Category: Sejenak Merenung

  • HUKUMAN menimbulkan PENDERITAAN

    Sahabat, hukuman dan penderitaan adalah buah yang dipetik bila peringatan atau teguran diabaikan.  Nasihat orang bijak: “Orang harus menjaga kebaikannya, karena itu adalah investasi yang baik bagi kehidupan”. Artinya, orang yang selalu berbuat baik, pasti menuai kebaikan sepanjang hidupnya. Sebaliknya, orang yang tidak menjaga kebaikannya, tentulah akan menuai keburukan. Tinggi hati, tidak mendengarkan teguran Tuhan, tidak beribadah kepada Tuhan, dan tidak memuliakan nama Tuhan adalah sifat dan kebiasaan buruk manusia yang pasti akan membawa kepada hukuman yang menimbulkan penderitaan.

    Pengalaman kita dalam hidup bermasyarakat bercerita betapa sering kita menjumpai dalam beberapa kasus berskala nasional yang terungkap,  banyak upaya dilakukan manusia untuk menutupi kesalahannya. Misalnya, dengan mengarang cerita bohong, lalu menyalahkan orang lain demi menyelamatkan diri. Akibatnya, orang lain dipersalahkan atas kesalahan yang tidak pernah dibuatnya.

    Hari ini kita tetap melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “HUKUMAN menimbulkan PENDERITAAN”. Untuk itu Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yesaya Yesaya 9:7 – 10:4. Sahabat, melalui nubuat Yesaya, Allah hendak menyatakan hukuman-Nya terhadap Israel Utara (Samaria) karena menunjukkan kesombongannya. Allah mengingatkan agar Israel kembali kepada-Nya, namun mereka acuh tak acuh.

    Efraim dengan sesumbar mau membangun kembali negerinya lebih kuat dan gagah setelah dihancurkan oleh Kerajaan Asyur (ayat 7-9). Selain itu, terjadi ketidakadilan dalam mengejar kekayaan. Israel tidak bisa diperbaiki karena tidak mau meninggalkan dosa-dosanya dan kembali kepada Allah.

    Para pemimpin tidak memberi contoh yang baik, malahan melakukan tindakan jahat (ayat 13-15). Berkali-kali Allah memberikan peringatan untuk bertobat, namun mereka tidak mengindahkannya, bahkan kejahatan mereka semakin menjadi-jadi. Para pemimpin menindas rakyat dengan biadab dan menyalahgunakan kekuasaannya. Efraim dan Manasye terlibat perang saudara karena keegoisan dan kefasikan mereka (ayat 17-20).

    Sahabat, siapa pun yang melakukan kesalahan harus siap menerima hukuman. Sayangnya, banyak orang menghindar dari hukuman dan berupaya membenarkan diri dengan berbagai macam alasan dan argumen. Lebih parah lagi, mereka menganggap tindakannya sebagai hal yang benar. Tuhan akan menghukum setiap kejahatan dan ketidakadilan. Contohnya, peperangan antara Efraim dan Manasye yang membawa penderitaan tidak luput dari hukuman Tuhan.

    Marilah kita menjauhkan diri dari perilaku dan kebiasaan-kebiasaan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan yang dapat mendatangkan hukuman dan penderitaan! Ingat! Kesempatan itu anugerah Tuhan, jangan diabaikan, agar kita menuai kebaikan-kebaikan Tuhan, bukan hukuman yang menimbulkan penderitaan.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 13-15?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Hukuman akan menimbulkan  penderitaan, bahkan rasa malu yang mendalam. (pg)

  • Menolak air SYILOAH, Memeluk air sungai EFRAT

    Sahabat, boleh saja kita minta pertolongan  atau bantuan dari orang lain, tapi bukan berarti kita boleh mengandalkan manusia atau berharap penuh kepada manusia, sebab bagaimana pun manusia tak lebih dari alat yang dipakai Tuhan.  Kadangkala Tuhan memakai seseorang atau menggerakkan hati seseorang untuk menolong, karena itu kita harus tetap belajar menghormati, menghargai dan tidak lupa berterima kasih kepada orang yang telah menolong kita. 

    Tetapi kita harus memahami benar bahwa pertolongan dan mukjizat bagi kita sesungguhnya bukan datang dari manusia, tapi Tuhan yang bekerja di dalamnya.  Mengapa Tuhan memperingatkan kita untuk tidak mengandalkan manusia?  Karena kekuatan dan kemampuan manusia sangat terbatas, dan hati manusia cenderung mudah sekali berubah.

    Karena itu jangan mengandalkan kuasa, kekuatan, dan hikmat manusia.  Berhentilah berharap dan mengandalkan manusia!  Karena ketika kita mulai mengandalkan manusia, kita akan sepenuhnya di bawah kendali manusia.  Ingat, sumber pertolongan dan sumber keberhasilan kita adalah Tuhan, bukan manusia!  Tidak ada pilihan lain selain kita harus hidup mengandalkan Tuhan! Jangan sampai kita menolak air Syiloah, dan memeluk air sungai Efrat.

    Hari ini kita melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “Menolak air  SYILOAH, dan Memeluk air sungai EFRAT”. Untuk itu Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yesaya 8:1-10 dengan penekanan pada ayat 6. Sahabat, Ahas, raja Yehuda, merasa sangat takut. Raja Aram dan raja Israel telah bersatu untuk memerangi Yerusalem. Dua kerajaan besar lainnya, Mesir dan Asyur juga menjadi ancaman bagi Yehuda. Saat itulah Nabi Yesaya menyampaikan firman Tuhan kepadanya, agar ia mengandalkan Tuhan. Namun Ahas memilih untuk mengandalkan dirinya sendiri.

    Ia mengabaikan firman Tuhan. Ia lebih memilih percaya kepada para berhalanya, bahkan mempersembahkan anaknya sebagai korban dalam api. Ia pun mengikat perjanjian dengan raja Asyur. Ia rela membayar upeti dan tunduk kepada Asyur, asalkan Yehuda diselamatkan dari tangan raja Aram dan Israel (2 Raja-Raja 16).

    Melalui Yesaya, Tuhan menggambarkan sikap Raja Ahas itu sebagai tindakan menolak air Syiloah yang mengalir lamban. Syiloah (nama dalam bahasa Ibrani, sedangkan dalam bahasa Yunani disebut Siloam) adalah kolam di Yerusalem yang menjadi sumber air suci yang digunakan untuk berbagai upacara di Bait Allah. Sebaliknya, Ahas memeluk air sungai Efrat yang kuat dan besar, sebagai gambaran Asyur.

    Sahabat, Ahas beranggapan bahwa hikmat dan kuasa manusia lebih hebat dari kuasa Allah. Ia mengira Asyur akan menjadi penyelamatnya. Padahal nantinya, Asyur sendiri menjadi ancaman baginya, serupa sungai besar yang meluap dan menenggelamkan mereka (ayat 7-8). Ahas memilih mengandalkan hikmat manusia, dan ia berakhir dengan kegagalan. Kiranya kita dapat memetik pelajaran dari kesalahannya.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 6-8?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Mari kita mendorong diri untuk sungguh-sungguh beriman kepada Tuhan, dan percaya bahwa Ia akan memberikan jawaban atas apa yang kita imani. (pg).

  • KUTUK marani SUNDUK

    Sahabat, ada paribasan (ungkapan dalam bahasa Jawa) yang berbunyi: Kutuk marani sunduk. Secara harifiah artinya sebagai berikut: Kutuk artinya  ikan gabus; maraniartinya  menghampiri; sedangkan sunduk artinya  alat yang digunakan untuk membawa ikan hasil pancingan dengan cara memasukkan alat ini ke mulut dan dikeluarkan melalui insangnya. Jadi secara harfiah arti dari Kutuk marani sunduk yaitu ikan gabus yang meghampiri sendiri alat yang digunakan untuk menangkapnya. Paribasan itu merujuk kepada orang yang menghampiri perantara kematiannya.

    Sedangkan arti yang tersirat dari paribasan tersebut adalah  Njarak marani bebaya (baca: njarak marani beboyo) yang artinya berjalan mendekati bahaya. Peribahasa ini merujuk kepada orang yang melakukan perbuatan berbahaya atau mendatangi bahaya bagi dirinya sendiri.

    Saat ini sering kita menemui di media sosial konten-konten yang berbahaya demi kata viral. Perbuatan tersebut adalah perbuatan yang berbahaya.  Maka perbuatan tersebut sama dengan maksud dari paribasan: Kutuk marani sunduk. Maka sebaiknya janganlah kita melakukan perbuatan bodoh yang membahayakan nyawa hanya demi kata viral.

    Hari ini kita masih melanjutkan belajar dari kitab Amsal dengan topik: “KUTUK marani SUNDUK”. Untuk itu Bacaan Sabda saya ambil dari Amsal 7:6-27. Sahabat,  anak muda yang menikmati dosa perzinaan diibaratkan seperti: Kutuk marani sunduk. Mengapa? Karena mereka dengan sengaja menghampiri godaan tersebut (ayat 7-8). Kita tidak tahu apa motifnya, namun yang jelas anak muda lugu itu sedang menjerumuskan dirinya sendiri.

    Apalagi, si perempuan licik tersebut bukan sosok yang mudah menyerah. Dia menggunakan berbagai trik dan rayuan mautnya, sehingga anak muda yang lugu dan bodoh tersebut akhirnya jatuh ke dalam godaan (ayat 10-21).

    Bahkan, Amsal menyebut anak muda itu seperti lembu yang akan dibawa ke pejagalan (ayat 22), seperti burung yang masuk perangkap, namun tidak sadar hidupnya sedang terancam (ayat 23).

    Sahabat, penulis Amsal dengan serius menasihati agar anak muda tidak masuk dalam perangkap perempuan tersebut (ayat 25). Pasalnya, banyak orang yang telah mati dibunuh dan akhir dari semua itu adalah masuk ke dalam dunia orang mati (ayat 26-27).

    Senada dengan Amsal, Rasul Paulus juga pernah menulis hal serupa dalam Roma 6:15-23. Paulus menuliskan tentang kemerdekaan seorang anak Tuhan, yaitu ketika terbebas dari belenggu dosa. Satu-satunya yang dapat membebaskan dari belenggu dosa adalah Tuhan Yesus Kristus.

    Sahabat, selama kita masih hidup, kita akan menemukan “perempuan-perempuan” licik seperti itu. Jangan terjebak! Penulis Amsal telah mengingatkan kita akan konsekuensi-konsekuensinya yang sangat mengerikan. Bersyukur kita mengenal Yesus Kristus yang telah membebaskan kita dari belenggu dosa. Oleh karena itu, akuilah bahwa kita adalah anak muda bodoh yang terbelenggu. Kita membutuhkan Tuhan Yesus untuk melepaskan diri kita dari belenggu dosa yang menjerat kita.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Nasihat apa yang Sahabat dapatkan dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 7-9?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Iblis mengetahui titik kelemahan kita, pencobaan apa yang paling tepat untuk menggoda kita, kapan waktu untuk menawarkannya. (pg).

  • Jika kamu PERCAYA, kamu TEGUH Jaya

    Pernahkah Sahabat mendapat ancaman dan tekanan dari pihak yang lebih kuat? Biasanya hal seperti itu akan mendatangkan kepanikan, kegelisahan, bahkan ketakutan yang menguras tenaga dan pikiran. Bisa saja hal tersebut menyita fokus hidup kita. Hidup menjadi tidak produktif bahkan kita bisa sampai meragukan keberadaan Tuhan.

    Sesungguhnya banyak hal bisa membuat hati kita tidak tenang: Sakit yang lama belum sembuh, pekerjaan yang sedang bermasalah, keluarga yang sedang mengalami pergumulan, dan sebagainya. Namun, jika kamu percaya, kamu teguh jaya.

    Hari ini kembali kita akan mempelajari kitab Yesaya dengan tema: “Jika kamu PERCAYA, kamu TEGUH Jaya.” Untuk itu Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 7:1-9 dengan penekanan pada ayat 9. Sahabat, Israel telah terpisah menjadi dua negara, yaitu bagian Utara disebut Israel dan bagian Selatan yang disebut Yehuda (ayat 1).

    Saat itu tengah terjadi perlawanan terhadap Kerajaan Asyur. Rezin (Raja Aram) dan Remalya (Raja Israel) telah bersekutu mengajak Ahas, Raja Yehuda. Namun ajakan mereka ditolak oleh Ahas. Itu sebabnya Aram dan Israel hendak menyerang Yehuda. Di tengah situasi yang panas, Yesaya hadir dan meminta Ahas tidak perlu takut (ayat 4) dan menyarankan agar ia percaya sehingga menjadi teguh jaya (ayat 9).

    Keadaan Yehuda memang serbasalah. Dalam perhitungan politik, melawan Kerajaan Asyur bukan perkara gampang. Sedangkan ajakan untuk bersekutu yang ditawarkan Rezin dan Remalya belum tentu mampu mengalahkan Asyur.

    Bagi Ahas, hal tersebut bukan menyelesaikan masalah, malahan menambah masalah baru. Karena itu, Ahas mengambil keputusan menolak ajakan Rezin dan Remalya. Keputusannya itu tentu membuat Rezin dan Remalya marah. Kedua raja tersebut bersiap menyerang Yehuda. Situasi genting dan memanas membuat Ahas dan rakyatnya berada dalam ketakutan (ayat 2).

    Sahabat, Tuhan mengutus Yesaya untuk memberikan dukungan kepada Ahas agar tidak takut menghadapi ancaman Rezin dan Remalya. Yang dibutuhkan Ahas dan rakyatnya hanyalah berpegang teguh pada Tuhan.

    Melalui Yesaya, Tuhan menjanjikan bahwa apa yang ditakuti Ahas dan rakyatnya, tidak akan terjadi (ayat 7). Tampaknya janji Tuhan tidak mampu meredakan rasa cemas dan takut pada Ahas. Malahan Ahas mencari perlindungan pada bangsa Asyur (2 Raja-Raja 16:7). Ketakutan Ahas membuatnya mengabaikan keberadaan dan sabda Tuhan. Ahas lebih memilih mengandalkan kekuatan manusia daripada Tuhan.

    Sahabat, orang yang berada dalam ketakutan sering kali mengambil tindakan gegabah dan jalan pintas untuk menyelesaikan masalah. Alhasil, ketakutan justru menciptakan persoalan baru. Karena itu, kita perlu belajar bahwa di tengah ketakutan semestinya BERPEGANG TEGUH pada JANJI Tuhan. Sebab IA TIDAK PERNAH MENGECEWAKAN kita. Haleluya!

    Berdasarkan hasil perenunganmudari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 3-4?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jangan biarkan rasa takut melumpuhkan keyakinan kita akan kekuatan dan kekuasaan Tuhan! (pg).

  • Don’t DELAY until TOMORROW

    Ada ungkapan lama dalam bahasa Inggris, “Don’t delay until tomorrow, what you can do today”. Jangan tunda sampai besok apa yang dapat  kamu lakukan pada hari ini.  Menunda pekerjaan adalah kebiasaan buruk yang masih sering dilakukan oleh cukup banyak orang.  Menunda pekerjaan yang seharusnya bisa kita kerjakan saat ini adalah suatu tindakan yang justru akan merugikan diri kita sendiri. 

    Sahabat, ada beberapa jenis beruang biasanya berhibernasi (Keadaan istirahat atau tidur pada binatang selama musim dingin). Untuk itu, mereka perlu menimbun cadangan lemak secukupnya sebelum musim dingin datang. Alkisah, seekor induk beruang menyuruh anaknya untuk mulai mempersiapkan diri sejak awal musim gugur dengan mencari makan sendiri. Tetapi, si anak terus menunda-nunda dengan alasan bahwa masih banyak waktu. Akhirnya musim dingin pun tiba. Anak beruang itu mulai cemas karena tubuhnya tidak memiliki cukup lemak untuk bertahan melewati musim dingin. Sudah terlambat, karena di luar sana salju turun semakin lebat, tidak mungkin lagi ia mencari bahan makanan.

    Sesungguhnya tidak ada tempat, toko, supermarket atau mal di dunia ini yang menjual waktu atau menyediakan waktu cadangan.  Semakin kita terbiasa menunda-nunda pekerjaan semakin membuat kita menjadi malas.  Ingat!  Semakin kita menunda-nunda waktu semakin berat tugas dan pekerjaan kita.  Pengalaman hidup kita bercerita, belum lagi selesai mengerjakan pekerjaan pertama, sudah datang lagi pekerjaan yang kedua, ketiga dan seterusnya. Karena itu don’t delay until tomorrow … Kerjakanlah apa yang dapat kamu kerjakan pada hari ini.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar kitab Amsal dengan topik: “Don’t  DELAY until TOMORROW”. Untuk itu Bacaan Sabda saya ambil dari Amsal 6:1-11 dengan penekanan pada ayat 6. Sahabat,  menunda berarti menyia-nyiakan waktu yang ada;  menunda berarti kita telah kehilangan waktu, karena waktu yang hilang tidak akan bisa tergantikan.  Kalau kita kehilangan suatu barang, kita masih dapat membelinya.  Namun sekali kita kehilangan waktu atau kesempatan, itu tidak akan pernah kembali. 


    Menunda-nunda adalah suatu kebiasaan buruk yang sering kali berbuntut panjang. Alkitab mengajarkan kita agar jangan suka menunda-nunda. Bacaan kita pada hari ini membahas hal-hal yang berkaitan dengan memperbaiki kesalahan yang kita perbuat (ayat 1-5), dan tentang bekerja (ayat 9-11). Di situ dikatakan bahwa kalau kita telanjur berbuat kesalahan, hendaknya kita segera mencari solusi untuk memperbaiki kesalahan kita. Hendaknya kita juga jangan suka menunda-nunda dalam melakukan pekerjaan,  agar kita terhindar dari KEMISKINAN dan KEGAGALAN.

    Sahabat, secara praktis, bagi yang sedang sekolah atau kuliah, belajarlah dari sekarang tanpa harus menunggu ujian mendekat. Bagi yang bekerja, kerjakanlah semua tugas tanpa harus menunggu tenggat waktu mendekat. Bagi Sahabat dan saya, kerjakanlah hari ini apa yang bisa kita kerjakan hari ini, tanpa harus menunda hingga besok.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Nasihat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 6-8?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jangan membiasakan diri menunda-nunda mengerjakan tugas; Kerjakan saat ini juga apa yang bisa kita kerjakan saat ini. (pg).

  • PENDOSA dipilih MENJADI UTUSAN

    Sahabat, bertemu dengan orang yang sangat kita hormati tentu menyenangkan dan sekaligus menggetarkan. Bagaimana kalau manusia berjumpa dengan Tuhan? Tentu hal yang jauh lebih menakjubkan dan menggetarkan. Itulah yang merupakan harapan banyak orang.

    Hari ini kita masih tetap melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “PENDOSA dipilih MENJADI UTUSAN”. Untuk itu Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yesaya 6:1-13 dengan penekanan pada ayat 8. Sahabat, siapakah yang dipanggil oleh Tuhan untuk berkarya bersama dengan Dia? Apakah mereka yang mempunyai kesempurnaan, kesucian, kemampuan, ketampanan, kepintaran,  dan kefasihan?

    Kematian Raja Uzia membuat keadaan Yehuda tidak kondusif. Umat hanyut dalam ritual penyembahan berhala. Perilaku mereka menyimpang dan menjauh dari persekutuan dengan Tuhan. Walaupun keadaan Yehuda sudah tidak seperti yang Tuhan harapkan, ternyata Ia tidak tinggal diam. Setelah rentetan berita penghukuman, Tuhan tetap memperhatikan umat-Nya. Ia memberi mereka pengharapan dengan mengutus seorang nabi. Nabi ini menjadi juru bicara Tuhan dalam menyampaikan pesan-Nya kepada umat. Ketika Tuhan hendak mengutus nabi-Nya, terlebih dahulu Ia mempersiapkan nabi itu agar layak menjadi alat bagi kemuliaan-Nya.

    Cara Tuhan mengutus Yesaya digambarkan dengan luar biasa. Dalam penglihatannya, Yesaya melihat Tuhan! (ayat 1) dan para Serafim yang berseru tentang kekudusan-Nya (ayat 3). Penglihatan itu menggetarkan hati Yesaya. Dengan penuh ketakutan ia berseru, “Celakalah aku! Aku binasa!” (ayat 5). Sebab Yesaya menyadari bahwa dirinya berdosa dan tidak layak di hadapan Tuhan. Namun, Tuhan sendiri yang berkenan melayakkan hamba-Nya (ayat 7). Yesaya pun diutus menjadi nabi di tengah-tengah bangsa yang keras hati (ayat 8).

    Di satu sisi, ada perasaan bangga dan bahagia saat Yesaya melihat Tuhan, namun di sisi lain ada perasaan yang mencekam dan menakutkan yang dialami oleh Yesaya. Ditambah lagi ada seruan yang menggetarkan dari para Serafim tentang hakikat Tuhan yang kudus. Dengan perasaan takut dan gentar Yesaya mengakui bahwa dirinya tidak pantas berada di hadapan Tuhan. Yesaya pun mengakui bahwa dirinya hidup di tengah lingkungan yang najis bibir dan ia pun tertular oleh kenajisan itu.

    Sahabat, Tuhan tahu kondisi Yesaya dan Ia tidak mempersoalkan hal tersebut. Dengan cara yang ajaib, Tuhan menghapus kesalahannya dan mengampuni hamba-Nya (ayat7). Kini, Yesaya diminta untuk menjadi utusan Tuhan. Dengan kemantapan hati Yesaya menyerahkan dirinya pada misi Tuhan (ayat 8). Ia menyatakan kesiapannya untuk menjadi penyambung lidah Tuhan untuk menyatakan penghukuman bagi bangsanya.

    Namun, Yesaya bertanya sampai berapa lama berita penghukuman itu akan disampaikan? (ayat 11a). Jawaban Tuhan tegas, yakni sampai seluruh wilayah Israel menjadi sunyi sepi (ayat 11b). Setelah itu barulah tumbuh tunas yang kudus (ayat 13).

    Sahabat, sesungguhnya dalam hal melayani, Tuhan tidak mencari orang saleh dan benar untuk mewujudkan kehendak-Nya di dunia. Yang dibutuhkan oleh Tuhan adalah orang yang mau diubahkan oleh Firman-Nya. Bagaimana dengan saya dan Sahabat?

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 7?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Menjadi utusan Tuhan merupakan kehormatan bagi kita. (pg).

  • KEMARAHAN diekspresikan dalam sebuah NYANYIAN

    Sahabat, ketika Anang Hermansyah dikhianati oleh Krisdayanti, istrinya, dia EKSPRESIKAN KEMARAHANNYA dalam nyanyian ciptaannya yang berjudul: “Separuh Jiwaku Pergi”.

    Coba kita simak sebagian dari syair nyanyian tersebut: Benar ‘ku mencintaimu; Tapi tak begini; Kau khianati hati ini; Kau curangi aku.  Perhatikan syair berikutnya: Kau bilang tak pernah bahagia; Selama dengan aku; Itu ucap bibirmu; Kau dustakan semua; Yang kita bina; Kau hancurkan semua.

    Sahabat, nyanyian merupakan salah satu cara untuk  mengekspresikan isi hati. Nyanyian kerap digunakan untuk menceritakan suatu hal secara tersirat. Nyanyian bisa mengungkapkan suasana hati:  Gembira, sedih, atau kecewa.  Tentu kemarahan juga dapat diekspresikan dalam sebuah nyanyian.

    Hari ini kita masih melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “KEMARAHAN diekspresikan dalam sebuah NYANYIAN.” Untuk itu Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 5:1-7 dengan penekanan pada ayat 4. Sahabat,  apa yang Allah lakukan terhadap orang Israel dan Yehuda bisa diibaratkan dengan apa yang biasanya dilakukan oleh seseorang atas kebun anggur yang dikelolanya.

    Ia menggarap kebun anggur tersebut dengan sebaik-baiknya dengan harapan pada saatnya dapat menghasilkan buah anggur yang baik. Namun, hal yang terjadi justru sebaliknya karena buah anggur yang dihasilkan kebun anggur itu rasanya asam (ayat 2).

    Sahabat, Israel adalah umat pilihan Allah. Tentu Allah mengharapkan Israel dapat bertindak seperti yang Allah kehendaki, namun Israel justru bertindak membelakangi Allah. Akumulasi dosa membawa mereka ke dalam murka Allah. Dalam murkanya, Allah berfirman, “Apatah lagi yang harus diperbuat untuk kebun anggur-Ku itu, … mengapa yang dihasilkannya hanya buah anggur yang asam?” (ayat 4).

    Israel kerap bertindak meleset dari ketetapan Allah. Contohnya, dosa menyembah berhala, berzina, dan berbagai perilaku lain yang melukai hati Allah. Hal-hal seperti itulah yang membuat Allah bertindak keras terhadap Israel. Dalam NYANYIAN YESAYA ini tergambar Allah yang menarik perlindungan-Nya atas umat-Nya dan membiarkan Israel dihancurkan (ayat 5-6). Apa yang terjadi pada Israel adalah akibat dari apa yang mereka lakukan terhadap Allah. Hukuman Allah merupakan konsekuensi dari perilaku membelakangi Allah.

    Sahabat, Allah memberikan nubuatan penghukuman dalam bentuk NYANYIAN KEMARAHAN sebagai peringatan kepada umat-Nya supaya mereka berbalik dari perilaku yang jahat dan kembali kepada Allah. Jika tidak, maka hukuman akan terlaksana. Sesungguhnya, ini bentuk KASIH ALLAH kepada umat-Nya.

    Tuhan mengharapkan hidup kita untuk menghasilkan buah-buah yang manis, yang enak dinikmati. Artinya, kita harus mampu menjadi berkat bagi orang lain. Sebuah buah yang manis dan enak tentu dirindukan oleh semua orang. Kita harus hidup berbuah, jangan sampai berakhir sebagai pohon yang tidak menghasilkan buah sama sekali.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 1-2?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jangan menghasilkan buah anggur yang  asam, jadilah pohon anggur yang menghasilkan buah yang  manis dan bermanfaat bagi orang lain. (pg).

  • MENJAGA Kekudusan Keluarga

    Sahabat, inisiatif pernikahan mula-mula berasal dari  Tuhan. Dia yang menciptakan laki-laki (Adam), melihat tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Kemudian Tuhan ingin Adam mempunyai seorang penolong, maka didatangkan segala ciptaan-Nya yang lain kepada Adam supaya Adam menamainya. 

    Namun Adam tidak menemukan seorang penolong yang sepadan dengan dia. Lalu Tuhan membuat Adam tertidur dan menciptakan seorang perempuan dari tulang rusuknya yang diberi nama Hawa (Kejadian 2:18-25).

    Sahabat, pernikahan itu kudus, karena terjadinya pernikahan merupakan karya dan berkat Tuhan. Oleh sebab itu, setiap anggota keluarga, terutama suami dan istri, mempunyai tanggung jawab untuk MENJAGA KEKUDUSAN KELUARGA. Setiap anggota keluarga mempunyai tanggung jawab agar tidak sampai melanggar perintah Tuhan. Pelanggaran perintah-Nya menyebabkan keluarga kehilangan ketenteraman dan kebahagiaan.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Amsal dengan topik: “MENJAGA Kekudusan Keluarga.” Untuk itu Bacaan Sabda saya ambil dari Amsal 5:7-23. Sahabat, Salomo yang telah menunjukkan betapa jahatnya perzinaan, memberikan beberapa penangkal. Ia menasihatkan agar umat menikmati dan memuaskan diri dengan penghiburan dalam pernikahan sah yang telah ditetapkan (ayat 7-13).

    Sedangkan orang muda dinasihati agar menikah dan tidak terbakar oleh hawa nafsu. Orang yang sudah menikah dinasihati agar bersenang-senang dengan pasangan hidupnya sendiri dan mensyukuri bahwa pasangannya itu adalah pemberian Allah.

    Sahabat, sudah sepantasnya hidup berbahagia dijalani dengan pasangan hidup yang dicintai (ayat 14-19), saling menyayangi dan mengasihi dengan mendalam, serta saling memuaskan hasrat, tidak mencarinya dari orang lain yang bukan pasangan hidupnya. Dengan demikian, kebahagiaan hidup bersama keluarga akan terus dirasakan.

    Kunci hidup kudus dalam keluarga adalah takut dan hormat kepada Allah. Hal itu akan terwujud bila kita meyakini bahwa Allah senantiasa melihat semua tindakan manusia, termasuk apa yang ada di dalam hati dan pikiran (ayat 21).  Allah akan meminta pertanggungjawaban atas segala yang dipikirkan dan dilakukan manusia (ayat 22-23).

    Pernikahan adalah sebuah persekutuan yang dikuduskan oleh Allah dan perwujudan janji setia di hadapan Allah. Pernikahan kudus bermakna kelanggengan, keharmonisan, kedamaian, dan kesejahteraan. Maka, keluarga perlu dijaga kekudusannya dan suasana persekutuan dalam keluarga perlu diisi dengan cinta murni yang mau saling berbagi, saling menguatkan lahir dan batin, sehingga terjalin kesatuan hati.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawblah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 15-19?
    3. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 21?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Ibarat obat bius, perzinaan mematikan indra, membuat kita kehilangan kesadaran akan Tuhan dan orang yang mengasihi kita. (pg).

  • BERCAHAYA hingga Rembang Tengah Hari

    Tahukah Sahabat, Alkitab memuat cukup banyak kiasan sehubungan dengan CAHAYA dan TERANG. Berikut saya sajikan beberapa diantaranya: Ungkapan ”cahaya mataku” maksudnya  kemampuan untuk melihat (Mazmur 38:11).

    Jika Allah ”memberikan terang” kepada seseorang, artinya Ia memberinya kehidupan atau membiarkannya terus hidup (Ayub 3:20, 23; bdk. Mazmur 56:13).  ”Bayi-bayi yang tidak pernah melihat terang” artinya bayi-bayi yang lahir mati (Ayub 3:16; bdk. Mazmur 49:20).  ”Melihat matahari itu baik bagi mata” dapat dipahami sebagai betapa indahnya hidup ini (Pengkhotbah 11:7).

    Selanjutnya, “Cahaya wajah-Mu” dimengerti sebagai perkenan ilahi (Mazmur  44:4; 89:16).  ”Biarlah cahaya wajah-Mu menyinari kami” adalah suatu ungkapan yang berarti: Perlihatkanlah perkenan atas kami (Mazmur  4:7).  Dengan nada serupa, perkenan seorang penguasa disebutkan sebagai ”Wajah raja yang bercahaya” (Amsal 16:15).

    Saat ini, kita sebagai komunitas orang percaya, semoga bercahaya hingga rembang tengah hari.

    Hari ini kita masih melanjutkan belajar kitab Amsal dengan topik: “BERCAHAYA hingga Rembang Tengah Hari.” Untuk itu Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Amsal 4:1-22 dengan penekanan pada ayat 18. Sahabat,  dunia memberi nilai tinggi pada kesuksesan. Ukurannya tentu saja kekayaan, jabatan, kehormatan, kepuasan, dan kenyamanan.

    Banyak orang berjuang mengejarnya. Sayangnya, demi kesuksesan, orang dapat melonggarkan moralitas, melegalkan segala cara. Mereka rela berlaku jahat, serong, dan munafik. Mereka menanggalkan firman Tuhan, sehingga hidup dalam kegelapan, tetapi tidak tahu sumber kesesatan mereka. Mereka tidak sadar akan kejahatannya.

    Sahabat, pengalaman hidup kita bercerita bahwa ternyata kesuksesan tidak selalu membuat hidup menjadi bermakna. Banyak orang menjadi pejabat, terkenal, kaya, terhormat, tetapi tidak berguna bagi sesama, bahkan mengalami kekosongan jiwa. Kesuksesan mereka tidak didasari hikmat yang benar. Mereka sukses hanya demi kepuasan diri, bukan kemuliaan Tuhan. Kesuksesan demikian tidak menghasilkan buah kehidupan.

    Orang percaya berpegang pada hikmat dan berjalan menurut pimpinan firman Tuhan. Firman-Nya menjadi pelita, sumber sukacita dan penghiburan yang menerangi jalan mereka.

    Mereka meneladani Sang Terang, setia menjadi terang bagi setiap orang yang dijumpai. Dengan begitu, mereka menyingkirkan kegelapan. Terang bertambah, anugerah pun semakin bertumbuh. Semakin kuat mereka menjaga kekudusan, sukacita, dan kehormatan rohani, semakin deras hidup mereka mengalirkan kemurnian hati, kasih, kebenaran, keadilan, dan kejujuran.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 11-13?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Orang jahat merasa puas dengan kefasikan, orang benar berpuas dalam hikmat Tuhan. (pg).

  • TUNAS menjadi KEPERMAIAN dan KEMULIAAN

    Sahabat, Gerakan Pramuka dengan mudah dikenali dengan melihat lambangnya. Lambang Pramuka berupa TUNAS KELAPA. Lambang tersebut digunakan dalam bendera pramuka dan pakaian seragam. Menurut catatan sejarah, tunas kelapa digunakan sebagai lambang Pramuka sejak 14 Agustus 1961. Saat itu Presiden Sukarno melantik anggota Mapinas, Kwarnas dan Kwarnari, di Istana Negara.

    Buah Nyiur dalam keadaan tumbuh dinamakan cikal. Cikal dalam bahasa Indonesia memiliki arti penduduk asli yang pertama, yang menurunkan generasi baru. Jadi lambang buah nyiur yang tumbuh itu mengiaskan bahwa tiap Pramuka merupakan inti bagi kelangsungan hidup bangsa Indonesia.

    Semoga tunas-tunas kelapa akan tumbuh menjadi pohon-pohon kelapa yang menjulang tinggi lurus ke atas menjadi kepermaian dan kemuliaan bangsa Indonesia.

    Hari ini kita melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “TUNAS menjadi KEPERMAIAN dan KEMULIAAN”. Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yesaya 4:2-6 dengan penekanan pada ayat 2. Sahabat, nubuat Yesaya menunjukkan bahwa umat yang ada saat ini akan dilenyapkan.

    Namun tidak semua akan binasa, sebab akan ada yang disisakan oleh Tuhan (ayat 3). Kaum sisa inilah yang disebut tunas (ayat 2). Kehadiran tunas ini akan diikuti oleh berbagai tanda sebagaimana yang dialami umat Israel dalam perjalanan keluar dari Mesir, yaitu segumpal awan di siang hari dan dan segumpal asap terang di malam hari (ayat 5).

    Nubuat Yesaya tidak hanya menunjuk pada kehancuran Israel, namun juga pengharapan hadirnya Israel baru yang akan membangun kembali bangsanya. Tunas baru ini akan bekerja keras membawa kepermaian dan kemuliaan Israel kembali (ayat 2). Jadi, tunas ini merujuk pada sekelompok orang yang tersisa dari Israel. Tunas inilah yang akan membersihkan kotoran yang ada di kota kudus Yerusalem yang berdiri di atas bukit Sion (ayat 4).

    Adalah sebuah hal yang berlawanan ketika hal yang kudus menjadi kotor. Untuk mengembalikan hakikat kekudusan, kekotoran kota harus dibersihkan. Kotornya kota kudus disebabkan ketidakmampuan umat Allah dalam menjaga kekudusan hidupnya. Tugas penyucian ini akan diawali dengan membersihkan umat Allah. Kaum sisa itu yang akan membuat Israel baru menjadi besar dan indah. Israel baru ini akan berdiri dengan aman dan tenteram jika senantiasa berada dalam perlindungan Tuhan.

    Dalam Perjanjian Lama, tunas dipahami sebagai kaum sisa Israel yang masih menjaga kemurnian dan kesetiaan kepada Allah, sedangkan dalam Perjanjian Baru pengertian tunas mengacu kepada pribadi Yesus. Karena Yesus dipercaya sebagai pemenuhan nubuatan para nabi. Hanya Dia yang mampu membersihkan segala kekotoran dan kenajisan manusia di hadapan Allah.

    Melalui karya-Nya di kayu salib, Yesus telah membentuk gereja-Nya. Semoga tunas yang  telah tumbuh dan berkembang menjadi komunitas orang percaya, akan dapat menjadi kepermaian dan kemuliaan Tuhan di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang sangat plural.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 5-6?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Dunia hari ini bukan hanya mempertontonkan kemajuan teknologi yang dahsyat, melainkan juga kengerian dahsyat yang mengancam dunia. (pg).