Category: Sejenak Merenung

  • HUKUMAN terhadap KESOMBONGAN

    Sahabat, Tuhan yang penuh anugerah mencurahkan banyak rahmat sehingga manusia yang lemah menjadi HEBAT, KUAT dan BERMANFAAT bagi orang lain. Sayangnya, keterampilan dan kelebihan yang  mereka miliki sering disalahartikan sebagai kehebatan diri; dan kemudian mereka menjadi lupa diri.   Hal itulah yang membuat mereka menjadi sombong. Allah kemudian murka terhadap kesombongan mereka dan mendaratkan hukuman kepada mereka.

    Hari ini kita melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “HUKUMAN terhadap KESOMBONGAN.” Untuk itu Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 13:1-22. Sahabat, bacaan kita pada hari ini berisi ucapan Allah melalui Nabi Yesaya tentang hukuman-Nya kepada Babel, bangsa yang telah menaklukkan Israel dan menjadikannya tawanan. Kitab Yesaya memuat berbagai penghukuman Tuhan, bukan hanya terhadap bangsa Israel (Israel Utara maupun Israel Selatan) melainkan juga terhadap bangsa-bangsa lain, termasuk bangsa Asyur dan Babel.  

    Tuhan memakai bangsa Asyur untuk menghukum bangsa Israel (Kerajaan Utara), dan bangsa Babel Tuhan pakai untuk menghukum bangsa Asyur dan Yehuda (Israel Selatan). Bangsa Babel kemudian ditaklukkan oleh bangsa Media-Persia, orang Madai. (ayat 17).

    Sahabat, nubuat penghukuman Babel diberitakan saat Asyur masih menjadi ancaman, jauh sebelum Babel berkuasa dan menghancurkan Yerusalem. Nubuat ini hendak menyatakan bahwa kekuatan dunia akan dikalahkan oleh kekuatan Allah bukan dengan peperangan melainkan oleh kuasa Tuhan atas segala bangsa. Tuhan memang menghukum Israel yang telah berdosa dan Ia memakai Babel untuk melaksanakan penghukuman itu. Namun Tuhan juga akan menghukum Babel karena kesombongan mereka (ayat 11).

    Penghukuman Tuhan yang diekspresikan dalam kemarahan-Nya terhadap bangsa Babel ini bukanlah sebuah tindakan sewenang-wenang dan tidak terkendali. Jauh sebelum penghukuman dilakukan, Tuhan melalui nabi Yesaya sudah memberitakannya (ayat 6). Tuhan tahu tindakan yang akan Ia lakukan dan alasannya. Kemarahan Tuhan berada dalam kemahatahuan-Nya tentang dunia dan kejahatannya. Ia sedang memusnahkan kesombongan manusia di dalamnya.

    Sahabat, kesombongan memang sulit dideteksi sampai suatu saat hal itu menghancurkan orang yang sombong. Kita mungkin mulai dengan kesediaan dipakai Tuhan menjadi alat-Nya untuk menyatakan kebenaran, termasuk dengan menegur kesalahan orang. Kadang, tanpa kita sadari kesombongan mulai menyusup ke dalam hati. Kita tidak sadar bahwa kita sendiri juga bisa bersalah. Penghukuman Tuhan kita anggap hanya berlaku pada mereka dan bukan bagi kita. Kita menganggap sepi peringatan Tuhan atas kesalahan kita, sampai akhirnya kita mendapati diri dalam kesendirian karena kita telah kehilangan segalanya (ayat 12-20).

    Itulah peringatan Tuhan bagi kita, umat-Nya. Kita mungkin tidak mencuri, berzina, membunuh, atau korupsi. Namun, ada kejahatan lain yang tidak kita sadari karena kesombongan telah menutupinya. Kekacauan yang kita alami, yang berada di luar kendali kita, mungkin merupakan alat Tuhan untuk menegur kesombongan kita. Kita harus segera menyadari bahwa itulah tanda Dia mengasihi kita dan menginginkan kita bertobat.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami tentang ayat 11?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang ayat 17?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Saat Tuhan berkenan memakai kita, bersikaplah rendah hati supaya Ia memakai kita untuk perkara yang lebih besar. (pg).

  • Cepat DAPATNYA, Cepat HABISNYA

    Sahabat, saya ingat dan hafal di luar kepala sampai saat ini peribahasa lama yang berbunyi: “Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit” yang maknanya: Usaha kecil yang dilakukan dengan tekun dan terus menerus pada akhirnya akan membuahkan hasil.”.

    Bagi saya peribahasa tersebut bukan hanya sebuah tugas dari seorang guru  untuk dihafal oleh anak didiknya. Saya benar-benar sudah menikmati hasilnya. Saya benar-benar merasakan manfaatnya. Ketika saya masih duduk di bangku SD, Mami saya melatih saya supaya tekun menabung di celengan dari tanah liat. Saya paling senang dengan celengan ayam jago dan harimau. Yang paling saya ingat ketika saya ingin memiliki jam tangan dan tas sekolah dari kulit, saya harus berjuang dengan tekun dalam waktu cukup lama untuk mendapatnya.

    Sekarang generasi milenial hidup di zaman yang sangat mendewa-dewakan yang namanya kecepatan. Semua dituntut serba instan dan cepat serta super kilat. Tapi ingatlah dan percayalah bahwa prinsip yang disampaikan oleh Raja Salomo yang penuh hikmat dan tajir melintir masih berlaku sampai hari ini: Cepat dapatnya, cepat habisnya.

    Hari ini kita akan melanjutnya belajar dari kitab Amsal dengan topik: Cepat DAPATNYA, Cepat HABISNYA. Untuk itu Bacaan Sabda saya ambil dari Amsal 13:9-16 dengan penekanan pada ayat 11. Sahabat, bacaan kita pada hari ini berbicara mengenai hal-hal praktis dalam kehidupan sehari-hari.  

    Sesungguhnya harta akan sangat berarti bagi kita, jika kita peroleh dengan perjuangan yang penuh ketekunan dan kebaikan. Mengapa? Penulis  Amsal mempunyai pengalaman bahwa harta yang diperoleh dengan mudah akan cepat habis pula.  Bagi penulis Amsal bukan sekadar teori, tetapi kenyataan. Realitas hidup sepeti itu masih tetap berlaku sampai sekarang.

    Menabung adalah gambaran ketekunan dan kesabaran. Kita sering secara tidak sabar menginginkan sesuatu yang besar. Kedagingan kita menginginkan serba cepat dan enak. Kita berdoa agar Tuhan memudahkan usaha kita, memberkati kita lebih banyak, dan menjauhkan kita dari segala kesukaran dan kerugian.

    Sahabat, nyatanya, hasil yang didapatkan dengan cara instan kebanyakan habis juga dengan cara instan. Pada hari ini Firman Tuhan mengingatkan kita, “… siapa mengumpulkan sedikit demi sedikit menjadi kaya.” (ayat 11) Karena itu, kalau kita meminta sesuatu yang besar, tetapi Tuhan melatih ketekunan dan kesabaran kita untuk mendapatkannya, jalanilah dengan rela. Sekecil apa pun berkat yang kita terima setiap hari, syukuri dan kumpulkan.

    Tuhan bisa memberi dengan cepat atau lambat, jadi biarkan Dia memproses kita menurut kebaikan-Nya. Dia memberkati orang-orang yang mau berusaha dan mengumpulkan sedikit demi sedikit.

    Sahabat, bersyukurlah kalau Tuhan saat ini melatih kita bertekun dan bersabar melalui proses untuk mencapai tujuan yang besar. Dia tidak akan pernah terlambat memberikan berkat pada waktu yang terbaik bagi kita.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 10?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 13?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Syukurilah berkat Tuhan yang bisa dikumpulkan sedikit demi sedikir setiap hari. (pg).

  • KESUKSESAN malas BERSAHABAT dengan Si PEMALAS

    Sahabat, penggalian arkeologi di Semenanjung Arab telah mendorong dilakukannya satu penelitian tentang bagaimana Homo Erectus, suatu spesies manusia purba, membuat peralatan dan bagaimana mereka memanfaatkan sumber alam.

    Ternyata, mereka menggunakan “strategi minimal usaha” untuk bertahan hidup. Strategi bertahan hidup ini kemudian menjadi masalah besar ketika lingkungan tempat mereka hidup berubah. Dr. Ceri Shipton dari Australia National University mengatakan, bahwa mereka tampaknya tidak mengembangkan diri mereka sendiri. Ia mengatakan, untuk membuat perkakas batu, mereka hanya menggunakan batu apa saja yang dapat mereka temukan tergeletak di sekitar tempat tinggal mereka, yang sebagian besar berkualitas rendah dibandingkan dengan batu yang digunakan oleh manusia di peradaban setelahnya.

    Menurut para peneliti dari hasil penggalian arkeologi di Semenanjung Arab, manusia purba Homo Erectus mengalami kepunahan dikarenakan mereka MALAS, tidak berupaya untuk berkembang maju. 

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Amsal dengan topik: “KESUKSESAN malas BERSAHABAT dengan Si PEMALAS.”. Untuk itu Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Amsal 12:20-28 dengan penekanan pada ayat 24 dan 27. Sahabat, KESUKSESAN sangat senang MENDATANGI  orang yang mau bekerja keras. Kesuksesan malas bersahabat dengan Si Pemalas.

    Orang-orang hebat yang ada di dunia ini adalah tipe orang yang rajin dan pekerja keras. Kesuksesan yang diraihnya adalah akibat dari ketekunan dan hasil perjuangan yang tidak mengenal lelah, bukan datang seperti durian runtuh, tetapi melalui proses yang panjang. Tidak ada dalam kamus hidupnya berpangku tangan sepanjang hari.

    Sahabat, kadang kita memang tidak bisa mencegah rasa malas menyerang, namun kita dapat menolak untuk berkompromi. Kalau kita kompromi, apa yang orang lain percayakan atau apa yang harus kita kerjakan jadi tertunda atau bahkan gagal. Bukan karena tugas itu sulit atau waktu yang diberikan kurang, namun karena kita sendiri yang bermasalah.

    Penulis kitab Amsal menuliskan sebuah kalimat bijak bahwa orang yang malas tidak akan pernah menangkap buruannya (ayat 27). Bagaimana bisa meraih cita-cita kalau tidak ada sesuatu hal yang berharga dilakukan dengan serius.

    Sebaliknya, dinyatakan disana bahwa orang yang rajin akan memperoleh apa yang dikejarnya bahkan bisa apa saja yang diperolehnya melebihi apa yang sebelumnya diukurkan. Orang malas akan selalu kehabisan waktu, sebaliknya, mereka yang rajin akan selalu menjadikan seluruh waktunya teramat berharga.

    Tuhan sudah menyediakan rezeki bagi kita, namun kita perlu rajin mengupayakannya. Mari kita berjuang untuk menjadi pribadi yang rajin sehingga Tuhan dan sesama senang dengan kinerja kita dan kesuksesan senang bersahabat dengan kita. Haleluya!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 24?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 27?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Seorang pemalas enggan untuk membajak dan menabur, akibatnya ia tidak akan menuai apa-apa ketika musim penuaian tiba. (pg).

  • MADAH Syukur akan KESELAMATAN

    Sahabat, setiap tanggal 25 saya lihat wajah teman-teman di kantor tempat pelayanan saya  nampak lebih ceria dan bersyukur, karena tanggal tersebut merupakan tanggal gajian.

    Bersyukur saat hati gembira lumrah dilakukan, seperti seorang anak naik kelas atau berulang tahun, seperti seseorang mendapat kenaikan pangkat atau menempati rumah baru. Namun, bagaimana jika situasinya berbeda, seperti seseorang kehilangan barang miliknya yang berharga, mengalami kebangkrutan, terkena PHK, mengidap penyakit mematikan, atau ditinggalkan orang yang dicintai, masih dapatkah ia bersyukur?

    MADAH SYUKUR kerap kali digunakan sebagai ungkapan kegembiraan umat Israel. Biasanya ungkapan syukur dinyanyikan selepas melewati masa sukar. Hari ini kita akan menikmati madah syukur akan keselamatan.

    Hari ini kembali kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “MADAH SYUKUR akan KESELAMATAN.” Untuk itu Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yesaya 12:1-6. Sahabat,  bangsa Israel dimurkai Tuhan karena tidak taat. Alih-alih setia dan taat kepada Tuhan, mereka lebih memilih setia kepada Baal. Alih-alih mengandalkan Tuhan, Israel lebih memilih bersekutu dengan Mesir untuk melawan Asyur. Akibatnya, sebagian umat Israel dibawa ke Asyur sebagai orang buangan (Yesaya 11:13). Itulah hukuman Tuhan kepada Israel.

    Dalam keadaan terhukum, terbuang, menjadi tawanan dan budak, akan sulit atau hampir mustahil bagi orang untuk bersyukur kepada Tuhan. Tidak demikian dengan Yesaya, ia tahu kehendak Tuhan. Sekalipun Tuhan murka kepada umat-Nya dan memberi hukuman, sebenarnya Tuhan sedang memberkati Israel dengan mendidik mereka dan memberi keselamatan.

    Lewat madah ini Yesaya mengajak umat menoleh ke belakang dan belajar dari kemarahan sekaligus kemurahan Allah. Belajar dari kemarahan Allah agar umat tidak mengulangi lagi kesalahan yang sama. Apa yang telah dilakukan umat sangat menjijikkan di mata Allah. Karena itulah mereka menerima hukuman Allah. Sekalipun hukuman terasa berat, namun hal itu bukan akhir dari karya Allah. Itulah sebabnya mereka diajak juga belajar dari kemurahan Allah agar mampu bergembira karena kebaikan dan keselamatan yang dikerjakan Tuhan bagi mereka.

    Kemurahan hati dan tangan perkasa-Nya yang membuat umat mampu terbebaskan dari derita pembuangan dan disatukan kembali menjadi satu bangsa, setelah terserak ke berbagai penjuru. Dalam kemurahan-Nya, Allah menjanjikan penyertaan-Nya hingga mereka akan menjadi bangsa yang besar dan setia kepada-Nya. Kegembiraan inilah yang perlu menjadi bagian dari keseharian umat melalui mazmur syukur. Lewat kegembiraan itulah kebaikan Tuhan didengar oleh bangsa-bangsa lain.

    Belajar dari ungkapan syukur Israel, pemberitaan kebaikan Tuhan justru dilakukan melalui hidup yang penuh kegembiraan. Namun, bukan berarti penderitaan tidak pernah mendera kita. Sebaliknya di tengah derita yang dialami, kita masih mampu bergembira karena Tuhan menyertai dan mendatangkan kebaikan dan damai sejahtera-Nya dalam kehidupan umat-Nya.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 2-3?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 4-6?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Allah rindu Sahabat dan saya, melalui pengakuan dosa dan pertobatan, menemukan kesegaran sukacita yang terdapat dalam mata air keselamatan-Nya yang kekal. (pg).

  • JUJUR itu MUJUR

    Sahabat, berikut saya sajikan satu kisah nyata dari seorang  tunawisma asal Thailand yang saya dapatkan dari Liputan 6. Saat itu WORALOP (44 tahun) dalam kondisi yang sulit. Ia tidak punya rumah begitu juga uang.  Namun keberuntungan mulai menghampirinya setelah menemukan dompet di jalan.

    Tanpa basa-basi Woralop langsung mengambilnya dan melihat isinya. Ternyata uang sekitar 20 ribu Baht atau setara Rp 9 juta di dalamnya. Menghadapi hal tersebut, Woralop diperhadapkan pada dua pilihan. Kondisi yang dihadapinya saat ini amat memungkinkan baginya untuk langsung mengambil uang tersebut. Akan tetapi, ia merasa bukan menjadi dirinya sendiri jika sampai menggunakan uang tersebut.

    Akhirnya Woralop memutuskan datang ke polisi untuk mengembalikan dompet itu pada pemilik aslinya. Pihak kepolisian kemudian berhasil menghubungi sang pemilik dompet yakni, Nitty Ponkriangyos. Mendengar dompetnya ditemukan Nitty justru dibuat terkejut, “Aku malah tidak tahu bahwa kehilangan dompet sama sekali. Reaksiku pertama kali adalah ‘wow’. Jika aku berada pada posisinya tanpa uang sama sekali, aku akan langsung mengambilnya,” kata Nitty, dilansir dari Elite Readers.

    Sebagai ucapan terima kasih telah menemukan dompetnya, Nitty justru memberikan Woralop sebuah kejutan. Nitty memberikannya pekerjaan pada sebuah pabrik besi di Bangkok. Atas kejujurannya, Woralop kini juga tidak lagi menjadi tunawisma. Aksi kejujuran Woralop kemudian menjadi viral, setelah pacar Nitty membagikan kisahnya.

    “Woralop merupakan sebuah contoh bahwa menjadi orang baik itu akan mendapatkan kebaikan. Jika kamu berbuat baik pada orang lain, maka orang tersebut akan berbuat baik padamu juga,” tulisnya. Karena pekerjaannya, Woralop kini mendapat gaji sebesar Rp 4,6 juta setiap bulannya. Woralop merupakan satu contoh, orang yang jujur itu mujur. Kini ia tidak lagi mengkhawatirkan tempat untuk berteduh dan istirahat.

    Hari ini kita melanjutkan untuk belajar dari kitab Amsal dengan tema: “JUJUR itu MUJUR.” Untuk itu Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Amsal 11:1-11. Sahabat,  perihal kejujuran tidak pernah habis dipelajari. Bacaan pada hari ini mengajak kita kembali merenungkan makna sebuah kejujuran.

    Ingatlah selalu, orang yang tidak jujur adalah kekejian bagi Tuhan. Orang jujur pasti tulus hati karena kejujuran bersumber pada ketulusan hati. Ayat 11 menegaskan bahwa dampak kejujuran bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan juga untuk kota. Betapa diberkatinya sebuah kota jika segenap warganya bersikap jujur.

    Untuk turut memajukan sebuah kota, kita tidak harus menjadi walikota. Apa pun pekerjaan kita, berapa pun usia kita, di sudut mana pun kita berada, kita bisa berkontribusi memajukan kota. Salah satu kontribusi terbaik untuk kota adalah kejujuran. Kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana saja. Nilainya tak dapat dibandingkan dengan materi. Di tengah maraknya perilaku koruptif, kejujuran adalah hadiah terindah yang bisa kita persembahkan untuk kota dan juga bangsa. Woralop sudah meneladankan kejujuran, sekarang giliran kita untuk  melanjutkannya.  

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 1?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 10-11?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Bagaimana pun situasinya, tetaplah pertahankan nilai-nilai kejujuran, jangan tukarkan itu dengan apapun, dan lihatlah pada saatnya nanti setiap orang jujur akan bersukacita memetik buahnya. (pg).

  • Hidup dalam DAMAI dan Menjaga PERDAMAIAN

    Sahabat, sesungguhnya hampir setiap manusia di segala tempat dan waktu merindukan perdamaian. Perdamaian adalah situasi berhentinya perselisihan, yang menyebabkan terwujudnya keadaan tenteram dan tenang. Tetapi dalam kenyataan, sering kali perdamaian hanya menjadi harapan belaka. Sejarah diisi oleh konflik dan permusuhan yang membuyarkan harapan manusia akan perdamaian.

    Seharusnya  semua orang  memimpikan hidup dalam perdamaian. Bukankah indah hidup aman dan tenang dalam perdamaian? Saya katakan seharusnya, karena hari-hari ini kita melihat bahwa jumlah orang yang lebih suka tidak berdamai, provokatif, fanatik destruktif, mencintai perpecahan, perdebatan dan keributan ternyata terus bertambah banyak.

    Parahnya  ada cukup banyak di antara kita yang merindukan kedamaian tanpa sadar banyak melakukan hal-hal yang bisa mencederai perdamaian itu sendiri. Karena itu kita perlu hidup dalam damai dan menjaga perdamaian.

    Hari ini kita tetap melanjutkan mempelajari kitab Yesaya dengan topik: “Hidup dalam DAMAI dan Menjaga PERDAMAIAN.” Untuk itu Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 11:1-10. Sahabat, sebuah lukisan memperlihatkan suasana damai. Terlukis pemandangan indah dengan sungai jernih yang mengalir menyegarkan, tanaman bunga yang indah berwarna-warni, pepohonan subur, dan taman yang dipenuhi binatang buas yang hidup rukun dengan kambing dan domba. Ada anak-anak yang bermain dengan binatang-binatang buas. Seolah-olah gambaran ini mengingatkan suasana Taman Eden yang damai.

    Yesaya menubuatkan bahwa Allah akan memulihkan Israel, bahkan seluruh bumi melalui seorang raja. Raja itu keturunan Daud yang akan menegakkan keadilan dan kebenaran. Hal ini digambarkan sebagai pohon yang ditebang menjadi tunggul, yang akan bertunas, bertumbuh lebih besar daripada pohon asalnya, dan berbuah lebat. Pohon itu adalah Yehuda dari keturunan Daud. Dari sana akan lahir tunas, yaitu Yesus Kristus yang menjadi Raja dunia yang nantinya akan memimpin dengan keteraturan, keadilan, dan kedamaian (ayat 1-5).

    Sahabat, suasana yang digambarkan adalah seperti suasana Taman Eden dengan bermacam-macam binatang yang rukun dan anak-anak bermain dengan berbagai binatang buas. Di sini terjadi pemulihan hubungan antara manusia dengan Allah dan alam. Kehidupan yang harmonis terwujud dengan kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Kerajaan-Nya menghimpun kaum sisa Israel untuk diselamatkan, dan mendamaikan relasi antar manusia yang digambarkan dengan dipulihkannya hubungan Israel dengan Yehuda (ayat 6-10).

    Betapa bahagianya jika kita bisa hidup damai di bumi. Kita akan menikmati suasana aman, tenteram, nyaman, dan damai. Tidak ada kejahatan, penderitaan, maupun penyakit. Semuanya hidup dalam sukacita dan kebahagiaan. Sesungguhnya, suasana tersebut telah dihadirkan oleh Yesus Kristus melalui proses penebusan dosa yang telah dilakukan-Nya.

    Sahabat, marilah kita, yang sudah memperoleh penebusan dosa, hidup dalam damai dan menjaga kedamaian dengan mengupayakan hidup benar agar kita merasakan kondisi damai sejahtera di dunia.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 1?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 4-5?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kedamaian tidak dapat dipertahankan dengan kekerasan, itu hanya dapat dicapai dengan pengertian. (pg).

  • HARAPAN menjadi SUKACITA

    Sahabat, HARAPAN sama pentingnya seperti udara dan air dalam kehidupan. Kita membutuhkan pengharapan untuk dapat bertahan hidup. Bagi orang percaya, harapan jauh melebihi dari sekadar apa yang kita inginkan terjadi di masa depan. Selain itu, sesungguhnya pengharapan tidak bisa dipisahkan dengan iman kita. Karena iman adalah pondasi yang kuat bagi kita untuk terus berpengharapan kepada TUHAN. Pengharapan orang percaya adalah keyakinan dan kepastian yang kokoh, karena didasari oleh janji Allah dalam Firman-Nya. 

    Seorang yang sakit membutuhkan pengharapan untuk bisa sembuh, seorang yang dalam masa sulit, membutuhkan pengharapan untuk dapat melihat bahwa ada hari esok yang lebih baik, seorang yang bangkrut membutuhkan pengharapan bahwa suatu saat ia akan kembali bangkit dari masalah ekonominya,  seorang percaya membutuhkan pengharapan bahwa kelak ia akan bersama dengan Kristus dalam kekekalan.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Amsal dengan topik: “HARAPAN menjadi SUKACITA.” Untuk itu Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Amsal 10:28. Sahabat, Amsal 10:1-22:16 dikenal dengan sebutan amsal-amsal Salomo, dan berisi berbagai macam dan ragam nasihat kehidupan.

    Sahabat, harapan itu perlu diperjuangkan agar menjadi kenyataan, “Harapan orang benar akan menjadi sukacita, tetapi harapan orang fasik akan menjadi sia-sia.” (Amsal 10:28).  Seperti apa pengharapan orang  benar itu? Seperti apa pengharapan yang akan menjadi sukacita?

    Pertama, PENGHARAPAN harus memiliki dasar. Mengapa petani mengharapkan panen? Karena petani tersebut telah menanam benih dan percaya bahwa dari benih itu bisa dihasilkan banyak hasil panen. Demikian juga setiap pengharapan kita harus mempunyai dasar, sehingga pengharapan kita bukan berdasarkan untung-untungan.

    Kedua, PENGHARAPAN harus disertai dengan tindakan nyata. Petani mengharapkan panen. Itu sebabnya ia mengolah tanah dan membuatnya menjadi gembur, mengairinya dengan baik, diberi pupuk, dijaga dari hama, dan sebagainya.  

    Petani tersebut harus lebih dulu bekerja keras sebelum harapannya menjadi kenyataan. Kita pun demikian, jika tanpa mau bekerja maka semua harapan kita hanya sekadar lamunan atau mimpi di siang hari bolong. 

    Ketiga, PENGHARAPAN harus realistis. Memang Tuhan bisa melakukan banyak cara yang penuh keajaiban, namun hal tersebut hanya bersifat insidental. Itu sebabnya seorang petani tak mungkin mengharapkan minggu depan sudah bisa panen sementara benihnya baru ditabur hari ini. Atau mengharapkan hasil 1 ton sementara yang ditabur hanya beberapa benih saja. Tanpa kewajaran, pengharapan hanya akan berujung pada kekecewaan.

    Sahabat, Salomo mengingatkan bahwa kita harus memiliki pengharapan dan mau menanti hasilnya dengan penuh kesabaran dan ketekunan, sebab jika tidak, kita tidak akan pernah melakukan satu pekerjaan dengan baik. Karena itu, teruslah berjuang agar pengharapanmu  akan menjadi sukacita.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami dari Amsal 10:4?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Amsal 10:9?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sudahkah kita hidup berhikmat, dengan menjaga kelakuan kita tetap bersih, dan jalan kita tidak berliku-liku? (pg).

  • JALAN TUHAN adalah KASIH SETIA

    Sahabat, pengalaman kita dalam hidup bermasyarakat bercerita bahwa mereka yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi, hidup dalam kemapanan, berada di puncak karir, wajah tampan/cantik dan berperawakan bagus seringkali berjalan dengan membusungkan dada, merasa semua yang dimiliki adalah karena kesanggupan dan kemampuan dirinya.

    Lebih parah lagi, ada cukup banyak orang menganggap remeh dan sepele segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupannya sehari-hari.  Dapat tidur nyenyak semalaman dan bangun pagi dengan kekuatan baru, badan dalam keadaan sehat dan tidak sakit-sakitan, pergi pulang dari kantor atau sekolah dalam keadaan  selamat, semuanya dianggap sebagai hal yang biasa dan lumrah saja. 

    Kita seringkali tidak menyadari ketika tubuh ini sehat, pekerjaan atau usaha berjalan lancar, rumah tangga adem ayem, anak-anak bertumbuh secara sehat dan pintar adalah karena KASIH SETIA TUHAN, tidak datang atau terjadi dengan begitu saja. Kita kurang dapat menghargai kasih setia Tuhan. Sesungguhnya jalan Tuhan adalah kasih setia.

    Hari ini kita melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “JALAN TUHAN adalah KASIH SETIA”. Untuk itu Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 10:20-34. Sahabat, Yesaya memulihkan semangat orang-orang Israel yang tersisa, yaitu mereka yang masih setia kepada Allah. Ia mengatakan bahwa Tuhan akan memelihara dan memulihkan kaum sisa Israel. Mereka akan kembali kepada Allah untuk bertobat dan bersandar kepada-Nya. Harapan Israel terletak pada kaum sisa yang masih memelihara iman dan kesetiaan kepada Allah Israel.

    Tuhan menghukum umat-Nya bukan untuk membinasakan, melainkan untuk menyadarkan mereka agar berbalik kepada-Nya. Masa penghukuman berakhir dan diganti dengan masa keselamatan (ayat 20-23). Kaum sisa Israel selamat bukan karena kehebatan mereka, tetapi karena Allah berkehendak.

    Israel masih ketakutan dan berkumpul bukan untuk berperang, melainkan untuk melarikan diri dari penyerangan Asyur. Padahal, Israel tidak perlu takut kepada Asyur karena mereka mempunyai Allah Yang Mahakuasa yang mampu menghancurkan Asyur (ayat 24-27a). Cara Tuhan menghancurkan Asyur digambarkan seperti menebang pohon untuk merobohkan kekuatan dan kesombongan Asyur (ayat 33-34).

    Sahabat, kita harus belajar dari kisah Israel. Mereka meninggalkan Allah dan mencari solusi sendiri yang tampaknya menyenangkan, tetapi membawa celaka. Namun, karena anugerah Tuhan, siapa pun yang sudah melukai hati Allah, jika ia mau bertobat dan kembali kepada-Nya, Allah akan menerimanya kembali.

    Tentu saja, tidak ada seorang pun di antara kita yang ingin ditimpa penderitaan. Karena itu, mari kita menyatakan kesetiaan iman kepada Allah agar kita senantiasa merasakan kasih dan pertolongan-Nya. Apa yang kita rencanakan dan lakukan tetap dalam naungan berkat-Nya. Mari kita dengan setia terus melakukan firman-Nya. Dengan demikian, selalu ada sukacita dalam hidup kita.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 24-27a?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tanpa kasih setia Tuhan, dengan apakah kita akan bertahan dalam menghadapi berbagai persoalan hidup? (pg).

  • Si BIJAK dan Si PENCEMOOH

    Sahabat, KONTRAS itu selalu menarik perhatian. Apa itu kontras? Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI) mencatat: Kontras memperlihatkan perbedaan yang nyata apabila diperbandingkan; memperlihatkan perbedaan nyata (dalam hal warna, rupa, ukuran, dan sebagainya).

    Kontras itu memiliki daya tarik yang sangat kuat karena memperlihatkan perbedaan yang menyolok. Dunia selalu berada dalam dua sisi yang saling kontras. Kebaikan kontras dengan kejahatan. Kekayaan kontras dengan kemiskinan. Kejujuran kontras dengan kebohongan. Keadilan kontras dengan ketidakadilan. Kebijakan kontras dengan kebodohan. Namun, di balik realitas tersebut,  kita mempunyai kesempatan  untuk memilih: Apakah kita mau menjadi Si Bijak atau Si Pencemooh.

    Hari ini kembali kita belajar dari kitab Amsal dengan topik: “Si BIJAK dan Si PENCEMOOH.” Untuk itu Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Amsal 9:1-18 dengan penekanan pada ayat 8. Sahabat, pada masa Perang Salib banyak kekonyolan terjadi dengan mengatasnamakan Tuhan. Suatu saat penguasa Yerusalem bernama Guy de Lusignan maju melawan pasukan Sultan Saladin.

    Sebenarnya ia sudah diperingatkan oleh penasihatnya untuk tidak nekat berperang di luar kota Yerusalem karena mereka akan sulit memperoleh air minum di tengah gurun yang ganas.  Apalagi, mereka menghadapi pasukan Saladin yang lebih berpengalaman di padang pasir.

    Sayang, ia mengabaikan nasihat tersebut,  bahkan ia berkata dengan lantang bahwa perang itu merupakan kehendak Tuhan. Hasilnya, ia dikalahkan oleh pasukan Saladin yang memang lebih menguasai medan.

    Amsal 9, khususnya ayat 7-9, membandingkan antara Si Bijak dan Si Pencemooh. Si Bijak tidak takut dan tidak marah apabila diberi masukan, termasuk kecaman atau teguran yang keras. Ia mampu menerima dan mengolah kritik sebagai sarana untuk membangun dirinya. Ia memiliki kelenturan dan kelembutan yang luar biasa terhadap kritik. Ia tidak mudah dihancurkan oleh kritik.

    Sebaliknya, Si Pencemooh tidak suka terhadap kritik dan membenci orang yang menasihatinya. Ia cenderung menganggap masukan sebagai serangan pribadi.

    Sahabat, pada waktu dinasihati, bagaimana reaksimu? Apakah kamu mengakrabi atau memusuhi masukan? Memang, tidak semua masukan berguna dan harus diterima. Tetapi, mendengarkan masukan menuntun Sahabat lebih bijaksana dan penuh pertimbangan. Sebaliknya, bila kita menutup telinga terhadap masukan, kita kehilangan kesempatan untuk diperbaiki dan dijaga oleh masukan yang baik!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa perbedaan orang yang bijaksana dengan seorang pencemooh dalam menghadapi kritik?
    2. Mengapa Salomo menggambarkan kebijaksanaan dan kebodohan seperti seorang wanita yang membujuk kita? (Ayat 13-18)

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Bagaimana sikapmu setiap kali menerima kritik dari orang lain? Belajarlah menilai diri sendiri dengan jujur! (pg).

  • Ketika SALOMO berbagi HIKMAT

    Sahabat, ada cukup banyak orang mengalami penderitaan yang berat dalam kehidupannya sebagai buah dari pengambilan keputusannya di masa lalu yang keliru karena tergesa-gesa dan tidak berpikir panjang.

    Di satu sisi, kita merasa iba terhadap orang seperti itu. Namun, disisi lain, kita belajar bahwa persoalan hidupnya disebabkan oleh ketidakmengertiannya sendiri. Ketika seseorang tidak sungguh-sungguh mencari HIKMAT sebelum memutuskan sesuatu, ia akan menanggung akibat yang buruk di kemudian hari sebagai konsekuensinya.

    Malcolm Muggeridge adalah seorang wartawan dan kritikus sosial yang terkenal dari Inggris. Ia beriman kepada Kristus pada usia 60 tahun. Di ulang tahunnya yang ke-75, ia memberikan 25 butir hasil pengamatannya yang mendalam tentang kehidupan ini. Salah satunya: “Saya tidak pernah bertemu seorang kaya yang bahagia, tetapi saya sangat jarang bertemu orang miskin yang tidak ingin menjadi kaya.”

    Sebagaian besar dari kita tentu setuju bahwa uang tidak akan membuat kita bahagia. Namun menariknya, kita selalu ingin memiliki lebih banyak uang untuk memastikan pendapat kita.

    Hari ini kita akan melanjutkan untuk belajar dari kitab Amsal dengan topik: “Ketika SALOMO berbagi HIKMAT”. Bacaan Sabda hari ini saya ambil dari Amsal 8:1-21. Sahabat, Amsal 8 berbicara tentang pentingnya kita mencintai dan memiliki hikmat. Hikmat adalah suatu ketrampilan hati yang berasal dari Tuhan dalam mengambil keputusan di tengah situasi tertentu berdasarkan pengetahuan, kecerdasan, dan sikap yang menghormati Tuhan (ayat 7, 9-10, 12-14). Orang yang berhikmat akan diganjar kebahagiaan, kehormatan, bahkan kehidupan yang menyenangkan Tuhan dan sesama.

    Sahabat, kekayaan bersih Raja Salomo konon berjumlah lebih dari dua triliun dolar AS. Meskipun sangat kaya, ia sadar bahwa uang memiliki banyak keterbatasan. Amsal 8 didasarkan pada pengalamannya dan berisi “WEJANGAN HIKMAT” yang ditujukan kepada semua orang:  “Hai, umat manusia, kepadamu aku berseru; setiap insan di bumi, perhatikanlah himbauanku. Yang kukatakan, betul semua, sebab aku benci kepada dusta.” (ayat 4 dan 7 BIS)

    Salomo melanjutkan himbauannya: “Terimalah didikanku, lebih dari pada perak, dan pengetahuan lebih dari pada emas pilihan. Karena hikmat lebih berharga dari pada permata, apapun yang diinginkan orang, tidak dapat menyamainya” (ayat 10-11).

    Hikmat berkata, “Buahku lebih berharga dari pada emas, bahkan dari pada emas tua, hasilku lebih dari pada perak pilihan. Aku berjalan pada jalan kebenaran, di tengah-tengah jalan keadilan, supaya kuwariskan harta kepada yang mengasihi aku, dan kuisi penuh perbendaharaan mereka” (ayat 19-21).

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa hubungan hikmat dengan pengetahuan, kebenaran, dan keadilan?
    2. Apa saja berkat yang tersedia bagi orang yang mencintai hikmat?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Apakah Sahabat termasuk orang yang mencintai hikmat? Berdoalah supaya Sahabat diberikan kerendahan hati dan kecintaan akan hikmat. (pg).