa, padahal di hati kita masih berkecamuk rasa dendam, kepahitan dan sakit hati?

    Sahabat  pasti pernah melipat kertas menjadi bentuk burung, perahu,  bunga, atau serangga. Kegiatan melipat kertas tersebut dikenal sebagai kerajinan origami. Origami itu  seni melipat kertas dari Jepang. Origami berasal dari bahasa Jepang “ori” yang memiliki arti lipatan dan “kami” yang berati kertas.

    Sesungguhnya Origami mensyaratkan pengetahuan dan keterampilan dalam melipat kertas supaya dapat menghasilkan suatu karya yang indah. Tanpa pengetahuan yang benar dan keterampilan yang memadai, kita tidak akan bisa menciptakan lipatan-lipatan kertas menjadi bentuk yang kita inginkan. Bentuk-bentuk yang unik dan indah. Demikian juga dengan KEPAHITAN, ada seni melipat kepahitan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “SENI Melipat KEPAHITAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 45:1-18 dengan penekanan pada ayat 5. Sahabat, Kisah Yusuf merupakan cerita sukses seorang anak manusia dalam melipat segemap kepahitan yang terjadi dalam hidupnya. Kesuksesan hidup diraih Yusuf lantaran ia memiliki pengetahuan yang benar akan rencana Tuhan dalam hidupnya (ayat 5). Mimpi-mimpi pada masa mudanya bukanlah mimpi tanpa visi. Yusuf memandang mimpi sebagai pengetahuan yang memampukan dirinya untuk melihat masa depan keberlangsungan bangsanya. 

    Berbekal pengetahuan tersebut, Yusuf terampil dalam melipat segenap pengalaman hidupnya yang tidak menyenangkan. Perlakuan buruk dari saudara-saudaranya hingga mendekam di penjara Mesir merupakan rangkaian kepahitan yang harus dilaluinya supaya dapat menyelamatkan ayah dan saudara-saudaranya dari bahaya kelaparan. Keselamatan Yakub dan keluarganya menandai keindahan rencana Tuhan melalui hidup Yusuf. 

    Sahabat, kepahitan hidup yang berhasil diatasi oleh Yusuf laksana lipatan-lipatan ilahi yang menghasilkan satu bentuk keindahan di tangan Sang Mahakasih dan Maha Perancang. Hidup Yusuf adalah bukti yang tak terbantahkan. Yusuf berhasil melipat kepahitannya dengan apik dan menarik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 5? (Efesus 4:31-32 dan Matius 6:14-15)

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kita yang telah beroleh pengampunan dari Tuhan juga harus mau membuka hati untuk mengampuni orang lain, dan lipatlah semua kepahitan yang ada! (pg).

  • SANDARAN HIDUP

    Sahabat, dalam perjalanan dari Semarang ke Salatiga, istri seorang teman sepelayanan bercerita bahwa anaknya laki-laki ingin mendapatkan pasangan hidup seperti dirinya, yang dapat dijadikan sandaran hidup suami.

    Anaknya berdoa supaya diberikan seorang pasangan yang sesuai dengan kriterianya, pasangan yang bisa membuat hidupnya  lebih baik lagi. Dia  ingin Tuhan mempertemukan dirinya dengan orang yang tepat untuk dijadikan sandaran hidup. Anak teman saya berpikir jika sudah memiliki pasangan yang  sesuai dengan yang dia mau, maka hidupnya akan terasa lebih indah. Dia bisa 100% mengandalkan pasangannya   dalam berbagai hal. Suka dan duka akan dia bagi dengan pasangannya.  Hidupnya akan terasa jauh lebih berwarna daripada ketika dia masih bujangan .

    Lalu pikiran dan hati saya dipenuhi dengan tanda tanya besar: “Apakah tepat pasangan hidup dijadikan  sandaran hidup? Dapatkah pasangan hidup menjadi sandaran hidup yang kekal?”

    Untuk lebih memahami topik tentang: “SANDARAN HIDUP”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 144:1-15. Sahabat, Daud menuliskan nyanyian yang dicatat sebagai Mazmur 144 sebagai ucapan syukur atas penobatannya sebagai raja. Ia kemudian mengungkapkan doanya kepada Tuhan bagi bangsanya dalam perang dan dalam damai. Daud ingin menekankan pentingnya melihat kepada Tuhan sebagai dasar dari sandaran umat kepada-Nya.

    Daud mengawali nyanyiannya dengan pujian dan ungkapan yang terus terang di hadapan Allah, karena ia mengenali perhatian Allah atas umat-Nya (ayat 1-4). Pengenalan akan Allah memungkinkan Daud untuk menyerukan permohonan supaya Allah bertindak atas bangsa-bangsa yang menindas umat (ayat 5-8). Daud kemudian menaikkan syukur kepada Allah atas pemeliharaan-Nya baik dalam kondisi perang maupun damai (ayat 9-14). Daud mengajarkan bahwa bagi umat Allah, posisi dan prestasi bukan semata-mata hasil pencapaian mereka, melainkan suatu bukti karya pemeliharaan Allah mereka (ayat 15).

    Sahabat, bagaimana cara kita menilai bahwa seseorang diberkati oleh Allah? Apakah artinya kita akan memiliki harta berlimpah dan posisi yang bergengsi? Lihat bagaimana Daud menjabarkan realitas berkat: Allah menyertai dalam keadaan sulit seperti perang, dan keadaan baik yakni damai. Setiap pemberian yang kita terima adalah buah karya Allah bagi pekerjaan-Nya. Hal yang terutama adalah sikap hidup yang siap dan rela merendahkan diri di hadapan Allah.

    Yesus Kristus memberi kita kekuatan ketika Ia menjanjikan bahwa Ia pergi menyediakan tempat bagi kita, dan akan kembali menjemput ketika tempat itu sudah tersedia (Yohanes 14:1-3). Kalimat tersebut sesungguhnya menekankan tentang kepastian Allah yang dapat dijadikan sandaran. Masalah muncul ketika manusia tidak mau menyandarkan diri kepada Allah.

    Sahabat, sesunggguhnya harta abadi bukanlah soal apa yang kita bisa pamerkan, melainkan siapa yang hadir dalam kehidupan kita, baik dalam susah maupun senang. Allah yang sejati adalah Tuhan yang setia, yang senantiasa hadir dalam kehidupan umat-Nya. Dialah sandaran hidup kita yang kekal. 

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini?

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 3-4?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kita seharusnya merasa sangat aman kalau kita bisa bersandar kepada Tuhan yang Mahakuasa, hidup dan kekal. (pg).

  • JANJI: Hutang yang harus DIBAYAR

    Sahabat, pengalaman kita dalam hidup bermasyarakat bercerita bahwa salah satu perhelatan yang penuh dengan JANJI  adalah KAMPANYE PEMILU.  Para kandidat berjanji untuk berjuang membela kepentingan rakyat kecil. Tetapi setelah terpilih, ternyata ada cukup diantara mereka yang berjuang hanya untuk kepentingan partai atau diri sendiri. Janji tinggal janji. Padahal, KUALITAS KARAKTER seseorang teruji ketika ia sanggup MEMENUHI JANJI.

    Apa itu janji? Janji adalah sebuah kontrak psikologis yang menandakan transaksi antara 2 orang atau lebih di mana orang pertama mengatakan pada orang kedua untuk memberikan layanan maupun pemberian yang berharga baginya sekarang dan akan digunakan maupun tidak. Janji juga bisa berupa sumpah atau jaminan. Janji adalah suatu kesanggupan untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu dalam usaha untuk mendapat kepercayaan. Janji dapat diucapkan maupun ditulis sebagai sebuah kontrak (Wikipedia).

    Sedangkan Kamus Besar Bahasa Indonesia menyatakan bahwa janji adalah ucapan yang menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat.  Maka dapat disimpulkan bahwa janji merupakan hutang yang harus dibayar.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “JANJI: Hutang yang harus DIBAYAR”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 44:18-34 dengan penekanan pada ayat 33. Sahabat, Yehuda tergolong orang yang memenuhi janji. Ia berani mengambil risiko untuk melindungi Benyamin, adiknya. Ia maju untuk menghadapi Yusuf ketika Benyamin akan dijadikan budak oleh Yusuf karena di dalam karungnya kedapatan piala perak Yusuf.

    Ungkapan “Yehuda dan saudara-saudaranya” mengingatkan bahwa Yehuda adalah juru bicara untuk keluarga. Pernyataan Yehuda ini merupakan pembelaan terpanjang terhadap manusia di dalam kitab Kejadian dan merupakan salah satu pidato paling mengharukan di dalam Alkitab.

    Sahabat, Yehuda tahu risiko yang dihadapinya karena melindungi adiknya. Ia tahu bahwa Yusuf bisa saja membunuhnya. Namun, Yehuda berani maju untuk membela keluarga dan memohon belas kasihan Yusuf.

    Ini yang perlu kita garis bawahi, Yehuda telah berjanji kepada Yakub bahwa ia akan menjamin keamanan Benyamin. Sekarang Yehuda punya kesempatan untuk menepati janji itu. Menjadi budak adalah nasib buruk, tetapi Yehuda bertekad untuk menepati janji kepada ayahnya. Ia menunjukkan keberanian yang luar biasa dalam melaksanakan janji. Bagi Yehuda, janji merupakan hutang yang harus dibayar.

    Menepati janji berarti menjalankan apa yang telah dijanjikan secara bertanggung jawab dengan tekad dan keberanian, termasuk bila harus berkorban.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 32-34?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jika seseorang menyadari dan menginsyafi kesalahan, itu belum menunjukkan apa-apa. Kita butuh tindakan nyata sebagai pembuktian. Tindakan yang berubah, ini merupakan bukti bahwa manusia lama kita sudah tanggal. (pg).