Category: Sejenak Merenung

  • KOTA SOMBONG

    Sahabat, kesombongan adalah salah satu sifat yang sangat dibenci Allah Tritunggal. Bahkan menurut Amsal 6:16-17, sombong berada dalam urutan pertama dalam daftar perkara yang dibenci Tuhan. Definisi sombong secara umum adalah sifat yang suka meninggikan diri, sok tahu, dan merasa paling hebat.

    Manusia memang rawan sekali dengan kesombongan.  Apalagi saat mereka baru saja memperoleh pencapaian. Keberhasilan dapat mendorong seseorang untuk lebih berprestasi atau sebaliknya membuat dia berpuas diri dan menjadi sombong.

    Di Indonesia ada beberapa kota yang mempunyai julukan khas: Ada Kota Kretek, Kota Pelajar, Kota Wali, Kota Pahlawan, Kota Budaya, dan lain-lain. Tahukah Sahabat di Alkitab ada julukan “Kota Sombong” dan tentu saja ada hukuman bagi kota yang sombong.

    Hari ini kita masih terus belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “KOTA SOMBONG”. Untuk itu Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yesaya 3:1 – 4:1. Sahabat, Tuhan dapat menghukum seorang individu secara pribadi, suatu kelompok masyarakat, suatu kota, maupun suatu negara.

    Hukuman yang diberikan dalam bacaan kita hari ini, walaupun digambarkan sebagai penghakiman terhadap “wanita Sion” (ayat 16), bukan berarti ini khusus untuk para wanita. “Kota” dalam bahasa Ibrani adalah kata berjenis feminin. Pada ayat 26, Sion mengacu kepada suatu kota, “… kota itu akan menjadi seperti perempuan bulus yang duduk di bumi” (ayat 26). Ini menunjuk kepada kota Yerusalem (bukit Sion berada di Yerusalem dan biasanya menunjuk kepada pusat pemerintahan Allah).

    Sahabat, alasan Tuhan memberikan hukuman kepada kota Sion adalah karena mereka menjadi SOMBONG. Sion menjadi KOTA SOMBONG. Sion dengan angkuhnya memamerkan segala keindahan yang dimilikinya dan kehidupannya yang megah.

    Oleh karena itu, Tuhan akan menghukum dengan mencabut segala keindahan yang dimilikinya, mengambil semua perhiasan dan barang-barang mewah yang dimilikinya (ayat 17-23). Perhatikan bahwa segala yang indah akan diganti dengan yang buruk. Ungkapan “SEBAGAI GANTI” muncul lima kali pada ayat 24. Fakta bahwa “wanita Sion” adalah kota ditunjukkan dengan pernyataan, bahwa orang-orang dan para pahlawan kota itu akan tewas dalam perang dan kota Sion tidak akan bertahan (ayat 25-26).

    Sahabat, Sion yang sudah dibesarkan oleh Tuhan telah menjadi tinggi hati. Akibatnya, Tuhan mencabut segala yang mereka banggakan. Apa yang mereka sombongkan akan Allah ganti dengan yang berlawanan supaya kota itu tidak bisa lagi menyombongkan diri.

    Oleh karena itu kita perlu berdoa untuk kota di mana kita tinggal, apa pun penampilan dan pembawaan kota kita. Ketika suatu kota hidup dalam kemewahan dan kesombongan, bukan tidak mungkin Tuhan akan menjatuhkan hukuman ke atasnya, juga mencabut segala yang baik dan menggantinya dengan yang buruk. Marilah kita terus berdoa untuk kota kita masing-masing, tempat di mana Tuhan mengutus kita untuk menjadi berkat dan saksi. 

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 10?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Pada saat umat Tuhan sudah tidak lagi hidup menghormati Tuhan, maka yang terjadi adalah kekacauan.  (pg).

  • JANGAN MENUNDA Berbuat Baik

    KEBAIKAN merupakan sifat Ilahi yang harus terpancar dalam kehidupan orang percaya.  Mengapa?  Karena status kita adalah anak-anak terang.  Rasul Paulus menasihati, “Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran,”  (Efesus 5:8-9). 

    Dalam Kisah Para Rasul 9:36-42 dikisahkan tentang seorang murid perempuan bernama Tabita. Tabita atau dalam bahasa Yunani Dorkas banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah. Orang-orang Yahudi memanggilnya Tabita yang berarti rusa betina.  Di dunia Timur rusa betina adalah gambaran tentang kecantikan.  Kecantikan Dorkas itu terpancar melalui perbuatan baik yang dilakukannya.

    Sahabat, ketika hasrat mementingkan diri sendiri begitu kuat, kita cenderung menampik orang lain. Kita menunda kebaikan untuk merahmati orang lain. Kita membentangkan jarak, dan orang-orang akan menjauh dari kita. Anehnya, suatu hari justru kita yang merasa telah ditinggalkan, diabaikan, tidak dibutuhkan, dan bukan siapa-siapa bagi orang lain. Saat itulah kita akan merasa seperti garam yang tawar, tidak berguna lagi selain dibuang dan diinjak orang di jalan. Karena itu segeralah lakukan.  Jangan menunda berbuat baik untuk alasan apa pun.

    Hari ini kita melanjutkan belajar dari kitab Amsal dengan topik: “JANGAN MENUNDA Berbuat Baik.” Untuk itu Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Amsal 3:27-35 dengan penekanan pada ayat 27. Sahabat, ayat 27 mengingatkan kita: “Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.”

    Tuhan Yesus juga mengingatkan kita bahwa dengan berbuat baik kepada sesama, kita sedang menunjukkan kemurahan hati Allah sehingga mereka memuliakan Dia (Matius 5:16). Sudahkah hidup kita menjadi berkat pada hari ini? Ataukah sebaliknya, kita sesungguhnya mampu dan memiliki kesempatan untuk berbuat baik, tetapi kita menundanya dan kita tidak bersedia memberikan kebaikan kepada orang lain?

    Sahabat, di dunia ini tidak sedikit orang yang sesungguhnya tahu untuk melakukan sebuah kebaikan kepada seseorang tetapi tidak melakukannya. Bahkan yang mengejutkan, ada orang-orang yang sengaja menahan hak yang seharusnya diterima oleh orang lain.

    Sekarang periksalah diri kita dan sekelilingnya: Adakah seseorang di sekitar kita yang seharusnya berhak menerima kebaikan kita, tapi kita belum memberikannya? Sadarilah bahwa kita adalah saluran yang dipakai Allah untuk menyalurkan kebaikan-Nya, karena itu kiranya kita tidak sedikit pun menahan atau menyimpan berkat Allah yang seharusnya menjadi bagian orang lain.  

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Berdasarkan ayat 27, 29. 30, dan 31, hal-hal apa saja yang tidak boleh kita lakukan?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: “Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah.”  (Ibrani 13:16). (pg).

  • Mendulang HIKMAT

    Sahabat, kitab Amsal banyak membicarakan tentang HIKMAT. Kata  hikmat  dalam bahasa Inggris:  Wisdom  secara umum memiliki arti:  Suatu pengertian dan pemahaman yang dalam mengenai orang, barang, kejadian atau situasi, yang menghasilkan kemampuan untuk menerapkan persepsi, penilaian dan perbuatan sesuai pengertian tersebut. 

    Sesungguhnya hikmat merupakan hal yang sangat penting yang harus dimiliki oleh setiap anak-anak Tuhan,  sebab  hikmat lebih berharga dari pada permata, apapun yang diinginkan orang, tidak dapat menyamainya  (Amsal 8:11).  Dengan hikmat, orang dimampukan untuk membuat keputusan dengan benar, dapat membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak.

    Mengingat hikmat itu sangat berharga, lebih berharga daripada emas dan permata, maka untuk mendapatkannya dibutuhkan usaha yang keras, dibutuhkan ketekunan dan kesabaran. Dibutuhkan usaha yang terus menerus dan penuh kesungguhan dalam mendulang hikmat.

    Hari ini kita masih melanjutkan belajar dari kitab Amsal dengan topik: “Mendulang HIKMAT”. Untuk itu Bacaan Sabda saya ambil dari Amsal 2:1-22 dengan penekanan pada ayat 4-5. Sahabat, bacaan kita pada hari ini menegaskan bahwa untuk mendapatkan hikmat Tuhan tidak bisa instan. Ia diibaratkan perak dan harta terpendam.

    Kalau kita mempelajari bacaan kita hari ini secara utuh, kita pun akan tahu bahwa hikmat Tuhan yang kita peroleh akan menuntun kita untuk mendapatkan kebenaran dan menolong menghadapi berbagai hal dalam kehidupan ini.

    Sahabat, kita hidup pada zaman ketika berbagai seminar dan acara pengembangan diri dan kesuksesan laris manis di masyarakat. Kesuksesan yang identik dengan pencapaian dan keberhasilan lebih disanjung daripada hidup yang sesuai firman Allah.

    Karena itulah kadang orang rela berlaku menyimpang ketika ingin meraih sukses. Alkitab pun dilupakan banyak  orang percaya. Sesungguhnya kekayaan hikmat dan pengertian yang terkandung di dalam Alkitab akan menuntun kita menjadi lebih bijaksana. Maka sudah tiba waktunya bagi kita, yang selama ini kurang memperhatikan Alkitab,  kembali menggali mutiara hidup, untuk  menemukan hikmat yang menolong kita melakukan kehendak-Nya.

    Sahabat, mendulang hikmat melibatkan pikiran, indera, hati, dan kemauan. Sikap ini dimiliki oleh orang yang tahu dan yakin bahwa hikmat yang didasari takut akan Tuhan adalah hikmat yang berharga bagi hidupnya.

    Karena hikmat bersumber pada Allah, maka kita perlu menyediakan waktu untuk membaca dan mendengar firman-Nya secara  teratur dan sungguh-sungguh. Kita perlu membuka hati dan pikiran kita untuk mempelajari firman Tuhan. Kita perlu menyediakan waktu untuk bersekutu dengan Tuhan di dalam doa dan persekutuan pribadi, dan melakukan firman Tuhan setiap hari.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 1-5?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Hikmat adalah takut akan Tuhan!  Dari Tuhanlah hikmat  kita peroleh. (pg).

  • ANGGAK bak Burung TUI

    Sahabat, saya seorang penikmat kicauan burung-burung di pagi hari. Mendengarkan suara kicauan burung sungguh menenteramkan hati. Namun tahukah Sahabat, apa fungsi kicauan burung? Suara kicauan burung mempunyai dua fungsi utama, yaitu mempertahankan wilayah teritorinya dan untuk menarik lawan jenisnya.

    Hal tersebut juga berlaku bagi burung TUI atau parson bird (Prosthemadera novaeseelandiae). Alasan utama burung tersebut berkicau adalah untuk mempertahankan wilayah kekuasaan atau tempatnya mencari makan, berkembang biak, serta untuk mendapatkan pasangan.

    Sahabat, burung Tui jantan adalah burung yang terkenal dengan kicauan terbaiknya. Burung Tui jantan menggunakan otot vokal super cepat untuk mengendalikan perubahan akustik dan membanggakan diri dapat bernyanyi dengan indah di depan lawan jenis. Menariknya, burung Tui jantan akan sensitif dan marah jika di sekitarnya ada burung yang berkicau dengan elok. Kazuhara Sasahara dari Nagoya University menambahkan bahwa burung Tui jantan akan agresif menantang burung lain berkicau demi mempertahankan teritorinya. 

    Sesungguhnya yang ANGGAK (sombong) bukan hanya burung Tui. Orang percaya kadang juga dapat anggak bak burung Tui.

    Hari ini kita masih melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “ANGGAK bak Burung TUI”. Untuk itu Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 2:6-22. Sahabat, siapa yang kita andalkan? Pengalaman umat Allah menunjukkan bahwa mereka mengandalkan harta benda (ayat 7). Mereka juga terpengaruh pada bangsa sekitarnya sehingga menaruh kekuatan pada berhala-berhala (ayat 8). Di balik itu semua, mereka adalah orang yang mengandalkan diri sendiri (ayat 11). Padahal semuanya itu tidak berarti. Karena dalam sekejap saja Tuhan mampu melenyapkan apa yang dibanggakan dan diandalkan oleh manusia.

    Mengandalkan diri sendiri berawal dari kesombongan. Orang anggak merasa dirinya mampu melakukan segala sesuatu. Pernyataan nabi Yesaya menunjukkan bahwa kesombongan itulah yang menjadi akar persoalan. Berulang kali Yesaya menuturkan pokok kesombongan ini (ayat 11, 12, 17). Karena merasa diri mampu, umat seolah-olah merasa berhak menentukan hidupnya sendiri. Allah tidak lagi mereka pedulikan. Karena itu mereka bebas mengikuti bangsa-bangsa sekitar untuk memilih pada ilah mana mereka akan beribadah. Mereka juga tidak lagi peduli apakah tindakan mereka sesuai dengan kehendak Allah atau tidak.

    Sahabat, Allah membenci orang yang anggak. Karena itu mereka akan direndahkan. Kesombongan dilukiskan seperti pohon aras dan terbantin yang berdiri tegak seakan-akan siap menembus langit. Namun pohon itu dengan mudahnya dirubuhkan oleh kekuatan Allah (ayat 13). Manusia perlu mengingat bahwa keberadaannya bagaikan hembusan napas belaka (ayat 22). Walau kuda, emas, perak, dan lainnya (ayat 7) dicari dan dianggap penting dan dijadikan andalan dalam hidup ini, namun Yesaya menegaskan bahwa semua kebanggaan dan milik mereka akan lenyap seketika.

    Sahabat, apakah harta, prestasi, gaya hidup, atau jabatan tinggi membuat kita anggak dan merasa lebih unggul dari orang lain? Sesungguhnya semua itu hanya pemberian Tuhan, hanya titipan Tuhan,  bukan dari usaha kita. Jika semua itu lenyap, apakah kita tetap masih dapat memandang kepada Tuhan dan memuliakan Dia?

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari bacaan kita pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 12-17?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kesombongan akan membuat kita lupa bahwa Tuhanlah sumber segala sesuatu. (pg).

  • TAKUT akan TUHAN

    Sahabat, pada hari ini dan hari-hari ke depan selain kita akan mempelajari Kitab Yesaya, kita juga mempelajari Kitab Amsal. Khusus hari ini kita akan belajar apa itu HIKMAT dan bagaimana cara mendapatkannya.

    Kata hikmat berasal dari bahasa Yunani sophia yang artinya kemampuan untuk berlaku bijaksana.  Adapun bahasa Ibraninya adalah hokmah yang artinya kemampuan untuk melepaskan diri dari lika-liku kehidupan atau permasalahan hidup.

    Lalu apa perbedaan antara PENGETAHUAN dan HIKMAT. Pengetahuan diidentikkan dengan informasi yang tepat, sedangkan hikmat didefinisikan sebagai kemampuan untuk menggunakan informasi yang tepat itu pada waktu dan cara yang tepat. Di kitab Amsal, Raja Salomo tidak membedakan keduanya; istilah pengetahuan dan hikmat dipakai silih berganti untuk mewakili makna yang sama yakni bijaksana.

    Sahabat, pengalaman hidup kita bercerita bahwa ada orang yang kaya namun bodoh dan ada orang yang berpendidikan tinggi tetapi bodoh; ternyata, kaya dan cerdas tidak sama dengan bijaksana. Hikmat tidak diperoleh lewat kekayaan atau kecerdasan; hikmat didapatkan dari takut akan Tuhan. Orang yang takut akan Tuhan adalah orang yang dipimpin oleh Tuhan; setiap langkah yang diambilnya merupakan hasil tuntunan Tuhan dan Tuhan tidak akan membiarkannya tersesat.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “TAKUT akan TUHAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Amsal 1:1-7 dengan penekanan pada ayat 7. Sahabat, dalam ayat 7 dikatakan: “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.”  Itulah sebabnya orang yang takut akan Tuhan pasti akan menjadi orang yang bijaksana, karena ia  mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat  (Ibrani 5:14). 

    Sahabat, untuk beroleh hikmat dari Tuhan tidak ada jalan lain selain harus memiliki persekutuan yang karib dengan Tuhan, melekat kepada Tuhan.  Adalah sebuah kebodohan dan kerugian besar jika orang memilih untuk tidak takut akan Tuhan dan hidup menjauh dari hadirat-Nya.  Mengapa?  Sebab di dalam takut akan Tuhan, selain beroleh hikmat, kita akan mengalami dampak yang luar biasa yaitu kita akan mengalami ketenteraman. Selain itu kita juga akan menikmati perlindungan dan penjagaan Tuhan  (Amsal 14:26-27). 

    Di hari-hari ini banyak orang merasa pesimis menghadapi hari esok karena melihat situasi yang semakin sulit dan tidak menentu.  Tetapi orang yang senantiasa takut akan Tuhan tak perlu merasa takut dan khawatir, karena keberadaan kita tidak ditentukan oleh situasi yang ada, melainkan karena kehadiran Tuhan dalam hidup ini.  Jika Tuhan ada di pihak kita pasti akan ada kekuatan, ketenteraman, perlindungan dan hal-hal yang dahsyat pasti dinyatakan!

    Sahabat, selain itu, dari bacaan kita pada hari ini, khususnya dari ayat 7, kita diyakinkan bahwa orang yang bijak adalah orang yang tahu diri, menyadari keterbatasannya; itu sebabnya ia bersedia menerima didikan baik dari Tuhan maupun sesamanya.

    Berdasarkan dari hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa manfaat yang akan kita peroleh ketika kita mempelajari Kitab Amsal? (Ayat 2-6)

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Dalam mengambil keputusan, jangan cepat-cepat berkata: Ya atau tidak. Jawablah dengan: Tunggu! Menunggu kehendak dan pimpinan Tuhan. Inilah awal dari hikmat. (pg).

  • Umat Allah yang KEBANGETAN

    Sahabat, syukur kepada Tuhan, kita telah berhasil menyelesaikan pemelajaran Kitab Kejadian dan Kitab Mazmur. Mulai hari ini kita akan belajar dari Kitab Yesaya. Kitab Yesaya ditulis oleh nabi Yesaya. Tema Kitab Yesaya: Hukuman dan Keselamatan. Kitab Yesaya ditulis sekitar tahun 700 -650 SM.

    Yesaya hidup sezaman dengan Hosea dan Mikha; ia bernubuat selama perluasan yang mengancam dari kerajaan Asyur, keruntuhan terakhir Israel (Kerajaan Utara) serta kemerosotan rohani dan moral di Yehuda (Kerajaan Selatan). Yesaya memperingatkan raja Yehuda, Ahas, untuk tidak mengharapkan bantuan dari Asyur melawan Israel dan Aram; ia mengingatkan Raja Hizkia, setelah kejatuhan Israel tahun 722 SM, agar jangan mengadakan persekutuan dengan bangsa asing menentang Asyur. Ia menasihati kedua raja tersebut untuk percaya Tuhan saja sebagai perlindungan mereka (Yesaya  7:3-7; Yesaya 30:1-17). Yesaya mempunyai pengaruh terbesar pada masa pemerintahan Raja Hizkia.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Umat Allah yang KEBANGETAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yesaya 1:1-9 dengan penekanan pada ayat 3. Sahabat, Tuhan memanggil langit dan bumi sebagai saksi betapa Tuhan telah membesarkan umat-Nya, tetapi yang terjadi adalah umat memberontak terhadap-Nya. Pemberontakan itu begitu kebangetan sehingga Tuhan memakai tiga ilustrasi:

    Pertama, pengenalan umat terhadap Tuhan lebih parah daripada binatang. Lembu mengenal pemiliknya, keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya, tetapi Israel tidak mengenal Tuannya (ayat 3). Tidak mengenal Tuhan berarti tidak taat. Umat yang berdosa sarat dengan kesalahan. Mereka itu keturunan yang jahat, menista Tuhan, dan membelakangi-Nya (ayat 4).

    Kedua, umat sudah dipukul sampai tidak ada bagian yang belum kena pukul, namun tetap tidak bertobat sampai Tuhan bertanya, “Di mana kamu mau dipukul lagi?” (ayat 5).

    Ketiga, negeri mereka menjadi sunyi, putri Sion menjadi seperti pondok di kebun anggur, seperti gubuk di kebun mentimun dan kota yang terkepung. Jika bukan karena belas kasihan Tuhan, mereka sudah menjadi seperti Sodom dan Gomora (ayat 7-9).

    Sahabat, Tuhan sampai “mengeluh” betapa parah umat-Nya. Tuhan yang panjang sabar sepertinya sudah tidak tahu lagi apa yang harus diperbuat-Nya agar umat mau bertobat. Jika bukan karena Tuhan itu setia dan maha pengampun, umat sudah dibinasakan.

    Kita memang belum sempurna dan masih jatuh bangun dalam dosa. Namun, janganlah melakukannya secara sengaja dan terus-menerus. Janganlah memakai ketidaksempurnaan kita menjadi alasan untuk melakukan dosa. Jika kita terus berjuang namun tetap jatuh dalam dosa, itu satu hal. Tetapi, hal yang berbeda adalah jika kita tidak mengindahkan perintah Tuhan dan terus-menerus berbuat dosa tanpa peduli betapa kebebalan kita telah mendukakan Tuhan. Hendaklah kita tidak kebangetan di hadapan Tuhan.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 2 dan 4?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Semakin berontak dan meninggalkan Tuhan, semakin kita jauh dari hal-hal baik yang telah Tuhan persiapkan! (pg).

  • HALELUYA! Mari kita MENYEMBAH dan MEMUJI TUHAN!

    Sahabat, Coba sejenak kita memeriksa penyembahan kita kepada Tuhan selama ini. Apakah hanya ritual, tanpa penghayatan sama sekali, atau sekadar memenuhi kewajiban?

    Selain itu, Tuhan itu layak dipuji. Dia yang kudus, yang menguasai cakrawala, yang perkasa dengan segala kebesaran-Nya. Dengan apa kita memuji Tuhan? Tentunya dengan segala yang ada pada kita. Dengan tubuh kita, melalui harta kita, dengan sikap dan perbuatan kita. Melalui segala aspek kehidupan,  kita diminta untuk memuliakan Tuhan.

    Sesungguhnya Tuhan yang bertakhta di tempat kudus-Nya, juga berhak menerima sembah kita tanpa embel-embel apa pun, tanpa motivasi sampingan apa pun. Haleluya! Mari kita menyembah dan memuji Tuhan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “HALELUYA! Mari kita MENYEMBAH dan MEMUJI TUHAN!,  Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 150:1-6. Sahabat, mengapa Mazmur terakhir ini mengajak umat untuk memuji Tuhan? Mazmur ini mau mengatakan bahwa memang Tuhan itu layak dipuji.

    Ketika kita membaca Mazmur 150, kita dapat membayangkan betapa meriah dan megahnya pesta pujian yang diselenggarakan di dalam tempat ibadah. Pesta yang penuh semarak, sukacita, dan kegembiraan! Pesta yang menyuarakan kesyahduan dalam memuji Tuhan yang kudus dan kebesaran karya-Nya.

    Sahabat, dinamika yang indah dalam puji-pujian tersebut bisa kita lihat dari berjenis-jenis alat musik yang digunakan. Ada tiupan sangkakala, gambus, dan kecapi; ada juga rebana, tari-tarian, permainan kecapi dan seruling. Ada ceracap yang berdenting dan berdentang (ayat 3-5). Di sana terdengar pujian yang penuh sukacita dan kesyahduan.

    Coba simak, sang pemimpin ibadah dengan lantang dan penuh semangat terus mengajak umat untuk memuji Tuhan. Ia terus berseru, “Pujilah Allah … Pujilah Dia …” (ayat 1-5). Umat pun menanggapinya dengan penuh sukacita, menyanyikan pujian bagi Tuhan dengan iringan berbagai alat musik dan tarian.

    Sahabat, melalui Mazmur 150 kita belajar bahwa aksi  memuji Tuhan dapat kita nyatakan secara bebas melalui berbagai cara. Adanya berbagai alat musik tersebut menandakan bagaimana setiap orang dapat mengekspresikan luapan hatinya. Baik sukacita maupun kesyahduan menjadi dinamika ibadah yang bisa dihayati dan diekspresikan oleh umat. Kesempatan berekspresi ini sesuai dengan gerak yang ada di dalam hati setiap orang. Tidak ada yang membatasi. Dari situ kita sungguh-sungguh bisa merasakan betapa dahsyatnya kuasa pujian dalam nama Tuhan.

    Selain itu dari Mazmur 150 kita juga belajar bahwa menyembah Tuhan merupakan kesempatan untuk menghayati ulang kebesaran dan kemuliaan-Nya, serta terkagum-kagum akan karya-Nya yang ajaib. Kalau motivasi kita keliru, atau penghayatan kita dangkal, atau kita ternyata sedang mendua hati dengan hal-hal dunia ini yang lebih menarik daripada dengan Tuhan, kita perlu bertobat! Lantunkan ulang Mazmur 150. Mari hayati kembali penyembahan kepada Tuhan secara segar dan buka hati untuk menerima berkat-Nya. Haleluya!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 6?

    Selamat sejenak merenung.Simpan dalam-dalam di hati: Manusia diciptakan Tuhan dengan tujuan memberitakan kemasyhuran-Nya. (pg).

  • SIKAP KITA atas PERISTIWA yang MENIMPA

    Pepatah lama mengatakan, “Kita tidak dapat melarang seekor burung terbang di atas kepala kita; tetapi kita dapat melarang burung itu bersarang di atas kepala kita.”  Pepatah tersebut hendak mengatakan bahwa kita tidak dapat menghindari datangnya persoalan, kekecewaan, atau  penderitaan. Tetapi kita dapat menolak permasalahan atau kekecewaan atau penderitaan yang kita rasakan itu terus bersarang dalam hati dan pikiran kita. 

    Sahabat, pernahkah kamu menemukan dirimu kecewa dengan kenyataan hidup yang tidak sesuai harapan dan rencanamu? Mungkin ketika pengumuman penerimaan mahasiswa diumumkan, namamu tidak ada di daftar calon mahasiswa yang diterima di kampus impianmu. Mungkin ketika kamu sudah belajar dengan giat dan tekun, namun nilai yang keluar jauh di bawah harapanmu. Mungkin ketika kamu lulus kuliah dan siap memulai profesi yang kamu inginkan, namun akhirnya terpaksa bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan bidangmu karena sudah terlalu lama menganggur. Atau mungkin ketika kamu berpikir bahwa kamu sudah menemukan si dia yang tepat untukmu, namun ternyata dia tidak berpikir hal yang sama.

    Jujur saja, saya juga pernah.  Saya pikir kita semua pasti  pernah  menemukan diri kita dalam salah satu kondisi di mana hidup berjalan di luar kendali kita. Itu bukan hidup yang kita pikirkan, itu bukan jalan yang kita inginkan. Ketika saat-saat seperti itu tiba, yang paling penting bagaimana sikap kita dalam menghadapi peristiwa yang menimpa.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “SIKAP KITA atas PERISTIWA yang MENIMPA”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 50:15-21 dengan penekanan pada ayat 20. Sahabat, banyak hal yang menimpa Yusuf ada di luar kendalinya: Diceburkan ke sumur, dijual sebagai budak, dijebloskan ke penjara, dan akhirnya menjadi penguasa Mesir. Semua di luar kemauan Yusuf. Dia mengalami banyak hal buruk sebelum akhirnya menjadi penguasa Mesir.

    Namun, tak satu pun dari semua itu menentukan diri Yusuf sebagai manusia. Hal yang menentukan diri Yusuf sebagai manusia adalah sikap Yusuf terhadap apa yang terjadi. Jika dia mau, dia bisa membalas kejahatan saudara-saudaranya. Tetapi, dia memilih memaknai positif semua yang menimpanya (ayat 20), dan memilih tetap mengasihi saudara-saudaranya (ayat 21). Sikap yang dia ambil itulah yang menentukan siapa dia sebenarnya.

    Sahabat, sebagaimana Yusuf, kita juga banyak tak bisa mengendalikan hal yang menimpa kita. Banyak hal terjadi di luar kemauan maupun kendali kita. Kita tak selalu bisa memilih atau mengontrol peristiwa yang menimpa. Tetapi, kita selalu punya peluang untuk mengontrol dan memilih sikap kita. Ketika hal buruk terjadi, kita selalu punya peluang untuk menentukan sikap kita atasnya: Marah, atau rela menerima; mendendam, atau tulus mengampuni; menjauhkan diri, atau merangkul; memelihara trauma yang timbul, atau berusaha move on.

    Peristiwa dalam hidup memang bisa memengaruhi kita. Tetapi, pada akhirnya, sikap kita atas peristiwa itulah yang menentukan diri kita sebagai manusia: Menjadi manusia yang diperbudak dorongan negatif yang merusak hidup, atau menjadi manusia yang menjunjung tinggi keutamaan hidup. Haleluya!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 17-18?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Ketika ada orang  berbuat jahat kepada kita, ingatlah … Di balik itu ada rancangan Allah yang baik, sehingga kita dapat belajar untuk melepaskan pengampunan. (pg).

  • Terus Berusaha HIDUP SALEH

    Sahabat, ada cukup banyak  orang beranggapan bahwa hidup saleh di saat ini ibarat menegakkan benang basah, sesuatu yang mustahil dilakukan.  Mengapa demikian?  Karena dunia sudah begitu rusak dan penuh kejahatan di segala bidang kehidupan.

    Apa itu hidup saleh?  Kata saleh memiliki pengertian:  Taat, sungguh-sungguh menjalankan ibadah, suci dan beriman.  Bagi orang-orang dunia menjalani hidup saleh mungkin hal yang mustahil, tetapi bagi orang percaya adalah sangat mungkin, karena Tuhan telah memberikan Roh kudus-Nya kepada kita dan menganugerahkan segala sesuatu yang berguna untuk hidup saleh  (2 Petrus 1:3). Karena itu kita sebagai komunitas orang percaya terus berusaha hidup saleh.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Terus Berusaha HIDUP SALEH”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 149:1-9. Sahabat, Mazmur 149 ditulis oleh seorang ahli kitab yang berefleksi atas kemenangan yang pernah terjadi dalam hidup umat Tuhan.

    Sang Pemazmur melihat bahwa, meskipun umat hidup dalam penindasan dan sengsara karena bangsa lain, mereka terus berusaha untuk hidup saleh (ayat 1 dan  5). Hal itu mendatangkan sukacita dalam kemuliaan.

    Selanjutnya, sang Pemazmur juga melihat bahwa umat itu adalah umat yang rendah hati (ayat 4). Ia telah menyaksikan bahwa Tuhan berkenan memberi mahkota keselamatan kepada umat yang seperti itu. Kemenangan pun dianugerahkan kepada mereka. Umat dibebaskan dari penindasan bangsa lain. Mereka bahkan mampu menaklukkan bangsa penindas tersebut. Oleh karena itu, mereka pantas menyanyikan nyanyian baru; bukan lagi nyanyian derita dan keluh kesah, melainkan nyanyian kemenangan di dalam Tuhan.

    Dari Mazmur 149 kita diingatkan bahwa apa pun yang terjadi dalam hidup kita, kita dipanggil untuk tetap berusaha hidup saleh. Untuk bisa menjalani hidup saleh dibutuhkan kerendahan hati. Ketika orang mampu bersikap rendah hati, ia pun akan mampu menekan egoisme. Hal ini penting karena ego inilah yang sering kali menyebabkan manusia lebih memilih marah, memberontak, bahkan menyakiti orang lain di tengah situasi yang tidak disukainya.

    Sahabat, untuk menjadi orang saleh dibutuhkan kesadaran penuh tentang siapa kita dan apa yang mesti kita lakukan. Kita adalah umat Allah yang patut tunduk kepada-Nya serta terus berusaha untuk melakukan kehendak-Nya. Kerendahan hati Yesus sampai Ia rela mati di kayu salib adalah teladan penting bagi kita. Sebagaimana Yesus pada akhirnya menang atas maut, kemenangan yang sama akan kita peroleh juga di dalam Allah.

    Melalui Mazmur ini kita belajar bahwa pada akhirnya keadilan Tuhanlah yang ditegakkan dan mendatangkan semarak bagi mereka yang dikasihi Tuhan. Untuk itu, mari kita terus berusaha hidup saleh dan rendah hati, maka nyanyian baru akan terus bergema dalam hidup kita. Haleluya!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 1 dan 5?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Pengenalan akan Kristus membawa pertumbuhan kehidupan kesalehan spiritual kita. (pg).

  • BERKAT bagi tiap orang BERBEDA

    Sahabat, pengalaman kita dalam bersosial media bercerita  bahwa kita   kerap menutup pesan, info, atau  percakapan kita di WhatsApp (WA) atau media sosial lainnya dengan kalimat: “Tuhan memberkati.” Biasanya direspons dengan kata: “Amin.” Kalimat tersebut diyakini sebagai sebuah doa atau pengharapan bahwa Tuhan akan memberkati kehidupan orang yang dimaksud. Doa yang menjadi suatu pengharapan bahwa hidup akan senantiasa dalam pemeliharaan Tuhan.

    Sesungguhnya ucapan berkat yang datang dari hati yang tulus akan dapat dirasakan oleh orang yang mendengarnya atau membacanya. Karena itu marilah kita juga senantiasa mengucapkan berkat bagi sesama yang akan mendatangkan semangat dan sukacita saat mereka mendengar atau membacanya sehingga pemeliharaan Allah dapat dirasakan juga oleh mereka. Uniknya, berkat bagi tiap orang berbeda.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “BERKAT bagi tiap orang BERBEDA”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 49:1-28. Sahabat, sesungguhnya, Allah sangat mengerti dan memperhatikan detail hal-hal yang penting bagi kita. Dia adalah Allah yang adil, berimbang, dan tidak pilih kasih. Sering kali kita memang tidak sadar cara Tuhan bekerja. Satu hal yang pasti, Dia selalu peduli akan setiap kebutuhan kita.

    Sahabat, Allah tahu di antara Lea dan Rahel, istri-istri Yakub, ada persaingan. Dalam situasi tersebut, Allah memilih untuk tidak berpihak kepada siapa pun. Karena itu, Allah memilih masing-masing seorang dari keturunan Lea dan Rahel untuk mendapat berkat khusus. Berkat, yang bisa dikatakan, melebihi saudara-saudaranya yang lain. Kedua anak tersebut adalah Yehuda dan Yusuf.

    Kepada Yehuda dikatakan, “Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda …” (ayat 10). Artinya, dari keturunannyalah nanti akan lahir raja-raja.

    Sementara kepada Yusuf, anak sulung Rahel, telah disiapkan berkat ayahnya yang melebihi berkat gunung-gunung. “Semuanya itu akan turun ke atas kepala Yusuf, … “ kata Yakub. “Ke atas batu kepala orang yang teristimewa di antara saudara-saudaranya” lanjutnya (ayat 26).

    Sahabat, hal tersebut menunjukkan bahwa Yusuf mendapat berkat yang paling istimewa. Kelak, ini terbukti karena Efraim merupakan keturunan Yusuf yang sangat diberkati. Bahkan, mereka adalah suku, yang disebut-sebut, paling penting di Kerajaan Utara.

    Lewat kisah ini, kita melihat bahwa Allah bersikap adil kepada Lea dan Rahel. Dia mencintai keduanya dengan takaran yang sama. Tuhan memberkati anak-anak, yang lahir dari rahim mereka, dengan berimbang. Ini menunjukkan, tidak seperti manusia, kasih Tuhan itu adil.

    Selain itu dari bacaan kita pada hari ini, kita dapat belajar bahwa berkat bagi tiap-tiap orang itu berbeda, tergantung dari anugerah Allah dan perbuatan mereka. Kejadian 49 bercerita bahwa Israel (Yakub) menyampaikan berkat yang berbeda kepada tiap-tiap anaknya, itu sangat tergantung dari anugerah Allah dan perbuatan mereka masing-masing (ayat 4-28).

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 8-10?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan selalu menyediakan yang terbaik bagi kita, seturut dengan rencana-Nya. (pg).